Chapter Nine
Papan Pencarian
— Kayla —
Apartemenku di lantai sembilan sebuah tower di daerah Darmo. Dua kamar, satu dapur kecil, dan satu balkon yang cuma muat dua kursi plastik dan satu pot cabai yang nggak pernah berbuah.
Kalau ada tamu datang, dan jarang banget ada tamu, mereka biasanya berhenti di ruang tengah, menatap dinding sebelah kiri, terus diam agak lama.
Dinding itu penuh.
Dari lantai sampai hampir ke langit-langit, ditutup gabus papan pengumuman yang kubeli dua belas lembar di toko alat tulis di Tunjungan. Di atas gabus itu ada peta. Peta Pulau Jawa, peta Kota Semarang, peta Kota Surabaya, peta Pelabuhan Tanjung Emas, peta Pelabuhan Tanjung Perak. Di atas peta-peta itu ada pin warna-warni, merah, kuning, hijau, biru, disambung pakai benang wol merah, kayak di film-film detektif yang sering kutonton waktu SMA di Melbourne.
Ada fotokopi laporan detektif swasta. Ada tangkapan layar artikel koran lokal tahun 2014 tentang anak-anak yang hilang di Jawa Tengah. Ada daftar perusahaan pelayaran di Tanjung Perak, sebagian sudah dicoret pakai spidol hitam. Ada catatan-catatan tempel kuning bertuliskan tulisan tanganku yang jelek: Tanya ABK kapal barang 2014??, Cek data Dinsos Semarang, Pak Bonar bilang coba gudang-gudang tua.
Dan di tengah-tengah semuanya, di titik yang paling tinggi yang bisa kujangkau dengan berjinjit di atas kursi, ada satu foto.
Foto lama, warnanya sudah agak kekuningan, sudutnya lecek karena pernah kumasukkan ke dompet selama bertahun-tahun. Anak laki-laki sebelas tahun, kurus, rambutnya dipotong cepak kayak anak tentara, pakai kaus oblong putih yang kebesaran. Dia nggak senyum ke kamera. Dia lagi nengok ke samping, ke arah anak perempuan kecil yang lagi meluk kaleng biskuit merah dan mulutnya penuh kerupuk.
Anak perempuan itu aku.
Anak laki-laki itu Kak Ikal.
Aku pulang dari kantor jam tujuh malam hari Senin itu, habis meeting sama Willmore Maritime, dengan perasaan yang aneh.
Bukan aneh yang jelek. Meeting-nya lancar banget, malah. Lebih lancar dari yang kubayangin. Kak Hal ternyata serius tapi teliti, dan dia ngerti semua yang kujelasin tanpa aku harus ngulang. Elena, ya ampun, Elena. Elena itu cantiknya bikin minder. Bukan cantik yang bikin iri, tapi cantik yang bikin kamu pengin langsung pulang dan beli serum wajah apa pun yang dia pakai. Dia masuk ruang rapat pakai blus hijau zaitun dan kacamata tipis, terus rambutnya disanggul, dan aku langsung lupa aku lagi ngomongin volume kontainer.
Habis itu aku jatuhin pulpen. Lagi.
Pokoknya meeting-nya bagus. Tapi pulangnya aku ngerasa aneh.
Aku nggak tahu kenapa. Mungkin karena Kak Hal. Ada sesuatu soal dia yang bikin aku… nggak tahu. Kayak kalau kamu denger lagu yang kamu yakin pernah denger, tapi kamu nggak bisa inget judulnya, penyanyinya, atau di mana kamu pernah denger. Cuma ada rasa familiar yang nggak jelas datangnya dari mana.
Mungkin cara dia ngambilin pulpenku. Tiga kali aku jatuhin, dan tiga kali dia ambilin tanpa ngomong apa-apa, tanpa ketawa, tanpa ngeledek. Cuma diambil, terus disodorin, kayak itu hal paling normal sedunia.
Atau mungkin cara dia ngatur AC. Ruang rapatnya nggak dingin. Semua ruang rapat di semua kantor di Surabaya yang pernah kudatengin itu dinginnya kayak kulkas daging. Tapi ruang rapat Willmore suhunya pas. Aku nggak perlu pakai blazer sampai dikancing semua.
Ah, nggak tahu. Aku capek. Mungkin aku cuma capek.
Aku lepas sepatu di pintu, jalan ke ruang tengah, dan berdiri di depan dinding gabus itu kayak yang kulakukan hampir tiap malam.
“Kak,” kataku ke foto di tengah-tengah dinding. “Aku tadi ketemu orang. Namanya Hal. Kayak nama AI di film. Orangnya kaku banget. Kamu pasti bakal ngetawain dia.”
Foto itu nggak jawab. Tentu aja nggak jawab. Kak Ikal di foto itu masih sebelas tahun, masih nengok ke samping, masih ngeliatin aku yang lagi ngunyah kerupuk.
Aku udah ngomong ke foto ini selama… berapa ya. Hampir tujuh belas tahun. Sejak di pesawat ke Melbourne, umurku sembilan tahun, waktu aku nangis dari Semarang sampai Denpasar terus ketiduran dari Denpasar sampai Melbourne.
Pak Bonar nelepon jam delapan, waktu aku lagi berusaha masak mi instan dan gagal karena airnya kebanyakan.
Pak Bonar itu detektif swasta. Mantan polisi, lima puluh delapan tahun, orang Medan, suaranya keras banget sampai aku harus jauhin ponsel dari kuping. Aku nyewa dia setahun lalu, waktu tiga detektif sebelumnya nyerah dan bilang kasus ini nggak ada harapan.
Pak Bonar nggak nyerah. Pak Bonar bilang, “Nggak ada kasus yang nggak ada harapan, Dek. Yang ada cuma detektif yang malas.”
“Dek Kayla! Ada kabar!”
Aku hampir numpahin panci mi. “Kabar apa, Pak?”
“Saya ketemu ABK tua di Tanjung Emas. Pak Karyo namanya. Dulu kerja di kapal barang kecil rute Semarang–Surabaya. Dia ingat pernah ada anak laki-laki numpang gelap di palka kapalnya. Tahun 2014. Anak umur enam belasan, kurus, nggak ngomong sepatah kata pun. Pas sampai di Tanjung Perak, anak itu langsung kabur, hilang di antara buruh.”
Jantungku berhenti.
“Tahun 2014, Pak?”
“2014, Dek. Cocok sama data kita. Bapakmu meninggal 2015, dan tetangga bilang anaknya udah kabur setengah tahun sebelumnya.”
“Pak Karyo inget mukanya?”
“Dia bilang nggak terlalu. Udah dua belas tahun. Tapi dia ingat satu hal.” Pak Bonar diam sebentar. “Anak itu, waktu dia tidur di antara karung beras, dia meringkuk sambil nutupin kepala pakai dua tangan. Terus terang aja, Dek, Pak Karyo bilang, posisi tidurnya kayak anak yang biasa dipukul.”
Aku diam.
Mi di panci udah lembek, mengembang, kebanyakan air. Aku matiin kompor.
“Dek? Masih di situ?”
“Masih, Pak.” Suaraku aneh. Aku berdeham. “Masih.”
Pak Bonar pasti salah. Pak Karyo pasti salah. Itu bisa anak siapa aja. Tahun 2014, anak enam belas tahun yang numpang gelap di kapal barang dari Semarang ke Surabaya, ada banyak. Pasti ada banyak.
Kak Ikal nggak pernah dipukul. Ayah memang suka minum, aku inget itu, samar-samar, bau aneh dari gelas di meja makan. Tapi Ayah nggak pernah mukul. Ibu juga bilang begitu. Kak Ikal sendiri yang bilang di telepon, berkali-kali, tiap Minggu sore: Aku baik, Bu. Ayah baik. Ayah udah berhenti minum.
Kak Ikal nggak pernah bohong. Kak Ikal itu orang paling jujur yang pernah kukenal.
“Langkah selanjutnya,” kata Pak Bonar, “saya mau cek gudang-gudang tua dan perusahaan pelayaran di Tanjung Perak yang mungkin pernah pekerjain anak di bawah umur sekitar tahun itu. Ini butuh waktu, Dek. Banyak perusahaan udah tutup. Banyak data udah hilang.”
“Nggak apa-apa, Pak. Saya tunggu.”
“Kamu sabar banget, Dek.”
Aku nggak jawab. Aku ngeliatin dinding gabus. Ngeliatin benang-benang wol merah yang nyambung dari Semarang ke Surabaya, dari Tanjung Emas ke Tanjung Perak.
Aku udah tujuh belas tahun nunggu. Satu atau dua bulan lagi nggak bakal bikin aku mati.
Kak Safrina nelepon jam sepuluh malam. Di Melbourne jam satu pagi.
Kak Safrina nggak pernah nelepon jam segitu kecuali ada yang penting atau dia lagi nggak bisa tidur. Dan Kak Safrina hampir selalu nggak bisa tidur.
“Kamu belum tidur?” tanyanya. Suaranya datar, rapi, kayak suara orang yang lagi baca berkas di pengadilan.
“Belum, Kak. Kakak juga belum.”
“Ada kasus besok pagi.”
Kak Safrina pengacara perlindungan anak di Melbourne. Dia nanganin kasus anak-anak yang ditelantarkan, dipukul, disiksa sama orang tuanya. Dia hampir nggak pernah kalah. Dia juga hampir nggak pernah ketawa. Dua hal itu, kayaknya, ada hubungannya.
“Kakak udah makan?”
“Udah.” Bohong. Aku tahu itu bohong. Kak Safrina nggak pernah makan malam kalau besoknya ada sidang. “Ibu titip salam. Ibu tanya kamu kapan pulang Natal.”
“Bilang ke Ibu, aku belum tahu.”
“Kay.”
Aku tahu nada itu. Nada Kay yang dipanjangin sedikit di ujung, kayak peringatan.
“Aku tadi ketemu klien baru,” kataku cepat, sebelum dia sempat ngomong. “Perusahaan pelayaran. Willmore Maritime. Kalau deal ini jadi, Arunika bisa buka jalur langsung Surabaya–Melbourne. Itu gede banget, Kak.”
“Bagus.” Jeda. “Kay. Pak Bonar masih kamu bayar?”
Aku diam.
“Kay.”
“Iya, Kak. Masih.”
Kak Safrina menghela napas. Napasnya panjang dan berat, kedengeran jelas dari jarak enam ribu kilometer.
“Udah dua tahun, Kay. Dua tahun kamu tinggal sendirian di Indonesia. Kamu ninggalin Ibu, ninggalin kerjaan kamu di kantor pusat yang udah mau naikin jabatan kamu, ninggalin pacar kamu…”
“Daniel bukan pacar aku, Kak. Daniel temen.”
“…ninggalin temen kamu yang jelas-jelas naksir kamu. Semua itu buat apa?”
“Buat nyari Kak Ikal.”
“Dia udah nggak mau dicari, Kay.”
Kalimat itu jatuh di antara kami kayak piring yang pecah di lantai keramik.
“Kakak nggak tahu itu.”
“Aku tahu.” Suara Kak Safrina tetap datar, tapi ada sesuatu yang retak di dalamnya. Sesuatu yang cuma kedengeran kalau kamu udah dua puluh enam tahun jadi adiknya. “Dia sendiri yang nelepon Ibu dan bilang jangan telepon lagi. Dia sendiri yang bilang dia mau sama Ayah. Ayah udah meninggal sebelas tahun lalu, Kay. Kalau dia mau nyari kita, dia punya sebelas tahun buat nyari kita. Dia tahu nama kita. Dia tahu kita di Melbourne. Dia bisa nyari di Facebook, di Google, di mana aja. Dan dia nggak pernah nyari.”
“Mungkin dia nggak bisa.”
“Mungkin dia nggak mau.”
“Kak…”
“Aku cuma nggak mau kamu sakit, Kay.” Suaranya pelan sekarang. Hampir berbisik. “Aku nggak mau kamu habisin hidup kamu nungguin orang yang nggak bakal dateng.”
Aku duduk di lantai ruang tengah, punggung bersandar ke sofa, ngeliatin dinding gabus. Foto Kak Ikal sebelas tahun di tengah-tengahnya, nengok ke samping, ngeliatin aku.
“Kak Safrina,” kataku pelan. “Kakak inget nggak, di bandara dulu? Kakak yang terakhir meluk Kak Ikal. Kakak bilang apa ke dia?”
Sunyi.
Sunyi yang panjang banget. Sampai aku kira sambungannya putus.
“Kak?”
“Aku nggak inget,” kata Kak Safrina. Suaranya aneh. Kaku. “Udah malem, Kay. Aku ada sidang. Tidur.”
Telepon ditutup.
Aku ngeliatin layar ponselku yang mati.
Kak Safrina inget. Kak Safrina inget segala hal. Dia inget nomor plat mobil tetangga kami di Semarang. Dia inget nama guru TK-ku. Dia inget tanggal ulang tahun semua sepupu kami dari pihak Ibu, termasuk yang udah meninggal.
Kak Safrina nggak mungkin lupa apa yang dia bilang ke Kak Ikal di bandara.
Tapi dia bilang dia nggak inget. Dan itu, buatku, lebih nakutin daripada kalau dia inget.
Jam sebelas malam, aku buka lemari di kamar keduaku.
Kamar kedua di apartemenku nggak ada ranjangnya. Isinya cuma satu lemari kayu besar yang kubeli di toko furnitur bekas di Jalan Kapasan, dan di dalam lemari itu, di tiga rak yang disusun rapi, ada enam belas kotak kado.
Enam belas kotak, dengan ukuran beda-beda. Kertas kadonya juga beda-beda. Ada yang motif robot, ada yang motif dinosaurus, ada yang motif bola, ada yang polos warna biru tua. Makin ke atas, makin dewasa motifnya. Di tiap kotak ada kartu kecil yang ditempel pakai selotip, dan di tiap kartu ada tulisan tanganku, yang makin tahun makin rapi:
Untuk Kak Ikal, ulang tahun ke-12. Untuk Kak Ikal, ulang tahun ke-13. Untuk Kak Ikal, ulang tahun ke-14.
Sampai:
Untuk Kak Ikal, ulang tahun ke-27.
Aku mulai beli kado ini waktu umurku sepuluh tahun. Ulang tahun pertama Kak Ikal setelah kami pisah. Ibu bilang ongkos kirim paket ke Indonesia mahal banget, jadi kami cuma kirim kartu ucapan lewat pos ke Semarang, dan kadonya disimpen dulu buat dibawa pas liburan nanti. Kartunya nggak pernah dibales. Ibu bilang mungkin kantor posnya hilangin. Liburan itu nggak pernah dateng. Tahun berikutnya, Ibu bilang Kak Ikal udah minta jangan dihubungi lagi.
Aku tetep beli. Tiap tahun. Aku bungkus sendiri, aku tulis kartunya sendiri, terus aku simpen. Aku bawa semuanya dari Melbourne ke Surabaya dua tahun lalu, enam belas kotak di dalam dua koper besar, dan petugas bea cukai di Juanda sampai bongkar semuanya karena curiga isinya barang selundupan.
Petugas itu buka satu kotak, isinya robot mainan. Terus dia buka kotak lain, isinya jam tangan anak-anak. Terus dia baca kartu-kartunya. Terus dia diem, terus dia bungkus lagi kotaknya pelan-pelan, terus dia bilang, Silakan, Mbak, dan matanya merah.
Aku ngambil kotak baru dari tas belanjaan yang kubawa pulang tadi sore. Dompet kulit warna cokelat tua, dari toko kulit di Tanggulangin. Kulitnya tebal, jahitannya rapi, ada inisial kecil yang kuminta diukir di pojoknya: H.R.
Aku bungkus dompet itu pakai kertas kado polos warna abu-abu. Hasilnya jelek. Selotipnya miring, sudut-sudutnya menggembung kayak bantal, dan ada satu bagian yang sobek karena aku kebanyakan narik. Aku memang nggak pernah bisa bungkus kado dengan rapi. Kak Ikal dulu yang selalu bungkusin kado-kado buat temen-temenku. Dia bisa bikin sudut kertas kado yang lancip dan rapi kayak di toko.
Aku tulis kartunya:
Untuk Kak Ikal, ulang tahun ke-28. Tanggal 24 Agustus. Tahun ini aku di Surabaya, Kak. Deket sama pelabuhan terakhir yang Kakak datangin. Kalau Kakak masih di sini, mungkin kita udah pernah papasan di jalan, ya. Mungkin kita udah pernah antre di minimarket yang sama. Lucu ya. Selamat ulang tahun. Aku masih nunggu. — Kay
Aku tempel kartunya di kotak. Aku taruh kotak itu di rak paling atas, di sebelah kotak nomor enam belas.
Tujuh belas.
Sebelum tidur, aku berdiri lagi di depan dinding gabus.
“Kak,” kataku. “Kak Safrina bilang Kakak udah nggak mau dicari.”
Foto itu tetep diam.
“Aku nggak percaya,” kataku. “Kakak janji nyusul. Kakak nggak pernah ingkar janji. Waktu Kakak janji bakal beliin aku es krim pas aku ranking satu, Kakak beliin, padahal Kakak harus nabung uang jajan tiga minggu. Waktu Kakak janji bakal ngajarin aku naik sepeda, Kakak ajarin, padahal aku jatuh dua puluh kali dan Kakak ikut lecet-lecet. Waktu Kakak janji bakal ngusir kecoak dari kamar mandi, Kakak usir, padahal aku tahu Kakak juga takut kecoak.”
Mataku panas. Aku kedipin cepet-cepet.
“Kakak cuma telat,” kataku. “Kakak cuma… telat banget.”
Aku matiin lampu ruang tengah.
Di kegelapan, satu-satunya cahaya datang dari lampu kota di luar jendela, yang jatuh tepat di foto Kak Ikal sebelas tahun di tengah-tengah dinding gabus, nengok ke samping, ke arah anak perempuan kecil dengan kaleng biskuit merah dan mulut penuh kerupuk.
Aku nggak tahu, waktu itu, bahwa orang yang kucari sedang tidur di atas tikar di lantai dua puluh tiga sebuah tower empat kilometer dari sini. Dan bahwa kaleng biskuit merah di foto itu ada di lemari dindingnya, berkarat, dengan tulisan spidol yang udah pudar.
Aku nggak tahu apa-apa.
Aku cuma tidur, dan mimpi tentang sandal kuning bergambar bebek dengan tali kiri yang putus.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian reading
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan