← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Twenty Five

Kebaikan Tasya

POV: Bimo

Townhall bulanan Haryanto Group selalu diadakan di ruang serbaguna lantai tiga, dan selalu membosankan.

Isinya biasanya laporan kuartal yang dibacakan Pak Dimas dengan nada seorang pembaca berita cuaca, pengumuman karyawan baru, pengumuman karyawan yang pensiun, dan sesi tanya jawab yang tidak pernah ada yang bertanya karena semua orang ingin cepat makan siang.

Tapi Jumat itu, ruang serbaguna penuh sejak pukul delapan.

Dua ratus kursi plastik terisi. Bu Ratmi duduk di barisan depan dengan bakul gorengan di pangkuan, seperti penonton bioskop yang membawa camilan sendiri. Pak Darto berdiri di dekat pintu, bertugas sebagai keamanan, tapi matanya terus melirik ke arah panggung dengan semangat seseorang yang menunggu konser. Gilang duduk di sebelahku di meja kontrol, di belakang ruangan, sambil makan pie susu terakhir dari Bali.

“Kenapa rame banget?” bisikku.

“Lo nggak dengar?” Gilang menatapku. “Anak marketing bilang ada kejutan. Buat Pak Dimas.”

“Kejutan apa?”

“Nggak tahu. Rahasia.” Gilang mengunyah pie susu. “Tapi kata Mbak Rini, ini ‘momen bersejarah’.”

Aku menatap panggung kecil di depan. Di sana sudah ada podium, satu mikrofon, dan layar proyektor besar. Di sisi kiri panggung, ada sesuatu yang ditutup kain putih. Bentuknya panjang dan tipis, seperti spanduk yang digulung.

Aku sudah menyambungkan laptop pribadi Kalea ke proyektor pukul tujuh pagi. Laptop tipis berwarna perak dengan stiker kecil berbentuk cangkir teh di pojoknya. Kalea memberikannya padaku di lobi dalam keadaan sudah menyala, dengan slide townhall sudah terbuka di layar penuh.

“Cukup colok,” katanya. “Jangan buka yang lain.”

“Aku nggak pernah buka yang lain.”

“Saya tahu.” Ia menatapku sebentar. Wajahnya pucat. Ada lingkaran gelap di bawah matanya, seperti orang yang tidak tidur. “Saya tahu kamu nggak pernah.”

Lalu ia berbalik dan naik lift ke lantai tiga tanpa menunggu aku.


Pukul 09.00, townhall dimulai.

Kalea berdiri di podium sebagai MC. Blazer hitam, rambut digerai, lipstik merah bata. Suaranya rendah, jernih, efisien, seperti biasa. Tidak ada yang akan tahu bahwa ia hampir tidak tidur. Tidak ada yang akan tahu bahwa tangannya, yang memegang kartu panduan acara, sedikit gemetar.

Aku tahu, karena aku memperhatikannya cukup lama.

“Selamat pagi, rekan-rekan Haryanto Group,” katanya. “Mari kita mulai dengan sambutan dari Direktur Utama, Bapak Dimas Haryanto.”

Pak Dimas naik ke panggung. Ia memakai kemeja batik baru. Ia berdiri di podium, membuka map, dan mulai membaca laporan kuartal dengan nada pembaca berita cuaca. Pendapatan naik sebelas persen. Biaya operasional turun empat persen. Ekspansi Vietnam dalam tahap studi kelayakan.

Lalu ia berhenti. Ia menatap barisan kursi. Matanya menemukan Tasya, yang duduk di barisan ketiga bersama peserta magang lain, memegang kertas presentasi.

“Studi kelayakan Vietnam,” lanjut Pak Dimas, dan suaranya tiba-tiba berubah sedikit, “dimulai dari analisis pasar yang dibuat oleh salah satu peserta program magang kita. Analisis yang sangat bagus.” Ia berdeham. “Sangat... sangat bagus.”

Tasya menunduk dengan wajah merah. Gilang berbisik: “CEO kita bilang ‘sangat’ dua kali. Itu kayak lamaran.”


Peserta magang presentasi satu per satu. Tasya presentasi terakhir. Suaranya hanya bergetar di kalimat pertama, lalu mantap. Saat ia selesai, dua ratus orang bertepuk tangan. Pak Dimas bertepuk tangan paling keras, lalu sadar, lalu berhenti, lalu bertepuk tangan lagi dengan volume yang lebih pantas.

Kalea naik ke podium untuk menutup acara.

“Terima kasih kepada seluruh peserta program magang. Sebelum kita tutup, ada pengumuman dari bagian HR soal...”

Pintu samping ruang serbaguna terbuka. Mbak Sisil masuk dengan map plastik di tangan dan wajah panik, langsung berjalan ke arah podium dan membisikkan sesuatu ke telinga Kalea.

Kalea menatap Mbak Sisil. Mbak Sisil menunjuk mapnya. Kalea menutup mata sebentar.

“Mohon maaf, rekan-rekan,” kata Kalea ke mikrofon. “Ada formulir kehadiran townhall yang belum ditandatangani direksi. Harus diserahkan ke auditor hari ini. Tiga rangkap. Saya tinggal sebentar. Silakan tetap duduk. Lima menit.”

Ia turun dari podium dan keluar lewat pintu samping bersama Mbak Sisil.

Dan begitu pintu itu tertutup, barisan ketiga berdiri.


Tasya dan Mbak Rini berlari ke sisi kiri panggung. Mereka menarik kain putih dari benda yang tergulung itu, membukanya, dan membentangkannya di depan panggung dengan bantuan dua anak marketing lain.

Spanduk karton. Huruf-huruf warna-warni yang digunting satu per satu, ditempel di kertas putih panjang.

TERIMA KASIH, SENIN PAGI 💛

Ruangan langsung berdengung. Separuh orang bingung. Separuh lagi, yang ternyata jauh lebih banyak dari yang kubayangkan, langsung mengerti. Aku mendengar bisikan dari segala arah. Senin Pagi? Yang nulis novel kantor itu? Jadi beneran ada di sini?

Gilang berhenti mengunyah. “Bim,” bisiknya. “Ini kejutannya?”

Aku tidak menjawab. Ada sesuatu yang dingin merayap naik dari perutku.

Tasya naik ke panggung. Ia mengambil mikrofon dari podium dengan tangan gemetar, lalu tersenyum ke arah dua ratus orang.

“Selamat pagi, semuanya,” katanya. “Saya Tasya. Mungkin banyak yang sudah tahu, ada web novel di aplikasi Lembar yang judulnya Sang CEO dan Gadis Magang. Ceritanya tentang kantor kita.”

Gelak tawa dan sorakan dari barisan belakang. Seseorang berteriak, “SIL!” Seseorang lagi berteriak, “MAS IT!”

“Novel itu,” lanjut Tasya, suaranya mulai bergetar, “sangat berarti buat saya. Waktu saya baru masuk sini, saya takut. Dan novel itu bikin saya merasa nggak sendirian. Jadi hari ini, saya mau bilang terima kasih ke penulisnya.”

Ia menoleh ke Pak Dimas, yang duduk di kursi direksi di sisi kanan panggung, dengan wajah orang yang sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Pak Dimas,” kata Tasya, dan suaranya pecah. “Terima kasih sudah menulis kami dengan baik.”

Hening.

Dua ratus orang menoleh ke Pak Dimas.

Pak Dimas menatap Tasya. Menatap spanduk. Menatap dua ratus wajah. Ia membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi.

“Saya,” katanya akhirnya, dengan suara yang sangat kecil untuk ukuran mikrofon, “tidak bisa menulis.”

Tasya mengerjap.

“Saya bahkan tidak bisa menulis kartu ucapan Idul Fitri,” lanjut Pak Dimas, makin panik. “Bu Kalea yang tulis ulang. Setiap tahun.”

Bisikan menyebar di seluruh ruangan seperti api di ilalang.

Tasya menatap Pak Dimas. Wajahnya berubah dari bahagia jadi bingung jadi panik. “Ta... tapi Pak, papan tulis Bapak... hitung mundur... catatan penulis...”

“Papan tulis saya?” Wajah Pak Dimas memerah sampai ke telinga. “Itu... itu hitung mundur pribadi. Itu tidak ada hubungannya dengan novel. Saya tidak tahu ada novel.”

“Tapi yang tahu soal papan tulis itu cuma...”

Tasya berhenti.

Ia menoleh ke meja kontrol. Ke arahku. Ke laptop perak dengan stiker cangkir teh di pojoknya.

“Mas Bimo,” katanya ke mikrofon. Suaranya kecil. “Boleh saya pinjam laptopnya sebentar? Saya mau tunjukin novelnya di layar. Biar semua orang tahu.”


Aku ingat semua yang terjadi setelah itu dengan sangat jelas, seperti rekaman yang diputar lambat.

Tasya turun dari panggung dan berjalan ke meja kontrol. Aku berdiri. Aku ingin bilang jangan. Aku tidak tahu kenapa aku ingin bilang jangan. Itu cuma web novel. Itu cuma aplikasi. Tasya cuma mau menunjukkan sampulnya.

Tapi aku ingat pesan Kalea di lobi tadi pagi. Jangan buka yang lain. Dan aku ingat wajahnya. Pucat. Tidak tidur.

“Tasya, itu laptop pribadi Bu Kalea,” kataku. “Nggak bisa sembarangan...”

“Cuma buka browser, Mas. Sebentar.” Tasya sudah membungkuk di atas laptop. Ia keluar dari slide presentasi. Ia membuka browser. Di layar proyektor besar di depan dua ratus orang, muncul halaman kosong dengan bilah alamat.

Tasya mengetik satu huruf.

L.

Bilah alamat langsung menyelesaikan sendiri. lembar.id/penulis/dasbor. Alamat yang sering dikunjungi.

Tasya menekan Enter, karena itu yang dilakukan semua orang kalau browser menyelesaikan alamat sendiri.

Layar proyektor berubah.

Latar krem. Huruf serif. Bukan halaman sampul novel. Bukan halaman pembaca.

Dashboard penulis.

Sang CEO dan Gadis Magang.
Penulis: Senin Pagi.
Pembaca: 66.804.
Draf terjadwal: Bab 36 — terbit Jumat, 21.00.

Dan di pojok kanan atas, kecil tapi sangat jelas di layar berukuran tiga kali empat meter, di samping foto profil berupa gambar cangkir teh:

Kalea Prameswari
Akun terverifikasi untuk kontrak penerbitan.


Ruangan itu tidak hening. Ruangan itu meledak, seperti gelembung yang pecah satu per satu, dengan bisikan yang makin keras dari barisan depan ke barisan belakang.

Bu Kalea?

Bu Kalea yang nulis?

Kalina itu Bu Kalea?

KALINA ITU BU KALEA SENDIRI?

Terus Mas IT...

Dan kemudian, satu per satu, seperti lampu yang dinyalakan bergantian di sebuah gedung, kepala-kepala menoleh ke belakang. Ke meja kontrol. Ke aku.

Mas IT itu Mas Bimo.

Seratus wajah. Dua ratus wajah. Menatapku.

Aku berdiri di belakang meja kontrol dengan tangan yang tidak tahu harus melakukan apa. Di sebelahku, Gilang menjatuhkan sisa pie susu ke lantai. Di depan, Bu Ratmi menutup mulut dengan tangan berminyak. Di dekat pintu, Pak Darto berdiri kaku, wajahnya pucat di balik kumis yang berwibawa.

Dan di layar tiga kali empat meter, nama Kalea menyala di pojok kanan atas.

Aku menatap nama itu.

Delapan bulan lalu.

Lampu kota dari jendela lantai dua belas. Lapis legit Toko Kenanga, yang pinggirnya agak gosong. Saya ingat banyak hal tentang kamu. Laptop yang ditutup dengan dua tangan sampai jariku terjepit. Rahasia perusahaan. Ada satu hal yang harus saya bilang. Di Jakarta.

Teh melati di mejaku, di hari kedua. Senandung yang sama di depan printer. Aroma melati di setiap halaman yang menulis tentang Kalina. Paragraf soal soto yang dimakan diam-diam di tangga darurat, sampai tetes terakhir. Kalina tidak makan siang. Tidak hari itu, tidak keesokan harinya.

Semua kabelnya tersambung sekaligus, dan arusnya terlalu besar.

Ia tahu. Ia selalu tahu. Ia menulis aku. Delapan bulan. Tanpa nama. Di depan enam puluh enam ribu orang.

Dan ia tidak bilang.


Pintu samping terbuka.

Kalea masuk dengan map plastik Mbak Sisil di tangan. Ia melangkah dua langkah ke dalam ruangan, lalu berhenti, karena dua ratus orang tidak lagi menatap panggung. Mereka menatap layar. Lalu menatapnya. Lalu menatapku. Lalu menatapnya lagi.

Kalea mengangkat wajah ke layar proyektor.

Aku melihat semuanya terjadi di wajahnya. Seperti layar yang dimatikan. Warna hilang dari pipinya. Bibir merah batanya terbuka sedikit. Map plastik di tangannya miring, dan satu lembar formulir kehadiran tiga rangkap jatuh ke lantai dan meluncur pelan di atas karpet.

Lalu matanya bergerak dari layar, melintasi dua ratus kepala, dan menemukanku.

Kami saling menatap dari dua ujung ruang serbaguna.

Aku tidak tahu wajahku seperti apa saat itu. Aku tidak bisa melihatnya. Tapi aku melihat wajah Kalea saat ia melihat wajahku, dan itu sudah cukup untuk tahu.

Wajahnya hancur. Pelan, dari dalam, seperti gedung yang runtuh tanpa suara.

Lalu, karena ia Kalea Prameswari, wajah itu disusun kembali dalam satu tarikan napas. Rapi. Datar. Tanpa cela.

Ia berjalan menyusuri lorong di antara kursi-kursi, melewati dua ratus orang yang menahan napas. Langkahnya tidak cepat, tidak lambat. Ia sampai di meja kontrol. Ia tidak menatapku. Ia menatap laptop.

Tasya berdiri di sebelah laptop dengan wajah yang sudah basah oleh air mata.

“Bu,” bisik Tasya. “Bu, saya nggak tahu. Saya kira Pak Dimas. Bu, maaf. Bu...”

Kalea mengulurkan tangan dan menutup laptop itu. Pelan. Dengan dua tangan. Seperti menutup buku.

Layar proyektor berubah jadi biru. No Signal.

Kalea mencabut kabel HDMI dari laptop, menggulungnya dengan rapi, dan meletakkannya di meja di depanku. Tanpa menatapku.

Lalu ia berjalan kembali ke panggung, naik ke podium, dan mengambil mikrofon dari tangan Pak Dimas yang masih membeku.

“Townhall selesai,” katanya. Suaranya rendah, jernih, dan sangat datar. “Terima kasih atas kehadirannya. Formulir kehadiran tiga rangkap tersedia di meja HR.”

Ia meletakkan mikrofon di podium. Ia turun dari panggung. Ia berjalan keluar lewat pintu samping.

Ia tidak menoleh sekali pun.


Ruangan itu tidak bubar selama satu menit penuh. Semua orang duduk, menatap layar biru, menatap pintu samping, menatapku.

Lalu satu orang berdiri. Lalu dua. Lalu semua orang bergerak sekaligus, keluar dengan ponsel di tangan, mengetik, berbisik, menoleh ke belakang ke arahku seperti menoleh ke tokoh yang baru keluar dari layar televisi.

Aku berdiri di meja kontrol, memegang kabel HDMI yang digulung rapi.

Gilang menatapku. Wajahnya, yang biasanya penuh teori dan teriakan dan emoji kapal, sekarang kosong. “Bim,” bisiknya. “Lo nggak tahu?”

Aku menggeleng.

“Gue juga nggak tahu,” katanya. “Sumpah, Bim. Gue nggak tahu.”

Di dekat pintu, Pak Darto masih berdiri kaku. Ia menatapku. Lalu ia mengeluarkan ponselnya, membuka sesuatu, menatap layarnya lama, dan memasukkannya kembali ke saku. Ia tidak mengangkat tangan ke pelipis. Ia tidak bilang siaga. Ia hanya berbalik dan berjalan pergi.

Tasya duduk di lantai di sebelah meja kontrol, memeluk lutut, menangis tanpa suara. Mbak Rini berlutut di sebelahnya, memeluk bahunya. Spanduk TERIMA KASIH, SENIN PAGI tergeletak di depan panggung, setengah tergulung, huruf S kuningnya terlepas dan jatuh ke karpet.


Malam itu, pukul 21.00, Bab 36 tidak terbit.

Aku tahu karena aku duduk di kasur kos, menatap ponsel, sejak pukul delapan. Aku tidak tahu kenapa aku menunggu. Mungkin karena aku sudah terbiasa menunggu notifikasi Selasa dan Jumat. Mungkin karena aku ingin tahu apakah ia akan menulis tentang hari ini. Tentang layar biru. Tentang dua ratus wajah. Tentang aku di meja kontrol.

Pukul 21.00, tidak ada notifikasi.

Aku membuka aplikasi Lembar. Halaman novel itu masih ada. Bab 35 masih jadi bab terakhir. Tapi kolom komentar di Bab 35 sudah berubah. Ribuan komentar baru dalam enam jam.

anak.marketing.hrg: GUYS PENULISNYA KETAHUAN. SEKRETARIS DIREKSI HARYANTO GROUP. NAMANYA KALEA PRAMESWARI. KALINA ITU DIA SENDIRI 😭😭😭

lunamelati_: jadi semua ini orang beneran??? mas IT orang beneran??? ya ampun

bacasambilngopi: ini kan pelanggaran privasi ya? nulis orang kantor tanpa izin?

tim.kalina.4ever: aku nggak peduli. kalina selalu jadi favoritku dan sekarang aku tahu kenapa. dia nulis dirinya sendiri jadi orang jahat 💔

Aku menggulir ke bawah. Nama perusahaan kami. Nama Kalea. Seseorang menebak namaku dan menulisnya dengan salah ejaan: Bimo Wibisana.

Aku mencari satu nama di antara ribuan komentar itu. Darto_Siaga.

Komentar terakhirnya ada di Bab 35, kemarin malam, sebelum semua ini:

Mas IT dan Kalina sudah pantas bahagia. Saya doakan dari pos satpam. Siaga.

Tidak ada komentar baru dari Darto_Siaga. Tidak di Bab 35. Tidak di mana pun.

Aku menutup aplikasi.

Ponselku menunjukkan empat belas panggilan tak terjawab dari Kalea. Delapan pesan yang belum kubaca. Semuanya dimulai dengan kalimat yang sama, yang bisa kulihat dari pratinjau notifikasi:

Bimo, ada yang harus saya bilang.

Aku menatap kalimat itu.

Kalimat itu sudah terlambat delapan bulan.

Aku mematikan ponsel, meletakkannya di bawah bantal, dan berbaring menatap langit-langit kamar kos, di bawah kipas angin yang berdecit, dengan kemeja bernoda merah bata yang masih tergantung di paku dekat jendela.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Gilang mengirim tautan Bab 22, aku tidak membaca apa pun.