← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Eleven

“Dia Lagi”

POV: Kalea

Jaket parasut biru tua itu tergantung di kursi kerjaku selama dua hari.

Aku mencucinya Minggu pagi, dengan tangan, karena label di kerahnya bilang jangan dicuci mesin dan karena aku tidak mau ambil risiko merusak satu-satunya barang milik Bimo Wibisena yang pernah kupegang. Aku menjemurnya di balkon apartemen. Aku menyetrikanya Minggu sore dengan suhu paling rendah, pelan-pelan, sampai kerahnya rata dan lipatan lengannya simetris.

Lalu aku melipatnya, memasukkannya ke dalam tas kertas, dan meletakkannya di dekat pintu supaya tidak lupa dibawa Senin pagi.

Lalu aku mengeluarkannya lagi dari tas kertas.

Lalu, dan ini bagian yang tidak akan pernah kuakui kepada siapa pun termasuk Ayah di bingkai foto, aku mendekatkan kerah jaket itu ke hidungku.

Baunya deterjen dan melati. Bauku sendiri. Bau Bimo sudah hilang dicuci.

Aku duduk di lantai apartemen, memeluk jaket yang baunya seperti diriku sendiri, dan merasa sangat, sangat bodoh.

“Jangan lihat,” kataku pada Ayah.

Ayah tetap tersenyum.

Aku membuka aplikasi catatan dan menambahkan baris baru ke Aturan Antagonis:

7. Jangan cium jaket orang.

Lalu, karena aku penulis dan penulis harus jujur pada catatannya sendiri, aku menambahkan di sebelahnya: (gagal sebelum ditulis).


Minggu malam, aku menulis Bab 29.

Outlinenya sudah ada sejak dua minggu lalu: Kalina menyabotase tali tambang, hujan turun, Dirgantara memayungi Tania, Kalina berdiri sendirian di bawah gerimis. Adegan antagonis yang sempurna. Aku tinggal menuliskannya.

Masalahnya, tidak ada satu pun dari itu yang terjadi.

Yang terjadi adalah aku mengikat tali sepatu Tasya. Yang terjadi adalah Tim Kuning roboh seperti kartu domino dan Pak Darto mendarat di kubangan lumpur sambil berteriak “SIAGA!”. Yang terjadi adalah payung Pak Dimas terbalik ditiup angin dan ia tertawa seperti anak SMA. Yang terjadi adalah aku jatuh ke belakang, dan seseorang menangkapku, dan aku tertawa sampai menangis di atas dadanya.

Aku menulis versi novel.

Tali tambang meluncur di antara tangan-tangan yang basah. Kalina tergelincir. Dunia miring, langit kelabu berputar, dan ia jatuh ke belakang, ke dalam lengan seseorang yang tidak ia lihat datang. Staf IT itu lagi.

Aku berhenti. Membaca ulang. Tertawa sendiri, karena staf IT itu lagi sudah jadi semacam kalimat wajib di setiap bab. Para pembaca bahkan membuat singkatannya di kolom komentar: SIL. Staf IT Lagi.

Lalu aku menulis adegan gazebo.

Aku menulis jaket di atas kepala. Aku menulis bahu yang menempel. Aku menulis lumpur di pipi dan ibu jari yang mengusapnya.

Aku menghapus ibu jari.

Aku menulis ulang ibu jari.

Aku menghapusnya lagi, karena kalau empat puluh tujuh ribu orang membaca tentang ibu jari itu, ibu jari itu tidak akan jadi milikku lagi. Ia akan jadi milik lunamelati_ dan bacasambilngopi dan tim.kalina.4ever. Mereka akan membuat fan art tentang ibu jari itu. Seseorang akan membuat video TikTok dengan lagu galau tentang ibu jari itu.

Akhirnya aku menulis:

Mereka berteduh di bawah gazebo, dan hujan tidak berhenti untuk waktu yang lama. Apa yang terjadi di sana, hanya kabut yang tahu.

Aku menekan terbitkan untuk jadwal Selasa pukul 21.00, menutup laptop, dan memeluk bantal.

Hanya kabut yang tahu. Dan aku. Dan ibu jariku.


Senin pagi, aku membawa tas kertas berisi jaket itu ke kantor.

Rencanaku sederhana. Pukul 12.15, di tangga darurat, aku akan menyerahkannya dengan wajah datar. Terima kasih. Sudah dicuci. Selesai. Tidak ada drama, tidak ada ibu jari, tidak ada hidung di kerah.

Di lobi, Pak Darto menatap tas kertas di tanganku dengan mata menyipit.

“Siaga, Bu Kalea. Bawa apa, Bu?”

“Dokumen.”

“Dokumennya warna biru tua, Bu?” Ia menunjuk ujung lengan jaket parasut yang mengintip dari mulut tas kertas. “Kayak jaket Mas Bimo waktu di Puncak?”

Aku menekan ujung lengan itu masuk ke dalam tas. “Banyak jaket warna biru tua, Pak.”

“Betul, Bu. Betul sekali.” Pak Darto mengangguk dengan sangat serius, lalu mengangkat tangan ke pelipis. Dari belakangku, saat aku berjalan ke lift, terdengar bunyi ponsel diketik dengan kecepatan yang tidak wajar untuk seorang satpam berusia lima puluh dua tahun.

Pukul 10.30, Tasya mengetuk mejaku.

Ia datang membawa laporan mingguan program magang, berdiri dengan postur seseorang yang sedang menghadap kepala sekolah. Sejak insiden tali sepatu, ia tidak lagi menatapku seperti menatap naga. Sekarang ia menatapku seperti menatap naga yang ternyata bisa merajut.

“Bu Kalea, ini laporannya.”

“Terima kasih.”

Aku membuka map itu. Formatnya rapi. Datanya lengkap. Aku mulai mencari kesalahan karena itu yang selalu kulakukan, dan aku tidak menemukan apa pun. Tasya bekerja dengan sangat baik.

Tasya tidak pergi. Ia berdiri di depan mejaku, menggigit bibir.

“Ada lagi?”

“Anu, Bu.” Ia memelankan suara. “Bu Kalea kan... dekat sama Mas Bimo?”

Penaku berhenti di atas kertas.

“Siapa yang bilang?”

“Pas outing, Ibu sama Mas Bimo kan...” Ia membuat gerakan tangan yang tidak jelas. Mungkin maksudnya jatuh, mungkin gazebo, mungkin payung yang melayang di foto. “Jadi saya pikir Ibu tahu.”

“Tahu apa?”

“Mas Bimo udah punya pacar belum?”

Aku tidak bergerak. Di layar komputerku, kursor di dokumen jadwal Pak Dimas berkedip. Di lorong, dispenser air berbunyi blub. Di kepalaku, seratus delapan puluh huruf J.

“Kenapa?” tanyaku. Suaraku keluar dua derajat lebih dingin dari biasanya. Suhu ruang server.

Tasya mundur setengah langkah. “Itu... teman kos saya, Bu. Namanya Fina. Dia lihat foto outing di Instagram saya. Dia bilang tangan yang pegang payung itu tangannya bagus. Terus saya bilang itu tangan Mas Bimo, terus Fina minta dikenalin.”

“Tangannya,” ulangku.

“Iya, Bu.”

“Dia mau kenalan karena tangan?”

“Kata Fina, cowok yang tangannya bagus pasti bisa benerin rak.”

Aku menatap Tasya. Tasya menatapku. Lalu aku menunduk ke laporannya, mengambil pena merah, dan menulis di halaman pertama dengan huruf besar:

ULANG.

Tasya membelalak. “Bu? Ada yang salah?”

Aku menatap tulisan itu. Laporan Tasya sempurna. Tidak ada satu pun yang salah. Tanganku menulis ULANG sendiri, seperti refleks seorang antagonis yang sudah terlalu lama memerankan dirinya.

“Maaf,” kataku cepat, mencoret ULANG dengan tiga garis. “Salah tulis. Laporannya bagus. Sangat bagus.”

“Oh.” Tasya mengerjap. “Terus soal Mas Bimo, Bu?”

“Saya tidak tahu urusan pribadi Bimo.”

“Oh, oke, Bu. Makasih.” Ia mengambil laporannya dan berbalik, lalu berhenti. “Bu Kalea?”

“Ya?”

“Ibu barusan manggil dia Bimo.” Ia tersenyum kecil, polos. “Bukan Mas Bimo.”

Lalu ia pergi, meninggalkanku menatap tiga garis merah di atas kata ULANG.

Aturan Antagonis nomor lima: Jangan sebut namanya.

Gagal lagi. Di depan saksi.


Pukul 12.15, aku membuka pintu tangga darurat.

Bimo sudah duduk di anak tangga ketiga. Dua bungkus gorengan di pangkuannya. Karet gelang merah, karet gelang hijau. Ia mendongak, dan wajahnya yang biasanya datar berubah sedikit. Bukan senyum, bukan apa-apa yang bisa diberi nama. Lebih seperti lampu yang dinyalakan di ruangan yang tadinya redup.

“Lewat?” tanyaku.

“Kebetulan.”

Aku turun. Aku berhenti di anak tangga kelima. Lalu, setelah berpikir sangat lama (dua detik), aku turun satu lagi ke anak tangga keempat dan duduk di sana.

Ia memperhatikannya. Aku tahu ia memperhatikannya, karena ia berhenti membuka bungkusan merah dan menatap jarak di antara kami seperti menatap kabel yang baru saja disambung dengan cara yang tidak ia duga.

Aku menyodorkan tas kertas. “Jaketmu. Sudah dicuci.”

“Oh. Makasih.” Ia menerimanya, membuka tas kertas itu, dan mengeluarkan jaket yang terlipat rapi seperti baju di etalase toko. Ia menatapnya lama. “Ini... disetrika?”

“Kusut.”

“Jaket parasut nggak bisa kusut, Mbak.”

“Bisa. Kalau dibawa ke Puncak.”

Ia memandangiku dengan alis sedikit terangkat. Lalu, tanpa peringatan sama sekali, ia mendekatkan jaket itu ke hidungnya.

Aku berhenti bernapas.

“Wangi melati,” katanya.

“Deterjen,” kataku terlalu cepat.

“Deterjen melati?”

“Ada.”

“Merek apa?”

“Merek... rahasia.”

Ia menurunkan jaket itu dan menatapku. Wajahku panas. Wajahku sangat, sangat panas. Aku menunduk ke bungkusan hijau dan menggigit bakwan terlalu besar sehingga pipiku menggembung seperti tupai.

Ia tidak bertanya lagi. Tapi aku mendengar sesuatu dari anak tangga ketiga: tawa yang ditahan, kecil dan pendek, seperti batuk yang salah jalan.

“Kamu ketawa,” kataku dengan mulut penuh.

“Napas semangat.”

“Itu alasan saya.”

“Aku pinjam.”

Kami makan dalam diam. Ia bersenandung. Aku mendengarkan dan pura-pura membaca email. Di ujung istirahat, saat ia membereskan bungkus gorengan, aku bertanya dengan suara serileks mungkin, seperti bertanya soal cuaca:

“Kamu punya pacar?”

Ia menjatuhkan karet gelang merah. Benda itu memantul tiga kali di anak tangga dan menggelinding ke bordes bawah.

“Kenapa?” tanyanya, menatap karet gelang itu.

“Ada yang mau kenalan. Teman kos Tasya. Katanya tanganmu bagus.”

“Tanganku?”

“Bisa benerin rak.”

Ia menatap kedua tangannya sendiri, membaliknya, seperti baru menyadari tangan itu ada. Lalu ia menatapku. “Mbak mau aku kenalan?”

Pertanyaan itu datang terlalu cepat dan terlalu lurus, seperti bola yang dilempar tepat ke dada.

“Saya cuma menyampaikan.”

“Oke.” Ia memungut karet gelang merah dari bordes bawah. “Bilang ke Tasya, raknya aku benerin. Kenalannya nggak usah.”

“Kenapa?”

Ia memasukkan karet gelang itu ke saku. Lalu, dengan wajah paling datar yang pernah kulihat, ia menjawab:

“Tanganku udah sibuk.”

Lalu ia naik tangga, melewatiku, membawa jaket yang wangi melati, dan menghilang ke balik pintu lantai empat belas sebelum aku bisa bertanya sibuk dengan apa.

Aku duduk di anak tangga keempat sampai jam istirahat habis, memikirkan tiga kata itu.

Tanganku udah sibuk.

Sibuk dengan kabel? Dengan obeng? Dengan karet gelang warna-warni untuk bakwan seorang sekretaris direksi yang tidak tahan pedas?


Selasa malam, pukul 21.00, Bab 29 terbit.

Pukul 21.04, kolom komentar meledak.

lunamelati_: “HANYA KABUT YANG TAHU” KAK SENIN PAGI KAMU JAHAT BANGET 😭😭😭

bacasambilngopi: oke aku tetap tim mas IT x tania. mas IT kan yang nolongin tania di lift!!! kalina cuma kebetulan jatuh

tim.kalina.4ever: @bacasambilngopi KEBETULAN??? dia jatuh ke PELUKAN MAS IT. tiga kali! TIGA KALI MAS IT NYELAMETIN KALINA!!!

Darto_Siaga: Saya ada di lokasi. Saya tidak bisa berkomentar. Pantat saya masih sakit. Siaga.

Aku membaca komentar ketiga itu dan merasakan sesuatu yang aneh. Ada pembaca yang membela Kalina. Ada pembaca yang ingin antagonis itu dipilih. Tim Kalina, yang dulu hanya satu akun dengan dua puluh pengikut, sekarang punya tiga ratus balasan.

Tapi di bawahnya ada balasan lain, dengan delapan ratus suka:

plis lah, mas IT itu terlalu baik buat kalina. kalina tuh antagonis. dia pantesnya sendirian di ending.

Aku menutup laptop.

Lalu aku membukanya lagi, karena ada sesuatu yang lain yang menggangguku, sesuatu yang lebih tajam dari komentar mana pun.

Di Bab 29, aku menulis Tania. Tania yang di dunia nyata adalah Tasya, yang baru saja datang ke mejaku dengan senyum polos dan pertanyaan soal teman kosnya. Tasya yang di novel sekarang dijodoh-jodohkan oleh ribuan orang dengan seseorang yang tidak ia sukai. Tasya yang tidak tahu bahwa setiap Selasa dan Jumat, empat puluh tujuh ribu orang membaca tentang dirinya.

Dan Pak Darto, yang pantatnya masih sakit, yang membaca bab ini bersama istrinya sambil tertawa, tidak tahu bahwa penulisnya adalah orang yang setiap pagi ia sapa dengan “Siaga, Bu Kalea!”

Dan Bimo. Yang tidak punya nama di novelku. Yang tidak tahu bahwa setiap kali ia lewat, aku menulisnya.

Aku menatap layar laptop lama sekali, sampai layarnya meredup sendiri.

Untuk pertama kalinya sejak delapan bulan lalu, aku merasa sedang melakukan sesuatu yang salah.

Aku membuka Aturan Antagonis dan mengetik baris kedelapan. Kali ini tidak ada yang lucu soal itu.

8. Suatu hari kamu harus bilang ke dia.

Aku tidak menambahkan (gagal). Belum. Aku hanya menatapnya, dan menatap jaket parasut biru tua yang tidak lagi tergantung di kursiku, dan menyadari bahwa kursi itu sekarang terasa terlalu kosong.