Chapter Twenty Nine
Bab Terakhir
POV: Kalea
Setelah rapat HR, aku kembali ke mejaku di lantai empat belas dan bekerja seperti biasa.
Aku menyusun jadwal Pak Dimas untuk minggu depan. Aku membalas email vendor. Aku mencetak notulen rapat direksi kemarin di printer lantai empat belas, yang tidak macet. Aku menelepon Hotel Arunika untuk mengonfirmasi jumlah kursi gala ulang tahun perusahaan, yang akan diadakan tanggal empat belas Desember.
Tanggal yang sama dengan berakhirnya program magang. Aku yang menjadwalkannya begitu, tiga bulan lalu, sebelum aku tahu angka di papan tulis Pak Dimas akan habis di hari yang sama.
Aku bekerja seperti biasa, karena itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan dengan tangan yang tidak gemetar.
Orang-orang di lantai empat belas tidak lagi berhenti bicara saat aku lewat. Mereka berhenti bicara dan menatapku dengan wajah yang berbeda. Bukan takut. Lebih seperti orang yang menatap seseorang yang baru saja ketahuan menangis di depan umum. Kasihan, mungkin. Penasaran, pasti.
Staf administrasi yang biasa mengisi air di dispenser meletakkan sekotak cokelat di mejaku tanpa bicara, lalu pergi cepat-cepat. Di atas kotak itu ada kertas kecil: Saya Tim Kalina dari Bab 12. Semangat, Bu.
Aku memasukkan cokelat itu ke laci dan tidak membukanya.
Pukul 12.15, aku tidak turun ke tangga darurat.
Aku makan di meja. Nasi, telur dadar, tumis kangkung. Menu diet, kata seseorang dulu. Aku memakannya sampai habis tanpa merasakan apa pun.
Pukul 12.40, aku berdiri dan berjalan ke pintu tangga darurat. Aku membukanya sedikit. Hanya sedikit, cukup untuk mengintip ke anak tangga keempat.
Kosong.
Aku menutup pintu itu dan kembali ke meja.
Ibu menelepon pukul delapan malam. Bukan hari Senin. Ibu tidak pernah menelepon di luar hari Senin, kecuali ada yang meninggal atau ada yang menikah.
“Lea,” kata Ibu. “Ibu baca berita.”
Aku duduk di lantai apartemen, bersandar ke kasur. Lampu kamar mandi yang diperbaiki Bimo menyala terang di ujung ruangan.
“Berita apa, Bu?”
“Teman Ibu dari arisan kirim tautan Twitter. Katanya ada sekretaris di Jakarta yang nulis novel tentang kantornya. Namanya disebut.” Ibu diam sebentar. “Itu kamu, ya?”
“Iya, Bu.”
“Dan Bimo?”
“Bimo... tahunya bukan dari aku, Bu.” Suaraku pecah. “Aku nggak sempat bilang. Aku pengecut. Aku nunda terus. Dan sekarang semua orang tahu dari layar proyektor. Dan dia bilang dia nggak pernah mau ada di cerita siapa pun.”
Ibu diam lama sekali.
“Lea,” katanya akhirnya. “Pulang dulu. Ke Bandung. Istirahat.”
“Aku masih kerja, Bu.”
“Kerja bisa ditunda. Hati nggak bisa.” Suara Ibu lembut, suara yang dipakai Ibu untuk murid yang menangis di pojok kelas. “Kamar kamu masih ada. Ruang kerja Ayah masih ada. Pulang.”
Aku tidak menjawab. Aku menatap foto Ayah di rak buku.
“Lea,” kata Ibu lagi. “Ibu tahu kamu. Kamu itu kayak Ayahmu. Kalau ada yang salah, kamu nggak lari. Kamu beresin dulu, rapi, sempurna, baru pergi. Ibu cuma minta satu hal.”
“Apa, Bu?”
“Jangan pergi sebelum dia yang bilang kamu boleh pergi.”
Aku menutup mata.
Ibu tidak tahu bahwa Bimo sudah bilang. Bukan dengan kata-kata. Dengan tidak datang ke Cikini. Dengan tidak membaca delapan pesanku. Dengan tidak duduk di anak tangga keempat. Dengan Aku nggak pernah mau ada di cerita siapa pun.
“Iya, Bu,” kataku.
Itu bohong pertama yang kukatakan pada Ibu sejak SMP. Ibu tidak bisa mendengarnya dari seratus lima puluh kilometer. Atau mungkin bisa, dan memilih tidak bilang.
Pukul 21.00, aku membuka laptop.
Dashboard Lembar. Sang CEO dan Gadis Magang. Pembaca: 71.906. Jumlahnya bertambah lima ribu sejak Jumat. Orang-orang datang bukan untuk membaca cerita. Mereka datang untuk melihat sekretaris yang ketahuan.
Draf Bab 36 masih ada. Bab yang seharusnya terbit Jumat lalu. Bab yang kutulis Kamis malam, sebelum townhall, berisi Dirgantara yang akhirnya mengajak Tania makan siang setelah magang selesai. Bab yang manis. Bab yang tidak akan pernah terbit.
Aku menghapusnya.
Lalu aku menulis bab terakhir.
Aku menulisnya dengan cepat, tanpa berhenti, seperti Ayah menulis di teras jam lima pagi. Tapi bukan dengan cara Ayah. Ayah menulis tentang hal-hal indah yang ia temukan setelah memperhatikan cukup lama. Aku menulis tentang cara meninggalkan hal-hal indah sebelum hal-hal itu meninggalkanmu.
Bab 36 — Tamat
Pada suatu hari Rabu, Kalina menyerahkan surat pengunduran diri.
Dirgantara membacanya dua kali dan tidak berkata apa-apa. Dirgantara memang selalu melihat tapi tidak berkata apa-apa. Itu ciri khasnya, dan Kalina tahu itu sejak lama.
Kalina membereskan mejanya. Satu pulpen. Satu buku agenda. Satu mug putih polos. Tidak banyak. Antagonis memang tidak pernah punya banyak barang. Mereka hanya punya satu tujuan di cerita: membuat tokoh-tokoh lain terlihat lebih baik.
Tugas Kalina sudah selesai.
Tania menyelesaikan program magangnya. Pada hari terakhir, Dirgantara mengajaknya makan siang. Mereka bahagia. Kantor Wiratama Group penuh dengan tokoh-tokoh yang baik: satpam berkumis yang berwibawa, ibu penjual gorengan yang hangat, CEO yang canggung, gadis magang yang berani.
Dan staf IT yang lewat membawa kabel.
Pada hari terakhirnya, Kalina berpapasan dengannya di lorong. Laki-laki itu menunduk sopan, seperti di hari pertama, sebelum ada lift dan tangga dan hujan dan pantai. Kalina pura-pura tidak melihatnya.
Laki-laki itu tetap lewat. Seperti seharusnya. Tanpa nama. Tanpa beban. Tanpa harus menjadi bagian dari cerita siapa pun.
Itu satu-satunya hal baik yang bisa Kalina berikan padanya: halaman kosong, tempat ia bisa lewat tanpa dilihat.
Kalina keluar dari gedung Wiratama Group pada hari Rabu pagi. Tidak ada yang mengantarnya. Antagonis selalu pergi sendirian di akhir cerita. Itu yang adil.
TAMAT.
Aku membaca ulang bab itu satu kali. Hanya satu kali, karena kalau dua kali, aku tidak akan bisa menekan tombol itu.
Aku menekan Terbitkan sekarang.
Pukul 21.17, Bab 36 terbit. Status novel berubah dari Berlanjut menjadi Tamat.
Pukul 21.18, notifikasi mulai berdatangan. Seribu. Dua ribu. Komentar yang mengalir lebih cepat dari yang bisa kubaca.
Aku tidak membacanya.
Pukul 23.59, aku menghapus novel itu.
Seluruhnya. Tiga puluh enam bab. Delapan bulan. Tujuh puluh satu ribu pembaca. Satu juta dua ratus ribu kata yang dibaca. Delapan puluh tujuh kalimat tentang staf IT yang lewat membawa kabel.
Lembar meminta konfirmasi tiga kali. Anda yakin ingin menghapus karya ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.
Aku yakin. Aku yakin. Aku yakin.
Halaman Sang CEO dan Gadis Magang berubah menjadi pesan abu-abu: Karya ini tidak lagi tersedia.
Lalu aku membuka email dari Penerbit Lentera, yang belum pernah kubalas sejak hari Bimo memperbaiki keran apartemenku.
Kepada Senin Pagi, kami tertarik membicarakan kemungkinan menerbitkan karya Anda...
Aku menulis balasan dua kalimat.
Terima kasih atas ketertarikannya. Karya tersebut sudah tidak ada.
Aku menekan kirim. Lalu aku menutup laptop, dan menatap kegelapan apartemen, dan baru sadar bahwa aku tidak menangis sama sekali. Mungkin karena air mataku sudah habis Jumat malam. Mungkin karena aku sudah terlalu rapi, terlalu sempurna, terlalu Kalea Prameswari untuk menangis saat menghapus satu-satunya hal yang membuatku bangun jam empat pagi selama delapan bulan.
Rabu pagi, pukul 05.40, aku tiba di kantor.
Pak Darto belum datang. Satpam malam, Pak Joko, menatapku dengan heran tapi tidak bertanya. Lobi masih gelap. Lift nomor tiga masih belum diperbaiki, karena aku sendiri yang merekomendasikan perbaikannya ditunda. Aku naik tangga darurat.
Aku tidak naik ke lantai empat belas. Aku berhenti di lantai dua belas.
Divisi IT gelap dan kosong. Meja Gilang penuh bungkus kerupuk. Meja Bimo rapi: monitor, keyboard, satu gulungan kabel HDMI di pojok, dan di sebelahnya, sebuah termos yang kukenal. Termos yang ia bawa ke pantai Nusa Dua jam lima pagi.
Aku berdiri di depan mejanya lama sekali.
Lalu aku mengeluarkan seblok kertas tempel kuning dari tas. Bukan dari resepsionis hotel. Dari laci kantor, seperti yang pertama kali.
Aku menulis tiga kata.
Maaf.
— Senin Pagi
Bukan K. Untuk pertama kalinya, aku menandatanganinya dengan nama yang seharusnya kutulis sejak awal.
Aku menempelkannya di tengah monitornya, di tempat yang tidak bisa dilewatkan.
Lalu aku melepas karet gelang hijau dari pergelangan tanganku. Karet gelang yang kupakai sejak lembur, yang kulihat Bu Ratmi lihat di pasar malam, yang kusimpan di sebelah foto Ayah dan kemudian kupakai setiap hari di luar kantor. Karetnya sudah sedikit longgar karena terlalu sering ditarik.
Aku meletakkannya di atas keyboard, di bawah kertas kuning itu.
Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena itu satu-satunya hal yang ia berikan padaku tanpa ia tahu ia memberikannya. Mungkin karena aku tidak berhak menyimpannya lagi.
Pukul 07.00, surat pengunduran diri sudah ada di meja Pak Dimas.
Aku menulisnya semalam, setelah menghapus novel itu. Satu halaman. Rapi. Formal. Dengan hormat, bersama surat ini saya mengajukan pengunduran diri dari jabatan Sekretaris Direksi, efektif tanggal 14 Desember. Saya akan mengambil sisa cuti tahunan saya selama masa pemberitahuan dan menyelesaikan serah terima secara daring. Saya akan hadir pada hari terakhir untuk acara gala ulang tahun perusahaan sesuai tanggung jawab saya sebagai penyelenggara.
Pak Dimas datang pukul 07.30. Lebih pagi dari biasanya. Ia membaca surat itu sambil berdiri di depan mejaku. Dua kali.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia memang selalu melihat tapi tidak berkata apa-apa. Itu ciri khasnya.
Lalu ia berkata sesuatu.
“Bu Kalea,” katanya pelan. “Siapa yang akan menulis ulang kartu Idul Fitri saya?”
Aku tertawa. Tawa yang pecah dan pendek dan tidak bisa kutahan, seperti air yang tumpah dari gelas yang terlalu penuh. Lalu air mata yang kukira sudah habis keluar lagi, sekaligus.
Pak Dimas berdiri canggung di depan mejaku, memegang surat pengunduran diri, sementara sekretarisnya menangis sambil tertawa pukul tujuh tiga puluh pagi.
“Bapak bisa minta Tasya,” kataku di sela tangis. “Mulai tanggal lima belas Desember. Dia nulis lebih bagus dari Bapak. Dan dia bukan bawahan Bapak lagi.”
Pak Dimas memerah sampai ke telinga.
Ia tidak merobek surat itu. Ia tidak menolaknya. Ia hanya melipatnya dengan sangat hati-hati, empat kali, dan memasukkannya ke saku kemeja, di atas jantung.
“Saya terima,” katanya. “Tapi saya tidak setuju.”
“Itu tidak ada bedanya, Pak.”
“Ada.” Ia menatapku. “Saya akan terus tidak setuju sampai tanggal empat belas.”
Lalu ia masuk ke ruangannya dan menutup pintu. Dari celah pintu, aku melihatnya berdiri di depan papan tulis kecil di pojok. Angkanya 11.
Ia tidak menghapusnya. Ia hanya menatapnya lama sekali.
Pukul 08.15, aku membereskan mejaku.
Tidak banyak. Satu pulpen. Satu buku agenda bersampul hitam. Satu mug putih polos. Seperti Kalina di bab terakhir. Antagonis memang tidak pernah punya banyak barang.
Aku memasukkannya ke dalam satu kardus kecil. Aku memeluk kardus itu dan berjalan ke tangga darurat, karena aku tidak sanggup bertemu siapa pun di lift.
Di anak tangga keempat, aku berhenti.
Aku duduk. Satu kali lagi. Kardus di pangkuanku. Dinding beton, bau cat lama, lampu neon yang berkedip. Noda bekas es teh berbentuk peta Kalimantan di anak tangga di bawahku.
Anak tangga ketiga di atasku kosong.
Aku membuka Aturan Antagonis di ponsel untuk terakhir kalinya. Empat belas aturan. Aku menulis aturan kelima belas.
15. Pergi duluan. Sebelum dia yang pergi.
Lalu aku menghapus seluruh daftar itu. Seperti menghapus novel.
Aku berdiri, memeluk kardus, dan turun dua belas lantai ke lobi. Pak Darto sudah ada di meja satpam. Ia melihatku turun dari pintu tangga darurat dengan kardus di pelukan.
Ia tidak bilang siaga. Ia hanya berdiri, keluar dari balik mejanya, dan membukakan pintu putar untukku. Kumisnya bergetar.
“Bu,” katanya pelan. “Hati-hati di jalan.”
“Terima kasih, Pak.”
“Bu Kalea.” Ia memanggilku saat aku sudah setengah keluar. “Saya simpan, Bu.”
Aku menoleh. “Simpan apa, Pak?”
Pak Darto tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangan ke pelipis, pelan, tanpa suara. Hormat seorang satpam berkumis berwibawa kepada seseorang yang pergi.
Aku tidak tahu apa yang ia simpan.
Aku keluar dari gedung Haryanto Group pada hari Rabu pagi. Tidak ada yang mengantarku. Antagonis selalu pergi sendirian di akhir cerita.
Itu yang adil.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir reading
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto