← Hari ke-731

Chapter Forty Two

Hari ke-1

— Haikal —

Kulkasku sekarang penuh.

Bukan hanya isinya. Isinya memang penuh. Telur, sayur, tahu, tempe, susu, buah, sambal botol dari Bu Yati, rendang dalam wadah plastik dari Ibu yang dibekukan sebelum Ibu pulang ke Melbourne, dan tiga kotak martabak sisa yang Kayla bawa minggu lalu dan tidak ada yang berani membuang.

Tapi pintunya juga penuh.

Kertas tempel kuning pertama masih di sana, di tengah, sedikit lusuh di sudutnya: ISI. INI PERINTAH CFO.

Di sekelilingnya, kertas-kertas lain. Warna-warni. Tulisan tangan yang berbeda-beda.

Dari Kayla, kertas tempel hijau mint, huruf a yang bulat sempurna: Kak, udah makan? (Jawab yang jujur!!)

Dari Ibu, kertas tempel biru, tulisan miring ke kanan: Makan sayur, Kal. Jangan cuma nasi pakai kecap. Ibu tahu.

Dari Mr Jake, kertas tempel putih dengan tulisan tangan bergaya sambung yang hampir tidak terbaca: Margaret would want you to eat vegetables. Also fruit. Also sleep on a bed.

Dari Ucup, kertas tempel oranye, huruf kapital semua: PAK HAL SEMANGAT!!! (INI DARI UCUP)

Dari Kak Safrina, kertas tempel kuning pucat, tulisan tangan tegak dan rapi seperti tulisan di berkas pengadilan: Kal. Telepon Kakak tiap Minggu sore. Bukan Kakak yang telepon. Kamu.

Aku membaca semuanya setiap pagi waktu mengambil susu.

Aku tidak pernah mencabut satu pun.


Apartemenku tidak kosong lagi.

Sofa abu-abu di ruang tamu sekarang sudah tidak berplastik dan sudah ada bantal-bantal kecil di atasnya, pilihan Kayla, bermotif bunga matahari, tentu saja. Aku sudah duduk di sana. Banyak kali. Kadang aku tidur di sana juga, waktu menonton film yang dipilih Elena dan aku tidak mengerti ceritanya.

Di kamar sekarang ada kasur. Kasur sungguhan, dengan sprei biru. Ibu yang memaksa membelinya di hari keduanya di Surabaya. Dia berdiri di ambang pintu kamar, menatap tikar pandan di lantai selama satu menit penuh, lalu berbalik dan bilang ke Kayla, Kay, cari toko kasur. Sekarang.

Tikar pandan itu masih ada. Terlipat rapi di ujung kasur. Aku tidak bisa membuangnya. Ibu tidak memaksa.

Di dekat jendela besar, tujuh pot tanaman. Sirih gading yang pertama, yang daunnya sekarang menjuntai sampai ke lantai dan merambat ke kaki sofa. Lalu enam lagi. Lidah mertua, monstera, pakis, kaktus kecil, sebuah pohon jeruk mini yang belum berbuah, dan satu pot bunga matahari yang Kayla beli di pasar bunga Kayoon dan yang setiap pagi kuputar sedikit supaya menghadap matahari.

Elena yang membawa lima di antaranya. Satu per minggu. Dengan kunci yang sekarang ada di gantungan kuncinya lagi.

Di dinding sebelah jendela, sebuah rak kayu yang kubeli bersama Kayla di toko furnitur bekas di Jalan Kapasan. Tempat yang sama dia membeli lemari untuk tujuh belas kotak kadonya dua tahun lalu.

Di rak itu, tujuh belas kado.

Robot biru, sudah dikeluarkan dari kotaknya, berdiri dengan lengan terangkat dan dada terbuka, memperlihatkan jantung kecil berwarna merah di dalamnya. Jam tangan digital bergambar kapal, dengan baterai baru, disetel ke waktu Melbourne. Senter kuning dengan tali gantungan berbentuk bintang, dengan baterai baru juga. Kompas kuningan. Kamus bahasa Inggris. Buku sketsa, yang sekarang setengah halamannya sudah berisi gambar kapal. Voucher tiket pesawat yang sudah kedaluwarsa, dibingkai kecil. Syal kedua, yang rapi tanpa lubang.

Jaket biru dongker yang kekecilan, digantung di paku di atas rak.

Syal pertama, yang dengan tiga lubang, tidak ada di rak. Syal itu kupakai. Setiap malam, waktu AC terlalu dingin.

Dan di tengah rak, di bingkai kayu sederhana, sebuah foto.

Foto yang diambil Pak Slamet dengan ponsel Kayla di depan pintu apartemenku, sore hari Ibu datang. Ibu di tengah. Kayla di kiri, masih memegang karton dari bandara bertuliskan IBU 🌻 (KAMI BERTIGA NUNGGU). Kak Safrina di kanan. Dan aku di belakang mereka bertiga. Pak Slamet yang mengusulkan foto itu, karena katanya foto di bandara tadi kurang lengkap, Mbak, masnya nggak ada.

Matanya Ibu merah. Mata Kak Safrina merah. Mata Kayla merah.

Mataku juga.

Kami semua tersenyum.


Hari Sabtu pertama bulan Desember, pagi, aku duduk di sofa dengan buku tulis bersampul cokelat di pangkuanku.

Aku membukanya.

Halaman pertama. Hari ke-1 nunggu Kak Safrina jemput.

Aku membalik. Pelan. Halaman demi halaman. Aku membaca semuanya, satu baris demi satu baris, seperti Kak Safrina membacanya di kamar hotel dekat Tunjungan. Dengan jari menelusuri setiap kata.

Ayah minta maaf.

Kayla punya anjing. Namanya Bobo. Lucu.

Kak Safrina bilang sabar. Nanti liburan.

Bangku. Bangku. Bangku.

Aku senang.

Nggak diangkat.

Nunggu Kak Safrina.

Nunggu.

Nunggu.

Hari ke-731. Aku kirim pesan ke Kak Safrina. Facebook. Galaxy Net.

Dilihat 23.47.

Aku membalik halaman.

Kosong. Garis-garis biru pucat di atas kertas kuning kecokelatan. Empat puluh tujuh halaman kosong yang kutinggalkan di bawah kasur di rumah kontrakan di ujung gang dua belas tahun lalu.

Aku menatap halaman kosong pertama itu lama.

Lalu aku mengambil pulpen dari meja kecil di sebelah sofa. Bukan pensil. Aku sudah tidak punya pensil. Pulpen biasa, tinta hitam, yang kupakai untuk menandatangani manifes kapal.

Aku menulis.

Tanganku tidak gemetar.

Hari ke-1.

Aku berhenti. Aku menatap angka itu.

Hari ke-1. Lagi.

Bukan hari ke-732. Bukan melanjutkan hitungan yang lama. Hitungan yang lama sudah selesai. Dia berhenti di malam aku melihat satu kata kecil berwarna abu-abu di bilik nomor tujuh, dan dia tidak perlu dilanjutkan. Biar dia tetap di sana. Tujuh ratus tiga puluh satu hari. Utuh. Selesai.

Ini hitungan yang baru.

Aku melanjutkan menulis.

Hari ke-1. Nggak nunggu lagi.

Aku berhenti lagi. Lalu aku menulis satu kalimat terakhir.

Mereka udah di sini.

Aku menatap tiga baris itu. Tinta hitam di atas kertas kuning, di bawah empat puluh tujuh halaman yang sekarang tidak lagi kosong semuanya.

Aku menutup bukunya.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menaruhnya di bawah apa pun. Aku menaruhnya di rak. Di sebelah robot biru dengan jantung merah kecil.


Seminggu kemudian, aku pulang ke Semarang.

Bersama Kayla dan Elena. Pak Slamet yang menyetir. Volume dangdut koplonya tiga puluh dua, dan tidak ada yang menyuruhnya mematikan. Kayla malah ikut bernyanyi. Fals. Keras. Huruf R-nya cadel.

Aku duduk di kursi tengah, di sebelah Elena. Di sebelah kanannya.

Gang dekat Kali Banger masih sama sempit. Selokan kecil di satu sisi, airnya masih hitam. Rumah lama kami masih bercat biru muda dengan papan LAUNDRY KILOAN. Rumah kontrakan di ujung gang sekarang jadi kos-kosan, dengan jemuran di terasnya dan motor-motor yang diparkir berdempetan.

Aku tidak berhenti di depan keduanya.

Aku berjalan langsung ke seberang. Ke rumah kecil bercat hijau dengan teras yang dijadikan warung.

Bangku hijau itu masih di sana. Catnya mengelupas. Kaki kirinya lebih pendek. Sedikit miring.

Bu Warsih keluar dari balik etalase kaca waktu mendengar langkah kaki Kayla. Tuk, srek. Dia menatap Kayla dulu. Lalu Elena. Lalu aku.

Dia berhenti.

Kacamatanya merosot di ujung hidung. Dia tidak menaikkannya. Dia menatapku dari atas kacamata itu, lama sekali, dengan mata tua yang sudah melihat terlalu banyak hal di gang sempit ini.

“Le,” katanya pelan. “Ikal?”

“Nggih, Bu.”

(Iya, Bu.)

Bu Warsih tidak bilang apa-apa lagi. Dia berjalan keluar dari warungnya, pelan, dengan sandal jepit hijau dan daster batik yang pudar, sampai berdiri di depanku. Dia mengangkat dua tangannya yang keriput dan berbau bawang merah, dan menangkup wajahku. Seperti Ibu.

“Wis gedhe,” bisiknya. “Ya Allah, Le. Wis gedhe.”

(Sudah besar. Ya Allah, Nak. Sudah besar.)

“Bangkunya masih ada, Bu,” kataku.

Bu Warsih tertawa. Tertawa sambil menangis.

“Masih,” katanya. “Ra tau tak ganti. Wis tak omongke mbakyumu.”

(Masih. Nggak pernah saya ganti. Udah saya bilang ke kakakmu.)


Bu Warsih membuatkan teh manis. Teh tubruk dengan gula batu, di gelas kaca bening yang berembun. Dia meletakkannya di atas bangku hijau.

Aku duduk di ujung kanan.

Bangku itu berderit di bawahku. Miring sedikit.

Dari sini, aku bisa melihat ke dalam warung. Ke meja kecil di sudut. Ke pesawat telepon putih yang berdebu dengan argo kecil berwarna abu-abu di sebelahnya. Kabelnya menggantung longgar. Mati sejak 2016.

Kayla duduk di sebelah kiriku. Elena berdiri di depan warung, menatapku dengan tangan terlipat di dada dan mata yang berkaca-kaca. Londo, kucing belang tiga yang gemuk, melompat ke pangkuan Kayla dan melingkar di sana.

Bu Warsih duduk di ujung kiri bangku, di sebelah Kayla. Dia menatapku lama. Lalu dia merogoh saku dasternya dan mengeluarkan ponsel. Ponsel tua, layar kecil, tombol-tombol fisik yang angkanya sudah pudar.

Dia menyodorkannya kepadaku.

“Iki, Le,” katanya. “Semenitmu.”

(Ini, Nak. Semenitmu.)

Aku menatap ponsel itu.

“Argo yang di sana udah mati,” lanjut Bu Warsih, sekarang dalam bahasa Indonesia, pelan. “Tapi semenit kamu masih ada. Saya nggak pernah nagih. Pakai sekarang, Le.”

Aku menerima ponsel itu.

Aku memutar nomornya. Dua belas digit. Dimulai dengan 61.

Bukan nomor telepon rumah di Box Hill. Nomor itu sudah tidak dipakai lagi. Nomor ponsel. Yang tersimpan di ponselku sendiri dengan nama Kak Safrina, yang kuhafal dalam satu malam.

Di Melbourne, jam empat sore. Hari Sabtu.

Nada sambung internasional. Panjang. Bergema.

Satu kali.

“Halo?” Suara Kak Safrina. Cepat. Tegang. Nomor tidak dikenal dari Indonesia.

“Kak,” kataku. “Ini Ikal.”

Hening sebentar.

“Kal? Ini nomor siapa?”

“Nomor Bu Warsih, Kak. Aku di warung. Di bangku.”

Hening yang lebih panjang. Aku mendengar napasnya berubah.

“Kak,” kataku. “Dulu aku nunggu telepon di sini bunyi. Setahun. Nggak pernah bunyi.”

Aku menatap telepon putih yang mati di sudut warung.

“Sekarang aku yang nelepon,” kataku. “Dari sini. Semenit aja. Aku cuma mau bilang…”

Aku berhenti. Aku tidak tahu apa yang ingin kukatakan. Aku tidak menyiapkan apa pun. Aku hanya tahu bahwa aku duduk di ujung kanan bangku hijau yang miring, dengan teh manis Bu Warsih yang berembun di sebelahku, dan adikku di sebelah kiriku, dan perempuan yang kucintai berdiri di depan warung, dan di telingaku suara kakakku yang dulu bilang sabar ya.

“Aku udah makan, Kak,” kataku. “Barusan. Teh manis sama pisang goreng.”

Di Melbourne, Kak Safrina menangis.

Aku mendengarnya. Bukan tangis yang ditahan. Tangis yang terbuka, yang keluar bersamaan dengan tawa, yang pecah di telepon seluler dari jarak enam ribu kilometer.

“Iya, Kal,” katanya di sela-sela tangisnya. “Iya. Bagus. Makan yang banyak.”

Bu Warsih, di ujung kiri bangku, menatap jam dinding di dalam warungnya. Bibirnya bergerak, menghitung tanpa suara.

Lalu dia mengangkat tangan dan menepuk lututku. Pelan. Dua kali.

“Wis, Le,” bisiknya. “Wis semenit.”

(Udah, Nak. Udah semenit.)

“Kak,” kataku ke telepon. “Udah semenit. Nanti aku telepon lagi. Minggu sore. Pakai HP-ku sendiri.”

“Janji?”

“Janji, Kak.”

Aku menutup telepon. Aku mengembalikan ponsel itu kepada Bu Warsih.

Bu Warsih menerimanya. Dia menatap layarnya. Lalu dia memasukkannya kembali ke saku dasternya, dan dia tersenyum. Senyum tua yang lembut dan basah.

“Lunas,” katanya.

(Lunas.)


Malam itu, di hotel di Semarang, Kayla membawa sesuatu ke kamarku.

Kaleng biskuit merah. Berkarat di pinggirnya. Dengan stiker bunga matahari setengah terkelupas di sisinya. Dan di tutupnya, tulisan spidol hitam yang sudah pudar.

TABUNGAN KE MELBOURNE.

Aku membawanya dari Surabaya. Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya memasukkannya ke tas pagi tadi, di sebelah baju ganti dan syal berlubang tiga.

Kayla duduk di lantai kamar hotel. Elena duduk di sebelahnya. Mereka menatapku.

“Buka, Kak,” kata Kayla.

Aku duduk di lantai di depan mereka. Aku meletakkan kaleng itu di antara kami.

Sepuluh tahun aku tidak membukanya.

Tutupnya keras. Karatnya sudah mengunci pinggirannya. Aku harus mencongkelnya dengan ujung kunci mobil. Akhirnya terbuka dengan bunyi krek yang tajam.

Di dalamnya, uang kertas. Lusuh, dilipat-lipat, ditumpuk rapi. Lima puluh ribuan, dua puluh ribuan, sepuluh ribuan. Beberapa dengan gambar dan warna yang sudah tidak beredar lagi. Uang dari gaji gudang tiga tahun 2014, 2015, 2016. Uang dari nasi putih pakai kuah.

Kami menghitungnya bersama-sama. Kayla menyusun per pecahan. Elena mencatat di ponselnya. Aku menghitung.

Empat belas juta tiga ratus enam puluh ribu rupiah.

Kayla menatap angka itu lama.

“Kak,” katanya pelan. “Ini cukup buat dua tiket. Kalau beli sekarang. Kalau beli promo.”

Aku menatapnya.

“Natal,” kata Kayla. “Ibu di Melbourne. Kak Safrina di Melbourne. Kakak belum pernah ke Melbourne.”

Aku menatap uang di lantai kamar hotel. Uang dari anak enam belas tahun yang makan sekali sehari. Uang buat jemput adik, Pak.

Lalu aku menatap Elena.

Dua tiket.

Elena tidak bilang apa-apa. Tapi lesung pipi di sebelah kirinya muncul.


Aku mengirim pesan ke Kak Safrina malam itu. Pakai ponselku sendiri.

Aku mengetiknya pelan. Satu huruf demi satu huruf. Seperti dulu, di bilik nomor tujuh, mengetik dengan dua jari.

Aku: Kak, aku pulang.

Aku: Natal ini. Ke Melbourne.

Aku menekan kirim.

Aku menatap layar.

Di bawah pesanku, dalam waktu kurang dari satu detik, muncul satu kata kecil berwarna abu-abu.

Dilihat.

Napasku berhenti.

Lalu, di bawah kata itu, tiga titik kecil yang bergerak-gerak. Kak Safrina sedang mengetik.

Tiga detik.

Kak Safrina: AKU JEMPUT.

Kak Safrina: Jam berapa. Penerbangan apa. Gate berapa.

Kak Safrina: Aku jemput, Kal. Aku nggak akan telat. Aku janji.

Kak Safrina: Aku JEMPUT.

Aku menatap layar ponselku.

Di sebelahku, Kayla membaca pesan-pesan itu dari atas bahuku. Dia menutup mulutnya dengan dua tangan. Elena, di sebelah Kayla, juga membaca. Dia memejamkan mata.

Dilihat. Lalu tiga titik yang bergerak. Lalu jawaban.

Tiga detik.

Empat belas tahun lalu, aku menunggu satu jam di bilik nomor tujuh, dan tidak ada titik-titik yang bergerak.

Malam ini, tiga detik.


Tanggal dua puluh tiga Desember, jam tujuh pagi waktu Melbourne, pesawat kami mendarat di Tullamarine.

Aku tidak suka bandara. Aku tidak pernah berdiri di depan pintu kedatangan. Aku tidak pernah menunggu dengan wajah menghadap pintu.

Hari ini, untuk pertama kalinya, aku yang keluar dari pintu itu.

Elena berjalan di sebelah kananku, menarik koper kecil berwarna hijau tua. Dia memegang tanganku. Tanganku sedikit gemetar. Bukan gemetar yang dulu. Gemetar yang lain. Yang lebih ringan.

Pintu kaca otomatis di depan kami terbuka.

Whoosh.

Dan aku melihat mereka.

Di balik pagar besi, di tengah kerumunan orang-orang yang menunggu dengan balon dan bunga dan kertas karton.

Kayla. Dia terbang sehari lebih dulu. Dia memaksa. Aku harus berdiri di sana, Kak. Aku udah tujuh belas tahun berdiri di sana. Kali ini aku harus berdiri di sana waktu Kakak beneran keluar.

Dia berdiri di depan pagar, berjinjit di atas sepatu kets putihnya, memegang karton besar di atas kepala dengan dua tangan. Spidol warna-warni. Bunga matahari di keempat sudutnya.

KAK IKAL 🌻

Dan di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil:

(DATENG JUGA AKHIRNYA. TELAT 17 TAHUN. TAPI NGGAK APA-APA.)

Di sebelahnya, Ibu. Memakai kardigan abu-abu dan memeluk sebuah wadah plastik yang aku tahu, entah bagaimana, isinya nasi goreng. Ibu sudah menangis. Dari jauh pun aku bisa melihatnya.

Dan di sebelah Ibu, Kak Safrina.

Dia tidak memakai blazer hitam. Dia memakai kaus putih dan jins. Rambutnya digerai. Dan dia memegang sebuah kertas kecil. Kertas HVS biasa, dilipat dua, dengan tulisan tangan yang tegak dan rapi seperti tulisan di berkas pengadilan.

Dua kata.

AKU JEMPUT.

Aku berhenti berjalan.

Orang-orang di belakangku harus memutar.

Kak Safrina melihatku. Matanya membulat. Kertasnya jatuh dari tangannya.

Lalu dia berlari.

Kak Safrina, yang tidak pernah berlari. Yang selalu berjalan dengan langkah teratur, rapi, terukur, seperti pengacara yang berjalan ke podium. Dia berlari. Melewati pagar besi di ujungnya, melewati petugas bandara yang berteriak sesuatu dalam bahasa Inggris, melewati keluarga dengan balon-balon, dan berhenti di depanku.

Dia tidak bilang apa-apa. Dia memelukku.

Di belakangnya, Kayla berlari juga, dengan karton masih di tangan. Lalu Ibu, dengan wadah plastik nasi goreng.

Mereka memelukku. Bertiga. Di tengah lorong kedatangan internasional bandara Tullamarine. Di depan pintu kaca otomatis yang terus terbuka dan tertutup. Whoosh. Whoosh.

Tujuh belas tahun lalu, aku berdiri di depan pintu kaca keberangkatan di bandara Ahmad Yani dan melihat mereka masuk.

Hari ini, aku keluar dari pintu kaca kedatangan, dan mereka ada di sana.

Mereka menunggu.

Seseorang menungguku.


Malam itu, di halaman belakang rumah putih di Box Hill, di bawah langit musim panas Melbourne yang bersih dan gelap, Kayla menunjuk ke atas.

“Itu, Kak,” katanya. “Liat. Yang bentuknya kayak salib. Itu Southern Cross. Aku udah pengin nunjukin ke Kakak dari umur dua belas.”

Aku menatap ke atas.

Empat bintang terang yang membentuk salib. Dan satu bintang kecil di sampingnya.

“Aku tahu,” kataku.

Kayla menoleh. “Kok tahu?”

“Rizal yang kasih tahu.”

“Siapa Rizal?”

“Mualim satu Margaret.”

Di sebelah kananku, Elena tertawa. Pelan. Lesung pipinya muncul di bawah cahaya bintang.

“Kami salah tebak,” katanya ke Kayla. “Kakakmu bilang itu Biduk.”

Kayla menatapku dengan mulut terbuka. Lalu dia tertawa begitu keras sampai Bobo kedua, anak anjing golden retriever yang dibeli Ibu tahun lalu dan yang menurut Kayla sama begonya dengan Bobo pertama, berlari dari dalam rumah dan menggonggong di kaki kami.

Aku menatap Southern Cross di atas Melbourne.

Tujuh belas tahun lalu, adikku ingin menunjukkan bintang ini kepadaku.

Malam ini dia menunjukkannya.


Bulan Februari, MV Margaret pulang dari Batam.

Dengan mesin baru, turbocharger baru, poros baling-baling yang sudah direkondisi. Dan cat baru. Hijau tua yang mengilap, tanpa satu pun kelupasan di buritannya.

Dermaga Jamrud mengadakan penyambutan. Spanduk. Tumpeng. Mr Jake dengan jas abu-abu dan dasi kupu-kupu merah, berpidato selama tiga puluh lima menit sampai Elena mengambil mikrofonnya lagi.

Malam harinya, setelah semua orang pulang, aku mengajak Elena naik ke dek haluan Margaret.

Kapal itu bersandar di dermaga, mesinnya mati, lampunya redup. Laut di depan kami gelap dan tenang. Lampu-lampu dermaga kuning pucat di belakang kami.

Kami berdiri di dek haluan, di tempat yang sama dengan malam rasi bintang di Laut Jawa. Di dekat gulungan tali tambang besar. Elena di sebelah kananku.

Aku merogoh saku celana dan mengeluarkan sesuatu.

Gantungan kunci. Kunci perak kecil dengan gantungan plastik bertuliskan 2307.

Kunci yang dia tinggalkan di lantai di sebelah pot sirih gading. Kunci yang dia ambil lagi, entah kapan, setelah malam itu di depan jendela. Kunci yang semalam kuambil diam-diam dari tasnya waktu dia sedang menyiram tanaman.

Dan di ring gantungan kunci itu, di sebelah kunci perak, sesuatu yang lain.

Cincin. Emas putih, sederhana, dengan satu batu kecil di tengahnya.

Elena menatap gantungan kunci di telapak tanganku. Lama. Lalu dia mengangkat wajahnya dan menatapku.

“Hal,” katanya. Suaranya kecil.

“Kuncinya,” kataku. “Simpan.”

Aku tidak tahu harus bilang apa lagi. Aku sudah menyusun kalimatnya selama dua minggu. Di kepala, di kantor, di atas kasur, di sofa. Aku sudah menulisnya di buku sketsa dari Kayla, di halaman setelah gambar kapal ketujuh belas. Aku sudah menghafalnya.

Semuanya hilang.

“Selamanya,” kataku.

Hanya itu.

Elena menatapku. Matanya basah. Lesung pipinya muncul pelan-pelan, seperti matahari terbit.

“Itu lamaran?” tanyanya.

“Iya.”

“Lamaran pakai gantungan kunci?”

“Iya.”

“Kamu tahu nggak, cowok normal biasanya berlutut.”

Aku menatapnya. Lalu, pelan, karena punggungku sudah tidak sakit lagi tapi masih kaku kalau malam, aku berlutut di atas dek MV Margaret yang baru dicat. Satu lutut. Gantungan kunci dengan cincin di telapak tanganku.

“Elena Willmore,” kataku. “Kuncinya. Simpan selamanya.”

Elena tertawa. Tertawa sambil menangis. Dia menutup mulut dengan dua tangan. Lalu dia menurunkan tangannya dan berkata, dengan suara yang pecah:

“Iya. Iya, Hal. Iya.”

Aku berdiri. Dia mengambil gantungan kunci itu dari telapak tanganku. Dia melepaskan cincin dari ringnya dengan jari-jari yang gemetar, dan aku memasangkannya di jari manisnya.

Lalu dia menciumku.

Kedua kalinya. Di dek haluan MV Margaret, di bawah langit Surabaya yang tidak banyak bintangnya karena lampu kota, tapi cukup.


“WOIII!”

Suara dari dermaga. Keras. Menggelegar.

Kami berdua menoleh.

Di bawah sana, di dermaga Jamrud, di bawah lampu sorot yang kuning pucat, berdiri belasan orang.

Ucup. Kapten Lukas, dengan alis kiri yang sudah tumbuh penuh. Cak Tarno. Bu Yati. Dinda. Mbak Rini. Rizal. Pak Darto dari bea cukai. Bu Endang dari HRD dan suaminya yang Jumat Legi.

Dan Mr Jake, di tengah-tengah mereka, dengan dua tangan terangkat ke udara seperti orang yang baru memenangkan lotre.

Di sebelah Ucup, sebuah papan tulis putih yang dibawa dari ruang istirahat kru. Papan tulis baru. Tulisannya dengan spidol merah, besar-besar:

TARUHAN RESMI DERMAGA CERIA (EDISI BARU) “KAPAN PAK HAL MELAMAR BU ELENA?”

Di bawahnya, tabel. Ucup — Lebaran — Rp50.000. Cak Tarno — Tahun depan — Rp100.000. Kapten Lukas — Nggak bakal, Pak Hal itu robot (MASIH) — Rp200.000.

Dan di baris paling bawah, dengan tulisan tangan bergaya sambung yang hampir tidak terbaca:

Mr Jake — The night Margaret comes home — Rp1.000.000.

“I WON!” teriak Mr Jake dari dermaga, suaranya pecah karena terharu. “I WON! MARGARET, I WON! LUKAS, YOU OWE ME TWO HUNDRED THOUSAND!”

“Saya bayar besok, Tuan!” teriak Kapten Lukas balik. “Tapi saya mau bilang satu hal!”

“WHAT?”

Kapten Lukas menatap kami di dek haluan. Alisnya, yang dulu hangus dan sekarang sudah tumbuh penuh, terangkat.

“Pak Hal,” teriaknya. “Saya salah! Bapak bukan robot!”

Ucup bertepuk tangan begitu keras sampai tersandung kakinya sendiri dan jatuh ke belakang. Cak Tarno menangkapnya. Bu Yati menyeka mata dengan ujung kerudung. Dinda merekam semuanya dengan ponsel.

Di sebelahku, Elena tertawa sampai harus berpegangan pada lenganku.

Aku menatap mereka semua dari dek haluan MV Margaret. Kru dermaga. Orang-orang yang dua belas tahun bekerja di sebelahku, makan di warung yang sama, minum kopi dari gelas yang ada namanya, dan tidak pernah bertanya kenapa aku selalu memakai lengan panjang.

Mereka menungguku juga. Selama ini. Dengan cara mereka sendiri.

Aku hanya tidak pernah melihatnya.

Aku mengangkat tangan dan melambai ke arah mereka.

Dan aku tersenyum.