← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Eight

Senin Pagi

POV: Kalea

Pukul 05.30, alarmku berbunyi. Pukul 05.31, aku sudah membuka mata dan menatap langit-langit, memikirkan cara seorang laki-laki berteriak “BAKWANNYA ENAK, YA?” di tangga darurat.

Pukul 05.40, aku masih memikirkannya.

Pukul 05.45, aku memaksa diri bangun, karena tidak ada sekretaris direksi yang terlambat hanya karena sebuah teriakan soal gorengan.

Aku tinggal di apartemen studio di lantai sembilan, dua puluh menit naik KRL dari kantor. Isinya satu kasur, satu meja kerja menghadap jendela, satu rak buku yang terlalu penuh, dan satu foto berbingkai: Ayah, mengenakan kemeja batik kebesaran, tersenyum di depan papan tulis sebuah ruang kuliah di Bandung. Setiap pagi, aku menyapa foto itu sambil menyikat gigi. Kebiasaan yang mungkin aneh, tapi tidak ada yang melihat, jadi tidak ada yang bisa bilang aneh.

“Pagi, Yah,” kataku dengan mulut berbusa. “Kemarin ada yang teriak buat aku.”

Ayah tetap tersenyum di bingkainya. Ayah selalu tersenyum. Itu kelebihan foto.


Ibu menelepon pukul 06.15, seperti setiap Senin.

“Lea, sudah sarapan?”

“Sudah, Bu.” Aku sedang memegang sepotong roti tawar yang belum digigit.

“Bohong. Ibu dengar bunyi bungkus roti.”

Ibuku pensiunan guru SD di Bandung. Ia bisa mendengar kebohongan dari seratus lima puluh kilometer.

“Lagi makan, Bu.”

“Sudah punya pacar?”

“Bu.”

“Ibu cuma tanya.”

“Ibu tanya setiap Senin.”

“Karena setiap Senin jawabannya belum.” Ibu menghela napas panjang yang sudah ia latih selama tiga tahun terakhir. “Lea, kamu itu cantik. Pintar. Kerja di kantor bagus. Kenapa nggak ada yang deketin?”

Karena di kantor, orang-orang menganggapku ratu es. Karena aku tidak tahu cara tersenyum di depan orang yang belum kukenal tanpa terlihat seperti sedang mengancam. Karena satu-satunya laki-laki yang pernah membuatku tertawa sungguhan dalam tiga tahun terakhir adalah staf IT yang menganggap lift itu panggung.

“Lagi sibuk, Bu.”

“Sibuk itu alasan orang yang takut.”

Aku tidak menjawab. Ibu memang guru SD. Ia selalu tahu PR siapa yang belum dikerjakan.


Pukul 07.50, aku tiba di lobi kantor.

“Siaga, Bu Kalea!” Pak Darto mengangkat tangan ke pelipis.

“Pagi, Pak.”

Pak Darto memandangku dengan wajah yang terlalu ceria untuk jam delapan pagi. Kumisnya bergerak-gerak, seperti menahan sesuatu. Aku tahu ia sudah dengar soal tangga darurat. Semua orang di gedung ini sudah dengar soal tangga darurat. Aku melewatinya dengan wajah datar, dan dari belakangku terdengar suara Pak Darto bersenandung pelan. Sebuah lagu dangdut tentang cinta di tempat kerja.

Aku pura-pura tidak mendengar.

Di lift nomor satu, tiga karyawan berhenti bicara begitu aku masuk. Di lantai empat belas, staf administrasi yang sedang tertawa di dekat dispenser langsung bubar seperti burung dara. Di mejaku, ada map laporan dari bagian pengadaan. Di dalamnya, revisi laporan yang kucoret Selasa lalu.

Kata printer sudah ditulis dengan satu T.

Aku menutup map itu dan menekan bibirku kuat-kuat supaya tidak tertawa di depan semua orang.


Ada hal-hal yang orang kantor tidak tahu tentang aku.

Misalnya, manajer menengah yang konon kubuat menangis di toilet itu, Pak Rudi dari divisi logistik. Ia memang menangis. Tapi bukan karena aku bertanya, “Ini sudah final?” Ia menangis karena kucingnya mati pagi itu, dan aku bertanya, “Ini sudah final?” sambil menunjuk laporannya, dan entah kenapa pertanyaan itu terdengar sangat eksistensial bagi seseorang yang baru kehilangan kucing. Ia lari ke toilet. Sorenya aku mengirim karangan bunga kecil ke rumahnya tanpa nama pengirim.

Tidak ada yang tahu soal karangan bunga itu. Semua orang hanya tahu soal toilet.

Atau misalnya, aku tidak judes. Aku hanya tidak tahu cara bicara dengan orang yang belum kukenal. Ayah dulu bilang kalimatku seperti kalimat dalam buku teks: lengkap, benar, dan tanpa bumbu. Di kepalaku, aku sedang mengatakan, “Halo, maaf mengganggu, apakah kamu punya waktu sebentar?” Yang keluar dari mulutku: “Laporan. Sekarang.”

Di kepalaku, aku sangat ramah. Di kepalaku, aku punya banyak teman.

Di kepalaku juga, aku punya daftar.

Aku menyimpannya di aplikasi catatan ponsel dengan judul yang tidak akan dimengerti siapa pun: Aturan Antagonis.

  1. Jangan senyum di depan dia.
  2. Jangan tertawa di depan dia.
  3. Jangan turun ke lantai dua belas tanpa alasan kerja.
  4. Jangan tinggalkan apa pun di mejanya.
  5. Jangan sebut namanya.

Nomor satu sudah gagal di depan lift tiga. Nomor dua gagal total di tangga darurat, dua kali. Nomor tiga, secara teknis, belum gagal. Printer lantai dua belas adalah alasan kerja. Printer lantai empat belas memang antre waktu itu. Antre satu orang. Orangnya aku, yang sengaja mencetak satu halaman kosong dan membiarkannya tersangkut.

Nomor empat sudah gagal sejak secangkir teh melati, roti sobek cokelat keju, permen mint seharga lima ratus rupiah, dan tiga kertas kuning.

Nomor lima belum pernah gagal. Belum pernah sekali pun.


Hari Senin berjalan seperti biasa. Rapat direksi, telepon dari vendor, jadwal Pak Dimas yang harus kugeser karena ia ingin menengok “progres program magang” di lantai sepuluh. Itu ketiga kalinya minggu ini. Divisi marketing ada di lantai sepuluh. Tasya ada di divisi marketing. Aku menggeser jadwalnya tanpa berkomentar, tapi diam-diam mencatatnya di agenda pribadiku dengan tanda bintang.

Pukul 12.14, aku membuka pintu tangga darurat lantai empat belas.

Dia sudah di sana.

Duduk di anak tangga ketiga dari atas, seperti kemarin, seperti Rabu lalu, seperti setiap hari kerja sejak teriakan itu. Kemeja biru muda yang lengannya selalu sedikit terlalu panjang. Rambut yang tidak pernah benar-benar rapi di bagian belakang. Dua bungkus gorengan di pangkuannya, satu dengan karet gelang merah (pedas, miliknya) dan satu dengan karet gelang hijau (tidak pedas, milikku). Ia sudah membuat sistem warna. Tentu saja ia membuat sistem warna.

“Lewat?” tanyaku.

“Kebetulan,” jawabnya.

Itu sudah jadi semacam kata sandi.

Aku turun dan duduk di anak tangga kelima. Dua anak tangga di bawahnya. Kemarin juga kelima. Aku belum berani turun ke keempat. Empat terlalu dekat. Dari anak tangga keempat, aku bisa melihat ada bekas luka kecil di ibu jari kirinya. Mungkin dari obeng. Dari anak tangga keempat, kalau ia menunduk untuk menyodorkan bakwan, rambutnya hampir menyentuh pelipisku.

Aku tahu karena sudah kuhitung. Aku menghitung hal-hal semacam ini. Itu bukan sesuatu yang bisa kubanggakan.

“Hari ini Pak Dimas ke lantai sepuluh lagi,” kataku sambil membuka bungkusan hijau.

“Lagi?”

“Ketiga kalinya.”

Ia berhenti mengunyah. “Tasya?”

“Saya tidak bilang apa-apa.”

“Mbak nggak perlu bilang. Pak Dimas nanya ke aku kemarin. Cara reset password email.” Ia mengunyah pelan. “Email Tasya.”

“Dia mau buka email Tasya?”

“Bukan. Tasya lupa password. Pak Dimas yang lapor ke IT, atas nama Tasya.” Ia menatapku dengan wajah datar yang sempurna. “CEO perusahaan ngelapor lupa password anak magang. Pakai format tiket lengkap. Prioritas: tinggi.”

Aku menyemburkan setengah bakwan.

Ia menyodorkan tisu tanpa bicara. Ia selalu membawa tisu. Ia membawa segala hal: tisu, obeng, senter, kabel, permen, karet gelang dengan warna berbeda untuk bakwan pedas dan tidak pedas. Kalau dunia kiamat, aku yakin dia orang terakhir yang masih punya plester luka.

Kami makan dalam diam. Diam yang nyaman. Ia bersenandung pelan sambil mengunyah, tanpa sadar, nada yang sama yang selalu ia senandungkan. Aku mendengarkannya dan pura-pura sedang membaca email di ponsel.

Nada itu sudah kuhafal sejak delapan bulan lalu.

Ia tidak tahu itu.


Malam harinya, pukul 20.12, aku duduk di meja kerja di depan jendela apartemen, dengan secangkir teh melati, lampu kota Jakarta yang berkedip di luar, dan laptop yang terbuka.

Di layar, dashboard penulis aplikasi Lembar.

Sang CEO dan Gadis Magang.
Penulis: Senin Pagi.
Pembaca: 47.208.
Komentar baru: 1.336.

Sembilan ribu pembaca baru dalam dua minggu. Sejak staf IT itu mulai merusak adegan-adegan yang sudah kurencanakan dengan rapi.

Aku membuka draf Bab 28. Kursornya berkedip di halaman kosong.

Aku tahu apa yang harus kutulis. Outline-ku jelas, tersusun dari kalender kantor yang kupegang setiap hari. Sabtu ini ada outing ke Puncak. Bagian HR sudah mengirim rundown-nya ke mejaku Jumat lalu. Di outline, Kalina akan menyabotase tim Tania dalam lomba tarik tambang, lalu hujan turun, lalu Dirgantara memayungi Tania sementara Kalina berdiri sendirian di bawah gerimis, basah, kalah, sendirian. Adegan antagonis yang sempurna.

Aku menulis paragraf pertama. Lalu kedua.

Lalu, tanpa sengaja, aku menulis:

Siang itu, Kalina duduk di tangga darurat, dua anak tangga di bawah staf IT yang membawa bakwan dengan karet gelang hijau. Laki-laki itu ganteng

Aku menghapus “ganteng”.

Laki-laki itu manis

Aku menghapus “manis”.

Laki-laki itu memiliki wajah yang

Aku menghapus seluruh kalimat. Lalu aku menelungkupkan wajah ke atas keyboard, sehingga dokumen terisi seratus delapan puluh huruf J, dan mengeluarkan suara yang seharusnya tidak pernah dikeluarkan oleh seorang sekretaris direksi berusia dua puluh enam tahun.

Ayah menatapku dari bingkai foto di rak buku. Masih tersenyum.

“Jangan lihat aku begitu,” kataku pada foto itu.


Aku membuka kolom komentar Bab 27, yang terbit Jumat lalu. Tidak seharusnya. Penulis yang baik tidak membaca komentar sebelum selesai menulis. Ayah dulu bilang komentar itu seperti cermin di ruang ganti toko baju: kadang membantu, lebih sering membuatmu ingin membeli sesuatu yang tidak kau butuhkan.

lunamelati_: KAK SENIN PAGI PLIS NAMA MAS IT-NYA 😭 aku udah nungguin dari bab 22

tim.kalina.4ever: teori: mas IT sebenernya suka sama kalina. dia selalu ada pas kalina mau kena sial

bacasambilngopi: mas IT x tania > dirgantara x tania. dirgantara kerjaannya cuma ngelihat doang

Darto_Siaga: Mas IT memang selalu ada. Itu tugasnya. Siaga!

Aku membaca komentar ketiga dua kali.

Mas IT dan Tania.

Mereka ingin staf IT itu dipasangkan dengan heroine. Tentu saja. Heroine yang manis, sederhana, dengan senyum seperti matahari jam tujuh pagi. Bukan antagonis yang bibirnya merah bata dan memandang orang seperti noda di karpet.

Ada sesuatu yang panas dan asam di dadaku. Seperti bakwan pedas yang salah dimakan.

Aku mengetik balasan di kolom komentar: Mas IT tidak untuk Tania.

Kuhapus.

Mas IT sudah ada yang

Kuhapus.

Mas IT bukan milik siapa-siapa.

Kuhapus juga. Lalu aku menutup kolom komentar, menghabiskan teh melati yang sudah dingin, dan duduk diam lama sekali menatap lampu-lampu Jakarta.

Bimo Wibisena.

Itu namanya. Aku tahu namanya sejak delapan bulan lalu. Aku tahu ia staf IT support di lantai dua belas, nomor ekstensi 1204, bergabung empat tahun lalu, selalu datang paling pagi, selalu pulang tepat waktu. Aku tahu ia bersenandung kalau tangannya sibuk. Aku tahu ia memperbaiki kursi lobi tanpa ada yang menyuruh.

Tapi di novel, ia tidak punya nama. Ia “staf IT yang lewat”. Dan ia akan tetap begitu.

Karena kalau kutulis namanya, ia akan jadi milik empat puluh tujuh ribu orang.

Dan aku belum siap berbagi.

Aku menatap draf Bab 28 yang masih berisi seratus delapan puluh huruf J. Aku menghapusnya. Kursor berkedip lagi di halaman kosong.

Kenapa aku mulai menulis cerita ini? Kenapa aku menulis kantor ini, dan Pak Darto, dan bakwan Bu Ratmi, dan lift nomor tiga, dan satu kalimat tentang seseorang yang lewat membawa kabel?

Itu cerita yang lain. Cerita yang dimulai pada suatu Senin pagi, delapan bulan lalu, di depan printer yang rusak.

Aku belum siap menulisnya juga.

Aku menulis kalimat pertama Bab 28:

Sabtu itu, hujan turun di Puncak, dan seseorang yang seharusnya tidak datang ternyata datang.

Lalu aku berhenti, karena aku belum tahu apakah ia akan datang.

Dan karena aku diam-diam berharap ia akan datang.

Di ponselku, aplikasi catatan masih terbuka. Aturan Antagonis. Aku menambahkan satu baris di bawah nomor lima:

6. Jangan berharap.

Lalu aku menatap baris itu dan tahu, dengan kepastian seorang penulis yang sudah delapan bulan memperhatikan satu tokoh, bahwa aturan itu adalah aturan yang paling cepat akan gagal.