Chapter Twenty One
Pacar Rahasia
POV: Bimo
Ternyata pacaran rahasia di kantor itu seperti memperbaiki printer lantai dua belas. Semua orang tahu masalahnya, tapi semua orang pura-pura tidak tahu, karena mereka butuh printernya tetap jalan.
Hari pertama setelah lift nomor tiga, aku mendapati Gilang duduk di kursinya dengan wajah orang yang sedang menjalankan tugas negara.
“Bim,” katanya tanpa menoleh. “Gue mau bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Gue nggak tahu apa-apa.” Ia mengetik dengan sangat serius di laptopnya. “Gue nggak lihat kerah lo kemarin. Gue nggak dengar Pak Darto nangis di interkom. Gue nggak tahu Bu Ratmi pasang taruhan baru.”
“Taruhan baru?”
“Taruhan kapan kalian go public.” Gilang menutup laptop dan akhirnya menatapku. Matanya berkaca-kaca. “Bim. Gue bangga sama lo. Tapi gue juga sakit hati.”
“Kenapa sakit hati?”
“Lo nggak bilang gue.” Ia menunjuk dadanya. “Gue yang kirim link pertama. Gue yang bikin nama kapal. Gue yang ngajarin lo batuk palsu.”
“Batuk palsunya gagal, Gil.”
“Itu bukan intinya!” Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya pelan, seperti orang yang baru selesai meditasi. “Oke. Gue paham. Ini rahasia. Gue akan jaga rahasia ini dengan nyawa gue.”
“Makasih.”
“Tapi,” Gilang mengangkat jari, “aturan nomor delapan masih berlaku. Traktir gue kalau jadian.”
“Kami nggak jadian. Secara resmi.”
“Bim.” Gilang menatapku dengan tatapan paling serius yang pernah kulihat. “Ada lipstik di kerah lo. Itu resmi.”
Aku mentraktirnya nasi padang. Dengan rendang dua potong. Itu harga sebuah rahasia di divisi IT.
Aturan Pacaran Rahasia nomor satu: Tidak boleh pegangan tangan di kantor.
Kalea menegakkan aturan itu dengan kedisiplinan seorang sekretaris direksi. Di lorong, ia berjalan melewatiku dengan wajah datar dan mengangguk satu kali. “Pagi.” Di lift (bukan lift nomor tiga, yang perbaikannya terus ditunda dengan alasan teknis), ia berdiri di sudut yang berlawanan. Di rapat, ia tidak menatapku sama sekali. Bahkan saat aku merangkak keluar dari bawah meja setelah memperbaiki kabel proyektor untuk ketiga kalinya bulan itu.
Tapi di tangga darurat, pukul 12.15, ia menemukan celah hukum.
“Tangga darurat bukan kantor,” katanya, duduk di anak tangga keempat.
“Tangga darurat ada di gedung kantor.”
“Tangga darurat itu belakang panggung.” Ia mengutip kalimatku sendiri dengan wajah datar. “Kamu yang bilang.”
Lalu ia menyelipkan tangannya ke tanganku, di antara kami, di atas anak tangga yang dingin, di bawah bungkusan bakwan berkaret gelang hijau. Jari-jarinya masuk di antara jari-jariku dan menggenggam erat.
“Aturan nomor satu tetap berlaku,” katanya, mengunyah bakwan dengan tangan kiri. “Di kantor.”
“Oke.”
“Ini belakang panggung.”
“Oke.”
Kami makan siang dengan satu tangan. Dua bungkus bakwan, satu termos teh melati, dan dua tangan yang tidak dilepas sampai pukul 12.58, saat Kalea menarik tangannya, merapikan blazer, dan naik ke lantai empat belas dengan wajah sekretaris direksi yang sempurna.
Setiap hari seperti itu. Setiap hari, di anak tangga keempat, ia menyelipkan tangannya ke tanganku. Dan setiap hari, setelah ia pergi, aku duduk sendirian selama satu menit penuh, menatap telapak tanganku yang masih hangat, seperti orang yang baru belajar bahwa tangan bisa dipakai untuk sesuatu selain memegang kabel.
Yang tidak pernah kuduga: Kalea Prameswari, kalau berdua, sangat manja.
Aku baru tahu Sabtu pertama kami pergi berdua, keluar dari kantor, ke tempat yang tidak ada hubungannya dengan printer atau lift.
Kami pergi ke pasar malam di Bekasi, dekat warung Ibu. Itu ideku. Aku pikir tempat itu cukup jauh dari Jakarta sehingga tidak ada orang kantor yang akan melihat kami. Kalea datang memakai kaus putih, celana jins, dan topi bisbol hitam yang ditarik rendah sampai ke alis, seperti selebriti yang sedang menyamar. Ia juga memakai masker.
“Kenapa pakai masker?” tanyaku.
“Penyamaran.”
“Ini Bekasi.”
“Bu Ratmi tinggal di Bekasi,” katanya dengan nada serius. “Saya sudah cek. Tiga kilometer dari sini.”
Aku tidak tahu bagaimana Kalea bisa tahu alamat rumah Bu Ratmi. Aku memutuskan untuk tidak bertanya.
Di pasar malam, ia berubah.
Begitu kami melewati gerbang, di antara lampu-lampu warna-warni dan bau jagung bakar, ia menggandeng lenganku dengan kedua tangan, seperti anak kecil yang takut hilang. Ia berhenti di depan setiap gerobak makanan. Ia menunjuk-nunjuk.
“Itu apa?”
“Cilok.”
“Mau.”
Aku membelikannya cilok.
“Itu apa?”
“Kerak telor.”
“Mau.”
Aku membelikannya kerak telor. Ia memegang cilok di tangan kanan, kerak telor di tangan kiri, dan menatapku dengan mata yang melengkung di atas masker.
“Suapin,” katanya.
Aku menatapnya. “Hah?”
“Tangan saya penuh.”
“Mbak... Kalea, tanganmu penuh karena kamu pegang dua makanan.”
“Makanya. Suapin.”
Aku mengambil satu cilok dengan tusuk sate dan mengangkatnya. Kalea menurunkan maskernya ke dagu, membuka mulut, dan memakan cilok itu dengan wajah puas seperti kucing yang baru diberi ikan. Lalu ia membuka mulut lagi.
“Lagi.”
Aku menyuapinya lagi. Di belakang kami, seorang ibu-ibu penjual cilok tertawa dan berkata pada temannya, “Pengantin baru, tuh.”
Kalea tersedak. Aku menepuk punggungnya. Ia menatapku dengan mata berair dan cilok di pipi, dan aku tidak bisa berhenti tertawa.
Ini perempuan yang sama yang mencoret laporan pengadaan dengan satu kata: Ulang. Perempuan yang membuat manajer menengah lari ke toilet. Sekarang ia berdiri di pasar malam Bekasi dengan topi bisbol, masker di dagu, dan pipi menggembung karena cilok, minta disuapi.
Aku jatuh cinta padanya lagi. Di depan gerobak cilok. Untuk kesekian kalinya minggu itu.
Kami naik bianglala.
Kalea ternyata takut ketinggian. Sama seperti Pak Dimas. Ia baru mengaku saat bianglala mulai naik dan ia mencengkeram lenganku dengan kekuatan seorang jangkar tarik tambang.
“Kenapa nggak bilang?” tanyaku.
“Saya kira saya nggak takut.”
“Kamu kira?”
“Saya belum pernah naik bianglala.” Matanya terpejam rapat. “Ayah nggak suka keramaian. Kami nggak pernah ke pasar malam.”
Bianglala berhenti di puncak. Kereta kami berayun pelan. Di bawah kami, lampu-lampu pasar malam berkelap-kelip seperti papan sirkuit raksasa.
Kalea membuka satu mata. Lalu dua. Lalu ia melihat ke bawah dan langsung menyembunyikan wajahnya di bahuku.
“Bimo.”
“Hm?”
“Jangan lihat saya takut.”
“Aku nggak lihat.”
“Kamu lihat. Saya bisa rasain kamu senyum.”
Aku memang tersenyum. Aku melingkarkan lengan di bahunya, menariknya lebih dekat, dan menyandarkan daguku di puncak topi bisbolnya.
“Lampunya bagus,” kataku. “Kayak motherboard.”
Ia tertawa ke bahuku. “Kamu selalu bandingin semua hal sama komputer.”
“Itu satu-satunya hal yang aku ngerti.”
Ia mengangkat wajah dan menatapku. Di bawah cahaya lampu bianglala yang berwarna-warni, wajahnya berganti warna: merah, biru, hijau, kuning.
“Kamu ngerti banyak hal,” katanya pelan. “Kamu ngerti kapan lift mau macet. Kamu ngerti kapan saya lapar. Kamu ngerti kapan saya pengin ditemani tapi nggak bisa bilang.”
Lalu, sebelum bianglala mulai turun, ia menciumku. Cepat. Di puncak. Seperti mencuri sesuatu.
Saat kereta kami sampai di bawah, operator bianglala, seorang bapak-bapak bertopi lusuh, membuka pintu dan berkata, “Mau putaran kedua, Mas, Mbak? Gratis buat pengantin baru.”
Kalea menarik maskernya sampai ke mata.
“MAS BIMO? ITU MAS BIMO, KAN?”
Kami membeku di depan gerobak arum manis.
Suara itu datang dari belakang kami, keras dan sangat dikenal, dengan logat Betawi yang kental.
Kalea langsung menunduk, menarik topinya lebih rendah. Aku perlahan berbalik.
Bu Ratmi berdiri di belakang kami. Memakai daster batik, kerudung bergo, dan membawa kantong plastik berisi sayuran. Di sebelahnya, seorang bapak-bapak berkumis yang pasti suaminya, dan dua anak kecil yang memegang balon.
“Mas Bimo!” Bu Ratmi tersenyum lebar. “Ngapain di sini?”
“Jalan-jalan, Bu.”
“Sama siapa?” Matanya bergeser ke Kalea, yang sekarang hanya berupa topi bisbol, masker, dan punggung yang sangat kaku.
“Teman,” kataku.
“Teman,” ulang Bu Ratmi, dengan nada yang sama yang ia pakai untuk diskon kapal.
Kalea tidak bergerak. Ia berdiri membelakangi Bu Ratmi, berpura-pura sangat tertarik pada arum manis yang sedang diputar penjualnya. Arum manis berwarna merah muda, berputar, makin besar dan makin besar.
Bu Ratmi menatap punggung Kalea. Lama. Lalu ia menatap tangan Kalea yang masih memegang lengan jaketku.
Di pergelangan tangan Kalea, melingkar sebagai gelang, ada sebuah karet gelang hijau.
Aku tidak tahu kapan ia mulai memakainya. Aku tidak tahu karet gelang itu dari bakwan yang mana.
Bu Ratmi melihat karet gelang itu. Senyumnya melebar perlahan, sangat perlahan, seperti matahari terbit di pantai Nusa Dua.
“Teman,” ulangnya lagi. Lalu ia mengangguk. “Ya udah, Mas. Ibu pulang dulu. Hati-hati. Temannya jangan dibiarin kedinginan.”
Ia berbalik, menarik suami dan anak-anaknya. Tapi setelah tiga langkah, ia menoleh dan berseru, cukup keras untuk didengar setengah pasar malam:
“BESOK BAKWAN HIJAUNYA DUA, YA, MAS! DISKON KAPAL!”
Lalu ia menghilang di antara keramaian.
Kalea berbalik perlahan. Ia menatapku dari balik topi dan masker. Lalu ia menunduk ke pergelangan tangannya, ke karet gelang hijau, dan menutupnya dengan tangan yang lain.
“Saya lupa ini,” bisiknya.
“Sejak kapan kamu pakai itu?”
Ia tidak menjawab. Telinganya merah, terlihat di bawah topi.
“Kalea.”
“Sejak lembur,” katanya ke arah arum manis. “Saya simpan karetnya. Terus saya pakai. Cuma di luar kantor.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Penjual arum manis menyerahkan arum manis merah muda raksasa padaku tanpa diminta.
“Buat Mbak-nya,” katanya sambil mengedipkan mata. “Gratis. Saya juga dulu gitu sama istri.”
Malamnya, di kos, aku menerima pesan dari Kalea. Tapi sebelum itu, aku menerima pesan dari Bu Ratmi, yang selama empat tahun tidak pernah mengirimiku pesan pribadi.
Bu Ratmi: Mas. Ibu nggak lihat apa-apa di pasar malam.
Bu Ratmi: Ibu cuma lihat karet gelang.
Bu Ratmi: Karet gelang itu bukan bukti di pengadilan.
Bu Ratmi: Tapi di pantry itu bukti.
Lalu sebuah foto: papan gabus di pantry lantai dua belas, difoto dari dekat. Di bawah lembar KAPAL KABEL, sudah ada kertas baru dengan tulisan tangan Bu Ratmi yang miring: Update Sabtu malam. Lokasi: pasar malam. Barang bukti: karet hijau. Status: BERLAYAR.
Lalu, akhirnya, pesan dari Kalea.
Kalea: Aturan Pacaran Rahasia nomor empat sudah gagal.
Aku: Bu Ratmi?
Kalea: Bu Ratmi.
Aku: Dia nggak lihat mukamu.
Kalea: Dia lihat karet gelangnya. Itu lebih buruk dari muka.
Lalu satu pesan lagi:
Kalea: Bimo. Tadi waktu kamu bilang lampu bianglala kayak motherboard.
Aku: Iya?
Kalea: Delapan bulan lalu, saya pernah dengar kamu bilang hal yang sama. Soal lampu kota dari jendela lantai dua belas. Kamu lagi ngobrol sama Gilang.
Aku menatap pesan itu.
Delapan bulan lalu. Aku tidak ingat pernah mengatakan itu. Mungkin pernah. Aku sering mengatakan hal-hal semacam itu ke Gilang, dan Gilang tidak pernah mendengarkan.
Tapi delapan bulan lalu, Kalea Prameswari dan aku bahkan belum pernah bicara. Aku belum pernah naik ke mejanya. Ia hanya nama di CC tiket, dan aku hanya staf IT yang menunduk di lorong.
Aku: Kamu inget?
Tanda dua centang biru muncul. Lalu tanda sedang mengetik. Lalu hilang. Lalu muncul lagi. Lalu hilang lagi.
Lima menit kemudian, akhirnya balasan masuk.
Kalea: Saya ingat banyak hal tentang kamu. Itu salah satu hal yang mau saya bilang. Nanti.
Aku menatap pesan itu lama sekali, di bawah kipas angin yang berdecit.
Nanti.
Aku mengetik: Aku tunggu, lalu menghapusnya. Lalu mengetiknya lagi. Lalu menambahkan satu kalimat:
Aku: Aku tunggu. Sambil nyimpen arum manis yang nggak sempat kamu makan.
Arum manis merah muda raksasa itu ada di atas meja kosku, di dalam kantong plastik, perlahan mengempis karena udara Jakarta yang lembap. Aku tahu itu bodoh. Arum manis tidak bisa disimpan.
Tapi aku menyimpannya juga, sampai pagi, sampai tinggal segumpal kecil gula merah muda yang keras. Lalu aku memotretnya, karena aku tukang foto, dan mengirimkannya pada Kalea dengan satu kata:
Masih ada.
Ia membalas dengan satu emoji. Hati warna hijau.
Seperti karet gelang.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia reading
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto