Chapter Eleven
Kelingking
— Haikal —
Senin pagi, Mr Jake memanggilku ke ruang kerjanya untuk sebuah intervensi.
Dia sendiri yang menyebutnya begitu. Waktu aku masuk, di mejanya sudah ada enam lembar kertas HVS yang disusun berurutan seperti presentasi, dicetak dengan huruf ukuran tiga puluh enam, sebagian kata digarisbawahi pakai spidol merah. Dia menyuruhku duduk di kursi tamu, berdiri di depan jendela dengan tangan di belakang punggung, lalu berdeham dengan sangat resmi.
“Hal,” katanya. “This is an intervention.”
“Untuk apa, Pak?”
“For your heart.”
Dia mengangkat lembar pertama. Tulisannya: ALASAN-ALASAN KENAPA ELENA.
Lembar kedua: 1. DIA PINTAR (LEBIH PINTAR DARI KAMU DI EXCEL).
Lembar ketiga: 2. DIA CANTIK (INI FAKTA, BUKAN PENDAPAT AYAHNYA).
Lembar keempat: 3. DIA SUDAH SIRAM TANAMAN KAMU 6 KALI DALAM 12 HARI (DINDA YANG HITUNG).
Lembar kelima: 4. MARGARET SUDAH MERESTUI DARI SURGA.
Lembar keenam, dengan huruf paling besar dan digarisbawahi tiga kali: 5. TELUR DADAR BUKAN SOLUSI.
Dia menurunkan kertas terakhir itu dan menatapku dengan ekspresi seorang ayah yang sangat terluka.
“Pak,” kataku. “Saya nggak naksir Bu Kayla.”
“You gave her your egg.”
“Itu cuma telur, Pak.”
“In my country,” kata Mr Jake perlahan, “when a man gives his egg to a woman…”
“Di negara Bapak, orang nggak makan telur dadar pakai sambal.”
Mr Jake membuka mulut. Menutupnya. Lalu, dengan sangat bermartabat, dia mengumpulkan keenam lembar kertasnya, merapikannya dengan mengetuk-ngetukkan ujungnya ke meja, dan memasukkannya ke laci.
“This intervention is not over,” katanya. “This intervention is postponed.”
“Baik, Pak.”
“Margaret is very disappointed in you right now.”
“Baik, Pak.”
Aku keluar dari ruangannya. Di lorong, Dinda dan Ucup sedang berdiri di depan dispenser air, masing-masing memegang gelas kosong, jelas-jelas sedang menguping. Ucup menatapku dengan mata berkaca-kaca seperti penggemar sinetron yang tokoh utamanya baru saja mengambil keputusan salah.
“Pak Hal,” bisiknya. “Telur dadar bukan solusi, Pak.”
Aku berjalan melewati mereka tanpa berhenti.
Sore itu, Kayla datang ke kantor untuk menandatangani letter of intent: dokumen tidak mengikat yang menyatakan kedua perusahaan serius untuk melanjutkan ke tahap kontrak. Penandatanganannya lima belas menit. Dia menjatuhkan pulpennya hanya sekali, dan mengumumkan itu sebagai rekor pribadi.
Waktu dia selesai, hujan turun.
Bukan hujan biasa. Hujan pertama setelah kemarau panjang, yang di Surabaya selalu datang dengan dendam, seolah langit menabung air selama enam bulan lalu menumpahkannya dalam satu sore. Dalam lima menit, jalan di depan kantor berubah jadi sungai cokelat. Petir menyambar di atas Selat Madura, dan crane-crane di dermaga berhenti beroperasi karena prosedur keselamatan.
Kayla berdiri di lobi, menatap hujan di balik pintu kaca dengan wajah putus asa.
“Mobilku di bengkel,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku tadi naik ojek online. Sekarang aplikasinya bilang tidak ada pengemudi tersedia.” Dia mengangkat ponselnya ke arahku. “Lihat. Nggak ada satu pun. Semua ojek di Surabaya kayaknya lagi neduh.”
“Aku antar,” kataku.
“Eh, nggak usah, Kak. Aku tunggu aja sampai reda.”
“Hujan pertama setelah kemarau biasanya nggak reda sampai malam.”
Dia menatapku, lalu menatap hujan, lalu menatapku lagi.
“Kak Hal nggak repot?”
“Nggak.”
Mobilku terjebak macet di Jalan Perak Timur selama empat puluh menit. Lalu di Jalan Rajawali selama tiga puluh menit lagi. Hujan menghantam kaca depan seperti seseorang menyiramkan ember demi ember dari atas. Wiper bergerak secepat mungkin dan tetap kalah. Lampu-lampu merah kendaraan di depan kami kabur dan meleleh di balik air.
Kayla duduk di kursi penumpang dengan lutut dirapatkan dan kedua tangan memeluk lengannya sendiri.
Aku mematikan AC dan mengecilkan kipasnya.
Dia menoleh ke arahku. “Kok dimatiin?”
“Kamu kedinginan.”
Dia diam sebentar. Lalu tersenyum kecil.
“Kok tahu?”
“Kamu meluk lengan dari tadi.”
“Oh.” Dia tertawa pelan dan melepaskan pelukan di lengannya. “Aku memang gampang kedinginan dari kecil. Kakakku dulu…” Dia berhenti, lalu menggeleng sambil tertawa lagi. “Ah, nggak penting.”
Hujan terus turun. Mobil di depan kami maju satu meter, lalu berhenti lagi.
“Kak Hal punya saudara?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menatap lampu rem mobil di depan.
“Nggak,” kataku.
Kebohongan kedua.
“Anak tunggal? Enak, dong.” Dia menyandarkan kepala ke jendela, menatap hujan. “Aku tiga bersaudara. Kakak perempuan, kakak laki-laki, terus aku paling kecil.”
Aku diam.
“Orang tuaku cerai waktu aku sembilan tahun,” lanjutnya. Suaranya ringan, seperti cerita yang sudah sering diulang, tapi ada sesuatu di bawahnya yang tidak ringan sama sekali. “Ibu bawa aku sama kakak perempuanku ke Melbourne. Kakak laki-lakiku tinggal sama Ayah di Semarang.”
“Kenapa?”
Aku tidak berencana bertanya. Kata itu keluar sendiri.
Kayla mengangkat bahu. “Aku nggak terlalu ngerti waktu itu. Aku masih kecil. Ibu bilang Kak Ikal yang mau tinggal. Katanya kasihan Ayah sendirian.” Dia tersenyum tipis ke arah jendela. “Itu Kak Ikal banget. Dia selalu mikirin orang lain duluan. Dari kecil gitu.”
Kak Ikal.
Namaku diucapkan di dalam mobilku, oleh suara adikku, di tengah hujan dan macet di Jalan Rajawali.
Aku menggenggam setir. Aku menunggu sesuatu. Seperti biasa, tidak ada yang datang.
“Kakak kamu sekarang di mana?” tanyaku.
Kayla diam lama sebelum menjawab.
“Nggak tahu,” katanya akhirnya. “Itu sebenarnya alasan aku di Surabaya. Aku lagi nyari dia. Udah dua tahun. Sebelumnya, dari Melbourne, aku udah nyari tujuh tahun. Pakai detektif, pakai Facebook, pakai segala cara.” Dia tertawa kecil, tanpa humor. “Kayak film, ya. Cewek pindah negara buat nyari kakaknya. Temen-temenku di Melbourne bilang aku gila.”
“Kenapa bisa hilang?”
“Ayahku meninggal tahun 2015. Tetangga bilang Kak Ikal udah kabur dari rumah setengah tahun sebelumnya. Umur enam belas. Nggak ada yang tahu ke mana. Detektifku nemu jejak terakhir dia di Pelabuhan Tanjung Perak, tahun 2014. Habis itu… hilang. Kayak ditelan bumi.”
Mobil di depan maju dua meter. Aku ikut maju dua meter.
“Kakak perempuanku bilang dia udah nggak mau dicari.” Kayla memainkan ujung kuncir kudanya dengan jari. “Katanya, kalau dia mau ketemu kita, dia pasti udah nyari kita dari dulu. Kita nggak susah dicari. Nama kita ada di Facebook, Instagram, LinkedIn. Dia bisa nemuin kita dalam lima menit kalau mau.”
Dia diam sebentar.
“Mungkin Kak Safrina bener. Mungkin dia memang nggak mau.”
Hujan menghantam atap mobil seperti ribuan jari yang mengetuk-ngetuk.
“Tapi,” kata Kayla, dan dia mengangkat tangan kanannya, menunjukkan kelingkingnya kepadaku. Kelingking kecil dengan cat kuku hijau mint yang sudah terkelupas di ujungnya. “Dia janji. Di bandara, waktu kami pisah. Kami janji kelingking. Dia bilang, Nanti Kakak nyusul.”
Dia menatap kelingkingnya sendiri.
“Kak Ikal nggak pernah ingkar janji. Nggak pernah sekali pun. Jadi aku yakin dia cuma… telat. Mungkin dia lagi susah. Mungkin dia malu. Mungkin dia nggak punya uang. Nggak tahu. Tapi dia pasti inget janjinya.”
Aku menatap lurus ke depan, ke lampu rem merah yang meleleh di kaca depan yang basah.
“Mungkin dia udah lupa,” kataku.
Kalimat itu keluar dengan nada yang sangat datar. Sangat netral. Seperti analisis statistik.
Kayla menoleh ke arahku dengan cepat. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, senyum di wajahnya hilang sama sekali.
“Nggak mungkin,” katanya. Suaranya tidak keras, tapi sangat tegas. “Kak Ikal nggak pernah lupa apa pun. Dia inget ulang tahun semua orang. Dia inget nomor telepon tukang galon. Dia inget aku nggak suka kerupuk udang, sukanya kerupuk bawang. Dia inget aku takut boneka porselen di rumah Eyang. Dia inget semuanya.”
Dia menurunkan kelingkingnya dan menatap hujan lagi.
“Orang kayak gitu nggak mungkin lupa janji.”
Aku tidak menjawab. Tidak ada yang bisa kujawab.
Dia benar. Aku tidak pernah lupa. Aku ingat kerupuk bawang. Aku ingat boneka porselen. Aku ingat nomor tukang galon di Semarang dan masih bisa menyebutkannya sekarang kalau ada yang bertanya. Aku ingat kelingking lengket karena permen dan sandal kuning dengan tali kiri yang putus.
Aku tidak lupa janji itu.
Aku hanya berhenti merasakan apa pun tentangnya.
Dan aku tidak tahu, sungguh tidak tahu, mana yang lebih buruk.
Kami sampai di tower apartemen Kayla di Darmo jam enam lewat. Hujan sudah berubah jadi gerimis. Lampu-lampu jalan memantul di genangan air seperti bulan-bulan kecil yang jatuh ke aspal.
Kayla membuka pintu mobil, lalu berhenti dengan satu kaki sudah di luar.
“Kak Hal.”
“Ya?”
“Makasih, ya. Udah nganterin. Udah dengerin aku nyerocos soal keluarga.” Dia tersenyum. Senyumnya sudah kembali, meski sedikit lebih pucat. “Maaf kalau aku kebanyakan cerita. Biasanya aku nggak cerita soal Kak Ikal ke orang yang baru kenal. Nggak tahu kenapa, sama Kak Hal rasanya gampang aja ngomongnya.”
“Nggak apa-apa.”
“Kak Hal itu…” Dia memiringkan kepala, mencari kata. “Kayak kakak, deh. Aneh, ya. Padahal kita baru kenal seminggu.”
Aku menatapnya.
“Udah, ah, aku jadi melankolis.” Dia tertawa, keluar dari mobil, lalu membungkuk lagi ke jendela. “Hati-hati di jalan, Kak! Jangan lupa, aku masih utang telur!”
Tuk, srek, tuk, srek. Dia berlari kecil di bawah gerimis menuju lobi tower, menutupi kepala dengan tas laptopnya.
Aku menunggu sampai dia masuk ke lobi dan pintu kacanya menutup. Lalu aku menunggu sampai lampu lift di panel lobi berhenti di angka sembilan.
Lalu aku menunggu lima menit lagi, tanpa alasan.
Lalu aku menyetir pergi.
Aku kembali ke kantor jam tujuh malam karena ada dokumen yang harus kutandatangani sebelum besok pagi. Lantai empat sudah hampir kosong. Lampu-lampu lorong sudah diredupkan.
Kecuali ruang rapat kecil di ujung lorong. Ruang Komite Margaret.
Lampunya menyala. Dari balik dinding kacanya, aku melihat Elena sedang duduk sendirian di depan papan tulis putih, dengan laptop terbuka dan rambut yang sudah lepas dari ikatannya, berantakan di bahu. Dia memakai kardigan abu-abu yang kebesaran, dan dia sedang mengunyah ujung pulpen sambil menatap angka-angka di papan tulis dengan alis berkerut.
Dia belum melihatku.
Aku melihatnya mengangkat kepala, menatap ke sudut langit-langit ruang rapat, ke kamera CCTV kecil berbentuk kubah hitam yang terpasang di sana. Dia menyipitkan mata. Lalu dia mengambil selembar kertas HVS dari tumpukan di meja, menulis sesuatu dengan spidol hitam besar-besar, lalu berdiri di atas kursi dan menempelkan kertas itu tepat di depan lensa kamera CCTV dengan selotip.
Tulisannya bisa kubaca dari lorong.
PAPA. INI UDAH JAM TUJUH MALEM. TIDUR. ATAU AKU BILANG KE BU SUM PAPA MAKAN SAMBAL LAGI.
Dia turun dari kursi, menepuk-nepuk tangannya dengan puas, lalu berbalik.
Dan melihatku di balik dinding kaca.
Matanya membulat. Wajahnya memerah dari leher sampai ke telinga. Dia menatap kertas di depan kamera CCTV, lalu menatapku, lalu menatap kertas itu lagi, seperti orang yang ketahuan mencuri kue dari toples.
Dan sesuatu terjadi di wajahku.
Aku merasakannya sebelum aku menyadarinya. Sudut-sudut bibirku naik. Bukan banyak. Hanya sedikit. Tapi bukan hanya bibir. Sesuatu di sekitar mataku juga bergerak, mengerut di sudut-sudutnya, dengan cara yang sudah sangat lama tidak terjadi sampai otot-otot di sana terasa kaku dan asing, seperti engsel pintu yang sudah bertahun-tahun tidak dibuka.
Aku tersenyum.
Bukan senyum sopan ke klien. Bukan senyum basa-basi ke Cak Tarno. Senyum yang sampai ke mata.
Aku tidak tahu kapan terakhir kali itu terjadi. Aku sungguh tidak ingat.
Di balik dinding kaca, Elena membeku. Dia menatap wajahku dengan mulut sedikit terbuka. Rona merah di wajahnya hilang, berganti ekspresi yang tidak bisa kubaca: kaget, dan sesuatu yang lain, yang lebih lembut.
Senyum itu hilang secepat datangnya. Wajahku kembali datar. Otot-otot di sekitar mataku kembali ke posisi semula, kaku seperti biasa.
Tapi dia sudah melihatnya.
Aku mengangguk sopan ke arahnya melalui kaca, berbalik, dan berjalan ke ruang kerjaku di ujung lain lorong untuk menandatangani dokumen yang harus kutandatangani.
Tanganku sedikit gemetar waktu memegang pulpen.
Aku tidak tahu kenapa.
Malam itu, di apartemenku, aku duduk di atas tikar di dekat sirih gading yang daunnya mulai bertambah satu. Satu daun baru, kecil, hijau muda, masih tergulung di ujung batang. Aku menyiramnya tiap Senin dan Kamis, sesuai instruksi. Aku tidak ingat pernah mengikuti instruksi soal sesuatu yang hidup dengan seteliti itu.
Aku mengangkat tangan kananku dan menatap kelingkingku sendiri.
Nanti Kakak nyusul.
Mungkin dia udah lupa.
Aku berbohong kepada Kayla dua kali hari ini. Tidak punya saudara. Mungkin dia udah lupa.
Tapi hari ini juga, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tersenyum dengan mata.
Aku tidak tahu bagaimana kedua hal itu bisa terjadi di hari yang sama, di dalam dada yang sama, yang kukira sudah sepenuhnya kosong.
Aku menurunkan tanganku dan berbaring di atas tikar.
Di luar jendela, gerimis terakhir dari hujan pertama setelah kemarau jatuh pelan-pelan ke kota, membasahi semua yang sudah terlalu lama kering.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking reading
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan