Chapter Four
Kolom Komentar
POV: Bimo
Warung Soto Bu Sri buka setiap hari kecuali Senin, dan setiap Minggu aku pulang ke sana untuk membantu.
Warungnya ada di Bekasi, di depan rumah tempat aku dibesarkan. Bangunannya separuh warung, separuh teras, dengan enam meja kayu, dua kipas angin gantung, dan panci soto raksasa yang umurnya lebih tua dari Embun. Ibu memasak sejak subuh. Mbak Awan mengurus kasir. Bayu seharusnya mencuci piring, tapi biasanya ia bermain gim di pojok dapur sampai Ibu menjewer telinganya. Embun pulang dari kos kampusnya dua minggu sekali. Mas Langit tinggal di Surabaya dan muncul dua kali setahun, biasanya saat Lebaran dan saat ia butuh sesuatu.
Aku melakukan apa saja yang tidak dilakukan orang lain. Mengganti gas. Membetulkan kipas yang berdecit. Mengangkat karung beras. Memotong daun bawang ketika Ibu sedang sibuk dengan kuah. Mengantar pesanan ke rumah Pak RT.
Tidak ada yang memintaku melakukan itu. Aku hanya melakukannya, dan tidak ada yang bilang jangan.
Minggu itu, saat aku sedang mengikis kerak di dasar panci, grup WhatsApp keluarga berbunyi berkali-kali.
Wibisena Bersatu
Mbak Awan: Teman-teman, Ibu ulang tahun ke-60 bulan depan!!! 🎉
Mbak Awan: Kita bikin acara kecil-kecilan ya, makan-makan di warung, terus foto keluarga lengkap. Mas Langit WAJIB pulang.
Mas Langit: Diusahakan.
Mbak Awan: WAJIB.
Mas Langit: Iya, iya.
Embun: Aku mau pakai baju samaan! Warna sage!
Bayu: Sage itu warna apa
Embun: Hijau tapi kalem
Bayu: Kenapa nggak bilang hijau aja
Mbak Awan: Oke! Baju samaan warna sage. Foto di depan warung. Nanti Bimo yang motret ya.
Aku membaca pesan terakhir itu dengan tangan masih berlumur kerak soto.
Mbak Awan: Bimo kan punya kamera bagus.
Kameraku adalah kamera mirrorless bekas yang kubeli dari forum jual-beli tiga tahun lalu, setelah menabung enam bulan. Aku membelinya karena aku suka memotret hal-hal yang tidak diperhatikan orang. Bayangan pagar di jalan, tangan tukang parkir, kucing tidur di atas motor. Tapi sejak hari pertama kamera itu masuk rumah, ia berubah jadi kamera keluarga. Dan aku berubah jadi fotografer keluarga.
Aku: Oke, Mbak.
Tidak ada yang bertanya apakah aku bisa datang hari itu. Tidak ada yang bertanya apakah aku ingin ikut di foto. Itu bukan kejahatan. Itu hanya keadaan. Kalau ada lima orang dan satu kamera, harus ada satu orang yang memegang kamera, dan aku memang orang yang paling cocok memegang sesuatu.
Aku mengelap tangan dan melihat dinding warung. Di sana tergantung foto-foto keluarga dalam bingkai murah, disusun berantakan oleh Ibu selama bertahun-tahun. Lebaran 2019: Ibu, Mas Langit, Mbak Awan, Bayu, Embun, tersenyum di depan rumah. Ulang tahun Embun ke-17: kue, lilin, semua orang. Wisuda Mbak Awan: toga, bunga, Ibu menangis. Pernikahan Mas Langit: semua orang dalam batik seragam.
Aku ada di balik kamera di setiap foto itu.
Bukan cerita sedih. Bayangkan saja ada fotografer yang mengeluh karena tidak pernah masuk foto. Itu konyol. Itu pekerjaannya.
“Bim!” Ibu memanggil dari depan. “Kipas yang pojok bunyi lagi!”
“Iya, Bu.”
Ponselku bergetar lagi saat aku sedang naik ke kursi untuk membetulkan kipas. Kali ini bukan grup keluarga. Gilang.
Gilang: LO UDAH BACA KOMENTAR BAB 25????
Bab 25 terbit Jumat malam. Aku belum membacanya. Aku sengaja tidak membacanya. Aku menghabiskan Jumat malam menonton video tutorial memperbaiki printer laser tua, yang menurutku jauh lebih menenangkan.
Aku: Belum. Dan nggak akan.
Gilang: Bim lo ngetop
Gilang: Lo literally ngetop
Aku: Aku nggak ngetop. Aku nggak punya nama.
Gilang: ITU MASALAHNYA. Orang-orang minta nama lo
Aku mematikan ponsel dan memasukkannya ke saku celana. Aku membetulkan kipas: baut yang longgar, sedikit pelumas, baling-baling yang miring kuluruskan. Kipas berputar dengan tenang. Ibu bilang, “Nah, gitu,” tanpa menoleh, dan kembali mengaduk soto.
Malamnya, di bus pulang ke Jakarta, aku membaca Bab 25.
Kubilang tadi aku tidak akan membacanya. Tapi busnya macet di tol, baterai ponselku penuh, dan orang di sebelahku tidur sambil mendengkur dengan irama yang sangat tidak menentu. Aturan nomor enam toh sudah kulanggar minggu lalu. Melanggar aturan yang sudah dilanggar, menurut logikaku, tidak dihitung dua kali.
Bab 25 berisi adegan lift. Tapi bukan adegan yang dijanjikan di Bab 24.
Kalina sudah mengangkat kakinya untuk melangkah masuk ketika sebuah tangan menahan pintu lift. Staf IT itu lagi, muncul dari pintu tangga darurat dengan napas sedikit terengah dan laptop di pelukannya. “Jangan yang ini,” katanya. “Lagi sakit.”
Kalina tidak mengerti. Tapi ia mundur. Dan pintu lift menutup, membawa Tania turun sendirian ke dalam kegelapan antara dua lantai.
Lalu Dirgantara berjongkok di depan interkom dan bicara dengan Tania selama dua puluh menit. Penulis menuliskannya dengan detail yang membuatku merinding: kemeja yang lengannya digulung, cerita soal takut pesawat kecil, tawa basah dari balik panel interkom. Semua persis seperti yang terjadi. Bahkan lebih rapi dari yang terjadi.
Dan di bagian akhir:
Kalina berdiri di samping staf IT yang tidak ia ketahui namanya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa telah diselamatkan dari sesuatu yang bahkan tidak ia sadari sedang mengancamnya.
Bab itu ditutup dengan kalimat kecil di bawah garis:
Catatan penulis: Maaf ya, adegan pertengkaran di lift batal. Ada yang mengganggu rencanaku. 🙂
Aku menatap emoji senyum itu.
Ada yang mengganggu rencananya. Aku. Aku yang mengganggu rencananya.
Lalu, karena bus masih macet dan dengkuran di sebelahku makin keras, aku menggulir ke kolom komentar.
lunamelati_: MAS IT LAGI 😭😭😭 dia tuh kayak penjaga rahasia kantor ini
bacasambilngopi: kak senin pagi plis kasih nama mas IT-nya aku mohon
tim.kalina.4ever: aku dari awal ngerasa kalina tuh nggak sejahat itu, dan mas IT kayaknya yang pertama sadar
Darto_Siaga: Saya kenal mas ini. Orangnya baik. Datang paling pagi pulang paling sopan. Siaga!
Aku membaca komentar terakhir itu tiga kali. Lalu aku menatap jendela bus yang berembun dan tol yang berkelap-kelip lampu rem.
Datang paling pagi pulang paling sopan. Siaga!
Tidak ada orang lain di dunia yang menulis “Siaga!” di akhir kalimat.
Senin pagi, aku membawa dua wadah plastik berisi soto. Ibu selalu membekaliku sisa soto Minggu, dan biasanya aku membaginya dengan Gilang. Pagi ini, aku membawa satu wadah ekstra.
Pak Darto berdiri tegak di belakang meja satpam lobi, kumis rapi, seragam disetrika. Ia mengangkat tangan ke pelipis begitu melihatku.
“Siaga, Mas Bimo!”
“Pagi, Pak.” Aku meletakkan satu wadah di mejanya. “Soto dari Ibu.”
“Wah, wah.” Ia membuka tutupnya dan menghirup aromanya dengan khidmat. “Soto Bu Sri. Legendaris.”
“Pak,” kataku pelan, “Bapak punya akun Lembar?”
Pak Darto menutup wadah soto itu dengan gerakan sangat lambat. Ia memandang ke kanan. Ke kiri. Lalu ia membungkuk ke arahku.
“Mas,” bisiknya, “Mas jangan bilang siapa-siapa.”
“Darto_Siaga?”
“Saya pembaca setia, Mas.” Wajahnya serius sekali, seperti sedang mengakui keanggotaan organisasi rahasia. “Sejak Bab 1. Dulu cuma iseng, istri saya yang nyuruh baca. Eh, kok ceritanya kantor kita. Saya jadi ketagihan.” Ia menegakkan badan. “Mas tahu nggak, saya ini di novel dibilang ‘satpam berkumis tebal yang menyapa siaga’. Istri saya sampai ketawa sampai batuk.”
“Bapak tahu siapa penulisnya?”
“Nggak tahu, Mas. Tapi orangnya pasti baik.”
“Kok bisa tahu orangnya baik?”
“Soalnya dia tulis kumis saya ‘tebal dan berwibawa’.” Pak Darto mengelus kumisnya. “Orang yang jahat nggak akan nulis ‘berwibawa’, Mas.”
Aku tertawa. Aku tidak berniat tertawa, tapi logika Pak Darto memang tidak bisa dilawan.
Pintu lobi berputar. Angin pagi masuk bersama aroma melati dan langkah sepatu hak rendah.
Kalea berjalan ke meja satpam dengan ponsel di telinga, blazer krem pagi ini, rambut diikat setengah ke belakang dengan jepit hitam. Ia mengangguk singkat ke Pak Darto, memberi isyarat ke arah tumpukan paket di belakang meja, lalu menyelesaikan teleponnya dengan, “Baik, Pak. Saya kirim ulang sebelum jam sepuluh.”
Ia menutup telepon. Matanya jatuh pada wadah soto di meja. Lalu padaku.
“Pagi, Mbak,” kataku.
“Pagi.” Ia menunjuk tumpukan paket. “Paket direksi, Pak Darto. Yang dari vendor Singapura.”
“Siap, Bu Kalea.” Pak Darto berbalik mencari paket.
Hening. Aku berdiri di samping Kalea, dan aroma soto dari wadah di meja menguar di antara kami. Kuah kuning, kunyit, serai, koya, irisan daun bawang yang kupotong sendiri kemarin.
Lalu terdengar bunyi yang sangat jelas, sangat pelan, dan sangat tidak sesuai dengan reputasi seorang sekretaris direksi.
Perutnya berbunyi.
Kalea tidak bereaksi sedikit pun. Wajahnya tetap datar, matanya tetap lurus ke arah Pak Darto yang membongkar paket. Tapi telinganya, yang terlihat karena rambutnya diikat setengah ke belakang, berubah merah dengan kecepatan yang mengagumkan.
Aku menatap lurus ke depan. Aku juga tidak bereaksi. Itu kesopanan dasar.
Pak Darto, sayangnya, tidak punya kesopanan dasar.
“Bu Kalea belum sarapan?” tanyanya sambil menyerahkan paket. “Ini Mas Bimo bawa soto. Soto Bu Sri, Bu. Legendaris.”
“Saya sudah sarapan, Pak.”
Perutnya berbunyi lagi. Lebih pelan. Tapi kali ini kami bertiga mendengarnya.
Aku tidak sanggup lagi. Aku mengambil wadah kedua dari tasku, yang sebenarnya untuk Gilang, dan meletakkannya di atas paket dari vendor Singapura yang sedang dipeluk Kalea.
“Ini masih hangat,” kataku. “Ibu masak kebanyakan. Kalau nggak dimakan, nanti basi.”
Kalea menatap wadah soto itu. Lalu menatapku. Telinganya masih merah.
“Saya sudah sarapan,” ulangnya.
“Iya, Mbak. Ini buat makan siang.”
“Kalau saya nggak mau?”
“Kasih ke Pak Dimas aja. Beliau kelihatannya kurang makan.”
Ada jeda yang panjang. Lalu, sangat pelan, tanpa ekspresi, Kalea berkata:
“Kuahnya jangan tumpah ke paket.”
Ia berbalik dan berjalan ke lift dengan wadah soto di atas paket direksi, punggungnya tegak seperti biasa. Ia menekan tombol lift nomor satu. Bukan nomor tiga.
Pak Darto menatapku dengan wajah orang yang baru menemukan harta karun.
“Mas,” bisiknya, “ini bakal jadi Bab 26.”
“Jangan, Pak.”
“Saya kan bukan penulisnya, Mas. Saya cuma pembaca.” Ia mengelus kumisnya yang berwibawa. “Tapi pembaca boleh berharap, kan?”
Gilang tidak mendapat soto hari itu.
“Jadi,” katanya di jam makan siang, menatap nasi bungkus warteg di depannya seperti menatap pengkhianatan, “soto gue dikasih ke antagonis.”
“Dia lapar.”
“Gue juga lapar, Bim. Gue lapar setiap hari. Gue sahabat lo. Gue yang ngajarin lo pakai Lembar.”
“Lo yang ngutak-atik HP gue tanpa izin.”
“Itu bentuk kasih sayang.” Ia menusuk tempe orek dengan garpu. “Gue mau ini dicatat. Di bab mana pun nanti lo muncul, gue mau ada kalimat: sahabatnya yang setia tidak kebagian soto.“
“Nggak ada yang nulis tentang aku, Gil.”
Gilang tidak menjawab. Ia hanya mengunyah tempe dengan pelan, sangat pelan, seperti orang yang tahu sesuatu yang belum kau tahu. Lalu ia merajuk sampai jam tiga.
Pukul tiga sore, aku kembali dari memperbaiki printer lantai dua belas (lagi) dan menemukan wadah plastik di mejaku.
Wadah soto Ibu. Sudah dicuci bersih, kering, tutupnya terpasang rapat. Di dalamnya ada satu permen mint dengan bungkus hijau, permen yang dijual di minimarket lantai dasar dengan harga lima ratus rupiah.
Tidak ada catatan. Tidak ada nama.
Aku memasukkan permen itu ke saku. Aku tidak memakannya. Aku tidak tahu kenapa.
Malamnya, aku membuka daftar Aturan Figuran dan menatap nomor tiga: Jangan bicara dengan tokoh bernama.
Pak Darto adalah tokoh, tapi tidak bernama di novel. Jadi ia tidak dihitung. Kalea bernama di novel. Kalina. Jadi tadi pagi aku melanggar nomor tiga.
Tapi aku sudah melanggarnya minggu lalu, di bawah meja ruang Anggrek. Dan minggu sebelumnya, saat mengganti kabel monitornya. Dan Rabu kemarin, di depan lift.
Aku tidak mencoret nomor tiga. Aku memutuskan bahwa aturan itu hanya berlaku untuk pembicaraan panjang. Obrolan soal kabel, lift, dan soto tidak dihitung sebagai pembicaraan.
Itu namanya interpretasi. Pengacara melakukannya setiap hari.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar reading
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto