Chapter Thirty Five
Catatan Staf IT yang Lewat
POV: Bimo
Menulis ternyata lebih sulit daripada memperbaiki printer lantai dua belas.
Printer lantai dua belas, kalau macet, setidaknya memberi tahu di mana macetnya. Lampu oranye. Pesan di layar kecil. Kertas tersangkut di baki 2. Kau tinggal membuka panel, mengambil pinset, dan menarik kertasnya pelan-pelan.
Halaman kosong tidak memberi tahu apa-apa. Halaman kosong hanya menatapmu dengan kursor yang berkedip, seperti lampu server yang menunggu perintah yang tidak pernah datang.
Senin, aku menulis dua ratus kata. Selasa, aku menghapus semuanya dan menulis tiga ratus kata yang berbeda. Rabu, aku menghapus semuanya lagi.
“Bim,” kata Gilang Rabu sore, berdiri di ambang pintu ruang server. “Lo udah empat jam di sini. Lo nggak keluar buat makan siang. Lo nggak keluar buat pipis. Gue khawatir lo jadi bagian dari server.”
“Aku lagi nulis.”
“Gue tahu.” Gilang masuk, menarik kursi plastik, dan duduk di sebelahku. Ia memakai jaket. Sejak minggu lalu, Gilang tidak pernah melepas jaketnya di kantor. Ia bilang itu “seragam bodyguard“. “Boleh gue baca?”
“Belum jadi.”
“Gue cuma mau bantu.”
Aku memutar laptop ke arahnya. Ia membaca dengan dahi berkerut. Lalu ia mengambil alih keyboard.
“Ini kurang emosi,” katanya. “Lo harus kasih emoji.”
“Gil, ini bukan WA.”
“Satu aja. Di akhir. Hati.” Ia mengetik sesuatu.
“Gil...”
“Terus kalimat ini.” Ia menunjuk layar. “Aku nggak ingat wajahmu. Itu kedengeran jahat. Ganti jadi Aku nggak ingat wajahmu, tapi aku yakin wajahmu cantik.“
“Aku nggak tahu wajahnya cantik waktu itu.”
“Sekarang lo tahu!”
“Itu nggak jujur, Gil.”
Gilang menatapku lama. Lalu ia menghapus emoji hati yang tadi ia tambahkan, dan menghapus tapi aku yakin wajahmu cantik, dan memutar laptop kembali ke arahku.
“Lo bener,” katanya pelan. “Bu Kalea penulis. Penulis bisa bedain mana yang jujur.”
Ia berdiri. Di ambang pintu, ia berhenti.
“Tapi typo di paragraf ketiga lo biarin aja,” katanya. “Priter. Itu lucu. Bu Kalea pasti ketawa.”
Aku menatap paragraf ketiga. Priter lantai dua belas. Aku bahkan tidak sadar.
Aku membiarkannya.
Kamis, rapat darurat para figuran berkumpul lagi di pantry lantai dua belas. Kali ini bukan untuk merencanakan. Kali ini untuk membaca.
Aku tidak mau. Aku bilang pada Gilang, berkali-kali, bahwa ini tulisan untuk satu orang. Bukan untuk dibaca rapat.
“Bim,” kata Gilang, “lo mau naik ke panggung di depan dua ratus orang. Lo nggak bisa baca tulisan lo di depan delapan orang?”
Itu logika yang tidak bisa kubantah. Logika Gilang jarang benar, tapi kalau benar, ia benar sekali.
Jadi aku membacanya. Di pantry lantai dua belas, di depan meja panjang bertaplak kotak-kotak, di depan Gilang, Pak Darto, Bu Ratmi, Tasya, Mbak Rini, Mbak Sisil, Nadia dari legal, dan Pak Dimas yang membawa tiga puluh roti sobek lagi.
Aku membacanya dengan suara yang terlalu pelan dan terlalu cepat, seperti seseorang membacakan log server.
Saat aku selesai, pantry hening.
Bu Ratmi menangis ke ujung kerudungnya. Pak Darto menatap langit-langit dengan rahang mengeras dan kumis yang bergetar hebat. Tasya memeluk huruf S kuning. Nadia dari legal menangis dan mencatat, seperti biasa.
Mbak Sisil membuka mapnya.
“Mas Bimo,” katanya, dengan suara bergetar, “tulisan ini menyebut beberapa orang. Pak Darto. Bu Ratmi. Gilang. Pak Dimas.” Ia menegakkan kacamatanya. “Saya harus memastikan semua sudah memberikan persetujuan.”
“Sudah, Mbak,” kata Pak Darto. “Formulir tiga rangkap.”
“Formulir itu untuk novel Bu Kalea. Ini karya yang berbeda.” Mbak Sisil mengeluarkan selembar formulir baru dari mapnya. Judulnya: FORMULIR PERSETUJUAN PUBLIKASI (Untuk Tokoh dalam Karya “Catatan Staf IT yang Lewat”). “Saya buat semalam. Untuk jaga-jaga.”
Semua orang menandatanganinya. Lagi. Tiga rangkap.
Lalu Pak Dimas, yang sejak tadi diam, berdeham.
“Saya tidak bisa menulis,” katanya. “Tapi saya bisa membaca.”
Semua orang menoleh.
“Kalimat ketiga di paragraf lima,” lanjut Pak Dimas, “terlalu panjang. Dua puluh delapan kata. Bu Kalea biasanya memotong kalimat lebih dari dua puluh kata di semua dokumen saya.” Ia menunduk ke roti sobek. “Saya tahu karena dia mencoret semua kalimat saya yang lebih dari dua puluh kata. Selama tiga tahun.”
Aku memotong kalimat itu jadi dua.
Jumat pagi, pukul 05.00, aku duduk di anak tangga keempat dengan laptop di pangkuan.
Aku membaca tulisan itu sekali lagi. Dari awal sampai akhir. Seribu dua ratus kata. Kalimat-kalimat pendek, karena aku tidak tahu cara menulis kalimat panjang. Satu typo di paragraf ketiga yang kubiarkan. Tidak ada emoji.
Tasya sudah mengajariku cara mengunggah di Lembar dua hari lalu, di pantry, dengan sabar seperti mengajari anak kecil. Judul di sini, Mas. Isi di sini. Jadwal terbit di sini.
Aku mengisi judulnya.
Catatan Staf IT yang Lewat
Aku mengisi jadwal terbitnya.
Jumat. 21.00.
Tasya bilang aku bisa langsung menerbitkannya. Kenapa harus menunggu jam sembilan malam? Aku tidak bisa menjelaskan. Aku hanya tahu bahwa selama delapan bulan, seseorang menerbitkan cerita setiap Selasa dan Jumat pukul sembilan malam, tepat waktu, lebih tepat dari kereta Jepang. Dan selama delapan bulan, ratusan ribu kali, orang-orang membuka ponsel mereka pada jam itu untuk membaca.
Aku ingin ia membuka ponselnya pada jam itu. Satu kali lagi. Dan menemukan sesuatu yang ditulis untuknya.
Aku menekan Jadwalkan.
Lalu aku duduk di anak tangga keempat dengan laptop yang tertutup di pangkuan, menunggu matahari terbit di balik dinding beton yang tidak punya jendela.
Jumat pukul 20.45, aku duduk di anak tangga keempat lagi.
Kantor sudah kosong. Lampu-lampu lorong sudah dimatikan otomatis. Hanya lampu neon tangga darurat yang masih menyala, berkedip seperti biasa.
Aku tidak tahu kenapa aku tidak menunggu di kos. Mungkin karena kos terlalu sepi. Mungkin karena kipas angin di kos berdecit dengan irama yang membuatku tidak bisa berpikir. Mungkin karena anak tangga keempat adalah satu-satunya tempat di dunia di mana aku pernah merasa tidak lewat.
Gilang mengirim pesan.
Gilang: Lo di mana?
Aku: Tangga.
Gilang: Gue nggak akan ganggu. Gue cuma mau bilang, gue bangga. Dan pie susu original dari Bali itu masih jadi pie susu terenak yang pernah gue makan. Itu nggak ada hubungannya. Gue cuma pengin bilang.
Lalu satu pesan lagi, dari grup Tim Hore Kapal Kabel, dari Pak Darto:
Pak Darto: Saya di pos satpam. Istri saya di rumah. Ponsel sudah dicas penuh. Siaga.
Pukul 20.59.
Aku membuka aplikasi Lembar. Profil lewat_bawa_kabel. Satu karya, berstatus Terjadwal.
Pukul 21.00.
Status itu berubah. Terbit.
Catatan Staf IT yang Lewat
Senin pagi, printer lantai dua belas rusak.
Aku nggak ingat hari itu. Aku sudah memperbaiki printer itu ratusan kali. Aku nggak pernah ingat siapa yang menunggu di depannya.
Tapi minggu lalu aku membaca sebuah cerita, dan cerita itu ingat. Jadi sekarang aku juga ingat. Pelan-pelan, seperti foto yang dicetak di kertas lama.
Ada seseorang yang menangis di depan priter lantai dua belas, pagi-pagi sekali. Aku nggak melihat wajahnya. Aku sengaja. Kalau aku yang menangis jam enam pagi di depan priter, aku juga nggak mau dilihat. Jadi aku lihat printernya saja. Aku tarik kertasnya. Aku bersenandung, karena aku memang selalu bersenandung. Lalu aku ambil teh dari pantry, karena itu satu-satunya hal yang bisa aku kasih, dan aku pergi.
Aku nggak tahu tehnya teh melati. Aku nggak tahu hari itu hari apa buat dia. Aku nggak tahu dia akan menulis tentang pagi itu selama delapan bulan.
Aku cuma lewat.
Itu yang selalu aku bilang. Ke Gilang, ke diri sendiri, ke dia. Aku cuma lewat. Aku bikin sembilan aturan supaya aku tetap lewat. Jangan berdiri di lorong. Jangan menolong di depan saksi. Jangan masuk foto. Jangan jatuh cinta pada antagonis.
Semuanya gagal. Satu per satu. Karena dia.
Lalu semua orang melihat aku. Di layar proyektor tiga kali empat meter. Dan aku takut. Aku bilang aku nggak pernah mau ada di cerita siapa pun. Aku bilang itu di pantry, dan dia dengar.
Jadi dia hapus ceritanya. Dia kasih aku halaman kosong. Dia pergi sendirian, seperti antagonis di akhir cerita.
Aku sudah baca semuanya. Tiga puluh enam bab. Di pos satpam, dari jam enam sore sampai jam tiga pagi, pakai ponsel Pak Darto yang layarnya retak.
Delapan puluh tujuh kali. Mbak Sisil menghitungnya pakai stabilo. Delapan puluh tujuh kali aku lewat di cerita itu. Lewat membawa kabel. Lewat memperbaiki kursi. Lewat bilang lampu kota kayak motherboard.
Delapan puluh tujuh kali, ada yang memperhatikan aku lewat.
Di keluargaku, aku tukang foto. Aku nggak pernah ada di foto. Aku kira itu karena aku figuran. Ternyata itu karena aku yang memegang kamera. Dan orang yang memegang kamera itu yang paling memperhatikan semua orang.
Dia juga begitu. Tiga tahun di meja sekretaris direksi. Dia tahu jadwal semua orang. Ulang tahun semua orang. Kucing Pak Dimas. Dia nggak pernah ada di foto kantor mana pun.
Kami berdua tukang foto. Dan kami berdua nggak pernah bertanya ke orang lain apakah mereka mau kami tetap tinggal.
Jadi aku tanya sekarang.
Aku nggak mau halaman kosong.
Aku mau halaman yang ada kamunya.
Satu lagi. Di Bab 31, kamu menulis sesuatu yang aku nggak pernah bilang. Kamu menulis aku menatap kamu jam satu pagi dan bilang, “Kamu nggak pernah jadi antagonis di cerita mana pun yang aku baca.”
Aku nggak pernah bilang itu. Waktu itu aku belum baca cerita apa-apa.
Sekarang aku sudah baca semuanya.
Kamu nggak pernah jadi antagonis di cerita mana pun yang aku baca.
Tanggal empat belas. Hotel Arunika.
Aku nggak akan lewat.
— staf IT yang dulu cuma lewat
Aku membaca tulisanku sendiri di layar ponsel, di tangga darurat, pukul 21.01.
Priter. Di paragraf ketiga. Dua kali, ternyata. Aku hanya sadar satu.
Di bawah tulisan itu, ada angka kecil berwarna abu-abu.
Dibaca: 0.
Aku menatap angka itu.
Pukul 21.02. Dibaca: 0.
Pukul 21.03. Dibaca: 0.
Aku menyandarkan kepala ke dinding beton. Lampu neon di atasku berkedip. Mungkin ia tidur. Mungkin ia tidak membuka Lembar lagi. Mungkin ia menghapus aplikasinya. Mungkin pesan Jumat. 21.00. Jangan tidur dulu tidak pernah ia baca.
Mungkin aku sudah terlalu terlambat. Delapan bulan terlalu terlambat.
Pukul 21.04, ponselku bergetar.
Notifikasi dari Lembar.
Karya Anda dibaca untuk pertama kali.
Aku membuka aplikasi dengan tangan gemetar.
Dibaca: 1.
Dan di bawahnya, di kolom kecil yang menunjukkan siapa yang membaca, satu nama dengan foto profil berupa gambar cangkir teh:
Senin Pagi.
Aku duduk di anak tangga keempat dan tidak bisa bernapas.
Pukul 21.06, angka itu masih 1. Ia masih membaca. Seribu dua ratus kata. Kalimat-kalimat pendek. Dua typo. Kalau ia membaca dengan kecepatan seorang penulis, ia akan selesai dalam lima menit.
Pukul 21.09, angka itu berubah.
Dibaca: 2.
Aku mengerjap. Siapa yang kedua?
Lalu aku mengerti. Ia membacanya dua kali.
Pukul 21.15. Dibaca: 3.
Pukul 21.20. Dibaca: 4.
Aku menutup mulut dengan tangan. Di tangga darurat yang kosong, di bawah lampu neon yang berkedip, aku tertawa dan menangis pada saat yang sama, seperti Kalea di gazebo Puncak, seperti Kalea di atas dadaku di lapangan tarik tambang.
Pukul 21.24, kolom komentar di bawah tulisanku berubah. Satu komentar baru.
Bukan dari Senin Pagi.
Darto_Siaga: Saya kembali. Siaga. 🫡
Aku tertawa sampai harus memegangi dinding.
Pukul 21.31, Dibaca: 5.
Tidak ada balasan dari Senin Pagi. Tidak ada komentar. Tidak ada pesan.
Tapi lima kali, ia membacanya.
Aku memasukkan ponsel ke saku. Aku menatap anak tangga ketiga di atasku, yang kosong. Aku menatap anak tangga kelima di bawahku, yang juga kosong.
Lalu aku membuka daftar Aturan Figuran untuk terakhir kalinya sebelum gala.
Lima aturan belum dicoret. Nomor tiga. Nomor empat. Nomor enam. Nomor delapan, dari Gilang. Nomor sembilan, dari Gilang juga.
Aku tidak mencoret apa pun malam itu.
Aku punya rencana yang lebih baik untuk daftar itu. Dan rencana itu harus dilakukan di depan dua ratus orang, tanggal empat belas, di Hotel Arunika.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat reading
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto