← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Twenty Seven

Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu

POV: Kalea

Aku nggak pernah mau ada di cerita siapa pun.

Aku berdiri di balik partisi kaca buram di pantry lantai dua belas dan mendengar kalimat itu dengan jelas. Suaranya pecah di tengah, seperti kertas yang sobek di dalam rol printer.

Aku tidak menunggu kalimat berikutnya. Aku meletakkan kantong kertas di lantai dan naik tangga darurat. Empat puluh dua anak tangga, kuhitung semuanya. Di anak tangga keempat, aku tidak berhenti. Aku tidak bisa berhenti di sana lagi.

Di lantai empat belas, aku masuk ke toilet, mengunci pintu, duduk di atas kloset yang tertutup, dan menatap ubin putih sampai mataku tidak bisa fokus.

Aku cuma mau lewat.

Aku tahu. Aku sudah tahu sejak hari pertama. Ia menulisnya di daftar aturannya, aturan nomor satu sampai sembilan, dan ia menunjukkan semuanya padaku di pantai Nusa Dua. Aku membacanya dengan mataku sendiri.

Dan aku tetap menulisnya. Delapan bulan.


Malam itu, di apartemen, aku membuka laptop dan membuka Bab 1.

Aku tidak membacanya sejak aku menerbitkannya. Penulis yang baik tidak membaca ulang bab pertama setelah sampai di bab tiga puluh lima. Bab pertama selalu memalukan. Kalimat-kalimatnya terlalu hati-hati, seperti seseorang yang baru belajar berjalan lagi.

Aku membacanya malam itu. Dan aku ingat semuanya.


Delapan bulan lalu, hari Senin, adalah hari ulang tahun pertama kematian Ayah.

Aku tidak cuti. Aku sudah cuti tiga hari setahun sebelumnya, dan kembali ke meja pada hari keempat, dan bekerja seperti biasa. Aku tidak mau cuti lagi. Cuti berarti duduk di apartemen, menatap foto Ayah, dan tidak punya alasan untuk bangun.

Jadi aku datang ke kantor pukul enam pagi. Lebih awal dari siapa pun. Lantai empat belas masih gelap. Aku menyalakan komputer, membuka email, dan menyadari bahwa ada laporan untuk rapat direksi pukul delapan yang belum dicetak.

Printer lantai empat belas mati. Lampunya oranye. Kertas tersangkut.

Aku mencoba membukanya. Aku tidak tahu caranya. Aku menarik dan menarik dan kertas itu sobek jadi dua, setengah tertinggal di dalam rol. Aku menatap setengah kertas di tanganku dan tiba-tiba tidak bisa bernapas.

Bukan karena printer. Karena Ayah. Karena setahun lalu, hari Senin, aku menerima telepon dari Ibu di meja ini, dan aku menatap layar komputer yang sama, dan tidak bisa bernapas dengan cara yang sama.

Aku turun ke lantai dua belas. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena printer di lantai dua belas adalah satu-satunya printer lain yang kutahu letaknya. Mungkin karena aku perlu bergerak.

Lantai dua belas masih kosong. Lampu pantry baru setengah menyala. Printer abu-abu besar di dekat pantry berdiri seperti batu nisan.

Aku memasukkan flashdisk, memilih file, menekan cetak.

Printer itu menderu, berderak, lalu berhenti. Lampu oranye. Kertas tersangkut.

Aku berdiri di depan printer lantai dua belas, pukul enam lewat dua puluh pagi, pada hari ulang tahun pertama kematian Ayah, dan menangis.

Bukan tangisan yang cantik. Tangisan yang diam, dengan bahu bergetar dan air mata yang jatuh ke atas baki kertas, karena dua printer di gedung ini rusak pada hari yang sama, dan entah kenapa itu terasa seperti dunia sedang bilang padaku bahwa tidak ada yang bisa diperbaiki lagi.

Lalu aku mendengar senandung.


Pelan. Dari ujung lorong. Nada yang tidak kukenal, tanpa lirik, seperti lagu yang muncul sendiri dari kepala seseorang yang tangannya sibuk.

Aku cepat-cepat mengusap air mata dengan lengan blazer. Aku tidak berbalik. Aku menatap printer, pura-pura sedang membaca petunjuk di layar kecilnya.

Langkah kaki mendekat. Berhenti di sebelahku.

“Macet, Mbak?”

Suara laki-laki. Rendah, sedikit serak, tenang. Aku tidak menoleh.

“Iya,” kataku. Suaraku keluar basah.

Ia tidak menatap wajahku. Aku tahu, karena dari sudut mataku, aku melihat ia langsung berjongkok di depan printer, membuka panel samping, dan menatap ke dalam rol dengan konsentrasi penuh. Seolah printer itu satu-satunya hal yang ada di ruangan.

Seolah ia tahu aku tidak mau dilihat.

Ia mengeluarkan pinset dari tas kecil di pinggangnya. Ia menarik kertas yang tersangkut, pelan, sedikit demi sedikit, sambil terus bersenandung. Nada yang sama. Berulang-ulang. Tenang, seperti air yang mengalir.

Aku berdiri di sebelahnya dan mendengarkan senandung itu, dan entah kenapa napasku perlahan kembali.

“Printernya lagi sedih juga, Mbak,” katanya tiba-tiba, masih menatap rol. “Hari Senin.”

Aku menatap puncak kepalanya. Rambutnya tidak rapi di bagian belakang. Kemejanya biru muda, lengannya sedikit terlalu panjang.

“Printer bisa sedih?” tanyaku.

“Semua bisa sedih hari Senin.” Ia menarik potongan kertas terakhir dengan pinset, utuh, dan meletakkannya di atas printer. “Tapi biasanya bisa diperbaiki.”

Ia menutup panel. Printer menyala. Menderu. Lalu mulai mencetak laporanku, halaman demi halaman, dengan suara yang tenang dan stabil.

Ia berdiri. Ia tidak menatapku. Ia menatap printer, memastikan lembar pertama keluar dengan baik, lalu mengangguk pada dirinya sendiri.

Lalu ia berjalan ke pantry.

Aku mendengar bunyi air dari dispenser. Bunyi sendok di gelas. Lalu ia kembali, meletakkan sesuatu di atas printer, di sebelah laporanku yang sedang keluar, dan berjalan pergi ke ujung lorong. Masih bersenandung. Tanpa menoleh. Tanpa menunggu terima kasih.

Aku menatap benda yang ia tinggalkan.

Segelas teh. Gelas kertas tipis dari pantry lantai dua belas. Uapnya naik pelan.

Aku mengambilnya. Aku menciumnya.

Melati.

Teh melati. Teh yang diminum Ayah setiap Minggu jam lima pagi di teras. Teh yang tidak pernah kuminum lagi sejak setahun lalu.

Itu satu-satunya jenis teh celup yang tersedia di pantry lantai dua belas. Aku tahu itu belakangan. Ia tidak memilihnya. Ia tidak tahu apa-apa soal Ayah. Ia hanya mengambil teh yang ada, untuk seseorang yang menangis di depan printer, dan pergi sebelum orang itu harus berterima kasih.

Tapi aku berdiri di depan printer lantai dua belas, memegang segelas teh melati, dan menangis lagi. Kali ini bukan karena dunia bilang tidak ada yang bisa diperbaiki. Kali ini karena ada yang memperbaikinya, tanpa diminta, lalu pergi.

Laporanku selesai dicetak. Aku mengambilnya. Aku membawa teh itu ke lantai empat belas dan meminumnya di meja, pelan-pelan, sampai habis.

Rapat direksi pukul delapan berjalan lancar. Tidak ada yang tahu sekretaris direksi menangis dua kali pagi itu.


Malamnya, untuk pertama kalinya dalam setahun, aku bangun pukul empat pagi.

Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya bangun, dan duduk di depan jendela apartemen, dan membuat teh melati dari sekotak teh celup yang kubeli sepulang kerja. Lalu aku membuka laptop dan menatap halaman kosong.

Ayah bilang, kalau kamu memperhatikan sesuatu cukup lama, kamu akan menemukan sesuatu yang indah di dalamnya.

Aku sudah tidak memperhatikan apa pun selama setahun. Tapi pagi itu aku memperhatikan sesuatu selama sepuluh menit. Punggung seseorang yang berjongkok di depan printer. Pinset. Senandung tanpa lirik. Segelas teh yang ditinggalkan tanpa nama.

Aku menulis satu kalimat.

Senin pagi, printer lantai dua belas rusak, dan seorang staf IT yang lewat membawa kabel bersenandung lagu yang tidak punya judul.

Aku menatap kalimat itu lama sekali. Kalimat pertama yang kutulis sejak Ayah pergi.

Lalu aku takut.

Aku takut karena kalimat itu terlalu jujur. Karena kalau aku melanjutkannya, aku akan menulis tentang seseorang yang tidak kukenal, yang membuatku ingin menulis lagi. Dan menulis tentang seseorang yang membuatmu ingin menulis lagi terasa terlalu telanjang. Terlalu seperti buku harian. Terlalu seperti surat cinta untuk orang asing.

Jadi aku membangun sesuatu di sekeliling kalimat itu. Seperti membangun rumah di sekeliling sebatang pohon supaya tidak ada yang melihat pohonnya.

Aku menulis CEO yang dingin dan gadis magang yang manis. Cerita klise yang aman, yang dibaca orang di aplikasi web novel sebelum tidur. Aku mengambil kantor ini sebagai latar, karena aku mengenalnya. Aku mengambil Pak Darto, dan Bu Ratmi, dan lift nomor tiga, karena mereka lucu dan hangat dan nyata. Aku mengambil jadwal direksi, karena aku memegangnya setiap hari.

Dan aku menulis diriku sendiri sebagai antagonis. Kalina. Sekretaris judes yang memandang orang seperti noda di karpet. Karena itu cara kantor ini melihatku. Karena itu cara aku melihat diriku sendiri setelah setahun tidak bisa tersenyum. Lebih mudah menertawakan diri sendiri sebagai penjahat daripada mengakui bahwa aku cuma perempuan yang menangis di depan printer.

Dan di tengah semua itu, di sudut-sudut cerita, tanpa nama, aku menyelipkan dia.

Staf IT yang lewat membawa kabel.

Satu kalimat di Bab 1. Satu kalimat di Bab 4. Satu di Bab 9. Aku tidak memberinya nama karena aku tidak tahu namanya. Lalu, saat aku tahu namanya (dari tiket, dari CC direksi, dari Pak Darto yang bicara tanpa ditanya), aku tetap tidak memberinya nama. Karena nama itu milikku. Satu-satunya hal di cerita itu yang tidak kubagi dengan siapa pun.

Nama penaku, Senin Pagi, adalah hari ia memperbaiki printer.

Novel itu tidak pernah tentang CEO dan gadis magang. Dirgantara dan Tania adalah pohon-pohon palsu yang kutanam di halaman supaya tidak ada yang melihat pohon yang asli. Novel itu tentang satu hari Senin, satu printer, satu gelas teh melati, dan seseorang yang memperbaiki sesuatu lalu pergi tanpa menunggu terima kasih.

Novel itu adalah terima kasih yang tidak pernah kuucapkan.


Selama delapan bulan, aku memperhatikannya.

Dari jauh. Dari mejaku di lantai empat belas. Dari CC tiket. Dari cerita Pak Darto di lobi. Dari lift, di mana ia selalu berdiri di pojok dan menunduk. Aku tahu ia selalu datang paling pagi dan pulang tepat waktu. Aku tahu ia memperbaiki kursi lobi tanpa disuruh. Aku tahu ia bilang lampu kota seperti motherboard. Aku tahu kue favoritnya adalah lapis legit Toko Kenanga yang pinggirnya gosong.

Lalu suatu hari, ia menemukan novelku.

Aku tahu persis harinya, walaupun baru kusadari belakangan. Siang itu, di lift, aku mendengar Gilang bercerita dengan suara keras bahwa ia sudah mengirim tautan Bab 22 ke “anak IT paling nggak gaul se-Jakarta”. Keesokan paginya, staf IT itu datang ke ruang Anggrek pukul enam untuk menghindari adegan kopi tumpah yang kutulis.

Ia membaca novelku. Ia menghindari ceritaku. Dan setiap kali ia menghindar, ia malah masuk lebih dalam.

Ia menahan pintu lift sebelum Kalina dipermalukan. Ia menangkap Kalina sebelum jatuh. Ia memberinya soto, dan bakwan, dan jaket di bawah hujan. Ia merusak setiap adegan antagonis yang kurencanakan, satu per satu, sampai Kalina berhenti jadi antagonis.

Aku tidak menulis cerita itu lagi. Ceritanya menulis dirinya sendiri, karena dia ada di dalamnya.


Aku menutup Bab 1 pukul dua pagi.

Aku menatap foto Ayah di rak buku. Lampu kamar mandi yang diperbaiki Bimo memantulkan cahaya ke bingkai fotonya.

“Dia bilang dia nggak pernah mau ada di cerita siapa pun, Yah,” bisikku.

Ayah tersenyum seperti biasa.

“Dan aku menaruhnya di cerita. Tanpa izin. Delapan bulan. Di depan enam puluh enam ribu orang. Sekarang semua orang melihatnya. Persis yang paling ia takutkan.”

Aku memeluk lututku di atas kursi meja kerja yang sudah tidak goyang.

“Aku nggak menyesal menulisnya, Yah. Aku menyesal karena aku menulisnya untuk diriku sendiri, dan lupa bahwa dia bukan tokoh. Dia orang.”

Besok pagi ada rapat HR. Mbak Sisil sudah mengirim undangan: Rapat Klarifikasi Pelanggaran Kebijakan Privasi Karyawan. Hadir: Kalea Prameswari (pihak terkait), Bimo Wibisena (pihak terdampak), Dimas Haryanto (Direktur Utama), Tim Legal.

Pihak terdampak.

Aku membuka Aturan Antagonis. Tiga belas aturan. Sebagian besar gagal. Aku menatap semuanya, dari Jangan senyum di depan dia sampai Sabtu. Tidak ada minggu depan lagi.

Lalu aku menulis aturan keempat belas. Bukan aturan untuk diriku sendiri. Aturan untuk melindungi dia.

14. Besok, kamu antagonisnya. Bukan dia. Dia cuma lewat.

Aku menatap aturan itu. Lalu aku mematikan laptop, dan duduk di depan jendela sampai pukul empat pagi.

Aku tidak membuat teh melati. Untuk pertama kalinya dalam delapan bulan, aku tidak sanggup menciumnya.