Chapter Sixteen
Laut Jam Lima Pagi
POV: Kalea
Aku menyetel tiga alarm. Pukul 04.15, 04.20, dan 04.25.
Aku sudah bangun pukul 03.40.
Aku berbaring di kasur hotel yang terlalu lebar untuk satu orang, menatap langit-langit, dan mendengarkan suara laut dari balik pintu balkon. Aku sudah menyusun kalimat pertama di kepalaku sejak semalam. Aku menyusunnya ulang tujuh kali sambil sikat gigi.
Bimo, ada yang harus saya bilang. Saya penulis novel itu.
Terlalu langsung.
Bimo, kamu pernah baca web novel?
Terlalu berbelit. Ia akan bilang “pernah”, lalu bertanya judulnya, lalu aku akan panik dan menyebut judul novel lain, dan kami akan berakhir membahas novel silat.
Bimo, menurutmu, kalau seseorang menulis tentang orang lain tanpa izin, tapi dengan niat baik, itu...
Itu bukan pengakuan. Itu soal ujian etika.
Pukul 04.30, aku menyerah dan bangun. Aku memakai kaus putih, celana pendek katun, kardigan tipis, dan sandal. Aku menatap cermin. Aku melepas kardigan. Memakainya lagi. Melepasnya lagi. Akhirnya kubawa di tangan, karena udara pantai jam lima pagi pasti dingin, dan karena memegang sesuatu membuat tanganku tidak gemetar.
Aku tidak memakai lipstik merah bata. Di Bali, aku tidak perlu jadi Kalea Prameswari si sekretaris direksi. Lagi pula, siapa yang memakai lipstik untuk melihat matahari terbit?
Aku memakai sedikit pelembap bibir berwarna. Hanya sedikit. Yang warnanya seperti kelopak jambu. Bukan untuk siapa-siapa.
Ayah tidak ada di sini untuk melihatku berbohong pada cermin. Itu satu-satunya keuntungan perjalanan dinas.
Pukul 04.55, aku tiba di pantai depan hotel.
Ia sudah di sana.
Duduk di atas pasir, menghadap laut yang masih gelap, dengan lutut ditekuk dan lengan melingkar di lututnya. Jaket parasut biru tua. Rambut yang belum disisir. Di sebelahnya, sebuah termos dan dua gelas kertas yang ditumpuk.
Aku berhenti di ujung jalan setapak, di antara pohon kelapa, dan menatap punggungnya.
Delapan bulan lalu, aku menulis kalimat pertama tentang punggung itu. Punggung seseorang yang berjongkok di depan printer, bersenandung, tidak tahu ada yang memperhatikannya. Sekarang punggung itu duduk di pantai Bali, menungguku, dan masih tidak tahu.
Aku berjalan mendekat. Pasirnya dingin dan basah di sela-sela jari kakiku.
“Kamu duluan,” kataku.
Ia menoleh. Wajahnya, di bawah langit yang masih biru tua, terlihat lebih muda. Matanya sedikit merah.
“Jam berapa kamu di sini?” tanyaku.
“Setengah lima.”
“Saya bilang jam lima.”
“Aku takut telat.”
“Setengah jam sebelumnya?”
Ia menunduk ke pasir. “Dan aku pengin tahu,” katanya pelan, “Mbak beneran datang atau nggak.”
Aku berdiri di sebelahnya dengan kardigan di tangan dan sesuatu di dadaku yang meleleh seperti lilin.
“Saya datang,” kataku.
“Iya.”
“Saya selalu datang.”
Ia mendongak. Aku duduk di sebelahnya di atas pasir. Tidak ada anak tangga di pantai. Tidak ada yang bisa kuhitung. Jadi aku duduk sedekat yang aku mau, dan ternyata yang aku mau adalah sangat dekat, sampai bahu kami bersentuhan.
Ia menuang teh dari termos ke gelas kertas dan menyodorkannya padaku. Melati.
“Kamu bawa teh melati,” kataku.
“Aku beli di minimarket hotel. Cuma ada satu merek.” Ia menuang untuk dirinya sendiri. “Mbak kan suka melati.”
“Kok tahu?”
“Mbak wangi melati. Setiap hari.” Ia meniup tehnya. “Deterjennya merek rahasia.”
Aku memukul lengannya pelan. Ia tertawa. Tawanya pelan dan serak karena masih pagi, dan bergabung dengan suara ombak.
Langit mulai berubah. Biru tua jadi ungu, ungu jadi merah muda, merah muda jadi oranye tipis di cakrawala.
Sekarang, kataku pada diriku sendiri. Sekarang, sebelum matahari naik dan semuanya terlalu terang untuk berani.
“Bimo,” kataku.
“Hm?”
“Ada yang mau saya bilang.”
Ia menoleh. Menunggu. Matanya tenang dan sabar, seperti mata seseorang yang terbiasa menunggu printer selesai mencetak.
“Saya...” Aku menelan ludah. “Selama ini saya...”
“SELAMAT PAGIII!”
Kami berdua menoleh.
Di sepanjang garis pantai, berlari ke arah kami dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk jam lima pagi, ada Pak Dimas. Ia memakai setelan lari lengkap: kaus kompresi hitam, celana pendek lari, sepatu lari neon, ikat kepala, jam tangan pintar, dan botol minum yang diikat di pinggang. Ia terlihat seperti iklan suplemen protein.
Ia melambai sambil berlari.
“Pagi, Bu Kalea! Pagi, Bimo!” Ia tidak berhenti. “Saya lari pagi! Kebiasaan! Setiap hari!”
Pak Dimas tidak pernah lari pagi. Aku tahu karena aku yang memegang kalendernya. Pukul enam pagi setiap hari, kalender Pak Dimas berisi tidur.
“Pak Dimas lari pagi?” bisik Bimo.
“Sejak hari ini,” bisikku.
Lalu kami melihat alasannya. Lima puluh meter di depan, di dekat batu karang, Tasya sedang yoga sendirian di atas matras merah muda, menghadap matahari terbit.
Pak Dimas berlari ke arah Tasya. Ia melambat. Ia membetulkan ikat kepala. Ia mencoba berlari dengan gaya yang lebih santai dan lebih atletis, sambil melirik ke arah matras merah muda.
Ia tersandung gundukan pasir dan jatuh tertelungkup.
Botol minumnya terlepas dari pinggang dan menggelinding ke arah laut.
Tasya menjerit dan berlari menolong. Pak Dimas bangun dengan wajah penuh pasir, meludah, dan berkata, “Saya tidak apa-apa! Ini bagian dari latihan! Latihan jatuh!”
Di sebelahku, Bimo menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya berguncang.
Aku juga menutup wajah. Kami duduk berdampingan di atas pasir, menutup wajah, tertawa tanpa suara sampai perut kami sakit, sementara di kejauhan seorang CEO berusia tiga puluh tiga tahun mengejar botol minumnya ke dalam ombak.
“Perlu ditolong?” bisik Bimo, setengah berdiri.
Aku menarik ujung jaketnya sampai ia duduk lagi. “Jangan.”
“Pak Dimas kecebur.”
“Biarkan.” Aku menatap Tasya yang berlari ke dalam ombak, menyambar botol minum itu, lalu menyerahkannya pada Pak Dimas yang basah sampai ke dada. “Itu adegannya. Bukan adegan kita.”
Bimo menatapku dengan alis terangkat, seperti menimbang kata adegan dari mulutku. Lalu ia duduk diam, dan aku pura-pura sangat tertarik pada gelas tehku.
Kalimat pengakuanku tenggelam di suatu tempat di antara pasir dan botol minum itu.
Saat tawa kami reda, matahari sudah separuh muncul. Pak Dimas dan Tasya sudah duduk di atas matras yoga, berdua, entah membicarakan apa. Pak Dimas masih ada pasir di alisnya.
Aku menatap laut, dan tiba-tiba bukan pengakuan soal novel yang keluar dari mulutku. Yang keluar adalah sesuatu yang lain.
“Ayah saya suka matahari terbit.”
Bimo menoleh. Tidak bertanya. Hanya menunggu.
“Ayah dosen sastra di Bandung. Setiap Minggu pagi, ia bangun jam empat, bikin teh melati, terus duduk di teras dan nulis. Puisi, cerpen, catatan kecil. Ia bilang jam lima pagi itu jam paling jujur. Semua orang masih tidur, jadi nggak ada yang perlu pura-pura.”
Aku memutar gelas kertas di tanganku.
“Waktu kecil, saya ikut bangun. Duduk di sebelahnya. Ayah kasih saya buku tulis, dan saya nulis apa saja. Kucing tetangga. Tukang roti. Ibu yang lagi marah karena panci gosong.” Aku tersenyum ke arah laut. “Ayah bilang, kalau kamu memperhatikan sesuatu cukup lama, kamu akan menemukan sesuatu yang indah di dalamnya. Bahkan di kucing tetangga yang galak.”
“Itu benar,” kata Bimo pelan.
“Ayah meninggal hampir dua tahun lalu.” Aku mengatakannya dengan suara datar, seperti membacakan jadwal. Begitu caraku mengatakannya setiap kali. “Serangan jantung. Hari Senin.”
Bimo tidak bilang turut berduka. Ia tidak bilang sabar, ya. Ia hanya bergeser sedikit, sehingga bahunya menempel lebih erat di bahuku. Seperti dinding yang bisa disandari.
“Setelah itu, saya berhenti nulis,” lanjutku. “Lama. Saya nggak bisa bangun jam lima. Nggak bisa minum teh melati. Nggak bisa memperhatikan apa-apa cukup lama.”
“Sekarang?”
Aku menatapnya. Ini saatnya. Ini jembatan yang sempurna. Sekarang aku menulis lagi. Tentang kantor. Tentang kamu.
“Sekarang,” kataku, “saya minum teh melati lagi.”
Pengecut. Aku pengecut.
Bimo tersenyum. Senyum yang sangat kecil dan sangat hangat. “Bagus,” katanya. “Berarti ada yang Mbak perhatikan cukup lama.”
Aku tidak bisa menjawab. Karena ia benar. Dan karena ia tidak tahu seberapa benar.
Ombak itu datang tanpa peringatan.
Kami duduk terlalu dekat ke garis air, dan pasang sudah naik tanpa kami sadari. Satu ombak besar, lebih besar dari yang lain, menyapu pasir dan menghantam kami sampai ke pinggang.
Aku menjerit. Gelas tehku terlepas. Air laut dingin sekali, dingin sampai napasku tertahan. Aku mencoba berdiri, tapi pasir di bawahku ikut tersedot ombak yang surut, dan aku kehilangan keseimbangan.
Tangan Bimo menangkap pergelangan tanganku. Ia menarikku berdiri. Terlalu kuat. Aku terhuyung ke depan, dan wajahku menabrak dadanya.
Lalu kedua lengannya melingkar di sekelilingku. Erat.
Refleks. Aku tahu itu refleks. Seperti di lapangan tarik tambang, seperti di pintu lift. Refleksnya selalu ke arahku.
Ombak surut. Air laut menetes dari ujung rambutku, dari jaketnya, dari celana pendekku yang basah sampai ke paha. Kami berdiri di garis pantai, basah kuyup, berpelukan.
Aku menunggu ia melepaskan.
Ia tidak melepaskan.
Aku juga tidak.
Dadanya naik turun di bawah pipiku. Jantungnya berdetak cepat, sangat cepat, seperti printer yang mencetak terlalu banyak halaman. Jaket parasutnya basah dan dingin, tapi di bawahnya ia hangat. Ia bau laut, dan teh melati, dan sesuatu yang lain yang tidak bisa kunamai. Sesuatu seperti kertas baru, seperti ruang server, seperti Senin pagi delapan bulan lalu.
“Mbak,” katanya. Suaranya bergetar di atas kepalaku. “Mbak nggak apa-apa?”
“Sebentar,” kataku ke dadanya.
“Hm?”
“Sebentar lagi.”
Aku merasakan napasnya berhenti.
Lalu lengannya mengerat. Pelan, hati-hati, seperti memeluk sesuatu yang bisa pecah. Dagunya turun dan bersandar di puncak kepalaku. Dan untuk beberapa detik, atau beberapa menit, aku tidak tahu, di pantai Nusa Dua jam lima lewat tiga puluh pagi, kami berdiri seperti itu. Basah. Diam. Dengan matahari yang terus naik di belakang kami, tidak peduli.
Bukan refleks lagi. Yang ini sengaja.
“BU KALEA! BIMO! KALIAN NGGAK APA-APA?”
Kami melompat terpisah.
Tasya berdiri di dekat batu karang, melambai panik. Di sebelahnya, Pak Dimas memegang botol minumnya yang berhasil diselamatkan, dengan pasir masih di alis, menatap kami dengan mulut sedikit terbuka.
“Kami kena ombak!” seruku, suaraku terlalu tinggi. “Kami nggak apa-apa!”
“Kalian basah banget!”
“Iya! Ombak!”
Tasya mengangguk, lalu berbisik sesuatu ke Pak Dimas. Pak Dimas mengangguk sangat pelan, seperti baru menemukan solusi masalah bisnis yang rumit.
Aku menoleh ke Bimo. Ia menatap pasir. Telinganya merah sampai ke leher. Rambutnya basah, menempel di dahi. Ada rumput laut kecil tersangkut di kerah jaketnya.
Aku mengulurkan tangan dan mengambil rumput laut itu.
“Ada rumput laut,” kataku.
“Oh.”
“Kamu kayak...”
“Printer macet?”
“Kayak duyung,” kataku. “Duyung yang kehilangan arah.”
Ia menatapku. Lalu ia tertawa, pendek dan kaget, dan aku ikut tertawa, dan kami berdiri di garis pantai dengan baju basah kuyup, tertawa seperti orang bodoh, sementara Tasya dan Pak Dimas menyaksikan dari kejauhan dengan wajah dua orang yang sedang menonton drama Korea.
Kembali di kamar hotel, aku berdiri di bawah pancuran air hangat selama dua puluh menit, menatap ubin.
Aku tidak mengatakannya.
Aku punya matahari terbit, dan pantai kosong, dan teh melati, dan kesempatan yang sempurna. Lalu ada Pak Dimas yang jatuh, dan cerita soal Ayah, dan ombak, dan pelukan yang sengaja. Dan sekarang aku punya pelukan itu, tapi aku tidak punya keberanian.
Aku membuka Aturan Antagonis di ponsel. Rambutku masih meneteskan air ke layar.
8. Suatu hari kamu harus bilang ke dia. (Bali.)
Aku menambahkan:
(Gagal. Ada ombak.)
Lalu aku menatap kalimat itu, dan tahu bahwa ombak bukan alasannya. Alasannya adalah aku takut. Aku takut kalau aku bilang, pelukan tadi akan jadi pelukan terakhir. Aku takut ia akan menatapku seperti pembaca di kolom komentar menatap Kalina: antagonis. Pantasnya sendirian di ending.
Aku menambahkan satu baris lagi, di bawah semuanya:
10. Peluk dia lagi sebelum dia tahu.
Aku tidak tahu apakah itu aturan atau doa.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi reading
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto