← Hari ke-731

Chapter Twenty Seven

Surat yang Dibuka

— Kayla —

“Pak,” kataku. “Musiknya digedein aja.”

Pak Slamet ngeliatin aku dari kaca spion. Alisnya naik sampai hampir nyentuh kopiahnya.

“Digedein, Mbak?”

“Iya, Pak. Yang kenceng.”

Pak Slamet ngeliatin Kak Safrina, yang tadi pagi nyuruh dia matiin musik. Kak Safrina nggak ngomong apa-apa. Dia duduk di sebelahku dengan kardus mi instan di pangkuan, ngeliatin keluar jendela, kayak patung.

Pak Slamet muter kenop volume. Dari satu ke dua puluh. Ke tiga puluh. Ke tiga puluh lima.

Dangdut koplo meledak di dalam mobil. Kendang yang cepet, suling yang melengking, suara penyanyi perempuan yang tinggi dan bergetar. Kaca jendela mobil sampai ikut bergetar.

Aku butuh itu. Aku butuh suara yang keras. Aku butuh sesuatu yang lebih keras dari suara di dalam kepalaku. Dan aku butuh sesuatu yang bisa nutupin suara tangisku, karena aku tahu sebentar lagi aku bakal nangis, dan aku nggak mau Kak Safrina denger.

Aku nggak mau Kak Safrina denger apa pun dari aku sekarang.

Pak Slamet mulai nyanyi. Keras. Fals. Sambil goyang-goyangin kepala dan ngetuk-ngetuk setir.

Aku buka amplop pertama.


Surat dari Ibu. Amplop putih, perangko bergambar koala. Cap posnya tanggal yang udah buram, tapi aku bisa baca tahunnya. Tahun pertama kami di Melbourne.

Kertasnya kertas surat bergaris, dilipat tiga. Tulisan tangan Ibu yang rapi, miring ke kanan, pakai tinta biru.

Ikal sayang,

Ibu kangen banget sama kamu. Tiap malam Ibu liat foto kamu di dompet sebelum tidur. Melbourne dingin, Nak. Ibu belum biasa. Kayla tiap pagi pakai dua jaket dan masih ngeluh kedinginan. Kak Safrina udah mulai sekolah, katanya pelajarannya susah tapi dia suka.

Ibu udah dapet kerja di rumah sakit. Jadi perawat. Capek, tapi gajinya lumayan. Ibu lagi ngumpulin uang buat tiket kamu ke sini. Mungkin akhir tahun, Nak. Sabar ya.

Ibu selipin uang lima puluh dolar di surat ini. Tolong kasih ke Ayah buat beli sepatu sekolah kamu yang baru. Sepatu kamu yang lama udah sobek di jempol, Ibu inget. Jangan dipake lagi, nanti kaki kamu luka.

Jaga diri baik-baik. Makan yang banyak. Jangan lupa belajar.

Ibu sayang Ikal. Selamanya.

Ibu

Aku ngeliatin amplop itu. Aku buka lebar-lebar. Aku goyang-goyangin.

Kosong.

Nggak ada uang lima puluh dolar. Nggak ada apa-apa.

Aku buka amplop kedua. Surat dari Ibu lagi. Ibu selipin lima puluh dolar lagi, Nak. Buat buku-buku sekolah. Kosong.

Amplop ketiga. Ibu selipin seratus dolar. Buat beli jaket. Semarang kan kadang hujan. Kosong.

Amplop keempat. Kelima. Keenam.

Kosong. Kosong. Kosong.

Aku ngitung. Dua belas surat dari Ibu. Dua belas kali Ibu nulis Ibu selipin uang. Dua belas amplop kosong.

Aku inget Ibu waktu itu. Ibu yang pulang jam sebelas malam dari shift di rumah sakit dengan kaki bengkak. Ibu yang makan cuma roti tawar sama selai kacang selama berbulan-bulan biar bisa nabung. Ibu yang tiap bulan pergi ke kantor pos di Box Hill dengan amplop di tangan dan muka yang penuh harap.

Semua uang itu.

Kak Ikal nggak pernah dapet satu dolar pun. Sepatu sekolahnya tetep sobek di jempol. Dia tetep nggak punya jaket.

Ayah yang dapet semuanya.

Aku tahu ke mana uang itu pergi. Aku inget bau gelas di meja makan di Semarang. Manis dan busuk sekaligus.

Pak Slamet nyanyi makin keras. Aku mulai nangis. Pelan. Di bawah suara kendang dan suling.


Terus aku buka surat-suratku sendiri.

Amplop bergambar bunga matahari. Amplop bergambar kelinci. Amplop warna pink dengan stiker hati di belakangnya. Alamat pengirimnya ditulis pakai huruf besar-besar yang miring, pakai spidol warna-warni: Kayla, Box Hill, Melbourne, Australia. Kadang aku nambahin gambar bunga matahari kecil di pojok amplop.

Aku nggak inget nulis surat-surat ini. Maksudku, aku inget aku pernah nulis surat ke Kak Ikal. Ibu yang nyuruh. Tulis surat buat Kakak, Kay, biar Kakak nggak kesepian. Tapi aku nggak inget isinya.

Sekarang aku baca.

Kak Ikal!!! Aku udah bisa renang!!! Di sekolah ada kolam renang!!! Airnya dingin banget tapi aku berani!!! Kak Safrina nggak berani, dia cuma duduk di pinggir. Hehe. Kak Ikal bisa renang nggak? Nanti kalau Kakak ke sini, aku ajarin!!!

Tanda seru di mana-mana. Tulisanku waktu sepuluh tahun. Huruf a yang bulat sempurna.

Kak Ikal, Bobo makan sepatu Kak Safrina lagi. Yang kanan. Kak Safrina marah banget. Tapi Bobo nggak ngerti. Bobo kan anjing. Aku ketawa terus sampai Kak Safrina lempar bantal ke aku. Kakak pasti ketawa juga kalau liat.

Kak Ikal, hari ini salju! Eh, bukan salju. Hujan es kecil-kecil. Ibu bilang namanya hail. Aku kira salju. Aku keluar pakai piyama terus Ibu marah. Hehe.

Satu per satu. Aku baca semuanya. Lima belas surat, dari umur sepuluh sampai dua belas.

Di surat-surat yang awal, aku nulis panjang-panjang. Tiga halaman, empat halaman. Soal sekolah, soal temen-temen, soal Bobo, soal Melbourne yang dingin. Aku nanya-nanya soal Kak Ikal. Kakak lagi apa? Kakak udah kelas berapa? Kakak masih takut kecoak?

Di surat-surat yang lebih belakangan, aku mulai nulis lebih pendek.

Kak Ikal, kenapa Kakak nggak bales surat aku? Aku udah kirim sepuluh. Kakak sibuk ya?

Kak Ikal, Ibu bilang mungkin suratnya hilang di pos. Aku kirim lagi ya. Kalau nyampe, bales ya, Kak. Satu kata aja nggak apa-apa.

Terus yang terakhir.

Amplop pink dengan stiker hati di belakangnya. Stikernya udah setengah lepas. Ada noda cokelat keunguan besar di bagian bawah amplop, yang nembus sampai ke kertas suratnya.

Kertasnya kertas binder yang disobek dari bukuku, pinggirannya masih ada bekas lubang-lubang kecil. Tulisanku di situ beda. Lebih kecil. Lebih rapi. Lebih hati-hati. Kayak anak yang lagi takut salah.

Kak Ikal,

Ibu bilang Kakak nggak mau ditelepon lagi. Ibu bilang Kakak yang bilang sendiri. Ibu nangis terus semalem. Kak Safrina juga diem terus, nggak mau ngomong sama siapa-siapa.

Kakak marah sama aku ya?

Maaf kalau aku nakal. Maaf aku sering nyolong kerupuk. Maaf aku sering bisikin Kakak tengah malem pas Kakak udah ngantuk. Maaf aku dulu nangis di bandara dan nggak mau lepasin tangan Kakak.

Aku janji nggak nyolong kerupuk lagi. Aku janji jadi anak baik. Aku janji nggak nangis lagi.

Tapi Kakak jangan marah ya. Kakak boleh nggak telepon. Tapi jangan marah.

Aku sayang Kak Ikal.

Kay

P.S. Nanti Kakak nyusul kan? Kakak udah janji. Kelingking.


Aku nggak inget nulis surat itu.

Aku nggak inget sama sekali. Tapi aku kenal tulisan tanganku. Dan aku kenal anak yang nulis surat itu. Anak sebelas tahun yang ngira kakaknya nggak mau ditelepon karena dia nyolong kerupuk. Yang ngira semuanya salah dia. Yang minta maaf buat hal-hal yang nggak perlu dimaafin.

Dan surat itu nggak pernah sampai ke Kak Ikal.

Surat itu dibuka Ayah. Dibaca Ayah. Ditumpahin sesuatu yang cokelat keunguan, manis dan busuk sekaligus. Terus disimpen di lemari, bareng sebelas surat dari Ibu yang uangnya udah diambil, bareng empat belas suratku yang lain.

Kak Ikal nggak pernah tahu aku minta maaf.

Kak Ikal nggak pernah tahu aku nggak lupa.

Aku meluk surat itu ke dada dan nangis. Keras. Kenceng banget. Nangis yang keluar dari perut, yang bikin badanku membungkuk dan bahuku goyang. Pak Slamet nyanyi makin kenceng, dangdut koplo makin keras, kendang makin cepet. Kayaknya dia denger aku nangis, dan dia sengaja nyanyi lebih keras buat nutupin. Atau mungkin dia memang nggak denger. Aku nggak tahu.

Kak Safrina nggak ngomong apa-apa. Tapi tangannya pindah ke punggungku. Ngusap. Pelan.

Aku pengin narik badanku. Aku pengin bilang jangan pegang aku. Aku pengin bilang Kakak punya nomor telepon warung itu dan Kakak nggak pernah nelepon.

Aku nggak narik badanku.

Aku cuma nangis, dengan surat pink bernoda di dadaku dan tangan kakakku di punggungku, di dalam mobil yang bergetar karena dangdut koplo, di jalan tol antara Semarang dan Surabaya.


Di rest area Ngawi, Pak Slamet berhenti buat isi bensin dan sholat Ashar. Dia ninggalin kami di mobil dengan mesin nyala dan AC menyala.

Sebelum turun, dia nyodorin sebungkus plastik ke kursi belakang.

“Mbak, kacang atom? Biar nggak bosen.”

Aku ngeliatin kacang itu. Butiran-butiran kecil oranye yang dilapisi tepung. Kacang.

“Nggak, Pak,” kataku dengan suara serak. “Makasih. Saya nggak suka kacang.”

“Oh.” Pak Slamet ngeliatin aku. Ngeliatin mataku yang bengkak, mukaku yang basah, surat-surat di pangkuanku. Mukanya berubah. Dia narik kacang itu balik. “Nggak apa-apa, Mbak. Saya beliin teh botol aja, ya. Yang dingin.”

Dia pergi. Lima menit kemudian dia balik dengan dua botol teh dingin dan sebungkus roti sobek rasa cokelat. Dia naruh di jok kosong di depan tanpa ngomong apa-apa, terus pergi lagi ke musala.

Kami berdua di mobil.

Aku nggak ngeliat Kak Safrina. Kak Safrina nggak ngeliat aku.

Di pangkuannya, di dalam kardus mi instan, ada buku tulis bersampul cokelat. Tipis. Lusuh. Sudut-sudutnya menggulung.

Dari tadi pagi dia megang buku itu. Dia nggak buka. Dia cuma megang. Tangannya di atas sampulnya, kayak orang yang lagi nahan tutup panci yang airnya mendidih.

“Kak,” kataku. “Itu buku apa?”

Kak Safrina diem.

“Kak.”

“Punya Ikal,” katanya.

“Isinya apa?”

“Aku belum buka.”

“Kalau gitu aku yang buka.” Aku ngulurin tangan.

Kak Safrina narik buku itu. Cepet. Kayak refleks. Kayak orang yang narik tangan dari kompor panas.

“Jangan dulu,” katanya.

“Kenapa?”

“Biar aku dulu.”

“Kenapa harus Kakak dulu?” Suaraku naik. Aku nggak bisa nahan. “Kakak punya nomor warung itu, Kak. Kakak bilang ke Bu Warsih. Kak Ikal ngasih Kakak nomor warung itu, dan dia nunggu setahun di bangku itu, dan Kakak nggak pernah nelepon. Terus sekarang Kakak mau baca buku dia duluan? Kenapa? Biar Kakak bisa sensor bagian yang bikin Kakak keliatan jahat?”

Kak Safrina nggak jawab.

Dia ngeliatin buku di pangkuannya. Tangannya gemeteran. Aku belum pernah liat tangan Kak Safrina gemeteran. Tangan yang megang berkas di depan hakim. Tangan yang nunjuk ke arah terdakwa sambil bilang Yang Mulia, laki-laki ini monster. Tangan itu sekarang gemeteran di atas sampul buku tulis anak dua belas tahun.

“Bukan itu, Kay,” bisiknya.

“Terus apa?”

Dia diem lama. Terus, pelan banget, kayak orang yang buka pintu ke ruangan yang dia tahu isinya mayat, dia buka sampul buku itu.

Cuma halaman pertama.

Aku liat.

Kertas bergaris, warnanya udah kuning kecokelatan. Di baris paling atas, tulisan tangan anak kecil. Pakai pensil. Hurufnya miring, besar-besar, ditekan keras-keras sampai kertasnya hampir sobek.

Hari ke-1 nunggu Kak Safrina jemput.

Di baris bawahnya:

Hari ke-2 nunggu Kak Safrina jemput.

Hari ke-3 nunggu Kak Safrina jemput.

Satu baris per hari. Kalimat yang sama. Cuma angkanya yang berubah.

Kak Safrina nutup buku itu.

Cepet. Keras. Kayak nutup pintu di muka orang.

Tapi aku udah liat.


“Kak Safrina jemput,” kataku.

Suaraku keluar aneh. Datar. Kayak suara Kak Ikal.

“Kenapa nunggu Kakak?” tanyaku. “Kenapa bukan Ibu? Kenapa bukan aku? Kenapa dia nulis nunggu Kak Safrina jemput?”

Kak Safrina nggak jawab. Dia megang buku itu dengan dua tangan sekarang, di dadanya, kayak orang meluk sesuatu supaya nggak diambil orang.

“Kak,” kataku. “Di bandara. Kakak yang terakhir meluk dia. Aku pernah nanya, Kakak bilang apa ke dia. Kakak bilang Kakak nggak inget.”

Hening.

“Kakak inget,” kataku. “Kakak inget segalanya. Kakak bilang apa?”

Kak Safrina nutup mata.

“Kamu jagoan, Kal,” bisiknya. “Jagain Ayah ya. Nanti Kakak jemput.”

Aku ngeliatin dia.

Nanti Kakak jemput.

Dua kakakku. Dua janji di bandara yang sama, di hari yang sama.

Nanti Kakak nyusul, kata Kak Ikal ke aku.

Nanti Kakak jemput, kata Kak Safrina ke Kak Ikal.

Kak Ikal nggak pernah nyusul.

Dan Kak Safrina nggak pernah jemput.

“Kak,” kataku, dan suaraku pecah lagi. “Nomor warung. Sabar ya. Nanti Kakak jemput. Apa lagi? Apa lagi yang Kakak nggak bilang ke aku?”

Kak Safrina buka mata. Matanya merah. Basah. Tapi dia nggak nangis. Kak Safrina nggak pernah nangis.

“Banyak, Kay,” katanya.

Satu kata. Dua kata. Pelan.

“Besok aku ngomong sama Ikal. Semuanya. Habis itu sama kamu. Semuanya.” Dia narik napas. Napasnya goyah. “Aku janji. Tapi aku harus ngomong sama dia duluan. Dia yang paling berhak denger duluan.”

Aku pengin teriak. Aku pengin ngerebut buku itu dari tangannya. Aku pengin bilang Kakak udah janji banyak hal, dan Kakak nggak pernah nepatin satu pun.

Aku nggak ngelakuin apa-apa.

Aku capek. Aku capek banget. Capek sampai ke tulang. Capek yang nggak bisa disembuhin tidur.

Aku nyender ke jendela dan meluk surat-surat di pangkuanku.


Pak Slamet balik dari musala. Dia masuk mobil, ngeliatin kami berdua di kaca spion, terus diem.

Dia nyalain mesin. Dia nggak nyalain musik.

Sepanjang sisa perjalanan dari Ngawi ke Surabaya, tiga jam, mobil itu sunyi. Cuma bunyi mesin, bunyi ban di atas aspal tol, dan bunyi AC yang mendesis pelan.

Aku ketiduran di jendela. Aku nggak tahu kapan. Aku mimpi soal bangku hijau yang miring. Soal telepon putih berdebu. Soal anak laki-laki kurus pakai baju lengan panjang di bulan Agustus, yang duduk di pojok kanan bangku, nahan napas tiap telepon bunyi.

Aku bangun waktu mobil berhenti di depan tower apartemenku di Darmo. Udah gelap. Lampu-lampu jalan udah nyala.

Pak Sutris berdiri di depan pintu kaca lobi. Dia ngeliat mobil berhenti, ngeliat aku keluar dengan mata bengkak dan setumpuk amplop di pelukan, dan dia langsung buka pintu kaca lebar-lebar.

Kak Safrina nggak turun. Dia lanjut ke hotelnya. Dengan kardus mi instan di pangkuan. Dengan buku tulis bersampul cokelat yang nggak dia lepasin dari tadi.

Sebelum pintu mobil nutup, dia bilang satu kalimat. Pelan. Ke arahku, tapi matanya nggak ngeliat aku.

“Besok, Kay. Aku janji.”

Pintu mobil nutup.

Aku berdiri di trotoar, ngeliatin Avanza abu-abu itu pergi, sampai lampu belakangnya hilang di tikungan Jalan Raya Darmo.

Di tanganku, di atas tumpukan amplop, surat pink dengan stiker hati yang setengah lepas. Noda cokelat keunguan di bagian bawah.

Aku janji nggak nyolong kerupuk lagi.

Aku janji jadi anak baik.

Aku janji nggak nangis lagi.

Aku sebelas tahun waktu nulis itu. Dan aku nggak nepatin satu pun.

Tapi nggak apa-apa. Nggak ada yang pernah baca janjinya.

Kecuali Ayah.