← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Thirty Seven

Gala

POV: Bimo

Tanggal empat belas Desember, pukul 16.00, papan tulis kecil di ruangan Pak Dimas bertuliskan 0.

Aku tahu karena aku melihatnya sendiri. Pak Dimas memanggilku ke ruangannya sebelum berangkat ke Hotel Arunika. Ia berdiri di depan papan tulis itu dengan setelan jas hitam yang terlalu formal untuk sore hari, memegang spidol, dan menatap angka nol itu lama sekali.

“Saya tidak tahu harus menulis apa setelah nol,” katanya.

“Bapak bisa hapus, Pak.”

“Kalau saya hapus, papan tulisnya kosong.”

“Itu nggak apa-apa, Pak.”

Pak Dimas menatapku. Lalu ia menatap papan tulis. Lalu, perlahan, ia menghapus angka nol itu dengan telapak tangannya, bukan dengan penghapus, sampai telapak tangannya hitam karena tinta spidol.

“Kosong,” katanya.

“Iya, Pak.”

“Kamu benar. Tidak apa-apa.” Ia menatap telapak tangannya yang hitam. “Halaman kosong juga bisa jadi awal, kan?”

Aku tidak tahu apakah Pak Dimas membaca tulisanku. Aku tidak bertanya. Tapi ia menepuk bahuku dua kali, dengan tangan yang tidak hitam, sebelum kami turun ke lobi.


Hotel Arunika adalah hotel bintang lima di Jalan Sudirman dengan lobi setinggi tiga lantai, lampu kristal yang menggantung seperti air terjun beku, dan lantai marmer yang begitu mengilap sehingga Gilang hampir terpeleset di langkah pertama.

Gilang memakai setelan jas abu-abu pinjaman yang lengannya kepanjangan lima senti, dan jaket parasut di atasnya. “Seragam bodyguard,” katanya, sebelum aku sempat bertanya.

Di pintu masuk lobi, berdiri empat orang satpam berseragam berbeda-beda. Satu dari gedung kantor sebelah. Satu dari mal di seberang jalan. Satu dari apartemen di belakang hotel. Dan Pak Darto, di tengah, dengan seragam yang disetrika sampai lipatannya bisa memotong kertas.

“Pak,” kataku. “Katanya empat puluh orang.”

“Yang lain dinas malam, Mas.” Pak Darto mengelus kumis. “Tapi empat orang ini perwakilan. Mereka sudah baca semua bab. Dari ponsel saya.”

Satpam dari mal di seberang jalan, seorang bapak kurus dengan topi kebesaran, mengangkat tangan ke pelipis. “Siaga, Mas IT.”

Aku membalas hormatnya. Aku tidak tahu kenapa. Rasanya sopan.


Bu Ratmi tiba pukul 18.15, memakai kebaya ungu dan sanggul yang tinggi, membawa tas tangan yang terlalu besar untuk ukuran tas tangan. Saat melewati meja pemeriksaan tas di pintu ballroom, petugas hotel membuka tasnya dan menatap ke dalam dengan wajah bingung.

“Bu, ini isinya...”

“Obat,” kata Bu Ratmi tegas.

“Obat, Bu?”

“Obat hati.” Bu Ratmi menutup tasnya. “Resep dokter.”

Petugas itu menatap Bu Ratmi. Bu Ratmi menatap petugas itu dengan wajah seorang bandar yang sudah dua puluh tahun menyelundupkan gorengan ke ruang rapat direksi.

Petugas itu membiarkannya lewat.

Saat Bu Ratmi lewat di depanku, ia membuka tasnya sedikit. Di dalamnya, puluhan bungkus kertas minyak, semuanya diikat karet gelang hijau.

“Seratus,” bisiknya. “Nggak bisa seribu. Tasnya nggak muat.”


Keluargaku tiba pukul 18.30.

Mereka masuk ke lobi Hotel Arunika seperti rombongan ziarah. Ibu di depan, dengan kebaya sage dan selendang batik. Mbak Awan di belakangnya, memegang lengan Ibu supaya tidak terpeleset di marmer. Mas Langit dan istrinya, yang langsung terbang dari Surabaya pagi tadi. Bayu, memakai kemeja sage yang kancingnya salah pasang satu, mirip Pak Dimas. Embun dan pacarnya.

Semua orang memakai sage.

Pengunjung hotel menoleh menatap rombongan sage itu. Ibu tidak peduli. Ibu berjalan lurus ke arahku, berhenti di depanku, dan merapikan kerah kemejaku. Kemeja putih baru yang dibelikan Mbak Awan kemarin, karena satu-satunya kemeja bagusmu itu kemarin kena lipstik, Bim, Mbak lihat di jemuran.

“Kamu ganteng,” kata Ibu.

“Bu.”

“Ibu cuma bilang.” Ibu menepuk pipiku. “Kamu mirip Bapak.”

Mbak Awan mengeluarkan kameraku dari tasnya. Kamera mirrorless bekas, yang kutitipkan padanya kemarin dengan pesan tolong bawa, Mbak, aku nggak bisa motret malam ini.

“Malam ini,” kata Mbak Awan, mengangkat kamera itu, “Mbak yang motret.”


Aku tidak melihat Kalea sampai pukul 18.50.

Aku sudah di ruang kontrol ballroom. Tentu saja. Aku tetap IT support malam itu. Itu yang ditulis Kalea di rundown tiga bulan lalu, dan aku tidak mau mengubah apa pun yang ditulisnya. Ruang kontrol ballroom Hotel Arunika lebih besar dari ruang kontrol di Nusa Dua. Ada empat monitor, satu meja mixer, dan satu jendela kaca kecil yang menghadap langsung ke ballroom.

Dari jendela kaca itu, aku melihatnya masuk.

Ia memakai gaun panjang berwarna hijau tua. Hijau seperti daun pohon jambu air setelah hujan. Hijau seperti karet gelang yang sekarang melingkar di pergelangan tanganku, di bawah manset kemeja putih. Rambutnya digerai, sedikit bergelombang. Lipstik merah bata. Ia memegang tablet dan berjalan cepat ke arah panggung, berbicara dengan koordinator acara hotel, menunjuk-nunjuk susunan meja.

Kalea Prameswari. Sekretaris direksi. Penyelenggara gala. Pada hari terakhirnya.

Ia terlihat sempurna. Ia terlihat seperti seseorang yang tidak akan pernah menangis di depan printer.

Aku tahu itu tidak benar.

Ia tidak menoleh ke arah ruang kontrol. Tidak sekali pun. Tapi saat ia berjalan melewati meja nomor tiga, ia berhenti. Di meja itu, di kursi yang bertuliskan Ibu dari Kalea Prameswari, Ibunya sedang duduk dengan kebaya biru muda dan kacamata yang tergantung di leher dengan tali manik-manik.

Kalea menatap ibunya. Ibunya melambai.

Kalea menutup mata sebentar, menarik napas, lalu berjalan lagi tanpa menoleh ke mana pun. Tapi dari jendela kaca ruang kontrol, aku melihat bahunya bergetar sedikit. Satu kali.


Gala dimulai pukul 19.00 tepat.

Kalea tidak menjadi MC malam itu. Rundown-nya menulis MC profesional dari agensi. Ia berdiri di sisi kiri panggung, di balik tirai, memegang tablet, memastikan setiap sesi berjalan tepat waktu.

Sambutan Direktur Utama. Pak Dimas membaca laporan dua puluh lima tahun Haryanto Group dengan nada pembaca berita cuaca, lalu berhenti di tengah dan berkata tanpa melihat kertas: “Dan hari ini juga hari terakhir program magang gelombang dua. Terima kasih kepada seluruh peserta. Khususnya...” Ia berhenti. Berdeham. “...seluruh peserta.”

Di meja nomor tujuh, Tasya menunduk dengan wajah merah. Di sebelahnya, Mbak Rini menyikut lengannya.

Makan malam. Bu Ratmi membagikan bakwan berkaret gelang hijau dari bawah meja ke meja-meja di sekitarnya, satu per satu, seperti agen rahasia.

Pukul 20.30, MC dari agensi melihat kartu panduannya dan mengerutkan dahi.

“Selanjutnya,” katanya ke mikrofon, “ada... sesi tambahan dari Direktur Utama. Judulnya...” Ia menatap kartu itu lagi. “Judulnya Sesi Figuran.”

Dari balik tirai di sisi kiri panggung, aku melihat Kalea mengangkat wajah dari tabletnya.


Aku keluar dari ruang kontrol.

Kakiku gemetar. Tanganku gemetar. Aku berjalan menyusuri sisi ballroom, di antara meja-meja bertaplak putih, di bawah lampu kristal, melewati dua ratus orang yang menoleh satu per satu.

Seratus wajah. Dua ratus wajah. Menatapku.

Persis seperti di townhall. Persis yang paling kutakuti.

Aku terus berjalan.

Aku naik ke panggung. MC dari agensi menyerahkan mikrofon padaku dengan wajah bingung. Aku memegangnya. Aku menekan tombolnya.

Mikrofon itu mati.

Tidak ada suara. Lampu kecil di pangkalnya tidak menyala. Aku mengetuk mikrofon itu. Diam.

Dua ratus orang menatapku. Hening. Dari meja nomor sembilan, Gilang menutup wajah dengan kedua tangan.

Aku menatap mikrofon di tanganku. Lalu aku berjongkok.

Kabelnya. Kabel mikrofon itu tersambung ke soket di lantai panggung. Kendur. Tergencet kaki podium.

Aku tidak tahu apakah itu sabotase alam semesta atau kecerobohan teknisi hotel. Tapi aku tahu satu hal: tidak ada orang lain di gedung ini yang tahu cara memperbaikinya lebih cepat dariku.

Jadi aku berjongkok di atas panggung, di depan dua ratus orang, di bawah lampu sorot, dengan kemeja putih baru dan karet gelang hijau di pergelangan tangan. Aku menggeser kaki podium. Aku mencabut kabel itu, meluruskannya, dan mendorongnya kembali ke soket.

Klik.

Lampu kecil di pangkal mikrofon menyala hijau.

Dari meja nomor sembilan, Gilang berteriak, “KABEL!”

Separuh ballroom tertawa. Sebagian lain, yang ternyata pernah membaca novel itu, bertepuk tangan.

Aku berdiri. Aku memegang mikrofon. Kali ini menyala.


“Selamat malam,” kataku.

Suaraku menggema di ballroom Hotel Arunika, keluar dari speaker kiri dan kanan yang tadi sore kucek tiga kali. Aku belum pernah mendengar suaraku dari speaker. Terdengar lebih pelan dari yang kukira. Lebih gemetar.

“Saya Bimo,” kataku. “Bimo Wibisena. Staf IT support. Lantai dua belas. Ekstensi 1204.”

Beberapa orang tertawa pelan.

“Mungkin sebagian dari Bapak dan Ibu pernah membaca tentang saya. Sebagai... staf IT yang lewat membawa kabel.” Aku menelan ludah. “Delapan puluh tujuh kali, menurut Mbak Sisil.”

Dari meja HR, Mbak Sisil mengangkat map plastiknya tinggi-tinggi.

“Saya nggak pernah naik panggung,” kataku. “Saya biasanya di ruang kontrol. Atau di bawah meja. Saya punya aturan supaya saya nggak pernah naik panggung.”

Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana. Aku membuka aplikasi catatan. Tanganku gemetar begitu keras sampai aku hampir menjatuhkannya.

“Ini namanya Aturan Figuran,” kataku. “Saya bikin waktu pertama kali sadar saya ada di novel itu. Ada sembilan. Saya bacakan yang belum dicoret.”

Hening di ballroom.

“Nomor tiga. Jangan bicara dengan tokoh bernama.“

Aku menatap meja-meja di depanku. Pak Darto, di meja satpam. Bu Ratmi. Gilang. Tasya. Pak Dimas. Mbak Sisil.

“Saya sudah bicara dengan semua tokoh bernama,” kataku. “Mereka semua tanda tangan formulir tiga rangkap.”

Tawa dari ballroom. Aku mencoret nomor tiga. Di depan dua ratus orang.

“Nomor empat. Pulang tepat waktu.“ Aku menatap jam di dinding ballroom. “Sekarang jam setengah sembilan malam. Saya masih di sini.”

Aku mencoretnya.

“Nomor enam. Jangan baca kolom komentar.“ Aku menatap layar ponsel. “Saya baca dua ratus empat belas komentar kemarin malam. Ada satu dari akun bernama Pak Kumis Official.”

Di meja direksi, Pak Dimas menutup wajah dengan telapak tangan yang masih sedikit hitam karena tinta spidol.

Aku mencoret nomor enam.

“Nomor delapan,” lanjutku. “Jangan lupa traktir Gilang kalau jadian.“

Dari meja nomor sembilan, Gilang berdiri dan berteriak, “ITU MASIH BERLAKU!”

“Nanti, Gil.”

“JANJI?”

“Janji.”

Gilang duduk dengan wajah puas. Aku tidak mencoret nomor delapan. Itu satu-satunya aturan yang ingin kutepati.

“Nomor sembilan. Jangan keluar dari grup Tim Hore Kapal Kabel.“ Aku menatap Pak Darto, Bu Ratmi, Gilang. “Saya nggak akan keluar.”

Lalu aku menatap layar ponsel. Daftar itu sekarang hampir seluruhnya dicoret. Sembilan aturan untuk tetap di pinggir halaman. Semuanya gagal.

Aku menekan tombol pilih semua. Lalu hapus.

Daftar itu hilang. Halaman catatan di ponselku kosong.

Aku mengetik satu baris baru. Lalu aku mengangkat ponsel ke arah ballroom, meskipun tidak ada yang bisa membaca layarnya dari jauh.

“Aturan baru,” kataku. “Cuma satu.”

Jangan pergi dari ceritanya.


Aku menurunkan ponsel. Aku menoleh ke sisi kiri panggung.

Tirai di sisi kiri panggung bergerak sedikit.

“Delapan bulan lalu,” kataku ke mikrofon, ke arah tirai itu, “ada seseorang yang menangis di depan printer lantai dua belas. Saya nggak melihat wajahnya. Saya kasih teh. Saya pergi. Saya lupa.”

Ballroom sangat sunyi. Aku bisa mendengar bunyi AC. Aku bisa mendengar Gilang menggigil di balik jaket parasutnya.

“Dia nggak lupa,” kataku. “Dia menulis tentang pagi itu. Delapan bulan. Dan selama delapan bulan, saya nggak tahu ada orang yang memperhatikan saya lewat. Saya kira saya figuran di hidup semua orang. Di keluarga saya. Di kantor ini. Di mana-mana.”

Aku menatap meja nomor empat. Ibu. Mbak Awan dengan kamera di tangan. Mas Langit. Bayu. Embun. Semuanya dalam baju sage.

“Ternyata saya bukan figuran,” kataku. “Saya cuma tukang foto. Yang selalu megang kamera. Yang nggak pernah ada di fotonya.”

Lalu aku merogoh saku dalam kemejaku dan mengeluarkan sesuatu.

Selembar kartu undangan berwarna krem keemasan. Sudutnya robek. Permukaannya kusut, seperti kertas yang pernah terlipat seperti akordeon di dalam rol printer, lalu diluruskan kembali dengan hati-hati. Robekannya disambung dengan selotip bening di bagian belakang.

Gala Malam Ulang Tahun ke-25 Haryanto Group. Hotel Arunika, Jakarta.

“Ini undangan untuk Pak Wiratno, komisaris,” kataku. “Rusak di printer lantai dua belas. Dia bilang buang saja.” Suaraku pecah. “Saya nggak buang. Saya sambung pakai selotip. Saya bawa ke sini malam ini, karena...”

Aku berhenti. Aku tidak tahu harus bilang apa lagi. Aku sudah menyiapkan kalimat-kalimat di ruang server selama seminggu, dan semuanya hilang begitu aku melihat tirai itu bergerak lagi.

Jadi aku mengatakan satu-satunya kalimat yang masih tersisa di kepalaku.

“Saya nggak pernah buang apa pun dari kamu.”


Tirai di sisi kiri panggung terbuka.

Kalea berdiri di sana. Tablet masih di tangan kirinya. Gaun hijau tua. Lipstik merah bata. Wajahnya basah.

Dua ratus orang menoleh ke arahnya.

Aku melihat bahunya menegang, seperti di lantai empat belas setiap kali ada orang yang berhenti bicara saat ia lewat. Aku melihatnya hampir mundur. Hampir menutup tirai lagi. Hampir lari dengan satu sandal.

Ia tidak mundur.

Aku mengangkat mikrofon untuk terakhir kali.

“Kalea,” kataku. Namanya menggema di seluruh ballroom. “Aku nggak lewat.”

Ia menatapku dari sisi panggung. Air matanya jatuh.

“Aku berhenti di sini.”

Mikrofon itu kuletakkan di atas podium. Aku tidak butuh mikrofon lagi.

Ia meletakkan tabletnya di lantai. Lalu ia berjalan. Melewati MC dari agensi yang berdiri membeku. Melewati podium. Ke tengah panggung, di bawah lampu sorot, di depan dua ratus orang yang menahan napas.

Ia berhenti satu langkah di depanku.

“Kamu bilang kamu nggak mau dilihat,” bisiknya. Suaranya tidak sampai ke mikrofon. Hanya sampai padaku.

“Aku bilang begitu.”

“Semua orang lihat kamu sekarang.”

“Iya.”

“Kamu gemetar.”

“Iya.”

Ia menatap tanganku. Karet gelang hijau di pergelangan tanganku, mengintip dari balik manset kemeja putih.

“Itu punya saya,” katanya.

“Kamu kasih aku.”

“Saya tinggalin.”

“Sama aja.”

Ia tertawa. Tawa yang basah dan pecah, persis seperti di bawah jaket parasut di gazebo Puncak.

Lalu ia memelukku.

Di tengah panggung Hotel Arunika. Di bawah lampu sorot. Di depan dua ratus orang, dewan komisaris, keluarga Wibisena dalam baju sage, ibunya di meja nomor tiga, empat satpam dari gedung-gedung berbeda, dan seorang ibu penjual gorengan dengan seratus bakwan selundupan.

Aku memeluknya balik.

Ballroom tidak bertepuk tangan. Untuk beberapa detik, ballroom diam. Lalu satu suara memecah keheningan. Keras, serak, dan sangat dikenal.

“SIAGAAA!”

Pak Darto berdiri dari kursinya, tangan di pelipis, air mata mengalir ke dalam kumisnya yang berwibawa. Tiga satpam lain di mejanya berdiri dan memberi hormat bersamaan.

Lalu ballroom meledak.

Tepuk tangan. Sorakan. Seseorang bersiul. Bu Ratmi berdiri di atas kursi dan melempar satu bungkus bakwan ke arah panggung. Bakwan itu jatuh di kaki podium, karet gelang hijaunya berkilat di bawah lampu sorot. Gilang menangis di balik jaket parasut. Tasya menangis di bahu Mbak Rini. Pak Dimas berdiri dan bertepuk tangan dengan wajah orang yang baru saja menyaksikan presentasi investor paling sukses dalam hidupnya.

Di meja nomor empat, Mbak Awan berdiri dengan kamera mirrorless bekas di depan wajahnya.

Klik. Klik. Klik.

Di meja nomor tiga, ibu Kalea memakai kacamata yang tergantung di lehernya, menatap kami lama sekali, lalu mengangguk pelan seperti guru yang baru selesai memeriksa karangan, dan memberinya nilai sempurna.

Kalea membenamkan wajah di dadaku.

“Bimo,” katanya ke kemejaku, di tengah semua kebisingan itu.

“Hm?”

“Kemejamu. Lipstik saya. Lagi.”

Aku menunduk. Noda merah bata di dada kemeja putih baru dari Mbak Awan.

“Saos,” kataku.

Ia tertawa ke dadaku, dan aku memeluknya lebih erat, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak peduli siapa yang melihat.