Chapter Thirty One
Bab Satu
POV: Bimo
Pos satpam Haryanto Group ada di sudut parkiran basement, dan ukurannya pas untuk satu orang, satu kursi lipat, satu termos kopi, dan satu poster kalender tahun lalu bergambar pemandangan danau di Swiss.
Pak Darto menarik kursi lipat itu untukku. Ia sendiri duduk di atas jeriken air kosong yang dibalik.
“Silakan, Mas.”
“Pak, saya bisa duduk di jeriken.”
“Mas tamu.” Ia mengelus kumisnya. “Di pos satpam, tamu duduk di kursi. Itu aturan.”
Aku duduk di kursi lipat. Pukul 17.40. Dari balik kaca pos satpam, mobil-mobil karyawan mulai keluar dari parkiran satu per satu, lampu remnya menyala merah.
Pak Darto mengeluarkan ponselnya dari saku seragam. Ponsel Android tua, layarnya retak di pojok kiri atas, casing-nya bergambar logo klub sepak bola yang sudah pudar. Ia memegangnya dengan dua tangan, seperti memegang sesuatu yang sangat berharga.
“Ini, Mas.” Ia menyerahkannya padaku. “Foldernya di galeri. Saya kasih nama sendiri.”
Aku membuka galeri.
Ratusan foto. Swafoto Pak Darto dengan kumis dari berbagai sudut. Foto istrinya memasak. Foto cucunya di atas motor. Tangkapan layar stiker hormat yang, rupanya, ia buat sendiri dari fotonya sendiri. Lalu sebuah folder, dengan ikon map kuning, bernama:
NOVEL BU KA... (SENIN PAGI)
“Saya ganti namanya tadi pagi,” kata Pak Darto pelan. “Sebelumnya Novel Kantor Kita. Tapi tadi pagi saya pikir itu nggak sopan. Itu bukan novel kantor kita. Itu novel Bu Kalea.”
Aku membuka folder itu. Tiga puluh enam file PDF. Bab 1. Bab 2. Bab 3. Sampai Bab 36 (Tamat).
Baterai ponsel itu tinggal sembilan persen.
Pak Darto menatap angka itu dengan panik. “Waduh, Mas. Saya lupa ngecas. Charger saya di rumah.”
Aku membuka tas pinggangku dan mengeluarkan charger. Kabel tipe-C, kepala adaptor kecil, dan sambungan cadangan untuk tipe mikro USB, karena ponsel tua sering pakai tipe mikro.
Pak Darto menatap charger itu. Lalu menatapku. Matanya berkaca-kaca.
“Mas,” katanya, “Mas ini memang tokoh utama dari awal, ya.”
Aku menyambungkan ponselnya ke colokan di dinding pos satpam. Lalu aku membuka Bab 1.
Bab 1 — Senin Pagi
Senin pagi, printer lantai dua belas rusak, dan seorang staf IT yang lewat membawa kabel bersenandung lagu yang tidak punya judul.
Aku membaca kalimat itu satu kali.
Lalu aku membaca paragraf berikutnya.
Ada seorang perempuan berdiri di depan printer itu. Ia menangis tanpa suara, karena hari itu adalah hari yang buruk, dan dua printer di satu gedung sama-sama rusak di pagi yang sama, dan entah kenapa itu terasa seperti dunia sedang bilang padanya bahwa tidak ada yang bisa diperbaiki lagi.
Staf IT itu tidak menatap wajahnya. Ia langsung berjongkok di depan printer, membuka panel samping, dan menatap ke dalam rol, seolah printer itu satu-satunya hal di ruangan. Seolah ia tahu perempuan itu tidak mau dilihat.
“Printernya lagi sedih juga, Mbak,” katanya. “Hari Senin.”
Aku berhenti membaca.
Ada sesuatu di belakang kepalaku. Seperti file yang tersimpan di folder yang tidak pernah kubuka. Seperti bunyi gir lift sebelum macet, yang kudengar dan kukenali sebelum aku sadar aku mendengarnya.
Printernya lagi sedih juga, Mbak.
Aku pernah mengatakan itu.
Aku ingat. Pelan-pelan, seperti foto yang dicetak di kertas lama, gambarnya muncul sedikit demi sedikit. Pagi yang sangat awal. Lampu pantry baru setengah menyala. Seseorang berdiri di depan printer lantai dua belas dengan blazer gelap, bahu yang bergetar sedikit. Aku mendengar bunyi napas yang tertahan. Bunyi orang yang menangis dan tidak mau ketahuan menangis.
Jadi aku tidak menatap wajahnya.
Aku ingat itu. Aku ingat aku memutuskan untuk tidak menatap wajahnya, karena kalau aku sedang menangis di depan printer jam enam pagi, aku juga tidak mau ada yang menatap. Aku menatap printer. Aku menarik kertas yang tersangkut dengan pinset. Aku bersenandung, karena aku selalu bersenandung, dan karena senandung mungkin lebih baik daripada keheningan yang canggung.
Lalu aku pergi ke pantry dan mengambil teh. Teh apa saja. Hanya ada satu jenis teh celup di pantry lantai dua belas waktu itu.
Melati.
Aku meletakkannya di atas printer dan pergi, karena orang yang menangis tidak perlu berterima kasih pada orang asing.
Aku tidak pernah melihat wajahnya. Aku tidak pernah tahu siapa dia. Aku melupakannya hari itu juga, di antara tiket nomor sekian dan printer yang rusak lagi besoknya.
Dan selama delapan bulan, ia menulis tentang pagi itu.
Aku membaca Bab 1 sampai selesai. Lalu Bab 2. Lalu Bab 3.
Di luar pos satpam, langit berubah gelap. Mobil-mobil berhenti keluar. Lampu parkiran basement menyala kuning pucat. Pak Darto menuang kopi dari termos ke tutupnya dan meletakkannya di sebelahku tanpa bicara.
Bab 4. Satu kalimat tentang staf IT yang membetulkan kursi lobi.
Bab 7. Satu kalimat tentang staf IT yang bersenandung di lift dan tidak sadar semua orang di lift mendengarnya.
Bab 9. Satu kalimat tentang staf IT yang bilang ke temannya, di depan jendela lantai dua belas, bahwa lampu kota di malam hari seperti motherboard.
Bab 12. Satu kalimat tentang staf IT yang memberi tahu temannya soal lapis legit Toko Kenanga, yang pinggirnya agak gosong.
Bab 15. Satu kalimat tentang staf IT yang memperbaiki kompor pantry tanpa ada tiket.
Satu kalimat. Satu kalimat. Satu kalimat.
Dirgantara dan Tania berada di tengah setiap bab, dengan dialog-dialog dramatis dan adegan-adegan yang dibangun dengan rapi. Kalina berdiri di pinggir setiap halaman, judes dan dingin. Dan di sudut-sudut cerita, di antara paragraf-paragraf yang tidak penting, di tempat yang tidak akan diperhatikan pembaca biasa, ada aku. Lewat. Membawa kabel.
Setiap bab. Tanpa kecuali.
Pukul 21.30, Pak Darto mulai mendengkur di atas jeriken air yang dibalik, dengan kepala bersandar ke dinding pos satpam dan kumis yang bergetar setiap kali ia menghembuskan napas.
Ponselnya bergetar di colokan. Pesan dari istrinya.
Pak, Mas IT-nya sudah baca belum?
Aku tidak membalas. Itu bukan ponselku. Tapi aku menatap pesan itu lama sekali, dan merasakan sesuatu di dadaku yang tidak bisa kunamai.
Istri Pak Darto, yang belum pernah bertemu denganku, yang membaca tentangku setiap Selasa dan Jumat di rumah yang sinyalnya jelek, bertanya apakah aku sudah membaca. Seolah ia sudah menunggu.
Pukul satu pagi, aku sampai di Bab 22.
Bab yang dikirim Gilang. Bab pertama yang kubaca, waktu itu, di kamar kos karena bosan. Di ujung lorong, staf IT yang lewat membawa kabel menunduk sopan, dan Kalina pura-pura tidak melihatnya.
Dulu aku membaca kalimat itu dan berpikir: pura-pura?
Sekarang aku tahu kenapa ia harus pura-pura. Karena ia sudah melihatku dua puluh dua bab sebelumnya. Karena ia sudah memperhatikanku cukup lama. Karena kalau ia tidak pura-pura, semua orang akan tahu.
Aku membaca terus. Bab 23, proyektor yang terlalu cepat menyala. Bab 25, lift. Bab 26, soto, dimakan di tangga darurat sampai tetes terakhir. Bab 29, hanya kabut yang tahu.
Lalu Bab 31. Lembur. Nasi goreng. Telur ceplok yang berpindah piring.
Dan satu kalimat yang tidak pernah kuucapkan.
Pukul satu pagi, staf IT itu menatap Kalina dan berkata, “Kamu nggak pernah jadi antagonis di cerita mana pun yang aku baca.”
Aku menatap kalimat itu.
Aku tidak pernah mengatakannya. Aku ingat malam itu. Aku ingat nasi goreng dan kerupuk dan ganteng waktu lembur dan kertas kuning di dahiku. Aku tidak pernah bilang itu.
Ia menulisnya sendiri. Ia menulis kalimat yang ingin ia dengar dari mulutku, di cerita yang tidak pernah ia kira akan kubaca sampai ke bagian ini.
Aku menutup mata. Kopi di tutup termos sudah dingin.
Pukul 03.12, aku sampai di Bab 36.
Tamat.
Aku membacanya lagi. Kali ini, setelah tiga puluh lima bab, setelah Senin pagi dan delapan puluh tujuh kalimat dan satu kalimat yang tidak pernah kuucapkan, aku membacanya dengan cara yang berbeda.
Itu satu-satunya hal baik yang bisa Kalina berikan padanya: halaman kosong, tempat ia bisa lewat tanpa dilihat.
Dulu, Selasa malam, aku membaca kalimat itu sebagai pintu yang ditutup.
Sekarang aku membacanya sebagai seseorang yang menulis delapan puluh tujuh kalimat tentangku selama delapan bulan, lalu menghapus semuanya dalam satu malam, karena aku bilang aku tidak mau ada di cerita siapa pun.
Ia tidak menutup pintu. Ia memberiku apa yang kuminta. Persis seperti aku memberinya teh melati delapan bulan lalu: tanpa diminta, lalu pergi sebelum harus berterima kasih.
Kami melakukan hal yang sama satu sama lain. Berbuat baik, lalu pergi. Dua tukang foto yang tidak pernah ada di fotonya.
Dan tidak ada satu pun dari kami yang pernah berhenti untuk bertanya apakah orang lain itu mau kami tetap tinggal.
Pak Darto bangun pukul 04.30, saat azan Subuh terdengar sayup dari masjid di belakang gedung.
Ia mengerjap. Menatapku, yang masih duduk di kursi lipat dengan ponselnya di tangan dan kabel charger yang menjulur ke dinding.
“Mas,” katanya serak. “Mas belum tidur?”
“Belum, Pak.”
“Sudah sampai mana?”
“Tamat, Pak.”
Pak Darto menatapku lama. Lalu menatap wajahku. Aku tidak tahu wajahku seperti apa. Mungkin seperti foto KTP. Mungkin seperti laki-laki yang tertawa di depan matahari terbenam di Jimbaran. Mungkin seperti sesuatu yang lain sama sekali.
“Mas,” kata Pak Darto pelan. “Mas sekarang tahu ceritanya dimulai dari mana?”
Aku mengangguk.
“Dari mana, Mas?”
“Dari saya, Pak.”
Pak Darto tidak bilang apa-apa. Ia berdiri dari jeriken air, meregangkan punggung sampai berbunyi, dan mengangkat tangan ke pelipis. Untuk pertama kalinya sejak Jumat.
“Siaga,” katanya.
Suaranya serak dan basah dan sangat, sangat lembut.
Pukul lima pagi, aku duduk di anak tangga keempat.
Tangga darurat masih gelap. Lampu neon berkedip. Bau cat lama. Noda bekas es teh berbentuk peta Kalimantan.
Anak tangga di sebelahku kosong.
Aku membuka daftar Aturan Figuran di ponselku. Sembilan aturan. Empat dicoret. Satu baris tanpa nomor. Dan aturan nomor sepuluh, yang kutulis dua hari lalu: Jangan pernah lagi.
Aku menatap baris tanpa nomor itu. Jangan cari tahu siapa Senin Pagi.
Aku sudah tahu siapa Senin Pagi. Aku tahu sejak Jumat, dari layar tiga kali empat meter. Tapi baru malam ini, di pos satpam, di Bab 1, aku tahu apa artinya.
Senin Pagi bukan nama samaran. Senin Pagi adalah hari ketika aku memperbaiki sesuatu untuk seseorang yang tidak kukenal, lalu pergi. Senin Pagi adalah aku. Ia menamai dirinya dengan hari ketika aku lewat.
Aku mencoret baris tanpa nomor itu.
Lalu aku menatap nomor sepuluh. Jangan pernah lagi.
Aku mencoretnya juga.
Lalu aku menatap seluruh daftar itu. Sembilan aturan untuk tetap di pinggir halaman. Sembilan aturan untuk lewat tanpa dilihat. Lima masih belum dicoret.
Aku belum menghapusnya. Aku belum tahu harus menggantinya dengan apa.
Tapi aku tahu satu hal, dengan kepastian seseorang yang sudah empat tahun membaca bunyi lift dan tahu kapan sesuatu akan macet:
Aku tidak mau halaman kosong.
Sepuluh hari lagi, tanggal empat belas Desember, di Hotel Arunika, ia akan datang untuk hari terakhirnya. Untuk memastikan gala berjalan sempurna. Lalu pergi, sendirian, seperti antagonis di akhir cerita.
Sepuluh hari.
Aku memasukkan ponsel ke saku, berdiri dari anak tangga keempat, dan naik ke lantai dua belas. Di mejaku, kertas kuning Maaf. — Senin Pagi masih menempel di monitor. Karet gelang hijau masih di atas keyboard.
Aku memakai karet gelang itu di pergelangan tanganku.
Lalu aku membuka laptop, membuat dokumen baru, dan menatap halaman kosong itu lama sekali.
Aku staf IT. Aku tidak tahu cara menulis.
Tapi aku tahu siapa yang bisa membantuku mencari tahu.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu reading
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto