Chapter Nineteen
Jangan Baca Bab Malam Ini
POV: Kalea
Aku berlari dengan satu sandal sampai lobi hotel, dan baru sadar saat lantai marmernya dingin di telapak kaki kiriku.
Resepsionis malam, seorang perempuan muda dengan bunga kamboja di telinga, menatapku. Menatap kakiku yang telanjang sebelah. Menatap wajahku yang basah.
“Ibu baik-baik saja?”
“Baik,” kataku. “Saya sedang... olahraga.”
“Dengan satu sandal, Bu?”
“Itu latihan keseimbangan.”
Ia tidak bertanya lagi. Ia hanya menyodorkan sekotak tisu dengan wajah iba yang sangat profesional, seperti yang dilatih di sekolah perhotelan untuk menangani tamu yang menangis tengah malam. Aku mengambil tiga lembar. Lalu, karena aku Kalea Prameswari dan aku tidak bisa berhenti menjadi efisien bahkan saat hancur, aku bertanya:
“Mbak punya kertas tempel?”
Ia menyerahkan seblok kertas tempel kuning dengan logo bunga kamboja kecil di sudutnya. Aku memasukkannya ke saku dan berjalan ke lift. Lift nomor dua. Aku tidak sanggup naik lift yang bernomor tiga, bahkan di Bali.
Di kamar, aku duduk di lantai, bersandar ke kasur, dan menangis selama sebelas menit.
Bukan tangisan yang cantik. Bukan tangisan sinetron dengan air mata yang mengalir pelan di satu pipi. Tangisan yang jelek, dengan hidung tersumbat dan napas sesenggukan dan suara yang membuat kamar sebelah mungkin mengira ada kucing terjepit pintu.
Ia bilang ia ingin berhenti. Di sini. Di aku.
Ia menunjukkan daftar aturannya. Ia membiarkanku membaca semuanya, termasuk baris terakhir yang membuat napasku berhenti: Jangan cari tahu siapa Senin Pagi.
Ia tidak mau tahu. Ia sengaja tidak mau tahu. Ia menulis aturan untuk melindungi penulis yang tidak ia kenal. Penulis yang menulis tentang dirinya tanpa izin selama delapan bulan. Penulis yang sekarang menangis di lantai kamar hotel dengan satu sandal.
Dan aku, dengan semua itu di dadaku, tidak bisa bilang iya.
Bagaimana aku bisa bilang iya kalau aku menyembunyikan sesuatu sebesar itu? Bagaimana aku bisa membiarkan ia berhenti di aku, kalau aku adalah orang yang menaruhnya di dalam cerita yang paling ia hindari?
Pukul 22.47, aku menelepon Ibu.
Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku butuh suara seseorang yang tidak ada di novel itu.
“Lea?” Suara Ibu serak karena baru bangun. “Jam segini? Kenapa? Kamu sakit?”
“Bu.” Suaraku pecah di satu kata itu.
Ibu langsung bangun sepenuhnya. Aku bisa mendengarnya duduk tegak di kasur. “Kenapa, Nak?”
“Ada yang bilang suka sama aku.”
Hening.
“Terus?” tanya Ibu.
“Terus aku lari.”
Hening yang lebih panjang.
“Lari?”
“Lari, Bu. Dengan satu sandal.”
Aku mendengar Ibu menarik napas panjang. Napas guru SD yang baru saja mendengar bahwa muridnya menjawab soal matematika dengan menggambar kucing.
“Lea,” kata Ibu dengan suara yang sangat tenang dan sangat berbahaya. “Ibu ngajar SD tiga puluh dua tahun. Kamu tahu berapa surat cinta yang Ibu sita dari kolong meja?”
“Bu...”
“Ratusan. Dan Ibu selalu bilang ke murid yang nerima surat: jawabannya cuma dua. Iya, atau tidak. Bukan lari. Bukan sembunyi di toilet. Bukan pura-pura sakit perut. Iya atau tidak.”
“Bu, ini bukan anak SD.”
“Justru itu. Anak SD aja bisa jawab. Kamu kok nggak bisa?” Lalu suaranya melunak. “Kamu suka dia?”
Aku menatap sandal kananku, satu-satunya yang tersisa, tergeletak di lantai dekat pintu.
“Suka, Bu.”
“Terus kenapa lari?”
“Karena ada yang belum aku bilang ke dia. Sesuatu yang... kalau dia tahu, mungkin dia nggak akan suka lagi.”
Ibu diam sebentar. Lalu: “Kamu nyembunyiin apa? Kamu udah nikah?”
“Bu!”
“Ibu cuma tanya!”
“Bukan itu. Itu... soal tulisan, Bu.”
Hening lagi. Lebih lama. Ibu tahu. Ibu tahu soal tulisan, karena Ibu yang menemukan buku-buku tulisku di bawah kasur waktu aku SMP. Ibu yang bilang Ayahmu pasti bangga. Ibu yang tahu aku berhenti menulis setelah Ayah pergi.
“Kamu nulis lagi?” tanya Ibu pelan.
“Iya, Bu.”
“Tentang dia?”
Aku tidak menjawab. Ibu tidak butuh jawaban.
“Lea,” katanya, dan suaranya sekarang seperti suara Ayah di teras jam lima pagi, “kalau kamu nulis tentang seseorang dengan cara yang membuat kamu menangis tengah malam di kamar hotel, Ibu rasa tulisanmu nggak jahat. Tulisanmu cuma jujur.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Bilang dua-duanya,” kata Ibu. “Iya-nya, sama tulisannya. Kalau bisa sekarang, sekarang. Kalau belum bisa, bilang iya-nya dulu. Tapi jangan biarkan anak orang nunggu di pantai sendirian. Itu nggak sopan. Ibu nggak ngajarin kamu nggak sopan.”
“Bu, dia nggak di pantai lagi.”
“Kok kamu tahu?”
Aku tidak tahu. Aku hanya berharap ia sudah kembali ke kamar. Aku berharap ia tidak duduk di pantai sendirian dengan teh yang tumpah dan sandalku.
“Lea,” kata Ibu. “Sekarang tidur. Besok pagi, bilang. Atau sekarang. Terserah. Tapi telepon Ibu lagi setelahnya.” Jeda. “Siapa namanya?”
“Bimo.”
“Bimo,” ulang Ibu, mencoba nama itu di lidahnya. “Bagus. Kayak tokoh wayang.”
Aku tertawa di sela tangis. “Bapaknya lagi nonton wayang waktu ngisi akta.”
“Nah,” kata Ibu, puas. “Ayahmu juga suka wayang. Itu pertanda.”
Aku membuka laptop pukul 23.05.
Dashboard Lembar. Sang CEO dan Gadis Magang. Draf Bab 34, belum ditulis, jadwal terbit Jumat.
Aku menulis cepat, tanpa berhenti, tanpa menghapus, seperti Ayah menulis di teras jam lima pagi.
Di pantai, staf IT itu menyerahkan ponselnya kepada Kalina. Di layar, ada daftar aturan yang dicoret satu per satu. Lalu ia berkata, “Aku cuma lewat. Tapi aku pengin berhenti. Di sini. Di kamu.”
Dan Kalina, antagonis yang selama tiga puluh tiga bab berdiri di pinggir halaman, yang dibenci pembaca, yang ditakdirkan sendirian di ending, menatapnya dan berkata:
“Iya.”
Aku berhenti mengetik. Membaca ulang.
Lalu aku membayangkan Bimo, Jumat malam pukul 21.00, di kamar kosnya, di bawah kipas angin yang berdecit, membaca bab ini. Membaca jawaban untuk pengakuannya, bukan dari mulutku, tapi dari aplikasi web novel. Dari penulis anonim. Bersama empat puluh tujuh ribu orang lain.
Aku menghapus seluruh bab. Satu per satu kalimat, sampai halaman kosong lagi.
Tidak. Ia tidak boleh tahu jawabanku dari novel. Ia sudah cukup lama hanya ada di halaman. Jawaban ini harus diucapkan dengan mulut, di dunia nyata, di depan wajahnya, tanpa nama samaran.
Aku menutup laptop.
Lalu aku membuka Aturan Antagonis dan mengetik:
11. Jangan jawab dia lewat novel.
Itu satu-satunya aturan yang ingin kupatuhi seumur hidupku.
Pukul 23.38, aku berdiri di lorong lantai tiga, di depan pintu kamar 312.
Aku memakai sandal hotel. Sandal jepit putih tipis dengan logo bunga kamboja, karena sandal kananku terlihat sangat bodoh tanpa pasangannya.
Aku mengangkat tangan untuk mengetuk.
Aku menurunkan tangan.
Pukul 23.40, aku berbalik dan berjalan kembali ke lift. Pengecut. Aku pengecut lagi. Aku menekan tombol lift. Pintu terbuka. Aku menatap bagian dalam lift yang kosong dan terang.
Lift itu panggung.
Aku tidak masuk. Aku berdiri di depan lift yang terbuka sampai pintunya tertutup sendiri.
Lalu aku mengeluarkan kertas tempel kuning dari resepsionis, menulis tiga kata dengan pulpen hotel, dan berjalan kembali ke kamar 312.
Pukul 23.47, aku mendorong kertas itu ke bawah celah pintu.
Jangan tidur dulu.
— K
Aku berdiri di depan pintu, menghitung. Satu. Dua. Tiga. Seperti hitungan di bawah meja ruang Anggrek. Seperti hitungan lewat HT.
Pada hitungan kedelapan, aku mengetuk.
Pintu terbuka dalam satu detik. Seperti ia sudah berdiri di baliknya.
Bimo memakai kaus abu-abu dan celana training. Rambutnya berantakan seperti baru saja diacak-acak tangannya sendiri berkali-kali. Ia memegang kertas tempel kuning di tangan kiri.
Di tangan kanan, ia memegang sandal kulit cokelatku.
Kami saling menatap. Dia di dalam kamar, aku di lorong.
“Sandal saya,” kataku.
“Iya.”
Ia menyodorkannya. Aku tidak mengambilnya.
“Bimo.”
“Ya?”
“Iya.”
Ia mengerjap. Menatap sandal di tangannya. Menatapku. “Iya... sandalnya?”
“Bukan sandalnya.” Aku merasakan wajahku memanas sampai ke ubun-ubun. “Iya... jawabannya.”
Ia tidak bergerak. Sandal masih terangkat di udara di antara kami.
“Jawaban yang di pantai,” kataku, karena ia masih tidak bergerak dan aku mulai panik. “Kamu bilang kamu pengin berhenti. Di saya. Jawabannya iya. Saya juga... saya juga mau...”
Kalimatku tersangkut. Aku menarik napas. Lalu aku mengatakannya, persis seperti yang ia katakan, karena hanya itu kata-kata yang benar:
“Saya juga mau berhenti. Di kamu.”
Sandal kulit cokelat itu jatuh dari tangannya ke karpet lorong. Plak.
Kami berdua menatap sandal itu.
Lalu ia tertawa. Pelan, tidak percaya, seperti orang yang baru saja menang undian dan tidak yakin tiketnya asli. Ia menutup wajah dengan satu tangan dan tertawa ke balik telapak tangannya, bahunya berguncang.
“Kenapa ketawa?” tanyaku, setengah tersinggung, setengah ikut tertawa.
“Mbak lari,” katanya di balik tangan. “Mbak lari pakai satu sandal. Aku pikir aku... aku pikir aku ngomong yang salah.”
“Kamu nggak ngomong yang salah.”
“Aku nunjukin daftar aturan. Ke perempuan yang aku suka. Itu salah, Mbak. Itu salah banget.” Ia menurunkan tangannya. Matanya basah. “Gilang pasti nangis kalau tahu.”
Aku tertawa. Air mata yang tadi sudah kering keluar lagi, tapi kali ini dari arah yang berbeda.
“Bimo.”
“Hm?”
“Berhenti panggil saya ‘Mbak’.”
Ia diam. Menatapku. Lalu, pelan, seperti mencoba sesuatu yang sangat rapuh:
“Kalea.”
Namaku. Diucapkan dengan suaranya yang serak karena tidak tidur, di lorong hotel tengah malam. Aku tidak tahu nama itu bisa terdengar seperti itu.
“Lagi,” kataku.
“Kalea.”
Aku melangkah maju. Melewati ambang pintu, melewati sandal di karpet, dan memeluknya. Lenganku melingkar di pinggangnya. Wajahku di dadanya. Kausnya bau sabun hotel dan sedikit bau laut yang belum hilang.
Ia memelukku balik. Tanpa ragu kali ini. Tanpa refleks. Langsung, erat, dengan satu tangan di punggungku dan satu tangan di belakang kepalaku.
10. Peluk dia lagi sebelum dia tahu.
Aku memeluknya lebih erat.
Dinding kamar hotel di Nusa Dua ternyata tipis.
Aku tahu karena dari kamar 314, kamar sebelah, terdengar suara batuk. Batuk yang sangat keras, sangat sengaja, dan sangat dikenal.
“Ehem. EHEM.”
Kami melompat terpisah.
“Pak Dimas,” bisik Bimo.
“Di sebelah?”
“Kamar sebelah.”
Dari balik dinding, suara Pak Dimas, teredam tapi jelas: “Maaf. Saya cuma batuk. Silakan dilanjutkan. Saya tidak dengar apa-apa. Saya sedang tidur.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Bimo menyandarkan dahinya ke kusen pintu dan tertawa tanpa suara sampai bahunya bergetar.
“Saya harus balik ke kamar,” bisikku.
“Iya.”
“Besok pagi pesawat jam delapan.”
“Iya.”
Aku tidak bergerak. Ia juga tidak.
“Kalea,” katanya pelan.
“Hm?”
“Tadi di pantai, Mbak... kamu bilang ‘maaf’. Maaf buat apa?”
Pertanyaan itu jatuh di antara kami, pelan dan lurus, seperti bola yang dilempar tepat ke dada.
Aku menatap wajahnya. Wajah yang tidak tahu apa-apa. Wajah yang menulis Jangan cari tahu siapa Senin Pagi untuk melindungi seseorang yang tidak ia kenal.
Ibu bilang, bilang dua-duanya.
“Ada satu hal,” kataku. Suaraku bergetar. “Satu hal yang harus saya bilang ke kamu. Tapi bukan di sini. Bukan malam ini. Di Jakarta. Kasih saya waktu?”
Ia menatapku lama. Aku menunggu ia bertanya apa. Aku menunggu kecurigaan. Aku menunggu wajah yang berubah.
Ia mengangguk.
“Aku tunggu,” katanya.
Hanya itu. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada desakan. Hanya dua kata, diucapkan dengan kepercayaan penuh seseorang yang terbiasa menunggu printer selesai mencetak.
Dan itu, entah kenapa, jauh lebih menyakitkan daripada kalau ia bertanya.
Aku memungut sandal kulit cokelat dari karpet lorong, berjinjit, dan mencium pipinya. Cepat. Ringan. Hampir tidak menyentuh.
Lalu aku berjalan ke lift tanpa menoleh.
Di dalam lift, aku membuka Aturan Antagonis dan menulis baris terakhir malam itu:
12. Bilang di Jakarta.
Aku tidak menambahkan tanda kurung di sebelahnya. Aku tidak berani menulis (gagal) untuk sesuatu yang belum terjadi.
Dari kamar 314, saat pintu lift tertutup, aku masih bisa mendengar Pak Dimas batuk sekali lagi. Pelan, kali ini. Hampir seperti tepuk tangan.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini reading
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto