← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Thirty Four

Wibisena Bersatu

POV: Bimo

Yang memulai semuanya adalah Embun.

Sabtu pagi, saat aku sedang menulis di ruang server (menulis, menghapus, menulis lagi, menghapus lagi, sampai Gilang bertanya apakah aku sedang membuat virus), grup Wibisena Bersatu berbunyi.

Embun: Semua. Besok Minggu kumpul di warung. Jam 4 sore. WAJIB.

Mbak Awan: Ada apa Bun? Kamu hamil??

Embun: MBAK

Embun: Bukan. Ini soal Mas Bimo.

Grup itu diam selama satu menit penuh. Grup Wibisena Bersatu tidak pernah diam selama satu menit penuh. Grup itu bahkan tidak diam saat Ibu masuk rumah sakit karena tipes dua tahun lalu, karena Mbak Awan terus mengirim foto bubur dan Bayu terus bertanya password Wi-Fi rumah sakit.

Bayu: Mas Bimo kenapa? Sakit?

Embun: Datang aja. Mas Langit video call.

Mas Langit: Aku ada rapat jam 4.

Embun: MAS LANGIT. VIDEO CALL. WAJIB.

Mas Langit: Oke oke.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Ibu mengetik sesuatu di grup. Bukan pesan suara. Bukan stiker. Ketikan, dengan huruf yang salah-salah karena Ibu mengetik dengan satu jari.

Ibu: Bim kmu knpa nak

Aku menatap pesan itu lama sekali.

Aku: Nggak apa-apa, Bu. Besok aku pulang.


Minggu sore, pukul empat, warung Soto Bu Sri ditutup untuk umum. Lagi. Untuk kedua kalinya dalam sebulan.

Tidak ada balon sage. Tidak ada kue tart. Hanya meja-meja kayu yang disusun jadi satu meja panjang, sepanci soto, dan lima orang yang duduk mengelilinginya dengan wajah tegang, seperti rapat keluarga sebelum pembagian warisan. Ponsel Mbak Awan disandarkan ke botol kecap di ujung meja, dengan wajah Mas Langit di layar, tersendat-sendat karena sinyal.

“Halo? Halo? Kok gambarnya beku?” Mas Langit membeku di layar dengan mulut terbuka.

“Mas Langit, Mas yang beku,” kata Bayu.

“Halo?”

“MAS YANG BEKU.”

Embun berdiri di ujung meja. Ia memakai kemeja sage dari ulang tahun Ibu, yang belum dikembalikan ke lemari. Ia menarik napas dalam-dalam.

“Aku mau ngomong sesuatu,” katanya. “Tapi sebenarnya ini bukan omonganku. Ini omongan Mas Bimo. Aku cuma yang ngumpulin.”

Semua orang menoleh padaku.

Aku duduk di bangku kayu, di antara Ibu dan Bayu. Lima wajah menatapku. Enam, kalau Mas Langit di layar ponsel dihitung, walaupun ia masih beku dengan mulut terbuka.

Aku tidak terbiasa ditatap keluargaku. Di keluarga ini, aku yang menatap mereka. Lewat lensa kamera.

“Mas,” bisik Embun. “Bilang yang kemarin.”


Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Jadi aku mulai dari dinding.

Aku berdiri dan berjalan ke dinding warung, ke deretan foto keluarga dalam bingkai murah. Lebaran 2019. Wisuda Mbak Awan. Pernikahan Mas Langit. Ulang tahun Embun ke-17. Ulang tahun Ibu ke-60, yang baru ditambahkan dua minggu lalu, dengan bingkai baru berwarna emas.

“Aku nggak ada di satu pun,” kataku.

Hening di warung. Hanya bunyi soto yang mendidih pelan di panci.

“Aku yang motret,” lanjutku. “Semuanya. Sejak aku punya kamera. Aku nggak keberatan. Aku suka motret. Tapi...”

Aku berhenti. Aku memikirkan pos satpam. Bab 1. Pak Dimas yang bilang kalian berdua sama-sama tukang foto. Kalea di Jimbaran, menekan sudut bibirku dengan dua jari.

“Tapi aku selalu merasa kayak figuran,” kataku. “Di rumah ini. Di keluarga ini. Kayak orang yang lewat. Yang ngegantiin gas, ngebenerin kipas, angkat karung beras. Nggak ada yang nyuruh, nggak ada yang ngelarang. Kalau aku nggak ada, mungkin nggak ada yang sadar sampai gasnya bocor.”

Aku menatap foto-foto itu.

“Ulang tahunku kemarin, nggak ada yang ingat. Itu nggak apa-apa. Itu udah biasa. Tapi Embun tanya ultahku kapan, dan aku sadar...” Suaraku goyah. “Aku sadar aku udah lama banget nggak berharap ada yang ingat.”

Aku berbalik.

Ibu menangis.

Bukan tangisan pelan. Ibu menangis seperti panci soto yang airnya meluap, dengan wajah yang berkerut dan bahu yang berguncang. Ibu yang tidak pernah menangis di depan anak-anaknya, bahkan di pemakaman Bapak.

Mbak Awan menangis. Embun menangis, lagi, karena ia sudah menangis sejak kemarin. Bayu tidak menangis, tapi ia menatap meja dengan mata merah dan rahang yang mengeras.

Di layar ponsel, Mas Langit akhirnya tidak beku. Wajahnya, yang tersendat-sendat, terlihat sangat pucat.

“Bim,” katanya, suaranya terputus-putus. “Aku... aku nggak... aku lupa kamu anak ketiga. Waktu itu di grup. Aku lupa. Aku...”

Lalu sinyalnya putus lagi, dan Mas Langit membeku dengan wajah yang sedang menangis.


Lima menit berikutnya, keluarga Wibisena ribut.

“INI SALAH MAS LANGIT!” teriak Mbak Awan, menunjuk ponsel. “Dia anak sulung! Dia yang harusnya ingat!”

“Mas Langit beku, Mbak,” kata Bayu.

“Aku nggak peduli dia beku!”

“Ini salah Bapak,” kata Bayu. “Bapak yang namain Mas Bimo nggak pakai nama alam. Langit, Awan, Bayu, Embun. Terus Bimo. Dari kecil Mas Bimo udah dibeda-bedain.”

“Bayu! Jangan salahin almarhum!”

“Aku nggak nyalahin! Aku cuma bilang!”

“Ini salah aku,” kata Embun di sela tangis. “Aku yang paling sering minta difoto. Aku yang paling sering minta Mas Bimo pesenin kue. Aku nggak pernah sekali pun nawarin gantian motret.”

“Ini salah semua orang!” teriak Mbak Awan.

“BERHENTI.”

Semua orang diam.

Ibu yang berteriak. Ibu, dengan wajah basah, berdiri dari bangku kayu dengan sendok sayur di tangan, karena Ibu tidak pernah lepas dari sendok sayur bahkan di saat krisis.

“Nggak ada yang salah,” kata Ibu. Suaranya bergetar. “Atau semua salah. Sama aja.”

Ia menatapku.

“Bim,” katanya. “Kamu tahu kenapa namamu Bimo?”

“Bapak lagi nonton wayang, Bu. Waktu ngisi akta.”

Ibu menggeleng pelan.

“Itu cerita Ibu, Bim. Ibu yang bikin. Waktu kamu kecil, kamu tanya kenapa nama kamu beda sendiri. Kamu nangis karena Bayu ngejek kamu. Ibu panik, Ibu bikin cerita lucu. Ibu bilang Bapak lagi nonton wayang. Kamu ketawa. Ibu kira itu cerita yang bagus.” Ibu menutup mata. “Ibu lupa ngebenerin.”

Aku menatap Ibu.

“Bapak sengaja namain kamu Bima,” kata Ibu pelan. “Dari wayang, memang. Tapi bukan karena lagi nonton. Bapak pilih Bima karena Bima itu yang paling kuat di antara Pandawa. Yang selalu jaga saudara-saudaranya. Yang nggak pernah ngomong banyak, tapi selalu ada waktu saudaranya dalam bahaya.”

Warung sangat hening. Soto berhenti mendidih karena Bayu, tanpa sadar, sudah mematikan kompor.

“Waktu ngurus akta di kelurahan,” lanjut Ibu, “petugasnya salah ketik. Bima jadi Bimo. Bapak lihat aktanya, Bapak ketawa. Bapak bilang, ‘Nggak apa-apa. Bimo juga bagus. Lebih lembut. Bima yang lembut.’” Ibu tersenyum di sela tangis. “Bapak nggak mau ganti. Katanya kamu udah kelihatan lembut dari bayi.”

Aku tidak bisa bicara.

Dua puluh delapan tahun. Dua puluh delapan tahun aku percaya namaku satu-satunya yang tidak punya arti. Bahwa aku figuran sejak akta kelahiran. Bahwa Bapak terlalu mengantuk untuk peduli.

Dan ternyata Bapak memilih namaku dengan sengaja. Yang paling kuat. Yang selalu jaga saudara-saudaranya.

“Kamu nggak ada di foto,” kata Ibu, “karena kamu yang megang kamera. Ibu kira kamu suka. Ibu nggak pernah nanya.” Ibu berjalan ke arahku dan memegang wajahku dengan dua tangan yang bau serai. “Maafin Ibu nggak pernah nanya, Bim.”


Lalu Mbak Awan berdiri.

Ia tidak bilang apa-apa. Ia berjalan ke kamar belakang rumah, kamar tempat Ibu menyimpan barang-barang lama, dan kembali dengan setumpuk album foto. Album-album lama, sampulnya plastik bermotif bunga yang sudah pudar, dengan foto-foto yang dicetak di studio foto dekat pasar.

Ia meletakkan album-album itu di meja dan mulai membalik halaman dengan cepat, seperti mencari sesuatu.

“Mbak, ngapain?” tanya Bayu.

“Diam.”

Embun ikut membuka album. Lalu Bayu. Lalu Ibu. Mereka membalik halaman demi halaman. Foto-foto pudar dengan tanggal oranye di pojok bawah. Lebaran 1999. Liburan ke Pangandaran 2001. Ulang tahun Mas Langit 2003.

“INI!”

Mbak Awan mengangkat satu album dan memutarnya ke arahku.

Foto kecil, empat kali enam, sedikit kabur. Seorang anak laki-laki umur lima atau enam tahun, duduk di atas pundak seorang laki-laki dewasa, di depan sebuah warung soto yang masih baru, yang catnya masih biru cerah. Anak itu tertawa dengan mata menyipit dan kepala miring. Laki-laki dewasa itu tidak terlihat wajahnya, karena ia sedang menengadah, menatap anak di pundaknya.

“Itu kamu,” kata Mbak Awan. “Sama Bapak.”

Aku menatap foto itu.

Anak laki-laki yang tertawa dengan mata menyipit dan kepala miring. Seperti laki-laki di depan matahari terbenam di Jimbaran.

“Ada lagi!” seru Embun. Ia menunjuk halaman lain. Aku umur tujuh tahun, memegang ikan hasil pancingan. Aku umur sembilan tahun, dengan seragam SD dan gigi depan yang ompong. Aku umur sepuluh tahun, berdiri di sebelah Ibu di depan panci soto, memegang sendok sayur yang terlalu besar untuk tanganku.

“Ini juga!” Bayu mengangkat album lain. “Ini Mas Bimo! Waktu sunatan!”

“BAYU.”

“Maaf, maaf.” Bayu cepat-cepat membalik halaman.

Foto-foto itu ada. Banyak. Puluhan. Aku di dalam foto. Tertawa, menangis, memegang ikan, memegang sendok sayur, duduk di pundak Bapak.

“Bim,” kata Ibu pelan, menyentuh foto di pundak Bapak dengan ujung jarinya. “Dulu, sebelum kamu pegang kamera, yang motret itu Bapak.”

Aku mengangkat wajah.

“Bapak selalu yang megang kamera,” lanjut Ibu. “Kamera kecil, yang pakai film. Bapak motret kita semua. Dan Bapak hampir nggak pernah ada di foto.” Ibu tersenyum, matanya basah. “Pas Bapak pergi, kamera itu kosong. Nggak ada yang motret lagi. Lima tahun, keluarga ini nggak punya foto. Terus kamu beli kamera bekas dari tabunganmu.”

Aku tidak tahu itu. Aku tidak pernah memikirkannya. Aku membeli kamera itu karena aku suka memotret hal-hal yang tidak diperhatikan orang. Bayangan pagar. Tangan tukang parkir. Kucing di atas motor.

Tapi mungkin aku membelinya juga karena rumah ini sudah lima tahun tidak punya foto. Dan seseorang harus memegang kamera.

“Kamu bukan figuran, Bim,” kata Ibu. “Kamu itu Bapak.”


Aku menangis di warung Soto Bu Sri, di depan seluruh keluargaku, untuk pertama kalinya sejak pemakaman Bapak.

Tidak ada yang memotretnya. Untungnya.

Setelah itu, keluarga Wibisena melakukan apa yang selalu dilakukan keluarga Wibisena setelah menangis: mereka makan soto.

Bayu menyalakan kompor lagi. Ibu menyendokkan soto ke mangkuk-mangkuk. Mangkuk pertama untukku, dengan koya ekstra, telur rebus dua, dan kerupuk yang ditumpuk tinggi. Ibu tidak pernah memberiku mangkuk pertama. Mangkuk pertama selalu untuk Mas Langit, karena ia sulung, atau Embun, karena ia bungsu.

Mas Langit kembali tersambung di layar ponsel. Kali ini tidak beku.

“Bim,” katanya. “Kapan kamu ultah lagi? Tahun depan. Tanggalnya. Aku mau catat di kalender.”

Aku memberitahunya. Ia mencatatnya. Lalu, karena ia Mas Langit dan ia tidak bisa berhenti jadi kakak sulung yang menyebalkan, ia menambahkan: “Dan cewek yang suaranya cantik itu. Siapa namanya?”

Semua orang menoleh padaku.

“Kalea,” kataku.

“Yang nulis novel?” Mbak Awan mencondongkan badan. “Aku baca di Twitter! Teman arisanku kirim! Katanya ada staf IT yang ditulis delapan puluh tujuh kali!”

“Mbak baca?”

“Semua orang baca, Bim! Bayu juga!”

Bayu mengangkat tangan. “Aku tim Kalina dari awal.”

“Kamu baru baca kemarin, Bay.”

“Tapi aku langsung tim Kalina.”

Ibu menatapku dengan mata yang masih sembap, tapi dengan senyum yang perlahan muncul. Senyum yang sama dengan senyum Ibu waktu ia bilang Ibu dengar dari mukamu.

“Dia kenapa sekarang?” tanya Ibu.

“Dia pergi, Bu. Dia resign. Hari terakhirnya tanggal empat belas. Ada gala di Hotel Arunika.” Aku menatap mangkuk sotoku. “Aku mau naik ke panggung. Di gala. Aku mau bilang sesuatu.”

Hening.

“Kamu?” kata Mbak Awan. “Naik panggung? Kamu kan takut dilihat orang.”

“Iya.”

“Terus kenapa?”

Aku memikirkan pertanyaan itu. Aku memikirkan pos satpam dan Bab 1 dan printer lantai dua belas. Aku memikirkan foto di pundak Bapak.

“Karena dia selama ini motret aku,” kataku. “Diam-diam. Delapan bulan. Dan dia nggak pernah ada di fotonya sendiri. Sama kayak aku. Sama kayak Bapak.” Aku menatap Ibu. “Aku mau dia ada di foto, Bu. Sekali aja.”

Ibu menatapku lama. Lalu ia meletakkan sendok sayur di meja. Ibu tidak pernah meletakkan sendok sayur.

“Tanggal empat belas,” kata Ibu. “Jam berapa?”

“Malam, Bu. Jam tujuh.”

Ibu menoleh ke Mbak Awan. “Warung tutup tanggal empat belas.”

“Bu, tanggal empat belas itu hari Senin. Warung emang tutup tiap Senin.”

Ibu diam sebentar. “Pokoknya tutup. Lebih tutup dari biasanya.” Ibu menatap seluruh keluarganya, satu per satu. “Kita semua datang. Pakai baju sage. Langit, kamu pulang.”

“Bu, minggu depan aku ada...”

“Langit.”

“...Iya, Bu. Aku pulang.”


Sebelum aku pulang ke Jakarta, Embun menarik lenganku ke depan warung. Ia memegang ponselnya.

“Mas. Berdiri di situ. Sama Ibu.”

“Bun...”

“Mas Bimo.” Embun menatapku dengan mata yang masih bengkak. “Aku nggak pernah motret Mas. Sekali pun. Dua puluh dua tahun. Biarin aku sekali ini.”

Ibu sudah berdiri di depan warung, di bawah papan nama SOTO BU SRI — ENAK, MURAH, HALAL yang catnya mulai pudar. Ibu merapikan kerudungnya. Ibu menungguku.

Aku berdiri di sebelah Ibu. Ibu menggandeng lenganku, seperti Kalea di Jimbaran. Erat. Lebih erat dari yang diperlukan untuk dokumentasi keluarga.

“Senyum, Mas,” kata Embun.

Aku tersenyum. Bukan senyum KTP. Bukan senyum orang yang menunggu server restart. Aku tidak tahu senyum yang seperti apa. Aku tidak bisa melihatnya.

Klik.

Malamnya, di bus pulang ke Jakarta, ponselku bergetar. Grup Wibisena Bersatu sudah ganti nama.

Wibisena Bersatu (Termasuk Mas Bimo)

Diganti oleh Bayu.

Di grup itu, Embun mengirim satu foto. Seorang laki-laki dan ibunya, di depan warung soto, di bawah papan nama yang catnya pudar. Ibunya menggandeng lengannya. Laki-laki itu tersenyum dengan mata menyipit dan kepala sedikit miring.

Di bawah foto itu, Ibu mengetik dengan satu jari.

Ibu: Bingkai emas. Pasang d tengah dinding. Gnti foto ultah ibu

Aku menatap layar sampai bus memasuki tol, dan lampu-lampu kota di luar jendela berkelap-kelip seperti motherboard.