← Hari ke-731

Chapter Thirty Six

Hati-Hati

— Haikal —

Mereka datang hari Selasa malam. Berdua.

Aku membuka pintu dan melihat mereka berdiri berdampingan di lorong lantai dua puluh tiga. Kayla dengan kaus kuning dan jepit bunga matahari. Kak Safrina dengan kemeja putih yang sudah disetrika lagi dan rambut yang sudah diikat lagi ke belakang. Tapi tidak serapi dulu. Beberapa helai lepas di pelipisnya, dan dia tidak merapikannya.

Mereka tidak bergandengan tangan. Tapi bahu mereka hampir bersentuhan.

Itu pertama kalinya aku melihat mereka berdua berdiri sedekat itu sejak bandara Ahmad Yani.

“Kak,” kata Kayla.

“Kal,” kata Kak Safrina.

Di tangan Kak Safrina, sebuah amplop cokelat besar.


Mereka duduk di sofa.

Itu pertama kalinya ada orang yang duduk di sofa abu-abu itu sejak kurirnya mengantarnya hari Jumat. Kayla merobek plastik pembungkus di sandaran tangannya tanpa bertanya, menggulungnya, dan memasukkannya ke kantong plastik yang dia bawa. Lalu dia duduk di ujung kiri. Kak Safrina di ujung kanan.

Aku duduk di lantai. Bersandar ke dinding di seberang mereka.

“Kakak duduk sini,” kata Kayla, menepuk tempat kosong di tengah sofa.

“Di sini aja, Kay.”

Kayla menatapku. Lalu menatap tempat kosong di tengah sofa. Lalu mengangguk pelan dan tidak memaksa.

Kak Safrina membuka amplop cokelat itu. Dia mengeluarkan dua benda dan meletakkannya di lantai di depanku.

Foto polaroid. Anak laki-laki berompi oranye kebesaran, duduk di atas peti kayu di sudut gudang tiga, memasukkan uang kertas lusuh ke dalam kaleng biskuit merah dengan stiker bunga matahari.

Dan selembar koran yang sudah kuning, dilipat empat.

Aku menatap keduanya.

Aku tidak tahu Bu Margaret pernah memotretku. Aku tidak tahu Mr Jake menyimpan koran itu. Buang aja, Pak, kataku waktu itu. Aku kira dia membuangnya.

“Pak Jake cerita,” kata Kak Safrina. Suaranya pelan. “Semuanya. Kontainer. Kaleng. Buat jemput adik, Pak. Kantor imigrasi. Halaman tujuh.”

Aku diam.

“Itu wisudaku, Kal,” katanya. “Hari itu. Hari kamu duduk di ruang tunggu imigrasi. Itu hari aku pidato soal mendengarkan mereka yang berbisik.”

Dia tertawa kecil. Tawa yang tidak punya apa-apa di dalamnya.

Aku menatap foto di koran itu. Kak Safrina bertoga, tersenyum. Ibu berkebaya, menangis. Kayla dengan jepit bunga matahari, tertawa, dua jari teracung.

Sepuluh tahun lalu aku melihat foto itu di ruang tunggu kantor imigrasi, dan aku merasakan sesuatu. Satu-satunya hal yang kurasakan dalam tahun-tahun itu, yang kuingat dengan jelas.

Lega.

Mereka bahagia. Mereka tidak butuh aku. Aku tidak perlu datang dan merusak foto itu dengan wajahku, dengan punggungku, dengan telingaku, dengan semua yang terjadi di rumah kontrakan di ujung gang. Aku bisa berhenti. Aku boleh berhenti.

Aku melipat koran itu waktu itu dan berjalan keluar, dan rasanya seperti meletakkan sesuatu yang sangat berat yang sudah kupikul terlalu lama.


“Kak,” kata Kayla.

Aku mengangkat wajah.

Kayla duduk di ujung sofa, memeluk lututnya. Matanya merah, tapi tidak menangis. Dia sudah selesai menangis, kurasa. Untuk malam ini.

“Kami mau pulang,” katanya.

Aku menatapnya.

“Ke Melbourne,” lanjutnya. “Hari Minggu. Penerbangan jam empat sore dari Juanda.”

Hening.

“Kak Safrina cutinya habis,” kata Kayla. “Dia ada sidang hari Rabu depan. Kasus anak. Nggak bisa ditinggal.” Dia diam sebentar. “Dan aku… aku udah ngajuin pindah balik ke kantor pusat. Kostas setuju. Cabang Surabaya biar dipegang orang lain. Kontrak sama Willmore tetep jalan. Cuma bukan aku yang ngurus.”

Aku tidak bilang apa-apa.

“Kenapa?” tanyaku akhirnya.

Kayla menatap Kak Safrina. Kak Safrina menatap lantai.

“Kal,” kata Kak Safrina pelan. “Tiap kali kamu liat kami, kamu harus buka pintu-pintu itu lagi. Kamu sendiri yang bilang. Lemari. Pintu. Kamu harus buka semuanya, dan nyari, dan nggak nemu apa-apa.” Dia menatap foto polaroid di lantai. “Kami nyakitin kamu cuma dengan ada di sini. Dengan nanya. Dengan dateng ke apartemen kamu. Dengan bawa buku. Dengan minta kamu marah.”

“Mbak nggak nyakitin.”

“Kamu dijahit empat puluh tiga kali, Kal, dan kamu tetep nyoba narik tangan kamu dari pipiku sampai punggung kamu kebentur tembok.” Suaranya bergetar. “Itu aku yang bikin.”

Aku diam.

“Kakak udah dua belas tahun baik-baik aja tanpa kami,” kata Kayla pelan. Dia menatap koran di lantai. Foto dirinya yang tertawa dengan dua jari teracung. “Kakak punya kerjaan. Punya Pak Jake. Punya Ucup sama Kapten Lukas sama Bu Yati. Punya Elena, mungkin, kalau Kakak mau. Dan kami dateng, terus semuanya jadi berantakan.”

Dia menarik napas.

“Mungkin Kak Safrina bener dari awal,” katanya. “Mungkin Kakak memang lebih baik kalau nggak dicari.”

Dia tersenyum. Senyum yang sangat kecil dan sangat sedih.

“Kami cuma ngerusak, Kak.”


Kami cuma ngerusak.

Aku mendengar kalimat itu.

Aku mendengar suaraku sendiri, sepuluh tahun lalu, di mobil Mr Jake, di parkiran kantor imigrasi, dengan koran terlipat di saku dan formulir yang tidak diserahkan di tangan.

Pak, mereka udah bahagia. Saya nggak usah ke sana. Nanti saya cuma ngerusak.

Kalimat yang sama. Hampir kata demi kata. Keluar dari mulut adikku.

Aku menatapnya.

Aku ingin bilang jangan.

Aku tidak tahu dari mana keinginan itu datang. Dia muncul di suatu tempat di belakang tenggorokanku, kecil dan tajam, seperti duri ikan yang tersangkut. Jangan. Jangan pergi. Jangan bilang itu. Itu kalimatku. Itu kalimat yang kupakai untuk berhenti. Jangan pakai kalimat itu.

Aku membuka mulut.

Tidak ada yang keluar.

Duri itu tersangkut di sana. Tidak naik. Tidak turun.

Dua belas tahun aku tidak pernah meminta siapa pun untuk tinggal. Tidak sekali pun. Waktu buruh-buruh lama di gudang tiga pensiun, aku menjabat tangan mereka dan bilang hati-hati. Waktu kapten kapal Sinar yang lama pindah ke perusahaan lain, aku bilang semoga sukses. Waktu Bu Margaret dirawat di rumah sakit dan Mr Jake menangis di lorong, aku duduk di sebelahnya dan tidak bilang apa-apa.

Aku tidak tahu caranya.

Aku tidak tahu kata apa yang dipakai orang untuk meminta seseorang tetap tinggal.

“Kapan?” tanyaku.

Suaraku datar. Tenang. Data cuaca.

Kayla menatapku. Sesuatu di wajahnya runtuh. Sedikit. Sangat sedikit. Seperti dia berharap aku bilang hal lain.

“Minggu,” katanya. “Jam empat sore.”

“Oke.”

“Kakak mau nganter?”

Aku menatap koran di lantai.

“Aku nggak suka bandara, Kay.”

Kayla diam.

Kak Safrina memejamkan mata.


Hari Jumat, dermaga Jamrud mengadakan perpisahan untuk Kayla.

Bukan aku yang mengaturnya. Aku bahkan tidak tahu sampai Ucup muncul di ruang kerjaku jam sebelas siang dan bilang, Pak, Bapak harus turun ke gudang tiga. Sekarang. Penting. Darurat.

Aku turun ke gudang tiga dan menemukan semua orang di sana.

Kru dermaga. Cak Tarno. Kapten Lukas, dengan alis kiri yang sudah tumbuh hampir penuh, meski masih sedikit lebih tipis dari yang kanan. Bu Yati dengan rantang empat susun. Dinda dan Mbak Rini dari kantor. Pak Darto dari bea cukai. Bu Endang dari HRD. Mr Jake di tengah-tengah semuanya, dengan topi pet wol dan senyum yang berusaha keras untuk tidak terlihat sedih.

Dan Kayla, berdiri di depan tumpukan karung beras, dengan wajah merah karena terkejut dan terharu.

Elena tidak ada.

Ucup maju lebih dulu. Dia berdiri di depan Kayla dengan sangat resmi. Ponselnya masih tergantung di leher dengan tali rafia merah.

“Mbak Kayla,” katanya. “Sebelum saya kasih kenang-kenangan, saya mau umumin sesuatu.”

Dia menoleh ke arahku.

“Pak Hal. Kemarin dr. Hendra bilang jahitan Bapak udah kering.”

Aku mengangguk.

Ucup mengangkat dua tangannya ke tengkuk, membuka simpul tali rafia merah itu dengan jari-jari yang gemetar, dan melepaskan ponselnya dari leher. Dia memegang ponsel itu di depan dadanya dengan dua tangan, seperti memegang piala.

“Hari ke-dua puluh satu,” katanya dengan suara yang bergetar karena terharu. “Dua puluh satu hari saya nggak main HP. Sumpah saya selesai.”

Kapten Lukas bertepuk tangan dengan sangat keras dan sangat sendirian. Lalu semua orang ikut bertepuk tangan. Bu Yati menyeka matanya dengan ujung kerudung.

Ucup menyalakan ponselnya. Layarnya menyala. Notifikasi berdatangan satu per satu dengan bunyi ting, ting, ting, ting yang tidak berhenti selama hampir satu menit. Tiga minggu pesan grup, notifikasi aplikasi, dan pembaruan sistem.

Ucup menatap layar itu dengan mata berbinar seperti orang yang baru keluar dari penjara.

“Cup,” kata Kapten Lukas pelan. “Kenang-kenangannya.”

“Oh! Iya, Kapten!”

Ucup memasukkan ponselnya ke saku, membungkuk, dan mengambil sesuatu dari belakang tumpukan karung beras. Dia menyodorkannya kepada Kayla dengan dua tangan.

Bebek karet.

Bebek karet kuning, sebesar telapak tangan, dengan paruh oranye dan mata hitam yang dicat. Salah satu dari empat ratus bebek karet yang tumpah dari kontainer bocor di palka MV Margaret, sepulang pelayaran Guangzhou, dua bulan lalu. Yang tidak jadi dikirim ke Panti Kasih Bunda karena ternyata bebek-bebek itu barang sitaan bea cukai yang belum ada surat pelepasannya.

“Buat kenang-kenangan, Mbak,” kata Ucup. “Dari gudang tiga. Biar Mbak inget kita.”

Kayla menatap bebek karet itu.

Lalu, pelan-pelan, dia mengambilnya dengan dua tangan. Dia memegangnya di depan dadanya. Matanya mulai basah.

Dan aku menatap bebek itu.

Kuning. Paruh oranye. Mata hitam yang dicat.

Sandal kuning dengan gambar bebek. Tali kirinya sudah hampir putus, karena dia selalu menyeret kaki kalau jalan.

Aku tidak tahu apakah Kayla ingat sandal itu. Dia sembilan tahun waktu itu. Ingatan anak sembilan tahun tentang sandal tidak bertahan tujuh belas tahun.

Tapi aku ingat. Aku ingat sandal kuning bergambar bebek itu berdiri di depan pintu kaca keberangkatan bandara Ahmad Yani. Aku ingat tali kirinya. Aku ingat bunyi srek yang dibuatnya di lantai bandara yang licin.

Dan sekarang adikku memegang bebek kuning di depan tumpukan karung beras di gudang tiga, dua hari sebelum dia pergi lagi ke pintu keberangkatan bandara yang lain.

Tanganku gemetar. Lebih keras dari biasanya.

Aku memasukkannya ke saku celana.


Cak Tarno memberikan sebuah gelas plastik bertuliskan KAYLA dengan spidol, sama seperti semua gelas di warung kopi di ujung dermaga yang bertuliskan TARNO. Biar nggak diminum orang lain, katanya. Bu Yati memberikan rantang empat susun berisi rendang, sambal goreng ati, dan telur dadar. Buat di pesawat. Kapten Lukas memberikan gelang tali kapal biru putih, sama dengan yang dia buat untuk semua orang di pelayaran terakhir Margaret. Biar Nona inget, kalau Nona naik kapal, cek benderanya dulu.

Mr Jake memberikan pelukan. Lama. Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya memeluk Kayla di tengah gudang tiga, dengan topi petnya hampir jatuh, dan menepuk-nepuk punggungnya seperti menepuk punggung cucu.

Waktu dia melepaskan pelukannya, matanya merah.

“Margaret would’ve loved you,” katanya pelan.

Lalu dia menoleh ke arahku. Lama. Dengan mata merah itu.

Dia tidak bilang apa-apa kepadaku. Tapi aku tahu apa yang ingin dia katakan.

Don’t close the door.


Hari Sabtu sore, mereka datang lagi ke apartemenku. Untuk terakhir kalinya sebelum terbang.

Kayla membawa bebek karet kuning di tasnya. Kak Safrina membawa amplop cokelat. Mereka tidak duduk di sofa kali ini. Mereka berdiri di dekat pintu, seperti tamu yang tahu tidak akan lama.

“Kado-kadonya,” kata Kayla, menunjuk tujuh belas kotak di pojok ruang tamu. “Buat Kakak. Semuanya. Dibuka atau nggak, terserah Kakak. Aku nggak akan nanya.”

Aku menatap tumpukan kotak itu. Masih rapi. Masih sejajar. Masih belum dibuka.

“Bukunya,” kata Kak Safrina, menyodorkan amplop cokelat. Di dalamnya, aku tahu, ada buku tulis bersampul cokelat. Dan foto polaroid. Dan koran halaman tujuh. “Ini punya kamu. Semuanya punya kamu.”

Aku menerima amplop itu.

Hening.

Kami bertiga berdiri di dekat pintu apartemenku. Kayla, Kak Safrina, aku. Tiga orang yang dulu tidur di kamar yang sama, makan telur dadar yang dipotong tiga dari wajan yang sama, dan berdiri di bandara yang sama.

Kayla maju satu langkah. Dia memelukku. Dengan dua tangan. Kencang. Kepalanya di dadaku. Rambutnya bau sampo stroberi.

Aku berdiri di sana. Tanganku di samping tubuhku. Gemetar.

Aku mengangkat tangan kananku. Pelan. Ke punggungnya.

Lima senti.

Aku menurunkannya. Menyentuh. Satu detik. Dua detik.

Tiga detik.

Lalu terangkat lagi.

Kayla melepaskan pelukannya. Dia menatapku dengan mata basah dan senyum yang gemetar.

“Tiga detik,” bisiknya. “Aku ngitung.”

Aku tidak menjawab.

Kak Safrina tidak memelukku. Dia berdiri di belakang Kayla, menatapku. Lalu dia mengulurkan tangan kanannya.

Untuk dijabat. Seperti di lorong lantai empat Willmore, waktu dia baru datang.

Aku menjabatnya. Tangannya dingin. Tanganku gemetar.

Dia tidak melepaskan tanganku. Dia memegangnya lama. Matanya menatap mataku, dan di matanya ada sesuatu yang sudah tidak punya pertahanan sama sekali.

“Kal,” bisiknya. “Maaf.”

Lalu dia melepaskan tanganku dan berbalik ke pintu.

Kayla membuka pintu. Dia melangkah keluar ke lorong. Kak Safrina mengikutinya.

Di ambang pintu, Kayla berhenti dan berbalik. Dia menatapku. Menunggu. Aku melihatnya menunggu. Aku melihatnya berharap.

Duri di belakang tenggorokanku menusuk lebih tajam. Jangan. Jangan pergi. Tinggal.

Aku membuka mulut.

“Hati-hati,” kataku. “Aku baik.”

Kayla tersentak.

Kecil. Hampir tidak terlihat. Seperti seseorang yang tertusuk jarum di bawah meja. Seperti Kak Safrina di Rumah Makan Semarangan.

Dia tersenyum. Senyum yang paling sedih dari semua senyum sedih yang pernah dia berikan kepadaku.

“Iya, Kak,” katanya. “Kakak juga.”

Tuk, srek. Tuk, srek.

Langkah kakinya menjauh di lorong. Kaki kirinya terseret di atas lantai keramik. Langkah Kak Safrina di sebelahnya, rapi, teratur.

Pintu lift berdenting.

Lalu sunyi.


Aku menutup pintu.

Aku berdiri di ruang tamu. Matahari sore jam lima masuk lewat jendela besar, oranye, miring, panjang. Bayangan sofa abu-abu memanjang di atas lantai keramik putih.

Aku melihat sekeliling.

Sofa. Dua gelas di rak pengering. Rantang kosong dari Bu Yati di lantai dapur. Kertas tempel kuning di kulkas: ISI. INI PERINTAH CFO. Sirih gading di dekat jendela, daunnya sekarang begitu banyak sampai menjuntai ke lantai. Gembor plastik hijau. Dua lilin angka, 2 dan 8. Kunci perak kecil dengan gantungan 2307.

Tujuh belas kotak di pojok.

Dan di tanganku, amplop cokelat berisi buku tulis, foto polaroid, dan koran halaman tujuh.

Enam tahun aku tinggal di sini, dan apartemen ini tidak pernah berisi apa pun. Lantai keramik putih. Dinding putih. Tikar. Satu piring. Satu gelas.

Sekarang apartemen ini penuh.

Dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun, rasanya lebih kosong dari sebelumnya.

Aku duduk di lantai, bersandar ke sofa, dengan amplop cokelat di pangkuan dan tangan yang gemetar.

Besok. Jam empat sore. Juanda.

Aku tidak suka bandara.

Aku memasukkan tangan ke saku celana untuk menghentikan gemetarnya, dan jari-jariku menyentuh sesuatu. Kecil. Lunak. Berbentuk.

Aku mengeluarkannya.

Bebek karet kuning. Paruh oranye. Mata hitam yang dicat.

Aku tidak ingat memasukkannya ke saku. Ucup memberikan satu kepada Kayla di gudang tiga. Lalu, waktu semua orang sedang memeluk Kayla, waktu Mr Jake sedang menepuk punggungnya, aku pasti berjalan ke tumpukan karung di sudut gudang, ke kardus berisi empat ratus bebek karet sitaan yang tidak punya surat pelepasan, dan mengambil satu.

Aku tidak ingat melakukannya.

Tanganku yang melakukannya. Seperti telur dadar. Seperti jas hujan. Seperti lumpia. Seperti bantal.

Aku menatap bebek kuning di telapak tanganku yang gemetar.

Matahari terbenam. Ruang tamu berubah dari oranye ke ungu, dari ungu ke abu-abu, dari abu-abu ke gelap.

Aku tidak menyalakan lampu.