Chapter Thirty Six
Jumat, Pukul 21.00
POV: Kalea
Jumat malam, pukul 20.30, Ibu membuat teh melati di dapur rumah Bandung.
Ia menyeduhnya di teko keramik putih bermotif bunga biru, teko yang dulu dipakai Ayah setiap Minggu pagi. Teko itu tidak pernah dipakai sejak Ayah pergi. Ibu menyimpannya di lemari kaca di ruang tamu, di samping piala lomba cerdas cermat SD milikku dan foto pernikahan mereka.
Malam itu, Ibu mengeluarkannya, mencucinya, dan menyeduh teh melati di dalamnya seperti tidak pernah ada jeda dua tahun.
“Delapan puluh derajat,” kata Ibu, menuang air dari termos ke teko.
Aku menatap Ibu. “Ibu tahu dari mana?”
“Ayahmu selalu bilang begitu. Delapan puluh derajat. Lebih panas, tehnya pahit. Lebih dingin, wanginya nggak keluar.” Ibu menutup teko. “Kenapa? Ada yang lain yang bilang begitu?”
Aku tidak menjawab. Aku memikirkan HT di ruang kontrol ballroom Nusa Dua. Teh melati itu hangat berapa derajat, Mas? Delapan puluh.
Ibu membawa teko itu ke teras. Kami duduk di dua kursi rotan. Ibu di kursi Ayah, yang bantalnya kempis. Aku di kursi kecil, yang sekarang terlalu kecil untukku, sehingga lututku hampir menyentuh dagu.
Pohon jambu air di depan kami bergoyang pelan ditiup angin malam Dago. Lampu teras berwarna kuning, dikerubungi laron.
Ponselku tergeletak di pangkuan. Layarnya mati.
Pukul 20.55.
“Kamu gemetar,” kata Ibu.
“Dingin, Bu.”
“Ini Bandung, bukan Puncak. Nggak sedingin itu.” Ibu menuang teh ke dua cangkir. “Kamu gemetar karena takut.”
Aku memegang cangkir dengan dua tangan. Hangatnya menjalar ke telapak tanganku.
“Takut apa?” tanya Ibu.
“Takut isinya marah, Bu.” Aku menatap layar ponsel yang mati. “Atau isinya baik. Aku nggak tahu mana yang lebih menakutkan.”
Ibu menyeruput tehnya. “Anak itu nggak pakai titik di pesan pertamanya. Orang yang marah biasanya pakai titik. Banyak. Sampai tiga.”
Aku tertawa pendek.
Pukul 20.59.
Pukul 21.00, ponselku bergetar.
Satu kali. Notifikasi dari Lembar.
lewat_bawa_kabel menerbitkan karya baru: Catatan Staf IT yang Lewat.
Aku menatap notifikasi itu. Aku tidak membukanya.
Pukul 21.01. Aku tidak membukanya.
Pukul 21.02. Ibu melirikku dari kursi Ayah, tapi tidak bilang apa-apa.
Pukul 21.03. Aku meletakkan cangkir teh di lantai teras. Aku menatap jempolku di atas layar.
Selama delapan bulan, aku yang menekan tombol Terbitkan. Setiap Selasa dan Jumat, pukul sembilan malam, aku yang mengirim kalimat ke dunia, lalu menunggu orang lain membacanya. Aku tidak pernah tahu rasanya berada di sisi lain. Menunggu notifikasi. Menatap judul. Takut membuka.
Pukul 21.04, aku membukanya.
Pertama kali, aku membacanya dengan cepat. Terlalu cepat. Seperti seseorang yang meminum obat pahit dalam satu tegukan.
Senin pagi, printer lantai dua belas rusak.
Aku nggak ingat hari itu.
Mataku berhenti di paragraf ketiga.
Ada seseorang yang menangis di depan priter lantai dua belas, pagi-pagi sekali.
Priter.
Aku terus membaca. Aku tidak bisa berhenti. Kalimat-kalimat pendek. Tidak ada metafora. Tidak ada kalimat yang dipoles. Kalimat-kalimat seseorang yang tidak tahu cara menulis, tapi tahu persis apa yang ingin ia katakan.
Kami berdua tukang foto. Dan kami berdua nggak pernah bertanya ke orang lain apakah mereka mau kami tetap tinggal.
Jadi aku tanya sekarang.
Aku nggak mau halaman kosong.
Aku mau halaman yang ada kamunya.
Aku sampai di bagian akhir.
Kamu nggak pernah jadi antagonis di cerita mana pun yang aku baca.
Aku menutup ponsel di dada. Aku membungkuk di kursi kecil yang terlalu kecil, lututku menekan dadaku, ponsel di antara lutut dan dada, dan menangis tanpa suara.
Ibu tidak bilang apa-apa. Ia hanya mengulurkan tangan dari kursi Ayah dan meletakkannya di punggungku.
Kedua kali, aku membacanya pelan-pelan. Pukul 21.09.
Kali ini aku melihat hal-hal yang terlewat. Priter, dua kali, di paragraf yang sama. Ia hanya membetulkan satu. Atau tidak membetulkan sama sekali. Aku tertawa di tengah air mata, karena aku bisa membayangkan dia di ruang server, mengetik dengan dua jari, membaca ulang tiga kali, dan tetap tidak melihat priter yang kedua.
Kalau aku yang menangis jam enam pagi di depan priter, aku juga nggak mau dilihat.
Aku membaca kalimat itu lagi. Delapan bulan lalu, ia tidak menatap wajahku. Aku mengira itu karena ia tidak peduli. Karena aku hanya satu dari ratusan orang yang menunggu printer. Ternyata ia memilih untuk tidak menatap. Ia memilih, demi aku.
Ia selalu memilih, demi orang lain. Menahan pintu lift. Menarik kabel dari jalur langkah Tasya. Teriak BAKWANNYA ENAK, YA? di tangga darurat. Memotong bawang dengan pelan karena aku memeluknya dari belakang.
Dan sekarang ia memilih untuk dilihat. Demi aku.
Ketiga kali, pukul 21.15, aku membacanya dengan mata seorang editor.
Aku tidak bisa menahannya. Delapan bulan menulis membuatku membaca seperti itu. Aku melihat kalimat yang terlalu pendek, transisi yang tiba-tiba, paragraf yang bisa digabung.
Lalu aku melihat sesuatu yang lain.
Delapan puluh tujuh kali. Mbak Sisil menghitungnya pakai stabilo.
Mbak Sisil menghitungnya. Pakai stabilo. Mbak Sisil, yang membawa map plastik ke toilet, yang meminta surat keterangan sembuh dengan cap warung soto, membaca seluruh novelku dengan stabilo kuning dan menghitung berapa kali staf IT itu muncul.
Lalu aku melihat paragraf lain. Pakai ponsel Pak Darto yang layarnya retak. Pak Darto. Saya simpan, Bu.
Lalu aku menyadari bahwa tulisan ini bukan hanya tentang Bimo. Di sudut-sudut tulisan ini, di antara kalimat-kalimat pendeknya, ada Gilang, dan Pak Darto, dan Mbak Sisil, dan Pak Dimas. Mereka semua ada di sana. Lewat. Satu kalimat. Satu kalimat. Satu kalimat.
Seperti aku menulis dia di sudut-sudut novelku.
Ia menulis mereka dengan cara yang sama aku menulisnya. Diam-diam. Dengan baik. Di pinggir halaman, di tempat yang hanya bisa ditemukan oleh seseorang yang memperhatikan cukup lama.
Keempat kali, pukul 21.20, Ibu memintaku membacakannya keras-keras.
“Ibu nggak bisa baca layar kecil,” kata Ibu. “Kacamata Ibu ketinggalan di dapur.”
Kacamata Ibu tergantung di lehernya, dengan tali manik-manik. Aku menatap kacamata itu. Ibu menatapku dengan wajah polos seorang guru SD yang sedang berbohong untuk tujuan pendidikan.
Aku membacakannya.
Suaraku pecah di kalimat ketiga. Pecah lagi di Aku cuma lewat. Pecah total di Aku mau halaman yang ada kamunya, sehingga Ibu harus menunggu satu menit sebelum aku bisa melanjutkan.
Saat aku selesai, Ibu diam lama.
Lalu Ibu berkata, “Titiknya lengkap semua.”
Aku mengerjap. “Hah?”
“Tulisan ini. Titiknya lengkap. Setiap kalimat ada titiknya.” Ibu menyeruput teh. “Dia sudah nggak grogi.”
Aku tertawa sampai tersedak teh. Ibu menepuk punggungku. Dua kali.
“Lea,” kata Ibu setelah aku berhenti batuk. “Anak ini menulis seperti Ayahmu.”
“Bu, Ayah dosen sastra. Dia staf IT. Dia nulis priter.”
“Bukan soal typo.” Ibu menatap pohon jambu air. “Ayahmu juga nulisnya pendek-pendek kalau sedang jujur. Puisi panjangnya bagus, tapi surat-surat pendeknya untuk Ibu waktu pacaran...” Ibu tersenyum. “Itu yang paling Ibu simpan.”
Kelima kali, pukul 21.31, aku membacanya di ruang kerja Ayah.
Sendirian. Di kursi kayu yang bantalnya kempis, di depan meja jati yang penuh bekas cangkir teh, di sebelah mesin tik tua dan buku tulis bersampul cokelat.
Aku membacanya dengan pelan, kalimat demi kalimat, seperti Ayah mengajariku membaca puisi waktu SD. Baca setiap kalimat seperti kamu baru pertama kali mendengar bahasa itu.
Tanggal empat belas. Hotel Arunika.
Aku nggak akan lewat.
Aku menatap dua kalimat terakhir itu sampai layar ponsel meredup sendiri.
Lalu aku menyalakannya lagi, dan menggulir ke bawah, ke kolom komentar.
Aku tidak berencana membaca komentar. Tapi angka di bawah tulisan itu menarik perhatianku. Komentar: 214.
Dua ratus empat belas. Dalam setengah jam. Untuk tulisan dari akun tanpa foto profil yang dibuat seminggu lalu.
Darto_Siaga: Saya kembali. Siaga. 🫡
lunamelati_: INI MAS IT ASLI??? MAS IT NULIS SENDIRI??? AKU NANGIS DI KASUR 😭😭😭
tim.kalina.4ever: “kamu nggak pernah jadi antagonis di cerita mana pun yang aku baca.” aku udah bilang dari bab 12. AKU UDAH BILANG.
bacasambilngopi: oke aku minta maaf dulu pernah tim mas IT x tania. aku salah. aku sangat salah.
Dan di bawahnya, satu komentar dari akun yang tidak kukenal, dengan foto profil sepiring gorengan:
BuRatmi_Gorengan: Bakwan hijau masih ada, Bu. Ibu simpan. Diskon kapal seumur hidup.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Lalu satu komentar lagi, dari akun dengan foto profil seekor kucing oranye:
pak_kumis_official: Kartu Idul Fitri tahun depan masih kosong. — D.H.
Aku tertawa sampai harus memegangi meja jati Ayah.
Lalu, di paling bawah, komentar terbaru, dikirim tiga menit lalu, dari akun bernama gilang.sahabat.ML:
gilang.sahabat.ML: Bu Kalea. Saya cuma mau bilang: dia nulis ini lima hari. Dia hapus tiga kali. Dia nggak keluar dari ruang server buat pipis. Saya mau nambahin emoji hati tapi dia bilang itu nggak jujur. Jadi saya cuma kasih tahu: ini jujur. Semua. Kecuali typo “priter”, itu nggak sengaja. Tapi itu juga jujur.
Aku tidak membalas satu pun komentar itu.
Aku tidak membalas tulisan Bimo. Aku tidak mengirim pesan ke lewat_bawa_kabel. Aku menutup aplikasi Lembar dan meletakkan ponsel terbalik di atas meja jati.
Lalu aku membuka laptop.
Sudah dua minggu aku tidak membuka laptop untuk menulis. Sejak bab terakhir. Sejak menghapus segalanya pukul 23.59.
Aku membuka dokumen baru. Halaman kosong. Kursor berkedip.
Ayah menulis di buku tulisnya: Aku harap dia nggak takut menulis dirinya sendiri dengan baik.
Aku menatap halaman kosong itu sangat lama.
Lalu aku menulis satu kalimat.
Selama delapan bulan, aku menulis diriku sendiri sebagai antagonis, karena itu lebih mudah daripada menulis diriku sebagai seseorang yang menangis di depan printer dan diselamatkan oleh segelas teh.
Aku menatap kalimat itu. Itu bukan cerita. Itu bukan bab. Itu hanya kalimat. Kalimat paling jujur yang pernah kutulis tentang diriku sendiri.
Aku tidak menghapusnya.
Aku menulis kalimat kedua. Lalu ketiga. Lalu aku berhenti, karena aku sadar sedang menulis sesuatu yang harus kukatakan dengan mulut, bukan dengan jari. Di depan wajahnya. Tanpa nama samaran.
Aku menyimpan dokumen itu dengan nama Untuk Tanggal 14.
Ibu mengetuk pintu ruang kerja Ayah pukul sebelas malam.
Ia membawa koper kecil. Koper beroda warna merah marun, yang terakhir dipakai Ibu untuk umrah lima tahun lalu.
“Ibu ngapain bawa koper, Bu?”
“Ibu ikut ke Jakarta,” kata Ibu.
“Bu...”
“Tanggal empat belas. Ibu ikut.” Ibu meletakkan koper itu di samping pintu dengan gerakan final, seperti guru meletakkan rapor di atas meja. “Ibu mau lihat anak yang nulis priter itu. Langsung. Pakai kacamata.”
“Bu, itu acara kantor. Gala. Ibu bukan tamu undangan.”
Ibu mengeluarkan ponselnya dari saku daster, membuka sesuatu, dan memutar layarnya ke arahku.
Pesan WhatsApp. Dari nomor yang tidak dikenal. Dikirim kemarin.
Selamat siang, Ibu. Perkenalkan, saya Dimas Haryanto, Direktur Utama Haryanto Group, atasan Kalea. Mohon maaf mengganggu. Saya ingin mengundang Ibu secara resmi ke Gala Ulang Tahun ke-25 perusahaan kami, tanggal 14 Desember, pukul 19.00, Hotel Arunika Jakarta. Undangan fisik akan dikirim oleh staf kami. Kalea tidak tahu soal ini. Mohon dirahasiakan. Rahasia perusahaan. Kode etik. Hormat saya, D.H.
Aku menatap pesan itu.
“Pak Dimas punya nomor Ibu dari mana?”
“Dari formulir kontak darurat kamu di HR, katanya.” Ibu memasukkan ponsel kembali ke saku daster. “Mbak siapa itu. Sisil. Dia yang kasih. Katanya dia sudah bikin formulir persetujuan khusus untuk itu. Tiga rangkap.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis. Jadi aku melakukan dua-duanya, di lantai ruang kerja Ayah, sementara Ibu berdiri di ambang pintu dengan koper merah marun dan wajah seorang guru SD yang baru saja menang lomba cerdas cermat.
“Undangan fisiknya datang tadi siang,” kata Ibu. “Diantar kurir. Kartu warna krem, huruf emas timbul.”
Ia mengeluarkan sesuatu dari saku daster yang lain.
Kartu undangan krem keemasan. Gala Malam Ulang Tahun ke-25 Haryanto Group. Hotel Arunika, Jakarta. Kartu yang sama dengan yang kucetak satu per satu di baki manual printer lantai dua belas, berdua dengan seseorang yang bersenandung.
Di belakang kartu itu, di kolom nama tamu, tertulis:
Ibu dari Kalea Prameswari.
Tulisan tangannya miring dan berantakan, seperti tulisan seseorang yang biasanya mengetik dengan dua jari. Aku belum pernah melihat tulisan tangan Bimo. Tapi aku tahu. Seperti aku tahu bunyi senandungnya dari ujung lorong.
Dan di sudut kanan bawah, sangat kecil, hampir tidak terlihat, ada satu kata yang ditulis dengan pulpen yang sama:
Siaga.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00 reading
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto