Chapter Fourteen
Yang Ditulis dan Yang Terjadi
POV: Kalea
Aku punya dokumen rahasia di laptop yang judulnya Outline vs Kenyataan.
Isinya pasangan-pasangan baris. Pertama: apa yang kutulis di outline novel, berdasarkan kalender direksi. Kedua: apa yang benar-benar terjadi. Aku mulai membuatnya tiga minggu lalu, setelah kopi yang seharusnya tumpah ternyata tidak tumpah. Awalnya untuk keperluan menulis. Sekarang dokumen itu lebih mirip catatan medis seseorang yang kondisinya memburuk.
- Outline: Kopi tumpah ke kemeja Dirgantara. Kenyataan: Staf IT di bawah meja. Kopi tidak tumpah.
- Outline: Kalina dipermalukan di lift. Kenyataan: Staf IT menahan pintu lift. Kalina selamat. Kalina tersenyum (kesalahan).
- Outline: Kalina menyabotase tarik tambang. Kenyataan: Kalina mengikat tali sepatu Tania. Kalina jatuh ke staf IT. Kalina tertawa sampai menangis (kesalahan besar).
- Outline: Kalina lembur sendirian, pahit. Kenyataan: Kalina lembur dengan staf IT. Telur ceplok. Kerupuk. Kalina bilang “kamu ganteng” (KESALAHAN FATAL).
Aku menatap baris terakhir itu Kamis pagi, di kereta, dengan ponsel yang dipegang dekat sekali ke wajah supaya penumpang di sebelahku tidak bisa membacanya.
Kamu tahu nggak, kalau lagi fokus kerja, kamu ganteng.
Aku mengatakan itu. Dengan mulutku sendiri. Pukul satu pagi, kepada laki-laki yang sedang minum teh, sehingga ia hampir mati tersedak di meja sekretaris direksi.
Lalu aku menempelkan kertas kuning di dahinya waktu ia tidur.
Di dahinya.
Aku menutup ponsel, menyandarkan kepala ke jendela kereta, dan mengerang pelan. Bapak-bapak di sebelahku bergeser setengah kursi menjauh.
Kamis siang, Pak Dimas memanggilku ke ruangannya dan menutup pintu.
Ini tidak biasa. Pak Dimas tidak pernah menutup pintu kecuali untuk telepon dengan dewan komisaris atau ketika ia mau menangis karena laporan kuartal. Aku masuk dengan tablet dan agenda, siap mencatat apa pun yang mendesak.
Pak Dimas berdiri di depan jendela, membelakangiku, kedua tangan di saku celana. Postur CEO di sampul majalah bisnis.
“Bu Kalea,” katanya ke arah jendela. “Saya mau bertanya sesuatu. Secara profesional.”
“Silakan, Pak.”
“Bagaimana cara mengajak seseorang makan siang...” Ia berhenti. Berdeham. “...tanpa melanggar kode etik perusahaan?”
Aku menatap punggungnya.
“Seseorang,” ulangku.
“Seseorang.” Ia masih menatap jendela. “Hipotesis. Seseorang dari divisi yang berbeda. Yang posisinya... sementara.”
“Sementara.”
“Misalnya. Peserta program.”
“Program apa, Pak?”
Pak Dimas akhirnya berbalik. Wajahnya merah sampai ke telinga. CEO perusahaan dengan aset tiga triliun, yang kemarin lusa menghadapi investor Singapura dengan tenang, sekarang berdiri di depanku seperti anak SMA yang ditanya guru BK soal surat cinta.
“Program magang,” bisiknya.
Aku membuka agenda. Membalik halaman ke kalender program magang. Menunjuk satu tanggal.
“Program magang gelombang dua berakhir tanggal empat belas Desember, Pak,” kataku dengan nada yang biasa kupakai untuk membacakan tenggat laporan pajak. “Setelah itu, peserta tidak lagi berada di bawah struktur perusahaan. Tidak ada relasi atasan-bawahan. Tidak ada konflik kepentingan.”
Pak Dimas menatap tanggal itu. “Dua bulan.”
“Delapan minggu.”
“Itu lama.”
“Bapak menunggu izin pembangunan gudang Cikarang selama sebelas bulan, Pak.”
Pak Dimas membuka mulut, lalu menutupnya. Ia mengangguk perlahan. Lalu ia mengambil spidol dari mejanya, berjalan ke papan tulis kecil di dinding ruangannya, tempat biasanya ia menulis target kuartalan, dan di pojok bawah menulis dengan huruf sangat kecil:
56.
“Itu apa, Pak?”
“Hitung mundur.” Ia menutup spidol. “Saya akan menghapus satu angka setiap hari.”
Aku menahan senyum dengan seluruh kekuatan yang kumiliki. “Baik, Pak. Ada lagi?”
“Satu lagi.” Ia kembali ke mejanya, duduk, membuka dokumen. Seluruh wajahnya sudah kembali ke mode CEO. “Pertemuan mitra di Bali bulan depan. Saya mau Tasya ikut sebagai perwakilan tim analisis pasar. Slide Vietnam-nya diminta oleh tiga mitra.”
“Itu masuk akal secara profesional, Pak.”
“Bagus. Dan kita butuh IT support untuk acara itu. Gala dinner, presentasi, siaran ke kantor regional. Siapkan nama.”
“Baik, Pak.”
Aku keluar dari ruangan itu dengan tablet di dada dan jantung yang berdetak seperti printer lantai empat belas yang kusobek kertasnya.
IT support. Untuk perjalanan dinas. Ke Bali. Tiga hari dua malam.
Siapkan nama.
Aku menulis email itu empat belas kali.
Draf 1:
Pak Dimas, untuk IT support perjalanan dinas Bali, saya merekomendasikan Bimo Wibisena.
Terlalu cepat. Terlalu langsung. Seperti aku sudah memikirkannya sebelum diminta. (Aku memang sudah memikirkannya sebelum diminta.)
Draf 4:
Pak Dimas, berdasarkan evaluasi kinerja tim IT, kandidat dengan rekam jejak terbaik dalam penanganan acara adalah Bimo Wibisena (proyektor ruang Anggrek, siaran langsung outing Puncak, presentasi investor Singapura).
Terlalu panjang. Terlalu banyak bukti. Seperti pengacara yang membela kliennya terlalu keras.
Draf 9:
Pak Dimas, IT support Bali: Gilang Prakasa atau Bimo Wibisena. Mohon dipilih.
Aku menatap nama Gilang di draf itu selama satu menit penuh. Lalu aku membayangkan Gilang di ruang gala dinner dengan AC dua puluh derajat, menggigil tanpa jaket, mencabut kabel mixer untuk mengisi daya ponsel. Aku menghapus draf sembilan.
Draf 14:
Pak Dimas, untuk IT support Bali, saya merekomendasikan Bimo Wibisena. Alasan: ia tahu bunyi lift.
Aku menekan kirim sebelum sempat berpikir lagi.
Tiga menit kemudian, balasan Pak Dimas masuk.
Bimo? Yang kabel itu? Oke. Alasan yang sangat masuk akal. — D.H.
Aku menatap balasan itu. Pak Dimas menganggap ia tahu bunyi lift sebagai alasan yang sangat masuk akal. Entah karena Pak Dimas sedang terlalu sibuk memikirkan angka 56 di papan tulisnya, atau karena Pak Dimas, diam-diam, mengerti sesuatu.
Aku membuka Aturan Antagonis dan menambahkan baris kesembilan:
9. Jangan atur perjalanan dinas demi seseorang.
Lalu, di sebelahnya: (sudah terkirim).
Sore itu, saat aku mengantar dokumen ke ruangannya, angka di papan tulis kecil Pak Dimas sudah berubah jadi 55.
Padahal baru tiga jam berlalu.
“Pak,” kataku, “angkanya berkurang.”
“Saya hitung berdasarkan jam kerja, Bu Kalea.” Pak Dimas tidak mengangkat wajah dari dokumennya. “Satu hari kerja delapan jam. Saya sudah melewati tiga jam yang sangat produktif. Itu dibulatkan.”
“Itu tidak mengubah tanggal empat belas Desember, Pak.”
“Secara administratif, tidak.” Ia membalik halaman. “Secara psikologis, mengubah.”
Aku meletakkan dokumen di mejanya dan keluar tanpa berkomentar. Di lorong, aku harus berhenti di depan dispenser air dan menutup mulut dengan punggung tangan selama satu menit penuh, sampai staf administrasi yang lewat bertanya apakah aku sakit gigi.
Pukul 12.15, tangga darurat.
Setelah lembur Rabu malam, setelah Pak Darto dan senternya, setelah kertas kuning di dahi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di tangga darurat. Aku sudah menyiapkan tiga skenario di kereta tadi pagi. Skenario satu: canggung, kami tidak bicara. Skenario dua: ia bertanya soal ganteng dan aku pura-pura lupa. Skenario tiga: ia tidak datang.
Ia datang. Tentu saja ia datang. Ia duduk di anak tangga ketiga dengan dua bungkusan, seperti selalu.
Tapi saat aku turun dan duduk di anak tangga keempat, ia melakukan sesuatu yang tidak ada di skenario mana pun.
Ia turun satu anak tangga.
Ia duduk di anak tangga keempat. Di sebelahku. Bahu kami tidak bersentuhan, tapi jaraknya cukup dekat sehingga bungkusan hijau yang ia sodorkan tidak perlu diulurkan, cukup diletakkan di pangkuanku.
Aku menatap bungkusan itu. Aku menatap bahunya. Aku menatap anak tangga ketiga yang sekarang kosong.
“Kamu turun,” kataku.
“Kakiku pegal.”
“Kamu duduk. Kaki tidak pegal kalau duduk.”
“Pegal karena lembur.” Ia membuka bungkusan merahnya dengan wajah sangat datar. “Dan karena ada yang bilang nggak perlu pura-pura lagi soal anak tangga keempat.”
Aku menunduk ke bakwanku, dan tidak bisa berhenti tersenyum, dan tidak berusaha menyembunyikannya.
Kami makan bersebelahan. Ia bersenandung. Kali ini aku ikut bersenandung, pelan, nada yang sama. Ia berhenti dan menoleh, kaget. Aku terus bersenandung tanpa menatapnya. Setelah beberapa detik, ia ikut lagi.
Dua orang dewasa, di anak tangga yang sama, bersenandung lagu yang tidak punya judul.
Pukul 14.00, aku turun ke lantai dua belas dengan alasan printer. Aku tidak punya apa-apa untuk dicetak. Aku mencetak satu lembar kalender Desember, karena itu satu-satunya file yang terpikir olehku.
Printer lantai dua belas tidak macet. Itu justru membuatku kecewa.
Saat menunggu kertas keluar, aku melihat papan gabus di dinding pantry.
Aku sudah mendengar soal papan itu dari obrolan karyawan di lift. Tapi mendengar dan melihat adalah dua hal yang berbeda. Di papan itu ada lembar KAPAL KABEL 🚢 (Kalea + Bimo) dengan daftar nama yang sekarang sudah dua kali lebih panjang dari kemarin. Di bawahnya, tulisan Bu Ratmi: UPDATE: +12 penumpang setelah laporan saksi mata Rabu malam (Pak D). Di sebelahnya ada gambar tangan Pak Darto: dua orang lidi, sebuah kotak, dan matahari tersenyum.
Lembar KAPAL TABIM di sebelahnya sudah dicoret oleh seseorang dengan spidol merah muda yang sama yang dipakai untuk menulisnya. Di bawah coretan itu ada tulisan kecil: Maaf Mas Bimo & Tasya. Kami salah baca. — Rini.
Aku berdiri di depan papan itu, memegang selembar kalender Desember, dan merasakan seluruh darah di tubuhku naik ke wajah.
“Mau daftar, Bu?”
Aku berbalik. Bu Ratmi berdiri di belakangku dengan bakul gorengan dan senyum seorang bandar yang tahu pasarnya sedang naik.
“Saya...” Aku memeluk kalender Desember ke dada. “Saya mau beli bakwan.”
“Yang hijau?”
Aku membeku. “Kenapa hijau?”
“Nggak apa-apa, Bu.” Bu Ratmi mengambil satu bakwan, membungkusnya dengan kertas minyak, dan mengikatnya dengan karet gelang hijau. Ia menyerahkannya padaku dengan dua tangan, seperti menyerahkan sesuatu yang sakral. “Gratis, Bu. Diskon kapal.”
Aku menerimanya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Jadi aku mengatakan “terima kasih” dengan suara sangat kecil dan berjalan ke lift secepat mungkin tanpa berlari.
Di belakangku, Bu Ratmi bersenandung. Lagu dangdut yang sama yang Pak Darto senandungkan setiap pagi. Tentang cinta di tempat kerja.
Malamnya, aku menulis Bab 31.
Outline-ku bilang: Kalina lembur sendirian, pahit, menyusun dokumen audit sambil memikirkan betapa tidak adilnya hidup, lalu melihat dari jendela bagaimana Dirgantara mengantar Tania pulang.
Yang kutulis berbeda.
Aku menulis lembur. Aku menulis nasi goreng dan telur ceplok yang berpindah piring. Aku menulis printer yang macet dan kertas yang sobek dan pinset yang mengangkat potongan terakhir seperti piala kecil.
Lalu aku menulis sesuatu yang tidak terjadi.
Pukul satu pagi, staf IT itu menatap Kalina dan berkata, “Kamu nggak pernah jadi antagonis di cerita mana pun yang aku baca.”
Ia tidak pernah mengatakan itu. Ia tidak tahu soal novel ini. Ia tidak tahu soal Kalina. Ia hanya tahu soal bakwan hijau dan anak tangga keempat.
Tapi aku menulisnya. Karena untuk pertama kalinya dalam delapan bulan, aku menulis bukan apa yang dijadwalkan, bukan apa yang terjadi, tapi apa yang kuharapkan.
Aku membaca ulang kalimat itu, dan mataku perih.
Aku hampir menghapusnya. Lalu aku tidak menghapusnya.
Di bagian akhir bab, aku menambahkan catatan penulis. Sesuatu yang belum pernah kulakukan selama tiga puluh satu bab, karena penulis yang baik tidak menjelaskan ceritanya sendiri.
Catatan penulis: Untuk semua yang menunggu Mas IT x Tania, maaf. Tania sudah punya seseorang yang menghitung hari untuknya. Biarkan Mas IT memilih sendiri.
Aku menjadwalkan bab itu untuk Jumat pukul 21.00.
Lalu aku membuka Aturan Antagonis dan menatap baris kedelapan:
8. Suatu hari kamu harus bilang ke dia.
Bali. Tiga hari dua malam. Pantai, laut, dan tidak ada tangga darurat untuk bersembunyi.
Aku mengetik di sebelah baris itu:
(Bali.)
Lalu aku menatapnya lama, dan tidak menghapusnya, dan tidur dengan bakwan berkaret gelang hijau yang belum kumakan di atas meja, karena terlalu sayang untuk dimakan.
Bakwan itu basi keesokan harinya. Aku membuangnya sambil merasa sangat bodoh.
Karet gelangnya kusimpan di laci, di sebelah foto Ayah.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi reading
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto