← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Thirty

Notifikasi Tamat

POV: Bimo

Selasa malam, pukul 21.17, ponselku bergetar di atas kasur.

Bukan pukul 21.00. Tujuh belas menit terlambat dari jadwal yang sudah delapan bulan tidak pernah meleset. Aku tahu itu dari Gilang, yang selalu bilang Senin Pagi lebih tepat waktu dari kereta Jepang.

Senin Pagi mengunggah bab baru: Sang CEO dan Gadis Magang, Bab 36. Status: TAMAT.

Aku menatap notifikasi itu.

Aku belum membuka satu pun dari delapan pesan Kalea. Aku tidak datang ke Cikini. Aku tidak naik ke anak tangga keempat selama empat hari. Aku duduk di Ruang Melati tadi pagi dan mendengarnya bilang aku hanya detail acak, seperti pot tanaman, dan aku tidak mengatakan apa-apa.

Tapi notifikasi ini, aku buka. Jempolku bergerak sebelum kepalaku sempat setuju. Seperti tanganku menahan pintu lift.

Aku membacanya di bawah kipas angin yang berdecit.

Pada suatu hari Rabu, Kalina menyerahkan surat pengunduran diri.

Aku membaca sampai selesai. Satu kali. Pelan-pelan, kalimat demi kalimat, seperti membaca log server untuk mencari di mana sistem mulai rusak.

Laki-laki itu tetap lewat. Seperti seharusnya. Tanpa nama. Tanpa beban. Tanpa harus menjadi bagian dari cerita siapa pun.

Itu satu-satunya hal baik yang bisa Kalina berikan padanya: halaman kosong, tempat ia bisa lewat tanpa dilihat.

Antagonis selalu pergi sendirian di akhir cerita. Itu yang adil.

TAMAT.

Aku meletakkan ponsel di dada dan menatap langit-langit.

Ia memberikannya padaku. Persis yang kuminta. Di pantry, di depan Gilang, dengan suara yang pecah. Aku nggak pernah mau ada di cerita siapa pun. Aku cuma mau lewat. Ia mendengarnya, dan sekarang ia memberikannya. Halaman kosong. Tanpa nama. Tanpa beban.

Aku seharusnya lega.

Aku membaca ulang paragraf itu. Halaman kosong, tempat ia bisa lewat tanpa dilihat.

Aku tidak lega. Aku merasa seperti seseorang yang meminta sebuah ruangan dikosongkan, lalu masuk dan menemukan bahwa ruangan itu benar-benar kosong. Tidak ada meja. Tidak ada lampu. Tidak ada termos teh melati. Tidak ada seseorang di anak tangga keempat yang bertanya, Lewat?


Aku tidak tidur malam itu.

Pukul 23.30, aku membuka aplikasi Lembar lagi. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin untuk membaca bab terakhir sekali lagi. Mungkin untuk membaca komentar-komentarnya. Mungkin, akhirnya, untuk membaca dari Bab 1. Aku belum pernah membaca Bab 1 sampai Bab 21. Aku mulai dari Bab 22, karena itu tautan yang dikirim Gilang, dan karena sinopsisnya klise, dan karena aku pikir aku tidak butuh tahu bagaimana cerita itu dimulai.

Pukul 23.59, halaman itu masih ada. Aku menekan tombol Mulai dari Bab 1.

Layar berputar. Ikon lingkaran kecil, berputar dan berputar.

Lalu:

Karya ini tidak lagi tersedia.

Aku menatap pesan abu-abu itu.

Aku menekan tombol kembali. Aku membuka ulang aplikasi. Aku mencari judulnya di kolom pencarian. Sang CEO dan Gadis Magang. Tidak ada hasil. Aku mencari Senin Pagi. Profil penulis kosong. Penulis ini belum memiliki karya.

Tiga puluh enam bab. Delapan bulan. Delapan puluh tujuh kalimat tentang staf IT yang lewat membawa kabel.

Hilang dalam satu menit, tepat sebelum tengah malam. Satu menit setelah aku akhirnya, untuk pertama kalinya, mau membaca dari awal.

Aku duduk di tepi kasur, menatap pesan abu-abu itu, dan untuk pertama kalinya sejak Jumat aku membuka delapan pesan Kalea yang belum kubaca.

Satu per satu.

Bimo, ada yang harus saya bilang. Saya mau jelaskan semuanya. Tolong angkat teleponnya.

Bimo, saya tahu kamu nggak mau dilihat. Saya minta maaf. Saya yang membuat semua orang melihatmu.

Bimo, tolong dengarkan saya sebentar. Delapan bulan lalu, di depan printer lantai dua belas, ada seseorang yang memperbaiki sesuatu untuk saya. Saya mau cerita soal itu. Tapi bukan lewat pesan.

Bimo, saya di Cikini. Saya tunggu.

Bimo, restorannya sudah mau tutup.

Bimo, saya nggak marah. Kamu berhak nggak datang.

Bimo, saya pulang.

Bimo, apa pun yang kamu putuskan, kamu nggak pernah cuma lewat. Saya tahu karena saya yang menulisnya.

Aku membaca pesan ketiga lagi. Delapan bulan lalu, di depan printer lantai dua belas, ada seseorang yang memperbaiki sesuatu untuk saya.

Aku tidak ingat. Aku sudah memperbaiki printer lantai dua belas ratusan kali. Aku sudah memperbaikinya untuk Mbak Rini, untuk Pak Herman, untuk anak magang, untuk direktur. Aku tidak ingat satu pun dari mereka secara khusus. Aku tidak pernah menatap wajah orang yang menunggu printer. Aku selalu menatap printernya.

Aku tidak ingat Kalea Prameswari pernah berdiri di depan printer lantai dua belas, delapan bulan lalu.

Dan sekarang, satu-satunya tempat yang mungkin menceritakannya sudah tidak lagi tersedia.


Rabu pagi, aku tiba di kantor pukul 07.50.

Itu pertama kalinya dalam empat tahun aku tidak datang paling pagi. Pak Darto menatapku dari balik meja satpam dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Ia tidak menyapa. Ia hanya mengangguk, lalu menunduk ke layar CCTV.

Aku naik tangga darurat. Empat puluh dua anak tangga. Aku melewati anak tangga keempat dan tidak menoleh.

Di mejaku, ada sesuatu di tengah monitor.

Kertas tempel kuning.

Maaf.
— Senin Pagi

Aku menatap tulisan itu. Tulisan tangan yang sama. Condong ke kanan. Tinta hitam. Tapi bukan K. Untuk pertama kalinya, ia menandatanganinya dengan nama itu.

Di atas keyboard, di bawah kertas kuning itu, ada sebuah karet gelang hijau.

Sedikit longgar, karena terlalu sering ditarik. Karet gelang yang kulihat di pergelangan tangannya di pasar malam, di bawah lampu bianglala, saat Bu Ratmi bilang teman dengan nada yang sama dengan diskon kapal.

Aku mengambil karet gelang itu. Aku memegangnya di telapak tangan. Ringan. Tidak ada beratnya sama sekali.

Gilang datang pukul delapan. Ia berhenti di belakangku. Ia melihat kertas kuning di monitor. Ia melihat karet gelang di tanganku.

“Bim,” katanya pelan.

“Hm.”

“Bu Kalea resign.”

Aku tidak berbalik.

“Tadi pagi,” lanjut Gilang. Suaranya serak, seperti orang yang baru dengar kabar duka. “Bu Ratmi dengar dari keponakannya, OB lantai empat belas. Suratnya udah di meja Pak Dimas jam tujuh. Efektif tanggal empat belas Desember. Tapi dia ambil sisa cuti. Jadi mulai hari ini dia nggak masuk lagi. Mejanya udah kosong.”

Aku berdiri.

“Bim, lo mau ke mana?”

Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke tangga darurat. Aku naik empat puluh dua anak tangga dua-dua sekaligus. Aku mendorong pintu lantai empat belas.


Meja sekretaris direksi kosong.

Benar-benar kosong. Tidak ada pulpen yang sejajar dengan tepi meja. Tidak ada buku agenda bersampul hitam. Tidak ada mug putih polos. Monitor dimatikan. Kursi didorong rapat ke bawah meja. Kabel monitor, yang kuganti di hari pertama, masih tersambung, rapi, tidak tergencet kaki meja.

Satu-satunya yang tersisa adalah satu kertas kuning kecil, tertempel di bawah tepi meja. Di tempat yang hanya bisa dilihat oleh seseorang yang berjongkok untuk memeriksa kabel.

Aku berjongkok.

Kabelnya jangan di lantai.
Nanti ada yang lewat, kesandung.

Tidak ada tanda tangan. Tidak ada K. Tidak ada Senin Pagi.

Kalimat pertama yang ia ucapkan padaku. Di hari pertama, saat aku mengganti kabel monitor ini, saat gulungan kabel lamaku tergeletak di lantai dan ia tidak menatapku.

Aku berjongkok di bawah meja sekretaris direksi yang kosong, memegang karet gelang hijau, menatap kertas kuning yang ditempel di tempat yang hanya bisa ditemukan oleh staf IT.

Ia tahu aku akan datang ke sini. Ia tahu aku akan berjongkok. Ia tahu aku selalu memeriksa kabel.

Ia selalu tahu.


“Bimo.”

Aku keluar dari bawah meja. Pak Dimas berdiri di ambang pintu ruangannya. Kemejanya dikancing dengan benar hari ini, tapi wajahnya terlihat seperti orang yang tidak tidur.

“Pak.”

Pak Dimas menatap meja kosong itu. Lalu menatapku. Lalu, tanpa bicara, ia memberi isyarat agar aku masuk ke ruangannya.

Ruangan Pak Dimas besar dan dingin, dengan jendela yang menghadap Jakarta. Di dinding, papan tulis kecil di pojok. Angkanya 11.

Pak Dimas tidak duduk di kursinya. Ia berdiri di depan papan tulis itu, dengan tangan di saku celana.

“Dia minta saya tidak memberi tahu siapa-siapa ke mana dia pergi,” katanya ke arah papan tulis.

“Iya, Pak.”

“Saya tidak akan memberi tahu.” Ia diam sebentar. “Tapi saya akan bilang satu hal yang tidak dia minta saya rahasiakan.”

Aku menunggu.

“Dia akan datang tanggal empat belas.” Pak Dimas menunjuk angka di papan tulis. “Hari terakhir. Gala ulang tahun perusahaan di Hotel Arunika. Dia penyelenggaranya. Dia yang mengurus semuanya sejak tiga bulan lalu. Dia bilang dia akan datang untuk memastikan semuanya berjalan, lalu pergi.”

Ia mengambil spidol. Ia tidak menghapus angka sebelas. Ia menulis di bawahnya, dengan huruf kecil:

Gala. Hari terakhir.

“Itu hitung mundur saya,” katanya. “Tapi mulai hari ini, kayaknya bukan cuma saya yang menghitung.”

Ia menutup spidol dan menatapku.

“Kamu tukang foto keluarga, kan?” tanyanya tiba-tiba.

Aku mengerjap. “Kok Bapak tahu?”

“Kamu bilang begitu di Jimbaran. Ke Bu Kalea. Saya dengar.” Pak Dimas menatap jendela. “Tukang foto keluarga itu orang yang selalu tahu di mana semua orang berdiri. Tapi nggak pernah ada di foto.”

“Iya, Pak.”

“Bu Kalea juga begitu.” Ia memasukkan tangan ke saku lagi. “Tiga tahun dia di meja itu. Dia tahu di mana semua orang berdiri. Jadwal semua orang. Ulang tahun semua orang. Kucing saya.” Ia berhenti. “Dan dia tidak pernah ada di foto kantor mana pun. Tiga tahun. Saya baru sadar kemarin malam.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Kalian berdua,” kata Pak Dimas, “sama-sama tukang foto.”


Pukul tiga sore, aku duduk di ruang server.

Gilang sudah memakai jaketnya lagi. Ia duduk di kursi plastik di sebelahku, di antara rak-rak hard disk, dan tidak bicara apa-apa. Itu sangat tidak seperti Gilang. Biasanya Gilang punya teori untuk segala hal.

Setelah sepuluh menit, ia akhirnya bicara.

“Bim. Gue punya teori.”

“Gil.”

“Dengerin dulu.” Ia memeluk lututnya. “Teori gue, Bu Kalea itu kayak printer lantai dua belas.”

Aku menoleh.

“Kelihatannya galak. Rewel. Semua orang ngeluh. Tapi sebenarnya dia cuma butuh orang yang ngerti cara bukanya. Pakai baki manual. Pakai pinset. Pelan-pelan.” Gilang menatap rak server. “Dan selama empat tahun, cuma satu orang di gedung ini yang ngerti cara benerin printer lantai dua belas.”

“Itu teori paling bodoh yang pernah lo bikin.”

“Gue tahu.” Gilang tersenyum kecil. Senyum yang sedih. “Tapi itu teori pertama gue yang bener.”


Pukul lima sore, aku pulang.

Saat aku melewati lobi, Pak Darto keluar dari balik meja satpam.

Ia berdiri di depanku. Menghalangi jalanku ke pintu putar. Kumisnya bergetar.

“Mas Bimo,” katanya.

“Pak.”

“Saya tidak berkomentar di novel itu sejak Jumat.”

“Saya tahu, Pak. Saya cek.”

“Saya tidak berkomentar,” kata Pak Darto pelan, “karena saya malu. Saya ikut menikmati cerita itu delapan bulan. Saya ketawa sama istri saya. Saya kasih tahu teman-teman pos satpam. Saya bikin grup kapal. Saya pikir itu cuma cerita.” Ia menatapku. Matanya merah. “Saya lupa itu cerita tentang orang. Tentang Mas. Tentang Bu Kalea.”

“Bapak nggak salah.”

“Saya salah, Mas. Tapi bukan itu yang mau saya bilang.” Pak Darto melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan lobi sudah kosong. Lalu ia mencondongkan badan dan berbisik:

“Saya simpan, Mas.”

“Simpan apa, Pak?”

“Semua.” Kumisnya bergetar. “Dari Bab 1. Setiap Selasa dan Jumat, setiap kali bab baru terbit, saya simpan ke ponsel. Mode luring. Biar istri saya bisa baca di rumah, karena di rumah sinyalnya jelek.” Ia menepuk saku seragamnya. “Tiga puluh enam bab, Mas. Termasuk yang terakhir. Semuanya masih ada di sini.”

Aku berdiri di tengah lobi Haryanto Group, di depan pintu putar yang berhenti berputar, dan menatap saku seragam Pak Darto.

“Bab 1?” tanyaku. Suaraku keluar sangat kecil.

“Bab 1, Mas.” Pak Darto mengangkat tangan ke pelipis. Pelan. Tanpa suara. “Mas belum pernah baca Bab 1, kan?”

Aku menggeleng.

Pak Darto menatapku lama sekali. Lalu ia menurunkan tangannya dan berkata, dengan suara yang sangat lembut, suara seorang laki-laki yang sudah menikah dua puluh tujuh tahun:

“Kalau begitu, Mas belum tahu ceritanya dimulai dari mana.”