← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Five

Printer Lantai 12

POV: Bimo

Selasa siang, sepulang dari pantry, aku menemukan kertas kuning tertempel di monitorku.

Kertas tempel. Ukuran kecil, warna kuning cerah, jenis yang ada di setiap laci kantor dan biasanya dipakai untuk menulis password yang seharusnya tidak ditulis di mana pun. Tulisan tangannya rapi, condong sedikit ke kanan, dengan tinta hitam yang tegas:

Printer. Lagi. Maaf.
— K

Aku menatapnya lama.

Gilang, yang sedang memakan kerupuk di kursinya, menjulurkan leher seperti angsa. “Apaan tuh?”

“Tiket.”

“Tiket nggak ditulis di kertas tempel, Bim.”

“Tiket analog.”

“Dari siapa? K? K siapa?” Ia menyipitkan mata. Lalu matanya membulat. “K. K-nya Ka...”

“Kucing,” potongku, mencabut kertas itu dan memasukkannya ke laci. “Kucing kantor. Dia sering ngacak printer.”

“Kantor kita nggak punya kucing.”

“Makanya disebut misteri.”

Aku mengambil obeng dan berjalan ke arah pantry, ke tempat printer lantai dua belas berdiri seperti batu nisan abu-abu. Sambil berjalan aku memikirkan dua hal. Pertama, Kalea Prameswari bekerja di lantai empat belas, yang punya printer sendiri: printer baru, warna putih, yang dibeli tahun lalu dan nyaris tidak pernah rusak. Kedua, kenapa sekretaris direksi minta maaf soal printer yang bukan miliknya?

Pertanyaan kedua terjawab begitu aku berbelok di ujung lorong.

Kalea berdiri di depan printer.

Ia sedang membungkuk, mengintip ke dalam celah baki kertas dengan dahi berkerut, satu tangan memegang segepok kartu tebal berwarna krem keemasan. Blazernya dilepas dan disampirkan di lengan kursi terdekat. Ia hanya memakai kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku dan rok hitam selutut. Rambutnya dikuncir rendah. Beberapa helai lepas dan jatuh ke pipinya, dan ia meniupnya dengan kesal.

Aku belum pernah melihatnya sekesal itu pada sesuatu yang bukan laporan. Dan aku belum pernah melihatnya seperti ini: tanpa blazer, dengan rambut yang tidak lagi sempurna, berhadapan dengan mesin yang menolak tunduk.

Ternyata, dia jauh lebih cantik ketika tidak sempurna.

Aku langsung menatap printer.

“Lewat lagi?” tanyanya tanpa menoleh.

Aku berhenti. “Kok tahu aku di sini?”

“Senandungnya.” Ia menegakkan badan dan akhirnya melihatku. “Kamu bersenandung dari ujung lorong.”

Aku bahkan tidak sadar. Wajahku memanas.

“Aku cuma lewat,” kataku. Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menghentikannya, dan saat sudah keluar, aku sadar betapa konyolnya.

Kalea memandang obeng di tanganku. Lalu tas kecil berisi pinset dan senter di pinggangku. Lalu kertas kuning yang, kalau kau lihat baik-baik, masih sedikit mengintip dari saku kemejaku karena aku memindahkannya dari laci tanpa sadar.

“Lewat,” ulangnya. “Bawa obeng.”

“Obeng itu... aksesori.”

Sudut bibirnya bergerak. Hanya sedikit. Tapi aku mulai belajar membaca gerakan kecil itu, seperti belajar membaca bunyi lift.

“Mbak ngapain di lantai dua belas?” tanyaku, berjongkok di depan printer.

“Cetak undangan.” Ia mengangkat kartu krem keemasan itu. “Gala ulang tahun perusahaan. Dua puluh lima tahun. Pak Dimas mau undangan untuk tamu VIP dicetak di kantor, nggak di percetakan, karena ada perubahan nama di menit terakhir.”

“Printer lantai empat belas?”

“Lagi dipakai bagian legal. Antre.” Ia menjawab terlalu cepat. “Empat puluh lembar kontrak.”

Aku membuka panel samping printer. Di dalamnya, sebuah kartu krem keemasan tergulung setengah, terjepit di antara dua rol karet, terlipat seperti akordeon.

“Mbak masukin kartu tebal ke baki biasa?”

“Bakinya cuma satu.”

“Ada baki manual. Di samping.” Aku menunjuk celah kecil di sisi kanan printer yang tertutup tutup plastik abu-abu. “Kertas tebal harus lewat sana. Kalau lewat baki bawah, rolnya nggak kuat narik.”

Kalea menatap celah kecil itu seolah benda itu baru saja muncul dari udara.

“Kenapa nggak ada tulisannya?”

“Ada. Dulu. Stikernya kelupas waktu printer ini masih muda.”

“Printer ini masih muda?”

“Semua orang pernah muda, Mbak.”

Kali ini ia benar-benar tersenyum. Bukan sudut bibir saja. Seluruh senyum, singkat dan tidak sengaja, seperti cahaya yang lolos lewat celah tirai.

Aku menunduk ke dalam printer dan berkonsentrasi menarik kartu yang tersangkut. Pelan, sedikit demi sedikit, dengan pinset dan kesabaran. Kalea berjongkok di sebelahku untuk melihat. Ia menjaga jarak, tapi jaraknya cukup dekat sehingga aku bisa melihat bulu matanya dari ekor mataku, dan cukup dekat sehingga aroma melati itu ada lagi.

“Kamu sering begini?” tanyanya.

“Begini gimana?”

“Benerin barang yang orang lain rusak.”

“Itu kerjaanku.”

“Bukan cuma di kantor.” Ia memiringkan kepala. “Pak Darto bilang kamu benerin kursi lobi yang goyang. Bu Ratmi bilang kamu benerin kompor pantry. Nggak ada yang bikin tiket untuk itu.”

Pinsetku berhenti sejenak. “Mbak nanya-nanya soal aku?”

Hening.

“Pak Darto dan Bu Ratmi,” kata Kalea dengan nada sangat datar, “bicara tanpa ditanya.”

Itu benar sekali, jadi aku tidak bisa membantah.

Kartu itu akhirnya keluar dengan bunyi srek kecil, robek di satu sudut, kusut seperti kertas yang sudah diremas dan diluruskan kembali. Aku meletakkannya di atas printer. Huruf emas timbul di atasnya masih terbaca:

Gala Malam Ulang Tahun ke-25 Haryanto Group
Hotel Arunika, Jakarta

“Satu kartu hilang,” kataku. “Masih ada cadangan?”

“Ada.” Ia menghela napas. “Tapi itu kartu untuk Pak Wiratno, komisaris. Namanya sudah tercetak di belakang. Sekarang harus cetak ulang dari awal.”

Ia melepas ikat rambutnya untuk mengikat ulang, mungkin karena kesal, dan karet hitam kecil itu meloncat dari jarinya, jatuh ke lantai, dan menggelinding ke bawah printer.

Kami berdua menatap ke bawah printer.

“Aku ambil,” kataku.

“Nggak usah.”

“Di bawah situ banyak debu. Dan mungkin kecoak.”

Kalea mundur satu langkah. “Silakan.”

Aku tiarap di lantai, menyalakan senter, dan meraba-raba di bawah printer. Debu. Klip kertas. Sebuah tutup pulpen berwarna biru. Sesuatu yang lembut dan, untungnya, bukan kecoak. Aku menarik karet rambut hitam itu keluar, meniupnya untuk membersihkan debu, dan berdiri. Lalu aku mengulurkannya.

Kalea mengambilnya. Ujung jarinya menyentuh telapak tanganku. Ringan sekali, sedetik saja. Tidak seperti di lift, saat ia mencengkeram lenganku karena kaget. Ini lebih pelan. Lebih seperti sengaja.

Atau mungkin tidak. Mungkin aku yang mulai berimajinasi karena terlalu banyak membaca web novel.

“Makasih,” katanya.

“Sama-sama.”

Ia mengikat rambutnya lagi, cepat dan terampil. Lalu ia menyerahkan segepok kartu krem keemasan yang masih utuh kepadaku. “Baki manual. Satu-satu?”

“Satu-satu.”

Kami mencetak bersama. Aku memasukkan kartu satu per satu ke celah samping. Kalea mengatur nama di laptopnya, yang ia letakkan di atas lemari arsip di sebelah printer. Printer tua itu menderu, berderak, dan dengan susah payah mengeluarkan kartu-kartu itu, satu demi satu, sempurna.

Di kartu ketujuh atau kedelapan, aku mendengarnya.

Sebuah senandung. Pelan, hampir tanpa suara, dari arah Kalea. Ia sedang mengetik nama berikutnya, mata ke layar, dan tanpa sadar bersenandung.

Nadanya kukenal.

Aku tidak tahu nama lagunya. Aku tidak tahu dari mana asalnya. Tapi aku tahu nada itu, karena itu nada yang keluar dari kepalaku setiap kali tanganku sibuk dan pikiranku kosong. Nada yang Mbak Rini tanyakan minggu lalu. Suara kerja.

Kartu di tanganku berhenti di depan celah baki.

“Mbak,” kataku.

Senandungnya berhenti. “Hm?”

“Itu lagu apa?”

Ia menoleh. Untuk sedetik, wajahnya kosong. Lalu sesuatu melintas di sana. Cepat, seperti tadi, seperti di hari pertama aku mengganti kabel monitornya. Seperti seseorang yang tertangkap basah melakukan sesuatu, tapi tidak tahu persis apa.

“Nggak tahu,” katanya. “Kebawa.”

“Kebawa dari mana?”

“Entah. Kepala.” Ia kembali ke layar laptop. “Kartu berikutnya, Mas. Bu Hartati dari Bank Mandala.”

Aku memasukkan kartu berikutnya.

Tidak ada yang aneh. Lagu itu mungkin lagu lama. Lagu iklan, mungkin. Atau lagu dari sinetron yang kami berdua tonton waktu kecil tanpa sadar. Jutaan orang di Jakarta pasti pernah bersenandung lagu iklan tanpa tahu judulnya.

Tapi lagu iklan punya lirik. Dan setahuku, nada itu tidak pernah punya lirik.


Kami selesai mencetak empat puluh dua kartu dalam satu jam. Selama satu jam itu, Bu Ratmi melewati pantry tujuh kali. Tujuh kali untuk mengambil gelas, mengisi termos, mengelap meja yang sudah bersih, dan satu kali tanpa alasan sama sekali. Setiap kali lewat, ia melirik kami dengan wajah orang yang sedang menonton sinetron favoritnya.

Gilang tidak lewat, tapi aku yakin ia mengintip dari balik partisi divisi IT. Aku melihat puncak kepalanya muncul dan hilang dua kali.

“Sudah,” kata Kalea saat kartu terakhir keluar. Ia merapikan tumpukan kartu itu sampai sejajar sempurna, lalu memasukkannya ke dalam map kulit. “Terima kasih.”

“Sama-sama, Mbak.”

“Satu kartu rusak tadi.” Ia menunjuk kartu kusut milik Pak Wiratno. “Buang saja.”

“Oke.”

Ia mengambil blazernya dari lengan kursi, memakainya, dan dalam sekejap kembali jadi Kalea Prameswari. Garis tajam, punggung tegak, rambut yang meski dikuncir rendah sudah kembali tanpa cela. Tapi sebelum berbalik, ia berhenti.

“Kartu kuningnya,” katanya.

“Hm?”

“Yang di saku kemejamu.” Matanya turun ke dadaku, ke sudut kertas kuning yang mengintip. “Itu bukan untuk disimpan.”

“Oh.” Aku mencabutnya. “Ini... aku cuma lupa buang.”

“Hm.”

Ia berjalan ke lift. Lift nomor satu.

Aku memandangi kertas kuning di tanganku. Printer. Lagi. Maaf. Lalu aku memandangi kartu undangan rusak di atas printer, dengan huruf emas timbul dan sudut yang sobek.

Aku tidak membuang keduanya. Kertas kuning masuk ke laci, di bawah tumpukan kabel. Kartu undangan masuk ke tas, terselip di antara buku catatan.

Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu. Aku hanya tidak suka membuang barang yang masih bisa diperbaiki. Dan kartu undangan yang sobek, menurut teknisku, masih bisa diperbaiki dengan selotip.


“Bim.”

Gilang muncul di samping mejaku begitu aku kembali, seperti hantu yang menunggu korbannya.

“Satu jam,” katanya. “Satu. Jam.”

“Printernya rusak.”

“Printer nggak butuh satu jam.”

“Ada empat puluh dua kartu.”

“Dia senyum, Bim. Gue lihat. Kalea Prameswari. Senyum. Ke lo.” Gilang memegangi dadanya. “Lo tahu nggak di novel Kalina nggak pernah senyum? Dua puluh lima bab. Nol senyum. Lo bikin antagonis senyum.”

“Dia bukan antagonis. Dia sekretaris.”

“Di cerita dia antagonis!”

“Ini bukan cerita, Gil.”

Gilang menatapku dengan iba yang sangat mendalam. Lalu ia menepuk bahuku dua kali dan kembali ke kursinya tanpa bicara. Itu jauh lebih mengganggu daripada kalau ia bicara.


Bab 26 terbit malam itu pukul 21.00.

Aku membacanya di kasur dengan lampu menyala, karena aku sudah berhenti berpura-pura tidak membacanya.

Bab itu kebanyakan tentang Tania dan Dirgantara. Setelah insiden lift, Dirgantara mulai menyapa Tania di koridor dengan satu kata, “Pagi”, yang di novel diperlakukan seperti puisi. Lalu ada persiapan presentasi investor hari Kamis, di mana Dirgantara akan mempresentasikan rencana ekspansi perusahaan di depan investor dari Singapura. Kalina, tentu saja, menyiapkan semua dokumennya dan diam-diam berharap Tania melakukan kesalahan.

Tapi di tengah bab, ada satu paragraf pendek yang berdiri sendiri:

Senin pagi itu, staf IT yang tak bernama meninggalkan sewadah soto di atas tumpukan paket di pelukan Kalina. Kalina berjalan ke lift dengan wajah datar dan menolak memikirkan apa pun. Ia tidak memakan soto itu.

(Ia memakannya di tangga darurat lantai empat belas, diam-diam, sampai tetes terakhir. Kuahnya masih hangat.)

Aku menatap tanda kurung itu.

Lalu aku menatap langit-langit kamar kos.

Siapa pun Senin Pagi, ia tahu Kalea tidak sarapan. Ia tahu Kalea makan soto itu di tangga darurat. Ia tahu kuahnya masih hangat.

Mungkin penulisnya teman dekat Kalea. Orang yang makan siang bersamanya. Yang duduk di sebelahnya di tangga darurat.

Tapi kalau gosip pantry bisa dipercaya, Kalea Prameswari tidak punya teman dekat di kantor ini.

Aku menutup aplikasi dan membuka daftar Aturan Figuran. Aku membaca semuanya dari atas sampai bawah. Lalu, di bawah nomor tujuh, aku menambahkan satu baris yang tidak bernomor:

Jangan cari tahu siapa Senin Pagi.

Karena kalau aku mencari tahu, aku akan ikut masuk ke dalam cerita. Dan figuran yang baik tidak pernah ingin tahu siapa yang menulisnya.