← Hari ke-731

Chapter Thirty Seven

Don’t Be Me

— Haikal —

Jam sembilan malam, bel pintu berbunyi.

Aku masih duduk di lantai, bersandar ke sofa, di ruang tamu yang gelap. Aku tidak menyalakan lampu sejak matahari terbenam. Bebek karet kuning masih di tanganku. Amplop cokelat masih di pangkuanku.

Bel berbunyi lagi. Lalu ketukan. Tiga kali. Lalu suara dari balik pintu, keras dan sedikit terengah:

“Hal. I know you’re in there. The security guard told me. He says you haven’t left since five.”

Aku berdiri. Pelan. Punggungku tidak sakit lagi. Jahitannya sudah dilepas hari Kamis. Tapi masih kaku, seperti kulit baru yang belum terbiasa dengan bentuk tubuhnya sendiri.

Aku membuka pintu.

Mr Jake berdiri di lorong dengan jaket windbreaker biru tua, celana training, dan topi pet wol. Di tangan kanannya, kantong plastik putih dari minimarket di lantai dasar. Dari bentuknya aku bisa melihat dua kaleng.

Dia menatapku. Lalu menatap ruang tamu yang gelap di belakangku.

“You’re sitting in the dark,” katanya.

“Iya, Pak.”

“Why?”

Aku tidak menjawab.

Mr Jake menghela napas panjang, masuk tanpa diundang, meraba-raba dinding di sebelah pintu, dan menyalakan lampu.

Ruang tamu tiba-tiba terang. Sofa abu-abu. Tujuh belas kotak di pojok. Sirih gading di dekat jendela. Kunci perak kecil di lantai.

“Better,” kata Mr Jake.


Dia duduk di sofa.

Dia menurunkan tubuhnya ke sofa itu dengan sangat hati-hati, satu tangan di sandaran tangan, mengerang panjang. Masih ada sisa plastik pembungkus di bagian bawah bantalan yang belum dirobek Kayla, dan begitu Mr Jake duduk, plastik itu berbunyi kresek yang sangat keras.

Mr Jake membeku.

Dia bergeser sedikit. Kresek. Bergeser lagi. Kresek kresek.

“Bloody hell,” gumamnya. “I bought a sofa that crinkles.”

“Masih ada plastiknya, Pak.”

“I can hear that, Hal.”

Dia merogoh ke bawah bantalan, menarik plastik itu dengan sekali tarik yang kasar, menggulungnya jadi bola, dan melemparnya ke arah dapur. Bola plastik itu memantul di lantai keramik dan berhenti di depan kulkas, di bawah kertas tempel kuning bertuliskan ISI. INI PERINTAH CFO.

Mr Jake menatap kertas tempel itu. Dia tidak bilang apa-apa. Tapi aku melihat sudut bibirnya bergerak.

Lalu dia membuka kantong plastik putih dari minimarket dan mengeluarkan dua kaleng.

Bir.

Dia membuka satu. Pssst. Bunyi gas yang keluar. Lalu baunya.

Bau itu mengisi ruang tamu dalam satu detik. Manis, getir, sedikit asam. Bukan anggur murah. Bukan bau yang sama persis. Tapi cukup dekat.

Aku tidak bergerak. Aku tidak bilang apa-apa. Tapi aku tahu sesuatu terjadi di wajahku, karena Mr Jake, yang sedang mengangkat kaleng itu ke mulutnya, berhenti di tengah jalan.

Dia menatapku. Lama.

Lalu dia menurunkan kaleng itu, pelan-pelan, seperti orang yang baru sadar sedang memegang sesuatu yang berbahaya.

“Oh,” katanya pelan. “Oh, Hal.”

Dia berdiri. Dia berjalan ke dapur dengan dua kaleng bir di tangan: satu terbuka, satu masih tertutup. Dia menuangkan isi kaleng yang terbuka ke wastafel. Lalu dia membuka kaleng yang kedua dan menuangkannya juga. Busa putih menggelegak di lubang pembuangan.

Dia menyalakan keran dan membiarkan air mengalir lama, sampai bau itu hilang.

Lalu dia berdiri di depan wastafel dengan dua kaleng kosong di tangan dan punggung menghadap ke arahku.

“Twelve years,” katanya ke arah wastafel. “Twelve years, and I never once saw you drink. Not at the Christmas party. Not at the company anniversary. Not when we closed the Saudi contract. I thought you were just… a good Muslim boy. Or a health nut.” Dia menggeleng. “I never asked why.”

Dia meremas dua kaleng kosong itu di tangannya. Kaleng aluminium yang tipis penyok dengan bunyi berderak.

“Bloody old fool,” bisiknya.


Dia kembali ke sofa. Kali ini tanpa bunyi kresek.

Aku duduk di lantai di seberangnya, bersandar ke dinding. Di sebelah kanannya.

Mr Jake mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. “I’m going to order food,” katanya. “Ucup yang ajarin pakai aplikasi pesan makanan. Very modern.”

Dia mengetuk-ngetuk layar ponsel dengan jari telunjuk, pelan sekali, dengan kacamata baca yang diturunkan ke ujung hidung. Lidahnya terjulur sedikit di sudut bibir karena konsentrasi. Dia mengetik, menghapus, mengetik lagi. Bergumam dalam bahasa Inggris.

“Sate,” katanya. “You like sate. Ayam. How many tusuk is one portion?”

“Sepuluh, Pak.”

“Ten. Okay.” Dia mengetuk. “Two portions. Twenty.” Dia mengetuk lagi. Berhenti. Mengerutkan dahi. “Why does it say thirty?”

“Bapak mungkin pencet tiga porsi.”

“I pressed two.”

“Coba liat lagi, Pak.”

Dia menatap layarnya. Lalu menatapku. Lalu menatap layarnya lagi. “It says three. I definitely pressed two. This app is broken.” Dia mengetuk tombol pesan. “Oh well. Thirty sate. Margaret always said I never ordered enough food for guests.”

Tiga puluh lima menit kemudian, kurir datang membawa tiga puluh tusuk sate ayam, tiga bungkus lontong, dan tiga kantong kecil bumbu kacang. Mr Jake menyebarkannya di atas lantai di antara kami, di atas kertas minyak cokelat, seperti piknik.

Kami makan di lantai. Mr Jake akhirnya turun dari sofa dan duduk bersila di lantai di sebelahku, mengerang panjang soal pinggang.

Aku makan empat tusuk. Mr Jake makan sembilan. Dia mencelupkan setiap tusuk ke bumbu kacang dalam-dalam dan mengunyah dengan mata terpejam.

“This,” katanya dengan mulut penuh, “is the second-best thing about Indonesia.”

“Yang pertama apa, Pak?”

Dia menelan. Dia menatapku.

“You, son,” katanya. “Obviously.”

Aku tidak menjawab.


Setelah makan, dia diam lama.

Dia duduk di lantai dengan punggung bersandar ke sofa. Dia menatap ke arah jendela besar, ke lampu-lampu kota di luar. Topi petnya sudah dilepas dan diletakkan di atas lutut. Rambut putihnya berantakan.

Lalu dia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan dompet kulit yang sudah lusuh.

Aku tahu apa yang akan dia keluarkan. Aku sudah pernah melihatnya. Di dek MV Sinar, di malam-malam pelayaran ke Guangzhou.

Foto kecil yang warnanya sudah pudar. Dua anak laki-laki bule berambut pirang, sepuluh dan tujuh tahun, berdiri di depan pelabuhan kelabu. Yang lebih besar merangkul yang lebih kecil. Keduanya tertawa ke arah kamera dengan gigi ompong.

“Liverpool,” kata Mr Jake. “Nineteen sixty-seven. Me, and my little brother. Thomas.”

Dia meletakkan foto itu di lantai, di antara kami, di sebelah tusuk-tusuk sate yang sudah kosong.

“Kamu pernah tanya dia di mana sekarang,” katanya. “Di kapal. Saya bilang another time.”

Dia menatap foto itu.

“Sekarang another time.”


Dia menceritakannya pelan-pelan. Kadang dalam bahasa Inggris, kadang dalam bahasa Indonesia yang terlalu bulat di huruf R. Kadang berhenti di tengah kalimat untuk menatap foto itu.

Thomas, adiknya. Tiga tahun lebih muda. Anak yang selalu mengekor ke mana pun Jake pergi. Ke pelabuhan, ke lapangan bola, ke pub di ujung jalan waktu mereka sudah cukup umur.

Tahun 1979, ibu mereka sakit. Kanker. Ayah mereka sudah meninggal sepuluh tahun sebelumnya. Jake baru dapat tawaran kerja di Melbourne, di perusahaan pelayaran besar. Kesempatan sekali seumur hidup. Thomas memintanya tinggal. Mum needs you, Jakey. I can’t do this alone.

Jake pergi.

“Saya bilang sama diri sendiri, saya kirim uang. Saya bilang uang lebih berguna daripada saya.” Mr Jake tertawa pendek. Tanpa humor. “Itu bohong. Saya pergi karena saya takut. Takut lihat Mum sakit. Takut nggak bisa ngapa-ngapain. Lebih gampang kirim uang dari jauh.”

Ibunya meninggal tahun 1981. Jake tidak pulang ke pemakaman. Ada kapal yang harus diurus di Fremantle. Begitu katanya pada Thomas lewat telepon.

Thomas tidak bicara dengannya lagi setelah itu.

“Saya pindah ke Indonesia tahun sembilan puluh satu,” lanjut Mr Jake. “Ketemu Margaret di sini. Bikin Willmore. Thomas tetap di Liverpool. Kerja di galangan. Nikah. Punya anak dua.”

Dia menatap foto di lantai.

“Tahun sembilan puluh lima, dia mulai kirim surat.”

Aku menatapnya.

“Satu surat setiap tahun. Setiap Natal. Amplop biru, perangko Ratu Elizabeth, tulisan tangan dia yang jelek. Kayak cakar ayam.” Mr Jake tersenyum sedikit. “Dua puluh empat tahun. Dua puluh empat surat.”

“Bapak bales?”

Mr Jake diam lama.

“Saya nggak buka,” katanya.

Hening.

“Saya nggak pernah buka satu pun,” lanjutnya pelan. “Margaret nyuruh saya buka. Setiap Natal dia bilang, Jake, open the bloody letter. Setiap Natal saya bilang nanti. Saya taruh di laci. Laci meja kerja saya. Yang paling bawah.”

Laci yang sama, aku tahu, tempat dia menyimpan koran halaman tujuh selama sepuluh tahun.

“Kenapa, Pak?”

“Gengsi.” Mr Jake mengangkat bahu. Gerakan kecil, lelah. “Saya pikir dia mau marah-marahin saya. Soal Mum. Soal pemakaman. Saya pikir kalau saya buka, saya harus denger semua itu. Jadi lebih gampang nggak buka. Lebih gampang pura-pura nggak ada.”

Dia menatap tujuh belas kotak di pojok ruang tamu.

Dia tidak bilang apa-apa tentang kotak-kotak itu. Dia tidak perlu.


“Thomas meninggal tahun dua ribu sembilan belas,” kata Mr Jake. “Serangan jantung. Di galangan. Umurnya enam puluh.”

Dia menatap ke luar jendela.

“Anak perempuannya yang telepon saya. Saya nggak pulang ke pemakamannya juga.” Suaranya pecah sedikit di ujung. “Ada kapal yang harus diurus di Jeddah. Begitu saya bilang ke anaknya.”

Hening.

“Margaret udah meninggal waktu itu. Nggak ada yang nyuruh saya buka surat lagi. Jadi malam setelah anaknya Thomas telepon, saya buka laci yang paling bawah. Saya keluarin dua puluh empat amplop biru. Saya buka semuanya. Satu per satu. Di meja kerja saya. Sampai jam lima pagi.”

Dia menarik napas. Panjang. Bergetar.

“Nggak ada satu pun yang marah, Hal.”

Aku menatapnya.

“Dua puluh empat surat. Nggak ada satu kata pun soal Mum. Soal pemakaman. Soal saya yang pergi.” Mr Jake tertawa. Tawa yang basah, pecah, dan sangat tua. “Isinya cerita. Cerita biasa. Anak-anaknya. Kerjaannya di galangan. Liverpool menang piala. Cuaca. Istrinya bikin pai apel yang gosong. Hal-hal kecil. Hal-hal bodoh. Kayak dia cuma… ngobrol. Kayak kami masih anak kecil di pelabuhan.”

Dia mengangkat foto di lantai. Dia menatapnya.

“Surat terakhir,” katanya. “Natal dua ribu delapan belas. Setahun sebelum dia mati.”

Dia diam sangat lama.

“Isinya cuma satu kalimat.”

Dia menurunkan foto itu ke pangkuannya. Dia tidak menatapku. Dia menatap jendela, dan matanya basah, dan suaranya keluar sangat pelan, dalam aksen Liverpool yang belum pernah kudengar dia pakai selama dua belas tahun.

“Come home, Jakey. I’m not angry anymore. I just miss my brother.”


Ruang tamu sunyi.

Di luar jendela, lampu-lampu kota berkelip. Sebuah pesawat melintas jauh di atas, lampu merahnya berkedip-kedip, menuju Juanda.

Mr Jake menyeka matanya dengan punggung tangan yang tua dan berbintik-bintik.

“Dua puluh empat tahun,” katanya. “Dua puluh empat tahun dia nunggu saya buka satu surat. Satu aja. Dan saya nggak buka karena saya kira isinya kemarahan.” Dia menggeleng. “Isinya kangen, Hal. Dari awal sampai akhir. Isinya cuma kangen.”

Dia menoleh ke arahku.

“Saya nggak pernah sempet bales.”

Aku menatapnya.

Aku menatap tujuh belas kotak di pojok ruang tamu. Kertas kado robot biru, dinosaurus, bola sepak, bintang-bintang, biru tua, hijau tua, abu-abu. Kartu-kartu kecil yang ditempel dengan selotip yang menguning. Untuk Kak Ikal, ulang tahun ke-12.

Mr Jake mengikuti pandanganku.

“Don’t be me, son,” katanya.

Tiga kata. Pelan. Bukan perintah. Bukan nasihat. Hanya permohonan dari seorang laki-laki tua yang sudah terlambat.

“Don’t be me.”


Dia berdiri jam sebelas malam. Mengerang. Satu tangan di sofa, satu tangan di pinggang.

Dia memakai topi petnya lagi. Dia mengambil foto Thomas dari lantai dan memasukkannya kembali ke dompet. Dia mengambil dua kaleng bir yang sudah penyok dari dapur dan memasukkannya ke kantong plastik putih, untuk dibuang di bawah.

Di ambang pintu, dia berbalik.

“Hal.”

“Ya, Pak?”

Dia menatapku lama. Lalu dia bicara dengan suara yang sangat lembut. Suara yang biasanya dia pakai hanya untuk Elena, dan untuk foto Margaret di ruang kerjanya.

“You’re not proud, son,” katanya. “Saya gengsi. Kamu nggak. Saya tahu bedanya. Saya udah lihat kamu dua belas tahun.”

Dia diam sebentar.

“Kamu cuma capek. Capek banget. Dari umur sebelas.”

Aku tidak menjawab.

“Istirahat,” katanya. “Malam ini. Tidur. Atau jangan tidur. Terserah.” Dia melirik tujuh belas kotak di pojok. “Terus besok…”

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Penerbangannya jam empat,” katanya. “Saya tunggu di mobil di bawah jam dua siang. Di depan lobi. Saya tunggu sampai jam tiga.” Dia mengangkat bahu. “Kamu turun atau nggak, terserah kamu. Saya cuma nunggu. Orang tua kerjaannya nunggu.”

Dia membuka pintu.

“Margaret would’ve wanted me to wait,” katanya.

Lalu dia tersenyum. Senyum kecil yang sedih.

“No. That’s a lie. Margaret would’ve dragged you down by your ear.” Dia menggeleng. “I’m not as brave as Margaret.”

Pintu menutup.


Aku berdiri di tengah ruang tamu yang terang.

Tiga puluh tusuk sate, sebagian besar sudah habis, berserakan di atas kertas minyak cokelat di lantai. Bumbu kacang yang tumpah sedikit di keramik putih. Lampu menyala.

Aku membereskan semuanya. Aku membuang tusuk-tusuk sate ke tempat sampah. Aku mengelap bumbu kacang dari lantai. Aku mencuci dua gelas yang kami pakai minum air putih.

Lalu aku berdiri di depan tujuh belas kotak di pojok ruang tamu.

Isinya kangen, Hal. Dari awal sampai akhir.

Aku menatap kotak paling bawah. Yang terbesar. Kertas kado bermotif robot biru, pudar, selotipnya menguning dan mulai lepas di satu sudut. Kartu kecilnya ditulis dengan huruf-huruf besar yang miring, tulisan tangan anak sepuluh tahun.

Untuk Kak Ikal, ulang tahun ke-12.

Dua puluh empat tahun Thomas menunggu satu surat dibuka.

Tujuh belas tahun Kayla menunggu satu kotak dibuka.

Aku berlutut di lantai. Pelan. Punggungku yang kaku protes sedikit.

Aku mengangkat enam belas kotak di atasnya, satu per satu, dan meletakkannya dengan rapi di sebelah. Lalu aku menarik kotak paling bawah itu, kotak robot biru, ke arahku, di atas lantai keramik putih.

Aku duduk bersila di depannya.

Jam di layar ponselku menunjukkan sebelas lewat dua puluh malam.

Aku menatap kotak itu.

Tanganku gemetar. Lebih keras dari biasanya.

Aku meletakkan dua tangan di atas kertas kado bermotif robot biru itu, dan aku tidak tahu, sungguh tidak tahu, apakah aku sedang menahannya supaya tidak terbuka, atau sedang bersiap untuk membukanya.