Chapter Seven
Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
POV: Bimo
Setelah insiden ruang server, aku menetapkan kebijakan baru: tidak naik lift sama sekali.
Alasannya logis. Lift adalah ruang sempit tempat orang terpaksa berdiri berdekatan dan pura-pura tidak saling melihat. Di novel mana pun, lift adalah tempat terjadinya adegan. Lift macet, lift penuh, lift yang pintunya terbuka tepat ketika dua tokoh utama sedang berdiri di depannya. Dua minggu terakhir saja, lift sudah dua kali muncul di Sang CEO dan Gadis Magang.
Tangga darurat, sebaliknya, tidak pernah muncul di novel mana pun. Tangga darurat adalah wilayah netral. Bau cat lama, lampu neon yang berkedip, dan tidak ada satu pun penulis yang cukup kejam untuk menaruh adegan romantis di tempat yang anak tangganya lengket karena tumpahan es teh.
Aku keliru.
Selasa siang, pukul 12.15, aku naik tangga darurat dari lantai dua belas ke lantai empat belas untuk mengganti mouse direktur keuangan. Mouse-nya baik-baik saja. Direktur keuangan hanya lupa menyalakannya. Aku menekan tombol kecil di bawahnya, lampunya menyala, dan beliau menyalamiku dengan dua tangan.
Saat turun lagi, aku mendengar sesuatu dari bordes di antara lantai empat belas dan tiga belas.
Bunyi kertas minyak dibuka.
Aku berhenti di anak tangga ketiga dari atas. Di bordes bawah, duduk di anak tangga paling atas lantai tiga belas dengan punggung bersandar ke dinding, ada Kalea Prameswari.
Ia sedang makan siang.
Di pangkuannya ada kotak bekal plastik bening berisi nasi putih, telur dadar yang dilipat rapi, dan tumis kangkung. Sepatunya dilepas dan diletakkan sejajar di anak tangga di sebelahnya. Kakinya yang hanya terbungkus stoking tipis ditekuk. Blazernya terlipat di atas sepatu, seperti bantal kecil.
Ia makan sendirian, di tangga darurat, sambil membaca sesuatu di ponselnya.
Aku menatapnya dari atas. Ia belum melihatku.
Aku punya dua pilihan: mundur pelan-pelan ke lantai empat belas dan naik lift (melanggar kebijakan baru), atau melewatinya (melanggar aturan nomor satu: jangan berdiri di lorong saat ada adegan; tangga darurat, secara teknis, adalah lorong vertikal).
Aku memilih mundur.
Kakiku menginjak anak tangga yang lengket bekas es teh.
Bunyinya crek, keras dan memalukan, seperti selotip yang dicabut dari kardus.
Kalea mendongak. Matanya menemukanku: berdiri membeku di anak tangga ketiga, satu kaki mengambang di udara, dengan postur seorang pencuri yang tertangkap di dalam kartun.
Kami saling menatap.
“Kamu,” katanya.
“Aku cuma...”
“Jangan bilang lewat.”
Aku menutup mulut.
Ia melirik sepatunya yang dilepas, lalu kakinya yang bersila, lalu kotak bekalnya, dan ekspresinya berubah sedikit. Bukan marah. Lebih seperti orang yang baru saja ketahuan menyanyi di kamar mandi.
“Saya biasa makan di sini,” katanya. “Di pantry lantai empat belas, orang-orang berhenti bicara kalau saya masuk.”
“Oh.”
“Jadi lebih efisien makan di sini. Mereka bisa bicara. Saya bisa makan.”
Ia mengatakannya dengan nada biasa. Datar. Seperti melaporkan cuaca. Tapi aku memikirkan pantry lantai dua belas: Bu Ratmi dengan gorengannya, Gilang dengan teorinya, Mbak Rini dengan pertanyaan-pertanyaan soal lagu. Pantry yang selalu ribut, yang kadang membuatku pusing. Dan aku membayangkan pantry yang mendadak sunyi setiap kali seseorang masuk.
Aku turun dua anak tangga, lalu duduk di anak tangga ketiga di atasnya. Bukan di sebelahnya. Itu terlalu dekat. Tiga anak tangga di atasnya adalah jarak yang sopan, jarak orang yang kebetulan istirahat di tangga yang sama.
Kalea memandangiku dengan alis sedikit terangkat.
“Kamu mau apa?”
“Istirahat.”
“Di tangga?”
“Kakiku pegal. Aku nggak naik lift.”
“Kenapa?”
Aku berpikir sebentar, mencari jawaban yang tidak membuatku terdengar gila.
“Lift itu panggung,” kataku akhirnya.
Kalea berhenti mengunyah. Ia menatapku lama. Matanya hitam dan tajam, tapi ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang membuatku merasa ia mengerti persis apa maksudku, meski aku sendiri tidak yakin.
“Lift itu panggung,” ulangnya pelan.
“Iya.”
“Dan tangga darurat?”
“Belakang panggung.”
Hening. Lalu, untuk pertama kalinya, Kalea Prameswari tertawa.
Bukan senyum. Bukan sudut bibir yang bergerak. Tawa. Pendek, kaget, keluar dari tenggorokannya seperti burung yang tiba-tiba lepas dari sangkar. Ia buru-buru menutup mulut dengan punggung tangan, matanya menyipit, bahunya bergetar sedikit.
Aku belum pernah mendengar suara itu. Aku yakin tidak ada orang di kantor ini yang pernah mendengarnya. Suaranya jernih dan sedikit serak, dan bergema pelan di dinding tangga darurat, dan membuat lampu neon yang berkedip itu entah kenapa terasa seperti lampu panggung.
Aku menatap anak tangga di bawah sepatuku. Ada noda bekas es teh berbentuk seperti peta Kalimantan. Aku memandangi Kalimantan sampai detak jantungku kembali normal.
“Maaf,” kata Kalea, masih menahan tawa. “Itu lucu.”
“Aku serius.”
“Saya tahu. Makanya lucu.”
Aku membuka tas pinggangku dan mengeluarkan bungkusan kertas minyak. Dua bakwan, satu tahu isi, satu cireng. Gorengan Bu Ratmi, yang kubeli sebelum naik karena aku tahu direktur keuangan biasanya lama.
Aku menyodorkannya ke bawah, melewati tiga anak tangga.
Kalea menatap bungkusan itu. “Saya sudah makan.”
“Ini lauk.”
“Lauk saya sudah ada.”
“Telur dadar sama kangkung itu bukan lauk, Mbak. Itu menu diet.”
Ia menyipitkan mata. Aku tetap menyodorkan bungkusan itu.
Lalu ia mengambil satu bakwan. Bukan dengan sopan, tapi cepat, seperti kucing mengambil ikan dari meja saat pemiliknya lengah. Ia menggigitnya. Mengunyah. Berhenti.
“Ini...” Wajahnya memerah dari leher ke atas. Matanya berair. “Ini ada cabainya.”
“Bakwan Bu Ratmi selalu ada cabai rawitnya. Di dalam.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Mbak nggak tanya.”
Kalea mengipas mulutnya dengan tangan, dengan wajah memerah dan mata berair, dan berusaha sekuat tenaga mempertahankan martabat seorang sekretaris direksi. Ia gagal total. Aku menyodorkan termos tehku. Ia merebutnya, meneguk, lalu tersedak karena tehnya masih panas.
“Itu juga panas,” kataku, terlambat.
Ia menatapku dengan mata berair yang marah, pipi merah, dan bibir merah bata yang sedikit bengkak karena cabai. Ia terlihat seperti kucing yang baru saja dimandikan paksa.
Ia juga terlihat sangat, sangat cantik.
Aku langsung menatap Kalimantan lagi.
“Kamu,” katanya dengan suara serak, “sengaja.”
“Sumpah nggak.”
“Kamu lihat saya kepedasan dan diam saja.”
“Aku lagi... memproses.”
“Memproses apa?”
Bahwa kamu lucu sekali kalau kepedasan. Bahwa aku belum pernah melihat orang secantik ini terlihat seberantakan ini. Bahwa aku sedang melanggar aturan nomor tujuh di dalam kepalaku dan aku bahkan belum makan siang.
“Cara nolong Mbak,” jawabku.
Kalea mendengus, meneguk teh lagi (kali ini pelan-pelan), dan menghabiskan sisa bakwan itu. Sampai gigitan terakhir. Dengan mata masih berair.
“Enak,” katanya, dengan nada orang yang sangat kesal karena harus mengakui sesuatu.
Pintu tangga darurat di lantai tiga belas terbuka sedikit. Dua suara masuk bersama aroma kopi sachet. Dua karyawan perempuan, mungkin dari bagian pengadaan, yang sepertinya keluar sebentar untuk mengobrol tanpa terdengar atasan. Mereka berdiri di ambang pintu, tidak melihat kami di bordes atas.
“Laporanku dibalikin lagi sama Bu Kalea,” kata salah satunya. “Dicoret merah. Tulisannya cuma ‘Ulang.’”
“Ya ampun. Judesnya nggak habis-habis, ya.”
“Kayak ibu tiri di sinetron. Pasti di rumah juga gitu, makanya belum nikah.”
Mereka tertawa.
Aku menoleh ke bawah. Kalea sedang menatap kotak bekalnya. Wajahnya tidak berubah. Datar, tenang, rapi. Tapi jarinya berhenti di sendok, dan ia tidak bergerak sama sekali, seperti seseorang yang sudah terlalu sering mendengar hal yang sama sampai tahu cara terbaik adalah diam dan menunggu.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya.
Aku tidak suka konflik. Aku tidak suka didengar orang. Aku tidak suka menjadi orang yang dilihat. Seluruh hidupku dibangun di atas prinsip itu, ditulis di sebuah daftar dengan sembilan aturan.
Tapi aku membuka mulut, dan suaraku keluar jauh lebih keras dari yang pernah kupakai seumur hidupku:
“MBAK KALEA, BAKWANNYA ENAK, YA?”
Suaraku bergema di seluruh tangga darurat. Naik ke lantai empat belas. Turun ke lantai dua belas. Mungkin sampai ke lobi.
Di ambang pintu lantai tiga belas, ada bunyi gelas kopi sachet jatuh. Lalu dua jeritan kecil. Lalu bunyi sepatu berlari, dan pintu tangga darurat dibanting tertutup.
Hening.
Kalea perlahan mendongak menatapku. Mulutnya sedikit terbuka.
“Kamu,” katanya, “baru saja teriak.”
“Iya.”
“Kamu nggak pernah teriak.”
“Mbak tahu dari mana?”
Ia membuka mulut, menutupnya lagi. “Pak Darto,” katanya cepat.
“Pak Darto juga cerita soal teriakan?”
“Pak Darto cerita soal semuanya.” Lalu, dengan wajah yang tidak bisa memutuskan apakah ingin tertawa atau menangis, ia bertanya, “Kenapa?”
Aku menggaruk tengkukku. Wajahku panas. Telingaku pasti semerah telinganya waktu perutnya berbunyi di lobi.
“Laporannya memang harus diulang,” kataku. “Kalau Mbak coret, pasti ada salahnya. Aku pernah lihat laporan pengadaan. Mereka nulis ‘printer’ pakai dua T.”
Kalea menatapku.
Lalu ia tertawa lagi. Kali ini lebih lama. Kepalanya menunduk ke lutut, bahunya bergetar, dan suara tawa itu memantul pelan di dinding tangga yang bau cat lama. Di sela-sela tawanya ia berkata, “Printter,” dan tertawa lagi.
Aku ikut tertawa. Aku tidak bisa menahannya.
Dua orang dewasa, sekretaris direksi dan staf IT, duduk berjarak tiga anak tangga, tertawa di tangga darurat karena kata printer dengan dua T.
Lima menit sebelum jam istirahat habis, Kalea memakai sepatunya lagi. Ia merapikan kotak bekal, mengibaskan remah bakwan dari roknya, dan berdiri. Aku juga berdiri. Kami berhadapan, dengan tiga anak tangga di antara kami, sehingga untuk pertama kalinya mataku sejajar dengan matanya tanpa aku harus menunduk.
“Terima kasih,” katanya. “Untuk bakwannya.”
“Sama-sama.”
“Dan teriakannya.”
“Aku nggak teriak. Aku... bertanya dengan semangat.”
Sudut bibirnya bergerak. Ia mengambil blazer dari anak tangga dan menyampirkannya di lengan.
“Saya biasanya makan jam dua belas lewat lima belas,” katanya, sambil menaiki tangga melewatiku. Bahunya hampir menyentuh bahuku. “Di sini.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu apakah itu informasi atau undangan.
Ia berhenti di anak tangga teratas, tangan di gagang pintu lantai empat belas, dan menoleh.
“Itu informasi,” katanya.
“Oh.”
“Bukan undangan.”
“Oke.”
“Tapi kalau kamu kebetulan lewat,” ia membuka pintu, “bawa bakwan yang nggak pedas.”
Pintu tertutup di belakangnya.
Aku berdiri sendirian di tangga darurat, menatap pintu itu, dan merasakan sesuatu di dadaku yang mirip kipas Ibu setelah bautnya kukencangkan. Berputar tenang, tapi kencang.
Rabu, pukul 12.14, aku sudah duduk di anak tangga ketiga dari atas.
Aku membawa dua bungkus gorengan. Satu dengan cabai, satu tanpa. Aku harus menjelaskan pada Bu Ratmi kenapa aku butuh bakwan tanpa cabai, dan Bu Ratmi menatapku dengan senyum yang membuatku ingin menggali lubang di lantai pantry.
“Buat siapa, Mas?”
“Buat... teman.”
“Teman yang nggak tahan pedas?”
“Iya.”
“Teman yang kemarin teriakannya kedengeran sampai lantai sebelas?”
Ternyata teriakanku terdengar sampai lantai sebelas. Menurut Bu Ratmi, staf lantai sebelas sempat mengira ada lomba makan bakwan di gedung ini, dan dua orang dari divisi hukum turun ke pantry untuk mendaftar.
Pukul 12.15, pintu lantai empat belas terbuka. Kalea masuk, membawa kotak bekalnya, melihatku di anak tangga ketiga, dan berhenti.
“Kamu lewat,” katanya.
“Kebetulan.”
Ia turun, melewatiku, dan duduk. Kali ini bukan di bordes bawah. Ia duduk di anak tangga kelima. Dua anak tangga di bawahku.
Jaraknya berkurang satu.
Aku menyodorkan bungkusan tanpa cabai. Ia menerimanya tanpa protes, menggigit bakwan, dan mengunyah dengan wajah puas.
“Nggak pedas,” katanya.
“Aku minta khusus.”
“Bu Ratmi tanya buat siapa?”
“Aku bilang buat teman.”
Ia mengunyah pelan. Lalu, tanpa menatapku, dengan suara yang sangat pelan:
“Teman,” ulangnya.
Dan entah kenapa, cara ia mengucapkan kata itu, seperti sedang mencicipi rasanya, membuatku tidak bisa makan bakwanku sendiri sampai jam istirahat habis.
Malamnya, di grup Tim Hore Kapal Kabel, Bu Ratmi mengirim satu pesan:
Bu Ratmi: Bakwan nggak pedas laku 1. Pelanggan baru. 😌
Pak Darto membalasnya dengan stiker hormat. Gilang membalasnya dengan tujuh belas emoji kapal.
Aku mematikan ponsel dan tidur dengan wajah ditutup bantal.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri reading
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto