← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Twenty Eight

Rapat HR

POV: Bimo

Ruang rapat HR ada di lantai sembilan, dan namanya Melati.

Aku tidak tahu siapa yang menamai ruang-ruang rapat di gedung ini. Anggrek di lantai empat belas, Mawar di lantai sepuluh, Kenanga di lantai tujuh. Melati di lantai sembilan. Aku sudah memperbaiki proyektor di semua ruangan itu, puluhan kali, dan tidak pernah memikirkan nama-namanya.

Selasa pagi, pukul 09.00, aku berdiri di depan pintu bertuliskan Ruang Melati dan memikirkan nama itu lama sekali.

Mbak Sisil membuka pintu sebelum aku sempat mengetuk.

“Mas Bimo. Silakan masuk.” Kacamatanya yang berbingkai merah sedikit miring. Ia memeluk tiga map plastik sekaligus. Wajahnya terlihat seperti orang yang tidak tidur, karena memang ia tidak tidur. Gilang bilang Mbak Sisil menghabiskan akhir pekan membaca seluruh tiga puluh lima bab novel itu, dengan stabilo kuning, untuk menandai setiap bagian yang berpotensi melanggar kebijakan privasi.

“Ini,” katanya, menyerahkan selembar formulir padaku sebelum aku duduk. “Formulir pernyataan pihak terdampak. Tiga rangkap. Mohon diisi.”

Aku menatap formulir itu. Nama. Jabatan. Bagaimana Anda terdampak oleh insiden ini (maksimal 200 kata).

“Dua ratus kata,” kataku.

“Kalau kurang, boleh lampiran.”

Ponselku bergetar di saku. Gilang.

Gilang: Gue nunggu di tangga lantai 9. Bawa kerupuk.

Gilang: Kalau lo keluar nangis, gue pura-pura nggak lihat.

Gilang: Kalau lo keluar ketawa, gue juga pura-pura nggak lihat, soalnya itu lebih serem.

Aku memasukkan ponsel kembali ke saku tanpa membalas. Tapi untuk satu detik, sesuatu yang dingin di dadaku sedikit menghangat.

Aku duduk. Ruang Melati kecil. Meja bundar, enam kursi, satu proyektor di langit-langit yang lampunya sudah redup dan seharusnya diganti dua bulan lalu. Aku pernah membuat tiket untuk itu. Tidak pernah diproses.

Di seberang meja, sudah duduk dua orang dari tim legal. Pak Hendra, kepala legal, dengan kacamata tebal dan wajah orang yang sangat ingin berada di tempat lain. Dan stafnya, perempuan muda bernama Nadia, yang membawa laptop dan menatapku dengan mata yang sedikit berbinar sebelum ia ingat bahwa ini rapat serius dan menunduk ke layarnya.

Lalu pintu terbuka lagi, dan Kalea masuk.


Aku belum melihatnya sejak Jumat. Sejak ia menutup laptop di meja kontrol tanpa menatapku. Sejak bayangan di balik partisi kaca buram.

Ia memakai blazer abu-abu gelap. Rambut digerai, tanpa satu helai pun keluar jalur. Lipstik merah bata. Wajah yang tenang, rapi, tanpa ekspresi.

Wajah yang sama yang kulihat di hari pertama aku mengganti kabel monitornya. Sebelum ada lift, sebelum ada tangga darurat, sebelum ada bakwan berkaret gelang hijau.

Ia mengangguk ke Pak Hendra. Ke Nadia. Ke Mbak Sisil.

Ia tidak mengangguk ke arahku. Ia duduk di kursi paling jauh dariku, di sisi lain meja bundar, dan membuka map hitam di depannya.

Di bawah matanya, di balik bedak yang dipakai lebih tebal dari biasanya, aku masih bisa melihat bayangan gelap. Dan bintik cokelat kecil di bawah mata kirinya.

Aku langsung menatap formulir tiga rangkap.

Pak Dimas masuk terakhir, dengan wajah pucat dan kemeja yang kancingnya salah pasang satu. Ia duduk di kursi di antara Kalea dan aku, dan aku melihat ia melirik kami berdua bergantian, seperti anak kecil yang terjebak di antara dua orang tua yang sedang bertengkar.

“Baik,” kata Mbak Sisil, merapikan map-mapnya. “Kita mulai.”


Rapat itu berlangsung satu jam dua puluh menit.

Pak Hendra membuka dengan penjelasan panjang tentang kebijakan perusahaan. Kode etik karyawan pasal empat belas: karyawan dilarang menyebarluaskan informasi internal perusahaan kepada publik tanpa izin. Pasal lima belas: karyawan dilarang mempublikasikan informasi pribadi rekan kerja tanpa persetujuan yang bersangkutan. Ia membacakannya dengan nada orang yang membaca syarat dan ketentuan aplikasi.

Lalu Nadia menampilkan tangkapan layar di proyektor yang redup. Kolom komentar. Utas di Twitter yang menyebut nama Haryanto Group. Seseorang yang mengunggah foto lobi gedung kami dengan keterangan: ternyata ini kantor Sang CEO dan Gadis Magang!! 😍 Seseorang lain yang mengunggah foto Pak Darto dari kejauhan: satpam berkumis berwibawa ditemukan.

Pak Dimas menatap foto Pak Darto dengan wajah sangat sedih.

Lalu Mbak Sisil membuka mapnya yang penuh stabilo kuning.

“Saya sudah membaca seluruh novel,” katanya. Suaranya sedikit bergetar. Ia berdeham. “Untuk keperluan investigasi. Saya menemukan dua ratus empat belas detail yang merujuk pada karyawan dan fasilitas Haryanto Group. Lift nomor tiga. Ruang rapat Anggrek. Jadwal direksi. Outing Puncak. Perjalanan dinas Bali.”

Ia membalik halaman. Stabilo kuning di mana-mana.

“Dan seorang karyawan IT yang disebut ‘staf IT yang lewat membawa kabel’ sebanyak...” Ia menatap catatannya. “Delapan puluh tujuh kali.”

Delapan puluh tujuh kali.

Aku menatap meja. Aku tidak pernah menghitungnya. Aku hanya membaca dari Bab 22. Aku tidak tahu ada delapan puluh tujuh.

Nadia, staf legal, melirik ke arahku lagi. Kali ini aku melihat matanya berkaca-kaca. Ia cepat-cepat menunduk ke laptop.

“Bu Kalea,” kata Pak Hendra, “apakah Ibu mengakui bahwa Ibu adalah penulis dengan nama pena Senin Pagi?”

“Saya mengakui,” kata Kalea.

Suaranya rendah, jernih, dan sangat tenang.

“Apakah Ibu memperoleh izin dari karyawan-karyawan yang disebutkan dalam novel tersebut?”

“Tidak.”

“Apakah Ibu menyadari bahwa tindakan tersebut melanggar pasal empat belas dan lima belas kode etik?”

“Saya menyadari.”

Pak Hendra mencatat. Mbak Sisil mencatat. Pak Dimas menatap meja dengan wajah orang yang ingin bicara tapi tidak tahu harus bicara apa.

“Baik,” kata Pak Hendra. “Sekarang, Mas Bimo.”

Aku mengangkat wajah.

“Sebagai pihak yang paling banyak disebutkan dalam novel, kami perlu klarifikasi dari Mas. Apakah Mas memiliki hubungan pribadi dengan Bu Kalea, yang mungkin...”

“Tidak.”

Itu bukan suaraku.

Kalea yang menjawab. Ia mengangkat wajah dari map hitamnya dan menatap Pak Hendra, bukan menatapku.

“Bimo tidak terlibat,” katanya. “Staf IT di novel itu hanya detail acak. Seseorang yang saya lihat lewat di lorong, saya pakai sebagai latar. Seperti pot tanaman. Seperti lift nomor tiga.” Suaranya tidak bergetar sedikit pun. “Saya tidak pernah mengenal Bimo secara pribadi sebelum semua ini. Saya tidak pernah bicara dengannya sebelum ia mengganti kabel monitor saya. Ia tidak tahu soal novel itu. Ia tidak pernah menyetujui apa pun. Ia korban, bukan pihak.”

Aku menatapnya.

Hanya detail acak.

Seperti pot tanaman.

Saya tidak pernah mengenal Bimo secara pribadi.

Aku membuka mulut. “Pak, sebenarnya kami...”

“Bimo.”

Kalea akhirnya menoleh padaku. Untuk pertama kalinya sejak Jumat. Matanya hitam dan tenang, dengan jenis ketenangan yang muncul tepat sebelum gunung meletus. Seperti saat ia menelepon ke ruang server, dulu sekali, dan bilang Lari.

“Itu bukan bagianmu,” katanya.

Kalimat itu jatuh di tengah meja bundar seperti formulir tiga rangkap yang terlepas dari map.

Itu bukan bagianmu.

Ruang Anggrek, pagi pertama, saat aku membagikan salinan agenda rapat. Meja sekretaris direksi pukul sepuluh malam, saat printer lantai empat belas macet dan ia menyobek kertas karena kesal. Kalimat yang sama. Dulu terdengar judes. Lalu terdengar seperti seseorang yang takut meminta terlalu banyak.

Sekarang terdengar seperti pintu yang ditutup.

Aku menutup mulut.


Pak Dimas akhirnya bicara.

“Bu Kalea tidak boleh dipecat,” katanya. Suaranya keras, terlalu keras untuk ruangan kecil itu. Lalu ia berdeham dan menurunkan volumenya. “Maksud saya. Saya tidak akan memecat Bu Kalea. Saya Direktur Utama. Itu keputusan saya.”

“Pak,” kata Pak Hendra hati-hati, “pelanggaran ini cukup serius. Nama perusahaan sudah tersebar di media sosial.”

“Novel itu menulis perusahaan kita dengan baik.” Pak Dimas menatap Pak Hendra. “Pak Hendra sudah baca?”

“Belum, Pak.”

“Saya sudah.” Wajah Pak Dimas memerah. “Sabtu dan Minggu. Semua bab. Novel itu menulis Pak Darto berwibawa. Menulis Bu Ratmi hangat. Menulis tim IT pahlawan. Menulis saya...” Ia berhenti. Wajahnya makin merah. “Menulis saya lebih baik dari saya yang sebenarnya.”

Kalea menatap meja.

“Bu Kalea akan menurunkan novelnya,” lanjut Pak Dimas. “Itu cukup. Kita buat pernyataan resmi bahwa itu karya fiksi. Selesai.”

“Pak,” kata Kalea pelan.

“Bu Kalea, saya tidak mau dengar.”

“Saya akan menurunkan novelnya, Pak.” Kalea menutup map hitamnya. “Dan saya akan menerima apa pun sanksinya. Tapi saya minta satu hal.”

Semua orang menatapnya.

“Bimo tidak boleh disebut dalam laporan resmi apa pun sebagai pihak yang terkait dengan saya. Tidak di pernyataan publik. Tidak di laporan HR. Tidak di mana pun.” Ia menatap Mbak Sisil. “Formulirnya, Mbak. Yang tiga rangkap. Jangan diisi. Bimo tidak perlu menulis dua ratus kata tentang bagaimana ia terdampak oleh saya.”

Mbak Sisil menatap formulir di depanku. Lalu menatap Kalea. Ia membuka mulut, menutupnya, lalu perlahan menarik formulir itu kembali dari depanku dan memasukkannya ke dalam map.

“Baik, Bu,” katanya pelan. Kacamatanya berembun.


Rapat selesai pukul 10.20.

Kalea berdiri pertama. Ia mengangguk ke Pak Hendra, ke Nadia, ke Mbak Sisil, ke Pak Dimas. Ia tidak mengangguk ke arahku. Ia keluar dari Ruang Melati dengan punggung tegak dan langkah yang tidak cepat, tidak lambat.

Aku duduk di kursiku.

Pak Hendra dan Nadia keluar. Mbak Sisil membereskan map-mapnya dengan gerakan lambat, lalu berhenti di sebelahku.

“Mas Bimo,” katanya pelan. “Saya baca semua bab. Dengan stabilo.”

“Iya, Mbak.”

“Delapan puluh tujuh kali.” Ia memeluk mapnya. “Itu bukan detail acak, Mas. Detail acak itu pot tanaman. Pot tanaman disebut tiga kali.”

Ia keluar sebelum aku bisa menjawab.

Pak Dimas masih duduk di sebelahku. Ia menatap proyektor redup di langit-langit.

“Lampunya sudah redup,” katanya.

“Sudah saya tiketkan dua bulan lalu, Pak.”

“Saya akan proses.” Ia diam sebentar. “Bimo.”

“Ya, Pak?”

“Waktu di pesawat. Waktu saya pegang tanganmu.” Pak Dimas tidak menatapku. “Bu Kalea yang pijat jarimu sesudahnya. Saya lihat dari celah kursi.”

Aku tidak menjawab.

“Itu bukan pijatan untuk detail acak,” kata Pak Dimas, lalu berdiri, merapikan kemejanya yang kancingnya salah pasang, dan pergi.


Aku duduk sendirian di Ruang Melati.

Saya tidak pernah mengenal Bimo secara pribadi sebelum semua ini.

Itu bukan bagianmu.

Aku tahu, dengan bagian otakku yang memperbaiki printer dan membaca bunyi lift, bahwa Kalea sedang melindungiku. Bahwa ia mengambil semuanya ke pundaknya supaya aku tidak disebut di laporan mana pun. Supaya aku bisa kembali jadi staf IT yang lewat. Tanpa nama, tanpa formulir tiga rangkap.

Persis seperti yang kubilang di pantry. Aku nggak pernah mau ada di cerita siapa pun.

Ia mendengarnya. Dan sekarang ia memberikannya padaku. Ia menghapusku dari ceritanya sendiri, di depan legal dan HR dan Direktur Utama, supaya aku bisa kembali ke pinggir halaman.

Tapi ada bagian lain di otakku, bagian yang tidak tahu apa-apa soal printer, yang mendengar sesuatu yang berbeda.

Hanya detail acak. Seperti pot tanaman.

Bagian itu mendengar seseorang bilang di depan semua orang bahwa aku tidak pernah penting. Bagian itu mendengar seseorang menutup pintu.

Dan bagian itu, yang sudah dua puluh delapan tahun menjadi anak tengah, tukang foto keluarga, satu-satunya yang namanya tidak ada artinya, tahu persis apa yang harus dilakukan kalau ada pintu yang ditutup.

Mundur. Diam. Kembali ke pinggir.

Itu yang selalu kulakukan. Itu satu-satunya hal yang aku ahli lakukan.

Aku berdiri dari kursi di Ruang Melati, mengambil obeng dari saku (aku tidak tahu kenapa aku membawanya ke rapat HR), dan naik ke kursi untuk membuka penutup proyektor yang lampunya redup.

Aku menggantinya. Dengan lampu cadangan dari tas pinggangku, yang selalu kubawa.

Proyektor di Ruang Melati menyala terang untuk pertama kalinya dalam dua bulan.

Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang akan tahu siapa yang menggantinya.

Itu yang kumau. Itu yang selalu kumau.

Aku turun dari kursi, berdiri di bawah cahaya yang terang itu, dan tidak bisa berhenti gemetar.