← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Ten

Hujan di Puncak

POV: Bimo

Masalah sound system vila itu ternyata bukan masalah sound system.

Masalahnya adalah seseorang mencabut kabel utama mixer untuk mengisi daya ponsel. Seseorang itu adalah Gilang, yang sedang duduk di pojok aula dibungkus taplak meja motif kotak-kotak oleh Bu Ratmi, dan yang menolak mengaku sampai aku menemukan kabel ponselnya masih tertancap di colokan mixer.

“Gue butuh hiburan, Bim,” katanya dengan gigi gemeletuk. “Dingin. Gue sedih. Gue butuh nonton reels.”

Wi-Fi vila mati karena router-nya tersambung ke colokan yang sama dengan pemanas air. Aku memindahkannya, menyalakan ulang, dan menyambungkan cadangan dari hotspot ponselku. Laptop presentasi menolak tersambung ke proyektor vila karena adaptornya salah. Aku menukarnya dengan adaptor yang kubawa dari kos, yang selalu ada di tas pinggangku bersama tisu, obeng, dan karet gelang.

Pukul 13.52, Pak Dimas berdiri di depan kamera dengan senyum kaku dan kemeja batik, menyampaikan sambutan ulang tahun perusahaan kepada dewan komisaris. Siarannya jernih. Suaranya jernih. Tidak ada yang tahu bahwa lima belas menit sebelumnya aula ini gelap gulita dan Pak Dimas sempat berlatih pidato di depan cermin toilet sambil berbisik, “Saya tidak takut. Saya tidak takut.”

Saat siaran selesai, Pak Dimas menghampiriku. Ia menyalamiku dengan dua tangan.

“Terima kasih, Mas...” Ia menggantung kalimatnya lagi.

“Bimo, Pak,” kata suara di belakangku.

Kalea. Berdiri sambil memegang tablet, wajahnya sudah kembali datar.

“Bimo,” ulang Pak Dimas, mengangguk seperti sedang menghafal password. “Bimo. Terima kasih, Bimo.”

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, CEO-ku tahu namaku. Dan yang memberitahunya adalah orang yang di novel ditulis sebagai antagonis.

Aku tidak tahu harus merasa apa. Jadi aku hanya mengangguk dan cepat-cepat mundur ke pojok, di sebelah Gilang dan taplak mejanya.


Lomba tarik tambang dimulai pukul tiga sore, di lapangan rumput di belakang vila. Langit masih kelabu, rumputnya masih basah dari gerimis siang tadi.

Mbak Sisil mengatur pembagian tim dengan undian dari kotak tisu. Ia berdiri di tengah lapangan dengan kacamata merah dan peluit, membacakan nama-nama dengan nada orang yang sedang membacakan putusan pengadilan.

“Tim Merah! Pak Dimas, Tasya, Pak Herman, Mbak Rini, dan seterusnya!” Ia meniup peluit. “Tim Kuning! Bu Kalea, Pak Darto, Bu Ratmi, Gilang, dan...” Ia menatap kertas undian. Menatapku. Menatap kertas lagi. “...Mas Bimo yang flunya sudah sembuh secara ajaib.”

Seluruh lapangan menoleh ke arahku. Aku batuk. Batuk palsu, karena entah kenapa aku merasa harus konsisten.

“Surat keterangan ibunya sudah saya terima,” lanjut Mbak Sisil sambil mengangkat ponselnya. Di layar ada foto selembar kertas bergaris dengan tulisan tangan Ibu: Anak saya Bimo sudah sembuh. Tanda tangan: Bu Sri. Di bawahnya ada cap ungu bertuliskan SOTO BU SRI — ENAK, MURAH, HALAL.

Bu Ratmi tertawa sampai harus bersandar ke pohon.


Di novel, Kalina menyabotase tim Tania dengan memotong tali diam-diam.

Di dunia nyata, sebelum lomba dimulai, aku melihat Kalea berjalan ke sisi lapangan Tim Merah. Tasya sedang berjongkok, berusaha mengikat tali sepatunya yang terlepas dengan tangan yang gemetar kedinginan. Kalea berhenti di depannya. Tanpa bicara, ia berlutut di rumput basah, mengambil alih tali sepatu itu, dan mengikatnya dengan simpul ganda yang rapi.

Tasya menatapnya dengan mulut terbuka.

“Simpul ganda,” kata Kalea datar, berdiri dan menepuk lututnya. “Supaya tidak lepas waktu ditarik. Kalau tim kalian jatuh gara-gara tali sepatu, Mbak Sisil akan minta laporan insiden tiga rangkap.”

Lalu ia berjalan kembali ke Tim Kuning, ke tempatku berdiri, dan menatap lurus ke depan seolah tidak terjadi apa-apa.

“Itu sabotase?” bisikku.

“Itu efisiensi.”

“Mbak baik banget.”

“Saya efisien.”

“Telinga Mbak merah.”

“Dingin.”

Aku tidak membantah. Tapi aku tidak berhenti memandangi telinganya sampai Mbak Sisil meniup peluit.


Tim Kuning ternyata adalah tim paling kacau dalam sejarah outing Haryanto Group.

Pak Darto, sebagai jangkar, mengikatkan ujung tali di pinggangnya sambil berteriak “SIAGA!” setiap tiga detik. Bu Ratmi berdiri di posisi kedua dari belakang dan menolak menarik terlalu keras karena “nanti bakwannya jatuh dari kantong”. Gilang masih memakai taplak meja sebagai jubah dan terus berteriak “KAPAL KABEL! KAPAL KABEL!” yang membuat separuh Tim Merah kebingungan dan separuh lagi mulai ikut meneriakkannya.

Kalea berdiri di depanku. Persis di depanku, karena Mbak Sisil mengatur barisan berdasarkan tinggi badan. Kuncir rambutnya bergoyang tepat di depan hidungku. Setiap kali ia menarik tali, punggungnya mundur dan hampir menyentuh dadaku. Aroma melati bercampur rumput basah.

“Tarik!” seru Mbak Sisil.

Kami menarik.

Kalea menarik dengan kesungguhan seseorang yang sedang menarik laporan keuangan dari mulut buaya. Rahangnya mengeras, kakinya tertanam di rumput, kets putihnya sudah tidak putih lagi. Ia sama sekali tidak terlihat seperti sekretaris direksi. Ia terlihat seperti anak SD yang tidak mau kalah di lomba tujuh belasan.

Aku menarik di belakangnya dan diam-diam tertawa.

“Jangan ketawa,” desisnya tanpa menoleh.

“Aku nggak ketawa.”

“Saya bisa dengar kamu ketawa.”

“Itu... napas semangat.”

Di ujung lain, Tim Merah mulai menang. Pak Dimas, yang ternyata sangat kuat untuk ukuran pria yang takut ketinggian, menarik dengan wajah serius. Tasya di sebelahnya berteriak menyemangati, dan setiap kali Tasya berteriak, Pak Dimas menarik lebih keras.

Tali bergerak ke arah mereka. Satu jengkal. Dua jengkal.

“SIAGA!” teriak Pak Darto. “TAHAN!”

“BAKWANKU!” teriak Bu Ratmi.

“KAPAL KABEL!” teriak Gilang.

Lalu kaki Kalea tergelincir.

Rumput basah, kets yang licin karena lumpur, tarikan dari depan yang terlalu kuat. Ia terjungkal ke belakang, dan satu-satunya yang ada di belakangnya adalah aku.

Aku menangkapnya. Kedua lenganku melingkar di bahunya, refleks, sebelum otakku sempat bertanya apakah ini melanggar aturan nomor berapa. Tapi aku juga kehilangan keseimbangan, dan kami berdua jatuh ke belakang. Menimpa Gilang, yang menimpa Bu Ratmi, yang menimpa Pak Darto, yang tetap berteriak “SIAGA!” sampai pantatnya mendarat di kubangan lumpur.

Tim Kuning roboh seperti kartu domino.

Peluit Mbak Sisil berbunyi panjang. Tim Merah bersorak.

Aku terbaring telentang di rumput basah, dengan langit kelabu di atasku dan Kalea Prameswari di atasku, punggungnya menempel di dadaku, kepalanya bersandar di bahuku, kuncirnya menggelitik daguku.

Kami diam.

Lalu aku merasakan bahunya bergetar.

Awalnya kukira ia menangis. Atau marah. Aku panik dan mulai menyusun permintaan maaf di kepalaku. Lalu aku mendengar suaranya, dan itu bukan tangis.

Ia tertawa. Tertawa sampai napasnya tersengal, tertawa dengan kepala masih di bahuku dan seluruh tubuhnya berguncang, tertawa seperti orang yang sudah lama sekali tidak tertawa dan baru saja ingat caranya.

“Kita,” katanya terengah, “kalah.”

“Iya.”

“Kalah total.”

“Iya.”

“Kamu jatuh.”

“Mbak yang jatuh duluan.”

“Kamu yang nangkap.”

“Refleks.”

Ia memiringkan kepala sedikit sehingga bisa melihat wajahku dari sudut bawah. Ada lumpur di pipinya. Ada rumput di rambutnya. Matanya basah karena tertawa, berkilat, dan sangat dekat.

“Refleksmu,” katanya, “selalu ke arah saya.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku juga tidak bisa bernapas. Di bawah kami, Gilang mengerang, “Kapal... kabel... karam...”

Lalu hujan turun.


Hujan di Puncak tidak pernah datang pelan-pelan. Ia jatuh sekaligus, seperti seseorang membalikkan ember raksasa di atas lapangan. Semua orang menjerit dan berlarian ke aula. Bu Ratmi menarik Gilang. Pak Darto berlari sambil memegangi pantatnya yang berlumpur.

Dan Pak Dimas, persis seperti di novel, membuka payung lipat hitamnya dan memayungi Tasya.

Persis seperti di novel, sampai angin bertiup.

Payung itu terbalik. Rangkanya melengkung ke atas seperti bunga yang mekar terbalik, dan dalam satu detik Pak Dimas dan Tasya basah kuyup dari kepala sampai kaki. Mereka berdiri berhadapan di tengah hujan, memegang payung terbalik, saling menatap.

Lalu Tasya tertawa. Dan Pak Dimas, CEO perusahaan yang tidak pernah tertawa di rapat mana pun, ikut tertawa. Mereka berlari ke aula bersama, Pak Dimas masih memegang payung rusak itu tinggi-tinggi, seperti obor kemenangan.

Itu jauh lebih bagus dari adegan di novel.

Aku dan Kalea tidak sempat ke aula. Kami terlalu jauh, di ujung lapangan, dan tanpa berpikir kami berlari ke tempat berteduh terdekat: sebuah gazebo kayu kecil di pinggir kebun teh, beratap ijuk, dengan bangku panjang dan pemandangan kabut yang turun dari bukit.

Kami tiba dengan napas terengah. Basah. Berlumpur.

Kalea menggigil.

Aku melepas jaketku. Jaket parasut biru tua, yang bagian dalamnya masih agak kering karena aku memakainya sepanjang perjalanan dari Bekasi. Aku menyampirkannya di bahunya tanpa bertanya.

Ia menatap jaket itu. Lalu menatapku. Kemejaku sudah basah, menempel di kulit.

“Kamu kedinginan,” katanya.

“Aku sering di ruang server. Delapan belas derajat. Aku kebal.”

Ia menatapku dengan alis terangkat. Lalu, tanpa bicara, ia membuka jaket itu lebar-lebar, menariknya ke atas kepala, dan mengangkatnya sehingga jaket itu menaungi kepalanya dan kepalaku sekaligus. Seperti tenda kecil. Seperti payung yang terbuat dari parasut biru tua.

Kami duduk berdampingan di bangku gazebo, di bawah satu jaket, bahu menempel bahu.

“Kamu cuma lewat, kan?” tanyanya pelan.

Aku menoleh. Ia sedang menatap kabut di depan kami, tapi sudut bibirnya bergerak. Menggoda. Mengulang kalimatku sendiri dengan nada yang membuat kalimat itu terdengar sangat, sangat bodoh.

“Iya,” jawabku. “Lewat. Ke Puncak. Bawa soto.”

Ia tertawa kecil. Lalu ia menoleh ke arahku, dan wajahnya tiba-tiba sangat dekat di bawah jaket. Kami terlalu dekat untuk bisa saling melihat dengan jelas.

“Ada lumpur,” katanya.

“Di mana?”

“Di sini.”

Ia mengangkat tangan dan mengusap pipiku dengan ibu jarinya. Pelan, dari tulang pipi ke arah rahang. Ibu jarinya hangat meski hujan dingin. Aku membeku. Seluruh tubuhku membeku, kecuali jantung yang berdetak seperti kipas angin kos di kecepatan tiga.

“Diam,” katanya.

“Aku diam.”

“Kamu kaku. Kayak printer macet.”

“Itu... respons sistem.”

Ibu jarinya berhenti di sudut rahangku. Ia tidak langsung menarik tangannya. Ia menatapku, dan di bawah jaket parasut biru, dengan suara hujan di atap ijuk dan kabut di kebun teh, aku melihat sesuatu di matanya yang belum pernah kulihat. Sesuatu yang lembut, dan malu, dan sangat berani sekaligus.

“Sudah bersih,” bisiknya.

Lalu ia menarik tangannya, dan aku bisa bernapas lagi. Hampir.

“Mbak juga ada lumpur,” kataku. Suaraku serak.

“Di mana?”

“Di mana-mana.”

Ia menatap tubuhnya sendiri: kardigan berlumpur, jins berlumpur, kets yang sudah jadi cokelat seluruhnya. Lalu ia tertawa lagi dan menyandarkan kepalanya ke bahuku. Hanya sebentar, satu detik, seperti tidak sengaja. Lalu ia menegakkan kepala lagi.

Satu detik itu terasa lebih lama dari seluruh outing.


Hujan reda pukul lima. Mbak Sisil mengumpulkan semua orang di depan vila untuk foto bersama. “Wajib,” katanya, meniup peluit. “Untuk arsip HR.”

Aku sudah setengah jalan menuju tempat fotografer, berniat menawarkan diri memegang kamera seperti biasa, ketika Bu Ratmi menangkap lenganku.

“Mas Bimo masuk foto,” katanya.

“Aku yang motret aja, Bu.”

“Fotografernya sudah ada, Mas. Itu dari vendor. Mas masuk.”

Aku berdiri di barisan paling belakang, tepat di belakang Pak Darto yang badannya paling besar. Kalea berdiri di depan Pak Darto, di baris kedua. Tepat sebelum fotografer menghitung, gerimis kecil turun lagi. Kalea mendongak dan mengerutkan dahi.

Aku membuka payung transparan miliknya, yang sejak tadi kubawa. Aku tidak keluar dari balik punggung Pak Darto. Aku hanya menjulurkan tanganku melewati bahunya dan memegang payung itu di atas kepala Kalea.

Klik.

Malamnya, foto itu dikirim Mbak Sisil ke grup kantor. Enam puluh tiga orang berlumpur, tersenyum di depan vila. Di tengahnya ada Kalea, menoleh ke atas ke arah payung transparan yang entah dari mana melayang di atas kepalanya. Dan dari balik bahu Pak Darto, satu tangan memegang gagang payung itu.

Hanya tangan. Tanpa wajah. Tanpa nama.

Di grup Tim Hore Kapal Kabel, Gilang mengirim foto itu dengan lingkaran merah besar di sekitar tanganku.

Gilang: INI. INI DIA. INI BAB 29.

Pak Darto: Mohon maaf badan saya terlalu besar sehingga menghalangi Mas Bimo. Siaga.

Bu Ratmi: Tangan aja udah ganteng 😌

Di kamar kos, aku membuka daftar Aturan Figuran dan membaca nomor satu: Jangan berdiri di lorong saat ada adegan.

Gazebo bukan lorong. Lapangan rumput bukan lorong. Tapi aku tahu aturan itu bukan soal lorong. Aturan itu soal tetap berada di pinggir, di luar halaman.

Hari ini aku jatuh di tengah lapangan, di bawah seseorang yang tertawa sampai menangis. Aku duduk di bawah satu jaket dengannya. Aku membiarkannya mengusap lumpur dari pipiku.

Aku mencoret nomor satu.

Lalu aku menatap nomor tujuh, Jangan jatuh cinta pada antagonis, sampai layar ponselku meredup sendiri.

Aku tidak mencoretnya. Belum.

Tapi aku juga tidak bisa berhenti merasakan ibu jari hangat di pipiku, bahkan setelah mencuci muka tiga kali.