← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Thirteen

Lembur

POV: Bimo

Rabu pukul 18.00, lantai empat belas berubah jadi kota hantu.

Para direktur pulang pukul lima. Staf administrasi pulang pukul setengah enam. Pak Dimas pulang pukul enam kurang lima, setelah berdiri di depan meja Kalea selama tiga menit, membuka mulut dua kali, lalu berkata, “Tasya... eh, maksud saya, laporan magang... sudah Anda terima?” dan pergi tanpa menunggu jawaban, menabrak pot tanaman di dekat lift.

Yang tersisa hanya Kalea, aku, dua ribu tiga ratus item aset perangkat keras, dan satu termos besar teh melati yang ia bawa dari rumah.

“Kamu bawa?” tanyanya tanpa mendongak dari layar.

Aku meletakkan dua bungkusan di mejanya. Karet gelang merah, karet gelang hijau. Dan satu kantong plastik tambahan.

“Itu apa?”

“Cireng. Tahu isi. Pisang goreng. Bakwan cadangan.” Aku membuka kantong itu. “Bu Ratmi bilang lembur butuh logistik.”

Kalea menatap tumpukan gorengan itu. Lalu menatapku. “Ini cukup untuk satu divisi.”

“Bu Ratmi bilang ‘kalau kurang, nanti malah nggak fokus’. Lalu dia kasih diskon.”

“Bu Ratmi tidak pernah kasih diskon.”

“Katanya ini diskon kapal.”

Kalea tidak bertanya kapal apa. Ia hanya mengambil bakwan berkaret gelang hijau, menggigitnya, dan menunjuk kursi kosong di sebelah mejanya dengan dagu. “Duduk. Mulai dari lantai satu.”


Pukul 18.40, Gilang muncul di lorong lantai empat belas.

“Halo!” katanya dengan semangat seorang relawan bencana. “Gue datang membantu!”

“Lo nggak diminta,” kataku.

“Tim IT harus solid, Bim. Dua ribu tiga ratus item itu banyak. Gue bisa input data. Gue bisa...” Ia melihat tumpukan gorengan di meja Kalea dan matanya berbinar. “...gue bisa bantu ngabisin logistik.”

Kalea menatap Gilang. Hanya menatap, tanpa bicara, dengan mata hitam dan wajah datar. Gilang mundur satu langkah.

Lalu dari arah lift terdengar suara langkah berat dan senter yang menyala.

“Mas Gilang!” Pak Darto muncul dengan seragam satpam lengkap, kumis rapi, dan senter di tangan. “Mas Gilang ada paket di lobi!”

“Paket? Gue nggak pesan apa-apa.”

“Ada, Mas. Besar. Harus diambil sekarang. Mendesak.” Pak Darto merangkul bahu Gilang dan mulai menariknya ke arah lift dengan kekuatan seorang jangkar tarik tambang. “Siaga, Bu Kalea! Siaga, Mas Bimo! Selamat bekerja! Saya patroli setiap lima belas menit! Tidak ada gangguan!”

“Pak Darto,” kataku, “Bapak bukannya shift pagi?”

“Tukar shift, Mas. Kebetulan.” Ia mengedipkan sebelah mata. Kedipan itu begitu jelas dan begitu tidak kebetulan, sampai Kalea menunduk ke layar dengan bahu yang bergetar.

Pintu lift tertutup. Dari dalamnya terdengar suara Gilang yang samar: “Paketnya dari siapa, Pak? Pak? PAK DARTO?”

Kalea dan aku duduk diam di lantai empat belas yang sunyi.

“Paket,” kata Kalea pelan.

“Paket,” kataku.

Kami tidak saling menatap. Tapi kami berdua tertawa, pelan, ke arah layar masing-masing.


Pukul 20.15, kami sudah menyelesaikan lantai satu sampai lantai enam. Empat ratus dua puluh item.

Kami punya sistem. Aku membacakan nomor seri dari database IT, dan Kalea mencocokkannya dengan daftar pembelian dari bagian keuangan. Kalau cocok, ia mengetik OK. Kalau tidak cocok, ia mengetik ?? dan aku harus mencari tahu kenapa.

Masalahnya, banyak sekali yang ??.

“Monitor lantai lima, nomor seri SM-4471-B,” kataku.

“Di daftar keuangan, dibeli 2019. Lokasi: lantai lima.”

“Di database IT, lokasinya lantai tujuh.”

“Kenapa?”

Aku menggulir catatan tiket lama. “Dipindah ke lantai tujuh tahun 2021. Pak Herman yang pindahin. Katanya monitor di lantai tujuh ‘lebih cerah’.”

“Itu monitor yang sama.”

“Pak Herman bilang di lantai tujuh lebih cerah.”

“Karena di lantai tujuh ada jendela.”

“Aku udah bilang begitu. Pak Herman nggak percaya.”

Kalea mengetik ?? lalu menghapusnya, lalu mengetik OK (Pak Herman). Ia memijat pelipisnya.

Pukul 21.30, printer lantai empat belas macet.

Kalea perlu mencetak lampiran untuk auditor. Seratus dua puluh halaman. Printer putih yang baru, yang konon tidak pernah rusak, berbunyi krek di halaman empat puluh tiga dan berhenti dengan lampu oranye berkedip.

Aku berdiri dari kursi.

“Duduk,” kata Kalea.

“Itu printernya macet.”

“Saya bisa.”

“Mbak, itu printer laser. Rolnya...”

“Itu bukan bagianmu.” Ia sudah berdiri di depan printer, membuka panel samping dengan gerakan yang terlalu bertenaga. “Kamu sudah kerja tiga jam di sini. Kamu harusnya sudah pulang. Ini bukan pekerjaanmu. Saya tidak mau... saya tidak mau kamu kerja terus untuk hal yang bukan bagianmu.”

Ia mengatakannya dengan nada tajam, seperti mencoret laporan dengan tinta merah. Tapi ada sesuatu di bawahnya. Sesuatu seperti seseorang yang takut meminta terlalu banyak.

Aku berdiri di belakangnya dan melihatnya menarik kertas yang tersangkut. Terlalu keras. Kertas itu sobek jadi dua, setengah keluar dan setengah tertinggal di dalam rol.

Kalea menatap setengah kertas di tangannya.

“Ah,” katanya.

“Iya.”

“Ini... jadi lebih buruk, ya?”

“Sedikit.”

Ia menghela napas panjang. Bahunya turun. Lalu, tanpa menoleh, ia mundur satu langkah dari printer, sehingga punggungnya hampir menyentuh dadaku. “Silakan,” katanya pelan, ke arah dinding.

Aku melangkah ke depan, berjongkok, dan mengeluarkan pinset dari tas pinggang. Kalea berjongkok di sebelahku. Lagi-lagi dekat. Lagi-lagi melati.

“Kenapa kamu selalu bawa pinset?” tanyanya.

“Kertas yang sobek di dalam rol nggak bisa diambil pakai jari.”

“Kamu tahu saya bakal nyobek kertasnya?”

“Semua orang nyobek kertasnya kalau lagi kesal.”

Ia diam. Lalu, sangat pelan: “Saya nggak kesal.”

“Oke.”

“Saya cuma capek.”

“Oke.”

“Dan saya nggak suka kamu lihat saya nyobek kertas.”

Aku menarik potongan kertas terakhir dari rol dengan pinset, utuh, dan mengangkatnya di depan wajahnya seperti piala kecil.

“Aku nggak lihat apa-apa,” kataku. “Aku cuma lewat.”

Ia menatap potongan kertas itu. Lalu menatapku. Lalu menunduk dan tertawa tanpa suara, dahinya hampir menyentuh bahuku.


Pukul 22.30, Pak Darto muncul untuk keempat kalinya, kali ini dengan dua bungkus nasi goreng dari gerobak di depan gedung.

“Logistik malam,” katanya, meletakkannya di meja dengan khidmat. “Dari Mang Ujang. Pedas satu, nggak pedas satu. Saya tahu dari grup.”

“Grup apa, Pak?” tanya Kalea.

Pak Darto membeku. Matanya melirik ke arahku dengan panik. Lalu ia mengangkat tangan ke pelipis. “Siaga!” katanya, dan berbalik pergi secepat yang dimungkinkan badannya, menabrak pot tanaman yang sama yang ditabrak Pak Dimas.

Kalea menatapku dengan alis terangkat.

“Grup arisan,” kataku.

“Arisan apa yang tahu saya nggak makan pedas?”

“Arisan... yang perhatian.”

Kami makan nasi goreng di meja sekretaris direksi, di antara tumpukan lampiran audit, dengan lampu kota Jakarta yang menyala di balik jendela besar. Nasi goreng Mang Ujang selalu disajikan dengan telur ceplok di atasnya. Kalea memotong telur ceplok miliknya dengan sendok, menimbang-nimbang, lalu memindahkannya ke atas nasi gorengku.

“Kamu kerja lebih banyak,” katanya.

Aku memindahkan kerupuk milikku ke atas nasi gorengnya.

“Mbak yang nyobek kertas,” kataku. “Butuh tenaga.”

Ia menyipitkan mata. Aku tetap menatap nasi gorengku. Di ujung meja, lampu printer berkedip hijau.

Lalu, setelah lima suapan dalam diam, Kalea berkata sambil menatap kerupuk:

“Tasya cantik, ya.”

“Iya,” jawabku. Jujur, karena memang begitu.

Kalea menusuk kerupuk itu dengan garpu. Kerupuk itu pecah jadi empat.

Aku menatap pecahan kerupuk itu, lalu menatap Kalea. Wajahnya datar. Tapi garpunya masih menancap di pecahan kerupuk yang paling besar, dan ia tidak menariknya keluar.

Otakku, yang sangat lambat soal hal-hal seperti ini, akhirnya menyambungkan kabelnya.

“Tasya suka Pak Dimas,” kataku cepat.

Garpu Kalea berhenti.

“Dia meluk aku di lorong karena aku janji jaga rahasianya,” lanjutku, terlalu cepat dan terlalu banyak. “Dan karena katanya aku kayak kakak. Kakak yang nggak pernah dia punya. Dia nangis. Dia nepuk punggungku dua kali kayak nepuk kucing. Itu bukan... bukan pelukan yang...”

“Kakak,” ulang Kalea.

“Kakak.”

Ia menarik garpu dari kerupuk. Pelan-pelan. Lalu ia memakan pecahan kerupuk itu, mengunyahnya, dan menelannya dengan wajah datar yang sempurna.

“Saya tidak tanya,” katanya.

“Iya.”

“Saya cuma bilang Tasya cantik.”

“Iya.”

“Itu observasi.”

“Iya.”

Ia mengambil pecahan kerupuk kedua. Lalu, tanpa menatapku:

“Pak Dimas tahu?”

“Belum.”

“Bagus.” Ia mengunyah. “Pak Dimas kalau tahu, dia bakal menabrak semua pot di gedung ini.”

Aku tertawa. Ia juga. Dan sesuatu yang kaku sejak hari Rabu lalu, sejak pintu lift nomor satu tertutup tanpa ia menoleh, perlahan mencair seperti mentega di wajan Mang Ujang.

“Anak tangga keempat kosong,” kataku pelan. “Tiga hari.”

Kalea berhenti mengunyah.

“Bakwan hijaunya dimakan Gilang,” lanjutku. “Dingin. Dia makan sambil sedih. Dia bilang demi kapal.”

“Kapal apa?”

“Kapal... arisan.”

Kalea menatap nasi gorengnya. Lama. Lalu ia berkata, sangat pelan, seperti mengaku sesuatu pada piring:

“Besok saya datang.”

“Oke.”

“Jam dua belas lewat lima belas.”

“Oke.”

“Bawa yang hijau.”

“Aku selalu bawa yang hijau.”

Ia menoleh ke arahku. Matanya basah. Mungkin karena uap nasi goreng, mungkin bukan. Lalu ia tersenyum, senyum yang hangat dan lelah dan sangat, sangat dekat.


Pukul 00.47, kami menyelesaikan item nomor dua ribu tiga ratus.

Aku bersandar di kursi, meregangkan punggung. Mataku perih. Jariku pegal karena mengetik nomor seri. Di sebelahku, Kalea masih memeriksa lampiran terakhir, rambutnya sudah dikuncir asal dengan pulpen ditusukkan sebagai tusuk konde, blazernya tergantung di sandaran kursi, lengan kemejanya digulung sampai siku.

Ia sedang menatapku.

“Apa?” tanyaku.

“Kamu tahu nggak,” katanya dengan suara serak karena lelah, “kalau lagi fokus kerja, kamu ganteng.”

Aku sedang minum teh melati dari termos. Teh itu masuk ke saluran yang salah. Aku batuk. Bukan batuk palsu. Batuk sungguhan, panjang dan memalukan, sampai mataku berair.

Kalea menepuk punggungku. Dua kali. Lalu tangannya tetap di sana, di antara tulang belikatku, hangat menembus kemeja.

“Itu observasi,” katanya. “Bukan pujian.”

“Observasi...” Aku terbatuk lagi. “Observasi biasanya ditulis di laporan.”

“Mau saya tulis?” Ia memiringkan kepala, dan ada sesuatu di matanya yang berkilat seperti lampu printer hijau. Jenaka. Berani. Sangat, sangat tidak seperti Kalea Prameswari di jam kerja. “Lampiran empat belas. Temuan audit: staf IT ganteng waktu lembur. Rekomendasi: lembur lebih sering.”

Aku menatapnya dengan mulut terbuka.

Ia tersenyum. Lalu menarik tangannya dari punggungku dan kembali ke layar seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi telinganya, yang terlihat karena rambutnya dikuncir pulpen, merah menyala seperti lampu rem di tol.

Aku tidak bisa bicara selama sepuluh menit.


Aku tidak ingat kapan aku tertidur.

Yang kuingat, aku menyandarkan kepala di meja “sebentar saja” sementara Kalea mencetak lampiran terakhir. Printer menderu dengan irama yang menenangkan. Lampu kota berkedip. Kalea bersenandung pelan, nada yang sama dengan nadaku.

Yang berikutnya kuingat, ada senter menyala di wajahku.

Aku membuka mata. Pak Darto berdiri di ujung lorong, senternya diarahkan ke meja sekretaris. Ia melihat sesuatu, mematikan senter dengan buru-buru, berbisik “siaga” dengan sangat pelan, lalu berjingkat pergi seperti kucing besar berseragam satpam.

Aku duduk tegak.

Ada sesuatu di bahuku. Blazer hitam, beraroma melati, disampirkan seperti selimut.

Dan ada sesuatu di dahiku.

Aku mengangkat tangan. Kertas tempel kuning. Aku mencabutnya dan membacanya di bawah cahaya lampu meja:

Makasih.
Jangan bilang siapa-siapa.
— K

Kalea tidak ada di mejanya. Lampiran audit sudah tersusun rapi dalam map. Jam dinding menunjukkan pukul 01.30.

Lalu aku mendengar suara dari pantry lantai empat belas. Bunyi air mendidih. Dan senandung.

Aku duduk di sana, dengan blazernya di bahuku dan kertas kuning di tanganku, dan tidak bergerak sampai ia kembali membawa dua cangkir teh melati baru, berhenti di ujung lorong, dan menyadari aku sudah bangun.

Kami saling menatap.

“Kamu tidur,” katanya.

“Sebentar.”

“Empat puluh menit.”

“Sebentar.”

Ia meletakkan teh di depanku. Lalu matanya jatuh ke dahiku, ke bekas lem kertas tempel yang pasti masih terlihat, dan sudut bibirnya bergerak.

“Kamu sudah baca?” tanyanya.

“Sudah.”

“Dan?”

Aku melipat kertas kuning itu dua kali, sangat hati-hati, dan memasukkannya ke saku kemeja, di atas jantung, tempat yang tidak akan bisa diambil siapa pun.

“Aku nggak akan bilang siapa-siapa,” kataku.

Ia menatap saku kemejaku. Lalu ia mengambil blazernya dari bahuku, pelan-pelan, dan ujung jarinya menyentuh leherku sebentar saat menariknya.

“Pak Darto lihat,” katanya.

“Iya.”

“Besok satu gedung tahu.”

“Mungkin.”

Ia memakai blazernya. Lalu, dengan wajah datar dan suara rendah yang biasanya ia pakai untuk membacakan jadwal direksi:

“Kalau begitu, saya nggak perlu pura-pura lagi soal anak tangga keempat.”