← Hari ke-731

Chapter Thirty Nine

Asal Kakak Masih Hidup

— Haikal —

Jam satu lewat empat menit, aku membukanya.

Aku tidak memutuskan untuk membukanya. Aku duduk di lantai selama enam menit dengan tangan di atas lutut, menatap kotak biru tua bertuliskan ke-16, dan selama enam menit itu aku tidak memikirkan apa pun. Lalu tanganku bergerak sendiri. Seperti telur dadar. Seperti jas hujan. Seperti bantal.

Selotipnya tidak terlepas sendiri seperti yang lain. Selotip di kotak ini lebih tebal. Lebih baru, pada waktunya. Aku harus mengupasnya dengan kuku.

Kertas kado biru tua itu terbuka.

Di dalamnya tidak ada kotak kardus. Hanya kertas tisu putih yang dilipat-lipat, lembek dan menguning, membungkus sesuatu yang lunak.

Aku membuka lipatan tisu itu.

Syal.

Syal rajutan berwarna abu-abu dan biru, bergaris-garis, panjangnya mungkin satu meter lebih. Benangnya wol yang tebal dan sedikit kasar. Rajutannya tidak rata. Ada bagian yang rapat dan rapi, lalu tiba-tiba longgar dan bergelombang, lalu rapat lagi. Garis-garis birunya tidak sama lebar. Di satu tempat, garis biru itu miring, seperti jalan yang belok tanpa alasan.

Dan ada lubang. Tiga lubang kecil, di tempat-tempat yang berbeda, di mana jarum rajutnya pasti terlepas dan tidak ada yang tahu cara memperbaikinya.

Tangan yang membuat syal ini tidak tahu cara merajut. Tangan yang membuat syal ini belajar sambil membuatnya.

Di atas syal itu, selembar kertas binder yang dilipat empat.

Aku membukanya.


Tulisan tangannya berbeda dari surat-surat sebelumnya.

Tidak lagi besar-besar dan miring. Tidak ada tanda seru. Tidak ada gambar bunga matahari dengan krayon. Huruf-hurufnya lebih kecil, lebih rapat, lebih hati-hati. Tulisan tangan anak empat belas tahun yang sudah belajar bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan tanda seru.

Tapi huruf a-nya masih bulat sempurna.


Kak Ikal,

Selamat ulang tahun ke-16.

Syal ini aku rajut sendiri. Aku belajar dari video di internet. Butuh empat bulan. Jelek ya. Ada bolongnya tiga. Aku udah coba benerin tapi malah tambah gede, jadi aku biarin aja.

Tapi anget. Aku udah coba pakai. Anget banget.

Kak, aku udah empat belas sekarang. Aku udah ngerti beberapa hal yang dulu aku nggak ngerti.

Aku ngerti Kakak nggak mau dihubungi. Aku ngerti mungkin Kakak marah. Atau mungkin Kakak udah punya hidup sendiri di sana dan kami cuma jadi masa lalu. Aku ngerti. Kak Safrina bilang itu wajar. Kak Safrina bilang orang bisa berubah.

Jadi aku mau bilang sesuatu, dan aku mau Kakak dengerin baik-baik.

Aku nggak minta Kakak nyusul lagi.

Aku udah nggak nanya kapan.

Aku cuma minta satu hal.

Kakak masih hidup ya.

Kakak makan. Kakak tidur di tempat yang anget. Kakak nggak sakit. Kalau Kakak sakit, Kakak ke dokter. Kalau hujan, Kakak pakai jaket. Kalau dingin, Kakak pakai syal ini.

Kalau Kakak nggak mau nyusul, nggak apa-apa.

Asal Kakak masih hidup ya.

Itu aja.

Aku sayang Kak Ikal. Dari dulu sampai nanti.

Kay (14 tahun)


Aku membaca surat itu.

Satu kali. Dari atas sampai bawah.

Asal Kakak masih hidup ya.

Lalu aku membacanya sekali lagi.

Lalu aku menatap kertas binder itu, dengan pinggiran yang masih ada bekas lubang-lubang kecilnya, dan aku tidak membaca apa pun lagi. Aku hanya menatapnya. Aku menatap huruf a yang bulat sempurna di kata masih dan kata hidup.


Ulang tahunku yang keenam belas.

Hari ketujuh aku tidur di kontainer hijau berkarat di sudut lapangan penumpukan Tanjung Perak.

Aku tidak menceritakan hari itu kepada siapa pun. Tidak kepada Mr Jake. Tidak kepada Elena di ruang arsip. Tidak kepada Kak Safrina di atas tikar.

Pagi itu aku bangun dan aku demam. Bukan demam yang kecil. Demam yang membuat kontainer itu berputar pelan-pelan di sekelilingku, yang membuat dinding besinya terasa seperti bergerak mendekat lalu menjauh lalu mendekat lagi. Bajuku basah keringat, tapi aku menggigil. Kakiku tidak mau berdiri.

Aku tidak bisa mengangkat barang hari itu. Tidak ada upah. Tidak ada nasi.

Aku berbaring di atas kardus di dalam kontainer yang pintunya kututup dari dalam, dengan tas sekolah di bawah kepala, dan aku tidak makan apa pun dari pagi sampai malam. Aku minum air dari botol plastik yang kuisi di keran umum kemarin sore. Airnya hangat dan berbau karat.

Malam itu, di dalam gelap, aku tahu hari itu tanggal berapa. Aku sudah berhenti menghitung hari sejak hari ke-731, tapi tanggal ulang tahun tidak perlu dihitung. Tanggal ulang tahun datang sendiri.

Aku tidak ingat apa yang kupikirkan malam itu. Aku tidak ingat merasa sedih atau takut atau kesepian.

Yang kuingat hanya ini: aku berbaring di sana, dalam gelap, dengan demam dan perut kosong dan kontainer yang berputar pelan, dan aku tidak keberatan kalau besok pagi aku tidak bangun lagi.

Bukan karena aku ingin. Aku tidak ingin apa pun waktu itu. Aku hanya tidak keberatan. Rasanya sama saja. Bangun atau tidak bangun. Sama saja. Tidak ada yang menunggu di luar pintu kontainer itu. Tidak ada yang akan tahu bedanya.

Aku bangun besok paginya. Demamnya turun sedikit. Aku keluar dari kontainer dan mengangkat dua truk semen dan membeli satu bungkus nasi kucing. Tiga hari kemudian, Mr Jake membuka pintu kontainer itu dengan senter di tangan.

Tapi malam itu, malam ulang tahunku yang keenam belas, aku tidak keberatan.

Dan di hari yang sama, di Melbourne, adikku yang empat belas tahun sedang menyelesaikan syal rajutan dengan tiga lubang, dan menulis di kertas binder dengan huruf a yang bulat sempurna:

Asal Kakak masih hidup ya.


Es itu pecah.

Aku mendengarnya. Bukan krek kecil seperti tadi, seperti gelas tipis yang diketuk dengan kuku. Bunyi yang lain. Bunyi yang dalam, berat, panjang, seperti lapisan es tebal di permukaan danau yang sudah membeku selama bertahun-tahun, dan tiba-tiba, di tengah malam, tanpa peringatan, retakannya menjalar dari satu ujung ke ujung lain dan semuanya runtuh sekaligus ke dalam air yang gelap di bawahnya.

Titik basah di sudut mata kiriku jatuh.

Lalu satu lagi. Di mata kanan.

Lalu aku tidak bisa menghitung lagi.

Aku tidak menangis seperti orang-orang menangis di film. Aku tidak menangis dengan wajah yang cantik dan air mata yang mengalir pelan di pipi.

Wajahku terasa seperti hancur. Seperti semua otot di wajahku, yang selama tujuh belas tahun dikunci di tempatnya, tiba-tiba dilepaskan semua sekaligus dan tidak tahu harus pergi ke mana. Bibirku bergetar. Daguku bergetar. Mataku terpejam begitu keras sampai aku melihat cahaya-cahaya kecil di balik kelopak.

Dan napasku. Napasku tidak bisa masuk. Tersendat di dada, tersangkut di tenggorokan, keluar dalam potongan-potongan pendek yang tidak teratur.

Tidak ada suara. Mulutku terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya napas yang tercekik. Hanya bahu yang berguncang. Hanya air yang mengalir dari mata yang sudah tujuh belas tahun kering, begitu banyak sampai aku tidak bisa melihat apa pun.

Aku memeluk syal itu ke dadaku. Syal abu-abu dan biru dengan tiga lubang. Wolnya kasar di pipiku. Baunya bau kertas tua dan lemari kayu dan sesuatu yang lain, yang samar sekali, seperti sampo stroberi yang sudah lama sekali.

Lalu suaranya keluar.

Aku tidak tahu suara apa itu. Aku belum pernah mendengarnya keluar dari mulutku sendiri. Bukan teriakan. Bukan isakan. Sesuatu di antara keduanya. Sesuatu yang dalam, dari bawah dada, dari tempat yang lebih tua dari dada, seperti suara binatang yang terluka yang sudah terlalu lama menahan diri untuk tidak bersuara karena takut didengar.

Di rumah kontrakan di ujung gang, kalau aku bersuara, hukumannya lebih lama.

Jadi aku belajar untuk tidak bersuara.

Tujuh belas tahun.

Suara itu keluar sekarang. Di lantai ruang tamu apartemen di lantai dua puluh tiga, jam satu lewat sepuluh malam, dengan jaket biru dongker yang kekecilan dan syal rajutan dengan tiga lubang di pelukan.

Dan sekali keluar, ia tidak mau berhenti.


Aku tidak tahu berapa lama.

Mungkin sepuluh menit. Mungkin satu jam. Waktu tidak lagi berjalan dengan cara yang normal. Aku meringkuk di lantai, di antara kertas-kertas kado robot dan dinosaurus dan bola sepak dan bintang-bintang, dengan syal di pelukan dan kepala menempel di keramik putih yang dingin, dan aku menangis seperti anak kecil.

Seperti anak enam belas tahun yang tidak menangis di kontainer hijau.

Seperti anak tiga belas tahun yang tidak menangis di bilik nomor tujuh Galaxy Net.

Seperti anak dua belas tahun yang tidak menangis di bangku hijau depan warung Bu Warsih.

Seperti anak sebelas tahun yang tidak menangis di lantai dapur setelah nasi gosong.

Semua tangisan yang tidak pernah keluar. Semuanya keluar sekarang, sekaligus, bertumpuk-tumpuk, seperti air yang menjebol bendungan.


Aku tidak mendengar pintu dibuka.

Aku tidak mendengar langkah kaki. Kalaupun ada, aku tidak akan mendengarnya. Suara tangisku sendiri terlalu keras di telinga kananku, dan telinga kiriku tidak bisa mendengar apa pun.

Aku hanya merasakan seseorang duduk.

Di sebelahku. Di lantai. Di sebelah kanan.

Aku tidak membuka mata. Aku tidak bisa. Tapi aku tahu siapa. Aku tahu dari baunya. Teh Earl Grey dan sesuatu yang lain, sesuatu seperti udara laut. Aku tahu dari caranya duduk. Pelan, hati-hati, tanpa suara, seperti orang yang masuk ke kamar anak yang sedang tidur.

Dia tidak bilang apa-apa.

Dia tidak menyentuhku. Dia tidak memelukku. Dia tidak menyeka air mataku. Dia tidak bilang udah, Hal, atau nggak apa-apa, atau aku di sini.

Dia hanya duduk.

Di lantai. Di sebelah kananku. Dengan bahu yang hampir, tapi tidak, menyentuh bahuku.

Dan dia membiarkanku menangis.


Lama.

Sangat lama.

Tangisanku tidak berhenti karena dia datang. Tangisanku tidak berhenti karena ada orang yang melihat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis di depan seseorang, dan aku tidak berhenti, dan tidak ada yang terjadi. Tidak ada yang memukulku. Tidak ada yang menyuruhku diam. Tidak ada yang bilang anak laki-laki nggak boleh nangis.

Tidak ada apa-apa. Hanya seseorang yang duduk di sebelahku, di lantai, dan menunggu.

Pelan-pelan, tangisanku berubah. Dari bendungan yang jebol menjadi sungai yang deras. Dari sungai yang deras menjadi arus yang tenang. Dari arus yang tenang menjadi tetes-tetes yang jatuh satu per satu, seperti hujan terakhir dari awan yang sudah kosong.

Aku membuka mata.

Lampu ruang tamu masih menyala. Lampu yang dinyalakan Mr Jake tadi. Kertas-kertas kado berserakan di sekelilingku. Robot di dalam kotaknya. Jam tangan dengan layar mati. Senter dengan baterai bocor. Syal di pelukanku, basah oleh air mataku.

Dan di sebelah kananku, Elena.

Dia duduk bersila di lantai, bersandar ke sofa abu-abu. Dia memakai kaus putih polos dan celana training hitam, dengan jaket windbreaker biru tua kebesaran di atasnya. Jaket Mr Jake. Rambutnya tergerai dan berantakan, seperti orang yang baru bangun tidur dan langsung keluar rumah. Wajahnya tanpa riasan. Matanya merah.

Dia juga menangis. Diam-diam. Tanpa suara. Air matanya mengalir di pipinya dan jatuh di jaket biru tua itu, dan dia tidak menyekanya.

Dia menatap lurus ke depan. Ke jendela besar. Ke lampu-lampu kota di luar.

Dia tidak menatapku. Aku mengerti, entah bagaimana, bahwa itu sengaja. Supaya aku tidak merasa dilihat. Supaya aku bisa menangis tanpa harus menjadi tontonan siapa pun.

Aku tidak tahu bagaimana dia masuk. Aku tidak tahu siapa yang menyuruhnya datang. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia duduk di sana.

Aku hanya tahu dia ada di sana.

Belakangan aku tahu bagaimana caranya. Mr Jake tidak pulang malam itu. Dia turun dari apartemenku jam sebelas, lalu duduk di lobi dan tidak pernah pergi. Jam satu lewat sedikit, Pak Narto, satpam malam, naik ke lantai dua puluh tiga untuk patroli rutin, mendengar sesuatu dari balik pintu 2307, dan turun lagi dengan wajah pucat. Mr Jake meminta kunci cadangan dari kantor pengelola gedung. Unit itu masih atas nama Willmore Maritime. Lalu dia menelepon Elena.

Go up, sweetheart, katanya, menurut Elena. I can’t. He doesn’t need an old man right now. He needs you.


Kepalaku jatuh.

Aku tidak memutuskannya. Leherku sudah terlalu lelah untuk menahannya. Seluruh tubuhku sudah terlalu lelah. Tujuh belas tahun menahan sesuatu yang berat, dan sekarang beratnya sudah keluar semua, dan otot-ototku tidak tahu lagi bagaimana caranya berdiri tegak.

Kepalaku miring ke kanan, seperti biasa. Ke arah suara. Ke arah telinga yang bisa mendengar.

Dan berhenti di bahunya.

Bahu Elena. Di atas jaket windbreaker biru tua milik Mr Jake. Lunak. Hangat.

Dia tidak bergerak. Dia tidak tersentak. Dia tidak menarik diri.

Setelah beberapa detik, dia menggeser badannya sedikit. Sedikit sekali. Supaya bahunya berada di sudut yang lebih nyaman untuk kepalaku. Lalu dia diam lagi.

Dia tetap tidak bilang apa-apa.

Aku memejamkan mata. Kepalaku di bahunya. Syal Kayla di pelukanku. Jaket biru dongker yang kekecilan di tubuhku.

Napasku masih tersendat. Sesekali. Seperti cegukan yang tersisa setelah tangis panjang. Setiap kali napasku tersendat, aku merasakan bahu Elena di bawah pipiku naik sedikit, seperti menahan napasnya sendiri.


Ponsel Elena bergetar di saku jaket windbreaker itu. Dia tidak mengambilnya. Tapi layarnya menyala, dan dari sudut mataku, dari bahunya, aku bisa membaca pesan-pesan yang masuk satu per satu.

Papa: Is he okay?

Papa: Sweetheart?

Papa: I’m still in the lobby. Pak Narto gave me a chair. And a kopi tubruk. It’s terrible. I’m drinking it anyway.

Papa: I texted Ucup.

Papa: I told him do NOT update the board yet.

Lalu satu tangkapan layar, yang dikirim Mr Jake ke Elena. Percakapannya dengan Ucup, jam satu lewat empat puluh pagi.

Mr Jake: Ucup. Do NOT update the board yet.

Ucup: Pak??? Ini jam 2 pagi Pak??? Papannya kan udah saya hapus Pak 😭

Mr Jake: Then draw a new one. But do NOT update it.

Ucup: ????

Ucup: Pak Hal kenapa Pak

Ucup: Pak

Ucup: PAK

Mr Jake: Go to sleep, Ucup.

Ucup: SAYA NGGAK BISA TIDUR PAK SAYA KHAWATIR

Mr Jake: Me neither, son.

Aku membaca semuanya dari bahu Elena, dengan mata yang masih basah.

Dan sesuatu keluar dari tenggorokanku. Bukan tangis. Sesuatu yang lain. Pendek, basah, setengah napas.

Elena merasakannya di bahunya. Dia menoleh sedikit. Untuk pertama kalinya sejak dia datang, dia menatapku. Dari dekat. Dari sudut yang aneh, karena kepalaku di bahunya.

“Kamu ketawa,” bisiknya.

Suaranya serak karena tangisnya sendiri.

“Nggak,” kataku. Suaraku juga serak. Lebih serak. Hancur.

“Kamu ketawa, Hal.”

“Itu batuk.”

Dia tidak menjawab. Tapi aku merasakan bahunya berguncang sedikit, dan aku tahu dia juga tertawa, di tengah tangisnya, tanpa suara.


Lama kemudian, aku bicara.

Kepalaku masih di bahunya. Mataku terpejam. Langit di luar jendela mulai berubah dari hitam ke biru tua yang sangat gelap. Belum fajar, tapi sudah tidak sepenuhnya malam.

“El,” kataku.

“Hm.”

Aku tidak tahu apa yang ingin kukatakan. Aku membuka mulut, dan kata-kata yang keluar bukan kata-kata yang kurencanakan. Tidak ada yang kurencanakan. Kata-kata itu keluar dari tempat yang sama dengan suara tadi. Dari bawah dada. Dari tempat yang lebih tua dari dada.

“Aku masih hidup.”

Elena tidak bergerak.

“Aku masih hidup, El,” ulangku. Pelan. Seperti orang yang baru menyadari sesuatu yang sangat sederhana dan sangat besar sekaligus. “Kayla minta aku masih hidup. Waktu dia empat belas. Dan aku… aku masih hidup.”

Elena tidak bilang apa-apa.

Tapi tangannya bergerak. Pelan. Dari pangkuannya, ke atas lantai, ke tanganku yang memeluk syal. Dia meletakkan tangannya di atas tanganku. Tidak menggenggam. Hanya meletakkan. Hangat. Di atas tanganku yang, untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan, tidak gemetar.

Aku tidak menyadarinya sampai tangannya ada di atasnya.

Tanganku tidak gemetar.


Kami membuka sisanya bersama-sama.

Dua belas kotak lagi. Dari ke-17 sampai ke-28. Elena yang mengambilkan kotak-kotak itu satu per satu dari tumpukan, meletakkannya di depanku, lalu duduk lagi di sebelah kananku. Aku yang membuka.

Ke-17: sebuah kompas kuningan kecil. Biar Kakak nggak nyasar kalau mau pulang.

Ke-18: kamus bahasa Inggris–Indonesia, tebal, dengan sampul biru. Kakak pasti udah lulus SMA. Kalau mau kuliah di sini, harus bisa bahasa Inggris. Aku yang ajarin!

Ke-19: kaus putih bergambar trem Melbourne. Ini trem yang selalu telat. Kakak pasti benci kalau naik.

Ke-20: buku sketsa kosong dan satu kotak pensil warna. Buat gambar kapal. Kakak masih suka gambar kapal kan?

Ke-21: syal lagi. Rajutan lagi. Kali ini rapi. Tanpa lubang. Liat! Aku udah jago!

Ke-23: sebuah amplop. Di dalamnya, voucher tiket pesawat. Semarang–Denpasar–Melbourne. Satu arah. Tanggal berlaku sudah lewat empat tahun lalu. Aku kerja part-time di kafe setahun buat beli ini. Kalau Kakak dapet kado ini, pakai ya. Nggak usah bilang dulu. Dateng aja. Aku tahu jalannya ke pintu kedatangan.

Aku memegang voucher tiket yang sudah kedaluwarsa itu lama sekali.

Ke-25: jam tangan. Bukan jam anak-anak. Jam tangan laki-laki dewasa, dengan tali kulit cokelat dan wajah putih polos. Masih berjalan. Baterainya baru, entah kapan diganti. Disetel ke waktu Surabaya. Tahun ini aku dapet info dari detektif, katanya Kakak mungkin di Surabaya. Jadi jamnya aku setel ke jam Surabaya. Biar aku yang ngerasa deket.

Ke-28: dompet kulit cokelat tua. Inisial kecil diukir di pojoknya. H.R. Bungkusnya jelek, selotipnya miring, sudutnya menggembung, ada bagian yang sobek. Kartunya:

Untuk Kak Ikal, ulang tahun ke-28. Tanggal 24 Agustus. Tahun ini aku di Surabaya, Kak. Deket sama pelabuhan terakhir yang Kakak datangin. Kalau Kakak masih di sini, mungkin kita udah pernah papasan di jalan, ya. Mungkin kita udah pernah antre di minimarket yang sama. Lucu ya. Selamat ulang tahun. Aku masih nunggu. — Kay

Aku masih nunggu.

Tujuh belas tahun. Tujuh belas kotak. Dan di kotak terakhir, kalimat yang sama yang dulu kutulis di buku tulis bersampul cokelat, setiap hari, selama dua tahun. Sampai hari ke-731.

Nunggu.

Aku berhenti menunggu di umur tiga belas.

Kayla tidak pernah berhenti.


Langit di luar jendela berubah dari biru tua ke biru keabu-abuan. Lalu ke abu-abu kemerahan di ufuk timur, di atas Selat Madura yang tidak bisa kulihat dari sini tapi aku tahu ada di sana.

Fajar.

Aku duduk di lantai ruang tamu dengan punggung bersandar ke sofa. Elena di sebelah kananku. Tujuh belas kotak terbuka di sekeliling kami. Kertas kado berserakan di mana-mana. Robot, jam tangan, senter, jaket, syal, kompas, kamus, kaus trem, buku sketsa, syal kedua, voucher tiket, jam tangan kulit, dompet.

Apartemen ini tidak pernah sepenuh ini.

“Jam berapa, El?” tanyaku.

Elena melirik ponselnya. “Lima lewat dua puluh.”

“Pesawatnya jam empat.”

“Iya.”

Aku menatap jendela. Matahari mulai naik. Cahaya pertamanya jatuh di lantai, di atas kertas kado bermotif bintang-bintang.

“El.”

“Hm?”

“Aku nggak suka bandara.”

“Aku tahu.”

Hening.

Aku menatap tanganku. Tangan kananku. Tidak gemetar.

Lalu aku mengatakan sesuatu yang tidak pernah kukatakan kepada siapa pun, dalam tujuh belas tahun, dengan cara apa pun.

“Temenin aku?”

Elena menoleh. Pelan. Dia menatapku dari jarak yang sangat dekat, dengan mata yang merah dan basah dan bengkak karena menangis semalaman, dan wajah yang tanpa riasan sama sekali, dan rambut yang berantakan.

Dan dia tersenyum.

Lesung pipi di sebelah kirinya muncul. Pelan-pelan. Seperti matahari yang naik di luar jendela.

“Iya,” katanya. “Aku temenin.”