Chapter Twelve
Shipper Kantor
POV: Bimo
Perang kapal dimulai hari Rabu, di pantry lantai dua belas, dan tidak ada yang memberitahuku bahwa aku adalah wilayah yang diperebutkan.
Aku masuk pantry pukul sepuluh pagi untuk mengisi termos. Di dinding dekat dispenser, di papan gabus tempat biasanya ditempel pengumuman arisan dan jadwal piket kulkas, ada dua lembar kertas HVS baru.
Lembar pertama, ditulis dengan spidol hitam tebal: KAPAL KABEL 🚢 (Kalea + Bimo). Di bawahnya, daftar nama: Gilang, Bu Ratmi, Pak Darto, Mbak Wulan (resepsionis), Pak Kardi (parkir).
Lembar kedua, ditulis dengan spidol merah muda yang berkilauan: KAPAL TABIM 💕 (Tasya + Bimo). Di bawahnya: Mbak Rini, Dita (marketing), Sarah (marketing), Fina (teman kos Tasya, BUKAN KARYAWAN tapi dukung dari jauh).
Di antara kedua kertas itu, ada lembar ketiga, ditulis dengan pulpen biru dan tulisan tangan Bu Ratmi yang miring:
TARUHAN RESMI. Kalah traktir gorengan seminggu. Bandar: Ratmi.
Aku berdiri di depan papan gabus itu dengan termos kosong di tangan. Lama sekali.
“Bagus, kan?” kata Bu Ratmi di belakangku, sambil menata bakwan. “Sekarang resmi.”
“Bu, ini apa?”
“Kapal, Mas.”
“Aku tahu ini kapal. Kenapa ada dua?”
“Ada yang baca novel, Mas.” Bu Ratmi mengangkat bahu, dengan ekspresi seorang bandar yang tidak bertanggung jawab atas pasar. “Di novel, pembaca maunya Mas IT sama Tania. Terus anak-anak marketing yang baca juga mikir: Tania kan Tasya, Mas IT kan Mas Bimo. Jadinya Tabim.”
“Tasya bukan Tania.”
“Mas Bimo juga bukan Mas IT,” jawab Bu Ratmi. “Tapi kok di papan?”
Aku tidak bisa membantah logika itu. Logika Bu Ratmi selalu seperti bakwannya: sederhana, tapi ada cabai rawit di dalamnya.
Gilang muncul lima menit kemudian dengan wajah seorang jenderal yang wilayahnya diserbu.
“Bim,” katanya, menunjuk lembar merah muda dengan jari gemetar. “Ini perang.”
“Ini kertas.”
“Ini pengkhianatan.” Ia menurunkan suaranya, menoleh ke kanan-kiri. “Mbak Rini yang mulai. Mbak Rini! Yang dulu lo benerin printernya! Yang nanya lagu lo! Dia membelot ke Tabim!”
“Mbak Rini cuma suka gosip.”
“Mbak Rini sudah bikin fan art, Bim.” Gilang menyodorkan ponselnya. Di layar, gambar digital dua tokoh kartun: laki-laki berkemeja biru membawa gulungan kabel, dan perempuan berkuncir membawa map. Di sekeliling mereka ada hati-hati merah muda. Di bawahnya tertulis: Tabim: Kabel dan Kertas, Cinta yang Tersambung.
“Itu,” kataku, “lumayan bagus gambarnya.”
“BIM.”
“Maksudku, secara teknis...”
Gilang merebut ponselnya kembali. “Gue harus bikin fan art tandingan. Gue nggak bisa gambar. Pak Darto bisa gambar?”
“Pak Darto satpam, Gil.”
“Satpam bisa punya bakat terpendam.” Gilang sudah mengetik di grup Tim Hore Kapal Kabel. Tiga detik kemudian, Pak Darto membalas dengan foto gambar tangan di kertas buku tulis bergaris: dua orang lidi, satu membawa garis lurus (kabel?), satu membawa kotak (bakwan?), dan di atasnya ada matahari tersenyum.
Pak Darto: Mohon maaf kemampuan saya terbatas. Tapi niat saya tulus. Siaga.
Gilang menatap gambar itu dengan haru. “Ini sempurna,” bisiknya. “Ini lebih tulus dari fan art Mbak Rini.”
Ia mencetaknya di printer lantai dua belas, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah tidak macet, dan menempelkannya di sebelah lembar KAPAL KABEL dengan selotip bening.
Tasya menemukanku siang itu, sebelum jam makan siang, di meja kerjaku.
Ia datang dengan wajah merah sampai ke leher, membawa laptop pinjaman kantor dan ekspresi orang yang ingin menggali lubang di lantai dan tinggal di sana selamanya.
“Mas Bimo,” katanya. “Maaf.”
“Buat apa?”
“Kertas di pantry. Tabim.” Ia menutup wajah dengan kedua tangan. “Itu bukan aku yang bikin. Sumpah. Itu Mbak Rini sama anak-anak. Aku udah minta dicopot, tapi Bu Ratmi bilang taruhannya udah jalan.”
“Nggak apa-apa.”
“Apa-apa, Mas!” Ia menurunkan tangan. Matanya berkaca-kaca. “Aku nggak mau Mas Bimo mikir aku... aku... Mas Bimo baik banget, tapi aku nggak...”
“Tasya.”
“Ya?”
“Kamu suka Pak Dimas.”
Tasya membeku. Mulutnya membuka, menutup, membuka lagi, seperti ikan koi di kolam lobi.
“Kok... kok Mas tahu?”
“Pak Dimas buka tiket reset password atas nama kamu,” kataku. “Prioritas tinggi. Format lengkap. Beliau nulis ‘Mohon segera, kasihan anaknya’ di kolom catatan.”
Wajah Tasya berubah dari merah jadi ungu. Lalu ia duduk di kursi Gilang yang kosong, menyandarkan dahinya ke meja, dan mengerang pelan.
“Mas,” katanya ke permukaan meja, “jangan bilang siapa-siapa.”
“Aku nggak pernah bilang apa-apa ke siapa-siapa.”
“Mas janji?”
“Aku staf IT. Aku tahu password separuh kantor. Rahasia adalah pekerjaanku.”
Tasya mengangkat kepala dan menatapku dengan mata basah dan senyum yang perlahan muncul. “Mas Bimo,” katanya, “Mas tuh kayak... kakak yang nggak pernah aku punya.”
Lalu, sebelum aku sempat menghindar, ia berdiri dan memelukku.
Pelukan singkat, polos, seperti adik memeluk kakak setelah dibelikan es krim. Dua detik. Ia menepuk punggungku dua kali, berbisik “makasih ya, Mas”, dan melepaskan.
Aku masih duduk kaku di kursi, tangan terangkat setengah di udara.
Dan di ujung lorong, di depan printer lantai dua belas, berdiri Kalea Prameswari.
Ia memegang selembar kertas. Ia menatap kami. Wajahnya datar, rapi, tanpa ekspresi. Seperti wajahnya di hari pertama aku mengganti kabel monitornya, sebelum ada tangga darurat, sebelum ada bakwan berkaret gelang hijau.
Tasya melihat arah pandangku dan menoleh. “Oh! Bu Kalea!”
“Printer,” kata Kalea. Hanya satu kata. Ia mengangkat kertas di tangannya. “Sudah selesai.”
Lalu ia berbalik dan berjalan ke lift. Lift nomor satu.
Ia tidak menoleh sekali pun.
Pukul 12.14, aku duduk di anak tangga ketiga dengan dua bungkus gorengan.
Pukul 12.15, pintu lantai empat belas tidak terbuka.
Pukul 12.20, tidak terbuka.
Pukul 12.30, aku membuka bungkusan merah dan makan bakwan pedasku sendiri, pelan-pelan. Bungkusan hijau tetap di pangkuanku, karet gelangnya masih utuh.
Pukul 12.58, aku naik tangga dan membawa bungkusan hijau kembali ke mejaku. Bakwannya sudah dingin.
Gilang menatap bungkusan itu dan langsung mengerti. Itu yang paling menyebalkan dari Gilang. Untuk orang yang sering salah soal teori konspirasi, ia sangat jarang salah soal hal-hal semacam ini.
“Dia nggak datang,” katanya.
“Mungkin rapat.”
“Lo udah cek kalender direksi?”
Aku sudah cek. Tidak ada rapat jam dua belas. Aku tidak menjawab.
Gilang mengambil bungkusan hijau dari tanganku, membuka karet gelangnya, dan memakan bakwan dingin itu dengan wajah serius, seperti sedang melakukan ritual pemakaman.
“Gue makan demi kapal,” katanya dengan mulut penuh.
Kamis, ia tidak datang lagi.
Jumat, aku tidak membawa bungkusan hijau. Lalu, di tengah tangga, aku berbalik dan turun lagi ke pantry untuk membelinya. Bu Ratmi menyerahkannya tanpa bertanya, dengan tatapan iba seorang bandar yang tahu kapalnya sedang bocor.
Ia tidak datang.
Jumat malam, pukul 21.00, Bab 30 terbit. Aku membacanya di kasur, tanpa menyalakan lampu.
Bab itu berisi Dirgantara yang mulai salah tingkah setiap kali Tania lewat. Komedi yang lumayan: Dirgantara menabrak pot tanaman, Dirgantara salah menyebut nama Tania jadi “Tanya” dalam rapat, Dirgantara membeli tiga puluh roti sobek untuk seluruh divisi marketing hanya supaya bisa memberi satu ke Tania tanpa terlihat mencurigakan. Pak Dimas memang membeli tiga puluh roti sobek untuk divisi marketing hari Rabu. Aku tahu karena bungkus-bungkusnya menumpuk di tempat sampah lantai sepuluh.
Lalu, di bagian akhir bab:
Siang itu, di lorong lantai bawah, Kalina melihat Tania memeluk staf IT itu.
Pelukan yang singkat. Pelukan yang mungkin tidak berarti apa-apa.
Kalina kembali ke mejanya dan menyusun ulang jadwal Dirgantara untuk tiga minggu ke depan, dua kali, karena tangannya butuh sesuatu untuk dikerjakan. Ia tidak makan siang. Tidak hari itu, tidak keesokan harinya.
Ia tahu tempatnya. Antagonis tidak duduk di tangga yang sama dengan pemeran yang baik.
Aku membaca paragraf itu tiga kali.
Lalu aku duduk tegak di kasur, karena ada yang tidak beres.
Penulis itu melihat pelukan Tasya. Di lorong lantai dua belas, hari Rabu, sekitar jam sebelas. Siapa yang ada di lorong lantai dua belas hari Rabu jam sebelas? Mbak Rini, mungkin. Gilang, di pantry. Bu Ratmi. Dan Kalea, di depan printer.
Penulis itu tahu Kalina tidak makan siang. Tidak hari itu, tidak keesokan harinya.
Siapa yang tahu Kalea tidak makan siang di tangga darurat dua hari berturut-turut?
Aku. Hanya aku.
Atau orang yang tahu ia biasanya makan di tangga darurat. Dan orang yang tahu ia berhenti datang.
Aku membuka daftar Aturan Figuran. Baris terakhir, tanpa nomor: Jangan cari tahu siapa Senin Pagi.
Aku menatap baris itu lama sekali. Lalu aku menutup aplikasi, karena aku tidak mau melanggar aturan itu. Aku tidak mau tahu. Kalau aku tahu, aku masuk ke cerita. Dan kalau aku masuk ke cerita, aku tidak bisa keluar lagi.
Tapi ada hal lain di paragraf itu yang tidak bisa kututup.
Antagonis tidak duduk di tangga yang sama dengan pemeran yang baik.
Kalea tidak datang ke tangga darurat karena melihat Tasya memelukku. Siapa pun penulisnya, dia benar soal itu. Dan penulis itu juga menulis bahwa Kalina tahu tempatnya. Bahwa antagonis tidak pantas.
Aku tidak suka kalimat itu. Aku tidak suka kalimat itu sama sekali.
Senin pagi, pukul 09.15, aku membuat tiket.
Aku belum pernah membuat tiket untuk diriku sendiri. Tiket adalah sesuatu yang dibuat orang lain, untuk masalah yang mereka alami, dan aku datang memperbaikinya. Tapi Senin pagi itu, aku membuka sistem tiket, memilih kategori Perangkat Keras, lokasi Lantai 14 — Meja Sekretaris Direksi, dan menulis:
Pemeriksaan rutin kabel monitor.
Prioritas: rendah. Pelapor: Bimo Wibisena.
Aku naik tangga darurat. Empat puluh dua anak tangga. Di anak tangga ketiga dari atas, aku berhenti dan menatap tempat kosong di anak tangga keempat. Lalu aku naik dan mendorong pintu.
Kalea sedang mengetik di mejanya. Blazer hitam. Rambut digerai. Lipstik merah bata. Ia tidak mendongak saat aku berdiri di depan mejanya.
“Selamat pagi, Mbak. Dari IT. Pemeriksaan kabel monitor.”
“Monitor saya tidak apa-apa.”
“Ini pemeriksaan rutin.”
“Kamu tidak pernah melakukan pemeriksaan rutin.”
“Ini yang pertama.”
Ia akhirnya mendongak. Matanya hitam, tenang, dan dingin. Tapi di bawah matanya ada bayangan samar, seperti seseorang yang tidak tidur nyenyak selama beberapa malam.
“Siapa yang buat tiketnya?” tanyanya.
“Aku.”
“Untuk meja saya.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku membuka mulut. Aku tidak punya jawaban yang sudah kusiapkan. Aku sudah berlatih tiga kalimat di tangga darurat, dan ketiganya hilang begitu ia menatapku.
Jadi yang keluar dari mulutku adalah:
“Kabelnya mungkin kangen.”
Hening.
Kalimat itu menggantung di udara di antara kami, sangat bodoh, sangat tidak profesional, dan sangat tidak bisa ditarik kembali. Di belakangku, staf administrasi yang sedang mengisi air di dispenser berhenti bergerak. Mug di tangannya meluap.
Kalea menatapku. Bibirnya terbuka sedikit.
“Kabelnya,” ulangnya pelan.
“Monitornya,” koreksiku, terlambat. “Maksudku, monitor. Kangen. Pemeriksaan.”
“Kabel saya kangen.”
“Aku nggak bilang kabel Mbak.”
“Kamu bilang kabelnya.”
“Kabel secara umum.”
Sudut bibirnya bergerak. Hanya sedikit. Ia menunduk cepat ke layar, tapi aku sudah melihatnya, dan aku melihat telinganya berubah warna, dan untuk pertama kalinya dalam lima hari dadaku terasa seperti kipas yang bautnya dikencangkan lagi.
“Saya sibuk,” katanya ke layar, dengan suara yang tidak sedingin tadi. “Kamis ada audit IT eksternal. Auditor minta dokumentasi seluruh aset perangkat keras perusahaan. Nomor seri, tanggal pembelian, lokasi, kondisi. Dua ribu tiga ratus item.”
“Itu banyak.”
“Itu sangat banyak.” Ia mengetik sesuatu, lalu berhenti. “Data asetnya ada di divisi IT.”
“Ada di aku.”
“Saya tahu.” Ia akhirnya mengangkat wajah lagi. Matanya tidak lagi dingin. Lebih seperti mata seseorang yang sedang memutuskan untuk melompat ke air yang belum ia ukur dalamnya. “Rabu malam. Kita lembur.”
Kita.
“Oke,” kataku.
“Sampai selesai.”
“Oke.”
“Bawa...” Ia ragu sebentar. “Bawa bakwan yang nggak pedas.”
Aku mengangguk. Lalu, karena aku sudah terlanjur membuat tiket, aku berjongkok di bawah mejanya dan benar-benar memeriksa kabel monitornya. Kabel itu baik-baik saja. Kabel itu sangat baik, tidak longgar sedikit pun, dan tidak kangen pada siapa pun.
Tapi saat aku keluar dari bawah meja, ada kertas kuning tertempel di punggung tanganku. Aku tidak tahu kapan ia menempelkannya.
Tidak ada yang kangen.
Kabelnya cuma lagi sendirian.
— K
Aku menutup tiket itu dengan status Selesai. Di kolom catatan, untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku menulis sesuatu yang bukan laporan teknis:
Masalah: kabel sendirian.
Solusi: ditemani hari Rabu.
Lalu aku menghapusnya sebelum menekan simpan, karena tiket itu tembusannya masuk ke CC direksi.
Tapi aku tidak menghapus kertas kuningnya. Kertas itu masuk ke laci, ke tumpukan yang sekarang sudah empat lembar.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor reading
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto