Chapter One
Aku Baik
— Haikal —
Jam lima pagi, Tanjung Perak belum benar-benar bangun, tapi sudah bekerja.
Lampu-lampu sorot di dermaga masih menyala kuning pucat, kalah sedikit demi sedikit oleh langit yang mulai abu-abu di ujung timur. Bau solar, bau garam, dan bau karat bercampur jadi satu. Orang yang baru pertama kali datang biasanya mengernyit. Orang yang sudah dua belas tahun di sini, seperti aku, tidak lagi menciumnya sama sekali.
Crane nomor tiga berhenti di tengah jalan, dengan satu kontainer biru menggantung di udara seperti anak kucing yang digigit tengkuknya oleh induknya.
“Pak Hal! Pak Hal!”
Ucup berlari dari arah pos jaga. Helmnya miring, rompi oranyenya belum dikancing, sandal jepitnya, yang seharusnya sepatu safety, menepuk aspal keras-keras. Ucup selalu berlari seolah dunia akan kiamat lima menit lagi. Kadang memang begitu. Seringnya tidak.
“Cak Tarno mogok, Pak!” katanya terengah-engah. “Kontainer nyangkut, dia nggak mau turun dari kabin!”
“Kenapa?”
“Katanya, katanya…” Ucup menarik napas, lalu menirukan logat Cak Tarno dengan sangat meyakinkan. “Aku gak gelem kerjo nek kopiku diombe wong maneh!”
(Aku nggak mau kerja kalau kopiku diminum orang lagi!)
Aku menatap Ucup. Ucup menatap tanah.
“Siapa yang minum kopinya?”
“…Saya, Pak. Tapi saya kira itu kopi umum, Pak. Gelasnya nggak ada namanya.”
Aku berjalan ke warung kopi di ujung dermaga, membeli satu gelas kopi hitam tanpa gula, lalu menulis nama TARNO di gelas plastiknya pakai spidol yang selalu ada di saku rompiku. Aku naik tangga besi crane nomor tiga, empat puluh dua anak tangga, dan mengetuk kaca kabin.
Cak Tarno, lima puluh tiga tahun, berkumis tebal dan berhati lebih tipis dari kertas rokok, membuka pintu dengan wajah cemberut.
“Kopinya, Cak,” kataku. “Sudah ada namanya. Nggak bakal diminum orang lagi.”
Dia menerima gelas itu, membaca namanya, lalu menatapku lama.
“Sampeyan iku lho, Hal,” katanya. “Wong kok gak tau nesu.”
(Kamu itu lho, Hal. Orang kok nggak pernah marah.)
Aku tidak menjawab. Lima menit kemudian, kontainer biru itu mendarat dengan selamat di atas truk trailer, dan Ucup bertepuk tangan sendirian seperti penonton yang salah masuk gedung.
Jam tujuh, masalah kedua datang lewat telepon.
Seorang pria dari Guangzhou berteriak dalam bahasa Mandarin karena dua puluh kontainer suku cadang mesinnya tertahan di bea cukai. Suaranya tinggi, cepat, dan penuh kata yang tidak akan diajarkan di kelas bahasa mana pun. Petugas bea cukai di depanku, Pak Darto, yang memegang teleponnya, menyodorkan gagang itu kepadaku seperti menyodorkan bom.
“Bapak ngerti dia ngomong apa?”
“Ngerti, Pak.”
“Dia marah, ya?”
“Dia bilang anjingnya lebih pintar dari sistem administrasi kita.”
Pak Darto tersinggung. Aku menempelkan telepon ke telinga kanan. Selalu telinga kanan.
Aku bicara pelan dalam bahasa Mandarin. Aku menjelaskan bahwa dokumen HS code-nya salah ketik di satu digit, bahwa kesalahan itu ada di pihak mereka, bukan di pihak pelabuhan, dan bahwa aku sudah menyiapkan dokumen koreksinya. Kalau dia mengirim tanda tangan dalam sepuluh menit, kontainernya keluar sebelum makan siang. Kalau tidak, besok. Pilihannya ada di dia.
Pria di Guangzhou itu terdiam. Lalu dia berterima kasih tiga kali, minta maaf dua kali, dan mengirim tanda tangan dalam tujuh menit.
“Bapak ngomong apa sama dia?” tanya Pak Darto kagum.
“Saya bilang anjingnya pasti lebih pintar dari dia juga.”
Pak Darto tertawa terbahak-bahak sampai harus memegang meja. Itu bohong, tentu saja. Aku tidak bilang begitu. Tapi orang lebih cepat menandatangani dokumen kalau sedang tertawa, dan aku sudah lama belajar bahwa kebohongan kecil bisa membuat sebuah hari berjalan lebih lancar.
Aku sangat ahli dalam kebohongan kecil. Aku sudah berlatih sejak umur sebelas.
Jam sembilan, ponselku berdering. Di layar tertulis Mr Jake.
Aku mengangkatnya dan langsung disambut erangan panjang, seperti suara kapal tua yang lambungnya bergesekan dengan dermaga.
“Hal… Hal, my boy… I’m dying.”
“Pinggang lagi, Pak?”
“Pinggang,” jawabnya dengan nada tragis. Mr Jake Willmore sudah tiga puluh lima tahun tinggal di Surabaya, tapi kata pinggang selalu ia ucapkan seperti nama penyakit langka. “Pinggang saya, you know, it’s gone. Kaput. Saya tidak bisa nyetir.”
“Saya panggilkan dokter.”
“No, no, no. Bukan dokter. Elena landing jam sepuluh. Juanda. From Singapore. Saya sudah janji jemput. Tapi pinggang ini…” Ia mengerang lagi, kali ini sedikit terlalu panjang. “Kamu bisa jemput dia? Please. Margaret would’ve wanted you to.”
Margaret adalah istri Mr Jake yang meninggal sembilan tahun lalu. Menurut Mr Jake, Margaret selalu menginginkan banyak hal, dan kebetulan semuanya selalu sesuai dengan apa yang sedang diinginkan Mr Jake saat itu juga.
“Saya ada rapat jam sebelas, Pak.”
“Rapatnya sudah saya batalkan.”
“…Bapak membatalkan rapat saya?”
“Saya bosnya, Hal.” Erangannya hilang sesaat, lalu kembali buru-buru. “Aduh. Pinggang. Aduh.”
Aku menutup telepon, mengambil kunci mobil, dan berangkat.
Aku tidak suka bandara.
Bukan takut. Takut itu sesuatu yang harus dirasakan, dan aku sudah lama tidak merasakan banyak hal. Aku hanya tidak suka. Seperti orang yang tidak suka pare: bukan karena trauma, hanya tidak cocok.
Di pintu kedatangan internasional Juanda, orang-orang bergerombol di balik pagar besi. Ada yang membawa balon. Ada yang membawa kertas karton bertuliskan nama dengan spidol warna-warni. Seorang anak perempuan kecil, mungkin delapan atau sembilan tahun, berjinjit di atas sepatu kets merah mudanya, menempelkan wajah ke pagar dan bertanya kepada ibunya setiap tiga puluh detik, “Ayah udah keluar belum? Udah belum? Udah belum?”
Aku berdiri jauh di belakang, di dekat pilar, di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun yang keluar dari pintu kaca otomatis itu.
Kebiasaan. Aku tidak pernah berdiri di depan pintu kedatangan. Aku tidak pernah menunggu dengan wajah menghadap pintu.
Dulu pernah. Sekali. Di bandara lain, di kota lain, di arah yang berlawanan. Bukan pintu kedatangan, tapi pintu keberangkatan.
Ahmad Yani, Semarang. Aku sebelas tahun.
Aku tidak ingat wajah Ibu dengan jelas hari itu. Lucu, karena aku ingat hal-hal yang tidak penting. Aku ingat sandal Kayla berwarna kuning dengan gambar bebek, dan tali kirinya sudah hampir putus karena dia selalu menyeret kaki kalau jalan. Aku ingat jaket Kak Safrina berwarna abu-abu dengan resleting yang macet di tengah. Aku ingat bau minyak kayu putih dari tas Ibu.
Aku ingat Kak Safrina memelukku terlalu erat, lalu berbisik, “Kamu jagoan, Kal. Jagain Ayah ya. Nanti Kakak jemput.”
Dan aku ingat Kayla. Sembilan tahun, mata sembap, ingus di atas bibir, menolak melepaskan tanganku sampai petugas bandara harus membujuknya dengan permen. Sebelum masuk ke balik pintu kaca, dia berbalik dan mengulurkan kelingkingnya.
“Kak Ikal janji ya. Nanti Kakak nyusul.”
Aku mengaitkan kelingkingku ke kelingkingnya yang kecil dan lengket karena permen.
“Nanti Kakak nyusul,” kataku.
Lalu pintu kaca itu menutup, dan aku berdiri di sana sampai Ayah menarik kerah bajuku dan bilang kita pulang.
Hari itu aku pulang dan menulis sesuatu di buku tulis bersampul cokelat. Aku tidak pernah menceritakan isinya kepada siapa pun.
Pintu kaca otomatis di depanku terbuka dan menutup, terbuka dan menutup, memuntahkan orang-orang dengan koper dan wajah lelah.
Anak perempuan bersepatu kets merah muda itu menjerit. Seorang pria berkemeja batik berlari ke arahnya, berlutut, dan menangkapnya. Anak itu tertawa sambil menangis. Ibunya menutup mulut dengan tangan.
Aku menatap mereka. Aku menunggu sesuatu di dalam diriku bergerak. Iri, atau sedih, atau marah. Apa pun.
Tidak ada.
Aku tidak terkejut. Sudah lama seperti ini.
“Kamu berdiri di belakang pilar kayak mata-mata, tahu nggak.”
Aku menoleh.
Elena Willmore berdiri dua meter dariku dengan koper kabin berwarna hijau tua dan kacamata hitam yang dinaikkan ke atas kepala. Rambut hitam sebahunya diikat asal, beberapa helai lolos dan jatuh di pelipis. Ia memakai kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku dan celana kain krem. Penampilannya sederhana sekali, dan tetap saja tiga laki-laki di dekat pintu keluar menoleh dua kali ke arahnya.
Elena cantik. Aku menyatakannya seperti orang menyatakan bahwa pasang surut terjadi dua kali sehari. Itu bukan pendapat, melainkan fakta, dan seperti fakta lain, tidak ada yang perlu dirasakan tentangnya. Matanya tajam, seperti mata orang yang setiap hari membaca laporan keuangan dan menemukan kesalahan di angka yang orang lain lewatkan. Tapi kalau dia tertawa, mata itu melunak, dan lesung pipi di sebelah kirinya muncul seperti rahasia yang tidak sengaja dibocorkan.
Dia tidak sedang tertawa sekarang. Dia sedang menatapku dengan alis terangkat.
“Pinggang lagi?” tanyanya.
“Pinggang lagi.”
Elena menghela napas panjang. “Tiga minggu lalu dia bilang lututnya. Bulan lalu lehernya. Kalau dihitung, Papa udah pura-pura sakit di dua belas bagian tubuh yang beda tahun ini. Dia kayak lagi ngoleksi.”
“Kayaknya tinggal sikunya yang belum.”
Elena menatapku. Lalu, pelan, sudut bibirnya naik. Lesung pipinya muncul sebentar, lalu hilang lagi, seperti dia sedang berusaha keras tidak memberiku kepuasan itu.
“Itu tadi bercanda, Pak Hal?”
“Nggak.”
“Itu bercanda.”
“Itu analisis statistik.”
Dia tertawa, kali ini sungguhan. Aku mengambil koper hijaunya tanpa bertanya dan berjalan duluan ke parkiran.
Rumah Mr Jake ada di kawasan perumahan di barat Surabaya. Rumahnya besar, bercat putih, dengan halaman depan berumput yang dirawat seorang tukang kebun bernama Pak Min, yang sudah bekerja di sana sejak Elena masih kecil.
Waktu mobilku masuk ke halaman, Mr Jake sedang berdiri di atas rumput dengan celana training abu-abu dan kaus bertuliskan LIVERPOOL FC, kedua tangannya terentang ke samping, satu kakinya terangkat setinggi lutut. Gerakannya pelan, anggun, dan sama sekali tidak terlihat seperti orang yang pinggangnya kaput.
Tai chi. Di bawah matahari jam sebelas siang.
Mobil berhenti. Mr Jake membeku dengan satu kaki masih terangkat, seperti flamingo yang ketahuan mencuri.
Selama tiga detik penuh, tidak ada yang bergerak. Kemudian, perlahan sekali, Mr Jake menurunkan kakinya, memegang pinggangnya dengan dua tangan, dan membungkuk.
“Aduuuh,” erangnya, cukup keras untuk didengar tetangga. “Aduh, pinggang saya. Ini, ini terapi, you know. Dokter yang suruh. Terapi gerak. Very painful.”
Elena keluar dari mobil dan membanting pintunya. “Papa.”
“Sweetheart! Welcome home!” Mr Jake merentangkan tangan dan berjalan ke arah Elena dengan langkah yang terlalu cepat untuk orang sekarat. Lalu ia ingat, berhenti, memegang pinggangnya lagi, dan berjalan sisanya dengan pincang yang dramatis. “Saya kuat-kuatin ini. Demi anak saya.”
“Pincangnya tadi kaki kiri,” kataku dari balik bagasi. “Sekarang kaki kanan, Pak.”
Mr Jake menatapku dengan pandangan pengkhianatan yang dalam. “Et tu, Hal?”
Elena memeluk ayahnya sambil memukul bahunya. Mr Jake tertawa dengan suara serak dan bahagia, dan selama beberapa detik dia terlihat jauh lebih tua dan jauh lebih muda sekaligus. Seorang laki-laki enam puluh tujuh tahun yang memeluk anak perempuannya di halaman rumah.
Aku menurunkan koper dan menaruhnya di teras.
“Hal, makan siang di sini,” kata Mr Jake. “Bu Sum masak rawon.”
“Saya ada kerjaan, Pak.”
“Rapatnya sudah saya batalkan.”
“Bapak membatalkan rapat saya, tapi kontainer suku cadang dari Guangzhou nggak bisa Bapak batalkan.”
Mr Jake mendengus. “Kamu ini. Workaholic. You know what Margaret would say?”
“Bu Margaret akan bilang saya harus makan siang di sini.”
“Exactly.”
“Dan saya akan tetap pulang, Pak.”
Elena tertawa lagi, kali ini di bahu ayahnya. Aku mengangguk sopan kepada mereka berdua, masuk ke mobil, dan memundurkannya keluar dari halaman. Dari kaca spion aku melihat Mr Jake menunjuk-nunjuk mobilku sambil bicara kepada Elena, dan Elena memutar bola matanya, lalu menoleh ke arah mobilku sebentar.
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku tidak penasaran.
Apartemenku ada di lantai dua puluh tiga, di sebuah tower dekat pusat kota. Mr Jake memberikannya enam tahun lalu, waktu aku berumur dua puluh dua. Kuncinya dia lempar ke pangkuanku di dalam mobil, lalu dia bilang, “Hadiah. Jangan protes. Margaret would’ve wanted it.”
Aku tidak protes. Aku berterima kasih, dan aku pindah ke sana malam itu juga dengan satu tas ransel.
Isinya sampai sekarang tidak banyak berubah.
Ruang tamunya kosong. Lantainya keramik putih yang selalu bersih karena tidak ada apa pun di atasnya yang bisa membuatnya kotor. Di kamar ada satu tikar pandan yang kubeli dari pasar di Semarang dua belas tahun lalu dan satu bantal. Di dapur ada rice cooker, satu piring, satu sendok, satu gelas. Di lemari dinding yang terlalu besar untuk isinya, ada enam kemeja kerja, tiga celana, dan sebuah kaleng biskuit merah berkarat yang tidak pernah kubuka lagi.
Orang-orang yang tahu Mr Jake menghadiahiku apartemen dan mobil sering membayangkan rumahku penuh barang. Sofa kulit, televisi besar, lukisan mahal. Mereka tidak pernah datang. Aku tidak pernah mengundang.
Malam itu aku makan nasi dengan kecap dan kerupuk, duduk di lantai dekat jendela besar yang menghadap ke kota. Lampu-lampu Surabaya berkelip di bawah sana, kuning dan putih dan merah, ribuan jendela, ribuan rumah, ribuan meja makan dengan orang-orang yang duduk mengelilinginya.
Ponselku bergetar.
Grup Dermaga Ceria — grup kru yang dibuat Ucup tanpa izin siapa pun — berisi empat puluh tujuh pesan baru. Aku membaca yang paling atas: Cak Tarno nulis nama di semua gelas di warung. Termasuk gelas punya orang. Di bawahnya ada foto dua puluh gelas plastik dengan tulisan TARNO semuanya.
Aku menutup grup itu.
Lalu ada satu pesan lagi.
Mr Jake: Did you eat? Margaret would want you to eat. Elena juga tanya. (Elena bilang dia tidak tanya. She’s lying.)
Aku menatap layar itu cukup lama. Kemudian aku mengetik dengan ibu jari.
Aku: Sudah makan, Pak. Aku baik.
Aku mengirimnya dan meletakkan ponsel di atas tikar, layarnya menghadap ke bawah.
Aku baik.
Aku sudah bilang begitu sejak umur sebelas. Waktu Ibu menelepon dari Melbourne setiap Minggu sore, dan Ayah berdiri di belakangku dengan napas berbau anggur murah. Waktu ada yang bertanya di sekolah kenapa aku pakai baju lengan panjang di bulan Agustus. Waktu Cak Tarno bertanya kenapa aku tidak pernah marah. Waktu Mr Jake menemukanku tidur di dalam kontainer kosong dua belas tahun lalu, dan bertanya dengan senter di tangan apakah aku butuh bantuan.
Aku baik. Aku baik. Aku baik.
Lama-lama, kalimat itu jadi satu-satunya hal dalam hidupku yang tidak pernah berubah. Semua yang lain datang dan pergi: rumah, kota, nama, orang-orang. Tapi kalimat itu tetap. Kokoh, seperti tiang dermaga yang ditanam dalam-dalam ke dasar laut. Tidak peduli seberapa tinggi ombaknya, dia tidak bergerak.
Bedanya, tiang dermaga setidaknya tahu dia sedang menahan sesuatu.
Aku sudah tidak tahu apa yang sedang kutahan. Aku sudah lama tidak memeriksanya.
Aku berbaring di atas tikar, menatap langit-langit putih, dan tertidur tanpa mimpi. Seperti biasa.
- 1 Aku Baik reading
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan