Chapter Twenty Five
Punggung
— Haikal —
Kabel baja crane nomor empat sudah kulaporkan tiga minggu lalu.
Laporannya ada di sistem. Nomor tiket MNT-2026-0847: Wire rope hoist crane No. 4 menunjukkan keausan di segmen 12–14 meter dari drum. Rekomendasi: penggantian sebelum operasi beban di atas 25 ton. Bagian perawatan menjawab dua hari kemudian. Kabel pengganti sudah dipesan dari Jakarta dan dijadwalkan datang hari Senin. Sampai kabel baru datang, crane nomor empat hanya boleh dipakai untuk beban di bawah dua puluh lima ton.
Hari Jumat pagi, jam sembilan lewat sepuluh, crane nomor empat sedang mengangkat sebuah generator diesel industri seberat tiga puluh dua ton.
Aku tidak tahu siapa yang memberi izin. Belakangan ternyata ada kesalahan di jadwal. Crane nomor lima yang seharusnya dipakai sedang diservis, dan operator shift malam yang tidak tahu soal tiket MNT-2026-0847 memindahkan pekerjaannya ke crane nomor empat. Kesalahan kecil. Kesalahan administrasi. Kesalahan yang terjadi di semua pelabuhan di seluruh dunia setiap hari.
Aku sedang berjalan dari kantor dokumen ke dermaga waktu aku melihatnya.
Generator itu menggantung di udara, lima belas meter di atas aspal. Kotak besi hijau tua sebesar mobil van, diikat empat sling baja ke kait crane. Kabel hoist crane nomor empat menegang di atasnya, berkilau perak di bawah matahari pagi.
Dan di segmen dua belas sampai empat belas meter dari drum, di bagian yang sudah kulaporkan, aku melihat helai-helai kawat kecil mencuat dari pilinan kabel. Seperti rambut yang berdiri. Seperti tali tambang yang mulai terurai.
Lalu aku melihat Ucup.
Ucup berdiri tepat di bawah generator itu. Tepat di bawahnya. Rompi oranye, helm kuning, dan ponsel di tangan. Dia sedang menunduk, jempolnya bergerak cepat di layar, tersenyum sendiri. Mungkin membalas pesan. Mungkin memperbarui papan taruhan yang sekarang tertutup kain lap. Mungkin menonton video kucing.
Dia tidak melihat ke atas.
Kabel itu berbunyi.
Bukan bunyi keras. Bunyi kecil. Ting. Seperti senar gitar yang putus di ruangan sebelah. Satu helai kawat lagi lepas dari pilinannya.
Lalu satu lagi. Ting.
Aku sudah berlari sebelum otakku selesai menghitung.
“UCUP!”
Itu kedua kalinya dalam dua belas tahun aku berteriak. Yang pertama waktu truk trailer mundur ke arahnya. Yang kedua sekarang.
Ucup mengangkat wajah. Matanya membulat. Dia melihatku berlari ke arahnya, lalu melihat ke atas, ke generator yang menggantung di atas kepalanya, ke kabel yang mulai berbunyi ting, ting, ting semakin cepat. Dan dia membeku. Seperti rusa di depan lampu mobil. Ponselnya masih di tangan.
Aku sampai di depannya. Aku mendorongnya dengan dua tangan di dada, keras, sekuat yang aku bisa.
Dia terlempar ke belakang. Jatuh terlentang di atas aspal, tiga meter dari bawah generator.
Lalu kabel itu putus.
Aku tidak ingat bunyinya. Orang-orang bilang bunyinya seperti tembakan meriam. Seperti petir yang menyambar sangat dekat.
Aku hanya ingat rasanya.
Kabel hoist yang putus melecut ke bawah seperti cambuk raksasa. Ujung kabel yang terurai, dengan helai-helai kawat baja yang mencuat seperti duri, menyapu udara dalam busur yang lebar. Generator tiga puluh dua ton itu jatuh. Tidak dari lima belas meter, karena rem darurat drum crane langsung mengunci. Tapi sling-sling pengikatnya terlepas dari kait, dan generator itu jatuh satu setengah meter ke atas aspal dengan dentuman yang mengguncang seluruh dermaga.
Dan salah satu sling baja yang terlepas melecut ke samping.
Ke arahku.
Aku sedang berbalik untuk lari. Punggungku menghadap ke generator.
Sling itu menyambar punggungku dari bahu kanan sampai ke pinggang kiri.
Rasanya bukan seperti dipukul. Rasanya seperti seseorang menarik garis api di punggungku. Panas, tajam, dalam, dan terlalu cepat untuk disadari. Kemeja putihku robek seperti kertas. Aku jatuh berlutut di atas aspal.
Dan untuk sesaat, dalam sepersekian detik yang sangat aneh, aku bukan di dermaga Jamrud.
Aku di ruang depan rumah kontrakan di Semarang. Lantai semen dingin di bawah lututku. Bau anggur murah. Bunyi gesper ikat pinggang yang dilepas dari celana, logam bergemerincing pelan.
Lalu aku kembali.
Dermaga. Aspal. Matahari. Orang-orang berteriak. Generator hijau tua tergeletak miring tiga meter di belakangku, dengan asap tipis mengepul dari salah satu sudutnya yang penyok.
Dan sesuatu yang hangat dan basah mengalir di punggungku, turun ke pinggang, meresap ke celana.
“PAK HAL!”
Suara Ucup. Dari kiri. Aku tidak mendengarnya dengan jelas. Aku hanya tahu dia berteriak karena aku melihat mulutnya terbuka lebar waktu dia merangkak ke arahku di atas aspal, wajahnya putih seperti kertas.
Lalu suara lain. Dari kanan. Aku mendengarnya dengan sangat jelas.
“KAK!”
Aku menoleh.
Kayla berlari di atas aspal dermaga dari arah parkiran. Tuk, srek, tuk, srek, cepat sekali, sepatunya hampir terlepas. Di belakangnya, Safrina, dengan blazer hitam dan tas kulit cokelat, berlari juga. Tasnya terlepas dari bahunya dan jatuh di tengah jalan, dan dia tidak berhenti untuk memungutnya.
Mereka datang pagi itu untuk bicara denganku. Aku baru tahu itu belakangan. Safrina sudah berjanji pada Kayla semalam. Besok. Kita ngomong. Dan mereka memutuskan untuk bicara dengan aku juga, bertiga, hari itu, sekarang.
Mereka sampai di parkiran pelabuhan tepat waktu kabel itu putus.
Klinik Kesehatan Pelabuhan ada di gedung satu lantai bercat putih di dekat gerbang utama. Bau alkohol dan karbol. Lantai keramik putih yang licin. Kipas angin di langit-langit berputar pelan.
Aku dibaringkan telungkup di atas ranjang periksa yang dilapisi kertas putih. Dokter jaganya laki-laki paruh baya berkacamata tebal bernama dr. Hendra. Dia sudah bekerja di klinik pelabuhan selama dua puluh tahun, sudah menjahit lebih banyak luka buruh pelabuhan daripada yang bisa dia hitung, dan tangannya tenang sekali waktu memegang gunting.
“Bajunya harus saya gunting, Pak Hal,” katanya. “Nggak bisa dilepas biasa. Kainnya udah lengket di lukanya.”
Aku diam.
“Pak Hal?”
Aku tahu apa yang akan terjadi kalau kemeja itu digunting. Aku tahu apa yang akan dilihat dr. Hendra. Apa yang akan dilihat siapa pun yang ada di ruangan ini.
Di balik tirai hijau yang memisahkan ranjang periksa dari ruang tunggu, aku bisa mendengar suara-suara. Ucup menangis. Kapten Lukas berteriak menyuruh Ucup diam. Bu Endang dari HRD menelepon asuransi. Langkah kaki yang cepat dan ringan, sepatu hak rendah. Elena, berlari dari gedung kantor.
Dan dua suara lain. Sangat dekat. Tepat di balik tirai.
Kayla. Dan Safrina.
“Pak Hal,” kata dr. Hendra lagi, lebih pelan. “Lukanya dalam. Harus dijahit. Saya harus lihat.”
“Iya, Dok,” kataku.
Gunting itu dingin di kulitku. Bunyi kain yang dipotong, pelan, panjang. Dari kerah sampai ke pinggang. Dr. Hendra menyingkap kain yang sudah basah dan merah itu ke dua sisi, pelan-pelan, hati-hati, melepaskannya dari luka yang masih segar.
Lalu dia berhenti.
Tangannya yang tenang, yang sudah dua puluh tahun menjahit luka buruh pelabuhan, berhenti di udara.
Aku tidak bisa melihat punggungku sendiri. Tapi aku tahu apa yang dia lihat. Aku melihatnya di cermin kamar mandi apartemenku setiap pagi, kalau aku lupa untuk tidak melihat.
Luka baru dari sling baja, membentang diagonal dari bahu kanan sampai pinggang kiri, masih berdarah.
Dan di bawahnya, di sekitarnya, menyilang dengannya, garis-garis lama.
Puluhan. Mungkin lebih. Garis-garis pucat yang lebih terang dari kulit di sekitarnya, sebagian tipis seperti benang, sebagian tebal dan sedikit menonjol, sebagian bertumpuk di atas yang lain seperti coretan di kertas yang sama berulang-ulang. Garis-garis yang sejajar, dengan jarak yang hampir sama, panjangnya hampir sama. Di beberapa tempat, di ujung-ujung garis, ada bekas berbentuk persegi panjang kecil.
Bentuk gesper.
Dr. Hendra diam lama. Kipas angin di langit-langit berputar.
“Pak Hal,” katanya akhirnya. Suaranya pelan, sangat pelan. “Ini bekas apa?”
“Udah lama, Dok,” kataku ke arah bantal. “Nggak sakit.”
Dr. Hendra tidak bertanya lagi. Dia membersihkan luka baru itu dengan kasa dan cairan antiseptik yang dingin dan perih. Dia menyuntikkan bius lokal di beberapa titik. Dia mulai menjahit. Pelan, rapi, satu jahitan demi satu jahitan.
Dia tidak bertanya lagi. Tapi tangannya, yang tadi tenang, sekarang bergerak dengan sangat hati-hati di atas kulit punggungku. Seperti orang yang tiba-tiba sadar sedang menyentuh sesuatu yang sudah terlalu sering disakiti.
Tirai hijau tersibak.
Elena masuk. Napasnya terengah-engah. Rambutnya lepas dari ikatan. Blusnya basah keringat di bagian punggung karena dia berlari dari gedung kantor ke klinik di bawah matahari jam sembilan pagi.
Dia melihatku. Telungkup di ranjang periksa, dengan punggung terbuka. Luka baru yang sedang dijahit. Dan garis-garis lama di sekitarnya.
Dia berhenti di tempatnya.
Aku melihat wajahnya dari sudut mataku, dengan pipi menempel di bantal. Aku melihat warnanya hilang. Aku melihat tangannya terangkat ke mulut, lalu turun lagi.
Dia sudah melihat bekas luka di lengan bawahku. Garis-garis tipis yang sejajar. Dia sudah mendengar aku nggak pernah punya sepeda. Dia sudah tahu sesuatu.
Tapi dia belum pernah melihat punggungku.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia berjalan ke sisi ranjang. Ke sisi kanan, sisi wajahku. Dia berlutut di lantai keramik di sebelah ranjang, supaya wajahnya sejajar dengan wajahku.
Lalu, tanpa sadar, tanpa bertanya, tanpa ragu sedikit pun, dia mengambil tangan kananku yang tergeletak di pinggir ranjang, dan menggenggamnya.
Tanganku masih gemetar. Sudah lebih dari dua minggu.
Genggamannya kuat. Hangat. Jari-jarinya masuk di antara jari-jariku dan mengunci di sana.
Aku tidak menarik tanganku.
Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak pernah membiarkan siapa pun memegang tanganku selama ini. Mr Jake pernah, sekali, malam itu di apartemen. Tapi itu berbeda. Mr Jake menangkupkan tangannya di atas tanganku seperti menutup api lilin.
Elena tidak menutup. Elena menggenggam. Seperti orang yang memegang tali di tengah arus yang deras dan tidak berniat melepaskannya.
Aku tidak menarik tanganku.
Di balik tirai, Kayla bicara.
Suaranya sangat pelan. Dia pasti mengira aku tidak bisa mendengar. Tapi tirai itu hanya kain tipis, dan aku berbaring dengan sisi kanan wajahku menghadap ke sana, dengan telinga kanan yang masih bekerja dengan sempurna.
“Kak,” bisik Kayla. Suaranya bergetar hebat. “Kak, itu… itu ikat pinggang, kan? Garis-garisnya. Itu bekas ikat pinggang.”
Hening.
“Iya, Kay,” jawab Safrina.
Tiga kata. Pelan. Datar. Suara pengacara yang memberikan kesaksian.
Lalu sesuatu jatuh di lantai di balik tirai. Bukan benda. Orang. Bunyi lutut yang menghantam lantai keramik. Dan Kayla menangis. Bukan tangis yang keras seperti di dermaga minggu lalu. Tangis yang pelan, tertahan, yang dibekap tangan sendiri, yang sesekali lolos sebagai isakan pendek seperti cegukan.
“Kakak udah tahu?” tanya Kayla di sela-sela isaknya. “Dari kapan Kakak tahu?”
“Aku curiga dari kemarin,” kata Safrina. Suaranya masih datar, tapi ada sesuatu yang mulai retak di bawahnya. “Cara dia berdiri. Cara dia duduk. Telinganya. Hari ini aku yakin.”
Telinganya.
“Telinganya kenapa, Kak?”
Hening panjang.
“Nanti, Kay,” kata Safrina. “Nanti.”
Dr. Hendra terus menjahit. Satu jahitan. Dua jahitan. Benang hitam masuk dan keluar dari kulitku. Aku tidak merasakannya karena biusnya. Tapi aku merasakan genggaman Elena di tanganku makin erat setiap kali Kayla terisak di balik tirai.
“PAK HAL!”
Tirai tersibak lagi, kali ini dengan kasar, hampir copot dari relnya.
Ucup.
Wajahnya merah, basah oleh air mata dan ingus. Helmnya sudah hilang entah ke mana. Rompi oranyenya robek di siku karena jatuh tadi. Dia melihatku telungkup di ranjang, melihat punggungku yang terbuka. Dia tidak melihat garis-garis lama. Atau melihat, tapi tidak mengerti. Dia hanya melihat luka baru dan darah.
Dan dia menangis lebih keras.
Dia jatuh berlutut di sebelah ranjang, di sebelah Elena, dan meraih tangan kiriku. Tangan yang tergeletak di sisi kiri bantal. Dia menggenggamnya dengan dua tangan dan menempelkannya ke dahinya.
“Pak Hal, maafin saya, Pak! Ini gara-gara saya main HP! Saya janji, Pak, saya janji nggak main HP lagi seumur hidup! Saya buang HP saya ke laut, Pak! Sekarang juga!”
Kapten Lukas muncul di belakangnya dengan alis kiri yang masih digambar spidol dan menarik kerah rompi Ucup.
“Jangan dibuang, Ucup,” geramnya. “Itu HP masih cicilan. Kau masih utang delapan bulan.”
“SAYA NGGAK PEDULI, KAPTEN!”
“Kau peduli. Kau nangis tiap tanggal lima.”
Dr. Hendra berhenti menjahit. Dia mengangkat wajah, menatap Ucup dari balik kacamata tebalnya.
“Mas,” katanya pelan. “Pasien saya yang luka di punggung. Tapi Mas yang nangisnya paling kenceng.”
“Saya nangis buat Pak Hal, Dok!” isak Ucup. “Pak Hal nggak pernah nangis! Jadi saya nangisin!”
Ruangan itu sunyi sesaat.
Lalu, dari balik tirai, aku mendengar bunyi kecil. Bunyi yang pendek dan basah dan tertahan.
Kayla tertawa. Di tengah tangisnya. Satu tawa kecil yang pecah, lalu hilang lagi di bawah isakan.
Mr Jake datang sepuluh menit kemudian.
Dia masuk tanpa bicara. Wajahnya pucat, sepucat yang belum pernah kulihat. Rambut putihnya berantakan. Dia tidak memakai topi pet.
Dia berdiri di ujung ranjang dan menatap punggungku.
Dia sudah pernah melihatnya. Aku tahu dia pernah. Dua belas tahun lalu, di minggu pertamaku di gudang tiga, aku ganti baju di ruang istirahat kru setelah mengangkat empat puluh karung beras, dan aku tidak tahu Mr Jake berdiri di ambang pintu. Aku berbalik dan melihatnya di sana, menatap punggungku. Dia tidak bilang apa-apa waktu itu. Dia hanya mengangguk, berbalik, dan pergi.
Besoknya dia memberiku seragam kerja lengan panjang. Tiga setel. Tanpa bertanya.
Sekarang dia menatap punggungku lagi. Luka baru, dan garis-garis lama di sekitarnya. Rahangnya mengeras. Matanya basah.
Dia tidak menyentuh punggungku. Dia berjalan ke sisi ranjang, membungkuk, dan meletakkan tangannya di atas kepalaku. Sebentar. Hanya sebentar. Seperti seorang ayah yang memeriksa demam anaknya.
Lalu dia berbalik dan keluar, dan aku mendengarnya bicara dengan suara rendah yang bergetar kepada Bu Endang di ruang tunggu. Kata-kata yang tidak bisa kudengar dengan jelas. Tapi aku mendengar tiket MNT dan siapa yang kasih izin dan I want names, Endang, I want every single name.
Dr. Hendra selesai menjahit. Empat puluh tiga jahitan. Dia menutup luka itu dengan kasa dan plester, lalu menyuruhku tetap berbaring setengah jam lagi sebelum boleh duduk.
Ucup sudah diseret keluar oleh Kapten Lukas, masih menangis, masih berjanji akan membuang ponselnya ke laut. Mr Jake di ruang tunggu, menelepon seseorang dengan suara keras dalam bahasa Inggris.
Elena masih berlutut di sebelah ranjang. Tangannya masih menggenggam tanganku.
Tirai hijau tersibak pelan.
Kayla masuk.
Matanya merah dan bengkak. Pipinya basah. Lututnya kotor karena tadi jatuh di lantai. Dia berdiri di ujung ranjang, di dekat kakiku, dan menatap punggungku yang sekarang sudah tertutup kasa putih. Tapi dia sudah melihat yang ada di bawah kasa itu. Dia sudah melihat semuanya dari celah tirai.
Dia tidak bilang apa-apa untuk waktu yang sangat lama.
Lalu dia berjalan ke sisi kiri ranjang, sisi yang tadi dipegang Ucup, dan berlutut di lantai, sejajar dengan bantal. Di sisi kiriku. Sisi telinga yang tidak bisa mendengar.
Aku memutar kepala di atas bantal supaya bisa melihatnya.
“Udah lama, Kay,” kataku. “Nggak sakit.”
Kayla menatapku. Air mata mengalir dari kedua matanya, pelan, tanpa suara.
“Bohong,” katanya.
Aku diam.
Aku sudah bilang nggak sakit ratusan kali. Kepada guru. Kepada Bu Warsih. Kepada Mr Jake. Kepada dr. Hendra barusan. Kalimat itu sudah sama lancarnya dengan jatuh dari sepeda dan aku baik. Air keran yang dibuka.
Tapi Kayla menatapku dengan mata Ibu, dan bilang bohong, dan untuk pertama kalinya aku tidak bisa membuka keran itu lagi.
“…Iya,” kataku.
Satu kata. Pelan. Hampir tidak terdengar.
Kayla mengulurkan tangan. Dia mengambil tangan kiriku yang tergeletak di samping bantal. Tangan yang tadi dipegang Ucup dan masih basah oleh air matanya. Kayla menggenggamnya. Jari-jarinya yang kecil, dengan cat kuku hijau mint yang terkelupas, melingkari jari-jariku.
Sekarang dua tanganku dipegang.
Tangan kanan oleh Elena. Tangan kiri oleh Kayla.
Aku berbaring telungkup di ranjang periksa klinik pelabuhan dengan empat puluh tiga jahitan baru di punggung dan puluhan garis lama di bawahnya, dan dua tanganku dipegang oleh dua orang yang tidak mau melepaskannya.
Aku tidak menarik tanganku.
Aku tidak menarik keduanya.
Di ambang tirai, Safrina berdiri. Aku melihatnya dari sudut mataku. Dia tidak masuk. Dia berdiri di sana dengan tangan terkepal di samping tubuhnya dan wajah sepucat kertas. Wajah pengacara yang baru saja mendengar vonis, dan baru sadar bahwa vonis itu untuk dirinya sendiri.
Dia menatapku untuk waktu yang sangat lama.
Lalu dia berbalik dan pergi tanpa bicara.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung reading
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan