← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Thirty Eight

Itu Bagianku

POV: Kalea

Atap Hotel Arunika bukan tempat untuk umum.

Aku tahu, karena aku yang mengurus perizinan gala ini selama tiga bulan, dan di setiap dokumen dari pihak hotel ada kalimat yang sama: Area atap (rooftop) tertutup untuk tamu acara.

Pukul 22.10, Pak Dimas menyerahkan sebuah kartu akses padaku di lorong belakang ballroom.

“Atap,” katanya.

“Pak, atap tertutup untuk tamu acara.”

“Saya sudah minta izin ke manajer hotel.” Pak Dimas tidak menatapku. Ia menatap telapak tangannya, yang masih sedikit hitam karena tinta spidol. “Mbak Sisil sudah buat formulir persetujuan penggunaan area terbatas. Tiga rangkap. Sudah ditandatangani.”

Aku menatap kartu akses di tanganku.

“Pak Dimas,” kataku. “Bapak merencanakan ini?”

“Saya tidak merencanakan apa-apa.” Pak Dimas menyelipkan tangan ke saku jasnya. “Saya hanya Direktur Utama yang kebetulan punya akses ke banyak hal.”

Lalu ia berbalik dan berjalan ke arah ballroom, ke arah meja nomor tujuh, tempat Tasya sedang membereskan tasnya. Di tengah jalan, ia berhenti, berbalik setengah, dan berkata:

“Bu Kalea. Surat pengunduran diri Ibu masih di saku kemeja saya.”

“Saya tahu, Pak.”

“Saya masih tidak setuju.”

Ia pergi sebelum aku bisa menjawab.


Bimo menungguku di depan lift servis di ujung lorong.

Ia sudah melepas jasnya. Bukan jasnya sendiri, ternyata. Jas pinjaman dari kakaknya, Mas Langit, yang bahunya terlalu lebar dan lengannya terlalu panjang, sehingga sepanjang gala tadi ia terlihat seperti anak SMP yang memakai jas ayahnya ke wisuda. Sekarang jas itu tersampir di lengannya. Kemeja putihnya masih bernoda merah bata di dada.

“Lift servis,” katanya, menatap pintu lift baja di depan kami. “Nomornya tiga.”

Aku menatap angka kecil di atas pintu lift. 3.

“Itu kebetulan,” kataku.

“Di hidup kita, nggak ada yang kebetulan.” Ia menekan tombol. “Kecuali printer lantai dua belas. Itu memang rusak beneran.”

Pintu lift terbuka. Kami masuk. Lift itu berdecit pelan saat bergerak naik, dan untuk satu detik kami berdua menahan napas, mendengarkan, menunggu bunyi gir yang menggertakkan gigi.

Tidak ada.

Lift itu naik dengan mulus sampai lantai paling atas.

“Lift hotel bintang lima,” kata Bimo pelan. “Nggak seru.”

Aku tertawa. Tawa pertama yang tidak basah sejak dua minggu lalu.


Atap Hotel Arunika adalah taman kecil dengan lantai kayu, pot-pot tanaman besar, dan pagar kaca setinggi dada yang mengelilinginya. Di balik pagar kaca itu, Jakarta terbentang seperti papan sirkuit raksasa. Lampu jalan, lampu gedung, lampu mobil di Sudirman yang bergerak pelan seperti aliran listrik.

“Kayak motherboard,” kata Bimo.

“Saya tahu kamu akan bilang itu.”

“Kamu tahu semua yang akan aku bilang.”

“Nggak semua.” Aku berhenti di dekat pagar kaca. “Saya nggak tahu kamu akan bilang aku berhenti di sini.”

Ia berdiri di sebelahku. Angin malam di atap hotel lebih kencang dari yang kukira. Rambutku tertiup ke wajah. Gaun hijau tuaku berkibar di sekitar pergelangan kaki.

Dan kakiku sakit.

Sepatu hak tinggi yang kupakai sejak pukul empat sore, berdiri di sisi panggung selama tiga jam, berjalan bolak-balik antara dapur hotel dan ruang kontrol dan meja registrasi. Aku tidak sadar seberapa sakitnya sampai aku berhenti bergerak.

Aku menunduk, melepas sepatu kiri, lalu sepatu kanan, dan berdiri di lantai kayu atap hotel tanpa alas kaki.

Bimo menatap sepatu di tanganku. Lalu, tanpa bicara, ia mengambilnya dariku dan memegangnya. Sepasang sepatu hak hitam di tangan kirinya, jas pinjaman Mas Langit di lengan kanannya.

“Kamu bawa sepatu saya,” kataku.

“Aku pernah bawa satu sandalmu di Bali. Sekarang aku bawa dua. Peningkatan.”

Lalu ia membuka jas Mas Langit yang kebesaran itu dan menyampirkannya di bahuku. Jas itu begitu besar sehingga lengannya menggantung jauh melewati jari-jariku, dan ujungnya menyentuh lututku.

“Kamu kedinginan,” katanya.

“Saya nggak kedinginan.”

“Kamu gemetar.”

“Itu bukan karena dingin.”

Ia menatapku. Aku menatap Jakarta.

“Saya harus bilang sesuatu,” kataku. “Yang di Bali. Yang di Jakarta. Yang minggu depan, minggu depan, minggu depan. Yang nggak pernah saya bilang.”

“Kamu nggak harus.”

“Saya harus.” Aku mengeluarkan ponselku dari saku gaun dan membuka dokumen berjudul Untuk Tanggal 14. Tanganku gemetar di balik lengan jas yang terlalu panjang. “Saya nulis ini semalam. Setelah baca tulisanmu lima kali. Saya nggak bisa ngomong tanpa nulis dulu. Itu kelemahan saya.”

“Itu bukan kelemahan.”

“Tolong jangan potong. Saya cuma bisa baca ini sekali.”

Ia diam. Ia memegang sepatuku dengan dua tangan dan menunggu, seperti seseorang yang menunggu printer selesai mencetak.


Aku membacanya.

“Selama delapan bulan, aku menulis diriku sendiri sebagai antagonis, karena itu lebih mudah daripada menulis diriku sebagai seseorang yang menangis di depan printer dan diselamatkan oleh segelas teh.”

Suaraku bergetar. Aku melanjutkan.

“Hari itu adalah hari ulang tahun pertama kematian Ayah. Aku tidak cuti. Aku datang jam enam pagi karena kalau aku diam di apartemen, aku tidak punya alasan untuk bangun. Dua printer rusak di hari yang sama, dan aku merasa dunia sedang bilang padaku bahwa tidak ada yang bisa diperbaiki lagi.”

Aku menelan ludah.

“Lalu kamu datang. Kamu nggak lihat wajahku. Kamu bersenandung. Kamu bilang printernya lagi sedih juga, hari Senin, tapi biasanya bisa diperbaiki. Kamu kasih aku teh melati, teh yang diminum Ayah setiap Minggu pagi. Kamu nggak tahu. Kamu cuma ambil teh yang ada. Lalu kamu pergi.”

“Malam itu aku menulis lagi. Untuk pertama kalinya dalam setahun.”

Aku berhenti. Angin di atap meniup rambutku ke depan mata. Bimo, tanpa bicara, mengulurkan satu tangan dan menyibakkan rambut itu ke belakang telingaku. Tangannya yang lain masih memegang sepatuku.

Aku melanjutkan.

“Aku menulis kamu tanpa nama karena aku takut. Aku menulis CEO dan gadis magang supaya tidak ada yang melihat bahwa sebenarnya aku menulis tentang satu orang yang lewat. Aku menulis diriku sendiri sebagai antagonis karena aku percaya itu tempatku. Di cerita siapa pun, aku antagonisnya.”

“Aku tidak bilang padamu karena aku takut kalau kamu tahu, kamu akan melihatku seperti pembaca melihat Kalina. Judes. Licik. Pantasnya sendirian di ending.”

“Aku menunda dan menunda dan menunda. Bali. Jakarta. Minggu depan. Sabtu. Dan karena aku menunda, kamu tahu dari layar proyektor tiga kali empat meter, di depan dua ratus orang, persis seperti hal yang paling kamu takutkan.”

Suaraku pecah total. Aku menunggu sampai bisa bicara lagi.

“Di rapat HR, aku bilang kamu cuma detail acak. Seperti pot tanaman. Aku bilang aku nggak pernah mengenalmu secara pribadi. Itu bohong. Aku bohong supaya namamu nggak masuk laporan apa pun. Supaya kamu bisa kembali lewat, tanpa nama. Karena kamu bilang di pantry kamu nggak pernah mau ada di cerita siapa pun.”

“Lalu aku menghapus semuanya. Delapan bulan. Dan aku pergi. Karena aku pikir itu satu-satunya hal baik yang bisa kuberikan padamu.”

“Aku salah.”

“Aku minta maaf karena menulismu tanpa izin. Aku minta maaf karena terlambat delapan bulan untuk bilang. Aku minta maaf karena bilang kamu pot tanaman.”

“Tapi aku nggak minta maaf karena memperhatikanmu.”

Aku menurunkan ponsel. Layarnya buram karena air mataku.

“Itu saja,” bisikku. “Itu yang mau saya bilang di Bali.”


Bimo tidak langsung menjawab.

Ia menatapku lama sekali. Angin malam bertiup di antara kami. Di bawah, di Sudirman, sebuah bus kota membunyikan klakson panjang.

Lalu ia meletakkan sepatuku di lantai kayu dengan hati-hati, berdampingan, sejajar sempurna, seperti aku menata pulpen di mejaku.

“Pot tanaman,” katanya.

“Maaf.”

“Mbak Sisil bilang pot tanaman disebut tiga kali di novelmu.”

“Saya tahu.”

“Aku disebut delapan puluh tujuh kali.”

“Saya tahu.”

“Itu bukan pot tanaman, Kalea.”

“Saya tahu.” Aku menutup wajah dengan lengan jas yang kebesaran. “Saya tahu, saya tahu, saya tahu.”

Ia menarik lengan jas itu turun dari wajahku. Pelan. Seperti menarik kertas yang tersangkut di rol printer.

“Kamu nanggung semuanya sendiri,” katanya. “Di rapat HR. Di bab terakhir. Di resign. Kamu ambil semua kesalahan ke pundakmu, terus kamu pergi, terus kamu bilang itu yang adil.”

“Itu memang salah saya.”

“Sebagian.” Ia menatapku. “Sebagian lagi salahku. Aku nggak datang ke Cikini. Aku nggak baca delapan pesanmu. Aku bilang hal yang paling kejam yang bisa aku bilang, di pantry, keras-keras, waktu kamu ada di balik kaca. Aku mundur, karena itu yang selalu aku lakukan kalau ada pintu yang ditutup. Aku nggak pernah nanya kenapa pintunya ditutup.”

“Bimo...”

“Kamu nggak harus nanggung semuanya sendirian lagi.”

Aku menggeleng. Refleks. Seperti refleks menulis ULANG di laporan Tasya yang sempurna. Seperti refleks menjadi antagonis di cerita sendiri.

“Itu bukan bagianmu,” kataku.

Kalimat itu keluar sendiri. Kalimat yang kupakai di ruang Anggrek, di hari pertama, saat ia membagikan salinan agenda rapat. Di meja sekretaris direksi pukul sepuluh malam, saat ia mau memperbaiki printer yang kusobek kertasnya. Di Ruang Melati, saat ia mau bicara di depan legal.

Itu bukan bagianmu.

Bimo menatapku. Lalu, sangat pelan, ia tersenyum.

Ia melangkah satu langkah ke depan. Di atap hotel, di atas lantai kayu, di bawah langit Jakarta yang tidak punya bintang, satu langkah sudah cukup untuk menghabiskan semua jarak.

Ia memegang wajahku dengan dua tangan. Tangan yang biasanya memegang kabel, obeng, pinset. Tangan yang hangat dan sedikit kasar di ujung jari, dengan bekas luka kecil di ibu jari kiri dari obeng yang meleset entah kapan.

“Mulai sekarang,” katanya, “itu bagianku.”


Ia menciumku.

Bukan seperti di lift nomor tiga. Di lift nomor tiga, aku yang menciumnya, dengan rencana, dengan daftar, dengan nomor lima yang harus dicentang. Di lift nomor tiga, ciuman itu hati-hati dan gemetar, seperti seseorang yang mencoba sesuatu untuk pertama kali.

Ini berbeda.

Ini tidak hati-hati. Ini tidak punya rencana. Ini seperti seseorang yang sudah lama sekali menunggu, berdiri di pinggir halaman, lewat, lewat, lewat, delapan puluh tujuh kali, dan akhirnya berhenti.

Tangannya bergeser dari wajahku ke belakang kepalaku, jari-jarinya masuk ke rambutku yang tertiup angin. Jas Mas Langit yang kebesaran meluncur dari bahuku dan jatuh ke lantai kayu, dan aku tidak peduli. Aku berjinjit dengan kaki telanjang di atas lantai kayu yang dingin, tanganku mencengkeram kemeja putihnya yang bernoda merah bata, dan menciumnya kembali dengan semua yang tidak bisa kutulis selama delapan bulan.

Rasanya seperti teh melati delapan puluh derajat. Hangat. Tidak terlalu panas sampai pahit, tidak terlalu dingin sampai wanginya hilang. Pas. Seperti dibuat oleh seseorang yang tahu takaran.

Saat ia akhirnya mundur, hanya sejauh napas, aku masih mencengkeram kemejanya. Dahinya menempel di dahiku. Napas kami berdua tersengal.

“Bimo,” bisikku.

“Hm.”

“Itu bukan nomor lima.”

“Bukan.”

“Itu nomor berapa?”

Ia tertawa pelan, napasnya hangat di bibirku. “Nggak ada nomornya. Aku udah hapus semua daftarnya. Di panggung. Di depan dua ratus orang.”

“Saya lihat.”

“Sekarang cuma ada satu aturan.”

“Jangan pergi dari ceritanya,” kataku.

“Kamu dengar?”

“Saya selalu dengar.” Aku menatapnya dari jarak yang sangat dekat. “Saya dengar senandungmu dari ujung lorong. Saya dengar kamu bilang printer pakai dua T itu lucu. Saya dengar kamu bilang ke foto Ayah kamu mau tinggal.”

Matanya berkaca-kaca.

“Saya juga mau tinggal,” bisikku. “Di ceritamu.”

Ia menciumku lagi. Lebih pelan kali ini. Seperti seseorang yang memotong bawang dengan pelan karena ada yang memeluknya dari belakang.


Kami turun dari atap pukul 23.20.

Aku memakai jas Mas Langit yang kebesaran dan berjalan tanpa alas kaki. Bimo memegang sepatuku di satu tangan dan tanganku di tangan yang lain. Kami tidak melepasnya di lift servis nomor tiga. Kami tidak melepasnya di lorong belakang ballroom. Kami tidak melepasnya saat masuk ke lobi Hotel Arunika, yang sudah setengah sepi.

Aturan Pacaran Rahasia nomor satu: Tidak boleh pegangan tangan di kantor.

Ini bukan kantor. Dan ini sudah bukan rahasia.

Di lobi, di sofa kulit besar di bawah lampu kristal, duduk dua perempuan paruh baya.

Satu memakai kebaya sage dan selendang batik. Satu memakai kebaya biru muda dengan kacamata yang tergantung di leher dengan tali manik-manik.

Ibu Sri dan Ibuku.

Mereka sedang berbicara dengan sangat serius, kepala saling mendekat, seperti dua diplomat yang sedang merundingkan perjanjian perdamaian.

“...jadi kuahnya pakai kunyit yang dibakar dulu, Bu,” kata Ibu Sri. “Bukan kunyit mentah. Itu rahasianya.”

“Kunyit dibakar,” ulang Ibuku, mencatat di ponselnya dengan satu jari. “Terus koyanya?”

“Koyanya dari kerupuk udang, Bu. Ditumbuk sama bawang putih goreng.”

“Ya ampun, Bu. Pantas anak Ibu wangi bawang.”

Bimo dan aku berhenti di tengah lobi.

Kedua ibu itu mendongak bersamaan. Mereka menatap kami. Menatap jas yang kebesaran di bahuku. Menatap sepatu di tangan Bimo. Menatap tangan kami yang bergandengan. Menatap noda merah bata di kemeja Bimo, yang sekarang ada dua: satu dari pelukan di panggung, satu lagi di kerah, yang baru.

Ibuku memakai kacamatanya.

Ia menatap Bimo dari kepala sampai kaki, pelan, teliti, dengan mata seorang guru SD yang sedang memeriksa seragam murid baru di hari pertama sekolah. Rambut. Kemeja. Noda lipstik. Karet gelang hijau di pergelangan tangan. Sepatu putrinya di tangan kirinya.

Lalu ia melepas kacamatanya, membiarkannya tergantung lagi di tali manik-manik, dan menoleh ke Ibu Sri.

“Bu,” katanya. “Anak Ibu nulisnya priter.”

Ibu Sri mengangguk dengan wajah sangat serius. “Iya, Bu. Dari kecil. Dulu nulis kompor jadi kompro.”

“Tapi jujur.”

“Jujur, Bu. Dari kecil juga.”

Ibuku mengangguk puas. Lalu menatapku.

“Lea. Sepatumu kenapa dia yang bawa?”

“Kaki saya sakit, Bu.”

“Oh.” Ibuku berdiri, merapikan kebayanya, lalu berjalan ke arah Bimo. Ia berhenti di depannya. Bimo berdiri sangat tegak, seperti menghadap atasan pada hari pertama kerja. Seperti saat ia bicara pada foto Ayah.

“Kamu Bimo,” kata Ibuku.

“Iya, Bu. Bimo Wibisena. Staf IT. Saya... saya biasanya cuma lewat, Bu, tapi...”

“Saya tahu.” Ibuku menepuk pipinya. Dua kali. Seperti menepuk pipi murid yang baru mendapat nilai bagus. “Bapaknya Lea pasti suka sama kamu. Dia juga dulu bawa sepatu saya.”

Lalu Ibuku berbalik ke Ibu Sri.

“Bu. Warungnya buka hari apa saja?”

“Setiap hari kecuali Senin, Bu.”

“Saya mampir hari Selasa.” Ibuku mengambil tas tangannya. “Saya mau belajar soto. Kunyit dibakar.”

“Saya tunggu, Bu. Gratis. Diskon...” Ibu Sri berhenti, melirik Bimo, lalu tersenyum lebar. “Diskon besan.”

Bimo menutup wajah dengan tangan yang tidak memegang sepatuku.

Aku tertawa sampai jas Mas Langit melorot dari bahuku. Bimo menangkapnya sebelum jatuh ke lantai marmer. Refleks. Selalu ke arahku.