← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Eighteen

Aku Cuma Lewat, Tapi...

POV: Bimo

Gala dinner malam terakhir berjalan sempurna, dan itu membuatku curiga.

Tidak ada kabel putus. Tidak ada mixer yang dicabut untuk mengisi daya ponsel. Tidak ada CEO yang merangkak di bawah panggung. Speaker kiri dan kanan berdengung dengan harmonis, lampu panggung menyala dengan warna emas yang hangat, dan proyektor menampilkan slide Tasya tanpa satu pun kedipan.

Aku duduk di ruang kontrol bersama Bli Komang, mengawasi panel lampu hijau yang berderet rapi seperti barisan siswa teladan.

“Aman, Mas,” kata Bli Komang, menyeruput kopi.

“Terlalu aman.”

“Mas ini aneh. Aman kok takut.”

“Di kantorku, kalau semua aman, itu artinya ada yang belum ketahuan.”

HT di meja berbunyi.

“Kontrol, ini sekretaris.” Suara Kalea, rendah dan profesional. “Lampu panggung kurang hangat. Pak Dimas kelihatan pucat.”

Aku menekan tombol. “Ini kontrol. Hangatnya mau seberapa?”

Jeda.

“Seperti teh melati.”

Bli Komang berhenti menyeruput kopi. Ia menatapku. Aku menatap panel.

“Teh melati itu hangat berapa derajat, Mas?” tanya Bli Komang.

“Delapan puluh,” kataku tanpa berpikir.

Aku menggeser slider lampu sedikit ke arah kuning. Di monitor, wajah Pak Dimas di atas panggung berubah dari pucat jadi... sedikit kurang pucat.

“Ini kontrol. Sudah hangat.”

“Terima kasih, kontrol.” Jeda. “Kontrol sudah makan?”

Aku menatap HT. Bli Komang menatapku.

“Ini kontrol. Belum.”

“Saya titip piring di pintu ruang kontrol. Jangan dibiarkan dingin.”

Bli Komang berdiri, membuka pintu ruang kontrol, dan menemukan sepiring nasi, ayam betutu, dan sate lilit di lantai, ditutup serbet. Di atas serbet, kertas tempel kuning dari resepsionis hotel:

Sate lilitnya sudah dicek. Tidak beracun.
— Sekretaris

Bli Komang menyerahkan piring itu padaku dengan wajah serius. “Mas,” katanya, “saya sudah kerja di hotel ini sebelas tahun. Belum pernah ada yang titip makanan buat teknisi.”

“Mungkin karena aku tamu.”

“Bukan, Mas.” Bli Komang duduk kembali dan menyeruput kopinya. “Itu karena Mas dipikirkan orang.”


Setelah gala selesai, pukul sepuluh malam, rombongan bubar ke kamar masing-masing. Besok pagi kami terbang pulang ke Jakarta.

Aku tidak langsung ke kamar. Aku turun ke pantai.

Pantai malam di Nusa Dua sangat berbeda dengan pantai jam lima pagi. Hotel memasang lentera-lentera kecil di sepanjang jalan setapak. Lampu-lampu di bawah pohon kelapa berwarna jingga. Ombak memecah pelan di kegelapan, dan suara gamelan dari restoran hotel sayup-sayup terbawa angin.

Ponselku bergetar. Pesan dari Pak Darto. Aku tidak tahu sejak kapan Pak Darto punya nomorku langsung. Biasanya ia hanya berkomunikasi lewat grup.

Pak Darto: Mas Bimo. Saya tidak mau ikut campur. Tapi saya mau kasih nasihat sebagai sesama laki-laki yang sudah menikah 27 tahun.

Pak Darto: Laki-laki yang baik itu bilang terang-terangan. Jangan cuma lewat. Siaga.

Aku menatap pesan itu lama. Jangan cuma lewat.

Lalu, dari jalan setapak di belakangku, aku mendengar langkah sandal di atas pasir.

Kalea berjalan ke arahku. Ia sudah berganti dari gaun gala hitam ke kaus dan celana katun, rambutnya digerai, tanpa lipstik merah bata. Ia membawa dua gelas kertas.

“Kamu di sini,” katanya.

“Kebetulan.”

“Saya juga.” Ia menyodorkan satu gelas. “Teh melati. Delapan puluh derajat.”

“Mbak dengar?”

“HT-nya masih nyala waktu kamu jawab Bli Komang.” Ia duduk di sebelahku, di atas pasir. “Delapan puluh derajat. Kamu tahu suhu teh melati saya.”

“Itu suhu standar teh melati.”

“Saya tahu.” Ia meniup tehnya. “Tapi kamu yang tahu.”

Kami duduk berdampingan, minum teh, menatap ombak yang hitam dan berkilau di bawah cahaya lentera. Bahu kami bersentuhan. Sudah dua kali hari ini. Sudah jadi kebiasaan, seperti duduk di anak tangga keempat.

Aku memikirkan pesan Pak Darto. Aku memikirkan pelukan pagi tadi. Sebentar lagi. Aku memikirkan foto laki-laki yang tertawa di depan laut, yang diambil oleh seseorang yang menekan sudut bibirnya dengan dua jari.

Aku memikirkan semua aturan di ponselku, yang sudah dicoret satu per satu.

“Mbak,” kataku.

“Hm?”

“Aku mau nunjukin sesuatu.”

Ia menoleh. Aku mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi catatan, dan menyerahkannya padanya sebelum aku sempat berubah pikiran.


Kalea membaca daftar itu di bawah cahaya lentera.

ATURAN FIGURAN
1. Jangan berdiri di lorong saat ada adegan. (dicoret)
2. Jangan menolong siapa pun di depan saksi. (dicoret)
3. Jangan bicara dengan tokoh bernama.
4. Pulang tepat waktu.
5. Jangan pernah masuk foto. (dicoret)
6. Jangan baca kolom komentar.
7. Jangan jatuh cinta pada antagonis.
8. Jangan lupa traktir Gilang kalau jadian.
9. Jangan keluar dari grup Tim Hore Kapal Kabel.
Jangan cari tahu siapa Senin Pagi.

Ia membaca dari atas sampai bawah. Lalu membacanya lagi. Wajahnya tidak bergerak. Tapi jari-jarinya, yang memegang ponselku, berhenti di atas layar, tepat di baris terakhir.

“Senin Pagi,” katanya pelan.

“Itu... penulis web novel. Yang Gilang suka. Ceritanya mirip kantor kita.” Aku menggaruk tengkuk. “Mbak mungkin pernah dengar. Satu kantor ngomongin.”

Ia tidak menjawab. Ia menatap layar.

“Aku bikin aturan itu soalnya aku... aku nggak suka jadi bagian dari cerita orang,” lanjutku. Kata-kataku mulai keluar terlalu cepat, seperti air dari termos yang dibalik. “Aku suka di pinggir. Lewat. Bawa kabel. Pulang. Aku anak tengah dari lima bersaudara, Mbak. Namaku satu-satunya yang nggak ada artinya. Aku tukang foto keluarga. Aku kebiasaan nggak ada di foto.”

Ia masih menatap layar.

“Terus ada Mbak.” Aku menatap ombak, karena aku tidak bisa menatapnya. “Mbak di lift. Mbak di bawah meja. Mbak di tangga darurat makan bakwan sampai nangis kepedesan. Mbak di Puncak, ketawa di atas aku sampai Gilang hampir pingsan. Dan aku coret aturannya satu-satu. Nomor satu. Nomor dua. Nomor lima, tadi sore, gara-gara Mbak motret aku.”

“Nomor tujuh,” kata Kalea. Suaranya sangat pelan.

“Nomor tujuh.” Aku menelan ludah. “Aku nggak tahu kenapa aku tulis ‘antagonis’. Waktu itu aku cuma... semua orang di kantor bilang Mbak judes. Kayak ibu tiri. Kayak antagonis di sinetron. Aku pikir aku tulis aja, biar aman. Biar aku nggak...”

Aku berhenti.

Kalea mengangkat wajah dari ponsel. Matanya berkilat di bawah cahaya lentera. Bukan karena tawa.

“Biar kamu nggak apa?” bisiknya.

Pesan Pak Darto. Jangan cuma lewat.

Aku menarik napas. Aku menatapnya. Aku tidak menatap pasir, tidak menatap ombak, tidak menatap sandal atau ponsel atau gelas teh. Aku menatap wajahnya.

“Aku cuma lewat,” kataku. “Selama ini. Di kantor, di keluargaku, di mana-mana. Aku cuma lewat.”

Ia tidak bergerak.

“Tapi aku pengin berhenti,” kataku. “Di sini. Di Mbak.”


Ombak memecah. Gamelan dari restoran berhenti. Lentera di sebelah kami berkedip tertiup angin.

Kalea menatapku.

Lalu matanya penuh. Air mata yang naik pelan-pelan, menggenang di tepi bulu matanya, berkilat di bawah cahaya lentera. Bibirnya terbuka. Tertutup. Terbuka lagi.

Ia meletakkan ponselku di pasir di antara kami, layar menghadap ke atas. Daftar aturan masih terbuka. Baris terakhir menyala di layar: Jangan cari tahu siapa Senin Pagi.

“Saya...” katanya. Suaranya pecah.

“Mbak nggak harus jawab sekarang.”

“Saya...”

Ia berdiri.

Terlalu cepat. Gelas tehnya terguling di pasir. Ia menatapku dari atas, dengan air mata yang akhirnya jatuh, satu, di pipi kirinya, melewati bintik cokelat kecil di bawah matanya.

“Maaf,” katanya.

Lalu ia berbalik dan berlari.

Menyusuri pasir, melewati lentera, ke arah jalan setapak hotel. Sandalnya tertinggal satu di pasir. Ia tidak berhenti untuk mengambilnya. Ia terus berlari dengan satu kaki telanjang sampai bayangannya hilang di balik pohon-pohon kelapa.

Aku duduk sendirian di pantai, dengan dua gelas teh yang satu tumpah, satu sandal kulit cokelat dengan tali tipis, dan ponsel yang layarnya masih menyala di atas pasir.

Aku menatap layar itu sampai meredup sendiri.

Lalu aku menyalakannya lagi, menyentuh baris nomor tujuh, dan mencoretnya.

7. Jangan jatuh cinta pada antagonis. (dicoret)

Sudah terlambat untuk aturan itu. Sudah terlambat sejak bakwan pedas di tangga darurat. Mungkin sejak kabel monitor di hari pertama. Mencoretnya sekarang bukan keputusan. Hanya pencatatan.


“Bimo?”

Aku menoleh. Pak Dimas berdiri di jalan setapak, memakai kaus hotel dan celana pendek, memegang sekantong kacang Disco. Ia kelihatannya sedang berjalan-jalan malam. Atau, lebih mungkin, ia sedang mencari Tasya dan tersesat.

“Malam, Pak.”

Pak Dimas melihat gelas teh yang tumpah. Sandal yang tertinggal. Wajahku. Ia diam sebentar, lalu berjalan mendekat dan duduk di pasir di sebelahku dengan gerakan kaku seorang pria yang tidak biasa duduk di pasir.

“Saya melihat Bu Kalea lari,” katanya.

“Iya, Pak.”

“Dengan satu sandal.”

“Iya, Pak.”

Pak Dimas mengangguk pelan. Ia membuka kantong kacang Disco dan menyodorkannya padaku. Aku mengambil segenggam. Ia juga.

Kami makan kacang Disco dalam diam. Dua laki-laki di pantai malam. CEO dan staf IT. Di kejauhan, seekor kepiting kecil berjalan menyamping melewati sandal Kalea, berhenti, lalu memutuskan sandal itu bukan urusannya.

“Saya tidak tahu apa-apa soal perempuan,” kata Pak Dimas akhirnya. “Saya punya papan tulis di kantor. Saya menghitung hari. Dua puluh sembilan hari lagi, kalau dibulatkan.”

“Saya tahu, Pak.”

“Kamu tahu?”

“Saya pernah ke ruangan Bapak buat ganti mouse.”

Pak Dimas mengunyah kacang dengan wajah orang yang baru menyadari bahwa rahasia terbesarnya ditulis dengan spidol di papan tulis kantor yang bisa dimasuki staf IT.

“Bimo,” katanya. “Saya kenal Bu Kalea tiga tahun. Dia orang yang paling saya percaya di perusahaan itu. Lebih dari direksi. Lebih dari komisaris.” Ia menatap ombak. “Dia tidak pernah lari dari apa pun. Rapat dengan investor yang marah, dia tidak lari. Audit pajak, dia tidak lari. Waktu ayahnya meninggal, dia cuti tiga hari, lalu kembali ke meja dan bekerja seperti biasa.”

Aku menatap kacang di tanganku.

“Jadi kalau Bu Kalea lari,” lanjut Pak Dimas pelan, “itu bukan karena dia tidak mau. Biasanya karena dia sedang menyiapkan sesuatu. Sesuatu yang dia anggap harus sempurna dulu sebelum diserahkan.”

“Kayak laporan, Pak?”

“Kayak laporan.” Pak Dimas tersenyum kecil. Senyum yang canggung, karena wajahnya tidak terbiasa. “Saya pernah lihat dia menulis ulang satu email empat belas kali. Untuk saya. Rekomendasi IT support Bali.”

Aku menoleh.

“Saya bisa lihat riwayat drafnya,” kata Pak Dimas, dengan nada sangat datar. “Saya CEO. Email kantor.”

Ia berdiri, menepuk-nepuk pasir dari celana pendeknya, dan menyerahkan sisa kacang Disco padaku.

“Bawa itu,” katanya. “Untuk satpam di lobi. Saya dengar dia nitip satu kilo.”

Lalu ia berjalan pergi, menyusuri jalan setapak. Di tengah jalan, ia berhenti, menoleh, dan berkata dengan suara yang sedikit terlalu keras:

“Dan ambil sandalnya! Jangan sampai Bu Kalea pulang ke Jakarta pakai satu sandal. Itu memalukan untuk perusahaan.”


Kamarku ada di lantai tiga, di ujung lorong. Aku membawa satu sandal kulit cokelat, sekantong kacang Disco, dan ponsel yang baterainya tinggal sebelas persen.

Aku meletakkan sandal itu di meja dekat pintu, di sebelah kamera.

Aku berbaring di kasur, menatap langit-langit. Pukul 23.12. Di luar jendela, ombak terus memecah.

Aku tidak tidur. Aku memikirkan air mata yang jatuh di pipi kirinya. Aku memikirkan maaf. Maaf untuk apa? Maaf karena tidak bisa membalas? Maaf karena lari? Maaf karena sesuatu yang lain, sesuatu yang membuatnya menatap baris terakhir daftar aturanku lebih lama dari baris mana pun?

Pukul 23.40, aku mendengar langkah kaki di lorong.

Pelan. Berhenti di depan pintuku.

Aku duduk tegak.

Langkah itu tidak mengetuk. Diam sebentar. Lalu menjauh.

Aku menatap pintu. Pukul 23.41. 23.42.

Pukul 23.47, langkah itu kembali.

Berhenti di depan pintuku lagi.

Dan kali ini, dari bawah celah pintu, sesuatu didorong masuk ke dalam kamar. Kertas tempel kuning. Bukan dari kantor. Dari resepsionis hotel, dengan logo kecil bunga kamboja di sudutnya.

Aku turun dari kasur dan memungutnya.

Jangan tidur dulu.
— K