Chapter Twenty
Lift Nomor 3
POV: Bimo
Senin pagi, aku tiba di kantor dengan tiga kantong oleh-oleh dan satu rahasia.
Oleh-olehnya mudah. Pie susu rasa original untuk Gilang. Pie susu rasa cokelat untuk Bu Ratmi. Satu kilo kacang Disco untuk Pak Darto, “dari Pak Dimas”, sesuai pesan yang kusampaikan dengan sangat serius sambil menyerahkan kantong itu di meja satpam.
Pak Darto menerima kacang itu dengan dua tangan. Ia menatap kantong itu. Lalu menatapku. Lalu, entah kenapa, matanya berkaca-kaca.
“Pak Dimas tahu saya nitip?”
“Tahu, Pak.”
“Pak Dimas tahu nama saya?”
“Kayaknya tahu, Pak.”
Pak Darto mengangkat tangan ke pelipis dengan khidmat yang belum pernah kulihat sebelumnya. “Siaga,” bisiknya. Lalu, lebih pelan, sambil mencondongkan badan: “Mas. Misi?”
“Misi apa, Pak?”
“Jangan pura-pura, Mas. Saya anggota grup.”
Aku menatap Pak Darto. Pak Darto menatapku. Kumisnya bergetar penuh harap.
“Saya cuma bawa kacang, Pak,” kataku.
Kumis itu turun dengan kecewa. Tapi matanya menyipit, seperti seorang detektif yang baru saja mencium sesuatu.
Rahasianya lebih sulit.
Rahasianya adalah bahwa Kalea Prameswari dan aku sekarang... sesuatu. Aku belum tahu namanya. Kami belum sempat membahasnya. Di pesawat pulang kemarin, kami duduk berjauhan karena Kalea sengaja mengatur kursi seperti itu. “Supaya Pak Dimas tidak batuk lagi,” katanya. Kami hanya bertukar satu pesan selama penerbangan.
Kalea: Jangan bilang siapa-siapa dulu.
Aku: Siapa-siapa itu termasuk Gilang?
Kalea: Terutama Gilang.
Jadi aku tidak bilang siapa-siapa. Termasuk, dan terutama, Gilang.
Gilang menyambutku di meja kerja dengan mata menyipit.
“Bim.”
“Pagi, Gil.” Aku meletakkan pie susu original di mejanya. “Original. Bukan cokelat, bukan keju.”
Gilang tidak menyentuh pie susu itu. Ini sangat mengkhawatirkan. Gilang selalu menyentuh makanan.
“Lo beda,” katanya.
“Beda apa?”
“Lo jalan masuk tadi kayak...” Ia menyipitkan mata lebih sempit. “Kayak orang yang nggak bawa kabel tapi tetap senyum.”
“Aku nggak senyum.”
“Lo senyum ke pie susu.”
Aku menatap pie susu itu. Aku tidak sadar sedang tersenyum. Aku langsung mengubah wajahku jadi wajah KTP.
Gilang mencondongkan badan. “Tasya bilang...”
“Tasya bilang apa?”
“Tasya bilang Pak Dimas batuk-batuk semalaman di hotel. Batuk yang mencurigakan.” Ia mengangkat alis. “Kamar Pak Dimas di sebelah kamar siapa, Bim?”
Aku membuka laptop. Aku membuka sistem tiket. Aku membuka tiket 4613: Printer lantai 12 tidak mau mencetak. Aku berdiri.
“Printer,” kataku.
“Bim! Itu bukan jawaban!”
“Printer adalah jawaban untuk banyak hal, Gil.”
Aku berjalan ke pantry dengan obeng di tangan. Di belakangku, Gilang mengetik sesuatu di ponselnya dengan kecepatan seorang reporter berita.
Di papan gabus pantry, di bawah lembar KAPAL KABEL, sudah tertempel foto ukuran A3.
Foto dari Jimbaran. Aku dan Kalea di depan matahari terbenam. Kalea menggandeng lenganku dengan wajah sekretaris direksi. Aku dengan wajah menahan bersin. Di bawahnya, Gilang menulis dengan spidol tebal:
MISI 2: SELESAI ✓
Lokasi: Jimbaran, Bali
Saksi: Tasya, Pak Dimas (CEO!!!)
Bu Ratmi berdiri di depan papan itu dengan pie susu cokelat di tangan, mengunyah pelan-pelan, menatap foto itu seperti menatap lukisan di museum.
“Mas,” katanya tanpa menoleh.
“Ya, Bu?”
“Tangan Bu Kalea.” Ia menunjuk foto itu dengan pie susu. “Lihat jarinya. Itu bukan gandengan dokumentasi. Itu gandengan pegangan.”
“Bu, itu foto biasa.”
“Mas Bimo,” kata Bu Ratmi dengan sabar, seperti menjelaskan pada anak kecil kenapa kompor panas, “Ibu udah dua puluh tahun jualan gorengan di kantor. Ibu udah lihat empat belas pasangan jadian di pantry ini. Ibu tahu bedanya gandengan dokumentasi sama gandengan pegangan.”
Aku memperbaiki printer secepat mungkin dan kabur.
Pukul 12.05, ponselku bergetar. Pesan dari Kalea.
Kalea: Hari ini bukan tangga darurat.
Aku menatap pesan itu. Jantungku turun ke perut.
Aku: Kenapa?
Kalea: Lift tiga. Lantai empat belas. 12.15.
Aku menatap pesan itu lebih lama.
Aku: Lift tiga lagi sakit. Aku denger bunyinya tadi pagi.
Kalea: Saya tahu.
Aku: Itu bisa macet.
Kalea: Saya tahu.
Lalu, satu pesan lagi:
Kalea: Kamu bilang lift itu panggung. Saya mau satu adegan.
Aku meletakkan ponsel di meja. Mengambilnya lagi. Membaca pesan itu tiga kali.
Gilang, di sebelahku, menatapku dengan horor yang perlahan berubah jadi pengertian.
“Bim,” bisiknya. “Muka lo merah.”
“AC-nya mati.”
“AC-nya nyala, Bim. Gue menggigil.”
Aku berdiri dan berjalan ke tangga darurat. Empat puluh dua anak tangga. Di anak tangga ketiga dari atas, aku berhenti dan menatap anak tangga keempat yang kosong.
Lalu aku naik dan mendorong pintu lantai empat belas.
Kalea berdiri di depan lift nomor tiga.
Blazer hitam. Rambut digerai. Lipstik merah bata. Ia tidak menatapku saat aku berjalan mendekat. Ia menatap panel lift dengan wajah datar yang sempurna, seperti sedang menunggu lift untuk rapat penting.
Pintu lift terbuka. Kosong.
Ia masuk. Berbalik. Menatapku.
Aku berdiri di luar, di lorong.
“Masuk,” katanya.
“Ini panggung.”
“Saya tahu.”
Aku masuk.
Pintu tertutup. Kalea menekan tombol lantai dua belas. Lift nomor tiga mulai bergerak turun dengan decit panjang.
Lalu aku mendengarnya. Bunyi gir berderak pelan, seperti orang menggertakkan gigi.
“Kalea,” kataku. “Bunyinya.”
“Saya tahu.”
“Lift ini mau...”
Dug.
Lift berhenti. Lampu berkedip sekali, lalu menyala lagi. Indikator di atas pintu berhenti di antara angka 14 dan 13.
Kami berdiri di dalam lift yang macet, berdampingan, menatap pintu yang tertutup.
“Macet,” kataku.
“Iya,” kata Kalea.
“Mbak... kamu sengaja?”
“Saya sekretaris direksi.” Ia tidak menoleh. “Saya yang menerima laporan maintenance gedung. Lift tiga dijadwalkan perbaikan hari Rabu. Teknisi bilang, sebelum diperbaiki, lift tiga akan macet kalau dipakai lebih dari dua kali dalam satu jam.” Jeda. “Saya naik turun lift ini dua kali tadi pagi. Sebelum kamu datang.”
Aku menoleh dan menatapnya. Ia akhirnya menoleh juga. Wajahnya datar. Tapi telinganya merah, dan sudut bibirnya bergerak, dan matanya berkilat seperti lampu printer hijau.
“Kamu... merencanakan lift macet.”
“Saya merencanakan adegan,” katanya. “Itu yang saya lakukan.”
Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi aku tidak sempat bertanya, karena interkom di panel lift berbunyi dengan dengung statis.
“Siaga! Siaga! Lift tiga macet! Ada orang di dalam?”
Pak Darto.
Aku menekan tombol interkom. “Ada, Pak.”
“Mas Bimo? Itu Mas Bimo?”
“Iya, Pak.”
“Mas sendirian?”
Aku menatap Kalea. Kalea melangkah ke panel interkom dan menekan tombolnya.
“Tidak ada siapa-siapa lagi, Pak,” katanya dengan suara sekretaris direksi.
Hening di interkom.
Hening yang sangat panjang.
“...Siap, Bu Kalea,” kata Pak Darto akhirnya, dengan suara yang bergetar seperti menahan sesuatu. “Saya sudah telepon teknisi. Teknisinya bilang... teknisinya bilang jalan macet. Mungkin dua puluh menit. Atau tiga puluh. Atau empat puluh, kalau macetnya parah.”
“Terima kasih, Pak.”
“Siaga,” bisik Pak Darto. Lalu, sangat pelan, mungkin tidak sadar tombolnya masih tertekan: “Ya Allah, Bu Ratmi harus tahu.”
Interkom mati.
Kalea dan aku berdiri di dalam lift yang macet.
Lift nomor tiga sempit. Dindingnya baja mengilap yang memantulkan bayangan kami dari segala arah: dua orang, sekretaris direksi dan staf IT, berdiri bersebelahan dengan jarak satu jengkal, tidak tahu harus melakukan apa dengan tangan masing-masing.
“Jadi,” kataku.
“Jadi,” katanya.
“Kita harus bahas... ini.”
“Ini apa?”
“Kita.” Kata itu terasa aneh di mulutku. “Kemarin malam kamu bilang iya. Hari ini kamu bilang jangan bilang siapa-siapa. Jadi... kita ini apa?”
Kalea menatap pantulan kami di dinding baja. Lalu ia mengeluarkan ponsel dari saku blazer, membuka aplikasi catatan, dan menyerahkannya padaku.
Di layar, ada daftar baru.
ATURAN PACARAN RAHASIA
1. Tidak boleh pegangan tangan di kantor.
2. Tangga darurat tetap anak tangga keempat.
3. Tidak boleh bilang Gilang.
4. Tidak boleh bilang Bu Ratmi (sama dengan bilang satu gedung).
5. Ciuman pertama di lift nomor tiga.
Aku membaca daftar itu dari atas sampai bawah. Lalu aku membaca nomor lima lagi.
“Kamu bikin daftar,” kataku.
“Kamu juga punya daftar.”
“Daftarku soal menghindar.”
“Daftar saya soal datang.” Ia mengambil ponselnya dari tanganku. Jari-jari kami bersentuhan. “Pacaran rahasia. Itu jawabannya. Kita ini pacaran. Rahasia.”
“Pacaran,” ulangku.
“Kamu keberatan?”
“Nggak.” Suaraku keluar terlalu cepat. “Nggak keberatan. Sama sekali.”
Ia tersenyum. Lalu menunduk ke ponselnya dan menggulir ke nomor lima.
“Nomor lima,” kataku pelan, “itu bukan aturan. Itu agenda.”
“Agenda saya,” kata Kalea, mendongak, “selalu dijalankan.”
Ia memasukkan ponsel ke saku blazer.
Lalu ia melangkah ke depanku. Satu langkah. Di lift nomor tiga, satu langkah sudah cukup untuk menghabiskan semua jarak.
Aku bisa mencium melati. Aku bisa melihat bintik cokelat kecil di bawah mata kirinya. Aku bisa melihat bulu matanya bergetar sedikit, satu-satunya tanda bahwa Kalea Prameswari, yang merencanakan lift macet dengan presisi seorang sekretaris direksi, sebenarnya sedang gugup.
“Bimo,” bisiknya.
“Ya?”
“Jangan lihat sepatu saya.”
“Nggak.”
“Jangan lihat karpet. Jangan lihat dinding. Jangan lihat apa pun yang bukan saya.”
“Lift nggak ada karpetnya.”
Ia tertawa, pendek, napasnya hangat di daguku. “Bimo.”
“Iya.”
“Diam.”
Aku diam.
Ia mengangkat tangan dan meletakkannya di pipiku. Seperti di gazebo Puncak, saat ia mengusap lumpur. Tapi kali ini tidak ada lumpur. Kali ini tidak ada alasan selain dirinya sendiri.
Lalu ia berjinjit, dan menciumku.
Aku tidak tahu harus menulis apa tentang itu.
Aku staf IT. Aku tahu cara menjelaskan kenapa printer macet, kenapa proyektor tidak mengenali adaptor, kenapa lift bunyi seperti orang menggertakkan gigi sebelum berhenti. Aku tidak tahu cara menjelaskan ini.
Bibirnya hangat dan sedikit gemetar. Ciuman itu pelan, hati-hati, seperti seseorang yang mencoba sesuatu untuk pertama kali dan tidak yakin ia melakukannya dengan benar. Tangannya di pipiku. Tanganku, yang selama ini tidak tahu harus ke mana, akhirnya menemukan tempatnya: satu di pinggangnya, satu di belakang kepalanya, di rambut yang selalu rapi dan sekarang sedikit berantakan karena jariku.
Ia mundur sedikit. Hanya sejauh napas. Matanya terbuka, menatapku dari jarak yang sangat dekat.
“Itu,” bisiknya, “nomor lima.”
“Selesai?”
“Dicentang.”
“Bisa diulang?”
Ia menatapku. Lalu tersenyum, senyum yang lebar dan malu dan sangat tidak seperti sekretaris direksi, dan menciumku lagi. Kali ini tidak pelan. Kali ini tidak hati-hati. Kali ini seperti seseorang yang sudah tahu ia melakukannya dengan benar.
Lift nomor tiga diam di antara lantai empat belas dan tiga belas, dan tidak ada yang mengeluh.
Teknisi datang empat puluh tiga menit kemudian.
Saat pintu lift dibuka dengan kunci khusus, Kalea dan aku berdiri di dua sudut yang berlawanan. Satu meter jarak. Wajah datar. Kalea memegang tablet. Aku memegang obeng, yang entah kenapa kubawa.
Di depan pintu lift, ada teknisi gedung, Pak Darto, dan, entah dari mana, Bu Ratmi dengan bakul gorengannya.
Pak Darto menatap kami. Menatap jarak satu meter itu. Menatap lipstik merah bata Kalea yang tidak lagi sempurna di sudut kiri.
Ia mengangkat tangan ke pelipis. Matanya berkaca-kaca.
“Siaga,” bisiknya.
Kalea melangkah keluar dari lift dengan punggung tegak. “Terima kasih, Pak. Lift ini harus segera diperbaiki. Saya akan menulis laporannya.” Ia berjalan ke mejanya tanpa menoleh sekali pun.
Aku melangkah keluar setelahnya. Bu Ratmi menyodorkan sebungkus bakwan ke tanganku. Karet gelang hijau.
“Buat dua orang,” katanya dengan senyum seorang bandar yang tahu pasarnya baru saja meledak.
Pukul 13.20, aku kembali ke mejaku di lantai dua belas.
Gilang menoleh. Tersenyum. Lalu senyumnya membeku.
Ia menatap kerah kemejaku.
“Bim,” katanya pelan.
“Hm?”
“Kerah lo.”
“Kenapa kerahku?”
“Ada warna.” Gilang mencondongkan badan, menyipitkan mata. “Warnanya... merah. Kayak... merah bata.”
Aku menunduk. Di kerah kemeja biru mudaku, dekat leher, ada noda kecil berwarna merah bata.
“Saos,” kataku.
“Saos?”
“Saos sambal.”
“Saos sambal di kerah?”
“Bakwan,” kataku. “Bakwan Bu Ratmi. Saosnya muncrat.”
“Bakwan Bu Ratmi nggak pakai saos, Bim. Pakai cabai rawit. Di dalam.”
Aku membuka laptop dan menatap layar. Gilang menatapku selama sepuluh detik penuh. Lalu, perlahan, sangat perlahan, ia meraih ponselnya.
“Jangan,” kataku.
“Gue nggak ngapa-ngapain.”
“Gil.”
“Gue cuma mau ngecek grup.” Jempolnya sudah bergerak. “Pak Darto kirim pesan dari tadi. Tiga puluh tujuh pesan. Semuanya stiker hormat.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Aturan Pacaran Rahasia nomor tiga: Tidak boleh bilang Gilang.
Secara teknis, aku tidak bilang. Kerahku yang bilang.
Malamnya, di kamar kos, aku membuka daftar Aturan Figuran. Sembilan aturan, satu baris tanpa nomor. Empat sudah dicoret.
Aku menatap daftar itu lama sekali.
Lalu aku menutupnya tanpa mencoret apa pun, dan membuka pesan dari Kalea yang masuk pukul 22.03.
Kalea: Laporan maintenance lift tiga sudah saya kirim. Saya rekomendasikan perbaikan ditunda.
Aku: Kenapa ditunda?
Kalea: Alasan teknis.
Aku: Alasan teknis apa?
Kalea: Lift itu masih punya fungsi penting.
Aku tertawa sendiri di kamar kos, di bawah kipas angin yang berdecit. Lalu ada satu pesan lagi.
Kalea: Bimo. Hal yang mau saya bilang di Jakarta. Saya belum lupa. Kasih saya sedikit waktu lagi.
Aku menatap pesan itu. Ada sesuatu di dalamnya yang terasa berat, seperti email yang ditulis ulang empat belas kali.
Aku: Aku tunggu. Selama apa pun.
Ia tidak membalas. Tapi tanda dua centang biru muncul, dan bertahan di sana, lama, seperti seseorang yang menatap layar dan tidak tahu harus mengetik apa.
Aku tidur dengan noda merah bata di kerah kemeja yang kugantung di paku dekat jendela. Aku tidak mencucinya. Aku tidak tahu kenapa.
Mungkin karena Kalea benar. Ada hal-hal yang masih punya fungsi penting.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3 reading
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto