← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Three

Aturan Figuran

POV: Bimo

Hari Sabtu, aku membuat aturan.

Bukan karena takut. Aku ingin mencatat ini juga dengan jelas: aku tidak takut pada sebuah web novel. Aku orang dewasa berusia dua puluh tujuh tahun dengan pekerjaan tetap, BPJS, dan kebiasaan menabung lima ratus ribu setiap tanggal gajian. Orang dewasa seperti itu tidak takut pada novel berjudul Sang CEO dan Gadis Magang.

Aku hanya ingin bersiap. Sama seperti aku membuat cadangan data setiap Jumat sore. Bukan karena yakin server akan mati, tapi karena server yang mati tanpa cadangan adalah malapetaka yang bisa dicegah.

Jadi, Sabtu siang, duduk di kasur kos sambil makan mi instan, aku membuka aplikasi catatan di ponsel dan menulis:

ATURAN FIGURAN

  1. Jangan berdiri di lorong saat ada adegan.
  2. Jangan menolong siapa pun di depan saksi.
  3. Jangan bicara dengan tokoh bernama.
  4. Pulang tepat waktu.
  5. Jangan pernah masuk foto.
  6. Jangan baca kolom komentar.
  7. Jangan jatuh cinta pada antagonis.

Aku menatap daftar itu. Nomor tujuh muncul begitu saja dari jempolku, dan aku tidak tahu kenapa aku menulisnya. Aku hampir menghapusnya. Lalu aku memutuskan bahwa aturan yang tidak perlu tidak akan merugikan siapa pun. Seperti asuransi.

Nomor enam sudah kulanggar kemarin malam. Aku memutuskan bahwa aturan berlaku mulai hari ini.

Minggu sore Gilang datang ke kos untuk meminjam charger laptop dan melihat layarku yang terbuka. Aku tidak sempat menyembunyikannya.

“Bim.” Ia membaca daftar itu dengan wajah yang perlahan berubah dari bingung menjadi sangat, sangat bahagia. “Bim. Lo. Bikin. Aturan.”

“Itu catatan kerja.”

“‘Jangan jatuh cinta pada antagonis’?”

“Itu... prinsip profesional.”

Gilang merebut ponselku dan mengetik sesuatu sebelum aku sempat menghentikannya. Saat ponsel kembali ke tanganku, daftar itu sudah bertambah:

8. Jangan lupa traktir Gilang kalau jadian.

“Itu bukan aturan figuran,” kataku.

“Itu aturan persahabatan. Lebih tinggi dari figuran.”

Aku menghapusnya. Gilang menambahkannya lagi saat aku ke kamar mandi. Aku menghapusnya lagi saat ia pulang. Sampai sekarang aku tidak yakin ia tidak punya cara rahasia untuk mengakses ponselku, karena aturan nomor delapan muncul lagi Senin pagi.


Selasa pukul 21.00, Bab 24 terbit.

Aku membacanya di atas kasur, dengan lampu kamar dimatikan supaya tidak terasa seperti sedang belajar untuk ujian.

Di bab itu, Kalina memanggil Tania ke mejanya dan memarahinya karena salah format laporan. Tania menahan air mata. Dirgantara lewat dan melihat, tapi tidak berkata apa-apa. Di novel, Dirgantara selalu melihat tapi tidak berkata apa-apa. Itu sepertinya ciri khasnya, dan aku tidak mengerti kenapa tiga puluh delapan ribu orang menganggap itu romantis.

Lalu, di bagian akhir:

Rabu sore, lift nomor tiga akan mengurung Kalina dan Tania berdua. Dua puluh menit di ruang sempit, dua perempuan yang saling membenci, satu tombol darurat yang tidak berfungsi. Kalina akan kehilangan kendali. Dan seluruh lantai empat belas akan mendengar setiap kata kejamnya lewat interkom yang lupa dimatikan.

Aku menutup aplikasi.

Kalina dipermalukan. Itu yang akan terjadi. Penulisnya jelas sedang membangun momen ketika si antagonis jatuh, ketika semua orang akhirnya mendengar betapa jahatnya dia, dan Tania jadi lebih bersinar karena tetap sabar.

Aku tidak terlalu peduli pada Kalina. Dia tokoh fiksi. Tapi lift nomor tiga bukan fiksi, dan aku tahu persis bunyinya ketika ia mau macet. Bunyi gir berderak pelan, seperti orang menggertakkan gigi. Aku sudah tiga kali melaporkannya ke bagian engineering gedung. Tiga kali juga mereka bilang, “Sudah dicek, Mas. Aman.”

Aturan nomor satu: jangan berdiri di lorong saat ada adegan. Rabu sore aku akan menjauh sejauh-jauhnya dari lift nomor tiga. Aku akan memakai tangga darurat, dan kalau perlu ke lantai lain, aku akan memakai lift nomor satu atau dua. Kalau ada yang terjebak, itu urusan teknisi gedung. Bukan urusan staf IT yang lewat.


Rabu siang, rencanaku berjalan sempurna selama empat jam.

Lalu, pukul 15.10, sebuah tiket datang.

Laptop baru Pak Dimas sudah datang dari vendor. Mohon disetel dan diantar ke lantai 14 sebelum jam 16.00. Beliau rapat online jam 16.15. — K.

Aku menatap tiket itu seperti menatap undangan pernikahan mantan.

“Gil,” panggilku.

“Hm?”

“Lo bisa antar laptop ke lantai empat belas?”

Gilang menoleh dari layarnya dengan senyum yang terlalu lebar. “Bisa. Tapi nggak mau.”

“Kenapa?”

“Karena gue udah baca Bab 24, dan gue tahu kenapa lo nggak mau naik.” Ia mengedipkan sebelah mata. “Gue nggak mau mengganggu takdir lo.”

“Takdir gue cuma setel laptop.”

“Tepat. Takdir lo. Bukan takdir gue.”

Aku menyetel laptop itu: akun, email, aplikasi rapat, VPN, printer default (bukan printer lantai dua belas, demi kebaikan semua orang). Pukul 15.45 aku memeluknya di dada dan berjalan ke tangga darurat.

Tangga darurat gedung kami sempit, berbau cat lama, dan diterangi lampu neon yang berkedip. Dari lantai dua belas ke empat belas cuma dua lantai, empat puluh dua anak tangga. Aku menghitungnya sambil naik, karena menghitung membuatku tidak memikirkan hal lain.

Empat puluh. Empat puluh satu. Empat puluh dua.

Aku mendorong pintu tangga darurat di lantai empat belas, dan pintu itu terbuka tepat di sebelah deretan lift.

Lift nomor tiga sedang terbuka.

Tasya berdiri di dalamnya dengan tumpukan map. Kalea berdiri di depan pintunya, satu kaki sudah terangkat untuk masuk. Kalea memegang tablet, wajahnya datar, dan entah kenapa aku langsung tahu dia sedang tidak dalam suasana hati yang baik.

Dan aku mendengarnya. Dari dalam lift, dari balik dinding baja: bunyi gir berderak pelan, seperti orang menggertakkan gigi.

Aku tidak berpikir. Aku harus mencatat itu juga. Aku sama sekali tidak berpikir. Tanganku yang bebas terulur dan menahan sisi pintu lift.

“Jangan yang ini, Mbak.”

Kalea berhenti. Kakinya turun lagi ke lantai lorong. Tangannya refleks mencengkeram lengan bawahku untuk menjaga keseimbangan.

“Lagi sakit,” kataku. “Liftnya.”

Telapak tangannya hangat. Lebih hangat dari yang kubayangkan untuk seseorang yang, menurut gosip kantor, berdarah dingin. Jarinya panjang, kukunya pendek dan rapi tanpa cat. Dia memegang lenganku tidak lebih dari dua detik. Tapi selama dua detik itu aku bisa mencium aroma samar dari pergelangan tangannya.

Melati.

Lalu dia melepaskanku. Aku menarik tangan dari pintu lift, dan baru saat itulah aku melihat Tasya. Masih di dalam lift. Menatap kami dengan mata bulat. Jarinya, entah karena kaget atau gugup, menekan tombol tutup pintu.

“Tasya, tunggu...”

Pintu lift tertutup.

Lift nomor tiga bergerak turun dengan decit panjang. Tiga detik kemudian, dari balik dinding, terdengar bunyi dug yang berat. Lalu sunyi.

Indikator di atas pintu berhenti di antara angka 14 dan 13.

“Oh, nggak,” kataku.

Interkom di samping lift berbunyi dengan dengung statis. Lalu suara Tasya, kecil dan gemetar: “Ha... halo? Halo? Ini... liftnya berhenti. Halo?”

Kalea menatapku. Aku menatap Kalea. Laptop Pak Dimas masih di pelukanku.

“Teknisi gedung,” kata Kalea, dan sudah menekan nomor di ponselnya.

Aku menekan tombol jawab di interkom. “Tasya? Ini Bimo. Dari IT.”

“Mas Bimo?” Suaranya pecah. “Mas, aku... aku nggak suka tempat sempit, Mas...”

“Oke. Oke, nggak apa-apa. Lift ini memang suka begini. Nggak bahaya, cuma rem pengamannya yang aktif. Teknisi lagi dipanggil. Kamu duduk dulu, ya. Taruh mapnya di lantai.”

Terdengar suara map berjatuhan. Lalu isakan kecil.

Pintu ruangan CEO terbuka. Pak Dimas keluar dengan kemeja yang lengannya digulung, wajahnya bingung. “Ada apa?”

“Lift tiga macet, Pak,” kata Kalea. “Tasya dari magang di dalam. Teknisi sedang naik.”

Pak Dimas melihat interkom. Melihatku. Melihat laptop baru di pelukanku. Lalu, dengan cara yang membuatku terkejut, ia berjalan mendekat dan berjongkok di depan interkom, sejajar dengan panel itu.

“Tasya,” katanya. Suaranya lebih pelan dari yang pernah kudengar di rapat mana pun. “Ini Dimas.”

Isakan di interkom berhenti. “Pa... Pak Dimas?”

“Kamu takut tempat sempit?”

“I... iya, Pak. Maaf, Pak.”

“Kenapa minta maaf.” Pak Dimas memandangi panel interkom seperti sedang memandang orang sungguhan. “Saya juga takut ketinggian. Tapi kantor saya di lantai empat belas. Jadi kita sama-sama sial.”

Hening sebentar. Lalu dari interkom terdengar sesuatu yang mirip tawa basah.

Aku mundur perlahan. Satu langkah. Dua langkah. Aku merasa sedang menyaksikan sesuatu yang bukan untukku.

Kalea juga mundur. Kami berakhir berdiri berdampingan di dekat dinding, dua orang dewasa yang tiba-tiba tidak punya pekerjaan, sementara CEO perusahaan berjongkok di depan interkom lift dan bercerita kepada anak magang tentang betapa ia benci naik pesawat kecil.

Teknisi butuh dua puluh menit untuk sampai. Selama dua puluh menit itu, Pak Dimas tidak beranjak dari interkom.

“Kok kamu tahu?”

Aku menoleh. Kalea tidak menatapku. Ia menatap Pak Dimas, tapi suaranya ditujukan padaku.

“Tahu apa, Mbak?”

“Liftnya. Bakal macet.”

“Oh.” Aku mengangkat bahu. “Bunyinya.”

“Bunyinya?”

“Lift tiga kalau mau macet bunyinya beda. Ada suara gir. Kayak orang menggertakkan gigi.” Aku memperagakannya dengan menggertakkan gigiku sendiri, lalu langsung menyesal karena itu pasti terlihat bodoh. “Aku udah lapor tiga kali ke engineering. Katanya aman.”

Kalea akhirnya menoleh padaku.

Lalu ia tersenyum.

Bukan senyum lebar. Bukan senyum ramah. Hanya sudut bibir merah bata itu yang terangkat sedikit, matanya yang hitam yang sedikit melunak. Tapi itu senyum. Kalea Prameswari, yang konon membuat manajer menangis di toilet, tersenyum karena aku memperagakan suara lift.

Wajahnya berubah total ketika tersenyum. Garis tajamnya tidak hilang, tapi jadi lebih lembut, seperti kertas tegas yang dilipat pelan. Aku langsung menatap karpet. Karpetnya biru tua dengan pola garis-garis kecil. Aku menghitung garis-garis itu.

“Kamu dengar hal-hal yang orang lain nggak dengar,” katanya pelan.

“Itu cuma kerjaanku.”

“Hm.” Ia memandang interkom lagi. “Dan laptopnya?”

Aku menunduk. Laptop Pak Dimas masih di pelukanku. Jam di dinding lorong menunjukkan pukul 16.11.

“Rapat online Pak Dimas jam empat lima belas,” kata Kalea datar.

“Iya.”

“Empat menit lagi.”

“Iya.”

“Pak Dimas sedang berjongkok di depan lift.”

Aku menatap Pak Dimas, yang baru saja tertawa pelan karena sesuatu yang dikatakan Tasya. Aku menatap laptop. Aku menatap Kalea.

“Mbak,” kataku, “bisa tolong bilang ke peserta rapat online bahwa CEO kita sedang menyelamatkan nyawa?”

Untuk kedua kalinya dalam sepuluh menit, sudut bibirnya bergerak. “Saya bilang kendala teknis.”

“Itu juga benar.”

Ia mengambil laptop dari pelukanku dan berjalan ke ruangan Pak Dimas tanpa bicara lagi. Saat melewatiku, aroma melati itu lewat lagi. Samar, lalu hilang.


Teknisi datang, membuka pintu lift dengan kunci khusus, dan Tasya keluar dengan mata sembap, map dipeluk di dada, dan wajah merah karena malu. Pak Dimas berdiri, menepuk-nepuk lututnya yang kusut, dan dengan canggung berkata, “Kamu pulang saja. Istirahat.”

“Tapi laporan saya, Pak...”

“Besok saja.”

“Tapi Bu Kalea minta hari ini...”

“Bu Kalea,” kata Pak Dimas, menoleh ke arah Kalea yang baru keluar dari ruangannya, “laporan Tasya bisa besok?”

Kalea memandang Tasya. Memandang mata sembapnya. “Bisa, Pak.”

Tasya menatap Kalea dengan mata membelalak, seperti tidak percaya antagonis bisa berkata “bisa”.

Aku menyelinap ke tangga darurat sebelum ada yang mengingat keberadaanku.


Malamnya, di kamar kos, aku membuka daftar Aturan Figuran.

Aku membaca nomor dua: Jangan menolong siapa pun di depan saksi.

Lalu aku memikirkan semua saksi tadi sore. Kalea. Pak Dimas. Tasya di dalam interkom. Teknisi. Dan entah berapa banyak karyawan lantai empat belas yang mengintip dari balik partisi.

Aku mencoret nomor dua.

Lalu aku menatap nomor tujuh lama sekali, dan memikirkan telapak tangan hangat di lengan bawahku, dan aroma melati yang sama dengan teh di mejaku minggu lalu.

Tidak. Itu bukan apa-apa. Banyak orang suka melati. Melati itu bunga nasional.

Aku menutup aplikasi catatan dan tidur dengan lampu menyala, karena lupa mematikannya. Dan karena entah kenapa, aku tidak ingin bangun dan berjalan melewati gelap.