Chapter Fifteen
Perjalanan Dinas
POV: Bimo
“Ini,” kata Gilang, menyerahkan selembar kertas yang dilipat empat, “daftar misi lo.”
Kami berdiri di depan mejaku, Kamis sore, sehari sebelum keberangkatan ke Bali. Gilang memegang kertas itu dengan dua tangan, seperti menyerahkan gulungan rahasia kerajaan.
Aku membukanya.
MISI PERJALANAN DINAS (DARI TIM HORE KAPAL KABEL)
1. Duduk sebelahan di pesawat.
2. Foto berdua di pantai (WAJIB, untuk arsip grup).
3. Lihat matahari terbenam bareng.
4. Pegang tangan (opsional tapi sangat dianjurkan).
5. Bawa oleh-oleh pie susu buat Gilang.
6. JANGAN LUPA NOMOR 5.
“Nomor lima dan enam itu misi lo,” kataku.
“Itu misi kesejahteraan anggota.” Gilang memasang wajah sedih. “Gue nggak diajak, Bim. Gue ditinggal di Jakarta. Sendirian. Jaga server.”
“Lo kan suka server.”
“Server nggak bisa diajak ngobrol.” Ia menunjuk dadaku. “Lo harus pulang bawa kabar. Bu Ratmi udah buka taruhan baru: Kapal Kabel berlayar di Bali atau nggak.”
“Siapa yang pasang taruhan nggak?”
“Nggak ada. Makanya Bu Ratmi bingung bandarnya rugi.”
Di bandara Soekarno-Hatta, rombongan Haryanto Group berjumlah enam orang. Pak Dimas, Kalea, Tasya, dua orang dari divisi kemitraan, dan aku.
Kalea yang mengatur semuanya, tentu saja. Ia berdiri di depan konter check-in dengan map biru berisi tiket, itinerary, dan rencana cadangan untuk rencana cadangan. Ia memakai kemeja linen putih dan celana panjang krem, rambut dikuncir rendah, kacamata hitam di atas kepala. Ia terlihat seperti sampul majalah perjalanan.
Aku langsung menatap papan keberangkatan.
“Kursi,” kata Kalea, membagikan boarding pass satu per satu. “Pak Dimas, 14C, lorong. Bapak tidak suka jendela.”
“Terima kasih, Bu Kalea.”
“Tasya, 14B, tengah. Sebelah Pak Dimas, karena kalian perlu membahas slide Vietnam selama penerbangan.”
Tasya menerima boarding pass-nya dengan wajah merah. Pak Dimas tiba-tiba sangat tertarik pada tali koper.
“Tim kemitraan, 15A dan 15B. Saya 14A, jendela.” Kalea menyerahkan boarding pass terakhir padaku tanpa menatap. “Bimo, 15C.”
Aku menatap boarding pass-ku. 15C. Kursi di belakang Pak Dimas. Tidak sebelah siapa-siapa.
Kalea sudah berjalan ke arah ruang tunggu. Aku tidak tahu kenapa aku sedikit kecewa. Misi nomor satu Gilang gagal sebelum dimulai.
Lalu, sepuluh menit sebelum boarding, semuanya berubah.
Tasya ternyata takut duduk di tengah. Ia mau jendela. Pak Dimas, yang tidak bisa menolak apa pun yang diminta Tasya, langsung menawarkan bertukar dengan Kalea. Kalea, dengan wajah sangat datar, setuju. Tasya pindah ke 14A, Pak Dimas pindah ke 14B supaya tetap di sebelah Tasya, dan Kalea pindah ke 14C.
Lalu salah satu orang divisi kemitraan ternyata perlu duduk di lorong karena kakinya panjang. Ia bertukar dengan Kalea. Kalea pindah ke 15B.
Ke sebelahku.
Aku menatap Kalea yang berdiri di samping kursiku dengan tas kecil di tangan. Kalea menatapku.
“Kebetulan,” katanya.
“Kebetulan,” kataku.
Ia duduk. Bahu kami bersentuhan, karena kursi pesawat kelas ekonomi tidak dirancang untuk menjaga jarak tiga anak tangga.
Di grup Tim Hore Kapal Kabel, aku mengetik satu kata: Misi 1. Lalu aku mematikan ponsel karena pramugari sudah berdiri di lorong.
Pesawat mulai bergerak di landasan. Mesinnya menderu. Lampu tanda sabuk pengaman menyala.
Di kursi depan, Pak Dimas mulai bernapas dengan sangat teratur. Tarik, tahan, buang. Tarik, tahan, buang. Seperti ibu-ibu senam hamil.
“Pak Dimas takut ketinggian,” bisik Kalea padaku.
“Aku tahu. Dia cerita ke Tasya di lift.”
“Tapi kenapa dia...”
Pesawat lepas landas.
Dari celah di antara kursi 14B dan 14C, sebuah tangan menjulur ke belakang. Tangan CEO Haryanto Group, dengan jam tangan mahal dan cincin peninggalan almarhum ayahnya. Tangan itu meraba-raba di udara seperti orang tenggelam mencari pelampung.
Lalu tangan itu menemukan sesuatu dan mencengkeramnya dengan kekuatan seorang jangkar tarik tambang.
Sesuatu itu adalah tanganku.
Aku membeku. Pak Dimas mencengkeram tanganku dari sela kursi, jari-jarinya meremas jari-jariku sampai tulangnya berbunyi. Dari kursi depan, suaranya terdengar tipis dan bergetar:
“Saya tidak takut. Saya tidak takut. Tasya, saya tidak takut.”
“Iya, Pak,” kata Tasya dari jendela. “Bapak hebat, Pak.”
Aku menoleh ke Kalea. Kalea menatap tanganku yang dicengkeram CEO dari sela kursi. Wajahnya datar. Sangat datar. Lalu bahunya mulai bergetar. Lalu ia membungkuk ke depan, menyembunyikan wajah di balik tangannya, dan seluruh tubuhnya berguncang menahan tawa tanpa suara.
“Jangan ketawa,” bisikku.
“Napas semangat,” bisiknya balik, terengah.
Pesawat terus menanjak. Pak Dimas terus mencengkeram tanganku. Aku tidak berani menariknya. Ini tangan CEO. Kalau aku menariknya, mungkin Pak Dimas akan panik dan menarik tuas darurat.
Jadi aku memegang balik. Pelan. Menepuk punggung tangannya dua kali dengan ibu jari, seperti Tasya menepuk punggungku di lorong.
Cengkeraman Pak Dimas mengendur sedikit.
Dua puluh menit kemudian, lampu sabuk pengaman padam. Pak Dimas melepaskan tanganku, menarik tangannya ke depan, dan duduk tegak. Tidak menoleh. Tidak berkata apa-apa. Tidak pernah membahas kejadian itu lagi seumur hidupnya.
Aku menatap tanganku yang merah dan sedikit kebas.
Kalea mengulurkan tangan dan mengambil tanganku. Memegangnya di pangkuannya, membalik telapaknya, dan memijat pelan jari-jariku yang tadi diremas, satu per satu. Jempol. Telunjuk. Jari tengah. Ia tidak menatapku. Ia menatap tanganku seperti sedang memeriksa laporan.
“Pemulihan,” katanya.
“Pemulihan?”
“Pasca-insiden. Prosedur standar.”
Jarinya hangat. Pijatannya pelan. Aku menatap jendela, walaupun jendelanya tiga kursi dari sini dan tertutup kepala Tasya.
Kalea memijat jari kelingkingku paling lama.
Di dalam kepalaku, aku mencentang misi nomor empat Gilang. Pegang tangan (opsional tapi sangat dianjurkan). Teknisnya, yang memegang tanganku pertama kali adalah Pak Dimas. Tapi aku memutuskan itu tidak dihitung.
Hotel tempat pertemuan mitra ada di Nusa Dua. Lobinya terbuka ke laut, dengan atap jerami yang tinggi dan aroma bunga kamboja di mana-mana. Pertemuan mitra dimulai besok pagi. Malam ini ada gladi resik gala dinner di ballroom.
Sound system ballroom mati total pada pukul 19.40.
Aku berada di ruang kontrol di belakang ballroom: ruangan sempit dengan meja mixer, empat monitor, dan teknisi hotel bernama Bli Komang yang sedang menatap panel lampu merah dengan wajah orang yang baru kehilangan dompet.
“Kabel utama, Bli,” kataku setelah memeriksa panel. “Putus di bawah panggung. Kabel yang ke speaker kiri.”
“Bisa diganti?”
“Bisa. Tapi kabelnya harus ditarik lewat celah di bawah panggung, dan aku harus di sini mantau sinyal. Kalau aku ke bawah panggung, nggak ada yang bisa baca panel.”
Bli Komang mengangkat bahu. “Saya juga harus di sini, Mas. Lampu panggung belum selesai.”
Aku mengambil HT dari meja dan menekan tombol bicara.
“Ada yang bisa ke bawah panggung?”
Jeda. Lalu suara Pak Dimas dari HT: “Saya di dekat panggung. Dengan Tasya. Kami sedang cek posisi slide.”
Aku menatap HT itu.
Aku punya dua pilihan. Menunggu teknisi hotel lain yang entah kapan datang, atau...
“Pak,” kataku, “Bapak sama Tasya bisa merangkak ke bawah panggung?”
Jeda yang panjang.
“Merangkak?” kata Pak Dimas.
“Ada celah di sisi kiri panggung. Di bawahnya ada dua kabel. Kuning dan merah. Kuning yang putus. Merah yang bagus. Saya butuh kabel kuning dicabut dan diganti kabel cadangan yang ada di tas saya, di kursi depan.”
Jeda lagi. Lalu suara Tasya: “Kami masuk, Mas!”
Dari ruang kontrol, lewat monitor CCTV ballroom, aku melihat CEO Haryanto Group, dengan kemeja batik sutra, berlutut di karpet ballroom dan merangkak masuk ke celah di bawah panggung. Tasya mengikutinya dengan senter ponsel.
Pintu ruang kontrol terbuka. Kalea masuk, membawa dua botol air mineral. Ia melihat monitor CCTV dan berhenti.
“Itu Pak Dimas?”
“Iya.”
“Di bawah panggung?”
“Iya.”
Ia meletakkan air di meja dan berdiri di sebelahku, menatap monitor. Bahu kami bersentuhan. Lagi.
HT berbunyi. “Mas Bimo, kami sudah di bawah,” kata Tasya. “Gelap banget. Ada... ada kecoak, Pak!”
“Tidak apa-apa,” suara Pak Dimas, terlalu cepat. “Kecoak juga takut sama kita.”
“Pak Dimas,” kataku ke HT, “Bapak lihat kabel kuning?”
“Lihat.”
“Tasya pegang ujung kabel cadangan. Pak Dimas cabut yang kuning, pelan-pelan, dari soketnya.”
“Sudah.”
“Sekarang kabel cadangan dicolok ke soket yang sama. Soketnya agak kencang. Harus didorong bareng.”
Jeda.
“Bareng?” tanya Pak Dimas.
“Bapak pegang kabelnya, Tasya pegang soketnya biar nggak goyang. Dorong bersamaan.” Aku menekan tombol HT lagi dan, tanpa sadar, menambahkan: “Hitungan tiga.”
Di sebelahku, Kalea perlahan menoleh.
Aku tidak menatapnya. Aku menatap monitor.
“Satu,” kataku ke HT.
Kalea masih menatapku.
“Dua.”
Di monitor, dua sosok kecil di bawah panggung, diterangi senter ponsel, bergerak mendekat.
“Tiga.”
Dari speaker HT terdengar bunyi klik. Di panel kontrol, lampu merah berubah hijau. Di ballroom, speaker kiri berdengung hidup.
Bli Komang bersorak. Dari HT terdengar suara Tasya yang tertawa, dan suara Pak Dimas yang juga tertawa. Lalu sunyi sebentar. Lalu suara Pak Dimas, sangat pelan, mungkin tidak sadar tombol HT-nya masih tertekan:
“Kamu punya nyali, Tasya.”
“Bapak juga, Pak. Bapak merangkak lewat kecoak.”
“Saya takut kecoak.”
“Saya tahu, Pak.”
Aku melepaskan jari dari tombol HT. Di ruang kontrol, tidak ada yang bicara. Bli Komang menatap monitor dengan senyum lebar. Kalea menatapku.
“Kamu nyontek,” katanya pelan.
“Nyontek apa?”
“Hitungan tiga. Dorong bareng.” Matanya berkilat. “Itu punya kita.”
Punya kita.
Aku tidak bisa menjawab. Jadi aku hanya menatapnya, dan ia menatapku, di ruang kontrol yang sempit dan bau debu kabel, sampai Bli Komang berdeham dan berkata, “Saya keluar cek lampu dulu, Mas, Mbak,” lalu keluar dan menutup pintu dengan sangat pelan.
Malam itu, ada makan malam santai untuk rombongan di restoran pantai hotel.
Aku tiba lebih dulu. Duduk di meja kayu di atas pasir, dengan lampu-lampu kecil yang digantung di pohon kelapa dan suara ombak yang memecah pelan di kegelapan.
Lalu Kalea datang.
Ia memakai gaun. Bukan gaun kantor. Gaun katun panjang berwarna terakota, bertali tipis di bahu, dengan rok yang bergerak setiap kali angin laut bertiup. Rambutnya digerai, sedikit bergelombang karena udara laut. Tanpa lipstik merah bata. Hanya sedikit warna di bibir dan kulit bahu yang terkena sinar lampu kuning.
Aku melihatnya selama setengah detik. Lalu aku melihat menu. Lalu aku melihat sendok. Lalu aku melihat pasir di bawah meja dan sandalnya, sandal kulit cokelat dengan tali tipis.
Sepanjang makan malam, aku melihat banyak hal. Menu. Sendok. Lampu. Ombak. Pak Dimas yang menuangkan air ke gelas Tasya sampai tumpah. Tapi aku tidak melihat Kalea.
Setelah makan malam, saat yang lain kembali ke kamar, Kalea tetap duduk. Aku juga tetap duduk, karena aku tidak tahu caranya berdiri tanpa terlihat sedang kabur.
“Kamu nggak lihat saya seharian,” katanya.
“Aku lihat.”
“Kamu lihat sandal saya.”
“Sandalnya bagus.”
“Bimo.”
Aku mengangkat wajah.
Ia sedang menatapku, dagu bertumpu di telapak tangan, lampu-lampu kecil di belakang kepalanya seperti mahkota yang tidak sengaja. Angin laut menggerakkan rambutnya ke satu sisi.
“Lihat saya,” katanya.
Jadi aku melihatnya. Untuk pertama kalinya hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menunduk dan tidak mencari karpet atau sepatu atau peta Kalimantan di anak tangga. Aku melihatnya. Mata hitam yang biasanya memeriksa laporan, sekarang memeriksaku. Bibir yang sedikit terbuka. Bintik cokelat kecil di bawah mata kirinya. Bahu yang terkena angin laut.
“Mbak cantik banget,” kataku.
Kalimat itu keluar sendiri. Seperti teriakan di tangga darurat. Seperti kabelnya mungkin kangen.
Ia tidak bergerak. Pipinya berubah warna di bawah lampu kuning.
Lalu, karena otakku tidak pernah tahu kapan harus berhenti, aku menambahkan:
“Kayak server baru.”
Kalea mengerjap. “Server baru?”
“Server baru itu...” Aku berusaha menyelamatkan kalimat itu. “Bersih. Lampunya nyala semua. Nggak ada debu. Bunyinya halus. Semua orang di divisi IT berdiri diam waktu server baru datang. Kami cuma... lihatin. Kayak lihat...”
Aku berhenti, karena wajahnya sudah berubah.
Ia tertawa. Tertawa keras, dengan kepala mendongak ke langit, sampai beberapa tamu di meja lain menoleh. Tertawa sampai harus memegangi meja. Tertawa sampai air matanya keluar dan ia menyekanya dengan punggung tangan.
“Server baru,” katanya terengah. “Itu pujian paling aneh yang pernah saya dengar.”
“Maaf.”
“Jangan minta maaf.” Ia mencondongkan badan ke seberang meja, mengulurkan tangan, dan merapikan kerah kemejaku yang terlipat ke dalam. Jarinya menyentuh leherku sebentar. “Itu juga pujian paling jujur.”
Ia menarik tangannya. Tapi wajahnya tetap dekat.
“Besok jam lima pagi,” katanya pelan. “Pantai depan hotel.”
“Itu informasi?”
Ia memiringkan kepala. Angin laut menerbangkan rambutnya ke depan, menyentuh pipiku sekilas.
“Bukan,” katanya. “Itu undangan.”
Lalu ia berdiri, merapikan gaun terakotanya, dan berjalan menyusuri pasir ke arah kamar, meninggalkanku di meja kayu dengan ombak dan lampu-lampu kecil dan jantung yang berdetak seperti server baru yang baru dinyalakan.
Aku membuka ponsel. Di grup Tim Hore Kapal Kabel, aku mengetik:
Misi 3 dipindah ke matahari terbit.
Tiga detik kemudian, Gilang membalas dengan rekaman suara sepanjang empat puluh detik. Isinya hanya teriakan. Lalu Pak Darto mengirim stiker hormat. Lalu Bu Ratmi menulis:
Bu Ratmi: Bandar resmi bangkrut. Semua menang. 😭
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas reading
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto