← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Thirty Two

Rapat Darurat Para Figuran

POV: Bimo

Aku mengirim satu pesan ke grup Tim Hore Kapal Kabel pukul 05.47 pagi, dari anak tangga keempat.

Aku: Rapat. Pantry lantai 12. Jam 6 sore. Tolong.

Itu pesan pertamaku di grup itu sejak dimasukkan paksa oleh Gilang, empat bulan lalu.

Dalam tiga menit, grup itu meledak.

Gilang: BIM???

Gilang: LO NGIRIM PESAN DI GRUP???

Gilang: INI BUKAN MIMPI???

Bu Ratmi: Ibu bawa gorengan. Berapa orang, Mas?

Pak Darto: Siaga. Saya sudah izin pulang telat ke istri. Istri saya bilang “Akhirnya.” 🫡

Lalu, satu pesan dari nomor yang tidak kukenal, yang ternyata juga anggota grup itu:

Tasya: Mas Bimo... boleh saya ikut? Saya mau bantu. Apa pun.

Aku menatap pesan Tasya. Lalu aku membalas.

Aku: Ikut, Sya.

Lalu, karena kalau sudah melanggar satu aturan lebih baik melanggar semuanya sekalian, aku membuka daftar kontak dan mengirim dua pesan lagi. Satu ke Mbak Sisil. Satu lagi ke nomor yang tidak pernah kuhubungi selama empat tahun bekerja: nomor pribadi Pak Dimas, yang kudapat dari tiket reset password atas nama Tasya.


Pukul 18.00, pantry lantai dua belas penuh.

Itu kali pertama dalam sejarah gedung ini pantry lantai dua belas dipakai untuk rapat. Bu Ratmi menyusun meja-meja pantry jadi satu meja panjang dan menutupinya dengan taplak meja motif kotak-kotak. Taplak yang sama yang dulu dipakai untuk membungkus Gilang di Puncak. Di tengah meja, ada tiga bakul gorengan, dua termos teh melati, dan sepiring kue lapis legit dari Toko Kenanga.

“Ibu ke Bekasi tadi pagi,” kata Bu Ratmi, menunjuk lapis legit itu. “Engkong Liong kirim salam. Katanya, ‘Kenapa sekarang banyak orang Jakarta beli lapis legit yang gosong?’”

Peserta rapat:

Gilang, yang memakai jaket dan membawa papan tulis kecil yang ia pinjam dari ruang rapat lantai sepuluh tanpa izin.

Pak Darto, yang datang dengan seragam lengkap dan duduk di ujung meja seperti kepala keamanan negara.

Bu Ratmi, bandar resmi, dengan buku catatan taruhan di pangkuan.

Tasya, yang duduk di pojok dengan wajah masih sedikit bengkak dan memegang huruf S kuning dari spanduk, yang ia ambil kembali dari rak server.

Mbak Rini, yang datang tanpa diundang tapi membawa fan art baru dan tidak ada yang tega mengusirnya.

Mbak Sisil, yang datang dengan tiga map plastik, kacamata merah, dan wajah seseorang yang tidak yakin apakah ia sedang menghadiri rapat atau sedang melanggar kode etik.

Nadia dari tim legal, yang ternyata dibawa Mbak Sisil “untuk pendapat hukum”, tapi yang langsung duduk di sebelah Mbak Rini dan berbisik, “Mbak, saya Tim Kabel dari Bab 9.”

Dan, pukul 18.07, Pak Dimas Haryanto.

Direktur Utama Haryanto Group masuk ke pantry lantai dua belas dengan kemeja batik, wajah canggung, dan sebuah kantong plastik besar dari minimarket di lantai dasar. Ia meletakkan kantong itu di meja.

Isinya tiga puluh roti sobek.

Semua orang menatap roti sobek itu. Lalu menatap Pak Dimas. Lalu menatap Tasya.

Pak Dimas berdeham. “Saya tidak tahu harus bawa apa ke rapat... jenis ini.”

“Rapat jenis apa, Pak?” tanya Gilang.

Pak Dimas menatap papan tulis kecil yang dipegang Gilang. Di papan itu, Gilang sudah menulis dengan spidol besar: RAPAT DARURAT PARA FIGURAN.

“Jenis itu,” kata Pak Dimas.

Ia duduk di kursi plastik di sebelah Tasya, karena itu satu-satunya kursi yang tersisa. Tasya menatap lututnya sendiri. Pak Dimas menatap roti sobek. Dan untuk satu detik, di tengah semua kekacauan ini, aku merasakan sesuatu yang hangat. Bahwa bahkan di rapat ini pun, cerita mereka tetap berjalan, di pinggir, tanpa ada yang menulisnya.


“Baik,” kata Gilang, berdiri di depan papan tulis. “Rapat dimulai. Agenda: Mas Bimo mau... mau apa, Bim?”

Semua orang menoleh padaku.

Aku berdiri. Aku tidak pernah berdiri di depan orang lain untuk bicara. Di keluargaku, aku yang memegang kamera. Di kantor, aku yang merangkak di bawah meja. Aku tidak tahu cara berdiri di depan sembilan orang dan sebuah kantong berisi tiga puluh roti sobek.

“Saya baca Bab 1,” kataku.

Pantry hening.

“Semalam. Di pos satpam. Pak Darto yang simpan.” Aku menatap Pak Darto, yang mengangguk khidmat. “Saya baca semuanya. Tiga puluh enam bab. Dan saya... saya baru tahu ceritanya dimulai dari mana.”

Aku menceritakan pagi itu. Printer lantai dua belas. Seseorang yang menangis. Teh melati. Aku menceritakannya dengan kalimat-kalimat pendek, karena aku tidak tahu cara bercerita dengan kalimat panjang. Aku tidak menceritakan bahwa itu hari ulang tahun pertama kematian ayahnya. Itu bukan ceritaku untuk diceritakan.

Saat aku selesai, Bu Ratmi sedang mengusap mata dengan ujung kerudungnya. Mbak Rini menutup mulut dengan tangan. Nadia dari legal menangis dengan sangat profesional, tanpa suara, sambil mencatat.

“Jadi,” kataku, “tanggal empat belas, di gala, Kalea datang untuk terakhir kali. Dan saya mau...”

Aku berhenti. Aku tidak tahu kata yang tepat.

“Mau apa, Mas?” tanya Tasya pelan.

“Saya mau dia tahu saya nggak mau halaman kosong.”


Dua puluh menit berikutnya adalah dua puluh menit paling kacau dalam sejarah Haryanto Group.

“FLASHMOB!” teriak Gilang, menulis kata itu di papan tulis dengan huruf besar. “Kita semua nari! Di tengah gala! Lagu Cinta Satu Malam!”

“Gil, itu lagu dangdut,” kata Mbak Rini.

“Justru! Nggak ada yang nyangka!”

“Pak Dimas nggak bisa nari,” kata Tasya pelan.

Pak Dimas, di sebelahnya, menoleh dengan wajah sedikit tersinggung. “Saya bisa nari.”

Tasya menatapnya. “Pak, waktu acara tujuh belasan, Bapak ikut lomba joget balon dan balonnya pecah di detik ketiga.”

Pak Dimas tidak membantah. Gilang mencoret FLASHMOB.

“Gorengan,” kata Bu Ratmi tegas. “Seribu bakwan. Karet gelang hijau semua. Kita bagikan ke semua tamu gala.”

“Bu, gala di hotel bintang lima,” kata Mbak Sisil. “Hotel nggak izinkan makanan dari luar.”

“Ibu bawa diam-diam.”

“Seribu bakwan diam-diam?”

“Ibu udah dua puluh tahun jualan, Mbak. Ibu bisa nyelundupin bakwan ke mana aja.”

Gilang menulis BAKWAN (SELUNDUPAN) di papan, dengan tanda tanya.

“Saya,” kata Pak Darto, mengangkat tangan dengan sangat formal, “usul ritual hormat. Semua satpam se-Jakarta Selatan. Saya punya grup. Empat puluh orang. Kita berbaris di lobi hotel, waktu Bu Kalea datang, terus kita bilang ‘Siaga’ bareng-bareng.”

Hening.

“Pak,” kata Gilang pelan, “itu kayak penyambutan presiden.”

“Bu Kalea pantas disambut kayak presiden.”

Gilang menulis 40 SATPAM (SIAGA) di papan. Lalu ia menatap papan itu, yang sekarang berisi FLASHMOB (dicoret), BAKWAN (SELUNDUPAN), dan 40 SATPAM (SIAGA), dan menghela napas panjang.

“Kita butuh rencana yang lebih... realistis.”


Mbak Sisil berdiri.

Semua orang menoleh. Mbak Sisil tidak pernah berdiri di rapat yang bukan rapat HR. Ia membuka salah satu map plastiknya dan mengeluarkan setumpuk kertas.

“Saya sudah buat sesuatu,” katanya. Suaranya sedikit bergetar. “Semalam. Setelah rapat klarifikasi. Saya tidak bisa tidur.”

Ia membagikan kertas itu ke setiap orang. Aku membaca judulnya.

FORMULIR PERSETUJUAN PUBLIKASI
(Untuk Tokoh dalam Karya Fiksi “Sang CEO dan Gadis Magang”)
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa saya mengizinkan penggambaran diri saya dalam karya tersebut, dan tidak keberatan karya tersebut diterbitkan kembali.

Ada kolom nama. Kolom jabatan. Kolom nama tokoh di novel. Kolom tanda tangan. Tiga rangkap.

“Masalah utama dalam rapat klarifikasi,” kata Mbak Sisil, menegakkan kacamatanya, “adalah karya itu diterbitkan tanpa persetujuan tokoh-tokoh nyata. Pasal lima belas. Tapi pasal lima belas tidak melarang publikasi. Pasal lima belas hanya mensyaratkan persetujuan.”

Ia menatap semua orang di meja.

“Kalau semua tokoh setuju,” katanya, “secara hukum, tidak ada pelanggaran lagi.”

Nadia dari legal berhenti menangis dan mengangkat wajah. “Itu... itu benar, Mbak. Secara teknis.”

“Saya HR,” kata Mbak Sisil. “Saya selalu benar secara teknis.”

Pak Darto adalah orang pertama yang menandatangani. Ia menulis di kolom nama tokoh dalam novel: Satpam berkumis tebal dan berwibawa. Lalu ia menekan tanda tangannya begitu keras sampai kertasnya hampir sobek.

Bu Ratmi menandatangani berikutnya. Ibu penjual gorengan yang tahu semua rahasia kantor. Lalu ia menambahkan di pinggir: (dan hangat).

Gilang menandatangani. Ia menatap kolom nama tokoh dalam novel lama sekali. “Gue ada di novel, nggak?”

“Ada,” kataku. “Teman staf IT yang suka teori konspirasi. Bab 9 sama Bab 22.”

Gilang menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Gue punya peran, Bim.”

Mbak Rini menandatangani. Nadia menandatangani, walaupun ia tidak ada di novel, “untuk dukungan moral”. Tasya menandatangani dengan tangan gemetar. Di kolom nama tokoh, ia menulis Tania, lalu menambahkan dengan huruf kecil: (maaf, Bu).

Lalu semua orang menoleh ke Pak Dimas.

Pak Dimas menatap formulir di depannya. Kolom nama tokoh dalam novel.

“Dirgantara,” ia membaca pelan. “Pria dingin dengan rahang yang bisa memotong kaca.”

Ia menyentuh rahangnya sendiri. Lalu ia menandatangani. Lalu, dengan suara sangat pelan, ia berkata pada formulir itu:

“Rahang saya biasa saja.”

Tasya, di sebelahnya, tertawa. Tawa pertama yang kudengar darinya sejak Jumat. Pak Dimas menoleh padanya, dan untuk satu detik wajahnya berubah. Lalu ia cepat-cepat menatap formulir lagi.

Formulir terakhir ada di depanku.

Nama: Bimo Wibisena. Jabatan: Staf IT Support. Nama tokoh dalam novel:

Aku menatap kolom itu.

Staf IT yang lewat membawa kabel.

Aku mengambil pulpen. Lalu aku menulis sesuatu yang lain.

Staf IT yang tidak pernah cuma lewat.

Aku menandatanganinya. Tiga rangkap.


“Oke,” kata Gilang, menghapus papan tulis dan memulai dari awal. “Jadi formulir beres. Novelnya bisa balik secara hukum. Tapi Bu Kalea udah hapus novelnya. Dan Bu Kalea udah resign. Dan Bu Kalea entah di mana.”

“Bandung,” kata Pak Dimas, lalu langsung menutup mulutnya. “Saya tidak bilang apa-apa.”

“Bapak bilang Bandung, Pak.”

“Saya bilang... ‘bandung’. Minuman. Saya haus.” Pak Dimas meraih termos teh melati dengan panik.

Tidak ada yang bertanya lagi. Itu sesuatu yang kami sepakati tanpa bicara: kami tidak akan mencari Kalea. Kami tidak akan datang ke rumahnya. Kami tidak akan menulis tentangnya tanpa izin. Itu yang membuat semua ini dimulai.

“Gala,” kata Pak Dimas setelah meneguk teh. Suaranya kembali ke mode CEO. “Tanggal empat belas. Saya Direktur Utama. Saya yang menentukan susunan acara.” Ia menatapku. “Saya bisa menambahkan satu sesi.”

“Sesi apa, Pak?”

“Itu terserah kamu.”

Semua orang menatapku.

“Saya nggak tahu mau ngapain di panggung,” kataku. “Saya nggak pernah di panggung. Saya selalu di belakang. Di ruang kontrol. Di bawah meja.”

“Mas Bimo.” Tasya mengangkat wajah. Ia memeluk huruf S kuning di dadanya. “Bu Kalea itu penulis.”

“Iya.”

“Penulis itu...” Tasya menggigit bibir. “Penulis itu bacanya pakai hati, Mas. Bukan pakai mata. Kalau Mas mau Bu Kalea tahu sesuatu, jangan cuma bilang. Tulis.”

Pantry hening.

“Aku bukan penulis, Sya.”

“Mas nggak perlu jadi penulis.” Tasya tersenyum. Senyum seperti matahari jam tujuh pagi, yang sudah lama tidak kulihat. “Bu Kalea juga dulu bukan penulis lagi. Terus ada yang kasih dia teh melati. Dan dia nulis lagi.”

Aku menatap Tasya.

“Mas tulis apa yang Mas lihat,” katanya pelan. “Selama ini. Dari sudut Mas. Dari sudut figuran.”

Gilang menulis di papan tulis, dengan huruf kecil dan rapi, sangat tidak seperti tulisannya biasanya:

1. Bimo nulis.
2. Bimo naik panggung.
3. Bimo nggak lewat.

Lalu ia menatap papan itu, mengangguk, dan berkata dengan suara serak:

“Itu bukan rencana realistis, Bim. Tapi itu rencana yang bener.”


Rapat bubar pukul 20.15.

Bu Ratmi membungkus sisa gorengan untuk dibawa pulang semua orang, dengan karet gelang hijau. Mbak Sisil mengumpulkan formulir tiga rangkap dan memeluknya di dada seperti dokumen negara. Pak Darto berdiri di pintu pantry dan memberi hormat kepada setiap orang yang keluar.

Pak Dimas keluar terakhir, bersama Tasya. Ia membawa kantong plastik berisi dua puluh sembilan roti sobek, karena satu sudah dimakan Gilang.

Di depan lift, aku mendengar Pak Dimas berkata pelan, “Tasya. Roti sobeknya... kamu mau bawa pulang beberapa?”

“Boleh, Pak?”

“Boleh. Saya beli terlalu banyak.”

“Bapak selalu beli terlalu banyak.”

“Iya,” kata Pak Dimas. “Saya selalu beli terlalu banyak supaya bisa ngasih satu.”

Pintu lift tertutup. Lift nomor satu.

Aku berdiri di pantry yang kosong, menatap papan tulis kecil yang ditinggalkan Gilang di atas meja.

1. Bimo nulis.

Aku membuka laptop.

Halaman kosong. Kursor berkedip.

Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Jadi aku mulai dari tempat cerita itu dimulai.

Senin pagi.