Chapter Eighteen
Oh. Iya, Aku Tahu
— Haikal —
Belakangan aku tahu dia memanggilku tiga kali sebelum aku menoleh.
Elena yang memberitahuku, berminggu-minggu kemudian. Dia melihat semuanya dari jendela lantai empat. Kayla berdiri tiga meter di belakangku, di sebelah kiri, basah kuyup, dan memanggil namaku tiga kali. Yang pertama pelan. Yang kedua lebih keras. Yang ketiga hampir berteriak.
Aku tidak mendengar satu pun.
Yang kudengar sore itu hanya hujan. Hujan di atas helm proyekku, berdetak-detak seperti jari-jari yang mengetuk meja tanpa henti. Hujan di atas permukaan air pelabuhan, mendesis seperti minyak di atas wajan. Hujan di atas tutup palka MV Sinar yang sedang kuperiksa, karena salah satu karet penyekatnya dilaporkan bocor, dan kalau bocor, empat puluh kontainer di bawahnya akan basah sebelum sampai di Fremantle.
Aku berdiri di ujung dermaga dengan tablet berbungkus plastik di tangan, mencatat nomor tutup palka, dan memikirkan pin merah kecil di peta Tanjung Perak di dinding gabus apartemen Kayla.
Willmore?
Empat hari sejak makan malam itu. Empat hari aku menunggu. Aku tahu Pak Bonar sedang menyisir daftarnya, dan aku tahu namaku ada di urutan kesembilan. Aku tahu Bu Yati punya foto tujuh belasan tahun 2015 di dinding warungnya, foto dengan tangan Mr Jake di bahuku. Aku tahu semua itu, dan aku tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya.
Aku juga tidak melakukan apa pun untuk mendahuluinya. Aku sudah berjanji pada Elena. Kamu yang harus bilang. Jangan kelamaan. Empat hari, dan aku belum bilang.
Aku tidak tahu harus bilang apa. Setiap kali aku mencoba menyusun kalimatnya di kepala, kalimat itu berhenti di kata pertama. Kay. Lalu kosong. Seperti mencoba menulis dengan pulpen yang tintanya habis. Ujungnya menggores kertas, meninggalkan bekas, tapi tidak ada tulisan.
Lalu sesuatu menyentuh lengan kiriku.
Aku menoleh.
Kayla.
Dia berdiri di depanku, di sebelah kiri. Begitu dekat sampai aku bisa melihat butiran air di ujung bulu matanya.
Dia basah. Basah sampai ke tulang. Rambut panjangnya menempel di wajah dan leher, cokelat madunya berubah gelap karena air. Kemeja biru mudanya basah dan tembus pandang di bahu. Sepatu kets putihnya cokelat berlumpur sampai ke mata kaki. Bibirnya pucat, hampir kebiruan. Dia menggigil. Seluruh tubuhnya bergetar, dari bahu sampai lutut, seperti daun di ranting yang ditiup angin kencang.
Dia selalu kedinginan.
Tangannya, tangan kecil dengan cat kuku hijau mint yang terkelupas, mencengkeram lengan jas hujanku. Mencengkeram begitu kencang sampai buku-buku jarinya memutih.
Matanya merah. Bukan karena hujan.
“Kak Ikal?” katanya.
Kali ini aku mendengarnya.
Suaranya kecil dan pecah. Suara yang terdengar seperti datang dari tempat yang sangat jauh. Dari pintu kaca keberangkatan bandara Ahmad Yani, tujuh belas tahun lalu. Dari ranjang di dekat jendela, dari telinga kiri yang dulu menyimpan semua rahasianya.
Kak Ikal.
Aku menatapnya.
Ini dia. Ini saatnya. Kalau ada satu saat di seluruh hidupku di mana sesuatu di dalam dadaku harus bergerak, harus pecah, harus meledak, saat itu adalah sekarang. Di dermaga ini, di bawah hujan ini, dengan adikku berdiri di depanku, basah dan menggigil, menyebut nama yang tidak pernah diucapkan siapa pun selama tujuh belas tahun.
Aku menunggu.
Satu detik. Dua detik. Tiga.
Hujan berdetak di atas helmku. Air mengalir dari ujung helm, jatuh di depan mataku seperti tirai.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang pecah.
Lemari itu kosong. Aku membukanya, sekarang, di sini, dengan seluruh tenaga yang kupunya. Aku membuka setiap pintunya, setiap lacinya, setiap raknya. Aku mencari di sudut-sudut paling gelap, di bawah debu paling tebal, di balik papan-papan yang sudah lapuk.
Kosong.
“Oh,” kataku.
Suaraku datar. Tenang. Persis seperti suaraku waktu menjawab telepon dari Guangzhou, atau waktu bilang halaman tujuh kepada Elena di ruang rapat.
“Iya,” kataku. “Aku tahu.”
Kayla menatapku.
Untuk beberapa detik, wajahnya tidak bergerak sama sekali. Seperti dia tidak mengerti bahasa yang baru saja kupakai. Seperti dia sedang menunggu terjemahannya datang.
Lalu terjemahannya datang.
Aku melihatnya datang. Aku melihatnya menghantam wajah adikku, pelan-pelan, dari mata turun ke mulut. Matanya membelalak, lalu menyipit. Bibirnya terbuka, lalu bergetar. Cengkeramannya di lenganku mengendur, jari-jarinya lepas satu per satu, seperti orang yang baru sadar sedang memegang sesuatu yang panas.
“Kakak tahu,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Dari surel pertama.”
Kayla mundur satu langkah. Kaki kirinya terseret di aspal yang basah. Srek.
“Surel pertama,” ulangnya. Suaranya naik setengah oktaf. “Surel pertama. Itu… itu sebulan lalu, Kak. Sebulan.”
“Iya.”
“Kakak duduk di depan aku di ruang rapat. Kakak ajak aku keliling dermaga. Kakak kasih aku telur. Kakak anterin aku pulang pas hujan. Kakak dengerin aku cerita soal Kak Ikal di mobil, soal Kakak sendiri, dan Kakak bilang mungkin dia udah lupa.” Suaranya pecah di tengah. Dia menelannya dan melanjutkan. “Kakak tiup lilin ulang tahun Kakak sendiri waktu aku nyanyi. Kakak dateng ke apartemen aku. Kakak liat dinding aku. Kakak liat foto Kakak sendiri di situ. Kakak dengerin aku ngomongin Bobo dua puluh menit. Dan Kakak…”
Dia berhenti. Napasnya tersengal-sengal.
“Kenapa Kakak diem aja?”
Hujan turun di antara kami. Tirai abu-abu yang tipis tapi rapat.
Aku membuka mulut.
Aku tahu jawabannya. Aku sudah menjelaskannya kepada Elena di ruang arsip. Lemari kosong. Tidak ada yang bergerak. Aku tidak punya apa-apa untuk diberikan. Aku tahu jawabannya, dan aku sudah mengucapkannya dengan kata-kata, dengan kalimat yang lengkap.
Tapi berdiri di depan Kayla, di bawah hujan, dengan matanya yang merah dan bibirnya yang kebiruan, kalimat itu tidak mau keluar. Aku mencari kata-katanya di kepalaku dan tidak menemukan apa pun. Hanya ruang kosong yang sama, yang tidak punya dinding, tidak punya lantai, tidak punya pintu.
Dan di ruang kosong itu, satu-satunya hal yang masih berfungsi, satu-satunya hal yang selama tujuh belas tahun selalu berfungsi dengan baik, mengambil alih.
Seperti mesin fotokopi yang tetap mencetak meskipun gedungnya terbakar.
“Kontraknya,” kataku, “jadi kita tanda tangan Kamis?”
Aku mendengar diriku mengatakannya.
Aku mendengar setiap katanya. Kontraknya. Jadi. Kita. Tanda tangan. Kamis. Aku mendengarnya keluar dari mulutku dengan nada yang sama persis dengan yang kupakai setiap hari di kantor. Rapi, sopan, profesional.
Dan aku tidak menghentikannya.
Aku ingin bilang aku menyesal saat itu juga. Aku ingin bilang aku langsung menyadari betapa kejamnya kalimat itu, dan langsung meminta maaf. Tapi itu bohong. Saat itu, di detik itu, aku tidak merasakan apa pun tentang kalimat itu juga. Kalimat itu cuma… kalimat. Keluar, lalu menggantung di udara, di antara butiran hujan.
Wajah Kayla tidak hancur seketika.
Itu yang paling kuingat. Wajahnya tidak langsung hancur. Dia menatapku dengan dahi berkerut, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja dia dengar. Seolah dia salah dengar karena hujan. Seolah aku pasti bercanda, dan sebentar lagi aku akan tertawa dan bilang nggak, Kay, aku bercanda, lalu memeluknya.
Aku tidak tertawa.
Lalu, pelan-pelan, seperti gedung yang runtuh dalam gerakan lambat, wajahnya runtuh.
Dimulai dari dagu. Dagunya bergetar. Lalu bibirnya. Lalu sesuatu di sekitar matanya, yang membuat matanya terlihat sangat tua dan sangat muda sekaligus. Lalu dia tertawa. Tawa yang paling mengerikan yang pernah kudengar: pendek, patah, setengah napas setengah isak, seperti seseorang yang tersedak sesuatu yang terlalu besar untuk ditelan.
“Kontrak,” katanya. “Kontrak. Ya ampun. Kontrak.”
Dia menutup mulut dengan punggung tangannya. Seperti biasa, seperti malu pada giginya sendiri. Tapi kali ini tangannya gemetar terlalu keras untuk menutupi apa pun.
“Kak,” katanya dari balik tangannya. “Kak Ikal. Ini aku. Kayla. Kay.”
“Aku tahu.”
“Kakak tahu.” Dia menurunkan tangannya. Air mata dan air hujan bercampur di pipinya sampai tidak bisa dibedakan lagi. “Kakak terus bilang Kakak tahu. Kalau Kakak tahu, kenapa Kakak ngomong kayak aku orang asing? Kenapa Kakak ngomongin kontrak? Kenapa Kakak…”
Suaranya habis. Dia menarik napas, gemetar, panjang.
Lalu dia mengangkat tangan kanannya.
Kelingking. Kelingking kecil dengan cat kuku hijau mint yang terkelupas di ujungnya. Basah. Gemetar.
“Kakak janji,” bisiknya. “Di bandara. Nanti Kakak nyusul. Kakak inget, kan? Kakak bilang Kakak nggak pernah lupa apa pun. Kakak inget kerupuk bawang. Kakak inget boneka porselen. Kakak pasti inget ini.”
Aku menatap kelingkingnya.
Aku ingat. Tentu saja aku ingat. Kelingking itu dulu lengket karena permen. Sekarang basah karena hujan. Dulu panjangnya separuh kelingkingku. Sekarang hampir sama.
Tanganku diam di samping tubuhku.
Aku menyuruhnya bergerak. Sungguh, aku menyuruhnya. Angkat. Kaitkan. Itu cuma kelingking. Itu cuma satu gerakan kecil.
Tanganku diam. Seperti tangan orang lain. Seperti tangan yang sudah lama sekali lupa bagaimana cara meraih sesuatu, karena setiap kali ia meraih, ia mendapatkan pukulan, atau pintu yang terkunci, atau telepon yang tidak diangkat, atau satu kata kecil berwarna abu-abu di pojok layar komputer warnet.
Kelingking Kayla menggantung di udara, di antara kami, di bawah hujan.
Satu detik. Lima detik. Sepuluh.
Lalu, pelan sekali, kelingking itu turun.
“Aku bisikin Kakak,” kata Kayla. Suaranya sekarang sangat pelan. Hampir tidak ada. “Di dermaga. Senin. Aku jinjit, terus aku bisikin di telinga kiri Kakak. Kayak dulu. Kayak tiap malam dulu.”
Aku diam.
“Kakak denger, kan?” Matanya menatapku, basah, memohon. “Kakak denger, dan Kakak diem aja. Kakak nggak nengok. Kakak pura-pura nggak denger. Aku pikir Kakak nggak suka aku. Aku nulis di buku aku. Kayaknya Kak Hal nggak suka aku. Ternyata…” Dia tertawa lagi, tawa yang pecah. “Ternyata itu Kakak. Kakak denger aku bisikin rahasia di telinga kiri Kakak kayak dulu, dan Kakak diem aja.”
Aku bisa menjelaskannya. Satu kalimat. Telinga kiriku tuli, Kay. Lima kata.
Tapi lima kata itu akan diikuti pertanyaan. Kenapa? Dan jawaban pertanyaan itu adalah dapur di Semarang, dan tamparan, dan dengungan panjang, dan lantai dapur yang tiba-tiba ada di dekat wajahku. Jawaban itu adalah lima tahun yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Jawaban itu adalah Kak Ikal sendiri yang bilang, dan NGGAK MUNGKIN, dan huruf kapital dengan garis bawah dua kali di kertas tempel kuning di dinding gabusnya.
Aku tidak menjelaskannya.
“Kakak benci aku?” bisik Kayla.
“Nggak.”
“Kakak marah sama aku?”
“Nggak.”
“Terus kenapa?” Suaranya naik tiba-tiba, retak, hampir berteriak. “Terus kenapa, Kak?! Kalau Kakak nggak benci, nggak marah, terus kenapa Kakak nggak mau jadi kakakku lagi?!”
“Aku nggak punya apa-apa, Kay.”
Kata-kata itu keluar sebelum aku memutuskan untuk mengucapkannya. Pelan. Jujur. Satu-satunya kalimat jujur yang kuucapkan sore itu.
“Aku nggak punya apa-apa buat dikasih ke kamu.”
Kayla menatapku seperti aku baru saja menamparnya.
“Aku nggak minta apa-apa,” katanya. Suaranya bergetar begitu hebat sampai setiap kata terdengar seperti dipotong-potong. “Aku nggak pernah minta apa-apa, Kak. Aku nggak minta Kakak kaya. Aku nggak minta Kakak sukses. Aku nggak minta Kakak minta maaf. Aku cuma… aku cuma minta Kakak.”
Dia menggigil. Seluruh tubuhnya bergetar. Bibirnya sekarang benar-benar biru.
Dan tanganku bergerak.
Bukan untuk mengaitkan kelingkingnya. Bukan untuk memeluknya. Tanganku bergerak ke kancing jas hujanku sendiri, membukanya satu per satu, melepaskannya dari bahu, lalu membentangkannya di atas bahu Kayla. Persis seperti waktu aku menyelimuti Elena di balkon. Persis seperti waktu aku menarik selimut sampai ke dagu Kayla sembilan tahun setiap malam setelah dia membisikkan rahasianya.
“Kamu kedinginan,” kataku.
Hujan langsung membasahi kemejaku. Dingin, menusuk, tembus sampai ke kulit punggung, sampai ke garis-garis tipis yang sejajar di sana.
Kayla menatap jas hujan hitam di bahunya. Lalu menatapku.
Dan itu, ternyata, yang benar-benar menghancurkannya.
Bukan kontraknya jadi kita tanda tangan Kamis. Bukan kelingking yang tidak kukaitkan. Bukan aku nggak punya apa-apa.
Jas hujan itu.
“Kakak masih inget,” bisiknya, dan suaranya pecah menjadi sesuatu yang bukan lagi suara. “Kakak masih inget aku gampang kedinginan… tapi Kakak nggak mau jadi kakakku?”
Lututnya menyerah.
Dia jatuh berlutut di atas aspal dermaga yang basah, dengan jas hujanku masih di bahunya, dan menangis.
Bukan tangis yang tertahan. Tangis anak kecil. Tangis yang keras dan terbuka dan tanpa malu, yang mengguncang bahu dan membuat napas tersengal-sengal. Tangis yang sudah disimpan tujuh belas tahun dan akhirnya pecah di tengah dermaga Jamrud di bawah hujan, di depan crane-crane yang diam dan kapal-kapal yang tidak peduli.
Aku berlutut di sebelahnya.
Aku tidak tahu kenapa. Kakiku yang memutuskan. Lututku menyentuh aspal yang basah. Hujan mengalir dari rambutku, dari wajahku, dari ujung daguku.
Aku mengangkat tangan kananku. Pelan. Ke arah punggungnya, ke arah bahunya yang berguncang di bawah jas hujan hitam.
Tanganku berhenti lima senti dari punggungnya.
Aku tidak tahu kenapa ia berhenti. Aku tidak menyuruhnya berhenti. Ia berhenti sendiri, menggantung di udara, gemetar, seperti tangan yang menyentuh pagar listrik di masa lalu dan tidak akan pernah lupa rasanya.
Lima senti.
Aku berlutut di sana, di sebelah adikku yang menangis, dengan tangan yang menggantung lima senti dari punggungnya, dan tidak bisa menempuh jarak itu.
Payung biru tua tiba-tiba muncul di atas kepala kami.
Hujan berhenti menghantam punggung Kayla. Aku mengangkat wajah.
Elena berdiri di sana. Napasnya terengah-engah. Dia pasti berlari dari lantai empat sampai ke ujung dermaga. Sepatunya basah, celananya basah sampai lutut, rambutnya lepas dari ikatan dan menempel di pipinya. Dia memegang payung itu tinggi-tinggi di atas kami berdua dengan dua tangan. Tangannya gemetar.
Dia tidak menatapku. Dia menatap Kayla.
Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Wajah orang yang tidak terkejut.
Kayla tidak melihat itu. Kayla tidak melihat apa pun. Dia hanya menangis.
Elena berlutut di sisi lain Kayla dan merangkulnya. Tanpa ragu, tanpa jarak lima senti. Dia menarik Kayla ke dalam pelukannya, payung masih di tangan, dan Kayla menangis di bahunya seperti anak kecil yang tersesat lalu akhirnya menemukan seseorang.
“Udah,” bisik Elena, mengusap rambut Kayla yang basah. “Udah, Kay. Ayo. Aku anterin pulang. Kamu kedinginan. Ayo.”
Di atas bahu Kayla, mata Elena akhirnya bertemu mataku. Sebentar. Satu detik. Di mata itu tidak ada kemarahan. Tidak ada tuduhan. Hanya sesuatu yang sangat sedih, yang tidak bisa kubaca dan tidak berani kubaca.
Elena membantu Kayla berdiri. Kayla berdiri dengan lutut yang goyah, jas hujanku masih di bahunya, payung Elena di atas kepalanya. Mereka mulai berjalan menjauh, pelan, ke arah gedung kantor.
Setelah lima langkah, Kayla berhenti.
Dia tidak berbalik. Dia bicara ke arah depan, ke arah hujan, dengan suara yang sudah habis tapi masih cukup untuk sampai ke telingaku. Telinga kanan.
“Tujuh belas tahun aku nungguin Kakak,” katanya. “Tiap tahun aku tiup lilin buat Kakak. Tiap tahun aku beli kado buat Kakak. Aku pindah negara buat Kakak.”
Jeda. Hujan.
“Ternyata Kakak di sini dari awal. Dan Kakak nggak nunggu aku sama sekali.”
Tuk, srek. Tuk, srek. Tuk, srek.
Langkah kakinya menjauh. Kaki kirinya terseret di aspal yang basah. Bunyinya makin pelan, makin pelan, sampai akhirnya tenggelam di bawah suara hujan.
Aku masih berlutut di ujung dermaga.
Hujan menghantam punggungku. Kemejaku basah sepenuhnya, menempel di kulit, dingin. Helm proyekku jatuh entah kapan dan tergeletak terbalik di aspal, terisi air hujan seperti mangkuk.
Kakak nggak nunggu aku sama sekali.
Dia benar.
Aku berhenti menunggu. Bertahun-tahun lalu. Di sebuah hari yang angkanya tidak pernah kusebut, bahkan di dalam kepalaku sendiri. Aku berhenti menunggu, dan aku tidak pernah mulai lagi.
Aku mencari di dalam dadaku sekali lagi. Lemari kosong itu. Aku membuka semua pintunya lagi, semua lacinya lagi, mencari sesuatu, apa pun, satu butir debu yang bergerak.
Kosong.
Tapi tanganku.
Aku menatap tangan kananku. Tangan yang tadi berhenti lima senti dari punggung Kayla.
Tangan itu gemetar.
Bukan gemetar karena dingin. Aku tahu rasanya gemetar karena dingin. Ini berbeda. Gemetar ini datang dari tempat yang tidak bisa kulihat, dari bagian dalam pergelangan, dari ujung-ujung jari, dan ia tidak mau berhenti. Aku mengepalkan tanganku, dan ia tetap gemetar di dalam kepalan. Aku membukanya lagi, dan ia tetap gemetar.
Aku tidak tahu apa itu.
Aku berlutut di dermaga, di bawah hujan, menatap tanganku sendiri yang gemetar seperti menatap benda asing yang baru saja ditemukan di dalam lemari yang kukira sudah kosong.
Di ruang istirahat kru di sebelah gudang tiga, kata Cak Tarno belakangan, Ucup berdiri lama di depan papan tulis putih bertuliskan TARUHAN RESMI DERMAGA CERIA.
Dia melihat semuanya dari pintu ruang istirahat. Kayla yang berlari di bawah hujan. Kayla yang berlutut. Aku yang berlutut di sebelahnya dengan tangan yang menggantung. Elena dengan payung biru tua.
Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Tidak ada yang mengerti, sore itu. Tapi Ucup mengerti satu hal: sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi kepada orang yang ia hormati, dan papan tulis berwarna-warni dengan odds dan nama-nama dan nominal taruhan itu tiba-tiba terasa sangat salah.
Ucup mengambil kain lap dari dekat dispenser dan menutupkannya ke atas papan tulis. Lalu dia mengambil spidol merah dan menulis di kertas HVS, ditempel di bawah kain lap itu dengan selotip:
DITUTUP SEMENTARA.
Lalu, setelah berpikir lama, dia menambahkan satu baris di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil dan lebih miring:
Semoga Pak Hal baik-baik aja.
Hujan berhenti jam enam sore.
Langit di atas Selat Madura berubah dari abu-abu timah menjadi ungu, lalu oranye, lalu merah tua seperti luka yang baru mengering. Lampu-lampu sorot dermaga menyala satu per satu. Crane-crane mulai bergerak lagi. Orang-orang berompi oranye keluar dari bawah atap gudang dan kembali bekerja.
Aku masih di ujung dermaga. Aku sudah berdiri sekarang, tapi aku belum bergerak.
Tanganku masih gemetar.
Hujan berhenti jam enam.
Aku tidak.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu reading
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan