Chapter Six
Kabel yang Sama
POV: Bimo
Kamis pagi, aku bersembunyi di ruang server.
Ruang server adalah tempat paling aman di gedung ini. Suhunya delapan belas derajat, pintunya butuh kartu akses khusus, dan satu-satunya suara di dalamnya adalah dengung kipas pendingin yang tidak pernah bergosip. Tidak ada adegan di ruang server. Tidak ada web novel yang pernah menulis kisah cinta di samping rak berisi tiga puluh dua hard disk.
Aku membawa kursi plastik, sebungkus roti sobek, dan termos teh. Rencananya, aku akan di sini sampai presentasi investor Singapura selesai pukul sebelas. Aku sudah memeriksa proyektor ruang Anggrek kemarin sore, tiga kali. Aku sudah menyiapkan dua kabel cadangan, dua adaptor, dan satu pointer laser dengan baterai baru. Semuanya kutaruh di laci meja rapat dengan catatan: Kalau ada masalah, coba cabut dan colok lagi. Kalau masih masalah, telepon Gilang.
Bukan aku. Gilang.
Pukul 09.41, pintu ruang server terbuka.
Gilang masuk dengan wajah orang yang membawa kabar duka, menggigil sejak langkah pertama karena, tentu saja, ia tidak memakai jaket.
“Bim,” katanya, giginya sudah bergemeletuk. “Ada t-t-telepon.”
“Lo bilang aku nggak ada.”
“Udah.”
“Terus?”
“Dia bilang...” Gilang menelan ludah. “‘Saya tahu dia di ruang server. Lampu kartu aksesnya nyala atas nama Bimo Wibisena sejak jam delapan.’”
Aku menatap Gilang. Gilang menatapku. Kipas server berdengung.
“Dia bisa lihat log kartu akses?”
“Dia sekretaris direksi, Bim. Dia bisa lihat log kehidupan kita.” Gilang menyodorkan ponselnya, yang masih tersambung. “Gue bilang lo lagi semedi. Dia nggak ketawa.”
Aku menerima ponsel itu dengan dua tangan, seperti menerima surat panggilan pengadilan.
“Halo?”
“Laptop presentasi Pak Dimas.” Suara Kalea, rendah dan sangat tenang, dengan jenis ketenangan yang biasanya muncul tepat sebelum gunung meletus. “File presentasinya tidak bisa dibuka. Tulisannya file is corrupted. Investor datang dua puluh menit lagi.”
“Mbak sudah coba...”
“Saya sudah coba cabut dan colok lagi.” Jeda. “Seperti instruksi di laci.”
“Oh.”
“Lalu saya telepon Gilang. Seperti instruksi di laci.”
“Oh.”
“Gilang bilang kamu sedang semedi.”
Aku memejamkan mata. “Aku naik.”
“Lari,” katanya, dan menutup telepon.
Aku tidak lari. Aku jalan cepat dengan gaya orang yang tidak mau terlihat panik tapi sangat panik, menyusuri empat puluh dua anak tangga darurat sambil memeluk laptop cadangan dan hard disk eksternal. Aku tiba di lantai empat belas dengan napas terengah, rambut berantakan, dan satu bungkus roti sobek yang entah kenapa masih kugenggam.
Kalea berdiri di depan ruang Anggrek. Blazer biru tua, rambut digerai lurus, lipstik merah bata. Tablet di tangan kiri, ponsel di tangan kanan, dan wajah seorang jenderal yang sedang menghitung sisa amunisi.
Ia melihat roti sobek di tanganku.
“Itu buat apa?”
“Sarapan.”
“Kamu bawa sarapan waktu disuruh lari?”
“Panik nggak boleh lapar, Mbak.”
Sudut bibirnya berkedut. Ia menahannya dengan sangat profesional, lalu menunjuk ke dalam ruang Anggrek. “Laptopnya di ujung meja.”
File presentasi itu memang rusak. Bukan rusak biasa. Rusak yang membuat sistem bertanya apakah aku ingin memperbaikinya, lalu gagal memperbaikinya, lalu bertanya lagi dengan nada yang menurutku agak mengejek. Aku mencoba tiga cara pemulihan. Ketiganya mengembalikan dua puluh empat slide kosong berwarna putih, dengan judul Rencana Ekspansi Asia Tenggara 2027 yang melayang sendirian seperti hantu di slide pertama.
“Ada salinan lain?” tanyaku.
“Pak Dimas biasanya simpan di email.” Kalea membungkuk di sampingku, sangat dekat, menatap layar. “Tapi versi final dia kerjakan semalam, di laptop ini. Belum dikirim ke mana-mana.”
Aku membuka folder unduhan. Folder email. Folder sampah. Folder bernama JANGAN DIHAPUS yang isinya ternyata foto kucing peliharaan Pak Dimas, empat ratus dua belas foto, semuanya kucing oranye yang sama dalam pose berbeda.
Kalea dan aku menatap foto kucing itu bersamaan.
“Kamu tidak melihat ini,” katanya.
“Aku nggak lihat apa-apa, Mbak.”
“Namanya Pak Kumis.”
“Aku nggak tanya.”
“Saya cuma memberi tahu supaya kamu tidak penasaran.”
Aku menutup folder itu dengan sangat hormat.
Pukul 09.52. Delapan menit lagi. Di lorong, aku bisa mendengar suara lift terbuka dan langkah-langkah sepatu kulit mahal. Investor datang lebih awal.
Lalu aku menemukannya. Di folder lampiran email Kalea yang tersinkron ke laptop itu, ada satu file presentasi berjudul Ekspansi_Asia_revisi_TASYA_draft_maaf_kalau_jelek.pptx, dikirim dua hari lalu.
“Ini apa?”
Kalea mengerutkan dahi. “Tasya kirim itu ke saya. Pak Dimas minta anak magang bantu cari data pasar Vietnam. Dia mengirim lebih dari yang diminta.”
Aku membukanya. Dua puluh delapan slide. Rapi, bersih, data lengkap, grafik yang benar-benar bisa dibaca. Ada slide penutup yang hanya berisi satu kalimat besar: Kami tidak masuk pasar baru. Kami pulang ke tetangga.
Kalea menatap slide itu lama.
“Ini,” katanya pelan, “lebih bagus dari punya Pak Dimas.”
“Pak Dimas tahu file ini ada?”
“Belum sempat saya teruskan.”
Pukul 09.55. Pintu ruang Anggrek terbuka. Pak Dimas masuk, diikuti tiga orang berjas yang berbicara bahasa Inggris dengan aksen Singapura. Pak Dimas melihat laptopnya, melihat aku, dan wajahnya berubah dari percaya diri jadi pucat dalam satu tarikan napas.
Kalea sudah berdiri tegak di sampingnya. Ia membisikkan sesuatu. Pak Dimas melirik layar laptop, ke slide Kami pulang ke tetangga, lalu mengangguk sekali, kaku, seperti orang yang baru saja diberi parasut tepat sebelum melompat.
“Proyektor?” bisik Kalea padaku.
Aku menyambungkan kabel HDMI dari laptop ke soket di bawah meja. Layar tetap gelap. No Signal.
Tentu saja. Tentu saja.
Aku menyelam ke bawah meja.
Di bawah meja ruang Anggrek, ada dua puluh empat kaki. Delapan kaki manusia, enam belas kaki kursi. Dan di tengah kegelapan itu, ada satu soket HDMI di lantai yang kendur.
Aku meraih kabel itu.
Tangan lain juga meraihnya.
Aku menoleh. Kalea berjongkok di sisi lain meja, di bawah, dengan rok selututnya dirapatkan, rambutnya jatuh ke satu sisi wajah, dan tangannya memegang ujung kabel yang sama denganku.
Kami saling menatap di bawah meja rapat direksi, di depan sepatu-sepatu investor Singapura.
“Lepas,” bisiknya.
“Mbak yang lepas.”
“Saya pegang duluan.”
“Aku pegang dari sisi yang benar.”
“Kabel nggak punya sisi yang benar.”
“Kabel punya, Mbak. Ini kabel. Aku orang IT.”
Ia menyipitkan mata. Ujung jarinya yang memegang kabel bergeser sedikit, dan sekarang jari telunjuknya menempel di atas jariku. Hangat. Halus. Dan sama sekali tidak ia pindahkan.
Aku juga tidak memindahkan jariku.
Dari atas meja, suara Pak Dimas: “...mohon maaf, sedikit kendala teknis. Tim IT kami sedang...” Jeda. “Bu Kalea?”
“Sebentar, Pak!” seru Kalea dari bawah meja.
Lalu ia menatapku. Sangat dekat. Aku bisa melihat ada bintik cokelat kecil di bawah mata kirinya, yang tidak terlihat dari jarak normal. Aku bisa mencium melati.
“Hitungan ketiga,” bisiknya. “Kita dorong bareng.”
“Bareng?”
“Satu.”
“Ini bukan teknik standar...”
“Dua.”
“Mbak...”
“Tiga.”
Kami mendorong kabel itu bersama ke soketnya. Klik.
Dari atas meja, proyektor berbunyi, dan seseorang dengan aksen Singapura berkata, “Ah, there we go.”
Kalea tersenyum padaku. Di bawah meja, dalam gelap, dengan jarinya masih di atas jariku. Senyum yang lebar dan tiba-tiba dan sangat, sangat tidak profesional.
Lalu ia menarik tangannya, merapikan rambut, dan muncul kembali ke atas meja seperti tidak ada apa-apa. Aku tetap di bawah, memegang kabel, dengan jantung yang berdetak seperti printer lantai dua belas waktu mencetak kartu tebal.
Aku keluar dari bawah meja dua menit kemudian, merangkak mundur ke arah pintu, dan bertemu muka dengan Tasya yang sedang berdiri di ambang pintu membawa tumpukan air mineral.
Ia menatapku, merangkak keluar dari bawah meja rapat direksi, untuk kedua kalinya dalam sebulan.
“Mas,” bisiknya. “Mas tinggal di situ, ya?”
“Nggak,” kataku. “Cuma sering berkunjung.”
Tasya mengangguk pelan, lalu melirik ke bawah meja dengan wajah bingung. “Mas, tadi Bu Kalea juga di bawah situ?”
“Nggak ada siapa-siapa di bawah situ.”
“Tapi sepatunya ketinggalan satu.”
Aku menoleh. Di bawah meja, di antara kaki-kaki kursi dan sepatu kulit investor Singapura, tergeletak satu sepatu hak hitam dengan ujung runcing. Di atas meja, Kalea berdiri tegak di samping Pak Dimas, mencatat dengan serius, dengan satu kaki berstoking yang diam-diam berjinjit di atas karpet.
Aku mengambil sepatu itu dan menaruhnya di dekat kakinya tanpa suara, seperti meletakkan sesajen. Ia menyelipkan kakinya ke dalam sepatu tanpa menunduk sedikit pun. Tapi telinganya, lagi-lagi, merah sampai ke ujung.
Presentasi itu sukses besar.
Aku tahu karena Gilang tahu, dan Gilang tahu karena Bu Ratmi tahu, dan Bu Ratmi tahu karena OB lantai empat belas adalah keponakannya. Menurut rantai informasi itu, investor Singapura sangat menyukai slide penutup. Salah satunya bertanya siapa yang membuat analisis pasar Vietnam. Pak Dimas, yang menurut keponakan Bu Ratmi “kelihatan kaget sendiri”, menjawab dengan jujur: “Peserta magang kami. Tasya Ayudia.”
Lalu ia memanggil Tasya masuk dari lorong, di depan investor.
“Dan kau tahu apa yang Pak Dimas bilang?” tanya Bu Ratmi, berdiri di depan mejaku dengan sebakul gorengan, seolah aku tidak sedang bekerja.
“Apa, Bu?”
“‘Kamu punya nyali.’” Bu Ratmi menepuk dadanya. “Persis kayak di novel! Tapi di novel itu gara-gara kopi tumpah. Di sini gara-gara slide.” Ia menatapku dengan mata menyipit. “Dan yang nemu slidenya siapa?”
“Aku cuma lewat, Bu.”
“Lewat kok di bawah meja terus.”
Gilang muncul di samping Bu Ratmi, menggigit bakwan, mengangguk keras-keras. “Bu Ratmi, saya mau umumkan sesuatu.”
“Apa, Gil?”
“Saya sudah memutuskan nama kapal mereka.”
“Kapal apa?”
“Kapal shipping, Bu. Pasangan.” Gilang mengangkat bakwan tinggi-tinggi seperti mengangkat piala. “Kalea dan Bimo. KABEL.”
Hening.
“Ka dari Kalea,” jelas Gilang dengan bangga. “Bi... eh, B dari Bimo. E-L-nya...”
“E-L-nya dari mana?” tanyaku.
“E-L-nya biar jadi kabel aja. Biar sesuai.”
Bu Ratmi tertawa sampai bakulnya bergoyang. “Kabel! Cocok! Mas Bimo kan selalu bawa kabel!”
“Itu nggak masuk akal secara linguistik,” kataku.
“Cinta nggak butuh linguistik, Bim.” Gilang menepuk bahuku. “Gue udah bikin grup WA. Namanya Tim Hore Kapal Kabel. Anggotanya gue, Bu Ratmi, sama Pak Darto.”
“Pak Darto mau?”
“Pak Darto yang usul emoji kapal di nama grupnya.”
Aku membuka ponselku. Ada notifikasi. Aku sudah dimasukkan ke grup itu, entah kapan. Foto profil grupnya adalah gambar gulungan kabel HDMI dengan stiker hati.
Aku keluar dari grup.
Tiga detik kemudian, Gilang memasukkanku lagi.
Pukul empat sore, aku kembali dari ruang server dan menemukan kertas kuning di monitorku.
Tulisan tangan yang sama. Condong ke kanan. Tinta hitam tegas.
Kabel punya sisi yang benar.
Kamu benar. Saya salah.
Jangan dibiasakan.
— K
Di bawah kertas itu, di atas keyboard, ada sebungkus roti sobek. Rasa cokelat keju, yang lebih mahal dari roti sobek polos yang kubawa pagi tadi. Bungkusnya masih rapat. Di atas bungkus itu, sebuah kertas kuning lagi, lebih kecil:
Panik nggak boleh lapar.
Aku duduk di kursi dan menatap dua kertas kuning itu cukup lama, sampai Gilang, yang sedang memakan sisa bakwan di kursinya, berhenti mengunyah dan menatapku dengan horor.
“Bim,” katanya. “Lo senyum.”
“Nggak.”
“Lo senyum ke kertas.”
“Ini... tiket analog. Aku senang tiketnya selesai.”
“Lo nggak pernah senyum ke tiket, Bim. Empat tahun. Gue sebelah lo empat tahun.” Gilang meraih ponselnya dengan tangan gemetar. “Gue harus lapor ke grup.”
“Jangan.”
Ia sudah mengetik. Aku mengambil kertas-kertas kuning itu dan memasukkannya ke laci, di atas kertas kuning yang pertama. Sudah ada tiga sekarang. Tumpukan kecil kuning di antara kabel dan obeng.
Lalu aku membuka roti sobek cokelat keju itu dan memakannya satu sobekan demi satu sobekan, pelan-pelan, sampai habis.
Rotinya enak sekali. Lebih enak dari seharusnya roti seharga dua belas ribu.
Malamnya, aku membuka daftar Aturan Figuran. Di bawah nomor delapan yang lagi-lagi muncul (Jangan lupa traktir Gilang kalau jadian), Gilang sudah menambahkan nomor sembilan:
9. Jangan keluar dari grup Tim Hore Kapal Kabel.
Aku menghapus keduanya. Lalu, setelah berpikir lama, aku mengembalikan nomor sembilan.
Bukan karena aku setuju. Hanya karena, menurut pengalamanku, Gilang akan memasukkanku lagi, dan Pak Darto sudah mengirim stiker hormat sebanyak enam belas kali.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama reading
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto