← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Forty

Satu Kalimat dengan Nama

POV: Bimo

Bulan Maret, bagian pengadaan akhirnya menyetujui penggantian printer lantai dua belas.

Usulan keempat. Setelah empat tahun dan tiga penolakan dengan alasan kan masih bisa diperbaiki, Mas. Aku tidak tahu apa yang membuat mereka berubah pikiran. Gilang bilang itu karena seluruh divisi pengadaan sekarang membaca web novel dan merasa bersalah. Bu Ratmi bilang itu karena printer itu sudah “terlalu sering masuk cerita, Mas, nanti jadi keramat”.

Printer baru dijadwalkan datang Senin depan. Printer lama akan dikeluarkan dari daftar aset dan dihapus dari inventaris perusahaan.

“Dibuang, Mbak?” tanyaku pada staf pengadaan yang membawa formulir penghapusan aset ke mejaku.

“Dijual sebagai rongsokan, Mas. Atau kalau ada karyawan yang mau, bisa dibeli. Harga simbolis.”

“Berapa?”

Staf pengadaan itu menatap formulirnya. “Seribu rupiah.”

Aku membeli printer lantai dua belas seharga seribu rupiah. Mbak Sisil membuatkan formulir pengalihan aset. Tiga rangkap.

Tapi printer itu belum boleh pergi. Belum. Masih ada satu hal lagi yang harus dicetaknya.


Minggu malam, Kalea mengirim file PDF ke surelku.

Naskah final. Sudah lewat dua editor dan satu Ibu. Kamu orang terakhir yang baca sebelum masuk percetakan. — K

Di bawahnya, satu baris lagi:

Halaman pertama dulu. Jangan langsung lompat ke belakang.

Aku membuka file itu di kamar kos, di bawah kipas angin yang sekarang sudah tidak berdecit, karena aku akhirnya memperbaikinya bulan lalu. Kalea yang menyuruh. Kamu benerin keran saya, printer kantor, mesin tik Ayah, tapi kipas anginmu sendiri kamu biarin bunyi?

Halaman sampul. Kamu Ada di Setiap Bab. Kalea Prameswari.

Bukan Senin Pagi. Nama aslinya.

Halaman persembahan.

Untuk Ayah, yang mengajariku memperhatikan.
Untuk Ibu, yang tahu kapan seseorang perlu disuapi.
Untuk semua yang menandatangani formulir tiga rangkap.
Dan untuk seseorang yang tidak pernah sekadar lewat.

Aku menatap halaman itu lama.

Lalu halaman pertama. Bab satu.

Senin pagi, printer lantai dua belas rusak, dan Bimo Wibisena, yang tidak pernah sekadar lewat, bersenandung lagu yang tidak punya judul.

Aku membaca kalimat itu satu kali. Lalu lagi. Lalu lagi.

Satu kalimat. Dengan nama.

Delapan bulan dan delapan puluh tujuh kali aku lewat tanpa nama di cerita itu. Staf IT yang lewat membawa kabel. Sekarang, di kalimat pertama, di halaman pertama, di buku yang akan dicetak dan dijual dan dibaca orang-orang yang tidak pernah tahu lantai dua belas itu di mana, ada namaku.

Aku tidak lagi takut dilihat.

Aku membaca seluruh naskah itu malam itu. Tiga ratus dua puluh halaman. Kalea menulis ulang semuanya. Dirgantara dan Tania tetap ada, tapi sekarang mereka bukan pohon palsu. Mereka pasangan yang canggung dan manis di pinggir cerita. Pak Darto berwibawa. Bu Ratmi hangat. Gilang punya arc sendiri.

Dan Kalina tidak lagi antagonis.

Kalina sekarang perempuan yang menangis di depan printer dan menulis delapan bulan untuk berterima kasih. Perempuan yang takut. Yang menunda. Yang lari dengan satu sandal. Yang salah dan minta maaf. Yang memakan bakwan sampai menangis kepedasan dan tertawa sampai menangis di lapangan tarik tambang.

Ia menulis dirinya sendiri lebih baik dari kucing tetangga.

Aku menutup laptop pukul empat pagi. Lalu aku membuka aplikasi pesan dan mengirim satu pesan kepada ibu Kalea.

Bu, ini Bimo. Maaf mengganggu jam segini. Saya mau minta izin sesuatu.

Balasannya datang dalam tiga menit. Ibu Kalea, seperti ayahnya Kalea, bangun jam empat pagi.

Ibu sudah tahu kamu mau minta izin apa. Ibu sudah tahu dari waktu kamu bawa sepatunya.

Lalu satu pesan lagi.

Izin diberikan. Tiga rangkap.


Senin pagi, pukul 05.30, aku sudah di kantor.

Pak Darto sudah di belakang meja satpam. Ia tidak bertanya kenapa aku datang sepagi itu. Ia hanya mengangkat tangan ke pelipis dan berkata, “Siaga, Mas. Semua sudah di posisi.”

“Semua?”

Pak Darto mengedipkan sebelah mata. Kedipan itu begitu jelas dan begitu tidak rahasia, persis seperti kedipannya di malam lembur.

Aku menempelkan kertas tempel kuning pertama di pintu lift nomor tiga.

Lift nomor tiga sudah diperbaiki bulan Januari. Akhirnya. Kalea menulis memo perpisahan di dokumen serah terimanya: Rekomendasi: perbaikan lift tiga silakan dilanjutkan. Fungsi pentingnya sudah selesai. Sekarang lift itu naik dan turun dengan mulus, tanpa decit, tanpa bunyi gir yang menggertakkan gigi. Gilang bilang itu sedih. Aku bilang itu sembuh.

Di pintu lift nomor tiga, kertas kuning pertama:

Printer. Lagi. Maaf.

Aku naik ke lantai dua belas. Di dalam lift nomor tiga, di panel tombol, kertas kedua:

Kabel punya sisi yang benar.

Di pintu lift lantai dua belas yang terbuka, kertas ketiga:

Panik nggak boleh lapar.

Di lorong menuju pantry, setiap dua meter, satu kertas kuning.

Tidak ada yang kangen. Kabelnya cuma lagi sendirian.

Makasih. Jangan bilang siapa-siapa.

Jangan tidur dulu.

Kamu selalu ada di setiap bab.

Maaf. — Senin Pagi.

Semua kertas kuning yang pernah ia tinggalkan untukku. Aku menyalinnya satu per satu dengan tulisan tanganku sendiri, yang miring dan berantakan, karena kertas-kertas aslinya tidak boleh ditempel di mana-mana. Kertas-kertas aslinya ada di kotak sepatu di bawah kasur kos, bersama arum manis yang sudah mengeras dan karet gelang merah dari pasar malam.

Kertas terakhir, aku tempelkan di bagian atas printer lantai dua belas.

Kabelnya jangan di lantai.
Nanti ada yang lewat, kesandung.

Pukul 06.10, aku berdiri di depan printer abu-abu itu. Mesin besar yang menolak pensiun dengan keras kepala seorang kakek. Mesin yang sudah kuperbaiki ratusan kali. Mesin yang empat tahun menjadi musuh bebuyutanku.

Mesin yang delapan bulan lalu, ditambah empat bulan, ditambah satu tahun, rusak di Senin pagi yang sama ketika seseorang menangis di depannya.

Aku menepuk sisi printer itu dua kali.

“Tolong,” bisikku. “Satu kali lagi. Jangan macet.”

Printer itu tidak menjawab. Tapi lampunya hijau.


Pukul 06.15, aku mendengar langkah sepatu di lorong.

Bukan sepatu hak rendah. Sepatu kets. Langkah yang sedikit ragu, berhenti setiap dua meter. Berhenti di depan setiap kertas kuning.

Lalu ia muncul di ujung lorong.

Kalea memakai kemeja putih, kardigan abu-abu yang kebesaran, dan sepatu kets yang sudah tidak putih lagi. Rambutnya dikuncir rendah. Tanpa lipstik merah bata. Di tangannya, ia memegang setumpuk kertas kuning yang ia cabut satu per satu dari dinding lorong. Delapan lembar. Matanya sudah basah.

“Pak Darto bilang ada printer yang rusak,” katanya pelan. “Dia bilang printer ini hari terakhir. Dia bilang saya harus lihat.”

“Pak Darto bohong,” kataku. “Printernya nggak rusak.”

“Kamu tempel semua ini?”

“Iya.”

“Kamu salin tulisan saya pakai tulisan tanganmu?”

“Aslinya nggak boleh ditempel. Aslinya di kotak sepatu.”

Ia menatap kertas-kertas kuning di tangannya. Lalu menatapku. Lalu menatap kertas kuning di atas printer. Kabelnya jangan di lantai.

“Bimo,” katanya. “Ini Senin.”

“Iya.”

“Tanggal berapa sekarang?”

Aku tidak menjawab. Ia tahu tanggal berapa. Aku juga tahu. Aku bertanya pada ibunya. Tanggal yang sama, dua tahun setelah hari Ayah pergi, satu tahun setelah hari ia menangis di depan printer ini.

“Ibumu bilang,” kataku pelan, “Ayahmu suka jam lima pagi. Bukan suka hari duka. Ibumu bilang, hari Senin ini sudah terlalu lama jadi hari yang sedih.”

Kalea menutup mulutnya dengan tangan yang memegang kertas-kertas kuning.

“Ibumu bilang,” lanjutku, “mungkin sudah waktunya Senin pagi jadi hari yang lain.”


Aku berbalik ke printer. Aku menekan tombol.

Printer lantai dua belas menderu. Bunyinya yang khas, seperti kakek yang batuk di pagi hari. Rol-rolnya berputar. Selembar kertas mulai keluar dari baki bawah.

Lalu printer itu berhenti.

Lampunya oranye.

Kertas tersangkut.

Aku menatap lampu oranye itu. Kalea menatap lampu oranye itu. Dari balik partisi kaca buram pantry, aku mendengar seseorang mengerang sangat pelan, dan aku tahu itu Gilang.

“Tentu saja,” kataku.

Kalea tertawa. Tawa yang basah dan pecah, persis seperti di gazebo Puncak, persis seperti di atas dadaku di lapangan tarik tambang.

“Printernya lagi sedih juga,” katanya di sela tawa. “Hari Senin.”

“Tapi biasanya bisa diperbaiki.”

Aku berjongkok di depan printer. Seperti delapan bulan lalu, ditambah semua bulan sesudahnya. Membuka panel samping. Mengeluarkan pinset dari tas pinggang. Menatap ke dalam rol.

Bedanya, kali ini aku tidak sengaja tidak melihat wajahnya. Kali ini, sebelum menarik kertas itu, aku menoleh.

Ia berdiri di sebelahku. Menatapku dari atas. Menangis dan tertawa.

Aku menatap wajahnya. Dengan sengaja. Lama.

Lalu aku menarik kertas itu dengan pinset, pelan, sedikit demi sedikit. Utuh. Tidak sobek.

Aku berdiri dan menyerahkannya padanya.

Selembar kertas HVS biasa. Dicetak dengan tinta hitam, huruf besar, di tengah halaman. Hanya satu baris.

Mau nikah sama aku?

Dan di bawahnya, bukan K, bukan Senin Pagi, bukan staf IT yang dulu cuma lewat:

— Bimo Wibisena


Kalea menatap kertas itu.

Ia tidak bilang apa-apa. Ia menatapnya sangat lama, seperti seseorang yang membaca satu kalimat yang ditulis ulang empat belas kali.

Lalu ia menatapku. “Bimo.”

“Hm?”

“Kertasnya kusut.”

“Nyangkut di rol.”

“Ada bekas pinset di pojoknya.”

“Itu... aksesori.”

“Dan,” ia mengangkat kertas itu ke cahaya lampu pantry, “nggak ada cincinnya.”

“Ada.”

Aku membuka tutup plastik abu-abu di sisi kanan printer. Baki manual. Celah kecil untuk kertas tebal, yang stikernya sudah lama mengelupas. Celah yang kutunjukkan padanya saat ia mencetak empat puluh dua kartu undangan, satu per satu.

Di dalam baki manual itu, di atas sehelai kartu krem keemasan yang sudah disambung dengan selotip di bagian belakang, ada sebuah kotak kecil berwarna hijau tua.

Hijau seperti karet gelang.

Kalea menatap kotak itu. Lalu ia mulai menangis dengan sangat jelek, dengan hidung tersumbat dan napas sesenggukan, seperti di kamar hotel Nusa Dua, seperti di depan printer ini, satu tahun lalu.

“Kertas tebal,” katanya di sela tangis, “harus lewat baki manual.”

“Kalau lewat baki bawah, rolnya nggak kuat narik.”

“Kamu nggak pernah lupa apa pun.”

“Aku lupa wajahmu. Satu kali.” Aku mengambil kotak hijau itu dari baki manual dan membukanya. Cincin perak sederhana. Tidak ada berlian. Gaji staf IT tidak cukup untuk berlian. Tapi di bagian dalamnya, aku meminta tukang perak di Pasar Baru mengukir satu kata. “Aku nggak mau lupa apa pun lagi.”

Ia mengambil cincin itu. Ia membaca ukiran di dalamnya.

Senin.

“Bimo,” bisiknya.

“Iya?”

“Iya.”

Aku mengerjap. “Iya... printernya?”

Ia tertawa. Tertawa sampai harus memegangi printer lantai dua belas. Persis seperti aku dulu bertanya iya sandalnya? di depan kamar 312, dan ia harus bilang dua kali.

“Bukan printernya,” katanya. “Iya. Jawabannya.”


Partisi kaca buram pantry lantai dua belas meledak.

Bukan meledak sungguhan. Tapi Gilang menerobos keluar dari baliknya dengan kecepatan seseorang yang sudah menahan napas selama lima belas menit, berteriak “ATURAN NOMOR DELAPAAAN!”, dan menabrak meja pantry sehingga sebakul gorengan Bu Ratmi tumpah ke lantai.

Di belakangnya, semua orang.

Bu Ratmi, memungut bakwan yang tumpah sambil menangis. Pak Darto, yang entah bagaimana sudah naik dari lobi, berdiri tegak dengan tangan di pelipis dan air mata di kumis. Mbak Sisil, dengan map plastik yang dipeluk di dada, kacamata berembun total. Nadia dari legal, menangis dan mencatat. Mbak Rini, memotret dengan ponsel.

Dan Pak Dimas, memakai jas lengkap pukul enam pagi, bergandengan tangan dengan Tasya. Di jari manis kiri Tasya, ada cincin perak kecil.

Aku menatap cincin itu. Pak Dimas mengikuti arah pandangku, lalu berdeham.

“Sabtu lalu,” katanya. “Hari ke-sembilan puluh tujuh. Saya tidak mau menunggu sampai seratus. Itu angka yang terlalu bulat.”

Tasya tersenyum seperti matahari jam tujuh pagi.

“SIAGA!” teriak Pak Darto.

Semua orang berteriak bersamaan, tanpa ada yang menyuruh: “SIAGA!”

Bunyinya menggema di seluruh lantai dua belas. Mungkin sampai lantai sebelas. Mungkin sampai lobi.

Mbak Sisil melangkah ke depan dan menyodorkan selembar formulir pada Kalea.

“Bu,” katanya dengan suara bergetar. “Formulir Persetujuan. Untuk... untuk pernikahan.”

Kalea menatap formulir itu. “Mbak, pernikahan nggak butuh formulir HR.”

“Saya tahu, Bu.” Mbak Sisil menegakkan kacamatanya. “Ini bukan formulir HR. Ini formulir pribadi saya. Persetujuan bahwa saya boleh datang ke pernikahannya.” Ia menunduk. “Tiga rangkap. Untuk kenang-kenangan.”

Kalea menandatanganinya. Tiga rangkap. Sambil tertawa dan menangis, dengan cincin perak di jari manisnya dan kertas Mau nikah sama aku? yang kusut di tangan yang lain.


Pukul tujuh pagi, saat semua orang sudah kembali ke lantai masing-masing (Bu Ratmi membagikan bakwan yang tidak jatuh ke seluruh divisi IT, dengan karet gelang hijau dan diskon kapal seumur hidup), Kalea dan aku berdiri di depan printer lantai dua belas.

Printer itu menyala hijau. Tenang. Untuk terakhir kalinya di gedung ini.

Kalea mengeluarkan sesuatu dari saku kardigannya. Seblok kertas tempel kuning. Bukan dari laci kantor. Dari tas kerjanya di Penerbit Lentera.

Ia menulis sesuatu dengan pulpen. Lalu menempelkannya di sisi printer, di sebelah kertas kuning yang kutempel tadi pagi. Kabelnya jangan di lantai.

Aku membaca tulisannya.

Printer. Lagi. Iya.
— Kalea Prameswari

Bukan K. Bukan Senin Pagi. Nama lengkapnya.

Aku menatap dua kertas kuning yang berdampingan di sisi printer tua itu. Tulisanku yang miring dan berantakan. Tulisannya yang condong ke kanan dan tegas. Dua orang tukang foto, yang akhirnya ada di halaman yang sama.

“Printernya kamu bawa pulang?” tanya Kalea.

“Aku beli. Seribu rupiah.”

“Mau ditaruh di mana?”

“Di rumah kita,” kataku. “Nanti.”

Ia menatapku. Lalu ia menyelipkan tangannya ke tanganku. Di lorong lantai dua belas. Di kantor. Di depan siapa pun yang mungkin lewat.

Aturan Pacaran Rahasia nomor satu sudah lama mati.

“Printernya pasti rusak lagi,” katanya.

“Pasti.”

“Kamu yang benerin.”

“Itu bagianku.”

Ia tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahuku, dan mulai bersenandung. Pelan. Nada yang sama dengan nadaku. Nada yang tidak punya judul, yang ia dengar pertama kali di depan printer ini, pada Senin pagi yang sekarang tidak lagi sedih.

Aku ikut bersenandung.

Printer lantai dua belas berdengung pelan di depan kami, seperti ikut bersenandung juga.