← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Twenty Four

Penggemar Nomor Satu

POV: Kalea

Senin pagi, Tasya datang ke mejaku dengan mata yang berbinar seperti orang yang baru memecahkan kasus pembunuhan.

“Bu Kalea,” bisiknya, mencondongkan badan ke atas mejaku. “Saya tahu siapa Senin Pagi.”

Penaku berhenti di atas kertas.

Aku tidak mengangkat wajah. Aku menatap jadwal Pak Dimas yang sedang kususun, dan menghitung napas. Satu. Dua. Tiga. Seperti hitungan di bawah meja ruang Anggrek.

“Siapa?” tanyaku, dengan suara yang kubuat sedatar mungkin.

Tasya menoleh ke kanan, ke kiri, lalu ke pintu ruangan Pak Dimas yang tertutup. Ia membungkuk lebih rendah. Napasnya hangat dan beraroma permen stroberi.

“Pak Dimas,” bisiknya.

Aku mengangkat wajah.

“Pak Dimas,” ulangku.

“Iya, Bu!” Matanya berbinar-binar. “Pak Dimas yang nulis novel itu!”

Aku menatap Tasya. Tasya menatapku, dengan wajah seseorang yang menunggu dipuji karena jawaban yang benar di kuis.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, sesuatu di dadaku yang terus mengencang perlahan-lahan mengendur. Seperti kipas angin yang dimatikan.

“Kenapa kamu pikir begitu?” tanyaku.

Tasya menarik kursi tamu dan duduk, seperti seorang detektif yang akan membeberkan buktinya. Ia mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi Lembar.

“Bukti satu,” katanya, menunjuk layar. “Catatan penulis di Bab 31. ‘Tania sudah punya seseorang yang menghitung hari untuknya.’” Ia mendongak. “Bu Kalea tahu papan tulis di ruangan Pak Dimas?”

Aku tahu. Aku melihatnya setiap hari. Hari ini angkanya 13.

“Papan tulis kecil di pojok?” tanyaku hati-hati.

“Iya!” Tasya hampir melompat dari kursi. “Saya masuk ke ruangan Pak Dimas minggu lalu buat antar laporan, dan saya lihat angka di pojok papannya. Enam belas. Besoknya lima belas. Besoknya empat belas.” Wajahnya memerah. “Saya hitung, Bu. Kalau dihitung mundur, angkanya habis tanggal empat belas Desember.”

“Tanggal berakhirnya program magang,” kataku pelan.

“TANGGAL BERAKHIRNYA PROGRAM MAGANG!” Tasya menutup mulutnya sendiri, karena suaranya terlalu keras. Lalu ia berbisik lagi, cepat, seperti air terjun. “Bu, siapa lagi yang tahu soal hitung mundur itu? Cuma orang yang masuk ruangan Pak Dimas. Dan orang yang nulis catatan penulis itu tahu. Jadi penulisnya pasti orang yang paling sering di ruangan Pak Dimas. Dan siapa orang yang paling sering di ruangan Pak Dimas?”

Aku. Jawabannya aku.

“Pak Dimas sendiri,” kata Tasya penuh kemenangan.

Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.

“Bukti dua,” lanjut Tasya. “Novel itu tahu jadwal direksi. Selalu tahu. Rapat, outing, Bali. Siapa yang tahu semua jadwal direksi?”

Aku. Sekali lagi, jawabannya aku.

“Pak Dimas,” kata Tasya. “Itu jadwal dia sendiri!”

Logikanya sangat salah dan sangat sempurna pada saat yang sama, seperti bakwan Bu Ratmi: sederhana, tapi ada cabai rawit di dalamnya.

“Bukti tiga.” Tasya menggulir ponselnya. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. “Cara Senin Pagi nulis Dirgantara, Bu. Dia selalu nulis Dirgantara itu dingin di luar tapi sebenarnya canggung dan baik. Takut ketinggian. Takut kecoak. Beli tiga puluh roti sobek cuma buat ngasih satu ke Tania.” Suaranya bergetar. “Orang lain nggak akan tahu Pak Dimas kayak gitu. Cuma Pak Dimas sendiri yang tahu dirinya kayak gitu.”

Aku menatap Tasya. Gadis dua puluh tiga tahun dari Bogor, dengan senyum seperti matahari jam tujuh pagi, yang sekarang menangis di kursi tamuku karena ia yakin laki-laki yang ia sukai menulis novel tentang dirinya.

Ada sesuatu yang sangat salah dengan situasi ini.

“Tasya,” kataku pelan. “Pak Dimas tidak bisa menulis.”

“Pak Dimas bisa!”

“Pak Dimas minta saya tulis ulang kartu ucapan Idul Fitri untuk karyawan karena kalimatnya, dan saya kutip, ‘Selamat Idul Fitri, semoga kinerja kuartal depan meningkat.’”

Tasya mengerjap. “Itu... itu mungkin penyamaran, Bu.”

“Penyamaran?”

“Biar nggak ketahuan dia bisa nulis bagus!”

Aku menutup mata. Aku tidak bisa membantah logika itu tanpa membuka rahasiaku sendiri.


“Terus,” tanyaku, dengan firasat buruk yang merayap naik dari perutku, “kamu mau apa?”

Tasya menyeka air matanya dan tersenyum. Senyum yang tulus dan bahagia dan sangat berbahaya.

“Saya mau bilang terima kasih, Bu.”

“Ke Pak Dimas?”

“Ke Senin Pagi.” Ia memeluk ponselnya di dada. “Bu, novel itu bikin saya semangat. Waktu saya baru magang, saya takut banget. Semua orang di kantor kelihatan pintar, dan saya cuma anak Bogor yang belum pernah kerja kantoran. Terus Mbak Rini kasih tahu ada novel tentang kantor kita. Dan Tania di novel itu, dia juga takut, tapi dia terus berusaha. Dan ada yang memperhatikan dia. Ada yang menulis dia dengan baik.”

Ia menatapku dengan mata basah.

“Bu, saya baca novel itu tiap malam sebelum tidur. Novel itu bikin saya merasa nggak sendirian di kantor ini.”

Aku tidak bisa bicara.

Delapan bulan lalu, aku menulis Tania sebagai gadis sederhana dari Bogor dengan senyum seperti matahari jam tujuh pagi. Aku menulisnya dari jauh, dari mejaku di lantai empat belas, dari cerita Mbak Rini di lift, dari cara Tasya memeluk map presentasinya seperti pelampung. Aku tidak pernah bicara dengannya sebelum outing.

Dan ia membaca kalimatku setiap malam sebelum tidur.

“Jadi,” lanjut Tasya, kembali bersemangat, “hari Jumat ada townhall bulanan, kan? Ibu yang jadi MC.”

“Iya.”

“Saya sama Mbak Rini sudah siapin kejutan. Kami bikin spanduk kecil. Tulisannya TERIMA KASIH, SENIN PAGI. Terus di akhir acara, saya mau baca satu paragraf dari novel itu. Paragraf favorit saya. Di depan semua orang. Terus saya mau bilang ke Pak Dimas di depan semua orang, ‘Pak, terima kasih sudah menulis kami dengan baik.’”

Darahku berubah jadi es.

“Tasya.” Suaraku keluar dua derajat lebih dingin. Suhu ruang server. “Itu tidak boleh.”

Tasya mengerjap. “Kenapa, Bu?”

“Itu...” Aku mencari kata. Kata apa pun. “Itu privasi. Penulis yang memakai nama samaran tidak mau identitasnya dibuka. Itu sebabnya mereka pakai nama samaran.”

“Tapi Pak Dimas pasti malu tapi senang, Bu!” Tasya tersenyum. “Kayak Dirgantara! Dirgantara selalu malu tapi senang!”

“Pak Dimas bukan Dirgantara.”

“Ibu nggak percaya Pak Dimas Senin Pagi?” Tasya memiringkan kepala. Lalu matanya membulat, seperti baru menemukan sesuatu. “Oh. Ibu tahu, ya? Ibu udah tahu dari awal? Ibu sekretarisnya. Ibu pasti tahu.”

“Saya tidak...”

“Ibu melindungi Pak Dimas!” Tasya menutup mulut dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca lagi. “Bu Kalea... Ibu baik banget. Ibu selalu melindungi Pak Dimas. Kayak di novel, Kalina juga selalu...”

Ia berhenti. Wajahnya berubah. “Kalina juga selalu... ada di sebelah Dirgantara.”

Aku membeku.

Tasya menatapku lama. Aku melihat roda-roda di kepalanya berputar. Kalina. Sekretaris direksi. Rambut sebahu. Lipstik merah bata.

Lalu wajahnya cerah lagi.

“Ibu tahu kenapa Pak Dimas nulis Kalina judes?” tanyanya penuh simpati. “Karena Pak Dimas nggak tahu Ibu sebenarnya baik! Pak Dimas cuma lihat Ibu di kantor! Nanti saya bilang ke Pak Dimas Ibu nggak judes, ya, Bu. Pas townhall.”

Aku menatap gadis itu, yang begitu baik dan begitu salah dan begitu yakin.

“Tasya,” kataku. “Tolong jangan lakukan itu.”

“Tenang aja, Bu.” Tasya berdiri, memeluk ponselnya. “Saya nggak akan bikin Pak Dimas malu. Saya cuma mau bilang terima kasih. Itu kan baik, Bu?”

Ia pergi sebelum aku bisa menjawab. Langkahnya melompat-lompat ringan di karpet lantai empat belas, seperti anak kecil yang baru saja diberi izin pergi ke pasar malam.

Aku duduk di kursiku dan menatap layar komputer selama sepuluh menit tanpa bergerak.


Aku punya tiga pilihan. Aku menuliskannya di kertas tempel kuning dan menempelkannya di balik monitor, di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun.

1. Batalkan townhall.
2. Hentikan Tasya.
3. Bilang ke Bimo SEKARANG.

Pilihan satu gagal pukul sebelas pagi. Aku masuk ke ruangan Pak Dimas dengan alasan bahwa ruang serbaguna lantai tiga sedang dipakai bagian HR untuk pelatihan. Pak Dimas, tanpa mengangkat wajah dari laporan, berkata, “Pindahkan pelatihan HR-nya. Townhall tidak boleh dibatalkan. Itu satu-satunya saat saya bisa bicara langsung ke semua karyawan.” Lalu ia berhenti, berdeham, dan menambahkan dengan suara lebih pelan, “Dan... peserta program magang dijadwalkan presentasi singkat. Saya ingin hadir.”

Ia menatap papan tulis kecil di pojok. 13.

“Baik, Pak,” kataku.

Pilihan dua gagal pukul dua siang. Aku turun ke lantai sepuluh dan menemukan Tasya dan Mbak Rini di pantry marketing, sedang menggunting huruf-huruf dari kertas karton warna-warni. T-E-R-I-M-A K-A-S-I-H. Mbak Rini menyambutku dengan gunting di tangan dan senyum lebar.

“Bu Kalea! Mau bantu?”

“Saya mau bicara dengan Tasya.”

“Oh, Tasya udah cerita!” Mbak Rini memotong huruf S dengan penuh semangat. “Ibu nggak usah khawatir, kami nggak akan bikin malu Pak Dimas. Ini apresiasi, Bu. Kantor kita jarang apresiasi orang. Biasanya cuma dimarahin.”

Tasya mengangguk-angguk di sebelahnya, memegang huruf P raksasa. “Ibu tenang aja!”

Aku menatap huruf-huruf karton itu. S-E-N-I-N P-A-G-I. Warna kuning, merah muda, hijau.

Aku tidak bisa menghentikan mereka tanpa bilang kenapa. Dan aku tidak bisa bilang kenapa tanpa bilang semuanya.

Pilihan tiga.


Pukul empat sore, Bimo datang ke mejaku membawa laptop kantor yang biasa kupakai untuk presentasi.

“Mati,” katanya. “Total. Kena virus dari flashdisk bagian pengadaan. Harus diinstal ulang. Tiga hari.”

“Tiga hari?”

“Paling cepat.”

“Townhall hari Jumat.”

Bimo menatapku. “Kamu ada laptop lain?”

Aku menatap tas kerjaku. Di dalamnya, laptop pribadiku. Laptop yang kupakai untuk menulis setiap malam. Laptop dengan dashboard Lembar yang selalu terbuka di salah satu tab.

“Ada,” kataku pelan. “Laptop pribadi.”

“Bisa dipakai?”

“Bisa.”

“Nanti Jumat pagi aku sambungin ke proyektor ruang serbaguna.” Ia tersenyum. “Atau kamu mau aku cek dulu? Biar aman?”

“Nggak usah,” kataku terlalu cepat. “Saya yang siapin slidenya. Kamu cukup sambungin kabel.”

“Oke.” Ia mengangguk tanpa curiga, seperti biasa. Lalu ia melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada yang melihat, dan menyentuh ujung jariku di atas meja. Hanya ujung jari. Satu detik. Aturan nomor satu, dilanggar dengan sangat sopan.

“Kamu kelihatan capek,” katanya pelan.

“Saya baik-baik saja.”

“Kamu bilang ‘saya baik-baik saja’ kayak printer bilang ‘siap mencetak’. Biasanya artinya macet.”

Aku tertawa. Tawanya keluar pecah dan tipis.

“Bimo,” kataku.

“Hm?”

Sekarang. Pilihan tiga. Di sini, di mejaku, pukul empat sore, dengan staf administrasi yang mengisi air di dispenser lima meter dari kami.

Bukan di sini. Tidak bisa di sini. Ia harus mendengarnya di tempat yang tenang, tempat ia bisa marah atau pergi atau diam tanpa ada orang yang melihat. Ia sangat benci dilihat. Aku tidak mau ia mendengar ini di tempat ia dilihat.

“Sabtu,” kataku. “Kamu kosong?”

“Kosong.”

“Saya mau ajak kamu makan malam. Ada yang mau saya bilang. Yang dari Bali.”

Wajahnya berubah sedikit. Bukan curiga. Lebih seperti lega, seperti seseorang yang sudah menunggu sangat lama dan akhirnya mendengar printer berbunyi.

“Sabtu,” ulangnya. “Oke.”

“Saya pesan tempat.”

“Aku pakai kemeja yang bagus.”

“Kemeja yang nggak ada noda lipstiknya.”

Ia tersenyum. Telinganya merah. “Itu satu-satunya kemejaku yang bagus.”

Ia pergi dengan laptop kantor yang mati di pelukannya, bersenandung pelan. Aku menatap punggungnya sampai ia menghilang di balik pintu tangga darurat.


Malam itu, aku memesan meja untuk dua orang di sebuah restoran kecil di Cikini. Restoran Sunda dengan taman, lampu gantung, dan suara gemericik air. Aku memilihnya karena tempatnya sepi dan karena ada pintu belakang, kalau ia butuh pergi tanpa melewatiku.

Aku menulis draf kesembilan. Kali ini bukan pesan. Ini naskah. Apa yang akan kukatakan Sabtu malam, kalimat demi kalimat, seperti menulis bab terpenting dalam novel.

Lalu aku membuka Aturan Antagonis dan menulis baris ketiga belas:

13. Sabtu. Tidak ada minggu depan lagi.

Aku menatap baris itu lama. Lalu aku membuka dashboard Lembar dan menatap angka di pojok kanan atas.

Pembaca: 64.112.

Enam puluh empat ribu orang. Dan di antara mereka, Tasya, yang membaca setiap malam sebelum tidur. Pak Darto dan istrinya. Mbak Rini. Gilang. Dan mungkin, mulai minggu depan, Pak Dimas, yang akan dituduh menulis novel yang tidak pernah ia baca.

Aku menutup tab Lembar.

Lalu aku memikirkan laptop ini di ruang serbaguna Jumat pagi, tersambung ke proyektor, ditonton dua ratus orang.

Aku membuka browser lagi. Aku menghapus riwayat. Aku logout dari Lembar. Aku memeriksa tiga kali bahwa tab itu tertutup.

Lalu aku menutup laptop dan pergi tidur, tidak menyadari bahwa aplikasi Lembar menyimpan sesi masuk otomatis di alamat yang berbeda. Alamat yang muncul pertama kali kalau seseorang mengetik huruf L di bilah alamat. Alamat yang langsung membuka dashboard penulis, lengkap dengan nama asli di pojok kanan atas, untuk keperluan kontrak penerbitan yang baru saja kuisi minggu lalu.

Aku tidak menyadarinya.

Penulis yang baik selalu memeriksa ulang naskahnya. Aku memeriksa ulang semua hal malam itu, kecuali satu hal yang paling penting.