← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Seventeen

Kamera

POV: Bimo

Fotografer resmi pertemuan mitra keracunan sate lilit.

Itu kabar pertama yang kudengar pukul 07.30, saat aku masih menatap jaket parasut basah yang tergantung di kamar mandi hotel dan memikirkan kata sebentar lagi.

Kalea yang menyampaikannya, lewat telepon kamar. Suaranya sudah kembali ke mode sekretaris direksi. Rendah, cepat, efisien. Tapi di ujung setiap kalimat ada jeda kecil yang sebelumnya tidak ada, seperti ia juga sedang memikirkan sesuatu yang bukan jadwal.

“Vendor fotografer tidak bisa datang. Pertemuan mitra mulai jam sembilan. Pak Dimas butuh dokumentasi untuk laporan ke komisaris. Hotel tidak punya fotografer cadangan.”

“Oke.”

“Kamu bawa kamera?”

Aku menatap tas ranselku di pojok kamar. Kamera mirrorless bekas, yang kubawa karena Ibu bilang, “Siapa tahu ada yang perlu difoto.” Ibu selalu benar soal hal-hal seperti ini.

“Bawa.”

“Kamu bisa motret?”

“Aku tukang foto keluarga sejak umur dua puluh empat.”

Jeda. “Itu jawaban yang aneh, tapi saya terima.” Jeda lagi, lebih panjang. “Bimo.”

“Ya?”

“Bajumu sudah kering?”

Aku menatap jaket di kamar mandi, yang masih meneteskan air laut ke lantai. “Belum.”

“Saya titip hair dryer ke resepsionis. Ambil di bawah.” Lalu, lebih pelan: “Jangan masuk angin. Saya tidak mau foto mitra jadi buram karena tukang fotonya bersin.”

Ia menutup telepon sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih.


Seharian itu, aku memotret.

Aku memotret Pak Dimas berjabat tangan dengan direktur perusahaan logistik dari Surabaya. Aku memotret Tasya mempresentasikan slide Vietnam di depan dua puluh orang, dengan suara yang hanya bergetar di kalimat pertama. Aku memotret meja-meja kopi, papan nama, name tag, kue-kue kecil berbentuk bunga kamboja. Aku memotret tim kemitraan yang saling menunjuk grafik. Aku memotret Pak Dimas lagi, kali ini sedang menatap Tasya dari seberang ruangan dengan ekspresi seorang pria yang baru saja melihat matahari terbit untuk pertama kalinya.

Aku tidak menyerahkan foto itu untuk laporan komisaris. Aku menyimpannya di folder terpisah. Suatu hari, mungkin, seseorang akan membutuhkannya.

Aku memotret Kalea berkali-kali.

Bukan karena sengaja. Karena ia ada di mana-mana. Di samping Pak Dimas, membisikkan nama mitra yang baru datang. Di belakang panggung, memegang clicker presentasi. Di meja registrasi, membetulkan name tag seorang direktur yang terbalik. Blazer krem, rambut digerai, lipstik merah bata. Sekretaris direksi yang sempurna.

Setiap kali aku mengarahkan lensa ke arahnya, ia selalu tahu. Ia tidak pernah menoleh ke kamera, tapi bahunya sedikit menegang dan dagunya sedikit terangkat, seperti seseorang yang sadar sedang ditatap.

Sekali, pukul sebelas, saat aku memotret meja registrasi, ia menoleh tepat ke lensa.

Lalu, dengan wajah datar yang sempurna, ia mengedipkan sebelah mata.

Aku menekan tombol rana karena kaget. Kamera berbunyi klik-klik-klik-klik dalam mode burst, menangkap dua belas foto berturut-turut dari kedipan itu.

Aku menurunkan kamera. Kalea sudah kembali menatap daftar tamu, seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku melihat layar kamera. Dua belas foto. Kedipan itu dari awal sampai akhir, frame demi frame, seperti animasi. Di frame kesembilan, sudut bibirnya sudah mulai tersenyum.

Aku tidak menghapus satu pun.


Pukul satu siang, ponselku bergetar. Rekaman suara dari Gilang. Empat puluh tiga detik.

“Bim. Bim, gue tahu lo sibuk. Gue cuma mau ngingetin. Pie susu. Yang rasa original. Bukan cokelat, bukan keju, ORIGINAL. Gue udah nunggu ini dari dua minggu lalu. Bu Ratmi juga nitip. Dia mau yang rasa cokelat. Pak Darto nitip juga, tapi dia malu bilang, jadi gue yang bilang: Pak Darto mau kacang Disco. Satu kilo. Untuk istrinya. Dan Bim, misi nomor dua. FOTO BERDUA DI PANTAI. Kalau lo pulang nggak bawa foto, gue akan...” Rekaman terputus. Lalu rekaman kedua, tiga detik: “...nangis.”

Lalu satu pesan teks:

Gilang: Gue denger dari Tasya kalian kena ombak tadi pagi. KENA OMBAK BARENG. Itu lebih dari misi Bim. Itu takdir.

Aku: Kami kena ombak karena duduk terlalu dekat ke laut. Itu bukan takdir. Itu pasang naik.

Gilang: Pasang naik itu takdir laut, Bim.

Gilang: Dan pie susu itu takdir gue. ORIGINAL.

Aku menatap pesan itu. Tasya ternyata anggota rahasia grup Tim Hore Kapal Kabel. Atau setidaknya, Tasya dan Gilang punya saluran komunikasi rahasia. Aku tidak tahu mana yang lebih mengkhawatirkan.


Sore harinya, ada makan malam tim di Jimbaran. Meja di atas pasir, ikan bakar, lampu minyak, dan matahari yang turun pelan-pelan ke laut.

Aku masih memegang kamera. Kebiasaan. Aku memotret ikan bakar, lampu minyak, gelombang yang berkilau oranye. Aku memotret Pak Dimas yang mencoba membuka kepiting dengan pisau steak dan gagal total, lalu Tasya yang mengambil kepiting itu darinya dan membukanya dengan tangan kosong dalam tiga detik. Aku memotret wajah Pak Dimas yang menatap Tasya membuka kepiting seperti menatap keajaiban dunia.

Aku memotret matahari terbenam. Merah, lalu oranye, lalu emas.

Lalu seseorang mengambil kamera dari tanganku.

“Sudah,” kata Kalea.

Ia berdiri di depanku. Blazernya sudah dilepas, diganti kardigan tipis warna krem. Rambutnya dikuncir tinggi. Ia memegang kameraku dengan dua tangan, hati-hati, seperti memegang bayi.

“Sudah apa?”

“Sudah motretnya.” Ia memutar-mutar kamera itu, mencari tombol. “Kamu sudah motret dari pagi. Tiga ratus foto. Saya hitung.”

“Mbak hitung?”

“Bunyi rananya keras.” Ia menemukan layar dan mulai menggulir foto-foto. “Kamu motret semua orang. Pak Dimas. Tasya. Mitra Surabaya. Kepiting.” Ia menggulir lebih jauh. Berhenti. Wajahnya berubah. “Kamu motret saya mengedip dua belas kali.”

“Itu mode burst. Nggak sengaja.”

“Hm.” Ia terus menggulir. Lalu lebih lambat. Lalu berhenti lagi. Ia menatap layar lama sekali, dengan dahi sedikit berkerut. “Bimo.”

“Ya?”

“Kamu nggak ada di satu pun.”

“Aku yang motret.”

“Tiga ratus foto.” Ia mendongak. “Kamu nggak ada di satu pun.”

“Itu wajar. Fotografer nggak ada di fotonya.”

Ia diam, menatapku. Matanya hitam dan tajam, tapi ada sesuatu di sana yang membuatku ingin melihat ke arah pasir. Sesuatu seperti seseorang yang sedang memperhatikan cukup lama, dan menemukan sesuatu.

“Foto outing Puncak,” katanya pelan. “Kamu cuma kelihatan tangannya.”

“Badan Pak Darto besar.”

“Foto ulang tahun ibumu nanti. Siapa yang motret?”

Aku membuka mulut, lalu menutupnya. Ia tahu soal ulang tahun Ibu. Aku pernah menyebutnya sekali, di tangga darurat, sambil lalu.

“Aku,” kataku.

“Foto wisuda kakakmu?”

“Aku.”

“Foto lebaran?”

“Aku.”

“Foto terakhir yang ada wajahmu, kapan?”

Aku berpikir. Lama. Ombak memecah di belakang kami. Lampu minyak berkedip.

“KTP,” kataku akhirnya. “Tahun 2020.”

Kalea menatapku. Lalu ia mengangkat kamera.

“Berdiri di situ.”

“Hah?”

“Di situ. Di depan laut.”

“Mbak, aku nggak...”

“Itu bukan permintaan.” Ia mundur tiga langkah, mengarahkan lensa ke arahku. “Itu instruksi sekretaris direksi.”

Aku berdiri di depan laut, dengan matahari terbenam di belakangku, dan tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku. Aku menyilangkan tangan di dada. Lalu menurunkannya. Lalu memasukkannya ke saku. Lalu mengeluarkannya lagi.

“Kamu kaku,” kata Kalea dari balik kamera.

“Aku nggak biasa.”

“Senyum.”

Aku tersenyum.

Kalea menurunkan kamera dan menatapku dengan alis terangkat. “Itu bukan senyum. Itu muka orang nunggu server restart.”

Di meja sebelah, Tasya tersedak es kelapa. Pak Dimas menepuk punggungnya dengan kecepatan dan kepanikan seorang pria yang baru membaca artikel pertolongan pertama, lalu menuangkan air ke gelasnya sampai tumpah lagi.

“Coba lagi,” kata Kalea.

Aku mencoba lagi. Kalea menggeleng. “Sekarang mukamu kayak foto KTP.”

“Itu satu-satunya pengalamanku.”

“Pikirkan sesuatu yang lucu.”

Aku memikirkan sesuatu yang lucu. Pak Dimas jatuh di pasir. Botol minum yang menggelinding ke laut. Aku mencoba tersenyum.

“Sekarang kamu kayak orang nahan bersin.”

“Mbak, ini susah.”

Kalea menurunkan kamera lagi. Ia menatapku sebentar. Lalu ia berjalan mendekat, berhenti satu langkah di depanku, dan dengan wajah yang sangat serius, sangat datar, ia mengangkat dua jari dan menekan kedua sudut bibirku ke atas.

Aku membeku.

“Begini,” katanya. Jarinya masih di sudut bibirku. “Ini senyum.”

Wajahnya terlalu dekat. Matahari terbenam membuat kulitnya berwarna emas. Bintik cokelat kecil di bawah mata kirinya. Bibirnya yang menahan tawa.

“Mbak,” kataku, dengan sudut bibir masih didorong ke atas oleh dua jarinya, sehingga suaraku terdengar sangat aneh, “aku kayak badut.”

Ia tidak bisa menahannya. Ia tertawa, keras, dengan kepala terlempar ke belakang. Jari-jarinya terlepas dari wajahku. Dan aku juga tertawa, karena tawanya selalu menular, karena aku baru saja bilang aku kayak badut dengan wajah yang ditekan seperti badut, karena seluruh situasinya sangat konyol.

Klik.

Aku berhenti tertawa. Kalea sudah mundur tiga langkah, kamera di depan wajahnya. Ia menurunkannya pelan-pelan, menatap layar.

Lalu ia berjalan mendekat dan memutar kamera supaya aku bisa melihat.

Di layar, seorang laki-laki berdiri di depan laut, dengan matahari terbenam di belakangnya, rambut berantakan karena angin, kemeja sedikit kusut. Ia tertawa dengan mata menyipit dan kepala sedikit miring, seperti seseorang yang baru saja mendengar lelucon terbaik di dunia.

Aku tidak mengenali orang itu.

Lalu aku mengenalinya.

“Itu aku,” kataku.

“Itu kamu.”

“Aku nggak tahu mukaku kayak gitu.”

“Kayak gimana?”

“Kayak...” Aku menatap layar. Laki-laki itu terlihat bahagia. Terlihat seperti seseorang yang ada di dalam foto, bukan di luarnya. “Kayak orang yang ada di cerita.”

Kalea tidak menjawab. Ia hanya menatap foto itu bersamaku, bahunya menempel di lenganku. Lalu, sangat pelan:

“Kamu memang ada di cerita, Bimo.”

Ada sesuatu di cara ia mengatakannya. Sesuatu yang berat, seperti kalimat yang ditulis ulang empat belas kali sebelum dikirim. Aku menoleh, tapi ia sudah menatap laut.

“Mas Bimo! Bu Kalea!”

Tasya berlari ke arah kami dengan ponsel di tangan. Di belakangnya, Pak Dimas berjalan dengan ekspresi seorang komplotan.

“Foto berdua!” kata Tasya. “Mumpung mataharinya masih ada!”

“Kami nggak...” Kalea mulai.

“Ini perintah,” kata Pak Dimas tiba-tiba, dengan suara CEO-nya. Lalu ia tampak bingung sendiri dengan keberaniannya, berdeham, dan menambahkan: “Untuk... arsip. Dokumentasi tim.”

Kalea menatap Pak Dimas. Pak Dimas menatap laut. Tasya mengangkat ponsel.

Kalea dan aku berdiri berdampingan di depan laut. Kaku. Berjarak satu jengkal.

“Lebih dekat!” seru Tasya.

Kami bergeser setengah jengkal.

“Lebih dekat lagi, Bu! Mas!”

Kalea menghela napas, dan dengan gerakan yang sangat efisien, menggandeng lenganku dan menarikku sampai bahu kami bersentuhan.

“Begini cukup?” tanyanya pada Tasya, dengan nada sekretaris direksi.

“Sempurna, Bu!”

Klik.


Malamnya, di kamar hotel, aku memindahkan foto-foto ke laptop.

Tiga ratus dua belas foto. Tiga ratus sebelas tentang orang lain. Satu tentang aku.

Aku menatap foto itu lama sekali. Laki-laki yang tertawa di depan laut.

Lalu ponselku bergetar. Tasya mengirim foto dari ponselnya, ke nomorku dan, rupanya, juga ke grup Tim Hore Kapal Kabel. Aku tidak ingat kapan ia dimasukkan ke grup itu.

Dua orang berdiri di depan matahari terbenam. Kalea menggandeng lenganku. Wajahnya datar, sekretaris direksi yang sempurna. Wajahku seperti orang menahan bersin. Tapi kalau diperbesar, dan aku memperbesarnya, sudut bibir Kalea sedikit naik. Dan jari-jarinya, yang melingkar di lenganku, menggenggam sedikit lebih erat dari yang diperlukan untuk dokumentasi tim.

Di grup, Gilang mengirim satu pesan:

Gilang: MISI DUA. 😭😭😭 GUE MAU CETAK INI UKURAN A3 DAN TEMPEL DI PAPAN PANTRY.

Pak Darto: Siaga. Saya izin jadikan foto profil WA.

Bu Ratmi: Bandar resmi bangkrut lagi.

Aku membuka daftar Aturan Figuran.

5. Jangan pernah masuk foto.

Aku menatap nomor lima. Lalu aku membuka foto laki-laki yang tertawa di depan laut. Lalu kembali ke nomor lima.

Aku mencoretnya.

Lalu, sebelum tidur, aku memindahkan foto Tasya ke folder baru di laptop. Namanya kubuat sederhana, supaya tidak ada yang curiga kalau suatu hari laptopku diperbaiki orang lain:

Arsip Dokumentasi Tim.

Satu-satunya isinya adalah satu foto. Dan di bawahnya, dua belas foto seseorang yang mengedipkan mata.