Chapter One
Satu Kalimat Tanpa Nama
POV: Bimo
Ada satu kalimat tentang aku di internet, dan kalimat itu bahkan tidak menyebut namaku.
Aku baru tahu malam itu. Sebelumnya, hidupku berjalan seperti biasa. Tenang, rapi, dan tidak menarik bagi siapa pun. Persis seperti yang kusukai.
Pagi itu dimulai dengan tiket nomor 4471: Mouse saya tidak bisa gerak. Pelapornya Pak Herman dari divisi keuangan. Mouse-nya baik-baik saja. Baterainya juga. Masalahnya, Pak Herman menaruh mouse di atas map plastik bening, dan sensor laser tidak suka permukaan yang mengilap. Aku mengganti alasnya dengan selembar kertas HVS, dan Pak Herman menatapku seperti aku baru saja membelah laut.
“Mas ini memang jenius,” katanya.
“Cuma kertas, Pak.”
“Kertas di tangan yang tepat, Mas.”
Aku tersenyum sopan dan pergi sebelum ia sempat memujiku lebih jauh. Pujian membuat orang mengingatmu, dan kalau orang mengingatmu, mereka akan mencarimu lagi untuk hal-hal yang bukan pekerjaanmu. Empat tahun di Haryanto Group mengajariku bahwa staf IT yang baik itu seperti listrik. Semua orang memakainya, tidak ada yang memikirkannya, sampai ia mati.
Aku tidak keberatan tidak dipikirkan. Sungguh.
Tiket 4472: printer lantai dua belas tidak mau mencetak. Tiket 4473: printer lantai dua belas tidak mau mencetak (pelapor berbeda, nada lebih marah). Tiket 4474: PRINTER LANTAI 12 KENAPA LAGI??? dengan tiga tanda tanya, dari pengirim yang sama dengan tiket 4473.
Printer itu adalah musuh bebuyutanku. Mesin besar abu-abu di dekat pantry, keluaran sembilan tahun lalu, yang menolak pensiun dengan keras kepala seorang kakek yang tidak mau dipaksa pindah dari rumahnya. Aku sudah mengusulkan penggantian tiga kali. Tiga kali juga bagian pengadaan bilang, “Kan masih bisa diperbaiki, Mas.”
Masih bisa, karena aku yang memperbaikinya.
Aku jongkok di depannya, membuka panel samping, dan menarik selembar kertas yang terlipat seperti origami gagal. Sambil bekerja aku bersenandung. Kebiasaan lama yang tidak pernah kusadari sampai seseorang menegurku. Lagu apa, aku sendiri tidak tahu. Nada yang muncul begitu saja kalau tanganku sibuk dan kepalaku kosong.
“Mas, itu lagu apa sih?” tanya Mbak Rini dari bagian administrasi yang sedang menunggu cetakannya.
“Nggak tahu, Mbak.”
“Kok nggak tahu? Kan Mas yang nyanyi.”
“Ini bukan nyanyi. Ini... suara kerja.”
Mbak Rini tertawa. Printer menyala, menderu, lalu memuntahkan dua puluh lembar laporan. Aku menutup panel dan berdiri.
Gilang menemukanku saat makan siang di pantry. Ia membawa piring nasi padang di satu tangan dan ponsel di tangan lain, dan ekspresinya adalah ekspresi orang yang baru menemukan teori konspirasi baru.
Gilang, atau Gigil, julukan yang ia dapat sejak hari pertama karena menggigil kedinginan di ruang server dan menolak memakai jaket, adalah rekan satu timku. Usianya setahun di bawahku. Ia percaya hidup ini punya alur, setiap orang punya pasangan takdir, dan bahwa ia, Gilang Prakasa, ditakdirkan menjadi “sahabat ML yang lucu tapi punya arc sendiri”.
“Bim,” katanya sambil duduk di depanku. “Lo harus baca ini.”
“Nggak.”
“Gue belum bilang apa-apa.”
“Nada lo bilang semuanya.”
“Ini web novel,” katanya, mengabaikanku. “Judulnya Sang CEO dan Gadis Magang. Di aplikasi Lembar. Penulisnya namanya Senin Pagi. Udah dua puluh dua bab.”
“Judulnya kayak sinetron jam tujuh malam.”
“Emang! Klise banget! Tapi dengerin.” Ia mencondongkan badan, memelankan suara seperti sedang membocorkan rahasia negara. “Ini kantor kita.”
Aku mengunyah rendang dengan tenang. “Banyak kantor yang punya CEO dan anak magang, Gil.”
“Kantor yang lift nomor tiganya suka macet? Yang satpamnya berkumis dan nyapa orang pakai ‘Siaga’? Yang pantrynya ada ibu-ibu jual gorengan tiga ribuan?”
Aku berhenti mengunyah.
Bu Ratmi, pemilik gorengan tiga ribuan, sedang menata bakwan di meja pantry tepat di belakang Gilang. Ia menoleh. “Ada apa nyebut-nyebut gorengan saya?”
“Ibu masuk novel, Bu!” seru Gilang.
“Novel apa?”
“Novel romantis!”
Bu Ratmi menyibakkan rambut dengan ujung jarinya yang berminyak. “Ya pantes. Ibu memang ada aura-aura tokoh utama.”
Aku menghabiskan rendang, mencuci piring, dan kembali ke mejaku tanpa membuka tautan yang Gilang kirim. Aku tidak suka cerita yang terlalu ramai. Aku suka cerita yang sudah tamat, yang bisa kubaca tanpa menunggu, tanpa kolom komentar, tanpa orang lain yang ikut berteriak di sebelahku.
Sore harinya, tiket 4479 datang dari lantai empat belas.
Kabel monitor kedua di meja sekretaris direksi longgar. Mohon dibantu. — K.
Lantai empat belas adalah lantai direksi. Karpetnya lebih tebal, AC-nya lebih dingin, dan orang-orangnya berjalan lebih pelan, seperti waktu di sana lebih mahal. Aku jarang naik ke sana, dan selalu merasa sedikit salah tempat setiap kali pintu lift terbuka. Seperti kru panggung yang tidak sengaja keluar saat tirai sudah dibuka.
Aku membawa segulung kabel HDMI cadangan, obeng kecil, dan senyum yang kusiapkan untuk orang-orang penting. Lift nomor tiga sedang dalam perbaikan, jadi aku naik lift nomor dua yang berbau parfum vanila milik entah siapa.
Meja sekretaris direksi ada di depan ruangan CEO, menghadap jendela besar yang memperlihatkan Jakarta sore yang kelabu. Dan di balik meja itu duduk Kalea Prameswari.
Semua orang di kantor tahu siapa Kalea Prameswari, bahkan orang sepertiku yang sengaja tidak mau tahu urusan siapa pun. Dia sekretaris direksi. Dia yang memegang kalender CEO, yang memutuskan siapa boleh bertemu Pak Dimas dan siapa harus menunggu dua minggu. Dia yang mengembalikan laporan dengan coretan merah dan satu kata: Ulang. Dia juga yang, menurut gosip pantry, pernah membuat seorang manajer menengah menangis di toilet hanya dengan bertanya, “Ini sudah final?”
Aku belum pernah bicara langsung dengannya. Selama ini kami cuma berpapasan di lorong, dan aku selalu menunduk duluan.
Sekarang aku mengerti kenapa aku selalu menunduk.
Dia cantik. Bukan cantik yang ramah, bukan yang membuat orang ingin mendekat dan mengajak ngobrol soal cuaca. Cantiknya tajam, seperti garis yang ditarik dengan penggaris. Rambut hitam sebahu yang jatuh lurus tanpa satu helai pun keluar jalur. Blazer abu-abu gelap. Bibir dengan lipstik warna merah bata, warna yang biasanya terlihat galak di wajah orang lain tapi di wajahnya terlihat seperti pernyataan. Dan matanya. Matanya hitam, tenang, dan melihatmu seperti sedang memeriksa apakah kamu sudah final atau perlu diulang.
Aku memandangi matanya selama kira-kira satu detik, lalu memutuskan bahwa kabel monitor jauh lebih menarik.
“Selamat sore, Mbak. Dari IT. Tiket kabel monitor.”
“Ya.” Suaranya rendah dan jernih. “Monitor kanan. Mati-nyala sejak siang.”
Aku membungkuk ke bawah mejanya. Kabelnya memang longgar, lebih tepatnya tergencet kaki meja dan sudah agak penyok. Aku menggantinya dengan kabel baru dan menggulung kabel lama di lantai sambil merapikan sisa kabel yang kusut di balik CPU.
“Kabelnya jangan di lantai.”
Aku mendongak. Kalea tidak melihatku. Matanya tetap di layar kirinya, jari-jarinya mengetik cepat.
“Maaf, Mbak?”
“Gulungan kabel Mas. Di lantai. Nanti ada yang lewat, kesandung.” Ia akhirnya menoleh, sebentar. “Di sini banyak yang lewat.”
“Oh. Iya. Maaf.” Aku cepat-cepat mengangkat gulungan itu dan memeluknya di dada seperti anak kecil memeluk boneka.
Monitor kanan menyala. Stabil. Aku berdiri, mengecek koneksi sekali lagi, lalu bersiap kabur.
“Sudah, Mbak. Kalau mati lagi, kabari saja.”
“Hm.”
Aku berbalik. Di belakangku, lorong agak sempit karena ada troli berkas yang diparkir sembarangan, dan tas kerja Kalea tergeletak di kursi tamu yang menghalangi setengah jalan. Aku baru akan berjingkat melewatinya ketika tangannya bergerak. Tanpa bicara, tanpa menoleh, ia memindahkan tasnya ke pangkuan.
Jalanku jadi lega.
“Makasih, Mbak.”
“Printer lantai dua belas,” katanya tiba-tiba, masih ke arah layar. “Sudah nggak rewel?”
Aku berhenti. “Mbak tahu printer lantai dua belas?”
Sesuatu melintas di wajahnya, terlalu cepat untuk kubaca. Lalu ekspresinya kembali datar dan rapi. “Satu kantor tahu printer lantai dua belas, Mas. Tiketnya masuk ke CC direksi kalau sudah lebih dari tiga kali sehari.”
“Oh.” Masuk akal. Aku mengangguk. “Sudah jalan lagi. Untuk hari ini.”
“Untuk hari ini,” ulangnya, dan aku hampir yakin sudut bibirnya bergerak. Hampir.
Aku pergi dengan kabel di pelukan dan perasaan aneh, seperti baru saja lulus ujian yang tidak kutahu sedang kuikuti.
Malamnya, di kamar kos yang ukurannya pas untuk satu orang dan satu kipas angin, aku bosan.
Itu satu-satunya alasan. Aku ingin mencatat ini dengan jelas untuk diriku sendiri di masa depan: aku membuka tautan dari Gilang bukan karena penasaran, bukan karena terpengaruh, melainkan karena bosan. Karena serial yang kutonton sudah tamat, dan karena kipas anginku berdecit dengan irama yang membuatku tidak bisa tidur.
Aplikasi Lembar terbuka dengan latar krem dan huruf-huruf serif. Sang CEO dan Gadis Magang, oleh Senin Pagi. Dua puluh dua bab. Sampulnya siluet pria berjas dan perempuan memeluk map di depan gedung tinggi. Pembaca: tiga puluh delapan ribu. Gilang mengirim tautan langsung ke Bab 22. Aku tidak berniat membaca dari awal. Aku hanya ingin tahu kenapa Gilang begitu heboh.
Lima paragraf pertama sudah cukup.
Lobi Wiratama Group pagi itu masih sepi. Pak Satpam berkumis tebal mengangkat tangan ke pelipis dan menyapa, “Siaga, Neng!” kepada setiap karyawan yang lewat, termasuk kepada Tania yang menggenggam map presentasinya erat-erat seperti pelampung.
Pak Darto. Itu Pak Darto. Tidak ada satpam lain di Jakarta yang menyapa orang dengan “Siaga”.
Tania memencet tombol lift. Lift nomor tiga, yang terkenal pemarah, berdecit seperti kucing yang ekornya terinjak. “Jangan yang itu,” kata seorang karyawan di sebelahnya. “Lift tiga suka ngambek.”
Aku duduk tegak.
Aku terus membaca. Tokoh CEO-nya bernama Dirgantara, “pria dingin dengan rahang yang bisa memotong kaca”. Rahang Pak Dimas, sejauh yang kuingat, biasa saja. Tokoh magangnya bernama Tania, gadis sederhana dari Bogor dengan senyum seperti matahari jam tujuh pagi. Lalu ada pantry dengan “ibu penjual gorengan yang tahu semua rahasia kantor” (Bu Ratmi akan senang mendengarnya), ruang rapat bernama Anggrek (ruang rapat kami bernama Anggrek), dan sekretaris direksi bernama Kalina.
Kalina duduk di balik mejanya seperti ratu di atas takhta. Rambut sebahunya tak pernah berantakan, bibirnya merah bata, dan ia memandang Tania seperti memandang noda di karpet.
Aku teringat lipstik merah bata itu. Teringat mata hitam yang memeriksaku seperti laporan.
Lalu, di tengah bab, di antara dialog Kalina yang judes dan Tania yang tabah, ada satu kalimat:
Di ujung lorong, staf IT yang lewat membawa kabel menunduk sopan, dan Kalina pura-pura tidak melihatnya.
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Senin kemarin, aku naik ke lantai empat belas untuk mengganti kabel proyektor di ruang Anggrek. Aku membawa gulungan kabel. Aku melewati lorong depan meja sekretaris. Dan aku, seperti biasa, menunduk sopan.
Itu aku.
Itu aku, tanpa nama, di satu kalimat, di bab dua puluh dua sebuah web novel yang dibaca tiga puluh delapan ribu orang.
Ponselku bergetar. Gilang.
Gilang: UDAH BACA????
Gilang: Bab 22 paragraf 14!!!
Gilang: ITU LO KAN
Gilang: STAF IT YANG LEWAT ITU LO
Aku mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi.
Aku: Itu bukan aku.
Gilang: Bim. Plis.
Aku: Aku cuma lewat.
Gilang: YA ITU DIA. “STAF IT YANG LEWAT.” LO BARU AJA NGAKU.
Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap kasur.
Jujur saja: rasanya tidak buruk. Aneh, tapi tidak buruk. Ada sesuatu yang menenangkan dalam kalimat itu. Staf IT yang lewat membawa kabel. Tidak ada nama, tidak ada dialog, tidak ada peran. Hanya lewat, menunduk, lalu hilang dari halaman. Bahkan seorang penulis yang jelas-jelas memperhatikan semua detail kantor ini memutuskan bahwa aku tidak perlu nama.
Aku anak ketiga dari lima bersaudara. Kakakku bernama Langit dan Awan. Adik-adikku bernama Bayu dan Embun. Lalu ada aku, Bimo, satu-satunya yang tidak bernama alam, karena kata Ibu, almarhum Bapak sedang menonton wayang di televisi waktu mengisi formulir akta kelahiranku dan tokoh yang sedang tampil adalah Bima. Bapak salah dengar, atau salah tulis, atau terlalu mengantuk untuk peduli. Jadilah aku Bimo.
Sejak lahir aku sudah figuran di keluargaku sendiri. Aku tidak sedih soal itu. Figuran punya hidup yang menyenangkan. Tidak ada yang menuntut apa-apa darimu. Tidak ada konflik besar. Tidak ada adegan menangis di bawah hujan. Kamu hanya lewat, membawa kabel, dan pulang tepat waktu.
Aku membalik ponsel lagi dan menggulir ke akhir bab. Di bagian penutup, Senin Pagi menulis:
Besok pagi, di ruang rapat Anggrek, secangkir kopi akan mempertemukan mereka. Tania belum tahu bahwa satu langkah terburu-buru akan mengubah segalanya. Dan Dirgantara belum tahu bahwa kemeja putihnya tidak akan pernah sama lagi.
Aku membuka kalender kantor di ponsel.
Rabu, 09.00. Ruang Anggrek. Rapat Direksi: Presentasi Program Magang Gelombang 2.
Kalender itu dibuat oleh K. Prameswari.
Aku menatap layar lama sekali. Kipas angin berdecit. Di luar, motor tetangga kos dinyalakan dan dimatikan dua kali.
Tidak ada yang aneh, kataku pada diri sendiri. Penulisnya pasti orang kantor ini. Mungkin dia melihat jadwal rapat, lalu menulis adegan berdasarkan itu. Kebetulan. Iseng. Lucu, malah.
Tapi kalau besok ada adegan, dan aku tidak ingin ada di dalamnya, maka pilihan yang paling masuk akal adalah tidak berada di ruang Anggrek pukul sembilan pagi.
Masalahnya, setiap kali ada rapat direksi di ruang Anggrek, proyektornya bermasalah. Dan setiap kali proyektornya bermasalah, yang dipanggil adalah aku.
Jadi, rencanaku sederhana. Aku akan datang jam enam pagi, memperbaiki proyektor sebelum siapa pun datang, lalu turun ke lantai dua belas dan tidak naik lagi sampai sore. Tidak ada panggilan darurat. Tidak ada kabel. Tidak ada lorong. Tidak ada kalimat.
Aku memasang alarm jam lima.
Sebelum tidur, entah kenapa, aku membuka lagi Bab 22 dan membaca satu kalimat itu sekali lagi.
Di ujung lorong, staf IT yang lewat membawa kabel menunduk sopan, dan Kalina pura-pura tidak melihatnya.
Pura-pura.
Aku tidak memikirkannya lebih jauh. Aku hanya figuran. Figuran tidak perlu memikirkan kenapa antagonis harus pura-pura tidak melihatnya.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama reading
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto