Chapter Forty One
Epilog — Semua Orang di Dalam Foto
POV: Kalea
Aku menikah pada hari Minggu, di bawah pohon jambu air yang ditanam Ayah waktu aku lahir.
Bukan di gedung. Bukan di hotel bintang lima dengan lampu kristal yang menggantung seperti air terjun beku. Di halaman rumah Dago, yang catnya baru dilapisi ulang oleh Bimo dan Bayu selama tiga akhir pekan berturut-turut, dengan tenda putih sederhana dan kursi-kursi plastik yang disewa dari tetangga.
Ibu yang memilih tempatnya. Ayahmu harus bisa lihat, katanya, sambil menunjuk pohon jambu air dan dua kursi rotan di teras. Lalu Ibu menolak semua usulan katering dan memutuskan bahwa makanan pernikahan akan dimasak oleh dua orang: dirinya sendiri, dan Ibu Sri.
Menunya soto. Soto Bu Sri, dengan kunyit yang dibakar dulu dan koya dari kerupuk udang. Ibu sudah belajar membuatnya selama setahun, setiap Selasa, di warung di Bekasi. Ibu bilang sotonya sekarang sudah sembilan puluh persen mirip. Ibu Sri bilang sembilan puluh lima. Mereka bertengkar soal lima persen itu selama tiga bulan dan akhirnya sepakat bahwa lima persen itu adalah rahasia besan.
Bukunya terbit empat bulan sebelum pernikahan.
Kamu Ada di Setiap Bab, oleh Kalea Prameswari. Sampulnya berwarna krem, dengan ilustrasi sederhana: sebuah printer abu-abu tua, secangkir teh yang mengepul di atasnya, dan seutas kabel yang melingkar di lantai membentuk bentuk hati. Ilustratornya Mbak Rini, yang ternyata dulu kuliah desain grafis sebelum menyerah dan jadi staf administrasi. Ia menangis tiga hari waktu tahu desainnya dipilih.
Peluncurannya di toko buku kecil di Cikini, tidak jauh dari restoran Sunda dengan taman dan pintu belakang. Aku memilih tempat itu dengan sengaja. Bimo tahu. Ia tidak bilang apa-apa, tapi ia menggenggam tanganku lebih erat saat kami berjalan melewati restoran itu.
Yang datang ke peluncuran: tujuh puluh dua orang. Empat puluh di antaranya dari Haryanto Group. Dua puluh dari pembaca lama di Lembar yang sudah menunggu sejak Bab 22. Satu dari akun lunamelati_, yang ternyata mahasiswi kedokteran gigi di Depok dan langsung menangis begitu melihat Bimo. Satu dari akun tim.kalina.4ever, yang ternyata seorang ibu berusia lima puluh tahun dari Bogor yang membawa kue lapis untukku dan berkata, Saya sudah bilang dari Bab 12, Nak.
Dan Pak Darto, yang membawa istrinya.
Istri Pak Darto adalah perempuan kecil berkerudung cokelat dengan senyum yang sangat lebar. Ia memeluk Bimo begitu lama sampai Pak Darto harus menepuk bahunya. Lalu ia memelukku. Lalu ia membisikkan sesuatu di telingaku yang tidak akan pernah kuceritakan pada siapa pun, karena itu bukan bagianku untuk diceritakan. Tapi aku menangis setelahnya, dan Bimo menyodorkan tisu, karena ia selalu membawa tisu.
Buku itu tidak laris seperti novel di Lembar. Tidak ada tujuh puluh ribu pembaca. Penerbit Lentera mencetak tiga ribu eksemplar pertama, dan setelah empat bulan, terjual dua ribu tiga ratus.
Bu Ratna, editor kepala yang sekarang menjadi atasanku, bilang itu angka yang bagus untuk penulis pertama. Aku tidak peduli angkanya. Aku peduli satu ulasan di toko buku daring, ditulis oleh akun tanpa foto profil, dengan bintang lima dan satu paragraf pendek:
Saya bukan pembaca novel. Saya staf IT. Tapi saya baca buku ini tiga kali. Kalimat pertamanya ada nama saya. Itu pertama kalinya ada yang nulis nama saya dengan baik. Terima kasih. Typo: tidak ada. (Saya cek.)
Ia tidak memakai nama asli. Tapi aku tahu siapa yang menulisnya. Tidak ada orang lain di dunia yang akan mengecek typo di ulasan bintang lima.
Pernikahan dimulai pukul sembilan pagi.
Penghulu dari KUA. Saksi dari kedua keluarga. Mas Langit menjadi saksi untuk Bimo, dengan kemeja putih yang ia setrika sendiri, karena istrinya bilang setidaknya sekali seumur hidup. Paman dari pihak Ayah menjadi waliku.
Bimo mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas. Tidak gemetar. Tidak terbata. Suaranya rendah dan jelas, seperti suara seseorang yang membaca log server dan menemukan bahwa semua sistem berjalan normal.
Saat saksi berkata sah, tamu-tamu di bawah tenda putih bertepuk tangan. Lalu satu suara memecah tepuk tangan itu. Keras, serak, dan sangat dikenal.
“SIAGAAA!”
Pak Darto berdiri dari kursi plastiknya dengan tangan di pelipis, memakai batik baru yang dibelikan istrinya khusus untuk acara ini. Di sebelahnya, tiga satpam dari tiga gedung berbeda di Jakarta berdiri dan memberi hormat bersamaan.
Penghulu dari KUA menatap mereka dengan bingung. Ibu Sri dan Ibuku tertawa sampai harus saling berpegangan.
Tamu-tamu pernikahan kami adalah daftar tokoh dalam buku.
Bu Ratmi, yang membawa sebakul bakwan, semuanya dengan karet gelang hijau, dan membagikannya ke setiap meja sebagai suvenir tambahan. Gilang, yang memakai jas yang akhirnya pas di lengan, dibelikan Bimo sebagai pemenuhan aturan nomor delapan tahap kedua. Tahap pertama adalah gulai kepala ikan seharga delapan puluh ribu di Menteng. Gilang datang bersama pacarnya, anak marketing yang dulu menerima surat cinta yang tidak pernah terkirim, yang ternyata akhirnya terkirim juga. Bimo yang mengantarnya ke meja anak marketing itu, katanya, karena surat yang tidak terkirim itu seperti kabel yang tidak dicolok.
Mbak Sisil, dengan map plastik berisi formulir persetujuan tiga rangkap yang ia tunjukkan dengan bangga kepada penghulu. Nadia dari legal, yang menangis sejak ijab kabul. Mbak Rini, yang membawa lukisan cat air pohon jambu air sebagai kado.
Dan Pak Dimas dan Tasya, yang menikah tiga bulan lebih dulu dari kami. Pak Dimas menulis sendiri kartu ucapan pernikahan kami. Isinya: Selamat menempuh hidup baru. Semoga kinerja rumah tangga meningkat setiap kuartal.
Tasya mencoret kalimat kedua dengan pulpen merah dan menulis di bawahnya: Maaf, Bu. Saya belum sempat tulis ulang. Bapak keburu kirim.
Pukul tiga sore, saat matahari mulai condong ke barat dan bayangan pohon jambu air memanjang di atas halaman, Mbak Awan berdiri di tengah tenda dengan kamera mirrorless bekas di tangan.
“FOTO KELUARGA!” teriaknya. “SEMUA BARIS DI DEPAN POHON!”
Semua orang berbaris.
Keluarga Wibisena dalam baju sage. Ibu Sri di tengah, di kursi plastik yang dihias pita. Mas Langit dan istrinya. Mbak Awan, yang harus berlari ke barisan setelah mengatur kamera. Bayu, yang kancing kemejanya tidak lagi salah pasang. Embun dan pacarnya, yang sekarang tunangannya.
Keluarga Prameswari. Ibu, dengan kebaya biru muda dan kacamata yang tergantung di leher. Paman dan bibiku dari Cirebon. Sepupu-sepupu yang tidak kutemui sejak pemakaman Ayah.
Dan semua yang lain. Tim Hore Kapal Kabel, lengkap. Pak Darto dan istrinya. Bu Ratmi dan suaminya dan dua anaknya. Gilang dan pacarnya. Mbak Sisil. Pak Dimas dan Tasya. Bahkan Pak Herman, yang datang dari Jakarta dengan kereta pagi hanya untuk berdiri di barisan belakang.
Bimo berdiri di depan semua orang, di tempat ia selalu berdiri. Di belakang kamera. Membungkuk ke jendela bidik, mengatur fokus.
“Senyum,” katanya.
Aku melangkah keluar dari barisan.
“Bimo.”
Ia mengangkat wajah dari kamera.
“Kamu yang berdiri di situ,” kataku. Aku menunjuk tempat kosong di barisan, di tengah, di antara Ibu Sri dan Ibuku. “Saya yang pasang kamera.”
“Kalea...”
“Itu bukan permintaan.” Aku mengambil kamera dari tangannya. “Itu instruksi istri.”
Seluruh barisan tertawa. Gilang bersiul. Pak Darto mengangkat tangan ke pelipis.
Bimo menatapku. Lalu, perlahan, ia berjalan ke tengah barisan. Ibu Sri menggandeng lengannya dari kiri. Ibuku menggandeng lengannya dari kanan. Ia berdiri di antara dua ibu kami, di tengah foto, dalam kemeja putih yang tidak ada noda lipstiknya (belum), dengan wajah orang yang sangat tidak terbiasa berdiri di situ.
Aku memasang kamera di atas tripod kecil yang dibawa Mbak Awan. Aku membungkuk ke jendela bidik. Delapan belas orang. Dua puluh tiga orang. Tiga puluh. Semua orang yang pernah ada di halaman-halamanku, sekarang ada di satu bingkai, di bawah pohon jambu air yang ditanam Ayah.
Dan di tengahnya, untuk pertama kalinya, Bimo.
Aku menyetel timer. Sepuluh detik.
Lalu aku berlari.
Menyeberangi halaman dengan kebaya putih dan kaki telanjang, karena sepatu pengantinku sudah dari tadi dipegang Bimo. Aku berlari melewati tenda, melewati kursi-kursi plastik, melewati bayangan pohon jambu air. Sembilan. Delapan. Tujuh.
Aku menyelinap ke tengah barisan. Ibuku bergeser memberi tempat. Aku berdiri di sebelah Bimo dan menggenggam tangannya.
Enam. Lima.
“Bimo,” bisikku.
“Hm?”
“Senyum.”
Empat.
Ia menoleh padaku. Tidak ke kamera. Padaku.
Tiga.
Lalu ia tersenyum. Bukan senyum KTP. Bukan muka orang menunggu server restart. Senyum dengan mata menyipit dan kepala sedikit miring. Senyum anak kecil di pundak ayahnya, di depan warung soto yang catnya masih biru. Senyum laki-laki di depan matahari terbenam di Jimbaran.
Dua.
Aku ikut tersenyum. Aku tidak menatap kamera. Aku menatapnya.
Satu.
Klik.
Foto itu sekarang ada di dua tempat.
Yang pertama, di dinding warung Soto Bu Sri di Bekasi. Di tengah dinding, di dalam bingkai emas, di sebelah foto Bimo dan Ibu Sri di depan papan nama warung. Ibu Sri memindahkan semua bingkai lain ke samping untuk memberi tempat. Di bawahnya, Bayu menempelkan kertas kecil dengan tulisan tangannya: Foto pertama yang ada semua orangnya. TERMASUK MAS BIMO.
Yang kedua, di rumah kami.
Rumah kecil di Depok, dengan dua kamar, satu dapur kecil, dan satu ruang kerja yang kami bagi berdua. Di ruang kerja itu ada dua meja. Mejaku, dengan laptop dan tumpukan naskah dari Penerbit Lentera dan mesin tik hijau tua milik Ayah, yang dibawa Ibu dari Dago sebagai kado yang tidak boleh ditolak. Dan meja Bimo, dengan obeng, pinset, kabel, dan sebuah printer abu-abu besar yang dibeli seharga seribu rupiah, yang masih macet setidaknya sekali seminggu.
Foto pernikahan kami tergantung di dinding di antara dua meja itu.
Di sebelahnya, dalam bingkai kecil, ada selembar kertas HVS yang kusut, dengan bekas pinset di pojoknya.
Mau nikah sama aku?
— Bimo Wibisena
Dan di bawahnya, kertas tempel kuning yang sudah sedikit pudar.
Printer. Lagi. Iya.
— Kalea Prameswari
Kadang, di Minggu pagi, aku bangun pukul empat.
Aku membuat teh melati. Delapan puluh derajat. Aku duduk di depan mesin tik Ayah di ruang kerja kami dan mengetik, pelan, dengan bunyi tak-tak-tak yang memenuhi rumah kecil itu. Buku kedua. Tentang sesuatu yang lain. Tentang seseorang yang lain. Tapi selalu, di sudut-sudut halaman, ada satu kalimat tentang seseorang yang memperbaiki sesuatu tanpa diminta.
Kebiasaan lama. Penulis yang baik tidak bisa berhenti memperhatikan.
Pukul lima, ia bangun. Aku mendengarnya sebelum melihatnya. Senandung dari kamar tidur, pelan, menyusuri lorong kecil. Nada yang tidak punya judul.
Kami akhirnya memberinya judul, di malam sebelum pernikahan, di teras rumah Dago, saat kami duduk berdua di dua kursi rotan dan menyadari bahwa kami sudah bersenandung lagu yang sama selama setahun tanpa tahu namanya.
Senin Pagi.
Ia muncul di ambang pintu ruang kerja dengan rambut berantakan dan kaus abu-abu yang terlalu longgar. Ia menatapku di depan mesin tik.
“Lewat?” tanyaku.
“Nggak,” katanya. “Berhenti di sini.”
Ia berjalan ke belakangku dan memelukku dari belakang, dagu di puncak kepalaku, kedua lengannya melingkar di bahuku, seperti aku memeluknya saat ia memotong bawang di apartemen lantai sembilan. Ia membaca halaman di mesin tik dari atas kepalaku.
“Ada aku?” tanyanya.
“Satu kalimat.”
“Cuma satu?”
“Kamu ada di setiap bab,” kataku. “Itu aturannya.”
Aku merasakan ia tersenyum di rambutku. Lalu ia memutar kursiku pelan, sehingga aku menghadapnya. Ia membungkuk. Tangannya di wajahku. Tangan yang hangat dan sedikit kasar di ujung jari, dengan bekas luka kecil di ibu jari kiri.
Ia menciumku di depan mesin tik Ayah, di jam paling jujur, dengan teh melati yang mendingin di meja dan printer seharga seribu rupiah yang berdengung pelan di belakang kami.
Ciuman itu pelan. Lalu tidak pelan. Seperti selalu. Seperti teh yang dibuat oleh seseorang yang tahu takaran.
Saat ia mundur, hanya sejauh napas, aku menatap wajahnya dengan sengaja. Lama. Seperti yang selalu kulakukan sejak hari pertama, dari jauh, dari lantai empat belas, dari balik CC tiket, dari sudut-sudut halaman.
Bedanya, sekarang ia tahu aku menatap. Dan ia tidak menunduk.
“Kalea,” katanya.
“Hm?”
“Printernya macet lagi.”
Aku tertawa. Ia tertawa. Di belakang kami, printer lantai dua belas, yang sekarang printer ruang kerja di Depok, berkedip oranye dengan keras kepala seorang kakek yang tidak mau pensiun.
“Itu bagianmu,” kataku.
“Itu bagianku,” katanya, dan berjongkok di depannya, dan mengeluarkan pinset, dan mulai bersenandung.
Aku memperhatikannya. Cukup lama.
Dan seperti kata Ayah, aku menemukan sesuatu yang indah di dalamnya.
Tamat.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto reading