Chapter Twenty Nine
Rasi Bintang
— Haikal —
“Medical leave,” kata Mr Jake. “At sea.”
Dia mengatakannya hari Senin pagi di ruang kerjanya, dengan dua tangan terlipat di atas meja dan ekspresi seorang hakim yang baru membacakan vonis. Di sebelahnya, Bu Endang dari HRD berdiri dengan map kuning di dada dan senyum puas seorang perempuan yang akhirnya, setelah enam tahun, menang.
“Tujuh puluh empat hari, Pak Hal,” kata Bu Endang. “Saya potong lima. Sisa enam puluh sembilan. Sistem kita akhirnya bisa napas.”
“Dokter Hendra bilang kamu nggak boleh angkat beban berat tiga minggu,” lanjut Mr Jake. “Tidak boleh kerja di dermaga. Tidak boleh naik crane. Tidak boleh apa-apa. Kalau kamu di kantor, kamu pasti kerja. Kalau kamu di apartemen…” Dia berhenti. Wajahnya berubah sebentar, mungkin mengingat lantai keramik putih dan tikar pandan. “Kalau kamu di apartemen, itu tidak bagus juga.”
“Jadi saya disuruh ke mana, Pak?”
“Margaret,” kata Mr Jake. “Final voyage. To Batam, for the dry dock. Lima hari. You’ll sit on deck. You’ll breathe sea air. You’ll eat Lukas’s terrible cooking. You’ll rest.”
“Saya bukan kru Margaret, Pak.”
“You’re not crew. You’re Committee.” Mr Jake tersenyum. Senyum yang sangat kukenal. Senyum yang biasanya berakhir dengan seseorang dikirim ke Rotterdam. “Komite Margaret harus mendampingi kapal ke galangan. Itu prosedur. Saya yang bikin prosedurnya kemarin malam.”
“Komite Margaret ada dua orang, Pak.”
“Exactly,” kata Mr Jake. “Elena sudah packing.”
MV Margaret meninggalkan dermaga Jamrud hari Selasa jam tujuh pagi, dengan palka kosong dan cat hijau tua yang mengelupas di buritan. Ini pelayaran terakhirnya sebelum empat bulan di dry dock. Di galangan Batam nanti, mesinnya akan dibongkar, turbochargernya diganti, poros baling-balingnya direkondisi. Kalau semuanya berjalan lancar, dia akan kembali ke Surabaya bulan Februari dengan mesin yang lebih kuat, konsumsi solar dua puluh dua persen lebih hemat, dan cat baru.
Sampai saat itu, dia hanya kapal tua yang berlayar kosong menuju rumah sakitnya.
Elena berdiri di sebelahku di dek waktu kapal keluar dari alur Selat Madura. Dia memakai kemeja linen biru muda, celana kain putih, dan topi jerami lebar yang terus-menerus hampir terbang. Rambutnya dikepang satu di belakang, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya. Di bawah matahari pagi yang miring, kulitnya terlihat keemasan, dan setiap kali dia menahan topinya dengan satu tangan dan tertawa karena angin, lesung pipi di kirinya muncul.
Kapten Lukas, dari jendela anjungan, menatap kami berdua dengan alis kiri yang mulai tumbuh lagi. Belang-belang, separuh hitam, separuh kulit. Dia menolak memakai spidol lagi karena kata dokter tinta spidol bisa bikin kulit iritasi. Sekarang alisnya terlihat seperti peta pulau-pulau kecil.
“Pak Hal!” teriaknya dari jendela anjungan. “Tuan Jake titip pesan! Katanya makan malam di dek jam tujuh! Ada menu spesial!”
“Menu apa, Kapten?”
“Rahasia! Pokoknya spesial!” Kapten Lukas menghilang dari jendela. Lalu muncul lagi. “Satu lagi! Tuan Jake bilang, jangan ada yang ganggu Komite! Jadi aku kunci pintu dapur! Kru makan di ruang mesin!”
Dari arah ruang mesin, terdengar teriakan protes samar-samar dari enam ABK.
Elena menutup wajahnya dengan topi jerami.
“Papa,” gumamnya dari balik topi. “Papa. Papa. Papa.”
Aku menceritakannya kepada Elena hari kedua.
Aku tidak berencana menceritakannya. Tapi hari kedua, sore hari, kami duduk di dek buritan di atas dua kursi lipat yang disiapkan Kapten Lukas, dengan termos teh yang dititipkan Mr Jake dan sepiring pisang goreng yang digoreng Rizal di ruang mesin karena dapur dikunci. Laut Jawa terhampar di sekeliling kami. Datar, biru, berkilau, sampai ke cakrawala di semua arah. Tidak ada daratan. Tidak ada kapal lain. Hanya kami, dan Margaret, dan suara mesinnya yang berat dan tua di bawah kaki kami.
Elena bertanya, Kakak kamu kemarin ke apartemen?
Kayla yang memberitahunya, ternyata. Elena dan Kayla masih saling berkirim pesan setiap hari.
“Iya,” kataku.
“Dia ngomong apa?”
Aku menatap laut. Lalu aku menceritakannya. Semuanya. Malam sebelum perceraian. Ancaman Ayah di dapur. Kamar jam setengah dua pagi. Ayah sedih, Kal. Kamu jagoan. Nanti Kakak jemput. Umurku lima belas, dan aku milih.
Aku menceritakannya dengan nada yang sama dengan semua hal lain. Rapi. Kronologis. Seperti membaca laporan pelayaran.
Elena tidak menyela sekali pun.
Waktu aku selesai, dia diam lama. Dia menatap cangkir teh di tangannya. Tehnya sudah dingin. Permukaannya bergetar sedikit karena getaran mesin kapal.
“Kamu nggak marah,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Nggak.”
“Sama sekali?”
“Dia lima belas, El.”
Elena mengangkat wajah dan menatapku. Matanya basah. Bukan karena angin.
“Kamu sebelas,” katanya.
Aku diam.
“Dia lima belas, dan dia milih. Kamu sebelas, dan kamu nggak dapet pilihan.” Suaranya bergetar. “Kamu sadar nggak, Hal? Kamu terus ngelindungin semua orang. Ibu kamu. Kakak kamu. Adik kamu. Kamu bohong ke Ibu kamu di telepon biar dia nggak khawatir. Kamu nggak ngadu soal Kakak kamu biar dia nggak disalahin. Kamu nggak bilang ke Kayla soal telinga kamu biar dia nggak sedih. Kamu…”
Dia berhenti. Dia menatap telinga kiriku.
“Telinga kamu,” katanya pelan.
Aku tahu dia tahu. Dia sudah tahu dari lama. Dari rapat pertama, waktu dia pindah duduk ke sebelah kiriku dan aku memutar seluruh badanku. Dari ruang arsip, waktu dia menatap telingaku dan tidak bertanya. Dia tahu, dan dia tidak pernah bertanya.
Dia tidak bertanya sekarang juga. Dia hanya menatapnya.
“Tamparan,” kataku. “Umur empat belas. Gendang telingaku pecah. Nggak pernah dibawa ke dokter. Pas sembuh, udah nggak bisa denger.”
Aku mengatakannya dengan datar. Data cuaca. Nomor kontainer.
Elena tidak bilang apa-apa. Dia meletakkan cangkir tehnya di dek. Lalu dia berdiri, mengangkat kursi lipatnya, memindahkannya ke sisi kananku, dan duduk lagi di sana. Lebih dekat. Begitu dekat sampai bahunya hampir menyentuh bahuku.
Di sebelah kanan. Supaya aku bisa mendengarnya.
Dia tidak bilang apa-apa tentang itu. Dia hanya duduk di sana dan menatap laut.
Makan malam di dek jam tujuh ternyata nasi goreng.
Kapten Lukas sendiri yang memasaknya, karena dapur dikunci dan kunci dapur dibawa olehnya, dan dia menolak menyerahkannya kepada koki kapal karena perintah Tuan Jake. Nasi gorengnya terlalu asin di satu sisi dan terlalu manis di sisi lain, dengan telur ceplok yang kuningnya pecah dan kerupuk yang sudah melempem karena udara laut.
Tapi mejanya. Mr Jake sudah menyiapkan semuanya lewat Kapten Lukas, entah kapan. Meja kecil dengan taplak putih di dek haluan. Dua kursi. Dua lilin dalam gelas kaca supaya tidak tertiup angin. Sebuah radio kecil bertenaga baterai, persis seperti milik Mr Jake, yang memutar lagu-lagu Inggris tahun tujuh puluhan dengan suara yang timbul tenggelam.
Dan di tengah meja, di dalam botol bekas kecap yang sudah dicuci, setangkai bunga plastik berwarna merah muda.
Kapten Lukas berdiri di samping meja dengan serbet tersampir di lengannya, seperti pelayan restoran mewah. Alis belang-belangnya terangkat dengan bangga.
“Silakan, Bapak, Ibu,” katanya dengan suara yang dibuat-buat sangat halus, yang sama sekali tidak cocok dengan badannya yang besar dan kumisnya yang tebal. “Nasi goreng spesial ala Kapten. Resep dari almarhumah ibunda di Tarutung.”
Elena menatap nasi goreng itu. Lalu menatap bunga plastik di botol kecap. Lalu menatap Kapten Lukas.
“Kapten,” katanya. “Bunganya dari mana?”
“Dari meja resepsionis kantor syahbandar, Bu.” Kapten Lukas tidak berkedip. “Saya pinjam. Nanti saya kembalikan.”
Elena tertawa. Lama. Sampai harus menunduk dan memegang pinggiran meja. Kapten Lukas terlihat sangat puas, membungkuk, dan mundur ke arah anjungan sambil bersenandung mengikuti lagu di radio.
Aku memakan nasi goreng itu. Terlalu asin di satu sisi, terlalu manis di sisi lain.
Itu nasi goreng terenak yang pernah kumakan dalam waktu yang sangat lama.
Aku tidak tahu kenapa.
Setelah makan, kami pindah ke dek paling depan.
Lampu-lampu kapal dimatikan sebagian, karena Kapten Lukas, atas perintah Tuan Jake, ingin kami bisa liat bintang. Langit di atas Laut Jawa malam itu bersih tanpa awan. Tidak ada lampu kota, tidak ada polusi, tidak ada apa-apa selain gelap yang dalam dan bintang-bintang yang tak terhitung, begitu banyak dan begitu terang sampai langit terlihat seperti kain hitam yang ditaburi garam.
Elena berbaring di atas dek dengan punggung bersandar ke gulungan tali tambang besar. Aku duduk di sebelah kanannya, punggung tegak karena jahitan, kaki diselonjorkan.
“Itu,” kata Elena, menunjuk sekelompok bintang di atas cakrawala timur. “Itu Orion.”
Aku menatap bintang-bintang itu.
“Itu bukan Orion,” kataku. “Itu Scorpius.”
“Itu Orion. Liat. Tiga bintang berjajar. Sabuknya.”
“Itu bukan sabuk. Itu ekornya.”
“Kalajengking nggak punya ekor yang lurus.”
“Kalajengking punya ekor yang melengkung. Itu melengkung.”
Elena menyipitkan mata ke arah langit. “Itu nggak melengkung. Itu lurus.”
“Itu melengkung, El.”
Dia menoleh ke arahku dengan alis terangkat. “Kamu ahli astronomi sekarang?”
“Aku pelaut. Pelaut harus tahu bintang.”
“Kamu direktur operasional. Kamu duduk di kantor.”
“Aku pelaut yang duduk di kantor.”
Dia tertawa. Lalu dia menunjuk sekelompok bintang lain. “Oke. Itu apa?”
Aku menatapnya lama. “Biduk.”
“Itu bukan Biduk. Biduk cuma keliatan dari belahan bumi utara. Kita di selatan khatulistiwa.”
“Kita di dekat khatulistiwa. Kadang keliatan.”
“Itu bukan Biduk, Hal.”
“Terus itu apa?”
Elena diam. Lalu, pelan-pelan, tawanya keluar lagi. “Aku nggak tahu.”
“Aku juga nggak tahu.”
Kami berdua menatap langit. Ribuan bintang yang namanya tidak kami ketahui.
Belakangan, Rizal memberi tahu kami bahwa kelompok bintang pertama itu adalah Pleiades. Bukan Orion, bukan Scorpius. Dan kelompok bintang kedua adalah Salib Selatan. Kami berdua salah. Total.
Tapi malam itu kami tidak tahu. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, tidak tahu terasa tidak apa-apa.
“Hal,” kata Elena setelah lama diam.
“Ya.”
“Kamu boleh nggak maafin mereka.”
Aku menoleh ke arahnya. Dia masih berbaring di atas dek, menatap langit. Cahaya bintang samar-samar menerangi wajahnya. Garis rahangnya, bulu matanya, bibirnya.
“Kakak kamu. Ibu kamu. Kayla, kalau kamu ngerasa dia juga salah.” Dia berhenti. “Kamu boleh nggak maafin mereka. Itu hak kamu. Nggak ada yang boleh maksa kamu maafin.”
Aku diam.
“Tapi kamu juga nggak boleh pura-pura nggak ada apa-apa.”
Dia memalingkan wajah dari langit dan menatapku.
“Kamu nggak boleh bilang aku nggak marah kalau sebenarnya kamu nggak tahu kamu marah atau nggak. Kamu nggak boleh bilang aku baik kalau sebenarnya kamu nggak tahu kamu baik atau nggak. Kamu nggak boleh bilang nggak sakit kalau…” Suaranya bergetar. “Kalau punggung kamu kayak gitu, Hal.”
Angin laut bertiup. Ujung kepang rambutnya bergerak di atas dek.
“Aku nggak minta kamu nangis,” katanya. “Aku nggak minta kamu marah. Aku cuma minta kamu berhenti pura-pura kosong. Karena aku nggak percaya kamu kosong.”
“El…”
“Kamu nyimpen lilin ulang tahun di sebelah tanaman,” katanya. “Orang kosong nggak nyimpen lilin. Kamu ngasih jas hujan ke Kayla. Kamu naruh lumpia di mangkuk kakak kamu, kata Kayla. Kamu dorong Ucup dari bawah generator tiga puluh dua ton. Kamu…”
Dia berhenti. Dia duduk, menegakkan badannya dari gulungan tali tambang, dan sekarang wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Di sebelah kananku.
“Kamu nyelimutin aku pakai selimut Mama di balkon,” bisiknya. “Papa yang cerita.”
Aku menatapnya.
Wajahnya sangat dekat. Aku bisa melihat bintang-bintang terpantul di matanya. Aku bisa merasakan napasnya. Hangat, berbau teh Earl Grey dan pisang goreng.
Dadaku.
Ada sesuatu di dadaku.
Bukan banyak. Bukan sesuatu yang besar. Sesuatu yang sangat kecil, sangat samar, seperti riak di permukaan air yang tenang. Seperti sehelai daun yang jatuh di kolam yang sudah bertahun-tahun tidak disentuh angin.
Tapi ada.
Aku tidak bergerak. Elena tidak bergerak. Jarak di antara wajah kami sepuluh senti. Lima senti.
Dia memejamkan mata.
“WOIII! PAK HAL! BU ELENA!”
Suara Kapten Lukas menggelegar dari jendela anjungan seperti klakson kapal tanker.
“JANGKARNYA MAU DITURUNIN! KITA BERHENTI DI SINI SAMPAI SUBUH, ADA PERINGATAN CUACA DI SELAT KARIMATA! KALIAN JANGAN DI HALUAN, NANTI KENA RANTAI!”
Elena membuka mata.
Kami saling menatap. Lima senti.
Lalu Elena mundur, cepat, wajahnya merah sampai ke telinga, dan berdiri dengan gerakan yang terlalu tiba-tiba. Topi jeraminya, yang tadi tergeletak di sebelahnya, tertiup angin dan terbang ke laut.
“Oke,” katanya, terlalu keras. “Oke! Jangkar! Iya! Kita pindah!”
Dia berjalan cepat ke arah buritan tanpa menoleh.
Aku masih duduk di dek haluan, menatap topi jerami yang mengapung di permukaan air gelap, menjauh pelan-pelan di bawah cahaya bintang.
Dari jendela anjungan, Kapten Lukas melongok keluar. Dia melihat aku sendirian. Dia melihat Elena yang berjalan cepat ke buritan dengan wajah merah. Dia melihat topi jerami di laut.
Alis belang-belangnya turun perlahan.
“Ya Tuhan,” gumamnya, cukup keras untuk kudengar. “Aku ganggu, ya?”
Dia menghilang dari jendela. Lalu, lima detik kemudian, aku mendengar suaranya di radio internal kapal, yang tersambung ke semua speaker di dek:
“Kepada seluruh kru. Kapten salah. Jangkar nggak jadi diturunin. Ulangi, jangkar nggak jadi diturunin. Semua kembali ke posisi. Dan Rizal, ambil topi Bu Elena dari laut.”
Malam itu, di kabinku, aku tidak bisa tidur.
Aku berbaring miring di ranjang sempit, karena punggungku tidak boleh menempel di kasur. Jendela bundar kabin memperlihatkan laut yang hitam dan bintang yang tak terhitung.
Tanganku masih gemetar. Sudah hampir tiga minggu.
Tapi malam itu ada sesuatu yang lain juga.
Aku meletakkan tangan di dadaku. Di tempat yang tadi, di dek haluan, lima senti dari wajah Elena, terasa seperti sehelai daun jatuh di kolam.
Aku menunggu.
Riaknya sudah hilang. Permukaannya kembali tenang. Kembali kosong.
Tapi tadi ada.
Untuk sesaat, di bawah ribuan bintang yang namanya salah semua, tadi ada.
Ponselku bergetar di atas meja kecil di samping ranjang. Kami sedang lewat dekat Pulau Bawean, dan sinyalnya masuk sebentar.
Satu pesan. Dari Kayla.
Kayla: Kak. Kak Safrina udah ngomong ke aku. Semuanya. Soal malam itu. Soal bandara.
Kayla: Aku nggak tahu harus ngomong apa.
Kayla: Hati-hati di laut, Kak.
Aku membaca pesan-pesan itu. Lalu, sebelum sinyalnya hilang lagi, aku mengetik balasan.
Aku mengetik Aku baik, Kay. Lalu aku menatapnya.
Lalu aku menghapusnya.
Aku mengetik ulang.
Aku: Makasih, Kay. Kamu juga hati-hati.
Pesannya terkirim tepat sebelum sinyalnya hilang.
Aku meletakkan ponsel di meja dan berbaring miring, menatap bintang-bintang lewat jendela bundar.
Untuk pertama kalinya, kepada Kayla, aku tidak bilang aku baik.
Aku tidak tahu apa artinya. Tapi aku tidak bilang.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang reading
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan