Chapter Twenty Three
Ulang Tahun yang Dilupakan
POV: Bimo
Aku berulang tahun ke-28 pada hari Rabu, dan grup Wibisena Bersatu membahas warna sage.
Mbak Awan: Baju sage sudah jadi!! Penjahitnya Bu Imah. Ukuran sudah aku catat semua.
Embun: Punyaku jangan kegedean ya Mbak!!
Bayu: Aku M
Mas Langit: Aku L. Aku sampai Jumat malam. Tiket sudah beli.
Mbak Awan: Acara ultah Ibu Sabtu jam 10 pagi di warung! Bimo bawa kamera ya. Jangan lupa baterai cadangan.
Aku: Iya Mbak.
Aku menatap tanggal di pojok layar ponsel. Rabu. Tanggal yang sama setiap tahun.
Aku menunggu satu pesan lagi. Mungkin dari Embun, yang biasanya mengirim stiker kucing dengan kue. Mungkin dari Ibu, yang tidak pernah mengetik di grup tapi kadang mengirim pesan suara.
Grup itu diam sampai pukul sembilan pagi, lalu Bayu mengirim tangkapan layar skor gim.
Aku memasukkan ponsel ke saku dan mengganti toner printer lantai dua belas.
Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Ini bukan pertama kali. Tahun lalu, Embun ingat pada pukul sebelas malam, mengirim “HBD MAS MAAF TELAT 😭”, dan itu sudah cukup. Tahun sebelumnya, Ibu ingat tiga hari kemudian, saat aku pulang ke warung, dan memberiku soto dengan koya ekstra. Itu juga cukup.
Ulang tahun itu seperti kipas angin yang tidak berdecit. Tidak ada yang memperhatikannya selama tidak ada yang rusak.
Gilang juga lupa.
Itu bisa dimaklumi. Divisi IT sedang migrasi server, dan Gilang sudah tiga hari tidur di kantor, menggigil di ruang server dengan selimut yang ia pinjam dari ruang laktasi. Pagi itu ia datang ke mejaku dengan rambut seperti sarang burung, mata merah, dan semangkuk mi instan.
“Bim,” katanya dengan suara serak. “Server tiga nolak backup lagi.”
“Aku cek.”
“Lo malaikat.” Ia menjatuhkan diri ke kursinya. “Gue udah nggak tahu hari apa. Ini hari apa?”
“Rabu.”
“Rabu.” Ia menyeruput kuah mi. “Rabu nggak ada apa-apa, kan?”
“Nggak,” kataku. “Nggak ada apa-apa.”
Pukul 12.14, aku duduk di anak tangga keempat dengan dua bungkus gorengan.
Pukul 12.15, pintu lantai empat belas terbuka. Kalea turun membawa kotak bekal, tas kertas cokelat, dan wajah sekretaris direksi.
Ia duduk di sebelahku. Ia tidak menyelipkan tangannya ke tanganku seperti biasa. Ia meletakkan tas kertas itu di anak tangga di antara kami.
“Apa itu?” tanyaku.
“Laporan.”
“Laporan apa?”
“Laporan...” Ia membuka tas kertas itu dengan wajah datar dan mengeluarkan sebuah kotak kue kecil, putih, dengan pita merah. “...keuangan.”
Ia membuka tutup kotak itu.
Di dalamnya, sepotong kue lapis legit. Bukan sepotong biasa. Sepotong besar, dengan lapisan-lapisan tipis berwarna cokelat keemasan, rapat dan berkilat. Pinggirnya sedikit gosong.
Aku menatap kue itu.
“Lapis legit,” kataku.
“Iya.”
“Pinggirnya gosong.”
“Saya minta khusus.” Kalea mengeluarkan sebatang lilin kecil dari saku blazernya, berbentuk angka 2, lalu sebatang lagi berbentuk angka 8. Ia menancapkan keduanya di atas kue dengan sangat rapi, sejajar sempurna. “Toko Kenanga, Bekasi. Saya ke sana kemarin sore, pulang kantor. Antre empat puluh menit.”
Aku tidak bisa bicara.
Toko Kenanga ada di dekat stasiun Bekasi, sepuluh menit dari warung Ibu. Lapis legit di sana adalah kue favoritku sejak SD. Pinggirnya selalu sedikit gosong karena pemiliknya, Engkong Liong, memakai oven tua yang panasnya tidak rata. Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun soal itu. Itu bukan sesuatu yang penting untuk diceritakan.
“Kamu tahu dari mana?” tanyaku.
Kalea mengeluarkan korek api dari saku yang lain. “Ulang tahunmu? Data HR.”
“Bukan. Lapis legit. Toko Kenanga. Pinggir gosong.”
Ia berhenti, korek api di tangan. Lalu ia menyalakannya, dan api kecil itu menerangi wajahnya di tangga darurat yang remang.
“Delapan bulan lalu,” katanya pelan, menyalakan lilin angka 2. “Gilang ulang tahun. Divisi IT beli kue cokelat dari minimarket. Kamu bilang ke Gilang, ‘Kue paling enak itu lapis legit Toko Kenanga, yang pinggirnya agak gosong. Kapan-kapan aku bawain.’” Ia menyalakan lilin angka 8. “Kamu nggak pernah bawain. Gilang nggak ingat. Kamu juga nggak ingat.”
“Kamu ingat.”
“Saya ingat.”
“Delapan bulan lalu, kamu di mana?”
Ia meniup korek api. Asap kecil naik di antara kami.
“Lewat,” katanya, dan tersenyum. Senyum kecil yang menyimpan sesuatu.
Aku menatapnya. Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang belum bisa kusambungkan, seperti kabel yang ujungnya belum kelihatan. Delapan bulan lalu. Lampu kota dari jendela lantai dua belas. Lapis legit. Ia selalu bilang delapan bulan lalu.
Tapi lilin sudah menyala, dan Kalea Prameswari sedang menatapku dari atas dua lilin angka dengan wajah yang belum pernah kulihat: wajah seseorang yang sangat ingin aku bahagia.
Aku memutuskan kabel itu bisa disambung nanti.
“Tiup,” katanya. “Make a wish.”
Aku menutup mata. Aku tidak tahu harus berharap apa. Aku belum pernah meniup lilin ulang tahun sejak SMA. Di keluargaku, kue ulang tahun selalu milik orang lain, dan aku yang memotretnya.
Aku berharap satu hal. Satu hal saja.
Lalu aku membuka mata dan meniup.
Lilin padam.
Asapnya naik, tipis dan abu-abu, melayang ke atas tangga darurat. Ke langit-langit. Ke sebuah benda bulat putih kecil yang menempel di langit-langit, yang selama empat tahun tidak pernah kuperhatikan karena aku selalu menunduk.
Detektor asap.
Benda itu berkedip merah satu kali. Dua kali.
Lalu berteriak.
NGIIIIIIIIIIIING.
Bunyinya memekakkan telinga, memantul di seluruh dinding beton tangga darurat. Kalea menjatuhkan korek api. Aku menjatuhkan bakwan. Kami berdua menatap ke atas dengan horor.
“Ini,” kata Kalea, menutup telinga, “nggak ada di rencana.”
“Kamu nggak cek detektor asapnya?”
“Saya cek toko kuenya! Saya cek jadwal antrenya! Saya nggak cek langit-langit tangga darurat!”
Dari bawah, dari lantai dua belas, terdengar suara pintu dibanting. Lalu langkah kaki berat yang menaiki tangga dua anak tangga sekaligus. Lalu suara yang sangat dikenal, berteriak dengan seluruh paru-parunya:
“SIAGAAA! SIAGA KEBAKARAN! SEMUA TETAP TENAAANG!”
Pak Darto muncul di tikungan tangga, di bordes antara lantai tiga belas dan empat belas. Napasnya terengah. Kumisnya berantakan. Dan di kedua tangannya, ia mengangkat tabung pemadam api merah, siap menyemprot.
Ia berhenti.
Ia menatap kami. Dua orang duduk di anak tangga keempat. Satu kotak lapis legit. Dua lilin angka 2 dan 8 yang masih berasap. Korek api di lantai. Bakwan yang menggelinding ke bawah.
Detektor asap terus berteriak.
Pak Darto menatap lilin itu. Menatapku. Menatap Kalea. Matanya membelalak, lalu menyipit, lalu berkaca-kaca. Kumisnya bergetar.
Lalu, dengan tabung pemadam api masih terangkat di depan dadanya seperti mikrofon, Pak Darto mulai bernyanyi.
“SELAMAT ULANG TAHUN... KAMI UCAPKAAAN...”
Suaranya keras, sumbang, dan sangat tulus. Ia bernyanyi lebih keras dari detektor asap.
Kalea menatap Pak Darto. Lalu ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lalu bahunya mulai bergetar. Dan dari balik tangannya, ia ikut bernyanyi, pelan, dengan suara yang pecah karena tertawa.
“...SELAMAT PANJANG UMUR... KITA ‘KAN DOAKAAAN...”
Pintu lantai empat belas terbuka. Dua staf administrasi mengintip dengan wajah panik. Pintu lantai dua belas terbuka. Gilang muncul dengan mangkuk mi instan dan rambut sarang burung, berteriak “KEBAKARAN DI MANA?!”, lalu melihat lilin itu, berhenti, dan wajahnya berubah dari panik jadi ngeri jadi hancur.
“Bim,” katanya. “Hari ini ultah lo?”
“Iya.”
“Dan gue bilang nggak ada apa-apa.” Mangkuk mi di tangannya bergetar. “GUE BILANG RABU NGGAK ADA APA-APA.”
Detektor asap berhenti. Pak Darto menyelesaikan lagunya dengan nada tinggi yang sangat panjang dan sangat salah, lalu menurunkan tabung pemadam api dengan khidmat.
Di bordes, di tangga, di pintu-pintu yang terbuka, enam orang bertepuk tangan.
Aku duduk di anak tangga keempat, di depan kue lapis legit yang lilinnya masih berasap, dan untuk pertama kalinya sejak SMA, aku dinyanyikan Selamat Ulang Tahun oleh orang-orang yang bukan sedang menunggu aku memotret mereka.
Aku tidak tahu kenapa mataku panas. Mungkin karena asap lilin.
Setelah semua orang bubar (Pak Darto harus menulis laporan insiden untuk Mbak Sisil, yang menurut kabar langsung mengirim formulir tiga rangkap), Kalea dan aku duduk lagi di anak tangga keempat.
Ia memotong lapis legit itu menjadi dua dengan garpu plastik. Bagian pinggir yang gosong untukku. Bagian tengah untuknya.
“Kamu nggak suka pinggirnya?” tanyaku.
“Saya suka. Tapi kamu lebih suka.”
Kami makan pelan-pelan. Lapisnya lembut dan manis dan berbau kayu manis dan sedikit gosong, persis seperti yang kuingat dari waktu SD. Aku makan dengan sangat lambat, karena aku tidak mau kuenya habis.
“Kamu berharap apa tadi?” tanya Kalea.
“Rahasia.”
“Saya pacarmu. Rahasia tidak berlaku.”
“Itu bukan aturan.”
“Saya baru buat.” Ia menyandarkan bahunya ke bahuku. “Aturan Pacaran Rahasia nomor enam: tidak ada rahasia di anak tangga keempat.”
Aku menatapnya. Ada sesuatu yang lewat di wajahnya saat ia mengatakan itu. Sesuatu seperti seseorang yang baru saja mengucapkan kalimat yang memotong dirinya sendiri.
“Kalau gitu,” kataku pelan, “kamu juga nggak boleh punya rahasia.”
Kalea diam. Garpu plastiknya berhenti di atas lapis legit.
“Hal yang mau kamu bilang,” lanjutku. “Yang di Jakarta. Yang nanti.”
“Minggu depan,” katanya cepat. Terlalu cepat. “Saya janji. Minggu depan.”
Aku menatapnya lama. Lalu aku mengangguk.
“Oke. Minggu depan.”
Ia menghela napas. Lalu ia berdiri, naik satu anak tangga ke anak tangga ketiga, sehingga untuk pertama kalinya ia lebih tinggi dariku. Ia memegang wajahku dengan kedua tangan.
Lalu ia mencium keningku. Lama. Seperti aku mencium keningnya di apartemen, di depan foto ayahnya.
“Selamat ulang tahun, Bimo,” bisiknya di keningku.
“Makasih.”
“Ini buat semua yang lupa.” Ia mencium keningku sekali lagi, lebih pelan. “Yang ini buat saya.”
Sabtu pagi, ulang tahun Ibu yang ke-60.
Warung Soto Bu Sri ditutup untuk umum. Meja-meja kayu disusun memanjang. Mbak Awan menggantung balon warna sage di setiap tiang. Mas Langit datang dari Surabaya dengan istrinya dan membawa kue tart besar bertuliskan Selamat Ulang Tahun Ibu Sri Tercinta. Embun datang dari kos dengan pacar barunya. Bayu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, mencuci piring tanpa disuruh.
Semua orang memakai kemeja sage. Termasuk aku.
Aku memotret semuanya. Ibu meniup lilin dengan pipi menggembung. Mas Langit memeluk Ibu. Mbak Awan menangis sambil memotong kue. Embun berfoto dengan pacarnya di depan balon. Bayu berpose dengan tumpukan piring bersih seperti atlet dengan piala.
Lalu Mbak Awan berteriak, “FOTO KELUARGA! SEMUA BARIS DI DEPAN WARUNG!”
Semua orang berbaris. Ibu di tengah, duduk di kursi plastik yang dihias pita. Mas Langit dan istrinya di kiri. Mbak Awan di kanan. Embun dan pacarnya, Bayu, di belakang.
Aku berdiri di depan mereka, kamera di tangan, mengatur fokus.
“Senyum,” kataku.
Mereka tersenyum. Klik.
“Sekali lagi.”
Klik.
“Sudah, Bim?” tanya Mbak Awan.
“Sudah, Mbak.”
Mereka bubar. Ibu dikerubungi tetangga. Mas Langit menelepon kantornya. Aku menatap layar kamera. Foto keluarga yang sempurna. Delapan orang dalam kemeja sage, tersenyum di depan warung.
Tidak ada aku.
Ponselku bergetar.
Kalea: Kamu ada di fotonya?
Aku menatap pesan itu. Lalu menatap foto di layar kamera.
Aku: Nggak.
Tidak ada balasan selama satu menit. Lalu sebuah gambar masuk.
Foto dari Jimbaran. Laki-laki yang tertawa di depan matahari terbenam, dengan mata menyipit dan kepala miring.
Kalea: Kamu ada di sini.
Lalu satu pesan lagi.
Kalea: Dan di sini. Dan di sini. Dan di sini.
Tiga foto lagi masuk. Foto-foto yang tidak pernah kulihat. Aku di bawah meja ruang Anggrek, hanya punggung dan kabel, diambil dari sudut yang aneh. Aku di tangga darurat, menunduk ke bungkusan bakwan, dari atas. Aku di gazebo Puncak, setengah wajahku tertutup jaket parasut.
Aku menatap foto-foto itu. Lalu aku menatap foto di kamera, foto keluarga tanpa aku. Lalu foto-foto di ponsel, foto-foto diriku yang diambil diam-diam oleh seseorang yang memperhatikan cukup lama.
Sore harinya, saat kue tart tinggal separuh, Embun duduk di sebelahku di bangku warung dan menyandarkan kepala di bahuku.
“Mas,” katanya mengantuk. “Ultah Mas kapan sih? Aku lupa terus.”
Aku menatap balon sage yang mulai mengempis.
“Rabu kemarin,” kataku.
Embun mengangkat kepala. Wajahnya berubah. “Rabu... kemarin? Kemarin banget?”
“Iya.”
“MAS!” Ia memukul lenganku. “Kenapa nggak bilang?!”
“Nggak apa-apa.”
“Apa-apa, Mas! Kita semua di grup! Kita ngomongin baju sage!” Matanya berkaca-kaca. “Mas Bimo selalu inget ultah kita semua. Mas yang pesenin kue ultahku yang ke-17. Mas yang motret...”
Ia berhenti. Ia menatap dinding warung, ke deretan foto keluarga dalam bingkai murah. Lebaran, wisuda, pernikahan, ulang tahun ke-17.
Aku melihat wajahnya berubah lagi, pelan, seperti seseorang yang baru saja menyadari sesuatu yang sudah ada di depan matanya selama bertahun-tahun.
“Mas,” bisiknya. “Mas nggak ada di satu pun.”
Aku tidak menjawab. Aku mengusap kepalanya, seperti waktu ia masih kecil.
“Nggak apa-apa, Bun,” kataku. “Mas yang motret.”
Embun tidak bilang apa-apa lagi. Tapi ia tidak mengangkat kepalanya dari bahuku sampai matahari terbenam dan Ibu memanggil semua orang untuk makan soto.
Malamnya, di bus pulang ke Jakarta, aku membuka folder Arsip Dokumentasi Tim di ponsel dan memindahkan empat foto dari Kalea ke sana.
Sekarang ada lima foto aku di dunia. Lima, setelah empat tahun nol. Dan semuanya diambil oleh orang yang sama.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan reading
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto