Chapter Two
Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
POV: Bimo
Pak Darto menatapku seperti melihat hantu.
“Mas Bimo?” Ia melirik jam dinding lobi. Pukul 05.48. “Mas kesurupan apa?”
“Proyektor ruang Anggrek, Pak.”
“Jam segini?”
“Rapat direksi jam sembilan. Biar aman.”
Pak Darto mengangkat tangan ke pelipis dengan khidmat. “Siaga, Mas. Mas ini contoh karyawan teladan. Nanti saya bilang ke Pak Dimas.”
“Jangan, Pak.”
“Kenapa?”
“Nanti beliau ingat saya.”
Pak Darto tertawa seperti aku sedang melucu. Aku tidak sedang melucu.
Lantai empat belas pada jam enam pagi terasa seperti panggung setelah pertunjukan selesai. Lampu-lampu setengah menyala, kursi-kursi kosong, karpet tebal yang meredam langkahku. Meja sekretaris direksi rapi tanpa cela. Satu pulpen sejajar dengan tepi meja, satu buku agenda bersampul hitam, satu mug putih polos. Aku melewatinya sambil menunduk, padahal tidak ada siapa-siapa. Kebiasaan.
Ruang Anggrek dingin dan sunyi. Meja oval panjang, dua belas kursi, satu layar putih, dan satu proyektor di langit-langit yang, menurut catatan tiketku, sudah bermasalah sebelas kali tahun ini.
Aku menyalakannya. Lampunya berkedip, menyala biru, lalu menampilkan tulisan No Signal.
“Oke,” bisikku. “Kita bisa jadi teman pagi ini.”
Proyektor itu tidak setuju denganku.
Masalah pertama: kabel HDMI di bawah meja sudah digigit sesuatu. Mungkin tikus. Mungkin manajer yang stres. Aku menggantinya dengan kabel cadangan. Masalah kedua: adaptor untuk laptop presentasi hilang dari laci. Aku turun ke lantai dua belas, mencari di gudang IT, tidak ketemu, mencari di laci Gilang (ketemu, bersama tiga bungkus kacang dan satu surat cinta yang belum terkirim untuk anak marketing, yang kukembalikan tanpa kubaca lebih dari kalimat pertama), lalu naik lagi. Masalah ketiga: proyektor menolak mengenali adaptor itu sampai aku mencabut dan memasangnya dengan sudut tertentu yang hanya bisa dijelaskan oleh pengalaman dan doa.
Saat gambar akhirnya muncul di layar, birunya terang dan sempurna, jam di dinding menunjukkan pukul 08.47.
Tiga belas menit.
Aku masih jongkok di bawah meja, merapikan kabel dengan pengikat plastik. Kalau aku bergerak cepat, aku bisa keluar dalam dua menit, naik lift ke lantai dua belas, dan sudah duduk di mejaku sebelum siapa pun keluar dari lift di lantai empat belas.
Lalu pintu ruang Anggrek terbuka.
Dari bawah meja, aku melihat sepasang sepatu flat hitam yang sedikit kebesaran dan bergerak gelisah. Aku mengintip. Seorang gadis muda dengan kemeja biru muda, rambut dikuncir, dan dua gelas kopi di tangan. Dia meletakkan map di kursi, lalu mulai berlatih dengan suara pelan yang gemetar.
“Selamat pagi, Bapak-Ibu Direksi. Nama saya Tasya Ayudia, perwakilan peserta magang gelombang dua dari divisi marketing. Pagi ini saya akan... akan... aduh, apa tadi...”
Tasya. Anak magang marketing. Aku pernah memperbaiki laptopnya minggu lalu, laptop pinjaman kantor yang keyboard-nya ketumpahan teh manis. Dia minta maaf delapan kali dan memberiku cokelat.
Tania, di novel. Gadis dari Bogor dengan senyum seperti matahari jam tujuh pagi.
Dan aku, figuran, sedang terjebak di bawah meja di lokasi adegan.
Aku menahan napas dan menimbang pilihan. Keluar sekarang berarti dia akan kaget, dan mungkin menjatuhkan kopi. Tetap di bawah meja berarti aku akan berada di ruangan ini saat direksi masuk. Dua-duanya buruk. Tapi yang pertama lebih cepat selesai.
Aku baru akan bergerak ketika Tasya berbalik menuju pintu. Kopi di kedua tangannya, langkahnya cepat. Ia ingin menyambut di pintu. Ingin memberi kopi pada CEO sebelum presentasi, seperti saran entah dari siapa.
Dan aku melihatnya: ujung kabel cadanganku yang belum terikat, menjulur dari bawah meja ke jalur langkahnya.
Kabelnya jangan di lantai. Nanti ada yang lewat, kesandung.
Tubuhku bergerak sebelum kepalaku sempat setuju. Aku menarik kabel itu kuat-kuat dari bawah meja. Gerakan tiba-tiba itu membuat kursi di sebelah Tasya bergeser dan berdecit nyaring. Tasya terkejut dan berhenti mendadak. Kakinya terhenti tepat setengah langkah sebelum pintu.
Kopi di gelasnya bergoyang, beriak, tapi tidak tumpah.
Pintu terbuka.
Pak Dimas Haryanto, CEO kami, melangkah masuk dengan kemeja putih yang masih bersih, berhenti satu meter dari Tasya yang membeku dengan dua gelas kopi, dan berkata:
“Pagi.”
Tasya menjawab dengan suara yang hampir tidak keluar. “Pa... pagi, Pak.”
Pak Dimas mengangguk sekali. Lalu ia berjalan ke kursi di ujung meja, duduk, dan membuka tabletnya.
Selesai. Itu saja. Tidak ada tabrakan. Tidak ada kemeja yang basah. Tidak ada tatapan dingin yang berubah jadi penasaran, tidak ada kalimat “Kamu punya nyali”. Hanya dua orang canggung yang mengucapkan “pagi” seperti dua orang yang tidak saling kenal di lift.
Karena memang mereka tidak saling kenal.
Aku masih di bawah meja, memeluk kabel. Dan aku punya firasat buruk bahwa aku baru saja merusak sesuatu.
“Kamu ngapain di situ?”
Suara itu rendah, jernih, dan tepat di atas kepalaku.
Aku mendongak. Kalea Prameswari berdiri di samping meja, memegang tablet dan agenda hitamnya, menatap ke bawah ke arahku. Pagi ini blazernya hitam, rambutnya diselipkan ke belakang satu telinga, dan bibir merah batanya membentuk garis lurus yang tidak bisa kubaca.
Dari sudut ini, dengan cahaya proyektor biru di belakang bahunya, dia terlihat seperti sampul novel. Aku langsung menurunkan pandangan ke sepatunya. Sepatu hak hitam, rendah, ujungnya runcing. Lebih aman.
“Aku cuma lewat,” jawabku.
Hening.
“Di bawah meja?” tanyanya.
“Lewatnya agak... rendah.”
Dari kursi ujung, Pak Dimas mendongak dari tablet. Tasya menatapku dengan mata bulat. Dua direktur lain baru masuk dan berhenti di pintu, bingung kenapa ada laki-laki keluar merangkak dari bawah meja rapat sambil membawa kabel.
Aku berdiri, menepuk lutut celana, dan tersenyum pada semua orang dengan senyum paling netral yang bisa kubuat. “Proyektor sudah siap, Pak, Bu. Adaptor sudah terpasang. Kalau ada masalah, telepon ekstensi 1204.”
“Terima kasih, Mas...?” Pak Dimas menggantung kalimatnya.
Ia tidak tahu namaku. Tentu saja. Empat tahun dan sebelas kali perbaikan proyektor, dan CEO kami tidak tahu namaku. Aku nyaris lega.
“IT, Pak,” kataku.
Aku bergerak ke pintu, melewati meja tempat setumpuk salinan agenda rapat belum dibagikan. Refleks, karena tanganku memang tidak bisa diam kalau melihat sesuatu belum rapi, aku mengambil tumpukan itu dan mulai meletakkan selembar di depan setiap kursi.
“Itu bukan bagianmu.”
Kalea berdiri di sebelahku. Ia mengambil sisa tumpukan dari tanganku dengan satu gerakan rapi.
“Maaf, Mbak. Refleks.”
“Hm.” Ia meletakkan lembaran terakhir di depan kursi Pak Dimas, sejajar sempurna dengan tepi meja. “Kamu sudah di sini sejak jam berapa?”
“Enam kurang.”
Ia menoleh. Untuk sedetik, tatapan itu tidak memeriksaku seperti laporan. Ada sesuatu yang lain di sana. Heran, mungkin. Atau curiga.
“Kenapa?”
Karena ada web novel yang bilang kemeja bosmu akan basah kena kopi pagi ini, dan aku tidak mau jadi bagian dari kejadian itu.
“Biar aman,” kataku.
“Biar aman,” ulangnya pelan. Lalu ia kembali ke posisinya di samping kursi Pak Dimas, membuka agenda, dan tidak melihatku lagi.
Aku keluar dari ruang Anggrek dengan langkah orang yang baru saja selamat dari ledakan yang ia sendiri picu.
Setengah jam kemudian, di mejaku di lantai dua belas, Gilang datang dengan wajah orang berduka.
“Bim. Lo. Ngapain.”
“Kerja.”
“Tasya cerita ke anak marketing, anak marketing cerita ke Bu Ratmi, Bu Ratmi cerita ke gue.” Ia menjatuhkan diri ke kursi di sebelahku. “Lo merangkak keluar dari bawah meja rapat direksi.”
“Proyektornya rusak.”
“Dan kopinya nggak tumpah!”
“Bagus, kan? Karpet ruang Anggrek mahal.”
“Bim!” Gilang memegang kedua bahuku. “Itu harusnya meet-cute! Adegan paling penting! Di novel, Tania numpahin kopi ke Dirgantara, Dirgantara marah, terus dia lihat mata Tania yang berkaca-kaca, terus dia bilang, ‘Kamu punya nyali.’ Terus mereka saling benci tapi tertarik! Itu fondasi seluruh hubungan mereka! Dan lo, staf IT yang lewat, menghancurkan fondasi itu dengan sebuah kabel!”
“Gil. Itu novel.”
“Itu takdir!”
“Pak Dimas bahkan nggak lihat Tasya dua kali.”
“KARENA LO NGGAK KASIH KESEMPATAN.”
Tasya muncul di ujung lorong. Ia membawa sesuatu di tangannya dan berjalan ke arahku dengan senyum malu-malu. Gilang langsung berdiri tegak dan berubah jadi orang yang sangat profesional.
“Mas Bimo,” kata Tasya. Ia meletakkan sebungkus cokelat di mejaku. Merek yang sama dengan minggu lalu. “Makasih ya tadi.”
“Buat apa?”
“Kalau Mas nggak narik kabel, aku pasti nabrak Pak Dimas.” Ia tertawa kecil, lega. “Kopinya panas banget. Bisa-bisa aku dipecat di hari presentasi.”
“Presentasinya lancar?”
“Lancar! Pak Dimas cuma tanya dua pertanyaan, terus bilang ‘bagus’.” Matanya berbinar. “Katanya, ‘bagus’. Mas, Pak Dimas nggak pernah bilang bagus.”
“Selamat.”
Tasya pergi dengan langkah melompat. Gilang menatapku dengan ekspresi pengkhianatan.
“Lo dapat cokelat,” katanya. “Dari heroine.”
“Dia cuma bilang makasih.”
“Ini alur yang salah, Bim. Ini alur yang sangat salah.”
Aku membuka bungkus cokelat itu, mematahkan separuh, dan memberikannya pada Gilang. Ia menerimanya sambil cemberut, lalu memakannya sambil tetap cemberut.
Sorenya ada tiket lagi dari lantai empat belas.
Proyektor Anggrek: tidak ada masalah. Hanya konfirmasi. — K.
Aku menatap tiket itu. Konfirmasi apa? Tiket tidak perlu dibuat kalau tidak ada masalah. Tidak ada orang yang membuat tiket untuk bilang tidak ada masalah.
Aku menutup tiket itu dengan status Selesai dan menulis catatan: Terima kasih atas konfirmasinya. Lalu aku menghapus catatan itu, karena terlalu formal, dan menulis: Sama-sama. Lalu aku menghapusnya juga, karena ia tidak bilang terima kasih. Akhirnya aku menutup tiket tanpa catatan apa pun.
Pukul lima, saat aku membereskan meja, ada sesuatu di sana yang tadi tidak ada.
Secangkir teh. Mug kertas dari pantry lantai empat belas, yang lebih tebal dan lebih bagus dari mug kertas lantai dua belas. Teh melati, masih hangat. Tidak ada catatan. Tidak ada nama.
Aku melihat sekeliling. Gilang sudah pulang. Mbak Rini sudah pulang. Lorong kosong.
Aku meminumnya. Manisnya pas. Tidak terlalu manis, tidak hambar. Seperti dibuat oleh seseorang yang tahu takaran.
Jumat malam, pukul 21.00, aku sedang mencuci piring di dapur bersama kos ketika ponselku bergetar dua kali berturut-turut.
Notifikasi pertama dari Lembar: Senin Pagi mengunggah bab baru: Sang CEO dan Gadis Magang, Bab 23.
Aku tidak ingat pernah mengikuti novel itu. Pasti Gilang yang mengutak-atik ponselku saat makan siang.
Notifikasi kedua dari Gilang: BACA. SEKARANG. PARAGRAF TERAKHIR.
Aku mengeringkan tangan dan membaca dengan jantung yang entah kenapa berdetak sedikit lebih cepat dari biasa.
Bab 23 dimulai dengan rapat direksi. Tania presentasi dengan suara gemetar. Dirgantara bertanya dua pertanyaan tajam, lalu berkata “lumayan”. Bukan “bagus”, tapi “lumayan”, karena Dirgantara di novel tidak mungkin semudah itu memuji. Tidak ada kopi tumpah. Tidak ada kemeja basah. Penulisnya memindahkan pertemuan pertama mereka ke lift, setelah rapat, dengan adegan Tania menjatuhkan map dan Dirgantara memungutnya. Lebih lemah, menurutku. Kurang dramatis.
Lalu, di paragraf terakhir:
Kalina berdiri di samping kursi Dirgantara dan memandang ke ujung meja. Di sana, staf IT yang tadi pagi keluar dari bawah meja seperti kucing tersesat masih meninggalkan jejak: setiap kabel di ruangan itu terikat rapi, setiap salinan agenda sejajar sempurna. Kalina tidak tahu sejak jam berapa laki-laki itu datang. Ia hanya tahu proyektor itu, untuk pertama kalinya tahun ini, menyala tepat waktu.
Aku membaca paragraf itu dua kali.
Lalu aku membaca kolom komentar, yang tidak pernah kubaca seumur hidupku dan tidak berniat kubaca.
Komentar paling atas, dengan 412 suka, berbunyi:
kok aku lebih penasaran sama mas IT-nya daripada si CEO ya 😭
Aku mematikan ponsel, meletakkannya di rak piring, dan mencuci piring yang sama tiga kali.
Seperti kucing tersesat. Sejak jam berapa laki-laki itu datang.
Siapa pun penulisnya, dia ada di ruangan itu pagi tadi. Dan dia melihat lebih banyak dari yang seharusnya dilihat oleh siapa pun tentang staf IT yang lewat.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala reading
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto