← Hari ke-731

Chapter Seven

Audit Perasaan

— Elena —

Rabu pagi, Dinda masuk ke ruanganku tanpa mengetuk, menutup pintu di belakangnya dengan pinggul, dan berdiri di depan mejaku dengan wajah orang yang baru saja menyaksikan gerhana matahari total.

“Bu,” bisiknya. “Bu. Bu Elena.”

“Laporan arus kas?”

“Bukan, Bu. Ini lebih penting dari arus kas.”

“Nggak ada yang lebih penting dari arus kas, Dinda.”

“Pak Hal nunda rapat.”

Aku berhenti mengetik.

Aku mengangkat wajah dari layar laptopku perlahan, seperti adegan film horor saat tokohnya mendengar suara aneh dari lantai atas.

“Apa?”

“Pak Hal nunda rapat, Bu.” Dinda mengangkat ponselnya dan menunjukkan layarnya kepadaku: tangkapan layar kalender bersama tim operasional. Di slot hari Kamis jam sepuluh, ada sebuah jadwal yang dicoret dengan garis merah: Meeting — Arunika Logistics (Kayla A.P.). Di sebelahnya ada catatan baru: Dijadwalkan ulang ke Senin, 10.00.

“Mbak Rini dari operasional yang bilang,” lanjut Dinda dengan nada konspirasi. “Mbak Rini udah kerja di sini tujuh tahun, Bu. Tujuh tahun. Dan katanya Pak Hal belum pernah sekali pun nunda rapat. Pernah ada rapat dengan Pelindo pas Pak Hal lagi demam tiga puluh sembilan derajat, Pak Hal tetap dateng. Pernah ada rapat dengan bea cukai pas jalan ke kantor banjir sepinggang, Pak Hal dateng naik perahu karet punya SAR, Bu. Perahu karet.”

“Itu cerita beneran?”

“Ada fotonya di grup Dermaga Ceria, Bu.”

Aku menatap tangkapan layar itu. Arunika Logistics. Kayla A.P.

“Klien baru?”

“Iya, Bu. Perusahaan forwarding dari Melbourne. Mau buka jalur Surabaya–Melbourne.”

Melbourne.

Kata itu jatuh ke dalam kepalaku seperti batu yang dilempar ke sumur, dan aku bisa mendengar bunyinya memantul di dinding-dinding yang gelap.

TABUNGAN KE MELBOURNE. Spidol hitam yang sudah pudar, huruf besar tulisan anak remaja, di tutup kaleng biskuit merah berkarat, di rak paling bawah lemari dinding, di apartemen yang kosong.

“Bu?” Dinda melambaikan tangan di depan wajahku. “Bu Elena?”

“Ya.”

“Ibu bengong.”

“Aku nggak bengong. Aku lagi berpikir.”

“Ibu berpikirnya mukanya kayak orang bengong, Bu.”

“Laporan arus kas, Dinda.”

Dinda menyipitkan mata, menatapku, lalu menatap ke luar jendela ke arah dermaga, lalu menatapku lagi. Dia tersenyum dengan cara yang membuatku ingin memotong bonus akhir tahunnya.

“Siap, Bu,” katanya, lalu mundur keluar sambil mengetik sesuatu di ponselnya dengan kecepatan yang mencurigakan.


Setelah Dinda pergi, aku melakukan sesuatu yang tidak profesional.

Aku membuka website Arunika Logistics. Perusahaan forwarding menengah, kantor pusat di Melbourne, cabang di Surabaya sejak dua tahun lalu. Lalu aku membuka halaman tim mereka. Lalu aku mengeklik nama Kayla Anindya Putri — Branch Manager, Surabaya.

Foto profilnya muncul. Perempuan muda, mungkin seumuran denganku. Rambut panjang bergelombang dicat cokelat madu, pipi sedikit tembam, senyum lebar sampai matanya menyipit. Cantik. Bukan cantik yang tajam, tapi cantik yang hangat, seperti roti yang baru keluar dari oven. Tipe perempuan yang kalau masuk ruangan, semua orang langsung merasa sedikit lebih bahagia tanpa tahu kenapa.

Di bagian deskripsi: Kayla lahir di Semarang dan tumbuh besar di Melbourne. Bergabung dengan Arunika sejak 2022. Pindah ke Indonesia untuk membuka cabang Surabaya karena “ada sesuatu yang harus saya temukan di sini” :)

Ada emoji senyum di profil perusahaan. Profesional sekali.

Ada sesuatu yang harus saya temukan di sini.

Aku menatap foto itu lama. Lalu aku menatap kata Melbourne. Lalu aku menatap kata Semarang.

Pak Hal tidak pernah cerita dia dari mana. Tidak pernah sekali pun. Waktu orang bertanya, dia selalu menjawab Surabaya, padahal logat Jawa Timurannya, kalau diperhatikan, terdengar terlalu dipelajari, terlalu rapi, seperti bahasa yang dihafal dari buku dan bukan dari lidah ibunya. Waktu dia sedang lelah, kadang-kadang kudengar logat lain menyelip. Lebih halus, lebih lambat di ujung kalimat. Seperti logat Jawa Tengah.

Aku menutup laptop.

Lalu aku mengambil selembar kertas HVS dari printer dan menulis judul di bagian atas dengan pulpen.

AUDIT INTERNAL

Di bawahnya, aku membuat tabel dua kolom.

Temuan | Kesimpulan

1. Saya membeli tanaman untuk rekan kerja. | Tindakan kemanusiaan. Apartemennya kosong. Siapa pun akan melakukan hal yang sama.

2. Saya menyiram tanaman itu enam kali selama dia berlayar, padahal instruksinya dua kali seminggu. | Kesalahan teknis. Saya tidak tahu cuaca Surabaya sekering itu.

3. Saya memotret tanaman itu dan mengirimkan fotonya. | Dokumentasi. Bukti pelaksanaan tugas.

4. Saya memanggil dia “kamu”, bukan “Bapak”. | Efisiensi komunikasi. “Kamu” lebih pendek.

5. Saya menyadari dia salah tulis angka tiga kali. | Saya teliti. Itu pekerjaan saya.

6. Saya sekarang sedang mencari tahu tentang klien yang membuatnya menunda rapat. | …

Aku menatap baris nomor enam. Kolom kesimpulannya kosong.

Aku mengetuk-ngetukkan ujung pulpen ke meja. Satu menit. Dua menit.

Lalu aku menulis:

Kecurigaan profesional. Klien ini mungkin berisiko bagi perusahaan.

Aku menatap kalimat itu. Itu kalimat paling tidak meyakinkan yang pernah kutulis seumur hidupku, dan aku pernah menulis laporan keuangan untuk Papa yang menjelaskan kenapa dia membeli kapal pesiar bekas seharga empat miliar tanpa izin siapa pun.

Di bawah tabel, aku menulis kesimpulan akhir audit dengan huruf kapital:

KESIMPULAN: AKU NGGAK NAKSIR. AKU CUMA AUDIT PERASAAN.

Aku melipat kertas itu jadi empat, lalu jadi delapan, lalu memasukkannya ke mesin penghancur kertas di sudut ruanganku. Mesin itu mengunyah kertasnya dengan bunyi yang terdengar seperti tawa mengejek.


Jam dua belas, Papa muncul di ambang pintu ruanganku dengan dua kotak nasi bebek dari warung langganan di Kenjeran.

“Lunch,” katanya, meletakkan satu kotak di mejaku dan duduk di kursi tamu dengan kotak yang lain. “And a small favor.”

“Nggak.”

“You haven’t heard it yet.”

“Papa udah bilang small favor dua kali minggu ini. Yang pertama aku disuruh nganter kontrak ke apartemen orang. Yang kedua aku diundang ke ulang tahun Mama yang bukan ulang tahun Mama.”

“And both turned out wonderfully.” Papa membuka kotak nasinya, mencium aromanya dengan mata terpejam, dan menghela napas bahagia. “Pemanas air di kamar mandi Papa rusak.”

“Panggil tukang.”

“Tukangnya tidak bisa datang sampai minggu depan. Papa tidak bisa mandi air dingin seminggu, sweetheart. Papa sudah tua. Papa bisa kena hipotermia.”

“Ini Surabaya, Pa. Suhu air keran tiga puluh derajat.”

“Hipotermia tropis,” kata Papa tanpa berkedip. “It’s a real thing. Look it up.”

“Aku nggak mau cari hipotermia tropis di Google.”

“Anyway. Papa sudah minta Hal datang malam ini, jam tujuh, untuk memperbaikinya. Hal bisa memperbaiki apa saja. You know that.” Papa menyuap nasi bebek dan mengunyah dengan sangat lambat. “Kamu di rumah malam ini, kan?”

Aku menatapnya.

“Papa matiin MCB pemanas airnya, kan.”

Papa berhenti mengunyah.

“Papa matiin saklarnya di panel listrik, terus pura-pura rusak.”

Papa menelan.

“I have no idea what you’re talking about,” katanya, lalu mengalihkan pandangan ke langit-langit, lalu ke jendela, lalu ke nasi bebeknya, lalu kembali ke langit-langit.

Aku menghela napas sepanjang Selat Madura.

“Aku di rumah,” kataku akhirnya. “Tapi bukan karena Papa. Aku memang mau di rumah.”

“Of course, sweetheart. Of course.” Papa tersenyum seperti kucing yang baru saja makan burung kenari, kandang, dan pemiliknya sekaligus. “Margaret would’ve been so proud.”


Jam lima sore, aku melihatnya dari jendela ruanganku.

Kantorku di lantai empat menghadap langsung ke dermaga Jamrud. Dari sini aku bisa melihat seluruh deretan kapal yang bersandar, crane-crane yang bergerak lambat, truk-truk trailer yang lalu-lalang, dan orang-orang kecil berompi oranye yang berjalan di antaranya seperti semut.

Pak Hal berdiri di ujung dermaga paling jauh, di dekat bolder besi tempat tali kapal diikat. Sendirian. Tangannya di saku celana. Dia menatap sebuah kapal kargo besar berwarna putih dan biru yang sedang dilepas dari tambatannya, dibantu dua kapal tunda kecil yang mendorong lambungnya pelan-pelan menjauh dari dermaga.

Dia tidak bergerak.

Aku kembali ke laptopku dan bekerja. Dua puluh menit kemudian, aku melihat ke jendela lagi.

Dia masih di sana. Posisinya sama, tangannya masih di saku. Kapal putih biru itu sudah keluar dari dermaga dan mulai bergerak perlahan ke arah alur pelayaran, mengecil di kejauhan.

Empat puluh menit kemudian, aku melihat lagi. Matahari sudah turun dan langit di atas Selat Madura berubah oranye kemerahan. Kapal itu tinggal titik kecil di cakrawala.

Dia masih di sana.

Aku menutup laptop, mengambil tas, dan turun ke dermaga.


Aku berjalan menyusuri dermaga melewati tumpukan kontainer dan truk-truk yang diparkir, sampai ke ujungnya, sampai ke bolder besi tempat dia berdiri. Angin laut sore bertiup kencang, membawa bau garam dan solar, dan menerbangkan rambutku yang lagi-lagi diikat asal sampai beberapa helainya menampar pipiku.

Aku berdiri di sebelah kanannya. Aku sudah belajar.

Dia tidak menoleh. Tapi aku tahu dia tahu aku ada di sana.

Kami diam lama. Di depan kami, Selat Madura berkilau oranye dan ungu, dan titik kecil kapal putih biru itu akhirnya hilang di balik garis cakrawala.

“Kapal ke mana?” tanyaku akhirnya.

“Fremantle,” jawabnya. Suaranya pelan, rata, seperti biasa. “Australia Barat. Dua belas hari.”

“Kapal kita?”

“Bukan. Kapal Samudera Indah Lines.”

Aku menunggu.

“Dari Fremantle,” katanya, masih menatap cakrawala yang kosong, “ke Melbourne, tiga ribu empat ratus kilometer. Tiga puluh enam jam naik mobil. Empat jam naik pesawat.”

Aku menoleh dan menatap profilnya. Rahangnya tegas. Bekas luka kecil di alis kirinya, yang katanya karena jatuh dari sepeda merah waktu umur dua belas, terlihat jelas dalam cahaya sore yang miring. Matanya menatap ke depan, ke tempat kapal itu menghilang, dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca sama sekali.

Bukan sedih. Bukan rindu. Bukan apa-apa.

Itu yang paling menakutkan dari wajah itu. Bukan apa-apa.

Aku punya seribu pertanyaan. Kenapa Melbourne. Kenapa kaleng tabungan itu. Kenapa kamu nunda rapat dengan perempuan dari Melbourne yang lahir di Semarang. Kenapa logatmu kadang-kadang jadi Jawa Tengah. Kenapa kamu tidur di lantai. Kenapa kamu nggak mau bilang tanggal ulang tahunmu. Sepedamu sebenarnya warna apa.

Aku tidak menanyakan satu pun.

Sebaliknya, aku berdiri di sebelah kanannya sampai matahari benar-benar tenggelam dan lampu-lampu sorot dermaga mulai menyala satu per satu, kuning pucat, seperti mata-mata yang mengantuk.

“Kuncimu masih di aku,” kataku akhirnya.

“Saya tahu, Bu.”

“Mau kukembaliin?”

Dia diam sebentar.

“Simpan aja,” katanya. “Siapa tahu saya berlayar lagi.”

Aku mengangguk. Aku tidak bilang apa-apa. Aku tidak percaya suaraku sendiri saat itu.


Jam tujuh malam, Pak Hal datang ke rumah dengan kotak perkakas di tangan kanan.

Papa menyambutnya di pintu depan dengan handuk tersampir di bahu dan wajah penderitaan yang sudah dilatih dengan sempurna. “Hal, thank God. Air dingin. Seminggu. Saya hampir mati.”

“Baru sejak kemarin, Pak,” kataku dari sofa ruang tamu.

“Sejak kemarin itu sama dengan seminggu kalau umurmu enam puluh tujuh.”

Pak Hal masuk ke kamar mandi Papa di lantai satu. Tiga menit kemudian dia keluar lagi, berjalan ke panel listrik di dekat dapur, membuka penutupnya, dan menaikkan satu saklar MCB yang posisinya turun. Bunyi klik kecil terdengar di seluruh ruangan yang mendadak sangat sunyi.

Pak Hal menutup panel listrik itu, kembali ke kamar mandi, memutar keran air panas, dan menunggu sepuluh detik. Uap mulai naik dari wastafel.

Dia keluar dari kamar mandi dan menatap Papa.

Papa menatap langit-langit.

“Wow,” kata Papa. “Wow. Ajaib. Kamu memang jenius, Hal. Apa masalahnya tadi?”

“Saklarnya turun, Pak.”

“Saklarnya turun! Sendiri! Pasti gara-gara petir.”

“Hari ini nggak hujan, Pak.”

“Petir kering,” kata Papa yakin. “It’s a real thing. Look it up.”

Pak Hal tidak menjawab. Dia menatap Papa dua detik lagi, lalu menoleh ke arahku di sofa. Dan aku melihatnya lagi. Riak kecil di permukaan air yang sangat tenang. Bukan senyum. Lebih kecil dari senyum. Sesuatu di sudut matanya yang muncul selama kurang dari satu detik, lalu hilang.

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa sampai harus memeluk bantal sofa, dan Papa memprotes keras bahwa ini bukan hal yang lucu dan bahwa petir kering itu nyata, dan Bu Sum dari arah dapur ikut tertawa diam-diam sambil pura-pura mencuci piring.

Di tengah tawa itu, aku menatap Pak Hal yang berdiri di dekat pintu kamar mandi dengan kotak perkakas di tangan, dan memikirkan kapal putih biru yang mengecil di cakrawala, dan kaleng biskuit merah berkarat, dan perempuan dari Melbourne yang lahir di Semarang dan pindah ke Surabaya karena ada sesuatu yang harus ia temukan.

Aku tidak tahu apa hubungan semua itu.

Tapi untuk pertama kalinya, aku takut tahu.

Malam itu, sebelum tidur, aku menulis satu baris di aplikasi catatan di ponselku. Lalu aku langsung menghapusnya, karena aku tidak mau itu ada di mana pun, bahkan di ponselku sendiri.

Audit gagal. Temuan material. Auditor terlibat.