← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Twenty Six

Semua Orang Melihat

POV: Bimo

Sabtu malam, pukul 19.00, Kalea menunggu di sebuah restoran Sunda di Cikini.

Aku tahu karena ia mengirim pesan. Satu pesan, pukul 18.52, setelah empat belas panggilan tak terjawab dan delapan pesan yang belum kubaca.

Kalea: Saya sudah di Cikini. Meja di taman. Saya tunggu.

Aku membaca pesan itu di kasur kos. Aku memakai kemeja yang bagus, satu-satunya kemejaku yang bagus, yang noda lipstiknya sudah kucuci Jumat malam karena aku tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku. Aku duduk di tepi kasur, memakai kemeja itu, dengan sepatu sudah di kaki, selama tiga jam.

Aku tidak berangkat.

Pukul 22.15, pesan terakhir masuk.

Kalea: Restorannya tutup. Saya pulang. Saya nggak marah. Kamu berhak nggak datang.

Aku melepas sepatu. Aku melepas kemeja. Aku menggantungnya kembali di paku dekat jendela.

Lalu aku berbaring di kasur dan memikirkan Kalea, sendirian di meja taman sebuah restoran Sunda, dengan lampu gantung dan suara gemericik air, menunggu orang yang tidak datang. Seperti pembaca yang menunggu notifikasi pukul 21.00 yang tidak pernah muncul.

Aku tidak tahu kenapa aku tidak datang. Aku hanya tahu bahwa kalau aku datang, ia akan menatapku. Dan aku tidak bisa ditatap lagi. Tidak oleh siapa pun. Bahkan oleh dia.

Terutama oleh dia.


Senin pagi, Pak Darto tidak menyapaku dengan “Siaga”.

Ia berdiri di belakang meja satpam lobi, kumis rapi, seragam disetrika. Saat aku lewat, ia mengangguk sekali. Kaku. Lalu menatap layar CCTV di mejanya, seperti ada sesuatu yang sangat menarik di rekaman parkiran basement.

Aku berjalan ke lift. Lift nomor satu. Di dalamnya ada empat orang dari divisi keuangan.

Begitu aku masuk, mereka berhenti bicara.

Bukan berhenti bicara seperti orang-orang berhenti bicara saat Kalea masuk pantry lantai empat belas, dengan takut. Ini berbeda. Mereka berhenti bicara dan menatapku dengan mata berbinar, seperti menatap seseorang yang baru keluar dari televisi.

“Mas IT,” bisik salah satu dari mereka ke temannya. Tidak cukup pelan.

Aku menatap pintu lift. Lantai dua. Tiga. Empat. Rasanya seperti naik lift ke lantai seratus.

Di lantai lima, seorang perempuan dari divisi keuangan mencondongkan badan ke arahku.

“Mas,” katanya dengan senyum malu-malu. “Yang di gazebo Puncak itu... hanya kabut yang tahu... beneran?”

Pintu lift terbuka di lantai enam. Bukan lantaiku. Aku keluar juga. Aku naik tangga darurat sisa enam lantai, menghitung setiap anak tangga, karena menghitung membuatku tidak memikirkan apa pun.


Hari itu, sistem tiket divisi IT menerima empat puluh tujuh tiket.

Biasanya, hari Senin ada lima belas sampai dua puluh tiket. Hari itu empat puluh tujuh. Dan tiga puluh satu di antaranya memiliki pola yang sama.

Tiket 4688: Printer lantai 7 tidak mau mencetak. Mohon dikirim Mas Bimo. (Bukan Mas Gilang.)

Tiket 4691: Mouse saya rusak. Mohon Mas Bimo yang datang. Terima kasih. 🙏

Tiket 4695: Kabel monitor longgar. Pelapor: Dita (marketing). Catatan: Mas, boleh minta foto bareng? Saya Tim Kabel dari awal.

Tiket 4702: Tidak ada masalah. Cuma mau lihat Mas IT. Maaf.

Gilang membaca tiket-tiket itu di layarnya dengan wajah yang perlahan berubah dari geli jadi ngeri jadi marah.

“Ini,” katanya, menunjuk layar, “penyalahgunaan sistem tiket perusahaan.”

“Biarin aja, Gil.”

“Nggak, Bim.” Gilang berdiri. Ia mengambil jaketnya. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Gilang memakai jaket di dalam kantor. “Mulai hari ini, semua tiket gue yang ambil. Lo di sini. Di ruang server. Jangan keluar.”

“Gil...”

“Gue bodyguard lo sekarang.” Ia menarik ritsleting jaketnya sampai ke dagu, seperti ksatria memakai baju zirah. “Gue yang kirim link pertama. Gue yang mulai ini. Gue yang tanggung.”

Ia keluar dari divisi IT dengan langkah seorang prajurit yang berangkat perang.

Lima menit kemudian, dari lorong, aku mendengar suaranya: “Mouse Ibu nggak rusak, Bu. Itu belum dinyalakan. Mas Bimo nggak bisa datang. Mas Bimo sedang... sedang semedi. Iya, semedi. Nggak, nggak bisa foto bareng.”

Aku masuk ke ruang server dan menutup pintu.


Ruang server adalah satu-satunya tempat di gedung ini yang tidak ada di novel. Delapan belas derajat. Dengung kipas pendingin yang tidak pernah bergosip. Rak-rak hard disk yang tidak pernah menatapku seperti menatap tokoh fiksi.

Aku duduk di kursi plastik di antara rak-rak itu dan membuka ponsel.

Delapan pesan dari Kalea. Masih belum kubaca. Aku membaca pratinjaunya.

Bimo, ada yang harus saya bilang. Saya mau...
Bimo, saya tahu kamu...
Bimo, tolong dengarkan saya sebentar. Delapan bulan lalu...

Aku menatap tiga kata terakhir itu. Delapan bulan lalu.

Aku tidak membukanya. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena kalau aku membukanya, aku harus tahu. Dan kalau aku tahu, aku tidak bisa kembali ke Jumat pagi sebelum huruf L diketik di bilah alamat.

Pukul 12.14, aku tidak naik ke anak tangga keempat.

Aku tidak tahu apakah ia datang. Aku tidak mau tahu. Aku makan roti sobek di ruang server, satu sobekan demi satu sobekan, sampai habis, tanpa merasakan apa pun.


Pukul tiga sore, Tasya mengetuk pintu ruang server.

Aku tahu itu Tasya karena ketukannya kecil dan ragu, dan karena Gilang, dari luar, berkata, “Dia nggak mau ketemu siapa-siapa, Sya.”

“Sebentar aja, Mas Gilang. Saya mau minta maaf.”

Hening. Lalu pintu terbuka sedikit. Gilang menatapku dengan wajah meminta izin. Aku mengangguk.

Tasya masuk. Matanya bengkak. Ia memeluk sesuatu di dadanya: huruf S kuning dari spanduk karton, yang jatuh di depan panggung hari Jumat.

“Mas Bimo,” katanya. Suaranya langsung pecah. “Maaf.”

“Bukan salahmu, Sya.”

“Salah saya, Mas.” Air matanya jatuh. “Saya yang ketik L. Saya yang bilang ke Mbak Rini. Saya yang bikin spanduk. Saya kira itu baik. Saya kira itu apresiasi. Saya cuma mau bilang terima kasih...”

Ia menangis. Aku berdiri dari kursi plastik dan menepuk bahunya, dua kali, seperti ia menepuk punggungku di lorong dulu.

“Kamu orang baik, Sya,” kataku. “Kamu cuma mau bilang terima kasih. Itu bukan salah.”

“Tapi sekarang Bu Kalea...” Tasya menyeka air mata dengan punggung tangan. “Bu Kalea dipanggil HR besok. Sama legal. Sama Pak Dimas. Mbak Sisil bilang ini masalah privasi karyawan. Nama perusahaan disebut di kolom komentar. Ada yang bikin utas di Twitter.” Ia menatapku dengan mata basah. “Dan Mas juga dipanggil. Sebagai... sebagai pihak terdampak.”

Pihak terdampak.

Aku menatap rak server. Lampu hijau berkedip-kedip dengan irama yang tenang.

“Mas,” bisik Tasya. “Bu Kalea itu baik banget, Mas. Bu Kalea yang ikat tali sepatu saya. Bu Kalea yang bilang laporan saya bisa besok waktu saya kejebak lift. Bu Kalea nulis Tania baik, Mas. Bu Kalea nulis Mas baik. Bu Kalea nulis semua orang baik.” Suaranya bergetar. “Kecuali dirinya sendiri.”

Aku tidak bisa menjawab.

Tasya meletakkan huruf S kuning itu di atas rak server, di antara lampu-lampu hijau yang berkedip. Lalu ia keluar, menutup pintu pelan-pelan.

Aku menatap huruf S itu lama sekali.

S. Senin Pagi.


Pukul lima sore, aku keluar dari ruang server. Divisi IT sudah sepi. Gilang menungguku di pantry dengan dua gelas kopi sachet dan wajah yang lelah, seperti orang yang menghabiskan sepanjang hari menghalau penggemar.

Aku duduk di depannya. Pantry lantai dua belas sudah kosong. Bu Ratmi sudah pulang. Bakul gorengannya ditutup serbet di meja, dan di atas serbet itu ada satu bungkusan kecil berisi dua bakwan, dengan karet gelang merah. Dan secarik kertas: Buat Mas Bimo. Gratis. Nggak usah dibayar. Nggak usah cerita. — Ratmi.

Papan gabus di dinding pantry sudah kosong. Lembar KAPAL KABEL, foto A3 dari Jimbaran, gambar orang lidi Pak Darto, semuanya dicopot. Hanya bekas selotip bening yang tersisa, mengilap di bawah lampu.

“Gue yang copot,” kata Gilang pelan, mengikuti arah pandangku. “Tadi pagi. Sebelum orang-orang foto.”

“Makasih, Gil.”

Gilang memutar-mutar gelas kopinya. Lalu ia bertanya, dengan suara yang sangat pelan, yang belum pernah kudengar darinya:

“Lo marah sama dia?”

Aku menatap bekas selotip di papan gabus.

Aku tidak tahu jawabannya. Aku sudah memikirkannya sepanjang hari di ruang server. Marah? Kalea menulis tentangku. Delapan bulan. Tanpa bilang. Tapi ia menulisku sebagai seseorang yang menahan pintu lift, yang memperbaiki kabel, yang menangkap orang yang jatuh. Ia menulisku dengan baik. Ia tidak pernah menulis namaku. Ia melindungiku dari enam puluh enam ribu orang, sampai Jumat pagi.

Aku tidak marah karena ia menulis.

“Aku nggak tahu,” kataku.

“Terus apa?”

Aku menatap kedua tanganku di atas meja pantry. Tangan yang biasanya memegang kabel. Tangan yang dua minggu terakhir memegang tangan Kalea di anak tangga keempat.

“Semua orang lihat aku, Gil.” Suaraku keluar lebih keras dari yang kuinginkan. “Di lift. Di lorong. Di sistem tiket. Orang nanya soal gazebo. Orang minta foto. Orang nyebut namaku di Twitter. Pakai ejaan yang salah. Wibisana.”

“Bim...”

“Aku nggak pernah minta itu.” Kata-kataku keluar makin cepat, seperti air dari termos yang dibalik. “Aku cuma staf IT. Aku cuma lewat. Aku bikin sembilan aturan biar nggak masuk cerita siapa pun. Dan ternyata aku udah ada di cerita orang delapan bulan. Delapan bulan, Gil. Ditonton enam puluh ribu orang. Dan aku nggak tahu. Aku satu-satunya yang nggak tahu.”

Gilang diam.

“Aku nggak pernah mau ada di cerita siapa pun,” kataku. Suaraku pecah di tengah kalimat. “Aku cuma mau lewat.”

Hening di pantry.

Lalu, dari balik partisi kaca buram di ujung pantry, yang memisahkan pantry dari lorong menuju tangga darurat, terdengar bunyi kecil. Seperti kantong kertas yang diremas.

Gilang dan aku menoleh bersamaan.

Di balik kaca buram itu, ada bayangan. Seseorang berdiri di sana. Rambut sebahu. Blazer gelap.

Bayangan itu tidak bergerak selama tiga detik. Lalu ia berbalik. Pintu tangga darurat terbuka dan tertutup. Langkah sepatu hak rendah menaiki tangga, makin cepat, lalu hilang.

Aku berdiri. Kursiku terdorong ke belakang dan berdecit di lantai.

Di depan partisi kaca buram, di lantai, ada sebuah kantong kertas cokelat. Kantong yang sama dengan kantong lapis legit, dulu. Aku berjalan ke sana dan memungutnya.

Di dalamnya ada sebungkus bakwan dengan karet gelang hijau. Masih hangat. Dan sebuah kertas tempel kuning, yang ditulis dengan tangan yang gemetar, karena huruf-hurufnya tidak lagi condong ke kanan dengan rapi.

Saya nggak akan minta kamu dengar sekarang.
Tapi kamu nggak pernah cuma lewat.
Kamu selalu ada di setiap bab.
— K


Malam itu, di kamar kos, aku membuka daftar Aturan Figuran.

Sembilan aturan. Empat dicoret. Satu baris tanpa nomor.

Aku menatap nomor satu yang dicoret. Jangan berdiri di lorong saat ada adegan. Nomor dua. Jangan menolong siapa pun di depan saksi. Nomor lima. Jangan pernah masuk foto. Nomor tujuh. Jangan jatuh cinta pada antagonis.

Aku tidak menghapus coretan-coretan itu. Aku tidak bisa. Semuanya sudah terjadi.

Tapi di bawah baris tanpa nomor, Jangan cari tahu siapa Senin Pagi, aku menulis satu aturan baru.

10. Jangan pernah lagi.

Aku tidak tahu jangan pernah lagi apa. Jangan pernah lagi keluar dari pinggir halaman? Jangan pernah lagi menahan pintu lift? Jangan pernah lagi duduk di anak tangga keempat?

Aku menatap aturan itu sampai layar ponselku meredup.

Kertas kuning dari kantong cokelat itu ada di atas meja, di sebelah arum manis yang sudah mengeras jadi gumpalan gula merah muda.

Kamu selalu ada di setiap bab.

Aku tidak membuang keduanya. Tapi aku juga tidak bisa menatap keduanya. Jadi aku memasukkannya ke laci, di bawah kabel cadangan, di tempat yang tidak bisa kulihat, seperti menyimpan foto-foto keluarga yang tidak ada aku di dalamnya.

Bakwan berkaret gelang hijau itu kumakan pukul satu pagi, dingin, sendirian, di bawah kipas angin yang berdecit.

Bakwan itu tidak pedas. Tapi entah kenapa, mataku tetap berair.