← Hari ke-731

Chapter Three

Biar Ada yang Hidup di Sini

— Elena —

Hari Minggu jam sepuluh pagi, Papa mengetuk pintu kamarku dengan map cokelat di tangan dan wajah orang yang sedang merencanakan kejahatan.

“Sweetheart,” katanya. “Small favor.”

Dalam kamus Papa, small favor bisa berarti apa saja, dari “tolong ambilkan kacamata Papa” sampai “tolong temani Papa ke pelelangan kapal di Rotterdam minggu depan”. Aku sudah sembilan belas tahun jadi anaknya. Aku sudah belajar untuk tidak langsung bilang iya.

“Apa?”

“Kontrak charter Guangzhou. Harus ditandatangani Hal hari ini, supaya besok pagi bisa langsung dikirim sebelum kapal berangkat.” Dia menyodorkan map itu. “Tolong antar ke apartemennya.”

“Kenapa nggak Papa aja?”

“Pinggang.”

“Papa kemarin tai chi.”

“Tai chi itu yang bikin pinggang Papa kambuh.” Papa memegang pinggangnya dengan ekspresi menderita yang sudah dia latih selama bertahun-tahun di depan cermin. Aku yakin itu. “Lagipula, Hal tidak suka orang datang ke apartemennya. Kalau Papa yang datang, dia akan menemui Papa di lobi. Kalau kamu…”

“Kalau aku?”

“Kalau kamu, mungkin dia sungkan menyuruh kamu menunggu di lobi.” Papa tersenyum. Senyum yang sangat polos. Senyum yang terlalu polos untuk laki-laki yang pernah menipu kapten kapal Yunani dalam permainan poker di pelabuhan Piraeus tahun 1988. “Margaret would’ve wanted you to.”

“Mama bakal pengin aku nendang tulang kering Papa.”

“That too,” Papa mengakui. “She was a violent woman. I loved her very much.”

Aku mengambil map itu.


Lift di tower apartemen Pak Hal punya dinding cermin di tiga sisinya. Aku benci lift seperti itu. Di dalamnya kita jadi terpaksa melihat diri sendiri dari tiga sudut sekaligus, termasuk sudut-sudut yang selama ini tidak ingin kita tahu.

Di cermin kiri, rambutku berantakan. Pagi tadi aku mengikatnya asal pakai karet gelang dapur karena ikat rambutku hilang lagi, entah ke mana, seperti selalu. Di cermin kanan, aku pakai kaus putih polos, jins, dan sandal jepit, karena ini hari Minggu dan aku menolak berdandan untuk mengantar dokumen. Di cermin depan, wajahku sendiri menatapku balik, tanpa riasan kecuali pelembap bibir.

Dinda, asistenku di kantor, pernah bilang wajahku itu wajah yang nggak adil. Katanya, “Bu Elena bangun tidur aja cakepnya kayak abis ke salon, sementara aku abis ke salon kayak bangun tidur.” Dinda juga bilang lesung pipiku senjata pemusnah massal dan seharusnya didaftarkan ke PBB.

Aku tidak terlalu peduli soal itu. Wajah ini sudah begitu sejak kecil. Waktu di panti, ibu-ibu pengurus sering bilang aku pasti cepat diadopsi karena cantik. Mereka mengatakannya sebagai pujian. Mereka tidak sadar bahwa untuk anak tujuh tahun, kalimat itu terdengar seperti: kamu dipilih karena wajahmu, bukan karena kamu.

Tapi bukan itu yang terjadi. Papa dan Mama tidak memilihku karena wajahku. Belakangan mereka cerita bahwa mereka memilihku karena aku satu-satunya anak di panti yang tidak mau bicara dengan mereka sama sekali di kunjungan pertama. Aku duduk di pojok sambil membaca buku cerita yang sampulnya sudah lepas, dan waktu Mama bertanya buku apa yang sedang kubaca, aku menjawab, “Bukan urusan Tante.”

Mama tertawa sampai menangis. Papa bilang, That one. That’s our girl.

Lift berhenti di lantai dua puluh tiga. Aku merapikan rambut sebisanya, gagal, lalu menyerah.


Aku mengetuk pintu nomor 2307 tiga kali.

Pintu terbuka setelah lima detik. Pak Hal berdiri di sana dengan kaus abu-abu dan celana training hitam. Rambutnya sedikit basah, seperti baru mandi. Dia tidak kelihatan kaget melihatku. Dia jarang kelihatan apa-apa.

“Bu Elena.”

“Papa nyuruh saya antar ini.” Aku mengangkat map cokelat. “Kontrak charter Guangzhou. Harus Bapak tandatangani hari ini.”

“Saya bisa turun ke lobi.”

Papa benar. Laki-laki ini memang tidak suka orang masuk ke apartemennya.

“Saya udah naik dua puluh tiga lantai,” kataku. “Lift-nya punya cermin di tiga sisi. Saya udah ngelihat semua kekurangan saya dari semua sudut. Saya nggak mau turun lagi tanpa duduk sebentar.”

Pak Hal menatapku. Lalu, setelah jeda yang sedikit terlalu lama, dia mundur satu langkah dan membuka pintu lebih lebar.

“Silakan.”

Aku masuk.

Dan aku berhenti.


Aku pernah membayangkan apartemen Pak Hal. Tidak sering, tidak dengan cara yang aneh. Cuma sekali-dua kali, waktu Papa cerita bahwa dia memberikan apartemen ini enam tahun lalu. Aku membayangkan tempat yang rapi, minimalis, sedikit dingin, seperti pemiliknya. Sofa abu-abu. Rak buku berisi manual teknis kapal. Mungkin satu tanaman kaktus yang tidak pernah disiram.

Aku tidak membayangkan ini.

Ruang tamunya kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada sofa, tidak ada meja, tidak ada televisi, tidak ada karpet. Hanya lantai keramik putih yang luas, dinding putih, dan jendela besar yang menghadap ke kota. Cahaya matahari jam sepuluh pagi masuk menerangi semua kekosongan itu, sehingga ruangan ini terasa seperti galeri seni yang lupa memasang lukisannya.

Pintu kamar terbuka sedikit. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat sebuah tikar pandan tergelar di lantai dengan satu bantal di atasnya. Tidak ada ranjang.

Di dapur ada rice cooker. Satu piring di rak pengering. Satu gelas. Satu sendok.

Aku tumbuh di panti asuhan. Aku tahu rasanya punya sedikit sekali barang. Di panti, semua milikku muat dalam satu kardus bekas mi instan yang kutaruh di bawah ranjang besi: dua kaus, satu rok, buku cerita yang sampulnya lepas, dan jepit rambut berbentuk kupu-kupu dari pengunjung yang tidak pernah datang lagi.

Tapi di panti, setidaknya ada anak-anak lain. Ada suara. Ada yang menangis tengah malam, ada yang tertawa di kamar mandi, ada yang bertengkar soal remote televisi. Kekosongan di panti adalah kekosongan barang, bukan kekosongan hidup.

Apartemen ini berbeda. Apartemen ini sunyi dengan cara yang membuat bulu kudukku berdiri. Seperti tempat yang sengaja dikosongkan. Seperti seseorang memutuskan, dengan sadar dan dengan sangat teliti, untuk tidak memiliki apa pun yang bisa hilang.

“Mau minum, Bu?”

Suara Pak Hal menarikku kembali.

“Boleh,” kataku. “Air putih aja.”

Dia mengambil satu-satunya gelas di dapur, mengisinya dari dispenser galon di sudut, lalu memberikannya kepadaku. Aku memegang gelas itu dan sadar bahwa kalau aku minum dari gelas ini, dia tidak punya gelas.

“Bapak nggak minum?”

“Nanti, Bu.”

Aku menatap gelas di tanganku. Lalu aku menatap lantai.

“Kita… tanda tangan di mana?” tanyaku.

Pak Hal sepertinya baru menyadari masalahnya. Dia melihat sekeliling ruang tamu yang kosong, seolah berharap sebuah meja tiba-tiba muncul dari udara. Tidak ada yang muncul.

“Di kamar ada tikar,” katanya akhirnya. “Kalau Ibu nggak keberatan.”


Kami duduk bersila di atas tikar pandan, berhadapan, dengan map cokelat terbuka di antara kami. Aku menjelaskan pasal-pasal kontrak, dan dia membacanya dengan teliti, halaman demi halaman, dengan kepala sedikit miring ke kanan.

Aku sudah memperhatikan kebiasaan itu sejak rapat kemarin. Dia selalu memiringkan kepala ke kanan kalau mendengarkan. Kalau seseorang bicara dari sebelah kirinya, dia akan memutar badannya. Bukan hanya kepalanya, tapi seluruh badannya, supaya sisi kanannya menghadap ke sumber suara.

Aku tidak bertanya. Orang yang seumur hidup ditanya-tanya soal asal-usulnya, seperti aku, belajar satu hal: tidak semua pertanyaan pantas ditanyakan, dan tidak semua jawaban harus diberikan.

Kamar itu juga hampir kosong. Selain tikar dan bantal, hanya ada lemari dinding bawaan apartemen. Pintunya tidak tertutup rapat, dan dari celahnya aku bisa melihat beberapa kemeja kerja yang digantung rapi dan, di rak paling bawah, sebuah kaleng biskuit merah yang sudah berkarat di pinggirnya.

Kaleng itu terlihat sangat tua. Jauh lebih tua dari apartemen ini, dan dari semua barang lain di ruangan ini. Di tutupnya ada tulisan spidol hitam yang sudah pudar, dengan huruf-huruf besar khas tulisan tangan anak remaja:

TABUNGAN KE MELBOURNE

Aku membaca tulisan itu dua kali. Lalu aku mengalihkan pandangan sebelum dia menyadarinya.

Melbourne. Dia tidak pernah bilang apa-apa tentang Melbourne. Papa tidak pernah bilang apa-apa tentang Melbourne. Setahuku, Pak Hal tidak pernah ke luar negeri kecuali untuk urusan kapal: Guangzhou, Singapura, Jeddah, Busan. Tidak pernah ke Australia.

Aku tidak bertanya.

“Pasal dua belas,” katanya, menunjuk sebuah paragraf dengan ujung pulpen. “Klausul force majeure-nya terlalu sempit. Kalau ada topan di Laut Cina Selatan, kita yang tanggung keterlambatannya.”

“Saya udah coba negosiasi itu minggu lalu. Mereka nggak mau ubah.”

“Saya yang telepon mereka besok pagi.”

“Mereka udah final, Pak.”

“Mereka belum ngobrol sama saya, Bu.”

Dia tidak mengatakannya dengan sombong. Dia mengatakannya dengan nada yang sama persis dengan orang yang bilang matahari terbit dari timur. Dan entah kenapa, aku percaya.

Dia menandatangani semua halaman kecuali yang ada pasal dua belasnya, lalu menutup map itu dan menyerahkannya kepadaku.

“Bapak udah berapa lama tinggal di sini?” tanyaku sebelum bisa menahan diri.

“Enam tahun, Bu.”

Enam tahun. Enam tahun di tempat ini, dengan satu piring, satu gelas, dan tidur di atas tikar.

“Bapak… baru pindah?” tanyaku, dengan bodohnya, padahal dia baru saja bilang enam tahun.

Dia tidak tertawa. Dia tidak tersinggung. Dia menatapku dengan wajah datarnya yang biasa.

“Nggak, Bu. Memang begini.”

Memang begini.

Aku mengangguk. Aku berdiri, membersihkan celana jinsku, dan berjalan ke pintu dengan map di dekapan. Di ambang pintu, aku menoleh sekali lagi ke ruang tamu yang kosong, ke kamar dengan tikar, ke dapur dengan satu piring.

“Makasih airnya, Pak.”

“Sama-sama, Bu.”

Pintu menutup. Di dalam lift bercermin tiga sisi, aku menatap pantulan wajahku yang sekarang kelihatan aneh: bingung, sedikit marah, dan sesuatu yang lain yang tidak mau kuberi nama.


“Ibu beli tanaman?”

Dinda berdiri di depan mejaku Senin pagi dengan mata membulat, menatap pot keramik putih berisi tanaman sirih gading yang daunnya menjuntai berwarna hijau dan kuning.

“Iya.”

“Buat meja Ibu?”

“Bukan.”

“Buat siapa?”

“Bukan urusan kamu.”

Dinda menyipitkan mata. Dinda dua puluh tiga tahun, lulusan akuntansi terbaik di angkatannya, dan punya insting gosip setajam anjing pelacak bandara. Dia menatap tanaman itu, lalu menatapku, lalu menatap ke luar jendela kantor yang menghadap ke dermaga, tempat Pak Hal sedang berdiri bicara dengan Kapten Lukas di dekat gudang tiga.

Lalu dia menatapku lagi, dan matanya membelalak.

“Ya Allah,” bisik Dinda. “Ya Allah, Bu.”

“Dinda.”

“Ya Allah, Ibu.”

“Dinda, laporan arus kas minggu ini.”

“Iya, Bu, siap, Bu.” Dinda mundur dua langkah sambil mengeluarkan ponselnya. Dia berbalik dan setengah berlari ke arah lift.

Lima belas menit kemudian, dari jendela, aku melihat Ucup berlari keluar dari ruang istirahat kru dengan spidol merah di tangan. Lalu terdengar teriakannya samar-samar sampai ke lantai empat:

“BU ELENA BELI TANAMAN! ODDS TURUN JADI TIGA BANDING SATU!”

Aku menutup tirai.


Sore itu, aku naik lift bercermin tiga sisi itu lagi, dengan pot sirih gading di pelukan. Di cermin kiri, rambutku masih berantakan. Kali ini aku memakai ikat rambut sungguhan, dan rambutku tetap berantakan. Di cermin depan, wajahku kelihatan seperti orang yang akan melakukan sesuatu yang sangat bodoh.

Aku mengetuk pintu 2307.

Pak Hal membuka pintu. Kali ini dia masih memakai kemeja kerja. Lengan kemejanya digulung sampai siku. Untuk pertama kalinya aku melihat ada bekas luka tipis dan pucat di lengan bawahnya, beberapa garis yang sejajar, sudah lama sekali, seperti goresan di kayu tua. Dia melihatku melihatnya, lalu menurunkan lengan kemejanya dengan gerakan pelan dan tenang.

Aku tidak bertanya.

Aku menyodorkan pot sirih gading itu.

Dia menatap tanaman itu, lalu menatapku. Wajahnya tetap datar, tapi untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang mungkin kebingungan. Hanya sedikit, di antara alisnya.

“Ini apa, Bu?”

“Sirih gading.”

“Buat apa?”

Aku menatap melewati bahunya, ke ruang tamu yang kosong dan putih dan terlalu terang.

“Biar ada yang hidup di sini,” kataku.

Dia tidak bergerak.

Lama. Lama sekali, sampai aku mulai berpikir ini memang ide yang sangat bodoh, bahwa aku sudah melewati batas, bahwa sebentar lagi dia akan mengembalikan pot ini dengan sopan dan menyuruhku membawanya pulang.

Lalu dia mengulurkan tangan dan mengambil pot itu dari pelukanku. Dengan hati-hati, dengan dua tangan, seperti orang memegang sesuatu yang bisa pecah.

“Saya nggak tahu cara ngerawatnya,” katanya.

“Siram dua kali seminggu. Jangan kena matahari langsung. Kalau daunnya kuning, kurangi airnya.”

“Kalau mati?”

“Kalau mati,” kataku, “saya audit.”

Sesuatu di wajahnya bergerak. Begitu kecil dan begitu cepat sampai aku tidak yakin apakah aku benar-benar melihatnya, atau hanya ingin melihatnya. Bukan senyum. Lebih kecil dari senyum. Seperti riak di permukaan air yang sangat tenang, yang muncul dan hilang sebelum kita sempat mencari tahu dari mana datangnya.

“Baik, Bu,” katanya.

Aku mengangguk, berbalik, dan berjalan ke lift dengan langkah yang terlalu cepat.

Di dalam lift, aku tidak melihat ke cermin mana pun.

Di perjalanan pulang, aku baru sadar bahwa aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Aku bukan tipe orang yang membelikan tanaman untuk rekan kerja. Aku bukan tipe orang yang peduli apakah apartemen seseorang kosong atau penuh. Sembilan belas tahun hidup bersama Papa sudah mengajarkanku untuk curiga pada perasaan apa pun yang datang tanpa laporan keuangan yang jelas.

Tapi aku ingat kardus mi instan di bawah ranjang besi di panti. Aku ingat jepit rambut kupu-kupu dari pengunjung yang tidak pernah kembali. Aku ingat betapa lamanya aku menyimpan jepit itu. Bertahun-tahun, sampai catnya mengelupas, bukan karena jepitnya bagus, tapi karena itu satu-satunya bukti bahwa pernah ada seseorang yang memikirkanku.

Mungkin aku cuma ingin laki-laki itu punya satu bukti juga.

Satu tanaman. Satu hal hidup di tempat yang mati.

Hanya itu.

Aku tidak naksir. Aku cuma… melakukan audit kemanusiaan.

Iya. Itu dia. Audit.

Ponselku bergetar di jok penumpang. Pesan dari Papa.

Papa: Dinda says you bought a plant. 🌱 Margaret would be SO proud.

Aku mematikan ponselku dan menyetir pulang dalam keheningan yang sangat berwibawa.